Tag Archives: WC Umum

Air Putih dan WC Umum

Mr. Choro : ” Halo Bos, liburan kemaren kemana aja? piknik? wisata? plesiran? traveling? touring?…”

Pak Bos : “Biasa lah Cho…. jalan-jalan. Seluruh Nusantara sudah saya jelajahi, waktunya melanglang buana ke luar negeri. Bulan ini giliran traveling ke Amrika, bulan depan ke tempat lain lagi…. Lha kamu kemana aja?”

Mr. Choro : “Memang kalau uang banyak kayak pak Bos itu ibarat baterai baru selesai di cas. Power atau energinya penuh. Jadinya mau kemana-mana serba cepat dan enteng…. Lha kalau kayak saya ini mau melangkah keluar saja pake mikir. Meski begitu sebenarnya saya juga tidak jauh beda dengan Pak Bos… traveling juga. Cuma ke Amriki saja…. jalan-jalannya pake sepeda onthel bekas eks jepang yang baru saya beli. Keliling-keliling tambak bandeng di dekat Jembatan Suramadu belakang rumah. Lumayan kalau pas ketemu nelayan pulang melaut bisa dapat ikan dengan harga super murah…”

Pak Bos : “Ke manapun tujuan yang penting kan bisa menikmati perjalanannya to Cho… Yang membedakan kita sebagai manusia dengan makhluk lain itu kan mobilitasnya… Coba liat itu pohon… sepanjang hidupnya di situ-situ saja… gak pernah kemana-mana, atau kucing gua yang jalan-jalannya hanya sampai tetangga satu RT untuk mengincar kali aja ada yang lupa nutup bandeng goreng…”

Mr. Choro : “Tapi pohon kan umurnya lebih panjang dan ukurannya lebih tinggi Bos he he… tapi ngomong-ngomong apa nih pengalaman yang paling unik dan menarik selama pak Bos berada di sana?”

Pak Bos : “Air putih dan WC Umum Cho…”

Mr. Choro : “Lha kok bisa begitu Bos…”

Pak Bos : “Ya kalau kita ke wisata ke negari lain itu kan yang dicari yang unik-unik. Hal-hal yang tidak ada di sini, salah satunya ya itu… Air putih di water fountain dan WC umum tersedia secara gratis di tempat-tempat khalayak ramai. Beda dengan di tempat kita, mau kencing, BAB dan minum air putih harus mbayar…”

Mr. Choro : “Iya ya Bos… mungkin itu bedanya kita dengan negara maju. Padahal kencing, BAB dan minum air putih itu kan kebutuhan dasar manusia dan sudah seharusnya seluruh rakyat di negeri ini mendapatkannya secara gratis. Konstitusi kita tentang hal tersebut juga sudah mengaturnya. Pasal 33 UUD 45 sudah jelas menyatakan bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. Pasal itu dapat saya artikan bahwa segala sesuatu yang menjadi kebutuhan dasar alias hajat hidup orang banyak seharusnya dikelola oleh negara dan disediakan secara cuma-cuma untuk rakyat. Bukankah kita sering mengatakan aktivitas buang air sebagai buang hajat? Sekarang siapa coba yang bisa menahan tidak minum dan buang air?”

Pak Bos : “Makanya itu Cho… bisnis jualan air putih saat ini menjadi idola dan prospeknya ke depan juga semakin cerah. Apalagi kondisi air tanah semakin lama semakin turun kualitasnya akibat pencemaran lingkungan.

Kalau kamu punya modal, mending kamu investasikan saja untuk bisnis WC Umum di pasar-pasar, terminal-terminal atau tempat-tempat ramai lainnya… dijamin cash flow selamanya, tidak perlu karwayan berpendidikan tinggi dan bisa diwariskan sampai tujuh turunan tanpa ada resiko… Hasilnya mungkin seribu dua ribu… tapi kalau dikalikan sama orang yang kebelet bisa ratusan ribu, sedikit-sedikit kan lama-lama menjadi bukit. Apalagi kalau WC umumnya bisa kamu jadikan waralaba lalu buka cabang di mana-mana trus dilengkapi dengan fasilitas Wifi…sugih Cho…. Bisnis air putihnya biar aku saja yang main… Oke he he…”

Mr. Choro : “Lha nanti ke depan kalau tahu-tahu pemerintah membuat program sejuta WC umum gratis gimana Bos?”

Pak Bos : “Ya itu resiko bisnis Cho, makanya kamu harus bisa memprediksi resiko itu ada apa tidak?”

Mr. Choro : “Wah males lah kalau gitu….”

Pak Bos : “Kamu itu males tok kerjanya…belum apa-apa saja sudah nyerah, makanya nggak maju-maju. Tapi ngomong-ngomong kemarin kan ada berita yang lumayan ramai tentang salah seorang tokoh kita yang mengharamkan minum air putih dalam kemasan. Bisa jadi alasannya karena hal yang kita bahas di atas itu ya Cho…”

Mr. Choro : “Bisa jadi Bos… Mungkin beliau maksudnya baik. Sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar, Air putih memang tidak seharusnya diswastanisasi karena itu adalah hajat orang banyak. Tapi menurut saya kok ya agak berlebihan kalau solusinya meminum air putih kemasan trus menjadi haram. Hukum Syar’i itu kan urusannya surga dan neraka. Apa semudah itu kita menghalal haramkan sesuatu. Ulama zaman dulu saja harus berijtihad habis-habisan untuk mengeluarkan suatu hukum Syar’i. Kita ini kok sepertinya begitu mudahnya to…. Lagi pula kalau minum air kemasan itu haram… trus bagaimana dengan saya? Selama ini saya minum air putih dari galon merek terkenal karena air PDAM di rumah saya kondisinya boro-boro untuk diminum, buat mandi saja terkadang nggak layak karena warna airnya kayak Peceren. Padahal namanya lho PDAM, Perusahaan Daerah Air Minum. Agama itu kan memudahkan, kok jadinya menyusahkan gitu….”

Pak Bos : “Mari kita kembali ke masalah WC umum Cho, jangan terlalu melebar ke pembahasan tentang hukum agama. Serahkan itu kepada ahlinya…”

Mr. Choro : “Jadi intinya persoalan Air Putih dan WC umum itu sebenarnya bisa menjadi indikator sederhana bahwa masih banyak Pekerjaan Rumah yang harus kita selesaikan di masa depan. Sebelum membahas tentang ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi, neraca perdagangan dalam dan luar negeri, inflasi, valuta asing, kenaikan harga saham dan hal muluk-muluk lainnya, ada baiknya kita bertanya dulu mengapa minum air putih dan kencing saja harus bayar di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini? Dan bagaimana caranya agar kebutuhan dasar itu terpenuhi seperti di negara maju?”

Pak Bos : “Mbuh Cho…”