Tag Archives: uneg-uneg

Pak Bos ingin Berpolitik (Menjadi Pejabat)

1b6cc98bb0877f54b85d9ef8ccc561b7_ahok

Pak Bos : “Assalamu Alaikum Cho…,”

Mr. Choro : “Waalaikum Salam Pak Bos, tumben wajahnya sumringah pagi ini, ada khabar apa gerangan, sudah gak kebanjiran lagi kah?”

Pak Bos : ” Ya masih…, banjir yo wis ben… arep dikapakno meneh… Sekarang dak usah membahas itu, ini ada sedikit rezeki buat kamu”.

Mr. Choro : “Wah kayaknya Pak Bos lagi banyak rezeki ya pake bagi-bagi segala, bukannya Suuzdon… tapi yang ini kayaknya ada maksudnya”.

Pak Bos : “Biasa aja Cho, kamu itu dikasih sesuatu kok pakai mikir dan curiga aja, mbok ya diterima aja… halal halal…”

Mr. Choro : “Halal sih halal, tapi biasanya kan tak sebanyak ini, pasti ini ada maksudnya, hayooo ada apa…?”

Pak Bos : “Gua ingin berpolitik Cho…”

Mr. Choro : “Maksud Pak Bos?”

Pak Bos : “Ah lu pake nanya segala, ya berpolitik…”

Mr. Choro : “Maksud pak Bos pengin jadi pejabat?”

Pak Bos : “Ya begitu dech….”

Mr. Choro : “Kenapa? Sebagai seorang pengusaha yang sukses, hidup Pak Bos ini kurang apa lagi? Semuanya sudah ada… kok masih sempat-sempatnya pengin cari kerjaan lain?”

Pak Bos : “Justru itu Cho, karena untuk mengurus diri sendiri sudah aku anggap cukup bahkan berlebih malah. Sekarang saatnya untuk naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi… yaitu mengurus orang lain, berpolitik untuk menjadi pejabat, sama seperti kata Pak Basuki Ahok di atas… he he”

Mr. Choro : “Trus yang Pak Bos cari apa?”

Pak Bos : “Saya ingin mengabdikan diri untuk memajukan dan menyejahterakan rakyat Cho. Salah satu caranya ya lewat politik. Setelah berkecimpung dalam dunia bisnis dan korporasi selama puluhan tahun, saya rasa pengalaman dan pengetahuan saya telah cukup memadai untuk menjadi bekal seandainya menjadi pemimpin masyarakat atau pejabat pemerintah.”

Mr. Choro : “Itu untuk orang lain, kalau untuk Pak Bos sendiri apa? Jangan-jangan pak Bos cuma ikut-ikutan temen-temennya pak Bos para Bos-bos itu yang beramai-ramai ikut berpolitik, hanya karena ingin jaga gengsi”.

Pak Bos : “Kamu itu mau nanya atau ngetes saya?”

Mr. Choro : “He he… sori Bos…., saya jadi teringat pelajaran sekolah dulu tentang teori hirarki kebutuhan manusia ala Mbah Maslow yang mengatakan bahwa tingkat kebutuhan manusia itu ada beberapa tingkatan. Yang pertama adalah kebutuhan biologis, sandang pangan papan, yang kedua adalah kebutuhan keamanan, yang ketiga adalah kebutuhan penghargaan dan yang keempat adalah aktualisasi diri.

Sekarang jika saya melihat kondisi pak Bos yang sudah tidak lagi bermasalah dengan kebutuhan dasar karena duitnya sudah banyak, keinginan Pak Bos untuk berpolitik alias menjadi pejabat sebenarnya sedang berusaha memenuhi kebutuhan berikutnya yaitu ingin mendapatkan penghargaan dari orang lain seperti kata Maslow itu, ya tho Bos..?”

Pak Bos : “Wis karepmu lah… intinya saya ini tulus ingin mengabdi kepada masyarakat. Politik itu hak semua warga negara… Kalau artis saja boleh trus apa saya ndak boleh?”.

Mr. Choro : “Apa kewenangan saya sampai-sampai bisa melarang Pak Bos berpolitik? tentu saja bolah-boleh saja tho. Kalau saya amati, menjadi pempimpin di negeri ini seperti masuk hutan belantara. Berbagai macam binatang buas berbentuk permasalahan dan persoalan yang menumpuk di sana siap menghadang dan menunggu untuk ditangani. Kalau kita berhasil menjadi hal biasa. Tapi kalau gagal, itu akan menjadi hal yang luar biasa karena kita akan langsung dicaci-maki di mana-mana. Di media, di warung kopi, Internet… Apa pak bos sudah siap menghadapi itu semua? Jangan sampai penghargaan yang bos cari tapi malah caci-maki, atau bully-an yang justru malah didapat.”

Pak Bos : “Saya ini sudah pengalaman menghadapi kerasnya kehidupan cho, untuk urusan hal begituan mah sudah biasa. Semua itu adalah resiko kehidupan. Makanya itu, kamu mau nggak jadi pendukung saya?”

Mr. Choro : “Saya dukung Bos, apalagi orang seperti Pak Bos yang sudah kaya ini harapannya saat sudah menjadi pemimpin di pemerintahan tentu sudah tidak berpikir lagi untuk mencari uang, apalagi dengan cara korupsi. Tapi ngomong-ngomong nanti kalau ternyata nanti sudah terpilih, visi, misi dan programnya pak Bos apa?”

Pak Bos : “Ya banyak Cho, tidak bisa saya katakan di sini semuanya. Hal yang pokok adalah saya akan memperbaiki mental dan ideologi masyarakat dengan cara menanamkan kesadaran terhadap pelaksanaan kehidupan beragama dan bermasyarakat agar sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing dengan tetap berlandaskan Pancaasila dan Undang-undang dasar 1945, memberantas kemiskinan dan pengangguran dengan menciptakan banyak lapangan kerja, meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan cara mengoptimalkan sistem birokrasi pemerintah, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan sehat, membangun berbagai fasilitas umum dan infrastruktur guna menunjang program-program pembangunan, mewujudkan tercapainya ketahanan pangan dan energi, memajukan dan memodernisasi sistem pertahanan kita agar menjadikan negeri ini disegani di kawasan regional dan dunia kalau perlu, mengatasi berbagai persoalan yang sedang terjadi saat ini misalnya masalah banjir, bencana alam dan lain-lainnya serta masih banyak lagi yang lain… banyak to…”

Mr. Choro : “Wah wah…, Visi misinya Pak Bos pake bahasa dewa semua…pusing saya. Semua pesaing pak Bos juga bahasanya begitu. Bisakah Pak bos menerangkan kepada saya cara yang aplikatif dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti untuk kalangan kaum akar rumput seperti saya ini?”

Pak Bos : “Ya kalau itu nanti Cho, wong sekarang ini jadi aja belum… Saya harus pelajari dulu setelah masuk di sistem pemerintahan. Saya kan bukan dewa atau malaikat…”

Mr. Choro : “Wah kalau harus belajar dahulu setelah masuk ya telat Bos… Kebijakan dan keputusan Pak Bos itu nanti mempengaruhi hajat hidup orang banyak lho, bukan cuma ribuan tapi jutaan jiwa. Hidup rakyat kok dicoba-coba… kayak iklan minyak kayu putih aja. Kalau memang Pak Bos sudah siap menjadi pemimpin, pak Bos seharusnya sudah bisa berfungsi sebagai pemandu arah yang telah memiliki tujuan yang meyakinkan dan telah pula mengetahui kemana arah dan haluan yang akan kita tuju. Kalau pak Bos belum yakin dengan itu apalagi tidak mengetahuinya, yang rugi nanti pak Bos sendiri dan kita-kita pun akhirnya ikut-ikutan tersesat dan kehilangan arah… akhirnya pada buyar kemana-mana…”

Pak Bos : “Okelah Cho, saya akan pikirkan kata-katamu itu… tapi kamu janji dukung saya to..”

Mr. Choro : “Tenang Bos… kalau Pak Bos berhasil membawa negeri ini menuju negeri impian, tidak cuma mendukung, untuk kepentingan anak cucu saya kelak, jadi tukang ketiknya pak Bos pun saya siap. Pak Bos tidak usah repot-repot kasih saya uang. Sebaiknya gunakan uang Pak bos untuk mempublikasikan visi, misi, yang akan Pak Bos laksanakan, baik untuk diri Pak Bos sendiri maupun untuk negeri ini. Saya sebagai rakyat biasa akan mengangkat Pak Bos menjadi manusia setegah dewa seperti lagunya Iwan Fals itu ….”

Pak Bos : “lebai lu Cho…..”

Saat “SANG TOKOH” Bermain Iklan

Mr. Choro : “Halo Pak Bos, bagaimana kabarnya? Lama tak kedengaran nih”.

Pak Bos : “Halo juga Cho, kabar baik… Saya memang lagi sibuk banget sekarang ini, biasa lah… urusan bisnis”.

Mr. Choro : “Hebat ya boss… makin lama bisnisnya makin moncer aja… Perusahaannya semakin menggurita… cabangnya dimana-mana”.

Pak Bos : “Ya semua itu tidak terjadi secara tiba-tiba Cho…, semua melalui proses yang panjang. Saya bisa sukses seperti sekarang ini karena perjuangan, ketekunan dan kedisiplinan. Kita kan berkawan sudah lama dan kamu tentu tahu bagaimana kondisi saya di saat-saat awal memulai bisnis ini sampai akhirnya menjadi sebesar sekarang. Semuanya tidak saya lalui dengan mudah. Tapi ngomong-ngomong apa kamu tidak kepingin seperti saya?”.

Mr. Choro : “Ya pengin Bos, siapa manusia normal di dunia ini yang tidak pengin hidup kaya seperti Pak Bos. Sukses… semua serba ada, pengin apa-apa aja bisa kebeli… mau liburan kemana aja bisa… mau makan seenak apa aja bisa… mobil bisa gonta ganti tiap keluar model terbaru”

Pak Bos : “Terus, kenapa kamu tidak mencoba untuk berbisnis? Takut untuk memulai ya… Perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah kecil Cho…”

Mr. Choro : “Terus terang saya sudah mencoba Pak Bos… bahkan berulang kali saya mencoba untuk memulainya… tapi hasil akhirnya gagal semua. Masalahnya saya ini sering ditipu sama rekan-rekan dan partner bisnis saya. Awal-awal saja mereka baik dan jujur. Lama kelamaan sifat aslinya mulai muncul. Saat bisnis saya sudah mulai maju dan menghasilkan keuntungan… banyak yang mulai curang dan akhirnya bisnis saya ambruk….

Pak Bos : “He he… Saya juga dulu begitu Cho… tapi saya belajar dari pengalaman dan tidak mudah menyerah. Kamu harus tahu kalau rata-rata kegagalan bisnis itu karena lemahnya kendali dan pengawasan atau controlling dari si empunya. Langkah terakhir dari prinsip manajemen itu lho Cho… Planning, Organizing, Actuating dan Controlling. Perencanaannya bagus, pengorganisasiannya bagus, pelaksanaannya bagus, tapi begitu lemah dalam pengawasannya… siap-siaplah “END” bisnis anda. Bisnis tanpa pengawasan itu sama saja dengan berjudi Cho, itu kata Pak Robert Kyosaki, seorang investor dan penulis kaya raya dari Amerika. Kalau kamu tidak bisa mengawasi langsung bisnismu, kamu harus bisa menemukan sistem ampuh yang bisa menggantikannya, sehingga meminimalisir kesempatan para partnermu itu untuk berbuat curang atau menipumu…”

Mr. Choro : “Siap Pak Bos, semoga ke depan saya bisa mengikuti jejak Pak Bos untuk belajar dari pengalaman dan tidak pernah menyerah dalam berjuang… Sementara ini ya saya mencoba mensyukuri apa yang ada dulu aja. Meski nasib saya tidak sebaik Pak Bos, tapi saya lihat masih banyak mereka yang nasibnya tidak seberuntung saya. O ya sekarang kegiatan Pak Bos apa nih….?”

Pak Bos : “Ini lho… saya lagi mempromosikan produk saya yang terbaru. Untuk itu rencananya saya akan ketemuan dengan seorang kawan saya yang akan membintangi iklan produk saya itu”.

Mr. Choro : “Siapa kawan pak bos itu? ….Artis atau selebritis?”

Pak Bos : “Ya kayaknya kalau dibilang artis, enggak sih, kalau selebritis mungkin… yang jelas dia seorang publik figur. Dia seorang tokoh agama merangkap pejabat di negeri ini. Panggilannya “Sang Tokoh”. Saya rasa tidak ada seorangpun di Indonesia ini yang tidak mengenalnya. Wong wajahnya hampir tiap hari nongol di TV. Makanya sangat cocok bila dia mempromosikan produk saya itu, kebetulan waktu saya telepon dia menyatakan bersedia”.

Mr. Choro : “Oooo Sang Tokoh yang itu…, Produknya Pak Bos itu ada yang menyamainya gak?”

Pak Bos : “Ya tentu saja ada Cho…. bukan cuma satu, malahan banyak sekali perusahaan lain yang memproduksi produk sejenis punya saya itu. Produk itu kan lagi trend sekarang dan permintaan konsumen sangat tinggi, makanya saya harus mempromosikannya dan siap-siap untuk bersaing dengan merk lain. Hidup ini persaingan Cho… apalagi di dunia bisnis, harus pake strategi, salah satunya ya yang saya bilang tadi itu…. kalau perlu kita perang iklan”

Mr. Choro : “Wah kalau saya melihat dari sudut pandang yang lain… saya kok kurang setuju jika Pak Bos memanfaatkan Sang Tokoh itu untuk kepentingan bisnis Pak Bos”.

Pak Bos : “Lha makanya bisnis kamu gagal terus Cho… lha wong kamu tidak mau mengambil resiko, tapi aku kok pengin dengar alasanmu kenapa sih kok Sang Tokoh itu sebaiknya tidak bermain iklan? Itu kan pekerjaan halal dan banyak orang lain yang melakoninya… Bahkan ada tuh salah seorang artis yang berulang kali main iklan shampoo dengan merk yang berbeda-beda, tapi oke-oke saja”.

Mr. Choro : “Wah kayaknya kalo itu lain cerita Pak Bos… Sang Tokoh yang ini kan tokoh nasional, figur dan panutan untuk seluruh umat dan rakyat. Beliau adalah milik semua, bukan milik kelompok atau golongan tertentu.
Saya coba ilustrasikan dengan cerita berikut Pak Bos…

Pada suatu hari di suatu kampung ada seorang ustad yang menjadi tokoh masyarakat di daerah tersebut. Dia juga menjadi penceramah tiap ada pengajian rutin. Sementara itu ada dua orang tukang bakso yang juga tidak pernah absen mengikuti ceramah Sang Ustad.

Suatu saat salah seorang tukang bakso sebut saja Si A datang ke rumah Sang Ustazd dan menawarkan akan memberikan bantuan untuk merenovasi mushalla di kampung itu asalkan dengan satu syarat Sang Ustad bersedia mempromosikan baksonya. Sang ustadzpun menyatakan bersedia. Demi kepentingan Mushalla ini, pikirnya. Dia tidak menyadari bahwa di kampung itu ada seorang tukang bakso lain sebut saja Si B yang juga setia mengikuti pengajiannya dan mengidolakannya. Dalam salah satu pengajiannya, Sang Ustazdpun “beriklan” tentang bakso si A. Saat itu Si B pun sedang mengikuti pengajian itu.

Sekarang saya tanya kepada Pak Bos… kira-kira menurut logika apakah tukang bakso si B akan masih mengidolakan sang Ustadz serta masih mau datang ke pengajian lagi setelah mendengar Sang Ustadz beriklan tentang bakso Si A….?”

Pak Bos : “Ya, kemungkinan seperti apa yang kamu pikirkan itu ada. Kemungkinan lainnya si tukang Bakso B akan mendatangi ustadz atau tokoh lainnya untuk juga mempromosikan baksonya agar bisa bersaing dengan tukang bakso A, itulah yang namanya bisnis”

Mr. Choro : “Maksud Pak Bos, akan terjadi adu domba para ustad di kampung itu?”

Pak Bos : “Ya tidak begitu Cho… kayaknya kamu terlalu berlebihan dalam berprasangka…, intinya kan kita ini bisnismen… kita melihat dari segi aspek bisnis, kalau itu menguntungkan yang kita jalankan. Aspek lain termasuk dalam hal yang kamu khawatirkan itu ya biar Sang Tokoh yang memikirkannya…, saya yakin berbekal ilmu dan pengalamannya dia sudah menghitung dan mengukur apa untung ruginya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi umat”

Mr. Choro : “Yaah… semoga saja kekhawatiran saya itu salah, sebab sudah banyak contoh yang terjadi di masa lalu dan bisa dijadikan pelajaran. Banyak tokoh yang saat itu sangat populer dan menjadi milik seluruh umat namun akhirnya namanya tenggelam karena tanpa sadar telah mengkotakkan dan menyempitkan dirinya ke dalam suatu kelompok atau golongan, misalnya masuk atau mendirikan partai politik tertentu.

Laper nih bos, bagaimana kalau pak bos ikut saya cari makan”

Pak Bos : “Ayo Cho… kemana? Tumben kamu ngajak-ngajak saya, biasanya saya yang ngajak kamu.”

Mr. Choro : “Bagaimana kalau Pak Bos ikut saya makan-makan ke tempatnya Pak Bos, kan di sana makanannya enak-enak”.

Pak Bos : “Ah dasar, wedhus koen…. ywis ayo…”