Tag Archives: TRUK GANDENG

Truk Gandeng, Tronton, Trailler dan Pembangunan Salah Arah

Mudik ke kampung halaman dari Surabaya ke Kudus menggunakan kendaraan pribadi via darat memang alternatif yang murah, meriah, praktis dan menyenangkan. Dengan bermodalkan biaya 100 ribu untuk solar, dan bekal makan yang sudah disiapkan dari rumah, niat untuk bersilaturrahmi dengan sanak keluarga sudah bisa terpenuhi. Bandingkan bila harus naik angkutan umum seperti kereta api atau bus. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli tiket, belum lagi waktu dan keribetan pada saat berangkat dari rumah ke terminal atau dari terminal ke rumah.

Satu hal yang membuat perjalanan menjadi kurang nyaman adalah kondisi jalan raya pantura Jatim dan Jateng yang sebagian ruas masih cukup sempit karena hanya satu lajur serta masih banyaknya perbaikan jalan dan jembatan di beberapa tempat yang entah kapan akah berakhir dan mengakibatkan kemacetan sampai berkilo-kilometer jauhnya. Ditambah lagi dengan banyaknya jumlah kendaraan berat seperti truk tronton, truk gandeng, truk trailler dan kendaraan berat lainnya yang cukup membuat sopir kendaraan kecil harus menguras tenaga dan konsentrasi saat menyetir. Bila tidak bersabar dan pintar-pintar untuk menikmati arti sebuah perjalanan tentu menyetir menjadi “grusa-grusu”, dan mezig-zag kendaraan agar bisa mendahului monster-monster darat itu. Tak jarang jalur untuk roda dua di sebelah kiri, terpaksa “disasak” juga karena menyalip kendaraan yang secepat keong tersebut dari sebelah kanannya cukup riskan akibat tak kalah padatnya kendaraan dari arus berlawanan.

Ada satu pertanyaan yang mengusik saya dengan keberadaan kendaraan-kendaraan berat tersebut terkait dengan geografis negara kita yang berbentuk kepulauan, bukan negara kontinental atau negara benua seperti Amerika, Eropa atau India.

Apakah kendaraan berat ini cocok untuk negara kita yang berbentuk kepulauan?

 

JUMLAH

Dari segi jumlah kendaraan ini memang sudah terlalu banyak di negeri tercinta ini, terutama di pulau Jawa. Keberadaannya yang berlimpah sungguh merugikan kendaraan berkelas dibawahnya yang lebih kecil, ringan dan cepat. Bila dibandingkan dengan jalan-jalan di luar Jawa terutama di wilayah timur yang pernah saya kunjungi kondisinya sungguh jauh berlawanan. Jalan-jalan itu demikian mulus namun begitu sedikit kendaraan yang melewatinya.

UKURAN

Pernahkah kita melihat sebuah rambu-rambu lalu lintas yang berbunyi “TRUK AMBIL JALUR KIRI”. Ya… karena lambatnya itulah maka rambu-rambu itu ada, agar kendaraan lain yang lebih cepat bisa dengan mudah mendahuluinya dari jalur kanan. Namun yang terjadi adalah kendaraan ini jarang sekali yang berada di jalur kiri, kecuali di jalan tol. Ketika sopir ditanya alasannya kenapa, jawabnya adalah karena jalur kiri banyak kendaraan roda dua, sehingga mereka takut akan menyenggol para pengendara sepeda motor tersebut tanpa mereka sadari karena ukurannya yang memang relatif “RAKSASA”. Dilihat dari segi ukuran kendaraan ini sudah tidak memiliki tempat di jalan raya di darat, alias di kanan salah, di kiri pun salah.

Mungkin kita bisa berargumen… ya tinggal dilebarkan saja jalannya kalau perlu sampai lima lajur agar semua kendaraan dapat menempati lajur sesuai dengan kelasnya masing-masing. Perlu diingat lagi bahwa kita adalah negara kepulauan, yang terdiri dari pulau-pulau, artinya daratan kita terbatas oleh laut. Di samping hal tersebut buang-buang biaya, memperlebar jalan jelas akan mempersempit dan menghabiskan ruang hidup dan tempat tinggal kita yang juga terbatas ini.

Bila dilihat dari segi ekonomi tentu sepintas akan dapat dinilai bahwa alat tranportasi berukuran besar akan membuat biaya ekonomi menjadi lebih rendah karena volume barang yang dimuatnya juga banyak. Itu adalah pendapat para pemilik perusahaan yang memiliki alat transportasi tersebut. Namun sadarkah kita bahwa dengan bobot dan ukuran sedemikian, kerusakan jalan yang ditimbulkannya membuat pemerintah harus tiap tahun menganggarkan milyaran bahkan trilliunan rupiah untuk memperbaiki jalan itu. Artinya jalan yang rusak karena dilewati oleh kendaraan para konglomerat pemilik usaha industri dan transportasi akhirnya harus ditanggung perbaikannya oleh para pembayar pajak rakyat dari segala kalangan baik kaya maupun miskin, dengan kata lain keuntungan yang diraih oleh para pengusaha tersebut telah menciptakan kerugian material yang harus ditanggung oleh rakyat.

KECEPATAN.

Saya juga sering jumpai rambu-rambu lalu lintas yang membatasi kendaraan antara 40 sampai dengan 80 km/jam. Pembatasan kecepatan itu ada agar kendaraan tidak berkecepatan terlalu rendah untuk memperlancar arus lalu lintas juga tidak berkecepatan terlalu tinggi agar tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Kenyataan yang ada para truk gandeng, trailler, tronton itu tidak pernah bisa mencapai kecepatan batas bawah. Apalagi bila melewati tanjakan meski dengan kemiringan beberapa derajat.

KESIMPULAN

Kendaraan berat tersebut habitatnya bukan di darat, tetapi di laut yang tidak ada batas jumlah, ukuran dan kecepatan. Prinsip transportasi darat untuk negara kepulauan Indonesia seharusnya seperti bentuk geografis negaranya :

“Silahkan jumlahnya banyak tetapi ukurannya kecil-kecil, bukannya seperti kondisi sekarang; Sudah ukurannya besar-besar, jumlahnya banyak, lambat lagi.”

Wallahu A’lam bissowab.