Tag Archives: susu sapi

Putri Bungsuku dan Susu Sapi

018e4d8d6829218f3402292cc0aae2b5_gold-edition-the-miracle-of-enzyme

Dokter Hiromi Shinya adalah seorang penulis buku best seller yang katanya tidak pernah sakit selama hidupnya kecuali flu, itupun saat berusia sembilan belas tahun. Di dalam bukunya yang berjudul “The Miracle of Enzyme”, ia memberikan resep tentang rahasia hidup sehat sampai tua. Salah satu resep itu adalah amati dan ikutilah bagaimana cara alam bekerja di sekeliling kita. Itulah salah satu cara untuk hidup sehat.

Salah satu contoh adalah kenapa binatang bernama sapi dewasa tidak akan pernah mau minum susu sapi dari teman sebayanya karena pada dasarnya susu sapi memang hanya cocok untuk anak sapi. Bukan sapi dewasa apalagi bayi dan manusia dewasa. Alasan ilmiahnya ternyata susu sapi tidak baik untuk pencernaan karena meskipun sebelum diminum berbentuk cairan, namun setelah di lambung akan segera menjadi gumpalan dan sulit dicerna oleh tubuh sehingga membutuhkan lebih banyak enzim-enzim tertentu untuk menetralisir efek negatifnya.

Jika demikian kenapa susu formula yang diolah dari susu sapi demikian populer dalam kehidupan kita sehari-hari dan bahkan menjadi salah satu sumber nutrisi yang kita anggap sangat bergizi? Apalagi memberikannya kepada bayi kita?

Terlepas dari benar atau tidak pernyataan tersebut, berdasarkan pengalaman pribadi membesarkan tiga orang anak, saya akhirnya memperoleh kesimpulan bahwa meminum susu sapi (susu formula) atau tidak, ternyata memang tidak banyak berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan mereka.

Anak saya berjumlah tiga orang. Dua laki-laki dan yang bungsu adalah perempuan. Dari ketiga anak tersebut, putri bungsu sayalah yang berbiaya paling ekonomis sewaktu bayi. Alasannya? Karena ia tidak mau minum susu formula, berbeda dengan kakak-kakaknya. Awalnya saya membelikan susu formula bermerk cukup populer karena terpengaruh oleh iklan tivi yang mengatakan masa bayi adalah periode keemasan perkembangan dan pertumbuhan otak karena itu perlu nutrisi berkualitas terbaik. Rupanya sampai masa kadaluarsanya habis susu itu tetap utuh di tempatnya.

Penolakan anak bungsu saya terhadap susu menjadi anugerah tersendiri bagi saya orang tua. Betapa tidak, sebagian besar kita tentu menghabiskan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah pengeluaran bulanan untuk membeli susu anak yang harganya tidak murah. Ambil contoh jika kita menghabiskan biaya satu juta perbulan hanya untuk susu anak, maka dalam waktu dua tahun kita harus mengeluarkan uang sebesar 24 juta rupiah. Setara dengan DP ringan untuk rumah sederhana. Jika biaya yang kita keluarkan sepadan dengan hasilnya tentu tidak masalah, tapi jika tidak ada pengaruhnya alias hasilnya sama saja antara minum susu atau tidak, bukankah itu menjadi pengeluaran yang sia-sia?

Sudah satu setengah tahun putri bungsu saya tidak minum susu formula dan hanya meminum ASI dan makanan biasa. Meski demikian saya mengamati pertumbuhan dan perkembangannya terlihat normal seperti bayi-bayi pada umumnya. Bahkan bila dibandingkan dengan kakak-kakaknya cenderung lebih sehat, gemuk dan nggemesi. Selama ini putri bungsu saya pun belum pernah mampir ke rumah sakit seperti anak-anak saya sebelumnya.

Jika demikian, lalu apa manfaat susu formula yang harganya mahal itu? Apakah kita selama ini termakan oleh ajaran yang keliru tentang susu sebagai salah satu unsur empat sehat lima sempurna?

Satu tambahan lagi sebagai contoh adalah makanan yang dianggap sehat bernama daging. Beberapa waktu terakhir ini kita dihebohkan oleh harga daging sapi yang selangit dan sempat menyeret beberapa tokoh sehingga menjadi pesakitan di pengadilan. Menurut sang Dokter, memakan daging juga tidak ada hubungannya dengan kesehatan atau kecerdasan, bahkan cenderung memberi efek buruk untuk kesehatan. Hal itu tentu berbeda dengan pernyataan Pak menteri yang doyan mengimpor daging itu.

Faktanya? Lihatlah bagaimana alam kita bekerja. Hewan-hewan yang memiliki tenaga dan daya tahan luar biasa adalah bukan pemakan daging. Contohnya Kuda, Sapi, Kerbau, Kijang, Unta dan lain-lainnya. Itulah hewan-hewan pelari marathon. Sementara itu hewan-hewan pemakan daging meskipun larinya cepat tapi hanya sebentar dan langsung ngos-ngosan. Itupun saat mereka menerkam mangsanya yang pertama kali dimakan adalah isi perutnya.

Jadi apakah saat kita hanya bisa cepat tapi tidak tahan lama?

Bisa jadi itu disebabkan karena terlalu banyak makan daging…

Itu kata Pak Dokter Hiromi, bukan kata saya….