Tag Archives: solusi

Banjir Jakarta (dan lainnya) yang entah kapan berakhir.

Mr. Choro : “Halo Boss, lama tak jumpa nih, gimana khabarnya?”

Pak Bos : “Banjir Cho…”

Mr. Choro : “Iya Bos, beberapa hari ini, semua media baik cetak maupun elektronik beritanya banjir melulu… Rumahnya Pak Bos yang di Jakarta kebanjiran juga…?”

Pak Bos : “Ya Iyya laaah, lu pura-pura kagak tau ya… Lha kamu gimana? kebanjiran gak?”

Mr. Choro : “Ya enggak lah Boos, wong tempat tinggalku tiga lantai. Bukan rumahku yang tingkat… Maksudnya tinggalku di flat alias rumah susun tingkat kayak kampung deret ala Pak Gubernur Jokowi itu lho…. jadi kalau memang sewaktu-waktu terjadi banjir ya tinggal naik ke tingkat paling atas. Lagi pula lokasinya juga dekat pantai, kalau banjir bandang airnya langsung ke tempat penampungannya…. ke laut. Aman boooss….”

Pak Bos : “Beruntunglah kamu Cho…, Lha awak ini gimana nasibnya? Kapan penderitaan ini akan berakhir?”

Mr. Choro : “Sabar Pak Bos, nikmati perjalanannya…. jangan tujuannya, mau pak bos buat susah atau seneng saat banjir ya umur ini tetap jalan to… jadi mending dinikmati aja apapun yang terjadi…”

Pak Bos : “Nikmati gundulmu itu? Lu sih gampang kalo ngomong… banjir kok disuruh menikmati. Kamu sih nggak merasakan bagaimana sengsaranya… sudah listrik mati, ngungsi, terlantar, kedinginan, penyakit, mau kemana-mana susah, mau berangkat kerja susah, cari apa-apa susah, macet dimana-mana, mau buang air saja pusing… Belum lagi kerugian material yang harus ditanggung…. gak kehitung kayaknya. Apalagi kalau kerugiannya dikalikan dengan seluruh jumlah korban… nilainya bisa trilliunan rupiah, semuanya hilang sia-sia gara-gara banjir, kalau barang-barang elektronik kecil sih bisa di gotong ke lantai atas, lha kalau mobil? Atau kulkas tiga pintu, masak mau digotong juga…. Kalau sudah begini gak peduli kaya atau miskin sama saja… sama-sama susah deh pokoknya…

Mr. Choro : “Iya Bos saya ngerti… jangankan kebanjiran berhari-hari, flat saya mati lampu beberapa hari saja sudah membuat pusing kepala…bingung mau nyalakan pompa air PDAM untuk MCK, apalagi Pak Bos yang sudah terbiasa hidup nyaman dan enak lalu harus menghadapi bencana seperti itu…”

Pak Bos : “Ya makanya itu, trus kalau sudah begini sing salah sopo?”

Mr. Choro : “Jangan begitu Bos… tidak baik mencari-cari kesalahan orang lain atas semua bencana ini. Katanya menurut hirarki intelegensia tingkat kedewasaan seseorang bisa diukur dari ketika ia lebih banyak bertanya ‘mengapa, dan ‘bagaimana’ daripada menanyakan apa, siapa dan kapan. Orang selevel Pak Bos ini seharusnya sudah bisa memberikan kontribusi atau masukan berupa pemikiran bagaimana solusi untuk memecahkan masalah banjir di Jakarta ini”.

Pak Bos : “Iya Cho… tapi kita ini kan punya pemerintah yang tugasnya untuk mengurusi itu semua. Apalagi sekarang sudah dipilih secara langsung. Lagi pula mereka kan digaji besar dan diberi kewenangan untuk mengelola anggaran dan pendapatan negara dari pajak yang kita bayar. Trus apa gunanya keberadaan mereka jika kita harus ikut-ikutan berpikir mengatasi persoalan seperti banjir ini… Kayaknya aku mulai meragukan kemampuan Bos-bos kita dalam mengatasi persoalan banjir seperti ya ia janjikan waktu kampanye dulu…”

Mr. Choro : “Dari situlah makanya kita harus sadar bahwa menjadi pemimpin itu tidak mudah. Jangankan sebagai kepala daerah atau kepala negara yang anggotanya jutaan orang, mengurus rumah tangga aja kadang-kadang pusing…. Banyak dari mereka yang berkoar-koar menghujat pemerintah terutama saat terjadi bencana tapi ketika ia diberi kesempatan untuk duduk sebagai pengambil kebijakan dan keputusan akhirnya sama saja… nggedebus semua…”

Pak Bos : “Trus kalau bukan menyalahkan manusia masak kita mau menyalahkan alam Cho… menyalahkan alam itu kan sama saja dengan menyalahkan Tuhan…

Tapi ngomong-ngomong sebenarnya pemerintah kan tidak diam saja dengan kondisi seperti ini. Berbagai langkah penanganan untuk mengatasi banjir ini sudah banyak dilakukan. Sudah tak terhitung banyaknya waktu, biaya dan tenaga yang digelontorkan untuk mengatasi itu dari mulai modifikasi cuaca, pengerukan atau normalisasi sungai dan waduk, relokasi warga di bantaran kali, bangun kanal banjir dan sudetan kali, dan lain-lainnya. Namun kok ya seakan-akan semua itu sia-sia belaka gak ada pengaruhnya… Tiap tahun tetap saja kita kebanjiran.
Masak tiap tahun kita mau kayak begini terus Cho…”

Mr. Choro : “Menurut saya semua langkah penanganan banjir yang pak Bos sebutkan itu adalah solusi jangka pendek dalam mengatasi masalah, bukan jangka panjang. Solusi itu tidak sampai ke akar permasalahannya. Terjadi dulu baru berpikir bagaimana mengatasinya. Ibarat kita mencabut rumput tapi tidak sampai ke akarnya. Namanya saja solusi jangka pendek, otomatis berlakunya ya untuk waktu yang singkat pula selama akar permasalahannya tidak diatasi…

Solusi yang ada juga cenderung melawan alam dan bukannya berharmoni dengannya. Mari kita ambil contoh Jakarta. Jakarta itu kan banyak yang nama-nama daerahnya dari kata rawa misalnya Rawa Badak, Rawamangun, Rawa Buaya, Rawa Malang, Rawa Bunga, Rawa Belong, Kampung Rawa dan rawa-rawa lainnya. Yang namanya rawa itu kan tempatnya air. Dari situ saja sudah ketahuan bahwa Jakarta itu sebenarnya tempatnya air. Sudah tahu begitu dengan mengatasnamakan pembangunan ekonomi dan modernisasi tempatnya air kok malah pada diurug trus didirikan mall, perumahan, pabrik dan bangunan-bangunan lainnya. Trus kalau hujan atau dapat kiriman dari gunung, airnya mau disuruh lewat mana? Ya terpaksa ia lewat jalan raya, perumahan dan bangunan-bangunan yang dulu tempatnya air itu? Sekarang baru deh dirasakan akibatnya, kebanjiran semua baru nyahok…

Sama seperti metode untuk menyembuhkan luka. Di samping mengobati dengan obat luar, seharusnya kita juga mengimbanginya dengan pengobatan dalam. Itulah bos, terkadang kita ini pola pikirnya pendek, tidak berpikir apa akibatnya di kemudian hari.
Menurut Pak Bos mengapa banjir yang terjadi di negeri ini harus terjadi setiap tahun? Bahkan kecenderungannya bukannya semakin baik malah semakin buruk dan mengkhawatirkan… Apa sebenarnya pangkal permasalahannya?

Pak Bos : “Banyak penyebabnya Cho… dari mulai penggundulan hutan, berkurangnya daerah resapan di daerah hulu sungai karena beralih fungsi menjadi bangunan atau villa-villa itu, perilaku manusia yang membuang sampah seenak perutnya sendiri dan akhirnya memenuhi sungai dan menyumbat saluran air, bertempat tinggal di bantaran kali, dan masih banyak lagi…”

Mr. Choro : “Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa faktor terbesar yang menjadi penyebab semua bencana itu adalah manusia, setuju bos?”

Pak Bos : “Betul Cho, kenapa ya kita ini kok susah sekali diajak untuk hidup disiplin dan sadar terhadap lingkungan… padahal dari mulai TK sampai Perguruan Tinggi kan kita ini sudah tidak kurang-kurang mendapat pelajaran tentang pentingnya menjaga lingkungan. Artinya semua orang itu sebenarnya sudah tahu dan sadar tentang itu semua, tapi kok ya masih saja banyak yang menggunduli hutan, membangun seenaknya, membuang sampah sembarangan dan lainnya….”

Mr. Choro : “Lha gimana lagi bos, semua itu bisa saja terjadi kalau kepepet?”

Pak Bos : “Kepepet gimana maksudmu?”

Mr. Choro : “Ya kepepet karena sebagian besar waktu yang ada habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup Bos?”

Pak Bos : “Kepepet ya kepepet, tapi jangan merugikan orang lain dong?”

Mr. Choro : “Begini Bos… Saya coba ilustrasikan dengan contoh kecil kehidupan rumah tangga.

Mari kita umpamakan Pak Bos adalah orang kaya yang tinggal di lingkungan RT. Di RT itu ada aturan yang membatasi warganya yaitu hanya boleh memiliki satu rumah berukuran tertentu. Saat itu Pak Bos baru punya dua orang anak dan dengan kamar-kamar yang ada masih cukup luas dan nyaman untuk ditinggali.

Beberapa waktu kemudian ketika anaknya Pak Bos sudah besar dan beranak cucu pula, Pak Bos bilang kepada mereka kalau ingin mendapatkan warisan harus mau tinggal serumah bersama pak Bos. Karena tergiur oleh warisan pak Bos akhirnya mereka memilih tinggal bersama satu atap meski mulai merasa tidak nyaman karena kekurangan ruangan.

Lama-kelamaan rumah itu penuh dan sesak karena tidak lagi mencukupi untuk ditempati pak Bos beserta anak-anak dan cucu-cucu. Berbagai permasalahan mulai muncul misalnya masalah kebersihan, pertengkaran yang sering terjadi antara cucu-cucu pak bos dan lain-lainnya. Pak Bos berpikir untuk menambah lagi bangunan di atasnya. Hal itu ternyata itu juga tidak mengatasi masalah karena anak-anak dan cucu-cucu pak Bos lebih memilih di lantai bawah daripada di lantai atas.

Kerena banyaknya persoalan Pak Bos mulai membuat bermacam-macam peraturan di rumah itu. Namun ternyata hal itu juga tak lagi ada pengaruhnya. Rumah tetap kotor, penghuni tetap tidak disiplin, buang sampah sembarangan, saluran WC mampet, terjadi pencurian, dan lain-lainnya…. Satu-satunya solusi yang bisa diharapkan adalah Pak Bos harus bicara dan bernegosiasi kepada ketua RT agar mengijinkan Pak Bos membuat rumah baru di lahan yang lain. Dan akhirnya keputusan itu berada di atas kewenangan atasan pak Bos alias Pak RT.

Pak Bos : “Trus intinya ceritamu itu opo Cho?”

Mr. Choro : “Intinya bila Jakarta itu ibarat rumah, lingkungan alias ruang hidup yang ada sebenarnya sudah tidak lagi mampu mendukung untuk menghidupi populasi penduduk sebanyak itu Bos. Jadi pertama kali yang harus dilakukan sebelum mengatasi persoalan banjir di Jakarta itu kurangi dulu penduduknya. Setelah jumlahnya sesuai dengan kondisi ideal untuk hidup layak, barulah semua program penanganan banjir seperti yang pak bos sebutkan tadi itu bisa dilaksanakan tanpa menemui banyak halangan.
Yang terjadi saat ini pemerintah mau mengeruk sungai harus pusing tujuh keliling karena akses untuk ke sana dipenuhi oleh para warga penghuni bantaran kali dan kampung kumuh yang jumlahnya semakin hari semakin bertambah”.

Pak Bos : “Maksudmu solusi pertama kali yang harus dilaksanakan adalah membuat peraturan selain warga Jakarta harus dipaksa pulang kampung semua kembali ke daerah asal masing-masing begitu? Biar Jakarta sepi kayak pas Hari Raya… Emang kamu pikir gampang apa?”

Mr. Choro : “Kita ini bangsa merdeka Bos, kok masih maksa-maksa kayak zaman kompeni aja. Mereka para pendatang itu rakyat kita juga, warga negara Indonesia yang juga ingin hidup makmur dan sejahtera di tanah airnya sendiri. Mereka juga punya hak untuk mencari peruntungan dan mata pencaharian dimanapun berada termasuk di ibukota. Lagi pula percuma saja memaksa mereka kembali ke daerah masing-masing. Kenapa? Karena seperti peribahasa ‘ada gula ada semut’ para urban yang datang ke Jakarta itu kan karena menganganggap bahwa banyak gula yang menumpuk di Jakarta dibandingkan dengan yang ada di kampung halaman mereka. Jadi selama gulanya masih menumpuk di sini, sampai kapanpun semut-semut itu akan selalu datang untuk mendekat. Seandainya daerah mereka sendiri banyak gula yang bisa memberi mereka penghidupan, saya yakin mereka lebih memilih tinggal di kampung daripada harus merantau ke daerah orang lain.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa seharusnya penduduk Jakarta itu idealnya 800 ribu orang… Lha sekarang yang mengisi 8 juta orang… dan lagi jumlah itu selalu bertambah setiap saat, siapapun Gubernurnya pasti klenger Bos…

Cara mengurangi penduduk Jakarta sebenarnya tinggal memindahkan sebagian gula-gula yang ada di Jakarta itu ke tempat lain di Indonesia… Indonesia bukan Jakarta saja Bos, masih banyak tanah kita di nusantara ini yang belum ditempati… Jadi sebar gulanya, jangan semutnya…
Kalau jumlah penduduknya sudah ideal dan tidak empet-empetan, seharusnya lebih mudah menerapkan semua aturan-aturan yang kita buat… termasuk aturan untuk buang sampah, disiplin, berbudaya dan lain-lain… apalagi jika penghasilan mereka dari kerja sebulan bisa untuk biaya kebutuhan hidup selama tiga bulan… dengan kata lain lebih banyak waktu untuk memenuhi keinginan… Pasti Gubernurnya bisa tidur nyenyak tiap malam… Untuk mengatasi kepadatan penduduk di Jakarta itu sudah bukan level Gubernur yang menyelesaikan, melainkan atasan yang lebih tinggi, kalau sesuai contoh di atas ya ketua RT…”

Pak Bos : “Iya Cho kalau cuma berteori sih gampang, trus maksudmu yang menjadi gula di Jakarta itu apa?”

Mr. Choro : “Yang namanya pendapat kan bolah-boleh saja tho Bos, mumpung facebook masih gratis… apalagi di negara paling demokratis sedunia, Indonesia tercinta…

Kalau masalah apa yang menjadi gula di Jakarta… Pak Bos pikir sendiri saja deh…”

Jalur Pantura Bikin Sengsara, Solusinya? Ke Laut Aja…

Pak Bos : “Halo Cho… Baca koran kok karo mesam-mesem gitu tho, kayaknya ada sesuatu yang menarik”.

Mr. Choro : “Ini Lho Pak Bos, lagi baca komentarnya Mr. Pecut dari Jawa Pos, kata-katanya begini…Jalan Pantura Beres = Keajaiban dunia ke 8 ha ha…”

Pak Bos : “Iya Cho, jalan pantura lagi jadi sorotan nih… Bahkan kabarnya mulai jadi target penyelidikan KPK. Disinyalir ada yang nggak beres di sana. Lha wong perbaikan jalan kok udah bertahun-tahun nggak kelar-kelar, istilahnya jadi proyek abadi… Yang namanya proyek abadi seperti itu jelas rawan terhadap penyelewengan anggaran… wajar lah kalo rakyat ini bertanya-tanya ada apa dengan cinta eh… dengan jalan pantura itu…dan sekarang bau tak sedap itu sudah mulai tercium di mana-mana…”

Mr. Choro : “Mangkanya itu pak Bos, komentarnya Mr. Pecut itu kayaknya yen tak pikir-pikir ada benarnya juga, saya termasuk yang turut mengamati jalanan itu karena tiap kali mudik atau pas pulang kampung biasa melewatinya. Yen tak rasakan juga sudah bertahun-tahun lalu sampai saya lupa kapan mulainya yang jelas sudah lamaaa sekali kok perbaikan, rusak lagi, perbaikan lagi, rusak lagi begituuu terus, entah kapan selesainya… entah berapa triliun duit rakyat habis untuk jalan itu… Kita itu memang susah ya belajar dari pengalaman, padahal ada peribahasa katanya keledai saja takkan terantuk untuk yang kedua kali… masak kita menghadapi permasalahan yang sama tiap tahun… Gak ketemu nalar memang…

Gara-gara perbaikan itu, beberapa waktu yang lalu pas saya lagi pulang kampung, Pantura muacetnya luar biasa Bos, sampai berpuluh-puluh kilo… Padahal udah saya niati berangkatnya malam-malam biar lancar, eh ternyata tetap kena macet juga… awalnya sih pengin jadi pengendara yang baik dan taat aturan ikut jalur kiri dan ngantri di belakang para monster-monster truk gandeng, trailler, dan tronton itu… lha kok tak tunggu-tunggu berjam-jam gak jalan-jalan, tak amat-amati supir truk di depan saya matikan mesin trus tertidur … ngorok lagi…., janc** tenan bos, Wah kalo ngikuti truk-truk itu bisa-bisa tiga hari baru sampai rumah saya… akhirnya terpaksa langgar aturan juga… tancap gas ambil jalur kanan sambil ketar-ketir dipisuhi dan dipelototi lampu dim kendaraan yang datang dari arah berlawanan… ampun deh bos… untung aja selamet…

Pas pulangnya saya coba melewati jalur alternatif dan ternyata jalan tersebut yang sebulan sebelumnya hanya sedikit kerusakan di beberapa titik tertentu ternyata juga rusak parah… hancur semua karena dilewati oleh kendaraan yang bukan kelasnya. Rupanya para sopir kendaraan berat itu pun berpikiran sama seperti saya mencoba melewati jalur alternatif… betul-betul ruwet bos…”

Pak Bos : “Yen menurutmu masalahnya di mana Cho, jalan pantura kok jadi kayak gitu itu… diperbaiki tapi gak baik-baik…?”

Mr. Choro : “Kalo menurut saya kayaknya masalahnya ada di Pak Bos dan bolo-bolonya itu dech”

Pak Bos : “Waa lha mulai ngawur kowe… menyalahkan saya, apa hubungannya Cho antara saya sama jalan pantura…”

Mr. Choro : “Pak Bos ini sebagai Bos besar yang punya perusahaan-perusahaan besar, ngomong-ngomong merasa gak kalo armadanya Bos si Truk gandeng, trailler, tronton sama kendaraan berat lainnya itu yang bikin rusak jalan?”

Pak Bos : “Lha itu bukan urusan saya to Cho… Kendaraan-kendaraan berat, panjang dan lebar itu kan untuk efisiensi dan efektivitas distribusi produk-produk saya… bayangkan seandainya untuk mengirim barang-barang saya yang jumlahnya bejibun itu pake mobil box kecil, truk engkel atau pick up… jelas tidak ekonomis sama sekali dari segi BBM, ongkos supir, perawatan kendaraan dan lain-lainnya?”

Mr. Choro : “Di situlah letak penyakitnya Bos… keuntungan usaha pak Bos dari penggunaan kendaraan berat pembikin rusak jalan itu akhirnya harus ditanggung oleh pemerintah dengan menghabiskan duit triliunan rupiah tiap tahun untuk merawat dan memperbaikinya, kalimat lainnya keuntungan pak Bos itu sebenarnya dibayar oleh seluruh rakyat Indonesia gak peduli kaya atau miskin…

Bukankah itu namanya sangat tidak adil?… Masak pak Bos yang sudah kaya raya ini ditomboki oleh orang-orang pas-pasan seperti saya… Pak Bos ndak malu apa…

Pak Bos : “Lha aku kan sudah membayar pajak Cho untuk perbaikan jalan itu tho…”

Mr. Choro : “Maksud pak Bos ndak apa-apa ngrusakin jalan? toh sudah bayar untuk memperbaikinya gitu? Kata-kata pak Bos itu memang ada benarnya dan itu pula yang menjadi sebab awal adanya proyek abadi dan menjadi biang penyelewengan pajak, pendapatan dan belanja negara…”

Pak Bos : “Kayaknya analisamu itu perlu dibuktikan dulu itung-itungannya,… okelah kalau memang kendaraan berat itu yang bikin rusak jalan, berarti kualitas jalannya yang harus diperbaiki… Gimana kalo pake beton semua biar kuat selama puluhan tahun kayak jalan tol …”

Mr. Choro : “Betul Bos, jalan pake beton memang awet… tapi berapa biayanya? Meskipun saya bukan insinyur teknik sipil tapi saya tahu biaya pembuatan jalan beton itu pasti sangat-sangat luar biasa mahal… , Lagi pula membangun jalan beton ribuan bahkan  jutaan kilometer di seluruh Indonesia itu mau butuh waktu berapa lama… Lha wong jalan tol di Pantura yang jaraknya cuma ratusan kilometer aja bertahun-tahun nggak kelar-kelar, bayangkan kalau ditambah lagi dengan jalan-jalan di pulau-pulau lain selain Jawa, sampai kiamat kali kita sibuk terus bangun jalan… Beigitu di akhirat bisa dipisuhi dan disumpahi  sama anak-cucu kita nanti….,

Saat ini kebutuhan rakyat kita ini bukan hanya jalan saja bos… masih banyak kebutuhan lain misalnya pertanian, perumahan, pendidikan, kesehatan, pertahanan dan keamanan dan lain-lainnya. Kalau kekayaan negara kita tak ada batasnya sih gak apa-apa, semua bisa dibeli. Lha masalahnya kan kekayaan dan anggaran negara kan terbatas, sudah gitu dikorupsi lagi.  Gak papa sih kalo Bos yang mau nanggung biaya pembangunan dan perbaikan jalan yang bos lewati itu, bukan dari pajak seluruh rakyat rakyat karena memang pak Bos yang tukang ngerusaknya… he he..”

Pak Bos : “Trus idemu seperti apa kalo bukan membangun jalan beton…?”

Mr. Choro : “Ini analisa lagi bos.. bisa bener bisa tidak, karena memerlukan penelitian lebih lanjut… Untuk mengatasi keruwetan di jalan pantura yang macet, rusak, jadi proyek abadi dan lain-lainnya memang kembali lagi kita harus berpikir lebih luas, dalam dan panjang dalam mengamati situasi dan kondisi yang terjadi dengan tak lupa pula melihat kondisi statis maupun dinamis yang mempengaruhi. Berpikiran sempit dan  jangka pendek memang mudah dan jelas menghasilkan keuntungan pribadi lebih besar. Misalnya jalan rusak… perbaiki saja, lumayan ada proyek to… Penyeberangan Merak – Bakauheni macet… gampang… bangun jembatan saja, kekurangan daging sapi, beras, sembako… impor saja. ..

Jalur pantura macet… dan rusak,  bangun dan perlebar lagi jalannya… Kayaknya gak perlu sekolah, title dan gelar tinggi-tinggi kalau hanya bisa berpola pikir seperti itu bos, semua orang juga bisa… wong memang sederhana dan  jelas keliatan …”

Pak Bos : “Trus strateginya piye menurutmu?”

Mr. Choro : “Berbicara tentang strategi maka hal itu tak akan terlepas dari yang namanya keterbatasan. Secara umum dapat dikatakan bahwa strategi adalah skill untuk mengelola keterbatasan, karena jika semuanya tak terbatas maka tak perlu lagi ada strategi. Bahasa mudahnya kalau kita punya sumber daya berlimpah tentu semua masalah relatif gampang untuk diatasi. Di situlah letak seninya.

Untuk mengatasi masalah kemacetan dan perbaikan di Pantura mari kita mencoba melihat dari dasar lagi yakni bentuk geografis negara kita.  Kita bisa saja membangun jalan sekuat-kuatnya dan selebar-lebarnya kalau bentuk negara kita ini bukan negara kepulauan. Di negara yang berbentuk benua atau kontinental, hal tersebut dapat dimaklumi karena memang sarana alam yang ada yang hanya lewat daratan.

Negara kita ini kan terdiri dari beribu-ribu pulau lengkap dengan laut yang mempersatukannya. Seharusnya semua yang kita miliki dioptimalkan potensinya agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya. Bukan hanya daratan saja yang kita jadikan sebagai sarana transportasi utama tetapi laut dan udaranya juga. Contohnya tengoklah ke masa lalu saat masih berlakunya Repelita ala Orde Baru. Repelita satu pertanian, dua pertanian, tiga pertanian… Laut sama sekali tak pernah jadi perhatian…  Itu sama saja tidak adil terhadap alam… dan jangan menyalahkan siapapun ketika kita sekarang  seakan-akan sedang diadili dan dikutuk olehnya…

Padahal yang namanya laut itu Bos… Jalanan alami tidak perlu banyak keluar duit, alias tidak perlu pembangunan, tidak perlu perbaikan, tidak perlu perawatan ala daratan, tidak perlu penerangan lalu lintas, tidak ada persimpangan jalan, tidak perlu banyak-banyak rambu-rambu lalu lintas, tidak perlu polisi lalu lintas apalagi polisi cepek, tidak perlu polisi tidur… kecuali ombak bos…, dan keistimewaan-keistimewaan lainnya. Tinggal pemanfaatannya yang harus disesuaikan dengan peruntukannya agar sesuai dengan karakteristik dan keistimewaannya tersebut.”

Pak Bos : “Peruntukannya bagaimana maksudmu?”

Mr. Choro : “Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menyinergikan wahana darat, laut dan udara yang kita miliki sesuai potensi terbesarnya. Keistimewaan utama laut dibandingkan daratan adalah gaya gravitasi sudah tidak berlaku di sana, alias terhalang oleh hukum pengapungan benda Archimides. Karena itulah di laut tidak mengenal batas ukuran, pak Bos mau bikin kapal segedhe Gunung pun masih tetap terapung asalkan kedalamannya memenuhi syarat… dengan kata lain biarkan alam sendiri yang akan membatasinya.

Jika kita mengacu kembali rumus dasar fisika tentang momentum yaitu elemen jumlah, ukuran dan kecepatan… maka jika pak bos ingin bermain untuk material yang berukuran besar, ya di laut tempatnya… jangan di darat, karena di negara kepulauan, alat transportasi darat berukuran besar itu namanya sudah menyalahi kodrat, menantang alam, melawan gravitasi, merugikan pengguna jalan lainnya termasuk membuang-buang anggaran yang tidak perlu seperti perbaikan abadi di jalan Pantura. Prinsip transportasi darat untuk negara kepulauan adalah silahkan sebanyak-banyaknya tetapi relatif kecil-kecil saja, sesuai dengan bentuk negaranya. Lagi pula membangun jalan yang lebar-lebar di pulau-pulau kita yang ukurannya relatif kecil-kecil jelas akan mengurangi ruang untuk kita hidup dan tinggal…

Jika kita di laut kita bermain yang kecil-kecil meskipun jumlahnya banyak, itu juga namanya melawan alam. Contohnya nelayan kita yang menggunakan perahu-perahu kecil untuk menangkap ikan, kehidupannya pas-pasan terus tanpa akhir karena aktivitasnya sangat tergantung cuaca.

Jadi intinya dari pembahasan panjang lebar itu Bos… Untuk mengatasi permasalah jalan pantura memang harus berpikir secara holistik dan menyeluruh. Tidak bisa sepotong-sepotong hanya membahas tentang satu hal dan satu aspek. Karena banyak hal yang saling terkait dan mempengaruhi. Percayalah Bos… jika kita adil terhadap alam, maka alampun  akan memberikan balasan yang sama kepada kita…”

Pak Bos : “Lha mosok kayak gitu aku yang harus memikirkannya Cho,… ngurusi buruh naik UMR aja wis mumet ndasku… Kan seharusnya yang menjalankan roda pemerintahan di negeri ini yang menyusun semua arah dan konsep pembangunan bagaimana baiknya”

Mr. Choro : “Pernyataan Pak Bos betul sekali… seharusnya pemerintah yang memikirkan, merencanakan dan merealisasikan bagaimana seharusnya sarana transportasi darat, laut dan udara dapat bersinergi di Indonesia… Negara kita tercinta ini… , karena itu memang tugas dan tanggung jawab mereka…

Semua itu sekadar saran dan pendapat Bos…, jika menurut para cerdik pandai di negeri ini tidak mungkin dilaksanakan karena berbagai pertimbangan… ya mungkin awak ini yang masih harus banyak belajar dan menambah wawasan… namanya juga konsep dan wacana, bisa benar bisa salah… Kita hanya mencoba untuk berpikir global dan beraksi lokal. Yang penting kita masih mau berpikir untuk kebaikan bangsa ini dan demi masa depan anak cucu kita kelak…

Sementara ini  yang paling mudah untuk dilakukan ya mengikuti nasehat Ustadz Aa Gym tentang manajemen Kalbu… “Mulailah hal yang baik dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulailah dari sekarang”

Karena bangsa yang besar terdiri dari pribadi-pribadi dan individu-individu yang besar pula…”

peace…