Tag Archives: social media

Social Media ‘made in’ Pemerintah

Pak Bos : “Isunya Facebook tidak lama lagi gulung tikar lho Cho”

Mr. Choro : “Wah Pak Bos bisa aja… isu darimana itu?

Pak Bos : “Lha itu beberapa media sudah ramai memberitakan masalah itu. Menurut prediksi, beberapa tahun ke depan nasibnya Facebook takkan jauh berbeda dengan saudara-saudaranya terdahulu seperti friendster, myspace dan lain-lainnya. Menurutmu hal itu mungkin terjadi gak Cho?”.

Mr. Choro : “Ya mungkin saja Bos, apa yang tidak mungkin terjadi di dunia ini…. Sekarang ini kan era kecepatan, siapa yang terlalu cepat meluncur ke angkasa jatuhnya cepat juga. Dulu yang namanya blekberi itu kurang merajai apa coba? Akhirnya sekarang harus megap-megap juga tho… Hal yang sama juga mungkin saja terjadi pada Facebook. Setelah anggotanya mencapai angka semilyar sepertinya sudah sampai ke titik kulminasinya alias titik jenuh. Lama kelamaan sudah tidak ada lagi penduduk bumi yang mendaftar sehingga pelan namun pasti akhirnya tidak laku entah disebabkan karena penggunanya yang sudah bosen dan ingin cari suasana lain atau karena persaingan bisnis dunia maya yang semakin ketat.

Trus kalau sudah tidak laku para pemasang iklan sebagai sumber penghasilan utama Facebook tentu saja pada kabur. Kalau sudah begitu, Mark Zukenberg mau dapat penghasilan darimana untuk biaya operasional server, gaji karyawan dan bandwidth yang ukurannya gila-gilaan itu? Lama-kelamaan ya tutup situsnya”.

Pak Bos : “Wah lha kalau situsnya facebook shutdown trus file-file foto yang sudah tak simpan di sana gimana nasibnya?”.

Mr. Choro : “Ya segera diamankan Bos, backup semua dokumentasi yang Pak Bos anggap penting. Pindahkan semua ke komputer atau desktop, CD, hardisk atau penyimpanan lainnya, sebelum semuanya terlambat…”

Pak Bos : “Kalau FB saja masih ada kemungkinan untuk gulung tikar, trus menurutmu apa masih ada situs Sosial Media lainnya yang kamu anggap paling tangguh dan bisa diandalkan di dunia maya ini Cho?”

Mr. Choro : “Kalau menurut saya sih tidak ada satupun Bos, kecuali kalau situs Socmed itu ‘made in’ Pemerintah alias negara yang menyelenggarakan”.

Pak Bos : “Maksudmu pemerintah bikin situs socmed gitu Cho? Bagaimana ceritanya negara harus menyediakan situs sosmed untuk warganya?”

Mr. Choro : “Begini Bos, saat ini organisasi terbesar di bumi ini ya negara. Negaralah yang memiliki resource terbesar baik berupa anggaran maupun perangkat untuk menegakkan peraturan atau undang-undang serta melindungi segala hal yang berkaitan dengan kepentingan nasional, perikehidupan dan perikemanusiaan rakyatnya. Otomatis jika ditanya media sosial yang paling tangguh di dunia ya tak ada lagi selain jika situs sosial media itu dibuat dan diselenggarakan oleh Pemerintah”.

Pak Bos : “Trus apa untungnya?”

Mr. Choro : “Kalau Sosmednya hanya untuk ajang nulis status alay-alay an atau like-like an sih kagak ada bos, tapi kalau digunakan sebagai sarana menampung aspirasi rakyat, identitas warga, statistik, wahana pencerdasan rakyat dan lain-lainnya… ya sangat besar manfaatnya, baik bagi rakyat maupun para penyelenggara negara. Intinya sosial media yang ada tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu pemerintah dalam megatur jalannya roda organisasi seperti mempermudah dan mempercepat warga negara dalam menjalankan birokrasi pemerintah. Sebagai contoh seorang Bupati bisa memanfaatkan Sosmed itu untuk mengetahui kondisi sosial penduduk di wilayahnya sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat dalam pembangunan”.

Pak Bos : “Wah kayaknya idemu itu berbahaya Cho, terutama masalah keamanan informasi. Kamu tau gak ketika sebuah informasi sudah kita sambungkan ke dunia maya, maka secanggih apapun perangkat untuk proteksi keamanannya maka potensi resiko untuk ditembus para pelaku cyber crime sangat besar…”

Mr. Choro : “Memangnya sekarang ini kehidupan ber IT kita zaman sekarang ini tidak beresiko apa Bos? Siapa sekarang yang tidak menggunakan email-email gratisan bikinan gmail, yahoo, bebe-em, dan lainnya untuk mengirim informasi yang sebenarnya bersifat rahasia? Mailserver para penyedia email gratisan itu dimana? Informasinya sih kita kirimkan dari sini ke sini aja, tapi lewatnya kan melalui belahan dunia lain nun jauh di sana. Kita bisa mengenkripsi atau menyandi data yang kita kirim, tapi program enkripsinya juga buatan orang lain.
Kalau menurut saya selama kita masih menggunakan hardware dan software buatan orang lain dan bukan buatan kita sendiri maka selama itu pula informasi yang kita kirim atau bagikan ke Internet adalah bersifat sangat terbuka bagi siapapun.

Katanya sekarang kan Era Transparansi, sulit bagi kita menyembunyikan sesuatu apalagi berupa data digital. Daripada kita berusaha menutup-nutupi sesuatu tapi akhirnya ketahuan kalau kita bohong dan malu, mendingan terus terang saja apa adanya. Untuk bidang pertahanan misalnya. Zaman sekarang kita sulit menggunakan strategi Sun Tzu yakni bertingkah seoah-olah kita kuat padahal lemah. Misalnya dengan berpura-pura memiliki Rudal Jelajah antar benua… ya bisa diketawain kita, jadi mendingan kita berusaha untuk membuat dan memiliki Rudal jelajah Beneran sehingga dapat memberi efek detterence/penggetar bagi mereka yang mau main-main dengan negara kita. Itu contohnya Bos…
Meski demikian kita bisa meminimalkan resiko tersebut dengan cara membuat saluran jaringan tersendiri, bandwidth tersendiri, satelit tersendiri yang terpisah dari jaringan Global atau Internet, kita juga bisa membatasinya dengan menaruh informasi yang umum-umum saja, bukan informasi yang sifatnya sangat rahasia”

Pak Bos : “Jangan jauh-jauh melebar pembahasannya Cho, kita ini mau membahas sosial media kok jadi ngelantur ke rudal jelajah segala. Mari kita kembali ke topik semula. Ada satu hal lagi yang menjadi kelemahan sosial media yang ada sekarang Cho… Yaitu mengenai validitas data yang ada. Contohnya Facebook, bukan rahasia lagi bahwa sebagian besar data yang ada di facebook itu banyak yang palsu. Jumlahnya mencapai jutaan akun. Kalau pemerintah membuat situs sosmed trus isinya sebagian besar akun-akun palsu gimana? Contohnya pemerintah mau memberikan bantuan untuk rakyat berekonomi lemah. Data penduduknya diambil dari Sosmed ‘made in’ pemerintah yang ternyata isinya nama palsu atau alamat palsu kayak lagunya Ayu yang sekarang sudah tidak ting-ting. Gimana coba?”

Mr. Choro : “Makanya dari awal kan saya sudah sampaikan Bos, bahwa pemerintahlah yang memiliki sumber daya paling lengkap, termasuk semua perangkat dan aparat yang salah satu fungsinya adalah mengontrol validitas data kependudukan. Contohnya organisasi setingkat RT. Ketua RT kan bisa memeriksa sosmed tersebut mana anggota di lingkungannya yang ternyata palsu alias tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Kalau ternyata palsu, laporkan saja atau di DEL langsung”.

Pak Bos : “Trus apa mungkin warganya mau memberikan informasi yang benar tentang dirinya di Sosmed itu Cho, terkadang banyak dari warga negara kita yang tidak suka kalau berurusan dengan pemerintah, takut kalau dimata-matai misalnya”.

Mr. Choro : “Ya semua kembali kepada pemimpin kita Bos, kalau memang kepala daerahnya jujur, amanah, tidak gila jabatan, sederhana, tulus, ikhlas dan memang bertekad ingin mensejahterakan rakyatnya saya yakin akan didukung oleh seluruh rakyat. Untuk mengurangi resiko kepalsuan data bisa saja diberikan gimmick atau iming-iming bahwa setiap bulan akan disiapkan hadiah langsung berupa smartpon, laptop, bebe, tablet, kambing, gula, beras dan lain-lainnya. Hadiah akan dikirim langsung ke alamat yang tercantum dalam sosmed ‘made in’ pemerintah tersebut. Gak papa kan satu dua Em perbulan untuk dikasihkan ke rakyatnya sendiri Bos. Jadi kalau masih mau nulis alamat palsu kan yang rugi rakyatnya sendiri karena gak dapat hadiah. Daripada trilliunan rupiah dipake untuk E-KTP yang ternyata setelah jadi tau-tahu datanya sudah tidak valid lagi. Ada yang sudah kawin, ada yang pindah alamat dan lain-lainnya mending buat infrastruktur itu…”

Pak Bos : “Apa tadi katamu Cho, jadi ujung-ujungnya kita perlu pemimpin yang jujur, amanah, tidak gila jabatan, sederhana, tulus, ikhlas, bertekad mensejahterakan rakyatnya? Lu mimpi ya?”