Tag Archives: shalat

Fiqih Praktis : Bab 7 – Tayamum

Tayamum adalah menyapukan tanah (debu) yang suci ke muka dan kedua tangan, dengan niat untuk membolehkan bershalat dan sebagainya. Dasarnya adalah firman Allah Swt, …dan apabila kamu sakit atau sedang dalam perjalanan (sebagai musafir) atau datang dari tempat buang air atau melakukan persentuhan dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayammumlah dengan tanah yang suci…” (QS. An-Nisa’ [4]: 43).

Sebelum ini telah dijelaskan  bahwa wudhu atau mandi wajib adalah bagian dari cara membersihkan diri bukan saja secara jasmani tetapi juga ruhani dalam persiapan menghadap Allah Swt, baik dengan shalat, tilawat Al-Quran, atau lainnya. Oleh sebab itu apabila seseorang terhalang dari berwudhu atau mandi wajib karna tidak ada air atau sedang menderita sakit, maka sebgai gantinya ia dapat bertayamum. Walaupun tidak memenuhi aspek kebersihan jasmani, namun tayamum cukup memenuhi aspek kebersihan  ruhani, sebagai pemisah antara amalan duniawi dan amalan ibadah mahdhah seperti shalat dan sebaginya.

Tayamum juga merupakan keringanan (rukhshah) yang berlaku karena adanya salah satu di antara sebab-sebab berikut:

  1. Tidak mendapatkan air sama sekali, atau ada air tetapi tidak cukup untuk bersuci. Namun terlebih dahulu ia harus mencarinya di sekitarnya, atatu pada para tetangga atau kawan seperjalanan, atau membelinya dengan harga yang wajar bila mampu. Dan apabila telah memperoleh keyakinan akan tidak adanya air, atau letaknya terlalu jauh, maka tidaklah wajib ia mencarinya, dan boleh langsung bertayammum.
  2. Apabila ia mengetahui adanya air tidak jauh dari tempatnya namun perjalan ke sana tidak aman bagi keselamatan dirinya, keluarganya, hartanya ataupun kehormatannya, Atau tidak ada alat yang diperlukan untuk mengambil air tersebut, seperti tali, timba dan sebagainya. Atau ia sedang terpenjara sehingga tidak berdaya pergi ke tempat tersedianya air. Semua itu menjadi alasan baginya untuk bertayammum.
  3. Dalam keadaan cuaca amat dingin sehingga khawatir bila mandi dengan air dingin dapat membayakan kesehatannya, maka ia diperbolekan bertayammum, dengan syarat tidak mampu memanaskan air walaupun dengan membayar biaya yang wajar untuk itu.
  4. Apabila menderita sakit atau luka yang menurut pengalaman sendiri, atau keterangan dokter atau orang lain yang berpengalaman akan bertambah parah atau memperlambat kesembuhannya, jika ia menggunakan air.
  5. Apabila air yang tersedia hanya sedikit sekali, dan diperlukan di waktu sekarang atau masa depan yang dekat untuk minuman atau minum orang lain, atau binatang (walaupun seekor anjing) atau untuk memasak makanannya, atau mencuci pakaian shalatnya yang terkena najis. Dalam keadaan seperti itu, ia dibolehkan bertayamum dan menimpan air itu untuk keperluannya yang lain, seperti tersebut di atas.

Selain faktor-faktor seperti di atas, yang membolehkan dilakukannya tayamum (sebagai pengganti wudhu atau mandi), Syaikh Muhammad Abduh berpendapat bahwa keadaan seseorang sebagai musafir, juga merupakan penyebab tersendiri dibolehkannya tayamum, tanpa dikaitkan dengan ada atau tidak adanya air. Karena, katanya, apa gunaya menyebutkan tentang musafir secara khusus dalam QS. An-Nisa’ 43 (sebagai salah seorang yang dibolehkan bertayamum), jika hukumnya sama saja dengan orang berhadats yang tidak mendapat air? Padahal Al-Quran adalah kitab Allah yang diakui kefasihannya oleh semua orang, tak ada kata-kata di dalamnya yang tercantum secara sia-sia, tanpa makna. “Ayat ini jelas sekali bermakna bahwa hukum agama mengenai orang yang sedang sakit dan musafir apabila hendak bershalat, adalah sama dengan orang yang berhadas kecil maupun berhadas besar yang tidak mendapat air. Mereka semua cukup bertayamum saja. Begitulah yang dapat dipahami oleh setiap pembaca ayat tersebut selama ia tidak memaksakan diri untuk menyesuaikannya dengan pendapat mazhab manapun di luar Al-Quran, “ begitu komentarnya. Selanjutnya ia menujukan kecamannya kepada para musafir yang tidak mau memahami Al-Quran seperti apa adanya, tetapi lebih senang mencari-cari alasan pembenaran bagi pendapat mazhab-mazhab fiqih yang sudah mapan (yang hanya membolehkan tayamum bagi musafir yang kebetulan tidak mendapat air saja). Padahal pendapat seperti itu, jelas sekali tidak dapat disimpulkan dari ayat tersebut, kecuali dengan penakwilan yang dibuat-buat. Sedemikian, sehingga banyak di antara mereka menyebut ayat itu sebagai salah satu ‘kemusykilan’ itu, saya telah bersusah payah dengan membaca sedikitnya duapuluh lima kitab tafsir, namun semuanya sama sekali tidak memuaskan, karena selalu berbelit-belit. Dan ketika saya kembali menyimak Al-Quran secara langsung, barulah saya dapati maknanya terang benderang tak mengandung sedikitpun kemusykilan.”

Keringanan seperti itu bagi seorang musafir adalah wajar-wajar saja, sama dan sejalan dengan keringanan-keringanan lain yang diberikan kepada musafir. Seperti meng-qasar dan menjamak shalat, serta menunda puasa Ramadhan sampai hari lain. Maka apakah dianggap aneh bila si musafir dibolehkan menggantikan wudhu dan mandinya dengan tayamum, sedangkan hal itu berada di bawah tingkatan shalat dan puasa, dalam pandangan agama?” (Sayyid Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar V/119).

Cara Bertayamum.

  1. Niat. Sebagaimana telah dijelaskan dalam cara berwudhu, niat ialah menyengaja melakukan sesuatu demi meraih keridhaan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Dalam hal ini, hendaknya diniatkan bertayamum sebagai pengganti wudhu (dalam hadas kecil), atau pengganti mandi (dalam hadas besar), agar dibolehkan melaksanakan shalat dan sebagainya.
  2. Setelah berniat untuk bertayamum, disunnahkan membaca basmalah, lalu menepukkan kedua telapak tangan di atas tanah, pasir, batu, bantal, dinding atau apa saja yang diperkirakan berdebu (tetapi harus bersih, tidak berupa zat najis atau tercemar zat najis). Kemudian meniupi atau menggerak-gerakkan kedua tangannya itu sehingga kedua-duanya saling berbenturan, untuk menepiskan debu yang masih melekat pada kedua tangannya. Lihat An-Nawawi, Al-Majmu’ II/222.
  3. Menyapukan kedua telapak tangannya itu ke wajah dan kedua tangan sampai pergelangan, masing-masing cukup satu kali saja. Menurut sebuah hadis yang dirawikan oleh oleh Bukhari Muslim, dari ‘Ammar r.a, katanya, “Aku pernah berjanabat dan kebetulan tidak ada air untuk mandi. Maka aku pun berguling-guling di atas tanah (maksudnya untuk bertayamum karena tidak ada air.-Pen), dan setelah itu aku shalat. Ketika hal ini kemudian kusampaikan kepada Rasulullah Saw., berliau bersabda, ‘Sesungguhnya engkau cukup berbuat seperti ini.’ Lalu beliau menepukkan kedua telapak tangannya ke atas tanah, lalu meniupnya (untuk menepiskan kelebihan tanah yang melekat, -Pen) dan setelah itu mnyepukannya ke wajah dan kedua tangan beliau sampai di pergelangan.” Dalam Hadis ini, jelas bahwa beliau hanya satu kali saja menepukkan tangan ke atas tanah. Dan seperti itu pula pendpat Syafi’I (dalam mazhab yang terdahulu), Ahmad, Daud, dan Ibn Munjdzir. Akan tetapi, berhubung ada hadis lainnya yang menyebutkan dua kali tepukan, maka Abu Hanifah, Malik, dan Syafi’I (dalam mazhabnya yang kemudian) mewajibkan dua kali tepukan, masing-masing untuk muka dan kedua tangan. Demikian pula mengenai batas tangan yang harus disapu. Menurut Malik, Ahmad dan Daud Azh-Zahiri, wajibnya hanya sampai kedua pergelangan, tangan, seperti tersebut daslam hadis di atas. Sedasngkan Syafi’i dan Abu Hanifah mengharuskan menyapu sampai dengan kedua siku. Yakni seperti dalam wudhu dan juga berdasarkan hadis lain yang menyebutkan seperti itu.

Beberapa Hal Penting Berkaitan Dengan Tayammum.

  1. Sebelum bertayamum, hendaknya membersihkan muka dan kedua tangan dari segala suatu (seperti lilin, cat dan sebagainya) yang dapat dapat menghalangi sampainya sapuan.
  2. Tayamum adalah pengganti wudhu atau mandi dalam keadaan darurat, karena sebab-sebab tertentu seperti telah disebutkan sebelum ini. Oleh sebab itu, dengan bertayamum, seseorang boleh mengerjakan shalat, memegang mushaf Al-Quran dan sebagainya seperti yang dibolehkan baginya setelah berwudhu atau mandi.
  3. Dengan satu kali tayamum, dibolehkan mengerjakan shalat fardhu ataupun sunnah berapa saja yang dikehendaki, selama tayammumnya belum batal. Begitulah menurut Abu Hanifah, Daud dan Ahmad (dalam salah satu riwayat darinya). Akan tetapi Syafi’i, Malik serta Ahmad (dalam riwayat lainnya), hanya membolehkan satu kali tayamum untuk satu kali shalat fardhu dan beberapa kali shalat sunnah.
  4. Tayamum menjadi batal disebabkan hal-hal sebagai berikut:
    1. Segala suatu yang membatalkan wudhu dan mandi.
    2. Diperolehnya air bagi orang yang tadinya bertayamum karena tidak mendapatkan air.
    3. Setelah hilangnya halangan, bagi yang tadinya tidak dapat menggunakan air karena halangan tertentu, seperti sakit, kedinginan dan sebagainya.
    4. Apabila tersedia air setelah berakhirnya shalat, maka shalatnya itu sah dan tidak perlu diulangi, meskipun masih ada waktu. Akan tetapi ia harus berwudhu untuk shalat selanjutnya; atau mandi jika berhadas besar.
    5. Demikian pula seorang yang bertayamum sebagai pengganti mandi-wajib (mandi janabat), lalu mengerjakan shalat; tidak perlu mengulang shalatnya ketika setelah selesai shalatnya itu – memperoleh air atau mempu menggunakannya kembali. Akan tetapi, ia diharuskan mandi untuk shalat berikutnya.

Shalat Tanpa Wudhu dan Tanpa Tayamum.

  1. Seandainya seseorang tidak mampu berwudhu (karena sakit atau tidak ada air) dan bersamaan dengan itu juga tidak mampu bertayamum (karena tidak adanya tanahyang bersih atau ia dalam keadaan terbelenggu dan sebagainya) maka ia tetap wajib mengerjakan shalat, walaupun tanpa wudhu dan tanpa tayamu, dan dengan memenuhi rukun-rukun shalat sejauh kemampuan.
  2. Shalat dalam keadaan seperti itu, apabila terlaksana beberapa kali kali saja, sebaiknya diulangi (di-qadha) pada saat sudah berkesempatan wudhu lagi. Akan tetapi, apabila hal tersebut berlangsung untuk waktu yang cukup lama, tidak perlu diulang seluruhnya, karena aan menimbulkan kesulitan yang sangat. Ada beberapa pendapat ulama mengenai orang dalam keadaan seperti ini. Menurut Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri dan beberapa ulama lain, ia tidak wajib shalat waktu itu, tetapi harus mengunggu sampai mendapatkan air atau tanah yang bersih. Menurutu Ahmad (dan sebagian kalangan mazhab Maliki), wajib shalat dan tidak wajib mengulangi. Sedangkan menurut Syafi’I (demikian pula sebagian kalangan Mazhab Maliki lainnya) wajib shalat dengan cara apa pun yang mampu dikerjakan (yakni tidak harus memenuhi semua persyaratan) tetapi wajib mengulang shalatnya itu apabila keadaan telah menjadi normal kembali. Menurut pendapat terakhir ini, kewajiban shalat dalam keadan seperti itu, semata-mata demi menjaga kehormatan waktu shalat, sedangkan kewajiban mengulang adalah mengingat bahwa keadaan seperti itu, merupakan hal yang amat jarang. (An-Nawawi, Al-Majmu’ II/283)

Mengusap di Atas Pembalut (Perban atau Plaster Karena Luka)

  1. Seseorang penderita luka yang khawatir jika menggunakan air dalam wudhu atau mandi akan menemabh parah lukanya itu atau memperlambat kesembuhannya, dibolehkan mengusap (dengan tangan yang basah) anggota tubuhnya yang terluka. Apabila hal itu tetap membahayakan, hendaknya ia menutupi lukanya itu dengan penutup yang lebih kuat (plaster, perban, gips dan sebagainya) lalu membasuh anggota tubuhnya yang sehat sambil mengusapkan tangannya di atas pembalut tersebut. Setelah itu, sebagai pengganti bagian tubuhnya yang tertutup pembalut dan tidak terkena air, hendaklan ia bertayamum. Boleh juga ia mendahulukan tayamumnya sebelum wudhu atau mandi.
  2. Cara bersuci dengan mengusap di atas pembalut ini menjadi batal, apabila ia dibuka atau luka itu telah sembuh. Segera setelah sembuh, pembalut tersebut harus dibukan dan sejak itu harus bersuci kembali secara sempurna seperti sediakala.
  3. Membalutkan perban, gips dan sebagainya, boleh dilakukan setiap saat, dan tidak harus didahului oleh wudhu atau mandi secara sempurna. Juga tidak dibatasi oleh waktu tertentu, dan karenanya ia boleh mengusap di atasnya, dalam wudhu atau mandi, selama belum sembuh. Menurut mazhab Syafi’i, wajib mengulang shalatnya itu dalam keadaan seperti di bawah ini:
    1. Apabila pembalut itu terletak di bagian anggota tubuh yang wajib disapu dalam tayamum. (yakni di wajah atau kedua tangan).
    2. Apabila pembalut itu terlalu lebar sehingga menutupi bagian anggota tubuh yang tidak sakit (yakni lebih besar dasripada yang diperlukan untuk itu).
    3. Apabila pembalut tersebut diletakkan dalam keadaan wudhunya telah batal, atau ada zat najis di bawahnya (selain darah dari lukanya sendiri) yang tidak dibersihkan sebelumnya. Walaupun demikian, manurut banyak ahli fiqih lainnya, tidak wajib mengulang shalatnya itu, karena memang tidak ada nash yang pasti mengenai hal itu, selain akan menimbulkan kesulitan yang sangat, mengingat luka seperti itu mungkin baru sembuh setelah berbulan-bulan lamanya. (Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah I/69).

Fiqih Praktis : Bab 1 Tentang Hal Bersuci (Thaharah) dan Berbagai macam air

Thaharah (kebersihan atau kesucian) lahiriah dan batiniah adalah sesuatu yang amat dipentingkan dalam ajaran Islam. Firman Allah SWT : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang suka bertaubat dan yang suka menyucikan diri..” (QS Al-Baqarah [2]: 222). Sabda Nabi Saw., “Keberihan adalah setengah bagian keimanan. (HR Muslim dan Tirmidzi). Sabda beliau pula, “Sesungguhnya Allah adalah Mahabaik lagi menyukai kebaikan. Dia adalah Mahabersih lagi menyukai kebersihan. Dia adalah Mahadermawan lagi menyukai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumah-rumah kalian, dan jangan menyerupai kaum Yahudi.” (HR Tirmidzi)

Dalam istilah Fiqih (ilmu yang membicarakan tentang hukum-hukum Islam), Thaharah meliputi dua bagian : yaitu Thaharah lahiriah dan Thaharah hukmiyah.

  1. Thaharah lahiriah, atau disebut ‘suci dari najis’, meliputi kebersihan tubuh, pakaian dan tempat salat dari segala suatu yang najis; yakni yang dianggap kotor oleh agama (Tentang zat-zat najis, akan diuraikan kemudian).
  2. Thaharah hukmiyah, atau yang disebut ‘suci hari hadats’, meliputi wudhu dan mandi wajib.

‘Hadas kecil’ ialah keadaan tubuh seseorang yang menyebabkan ia tidak boleh shalat, tawaf dan sebagainya, sebelum berwudhu. Sedangkan ‘hadas besar’ (atau janabat) ialah keadaan tubuh seseorang yang menyebabkan ia tidak boleh salat, membaca Al-Quran dan sebagainya, sebelum ia mandi. Ketentuan-ketentuan tentang hadas kecil dan hadas besar akan diuraikan kemudian secara lebih rinci.

Macam-macam Air dan Pembagiannya

Alat utama untuk bersuci dari najis dan bersuci hari hadats, adalah air bersih. Untuk mengetahui apa saja yang dimaksud dengan ‘air bersih’, di bawah ini akan diuraikan lebih lanjut.

1.  Air yang suci dan menyucikan. Yaitu  air yang masih asli dan belum berubah warnanya, baunya dan rasanya. Contohnya : air hujan, air laut, air sumur, air danau dan sebagainya. Semua air tersebut adalah Suci dan menyucikan. Suci, karena boleh diminum; dan menyucikan, karena boleh digunakan untuk berwudhu, mandi wajib atau menyucikan kembali sesuatu yang telah tersentuh najis

2.  Air yang suci tetapi tidak menyucikan. Yaitu air bersih yang telah bercampur dengan suatu zat yang suci, sedemikian rupa sehingga warnanya atau baunya atau rasanya sudah tidak lagi disebut air biasa (atau air mutlak dalam fiqih). Contohnya: air teh, air kopi, air gula, dan sebagainya. Air seperti itu, walaupun suci (boleh diminum) namun tidak menyucikan. Yakni tidak sah digunakan untuk wudhu atau mandi wajib, karena telah mengalami perubahan cukup besar dalam warna atau bau atau rasanya.

Dikecualikan dari ini, perubahan yang terjadi atas air yang disebabkan oleh sesuatu yang memang tidak terpisahkan darinya. Misalnya, perubahan warna, bau, dan rasa pada air yang lama tergenang, atau mengalir di antara batu belerang, atau karena ikan-ikan di dalamnya, atau sesuatu yang sulit dicegah, seperti daun-daun yang berjatuhan dari pohon-pohon sekitar air tersebut. Air seperti ini, walaupun telah mengalami perubahan, namun tetap dianggap suci dan menyucikan.

Termasuk juga dalam kategori air yang suci dan menyucikan, air yang dalam istilah ilmu fiqih disebut air musta’mal. Air musta’mal adalah ‘air sedikit’ bekas dipakai untuk bersuci (berwudhu atau mandi wajib). Air seperti ini, masih tetap boleh digunakan lagi untuk bersuci, selama tidak mengalami perubahan dalam salah satu dari ketiga sifat utamanya (yakni warnanya, baunya dan rasanya).

*Ketentuan tentang ‘air sedikit bekas pakai’ (atau air musta’mal) seperti di atas, adalah sesuai dengan madzhab Malik, Daud Azh-Zhahiri dan juga sebagian kecil dari kalangan madzhab Syafi’i. Sedangkan mayoritas ulama madzhab Syafi’i, demikian pula Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa air seperti itu meski tetap suci namun tidak sah digunakan untuk berwudhu atau mandi wajib.

Adapun yang dimaksud dengan air sedikit tersebut di atas, menurut Syafi’i, adalah yang kurang dari ‘dua qullah’. (yakni kurang dari 200 liter)- {1 drum –red}. Atau menurut madzhab Hanafi, ‘air sedikit adalah yang apabila salah satu ujungnya digerakkan, ujung lainnya ikut bergerak’. Berdasarkan pendapat ini, jika seseorang hendak berwudhu dengan ‘air sedikit’ seperti itu, sebaiknya menggunakan gayung untuk mengambil air tersebut, lalu menuangkannya di atas anggota yang harus dibasuh.

Dari kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan betapa perlunya menjaga kebersihan air, tertama yang hanya sedikit, sehingga tidak menghilangkan kekuatan ruhaniah air dalam menyucikan seseorang, baik secara lahiriah maupun bathiniah.

3.  Air yang tersentuh benda atau zat najis. Air seperti ini, banyak ataupun sedikit, tetapi dinilai  suci dan menyucikan selama tidak rusak salah satu dari ketiga sifatnya yang asli (yakni warna, bau dan rasanya).

Begitulah sesuai deengan mazhab Malik, Al-Auza’iy, Sufyan Ats-Tsaury, Daud dan Ibnu Mundzir (salah seorang tokoh dari mazhab Syafi’i). Dan begitu pula pilihan Al-Ghazali dalam Al-Ihya; dan Ar-Ruyaniy dalam Al-Hilyah dan Al-Bahr.

Akan tetapi, menurut mayoritas mazhab Syafi’i, hukum seperti itu hanya berlaku pada air yang melebihi dua qullah (atau lebih dari 200 liter). Sedangkan jika air hanya sedikit (yakni kurang dari 200 liter), maka jika tersentuh zat najis, secara otomatis air tersebut dianggap najis, walaupun tidak mengalami perubahan apa pun. Dalil mereka hadis Nabi Saw., “Apabila air mencapai dua qullah, maka ia tidak terpengaruh oleh sesuatu yang najis.” (HR. Syafi’i, Ahmadn, dan Tirmidzi). Kesimpulan yang dapat ditarik dari hadis ini ialah, apabila air itu kurang dari dua qullah, maka ia menjadi najis jika tersentuh zat najis walapun tidak mengalami perubahan. (Lihat An-Nawawi, Al-Majmu II/161)

Fiqih Praktis : Pendahuluan – Iman, Islam, Ihsan

Iman, Islam dan Ihsan

Islam adalah agama Allah SWT yang ajaran-ajarannya telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. untuk disampaikan kepadas seluruh umat manusia, pada setiap zaman dan tempat, demi keselamatan dan kepentingan mereka di dunia dan akherat.

Seseorang disebut Muslim dan menjadi anggota masyarakat Islam, apabila ia telah mengucapkan syahadatain (dua kesaksian):

Asyhadu an la ilaha illa’LLah, wa asyhadu anna Muhammad (an) Rasulullah.

(Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammada adalah utuasan Allah)

Akan tetapi ucapan seperti tidak sempurna, apabila tidask diikuti dengan mempecayai pokok-pokok keimanan yang disebut Rukun-rukun Iman, serta melaksanakan kewajiban-kewajiban utama yang disebut Rukun-rukun Islam

Rukun-rukun Iman:

1.  Beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa.

2.  Beriman kepada malaikat-malaikat Allah SWT.

3.  Beriman kepada Rasul-rasul (para utusan) Allah SWT.

4.  Beriman kepada Kitab-kitab Allah SWT.

5. Beriman kepada Hari Akhir.

6. Beriman kepada takdir (ketentuan/ketetapan) Allah SWT*.

*Takdir, atau biasa disebut qadha dan qadar, secara umum dapat diartikan hukum-hukum allah (sunnatullah) yang berlaku atas alam semesta dan semua isinya. Termasuk di dalamnya, hukum kausalitas (atau hukum sebab-akibat), serta ketentuan akan kadar potensi dan kapasitas yang ditetapkan Allah bagi setiap makhluk-Nya. Dan di antara ketetapan Allah SWT dalam Sunnah-Nya ini adalah penciptaan manusia dengan memberikan kebebasan untuk berpikir serta kemampuan untuk memilih (antara  yang baik dan yang buruk) dalam perbuatannya, kemudian melaksanakan sesuatu yang menjadi pilihannya itu, sesuai dengan potensi dan kapasitas yang telah diberikan kepadanya.

Walaupun demikian, Allah SWT dengan keluasan ilmu-Nya yang mencakup segala sesuatu dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu mengetahui segala sesuatu yang telah, sedang dan akan terjadi. Namun, hal itu sama sekali tidak menafikan adanya ikhtiyar (kebebasan untuk memilih, free choice atau free will) yang telah ditetapkan oleh-Nyabagi manusia. Dan berdasarkan pilihan dan hasil perbuatan merekalah Allah SWT melakukan penilaian serta menetapkan pahala ataupun hukuman atas mereka dengan seadil-adilnya. (Lihat Mahmud Syaltut, Al-Islam: ‘Aqidah wa Syari’ah hlm 53)

Sebagian ulama tidak memasukkan keimanan kepada takdir dalam urut-urutan rukun iman, sebab telah tercakup ke dalam keimanan kepada Allah SWT dengan segala sifat keesaan-Nya dan kemahakuasaan-Nya. Al-Quran sendiri tidak menyebutkan istilah ‘qadha wa qadar’ dan tidak memasukkannya dalam paket hal-hal yang merupakan pokok-pokok keimanan. (misalnya, dalam QS Al-Baqarah 177 dan 285). Meskipun maknanya dapat dipahami dalam pelbagai ayat. Walaupun demikian, istilah qadha dan qadar tersebut dijumpai dalam beberapa hadits nabi SAW., antara lain, ketika beliau ditanya, “Apakah Iman Itu?” Jawab Beliau, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir dan kepada qadar: yang baik maupun yang buruk darinya (HR Bukhari).

Rukun-rukun Islam:

1.  Mengucapkan syahadatain (seperti disebutkan di atas).

2.  Mengerjakan shalat.

3.  Membayar zakat.

4.  Berpuasa di bulan Ramadhan.

5.  Berhaji (bagi yang memiliki kemampuan)

Tentang tatacara shalat, zakat, puasa dan haji, akan dijelaskan secukupnya dalam uraian-uraian yang akan datang.

Sabda Nabi SAW., “Islam dibangun atas lima dasar: kesaksian bahwa tiada tuhan selain allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya; mendirikan shalat; menunaikan zakat; haji dan puasa Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim),
Ihsan (Kesempuranaan Amal Perbuatan)
Keimanan dan pelaksanaan kewajiban-kewajiban tersebut, hendaknya selalu disertai Ihsan, atau keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta kejujuran dan kebaikan akhlak (perilaku) terhadap sesama makhluk pada umumnya dan kaum Muslim pada khususnya. Tanpa itu semua, segala amal perbuatan seseorang akan menjadi sia-sia dan tidak memperoleh pahala.
*Sabda Nabi Saw. ketika ditanya tentang hal itu, “Ihsan ialah beribadah kepada allah seolah-olah engkau melihat-Nya; dan apabila engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya allah melihatmu” (HR Bukhari dan Muslim).