Tag Archives: senorkeling

Enjoy Pulau Pramuka dan Sepotong Mozaic Kisah Hidup Pelaut Nusantara

Bro, mau ndak ikut kita diving di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu?” Tanya teman saya The Frogman, Si Pasukan Khusus. “Tenang, semua biaya perjalanan dan akomodasi sudah ada yang nanggung” Lanjutnya.

“Oke Siap Boss…” Jawab saya tanpa banyak basa basi langsung mengiyakan tawaran tersebut. Selain karena kebetulan akhir minggu itu memang sedang tidak ada kegiatan dan saya juga belum pernah ke sana, iming-iming “for free” benar-benar membuat tawaran tersebut terlalu sayang untuk disia-siakan. Setelah itu kami pun segera mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya.

Sabtu pagi setelah Shalat Subuh kami bertiga, saya, teman saya instruktur FrogDive Si Pasukan Khusus, dan Teman saya satu lagi Masbro si Anak Aceh langsung meluncur dari Jakarta Selatan menuju Dermaga Penyeberangan Kapal Cepat di Pantai Marina Ancol. Di sana sudah menunggu anggota klub nyelam teman saya FrogDive diving course.

FrogDive Member

Berbeda dengan saya yang rencananya hanya sekadar jalan-jalan mencari suasana dan pengalaman baru di pulau tersebut, tujuan dan sasaran mereka adalah menyelam di spot-spot menarik yang ada di sana. Setelah berkenalan dan berbasa basi sebentar kamipun langsung embarkasi ke atas kapal.

Kapal Cepat ke Pulau Pramuka

Tak lama kemudian petugas kapal memanggil para penumpang dan setelah semua lengkap kapalpun bertolak ke laut. Pelayaran menuju Pulau Pramuka membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Selesai kapal sandar, kamipun turun dan langsung menuju Wisma Delima, sebuah penginapan yang telah dibooking sebelumnya oleh koordinator rombongan.

Peta Pulau Pramuka

Saya tidak memiliki acara khusus siang itu. Saat kawan-kawan FrogDive sedang sibuk briefing untuk merencanakan penyelaman mereka, waktu yang ada saya gunakan untuk makan siang kemudian shalat Dhuhur di Masjid Pulau Pramuka yang berukuran cukup besar. Demikian juga dengan sore harinya. Ketika para FrogDive sedang melanjutkan kegiatan menyelam mereka di sekitaran pantai, saya bersama Mas Bro Aceh berjalan-jalan mengelilingi pulau tersebut untuk orientasi medan.

Masjid Pulau Pramuka

Berjalan-jalan di sepanjang pesisir pantai dan mengelilingi pulau Pulau Pramuka lumayan mengasikkan. Suasana laut di sisi kanan dengan beberapa tanaman mangrove di beberapa tempat, perkampungan penduduk di sisi kiri, ditambah sinar matahari sore yang tidak terlalu menyengat dan angin sepoi-sepoi menyapu wajah seakan-akan menjadi obat untuk melupakan sejenak segala kesibukan dan kesumpekan Jakarta. Di beberapa tempat juga kami temui para kempingers lengkap dengan tenda-tenda mereka.

Untuk mengelilingi Pulau Pramuka tidak butuh waktu terlalu lama karena jaraknya juga tidak terlalu jauh. Kurang lebih satu jam perjalanan kami selesai menyusuri seluruh pantai dan tiba kembali wisma. Sisa waktu yang ada kami gunakan untuk ngopi, ngeteh, sambil menikmati dan mengabadikan suasana sunset dari depan wisma sampai hari menjelang malam.

Sunset Di Pulau Pramuka

Selesai mandi, shalat berkemas dan makan malam kami berjalan-jalan di sekitar dermaga.  Di sana telah banyak para pemancing dan para diver yang sedang melakukan night diving. Mereka rata-rata berasal dari Jakarta yang juga sedang berlibur seperti saya. Beberapa di antaranya adalah para mahasiswa teman saya mengobrol malam itu. Bosan di Dermaga saya menuju tempat para nelayan memarkir perahu dan membongkar ikan laut hasil jerih payah mereka. Sempat ada keinginan untuk membeli beberapa ekor ikan untuk pesta bakar-bakaran, namun akibat perut yang sudah kekenyangan ini akhirnya membatalkan niat saya tersebut. Sisa malam yang ada kami gunakan untuk mengobrol dan ngopi malam di depan wisma beralaskan pasir putih dan suasana pantai.

Keesokan harinya saya mencari makan pagi di warung dekat dermaga. Bertemulah saya dengan Pak Daeng Saidah, si pemiliki warung. Tadinya saya mengira Saidah ini nama istri Pak Daeng, ternyata bukan he he. Saidah adalah nama pak Daeng itu. Di usianya yang sudah lebih dari 80 tahun Pak Daeng masih tampak sehat, bugar dan penuh semangat dalam menjalani hidup. Gurat-gurat di wajahnya terlihat menggambarkan sejuta kisah yang saya pikir akan cukup menarik untuk digali.

Pak Daeng Saidah

Obrolan pagi saya awali dengan menyeruput kopi panas dan menanyakan ke Pak Daeng kenapa Pulau ini dinamai pulau Pramuka. Dari situ Pak Daeng mulai bercerita bahwa dulu pulau itu bernama Pulau Elang. Dinamai demikian karena zaman dahulu banyak sekali burung Elang yang ada di sana. Namanya diubah menjadi Pramuka karena selain sering digunakan sebagai tempat latihan Pramuka, pada era Gubernur Jakarta Ali Sadikin pulau tersebut dijadikan lokasi untuk penyelenggaraan Jambore Nasional. Pak Daeng masih ingat betul bagaimana sejarah berkembangnya pulau Pramuka dari mulai tidak ada penghuni sama sekali dan hanya beberapa nelayan dan para pemancing yang singgah di pulau itu sampai menjadi sebuah ibu kota Kabupaten administratif Kepulauan Seribu yang sangat ramai seperti sekarang.

Pak Daeng dan Warungnya

Sayapun mulai penasaran dengan kisah hidup Pak Daeng yang dari namanya saja saya sudah tahu kalau Ia adalah bukan orang asli sanaObrolanpun berlanjut dan iapun mulai bercerita bahwa ia dulunya adalah salah seorang Pelaut Bugis yang terkenal se antero nusantara itu.

Mendengarkan kisah hidup Pak Daeng seperti membaca sebuah cerita drama kehidupan. Pada masa mudanya yaitu sekitar tahun enam puluhan (1964 seingat saya) ia sudah berpetualang di lautan dan berlayar pulang pergi Makassar Jakarta menggunakan kapal layar untuk berdagang. Suatu ketika terjadilah tragedi kapalnya kecelakaan dan tenggelam di sekitar Pulau Panggang kepulauan Seribu. Nyawa Pak Daeng berhasil selamat setelah ditolong oleh para nelayan lokal lokal.

Dari situlah perubahan hidup baru dari saudagar menjadi nelayan dimulai. Dengan tanpa bermodalkan apapun selain apa yang menempel di badan Pak Daeng menjaminkan dirinya untuk memperoleh pinjaman uang kepada salah seorang saudagar di sana. Kepada saudagar itu ia bersumpah tidak akan kembali ke Makassar bila belum bisa mengembalikan uang itu. Pak Daeng akhirnya dapat pinjaman uang sebesar 30 rupiah. Mungkin itu jumlah yang lumayan besar pada waktu itu karena dengan uang itu ia bisa membeli sebuah perahu untuk menjadi nelayan dan mencari ikan di laut.

Tidak perlu waktu lama baginya untuk bisa mengembalikan uang pinjaman itu. Hanya dalam waktu dua puluh hari saja utang itu telah ia lunasiJumlah ikan yang masih melimpah di Perairan Kepulauan Seribu membuat penghasilan Pak Daeng selama menjadi nelayan sangat menjanjikan. Dalam sehari ia bisa dua kali pulang balik dari laut ke rumah karena perahunya tidak cukup untuk menampung ikan hasil tangkapan. Ikan-ikan itu kemudian direbus (karena waktu itu belum ada lemari/kotak pendingin untuk pengawetan ikan) lalu di bawa ke Jawa/Jakarta untuk dijual.

Kesuksesan di Kepulauan Seribu akhirnya membuat membuat Pak Daeng memutuskan untuk menetap dan tidak ingin lagi kembali ke kampung halamannya. Apalagi setelah ia bertemu dengan gadis idaman, yaitu Ibu Daeng dan akhirnya menjadi istrinya sekarang dan memberinya enam orang anak. 

Bu Daeng

Sedang asik-asiknya mengbrol dan mendengarkan cerita Pak Daeng ditemani kopi panas dan gorengan, teman-teman FrogDive menghubungai saya bahwa rombongan akan segera berangkat menuju titik-titik lokasi penyelaman. Saya pun berpamitan dengan Pak Daeng dan pergi dari warung.

Anak Bungsu Pak Daeng

Setelah semua siap, kami menuju ke lokasi penyelaman sesuai yang direncanakan menggunakan perahu sewaan. Di spot pertama para FrogDive melakukan penyelaman sebuah wreck (bangkai kapal tenggelam). Saya lebih memilih untuk bersorkeling ria menikmati indahnya terumbu karang dan beraneka ragam warna ikan-ikan yang berenang ke sana kemari di bawah air. Setelah puas kamipun melanjutkan perjalanan ke spot kedua.

FogDive Community

Sambil menunggu spot kedua kami singgah dan beristirahat di tempat penangkaran hiu. Setelah cukup, kami melanjutkan ke spot kedua. Tidak adanya pemandangan untuk snorkeling sehingga saya terpaksa mengikuti ajakan teman saya untuk mencoba diving. Kemampuan menyelam saya yang masih cetul membuat saya tidak betah menyelam berlama-lama, karena itu sayapun memilih untuk kembali ke perahu.

Siangnya kami kembali ke darat dan pukul 14.30 kapal yang akan membawa kembali ke Jakarta sudah siap di Dermaga.

Bagi anda yang tertarik untuk berkunjung ke sana berikut ini informasi terkait wisata pulau seribu yang kami dapat adalah sebagai berikut barangkali berguna:

– Transportasi kapal cepat dari Jakarta ke sana tersedia setiap hari. Ada dua macam sarana transportasi, yaitu menggunakan kapal cepat dan kapal kayu. Sesuai namanya kapal cepat jelas lebih cepat dan harganyapun lebih mahal. Sarana tranportasi dengan kapal cepat berangkat dan kembali dari Dermaga Pelabuhan Marina Ancol dengan tarif kurang lebih 180 ribu rupiah per orang. Sedangkan jika akan menggunakan kapal kayu berangkat dari Muara Angke dengan tarif 40.000 rupiah per orang dengan lama perjalan kurang lebih 3 jam.

– Fasilitas dan Akomodasi di Pulau Pramuka cukup memadai. Penginapan banyak sekali tersedia dan harganya pun bervarisasi. Jika ingin alami bisa berkemping ria dan terdapat camping ground di pantai bagian timur pulau.

– Harga makanan menurut saya relatif sangat murah dibandingkan dengan Jakarta. Makan berdua sampai kenyang di warung Pak Daeng plus juga bungkus untuk kawan di wisma saya hanya mengeluarkan uang kurang lebih 60 rupiah. Rasa makanannya juga maknyus karena hasil olahan ikan segar langsung dari laut.

– Untuk informasi lebih lengkap silakan googling sendiri ya…. chaw…