Tag Archives: rumah susun

Ceplukan : Si Buah Mutiara Nusantara

Di samping rumah susun/apartemen/flat saya, ada beberapa rumpun buah ceplukan. Buah yang telah lama sekali sangat jarang saya jumpai apalagi di kota besar. Dalam hati saya cukup terheran-heran karena ternyata ada juga buah tersebut di kota sebesar Surabaya, di dekat kawasan pusat kota lagi.

Keberadaaan buah tersebut membawa saya menuju kenangan masa kecil saat hidup di desa, ketika suatu hari mbah saya pulang dari sawah membawakan oleh-oleh setengah besek (semacam tempat nasi untuk hajatan) ceplukan, yang sekilas terlihat seperti sekumpulan mutiara berwarna kuning kecoklatan. Oleh-oleh yang sangat berharga bagi seorang anak kecil waktu itu karena rasa buahnya yang ranum dan khas tak terbandingi oleh buah-buahan lainnya sehingga saya masih mengingat dan mengenangnya sampai sekarang.

Ingatan akan oleh-oleh si mbah tersebut juga mengingatkan saya akan suasana desa yang begitu damai. Saat udara masih bersih dan sejuk. Saat berbagai jenis burung seperti emprit, peking, dekuku, manyar, sikatan, encis, blekok, trucuk, grejo,  dan lain-lainnya bersaut-sautan menyambut pagi dengan keramaian kicauannya. Saat di belakang rumah masih ada rawa dan sawah setengah kering yang biasa saya manfaatkan bersama-sama teman-teman sepermainan untuk kleput lumpur berburu dan berebut berbagai macam ikan dari mulai kutuk, bethik, sepat, wader, lele, limopari, sili, welut dan lainnya.

Kurang lebih tiga puluh tahun kemudian, yakni saat sekarang, suasana kedamaian itu sudah tidak ada sama sekali, menghilang di telan zaman dan hanya tinggal kenangan. Perjalanan bangsa menuju era industri yang digulirkan oleh era orde baru dengan repelitanya telah menghapus keanekaragaman hayati di desa saya. Program intensifikasi pertanian yang mengijinkan insektisida menjadi obat yang legal untuk digunakan sebagai obat pembasmi hama padi, ternyata juga memiliki efek samping yang tak kalah dahsyatnya, yakni turut memusnahkan aneka macam burung dan ikan di desa saya. Sungguh menyedihkan memang.

Lamunan saya tentang kenangan masa lalu berangsur pudar ketika saya mulai mengunduh dan memungut ceplukan-ceplukan tersebut. Tak lama kemudian ketertarikan saya akan buah itu membuat saya iseng mencoba mengetikkan kata ceplukan di mesin pencari Google di Android saya. Ternyata begitu banyak artikel tentang ceplukan yang dibahas oleh mbah Google. Buah yang bernama latin physalis angulataphysalis minima, physalis peruviana, dalam bahasa Inggris cutleaf groundcherrywild tomatocamapuwinter cherry, dalam bahasa daerah cecenet, nyur-nyuran/nyornyoran, kopok-kopokan, leletep, lapunonat, dan lain-lainnya tersebut ternyata menjadi panacea (obat mujarab) untuk segudang penyakit dari mulai obat cacing sampai penyakit jantung. Silahkan googling kalau tidak percaya…

Ada hal yang menjadi perhatian saya tentang buah ini terutama dalam keunikannya dibandingkan dengan buah-buahan lainnya antara lain buahnya yang terbungkus oleh kelopak yang melindunginya seperti mutiara dalam cangkang kerang yang membuat saya cukup PD untuk langsung memakannya tanpa harus dibersihkan terlebih dahulu meski sudah berjatuhan di tanah. Hal lainnya adalah buah itu hanya enak dimakan dengan rasanya yang khas dan juga unik terdiri dari campuran berbagai aneka rasa manis, gurih, harum, sedikit pahit dan ada getirnya ketika telah betul-betul masak di pohon.

Jangan sekali-kali mencoba memakan buah yang masih hijau karena sudah pasti kita akan langsung melepehnya karena begitu pahit rasanya. Rasa pahit dan tidak enak dari buah tersebut seakan-akan menjadi sebuah pelajaran bagi kita yang mungkin bila bisa dikonversi ke bahasa daerah kurang lebih menjadi “pisuhan/umpatan” seperti berikut (mohon maaf bila kalimatnya terlalu kasar bagi yang mengerti) :

Jawa Suroboyo :

“Aku sih cilik cuk, jo angger mbok klethak ae… nyoh emploken… rasakno koen…

Sunda :

“Aing letik keneh kehedh.. ulah asal gegel jeung nyatu atuh maneh teh… sok rasakeun sia…

Betawi :

“Gue masih ijo geblex… jangan asal gigit ame telen aje lu, rasain sono…”

Buah Ceplukan menjadi pelajaran bagi saya untuk tidak sekali-kali  memanen dan  memanfaatkan sesuatu yang belum saat kematangannya atau saya akan dipisuhi dengan aneka rasa pahit, getir dan tidak enak lainnya…