Tag Archives: rukun wudhu

Fiqih Praktis : Bab 5 – Wudhu

Wudhu adalah salah satu cara bersuci yang dilakukan oleh seorang Muslim berdasarkan perintah Allah SWT dalam Al-Quran, “Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan kedua tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki… “ (QS. Al-Maidah [5]:6).

Dan telah dirawikan oleh Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Allah tidak akan menerima shalat seseorang dari kamu, apabila ia berhadas, sampai ia berwudhu.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi).

Menurut riwayat lain, “Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci; tidak pula sedekah yang berasal dari khianat (yakni pencurian, korupsi dan sebagainya).”

Untuk berwudhu, harus menggunakan air yang ‘suci dan menyucikan’ seperti telah diuraikan dalam bab tentang bersuci).

Demikian pula, apabila ada suatu zat yang dapat menghalangi sampainya air ke anggota tubuh yang akan dibasuh atau disapu, seperti lilin, cat kuku (cutex) dan sebagainya, maka zat tersebut harus dihilangkan lebih dahulu agar wudhu menjadi sah. Jika zat itu hanya berupa pewarna saja, seperti pacar (binna) untuk pemerah kuku yang tidak menghalangi air, tidak perlu dihilangkan.

Pada saat seseorang berwudhu dan sesudahnya, sudah sewajarnya di samping penyucian anggota tubuhnya dari segala kotoran lahiriah – ia juga meniatkan penyucian batiniahnya dari segala perbuatan dan perangai yang buruk. Agar dengan demikian ia menjadi lebih siap untuk berhubungan dengan Tuhannya, baik ketika mengerjakan shalat setelah itu, membaca Al-Quran, berdoa dan sebagainya.

Rukun-Rukun Wudhu

Hal-hal yang wajib dikerjakan dalam wudhu adalah :

1.  Niat Untuk Berwudhu. Niat, menurut syariat, adalah sengaja mengerjakan suatu perbuatan, demi keridhaan Allah SWT serta mengikuti cara yang ditentukan oleh-Nya. Niat adalah perbuatan hati yang menyertai setiap perbuatan Ibadah, dan tidak wajib diikuti oleh ucapan lisan. Tetepi jika diperlukan untuk menimbulkan konsentrasi, boleh saja mengucapkannya. Misalnya dengan mengucapkan :”Saya berwudhu untuk menghilangkan hadats” Atau : “Saya berwudhu untuk shalat.” Dan sebagainya.

2.  Membasuh Muka. Batasannya ialah dari telinga yang satu ke telinga lainnya, dan dari tempat tumbuh rambut kepala di atas dahi, sampai sedikit di bawah dagu.

3.  Membasuh kedua tangan sampai dengan kedua siku.

4.  Mengusap (menyapu) kepala dengan air. Menurut Mazhab Syafi’i, cukup menyapu sebagian kepala saja, atau beberapa helai rambut yang berada di atas kepala (bukan bagian rambut panjang yang berada di luar batas kepala). Tetapi menurut Abu Hanifah, paling sedikit seperempat kepala. Sedangkan menurut Malik dan Ahmad, tidak cukup kecuali menyapu seluruh kepala. Perbedaan pendapat ini disebabkan cara penafsiran yang berbeda berkenaan dengan uruf (ba’) dalam QS Al-Maidah  6 “wam sahuu biru uusikum”. Sebagian ulama menganggap huruf tersebut mengandung pengertian ‘sebagian kepala’, sedangkan yang lain tidak demikian adanya. Apalagi telah dirawikan hadis yang menyatakan bahwa Nabi Saw. Menyapu seluruh kepalanya ketika berwudhu. Oleh sebab itu, sebaiknya mengerjakannya dengan membasahi kedua tangan lalu mengucap seluruh kepala; dengan meletakkan kedua ibu jari di kedua kening, dan menempelkan jari-jari lainnya di bagian depan kepala (di atas dahi) lalu menggerakkannya ke belakang kepala sampai ke kuduk; dan setelah itu mengembalikannya lagi ke bagian depan kepala.

5.  Membasuh kedua kaki sampai dengan kedua mata kaki. Hampir semua ulama mazhab mewajibkan membasuh kedua kaki dalam wudhu. Namun ada juga riwayat dari beberapa sahabat Nabi Saw. Dan tokoh lainnya yang berpendapat bahwa wajibnya adalah mengusapkan air di atas kaki (sama seperti mengusap di atas kepala), bukan membasuhnya. Praktek seperti itu diriwayatkan dari Anal bin Malik, Abdullah bin Abbasdan Ali bin Abi Thalib r.a. Adapun Ibn Jarir At-Thabari, Al-Auza’iy, Ats-Tsauriy dalam sebagian pengikut Ahmad membolehkan memilih antar membasuh dan mengusap, sedangkan sebagian pengikut Daud Azh-Zahiri mewajibkan kedua-duanya. Di antara penyebab timbulnya perbedaan ini, disamping pelbagai riwayat hadits dari Nabi Saw. Juga adanya dua bacaan (qiraat) berkaitan dengan QS. Al-Maidah: 6 yakni, …wa arjulakum…: (dengan a) dan wa arjulikum (dengan i). Perbedaan tersebut mengakibatkan perbedaan maknanya; antara kewajiban membasuh kaki (mengikuti kewajiban membasuh wajah), dan kewajiban mengusap kaki (mengikuti kewajiban membasuh wajah), dan kewajiban mengusap kaki (mengikuti kewajiban mengusap kepala), Lhat Ibn Rusyd, Bidayat Al-Mujtahid, I/10; An-Nawawi, Al-Majmu’, I/44; Asy-Sya’rani, Al-Mizan Al-Kubra, I/128; Muhammad bin Aburrahman Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi’i, Rahmat Al-Ummah, hal 18 (Bagian pinggir kitab Al-Mizan Al-Kubra).

6.  Tartib : mengerjakan rukun-rukun wudhu di atas secara berurutan. Kecuali apabila menyelam di dalam air y ang banyak, lalu berniat wudhu, maka seketika itu juga, telah sempurna wudhunya.

Sunnah-Sunnah Wudhu

Selain rukun-rukun wudhu yang wajib dikerjakan, sepeti tersebut sebelum ini, ada pula beberapa perbuatan yang dianjurkan (atau disunnahkan) agar wudhu menjadi lebih sempurna.

1. Membaca Basmalah ketika memulai wudhu

2. Mebersihkan gigi dengan sikat gigi, siwak dan sebagainya.

3.  Membasuh kedua telapak tangan sampai ke pergelangan tangan, sebanyak tiga kali.

4.  Berkumur-kumur (tiga kali)

5.  Membersihkan bagian dalam hidung dengan menghirup sedikit air ke dalam lubang hidung, lalu mengeluarkannya kembali (tiga kali).

Semua yang tersebut di atas, nomor 1 sampai dengan nomor 5, dilakukan sebelum mulai membasuh muka.

6.  Menyilangi anak-anak jari dari kedua kaki ketika membasuh kaki.

7.  Mengusap bagian luar dan dalam kedua telinga dengan air, bersamaan atau setelah mengusap kepala.

8. Mendahulukan anggota badan bagian kanan sebelum yang kiri, baik ketika membasuh tangan maupun kaki.

9. Mengulangi basuhan tiap anggota wudhu (muka, tangan, kepala dan kaki) masing-masing sebanyak tiga kali.

10. Menggosok-gosok anggota wudhu ketika membasuhnya, agar lebih bersih.

11. Menambahkan sedikit dari batas yang diwajibkan, dalam membasuh atau mengusap anggota wudhu.

12. Menggunakan air secukupnya saja, dan jangan berboros walaupun seandainya menggunakan air laut.

13. Selesai Berwudhu, menghadap kiblat dan berdoa:

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah. Wa asyhadu anna Muhammad (an) abduhu wa rasuluh. Allahumma j’alni minat tawwabin waj’alni minal mutathahhirin.

(Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, Yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dalam golonga orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk dalam golongan orang-orang yang bersuci.

14. Selesai berwudhu, mengerjakan shalat dua raka’at : sunnat al-Wudhu

Hal-Hal yang membatalkan Wudhu

Wudhu menjadi batal disebabkan terjadinya hal-hal berikut :

1. Keluarnya sesuatu dari ‘kedua pintu pelepasan’ (saluran buang air kecil atau besar), baik berupa zat, seperti kencing, tinja, darah dan sebagainya, maupun yang berupa angin (kentut)

2. Hilang akal atau kesadaran, baik karena pingsan dan gila, atau krena obat bius dan mabuk minuman keras.

3. Tidur. Kecuali tidur dalam posisi duduk yang mantap, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin keluar angin.

4. Menyentuh kemaluan, bagian depan ataupun belakang, dengan telapak tangan bagian dalam, secara langsung dan tanpa penghalang. Akan tetapi menyentuhnya dengan punggung telapak tangan, tanpa maksud menimbulkan rangsangan tidak membatalkan. Demikian itu menurut mazhab Syafi’i, Malik, Ahmad dan Daud, berdasarkan hadis dari Busrah binti Shafwan yang dishahihkan oleh Bukhari, Muslim, Abud Daud dan lainnya, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, “Barangsiapa menyentuh kemaluannya, maka jangalah ia shalat sebelum  berwudhu kembali.” Tetapi menurut Abu Hanifah dan Ats-Tsauri, serta Ibn Al-Mundzir (dari kalangan mazhab Syafi’i), tidak membatalkan. Mereka menolak pendapat pertama tersebut; berdasarkan hadis lain yang mereka nilai lebih shahih. Yaitu riwayat dari Thalq bin Ali, bahwa seorang  laki-laki bertanya kepda Nabi Saw. tentang seseorang yang menyentuh kemaluannya sendiri; apakah ia harus berwudhu? Jawab Beliau, “Tidak, itu hanyalah bagian dari tubuhmu.” (Lihat Ibn Rusyd, Bidayat Al-Mujtahid, I/28; dan An Nawawi, Al-Majmu’ I/41).

5.  Bersentuhnya secara langsung dan tanpa penghalang kulit pria dewasa dan kulit wanita dewasa, apabila disertai dengan rangsangan syahwat, atau memang dimaksudkan untuk menimbulkan rangsangan. Dasarnya adalah firman Allah  Swt, … Dan jika kamu sedang sakit atau dalam perjalanan, atau kamu datang dari tempat buang air, atau kamu melakukan ‘persentuhan’ dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air (untuk bersuci), maka bertayamumlah kamu… (QS. An-Nisa [4]: 43).

Para ulama mazhab Syafi’i (sebagaimana juga dirawikan dari IBnu Mas’ud, Umar bin Khattab dan lain-lain) berpendapat bahwa persentuhan kulit antara laki-laki dewasa dan perempuan dewasa (termasuk istri) membatalkan wudhu, walaupn tanpa dibarengi rangsangan syahwat. Pendapat ini berdasarkan pemahaman mereka terhadap bagian dari ayat di atas yang menjelaskan tentang hal-hal yang mewajibkan orang bersuci kembali sebelum melaksanakan shalat: “…atau kamu melakukan ‘persentuhan’ dengan perempuan…”. Mereka memahami kata ‘persentuhan’ secara harfiah, sehingga menganggap wudhu seseorang menjadi batal setelah terjadinya persentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan. Akan tetapi dalam hal ini dikecualikan persentuhan antar pria dan wanita mahram, yang menurut mereka , tidak membatalkan wudhu. Sebaian lagi ulama mazhab Syafi’i  menganggap persentuhan kulit (antara laki-laki dan perempuan bukan mahram) membatalkan wudhu si penyentuh tapi tidak membatalkan yang tersentuh. Yang dimaksud dengan mahram ialah wanita yang tidak boleh dinikahi oleh laki-laki, disebabkan adanya hubungan kekerabatan yang sangat dekat, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa [4]: 23 Yakni ibu (dan nenek seterusnya ke atas); anak perempuan (dan cucu perempuan seterusnya ke bawah); saudara perempuan; bibi (saudara perempuan ayah atau ibu); kemenakan perempuan (anak perempuan dari saudara laki-laki atau perempuan); ibu mertua; anak tiri perempuan; menantu perempuan; ibu susu (perempuan bukan ibu kandung yang pernah menyusui seseorang); dan saudara perempuan sepersusuan.

Sedangkan Abu Hanifah (sebagaimana juga dirawikan dari Ibnu Abbas, Al-Hasan dan Sufyan Ats-Tsauri) memahami kata persentuhan sebagai kiasan untuk hubungan seksual (senggama). Karenanya persentuhan biasa antara kulit laki-laki dan perempuan (misalnya ketika berjabat tangan atau bersentuhan secara tidak sengaja ketika berdesak-desakan. -pen) tidak membatalkan wudhu. Kecuali apabila memang disengaja dengan perbuatan-perbuatan tertentu (seperti memeluk dan menciumi), sedemikian sehingga menimbulkan ‘ketegangan’ yang tinggi. Pendapatnya ini juga didukung oleh beberapa hadis shahih yang menunjukkan tidak batalnya wudhu akibat persentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan.

Di antaranya, ucapan Aisyah r.a., “Pada suatu malam, tidak kudapati Rasulullah di tempat tidurnya, alu aku pergi mencarinya sehingga tanganku menyentuh telapak kaki beliau ketika beliau sedang bersujud di Masjid.” (HR Muslim). Juga ucapan Aisyah r.a “Adakalanya Nabi Saw. Shalat sementara aku tidur di  antara Nabi Saw. Dan Kiblat. Maka setiap kali hendak sujud, beliau memijit kakiku sehingga aku menekuk kakiku itu.” (HR Bukhari dan Muslim). Juga ucapan Aisyah r.a bahwa nabi Saw. pernah mencium salah seorang istrinya lalu keluar (ke masjid) untuk shalat tanpa berwudhu lagi. Namun hadis-hadis itu ditakwilkan artinya oleh ulama mazhab Syafi’i, karena lebih mengutamakan pemahaman mereka mengenai ayat tersebut di atas.

Adapun pendapat ketiga adalah sebagaimana dipahami oleh mazhab Malik, serta sebagian dari kalangan mazhab Ahmad, Al-Lats, Ishaq dan Asy sya’bi. Yaitu persentuhan kulit laki-laki dan perempuan hanya membatalkan wudhu apabila disertai rangsangan syahwat, atau memang dimaksudkan untuk menimbulkan rangsangan. Tanpa itu, maka persentuhan tidak membatalkan wudhu. Lihat An-Nawai Al-Majmu II/30, menurut hemat saya (-pen), pendapat Imam Malik yang membedakan antara persentuhan dengan syahwat dan yang tidak dengan syahwat ini, layak dijadikan bahan pertimbangan. Sebabnya adalah bahwa disyariatkannya wudhu sebelum shalat demi membersihkan diri bukan saja secara jasmani tetapi juga ruhani dalam persiapan menghadap Allah SWT. Ketika hendak melakukan sesuatu ibadah ritual guna mendekatkan diri kepada-Nya. Hal ini dibuktikan dengan kewajiban bertayamum dengan tanah (debu) bagi seseorang yang tidak mampu berwudhu karena tiadanya air atau karena sakit.  Tayamum, walaupun tidak memenuhi aspek kebersihan jasmani namun cukup memenuhi aspek kebersihan ruhani. Maka dalam keadaan darurat ketika tidak terpenuhinya sarana penyucian jasmani dan ruhani sekaligus tayamum dapat pula menjadi pemisah antara amalan duniawi dan amalan ibadah mahdhah seperti shalat dan sebagainya. Karena itu pula, wudhu (atau tayammum) perlu dilakukan sebagai sarana pemisah yang menghilangkan perasaan segan atau bimbang dari hati seseorang yang akan menghadap tuhannya, setelah sebelum itu ia secara sengaja mendorong timbulnya rangsangan syahwat pada dirinya sendiri, dengan persentuhan tersebut. Wallahu Alam.

Beberapa Hal Lain yang Tidak Membatalkan Wudhu.

Beberapa hal yang sering kali disangka membatalkan wudhu, padahal tidak membatalkan. Antara lain:

1.  Keluar darah tidak melalui ‘dua pintu pelepasan’ (saluran buang air besar dan kecil). Yakni , karena luka, mimisan, berbekam dan sebagainya. Demikia pula muntah baik sedikit maupun banyak, tidak membatalkan wudhu. Menurut Mazhab Abu Hanifah, keluarnya darah melalui apapun juga demikian pula muntah, membatalkan wudhu.

2.  Memandikan mayat tidak membatalkan wudhu.

3.  Apabila seseorang bimbang, apakah wudhunya telah batal atau belum, maka ia boleh menganggapnya tidak batal, sampai merasa yakin bahwa wudhunya telah batal dengan salah satu penyebab batalnya wudhu seperti telah diuraikan sebelum ini.

Sebaliknya apabila ia merasa yakin bahwa wudhunya telah batal, tetapi kini ia ragu apakah setelah itu ia telah berwudhu kembali atau belum, maka ia harus menanggap wudhunya tadi telah batal. Secara singkat, ia harus mengikuti apa yang diyakininya, bukan apa yang diragukannya.

Hal-hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Kecuali Dalam keadaan Berwudhu.

1.  Shalat; baik shalat wajib ataupun sunnah, termasuk shalat Jenazah. Selain karena perintah berwudhu dalam firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah [4]:6, juga ada hadis nabi Saw. “Allah tidak akan menerima shalat kecuali dalam keadaan bersuci.”. (HR Muslim). Para ulama bersepakat tentang tidak sahnya shalat dalam keadaan berhadats (tidak berwudhu), baik dalam keadaan ia mengetahui hadatsnya itu atau tidak, maupun ia terlupa (bahwa wudhunya telah batal). Apabila ia melakukan shalatnya yang tanpa wudhu itu, karena tidak tahu atau karena lupa, maka ia tidak berdosa (dan hanya diwajibkan mengulangi shalatnya itu saja). Akan tetapi apabila ia secara sadar dan dengan sengaja mengerjakan shalatnya itu dalam keadaan telah batal wudhunya, maka disamping wajib mengulangi shalatnya itu setelah berwudhu, ia dianggap berdosa karena telah melakukan pelanggaran cukup serius (An-Nawawi, Al-Majmu II/68)

2.  Tawaf sekitar ka’bah. Dalilnya adalah hadits shahih bahwa Nabi Saw. Mengambil air wudhu sebelum tawaf; sedangkan beliau pernah bersabda, “ambillah ketentuan-ketentuan (manasik, haji dan umrah) kamu dariku” Karenanya Syafi’i, Maliki, dan Ahmad (dalam salah satu pendapat yang diriwayatkan darinya) mengharamkan thawaf dalam keadaan tidak berwudhu dan menganggapnya tidak sah. Sedangkan Abu Hanifah mensahkan thawaf tanpa wudhu walaupun dalam salah satu dari dua pendapatnya ia juga menganggapnya sebagai perbuatan pelanggaran. (An-Nawawi, Al-Majmu II/69).

3.  Memegang atau membawa Mushaf (kitab al-Quran). Kecuali dalam keadaan darurat; untuk menyelamatkannya atau mengembalikannya ke tempatnya semula, setelah terjatuh dan sebagainya.Demikianlah pendapat dari keempat Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), berdasarkan firman Allah SWT, “tidak menyentuhnya kecuali mereka yang tersucikan” (QS. Al Waqiah :794) akan tetapi Ibn. Abbas, Asy-Sya’bi, Adh-Dhahhak, Zaid bin Ali, Al-Muayyad Billah, Daud, Ibn Hazam, dan Hamad bin Sulaiman, membolehkan menyentuh Mushaf Al-Quran walau tanpa wudhu. Mereka mengatakan bahwa ayat tersebut hanya mengandung pemberitaan tentang Al-Lauh Al0Mahfuzh, yang tidak dapat menyentuhnya selain para malaikat (yaitu yang dimaksud dengan “mereka yang tersucikan”). Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, I/49; An-Nawawi, Al-Majmu II/74.

Adapun membaca Al-Quran tanpa menyentuhnya, tetap dibolehkan walaupun dalam keadaan tidak berwudhu.

Disunnahkan Berwudhu Dalam Keadaan-keadaan Sebagai Berikut :

1.  Ketika hendak berzikir atau mempelajari hadits Nabi Saw.

2.  Ketika bersiap-siap untuk tidur.

3.  Sebelum mandi baik mandi wajib atau mandi biasa.

4.  Membarui wudhu ketika hendak mengerjakan shalat walaupun wudhunya belum batal.

5.  Ketika hendak makan, minum, tidur, atau jima’ (hubungan seksual) bagi orang yang sedang dalam keadaan hadats besar atau janabat.