Tag Archives: roda tiga

Mobil Yang Cocok Untuk Indonesia

Pak Bos : “Dari membaca judul tulisanmu itu kayaknya kamu paling tau aja soal mobil dan masalah negara lee… le, sopo to koen iku“

Mr. Choro: “Tenang pak bos, Indonesia adalah negara paling bebas dan demokratis sedunia, siapapun boleh nulis di dunia maya, gak ada yang mbatasi, gak peduli balungan kere atau balungan priyayi, siapa tahu masuk akal untuk menjadi solusi atas segala permasalahan bangsa ini, toh kenyataannya sekarang kita emang banyak masalah”.

Pak Bos : “Tema kita adalah dunia transportasi di Indonesia, terutama Jakarta dan kota-kota macet lainnya, Trus gimana solusimu tentang dunia pertransportasian di Indonesia”

Mr. Choro : Masalah transportasi Jakarta tidak bisa dipecahkan dengan pola pikir sempit dan jangka pendek pak bos, sebab keruwetan itu berpangkal dari dari masalah ketidakadilan pembangunan di negara kita.

Pak Bos : “Maksudmu?”

Mr.Choro : “Ya intinya untuk mengatasi permasalah bangsa ini termasuk dunia transportasi di Jakarta, kita harus berwawasan lebih luas dengan memandang seluruh kondisi geografis negara kita pak bos, seperti doktrin wawasan nusantara itu lho, yang sudah diajarkan kepada kita dahulu saat penataran P4. Para pendahulu kita sudah pinter-pinter sampai menelurkan konsep arah pembangunan. Kita saja yang tak mau melaksanakannya.”

Pak Bos : “Menurutmu Gubernur Jokowi dan Ahok akan mampu mengatasi kesemrawutan transportasi Jakarta?”

Mr. Choro : “Saya kok ragu-ragu pak Bos”

Pak Bos : “Lhadalah, sekarang gayamu mulai kementhus….meragukan kemampuan tokoh sekelas Jokowi-Ahok, Gubernur dan Wakil Gubernur paling demokratis pilihan murni dari rakyat”

Mr. Choro : “ Wah siapa yang meragukan Jokowi-Ahok pak bos, justru beliau adalah idola saya, beliau adalah sosok pimpinan yang mewakili harapan rakyat selama ini, sederhana, merakyat, transparan dalam birokrasi dan demokrasi, jujur, sosok yang sangat saya kagumi dan semoga menjadi cikal bakal lahirnya pemimpin-pemimpin sejati di masa depan”.

Pak Bos : “Lha trus kok kamu meragukan kemampuannya?”.

Mr. Choro : “Begini pak Bos…. Kalau Jokowi – Ahok jadi Presiden ada kemungkinan mereka mampu mengatasi masalah Jakarta. Kondisi yang ada sekarang, dengan kewenangan sekelas seorang Gubernur, Jokowi – Ahok dituntut untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh mereka yang bukan warga Jakarta saja. Biang masalah di Jakarta itu datangnya dari mana-mana pak bos. Ada yang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, bahkan orang-orang seluruh Indonesia datang ke sana. Artinya seorang Gubernur disuruh mengurusi orang se negara, siapa yang mampu pak Bos…. Pak Bos mau… Jadi kepala keluarga tapi disuruh ngasi makan dan mengatasi permasalahan rumah pak bos yang diakibatkan oleh warga satu RT?

Mungkin Gubernurnya malaikat kali baru bisa….

Jika Jokowi – Ahok bisa mengatasi masalah Jakarta, saya yakin itu sifatnya sementara saja, contohnya jika suatu saat kemacetan sudah teratasi, saja jamin tak perlu waktu lama akan macet lagi, yang diakibatkan oleh para pendatang-pendatang baru yang selalu datang setiap saat apalagi waktu pulang mudik lebaran. Memimpin Jakarta era sekarang ibarat menguras sumur di musim hujan pak bos…. menguras energi tapi gak asat-asat (airnya habis)…

Masalah Jakarta sebagai center of Gravity Indonesia adalah masalah nasional yang harus diatasi oleh tokoh sekelas Presiden pak bos…. caranyapun bukan dengan memberikan solusi terhadap Jakarta setempat, melainkan dengan memandang ke seluruh Geografis Indonesia, sesuai Doktrin Wawasan Nusantara”.

Pak Bos : “Piye?”

Mr. Choro : “Break sik pak bos… kemeng nulise, ngopi n rokoan sik… mengko lanjut maneh…”

Bersambung…..

———————————————————————————————————-

Pak Bos : “Menurutmu mobil apa yang cocok dengan alam Indonesia, le?”

Mr. Choro : “Pak Bos yang terhormat, sebelum kita menentukan jenis alat transportasi yang cocok digunakan di alam Indonesia, kita harus melihat dulu kondisi tanah air kita, Indonesia atau Nusantara. Allah SWT sudah menakdirkan kita tinggal di negara yang secara geografis berbentuk kepulauan. Terdiri dari beribu-ribu pulau, ada yang besar dan ada yang kecil.

Negara kita adalah negara terunik di dunia. Tidak ada yang satu negarapun di dunia ini yang menyamainya. Di samping berbentuk kepulauan, juga terdiri dari beragam suku bangsa, budaya, adat-istiadat, bahasa, dan agamanya. Jepang mungkin secara geografis mirip Indonesia tapi penduduknya relatif seragam dan homogen. Amerika dan Eropa mungkin multietnis, tapi negaranya adalah negara benua atau kontinental. Untuk menentukan jenis transportasi yang cocok, perlu solusi yang unik pula. Tidak bisa disamakan dengan negara-negara lain, apalagi dengan kunjungan kerja ke mana-mana. Kondisi pulau-pulau kecil itulah yang barangkali membuat orang-orang kita kecil-kecil, sama seperti orang jepang. Sama seperti pulau-pulaunya. Berdasarkan kondisi itulah semestinya pembangunan kita diarahkan. ”

Pak Bos : “Jadi menurutmu mobil-mobil yang ada sekarang jenisnya tidak cocok dengan alam kita begitu?”

Mr. Choro : “Ya bisa dibilang begitu Pak Bos. Mobil-mobil yang ada di tempat kita sekarang ini kan mengacu pada mobil-mobil buatan Amerika atau Eropa. Mereka daratannya luas, orangnya juga besar-besar. Tidak seperti kita yang kecil-kecil”.

Pak Bos : “Lha itu mobil-mobil buatan Jepang ukurannya sama seperti buatan Eropa”

Mr. Choro : “Ya mereka dulu membuat mobilnya nyontoh dari Amerika dan Eropa bos, prinsip transportasi di Indonesia seharusnya mengacu pada bentuk negaranya yaitu silahkan banyak tapi yang penting kecil-kecil saja”

Pak Bos : “Okelah kalau begitu, mari kita fokuskan pembicaraan ini kepada kondisi carut-marut transportasi Jakarta yang kamu bilang akan sulit diatasi oleh pemerintahan era Jokowi-Ahok. Beberapa solusi sudah disiapkan untuk mengatasi masalah kemacetan. Salah satunya adalah transportasi massal misalnya Busway untuk TransJakarta, Mass Rapid Transit, Kereta Monorail dan lainnya yang bertujuan memberikan alat transportasi massal bagi warga Jakarta, apakah itu akan menyelesaikan masalah?”

Mr. Choro : “Eranya sudah berubah pak Bos. Pola pikir seperti memang cocok untuk era Industri. Saat jamannya orang-orang bekerja di suatu pabrik berangkatnya bareng-bareng dan pulangpun bareng-bareng. Kita sedang memasuki era baru bernama era Informasi atau era “mobile” pak Bos. Karena itulah ada HP atau perangkat bergerak. HP diciptakan agar semua orang bisa berkomunikasi dimanapun dan kapanpun. Tidak seperti dulu zamannya telepon PSTN dimana kalau mau menelepon orang harus pulang ke rumah atau nyari wartel.

Orang-orang jaman sekarang mobilitasnya tinggi. Saat bekerja inginnya tidak kemana-mana tapi bisa ada di mana-mana. Pergi ke mana-mana tapi tetap bisa mengawasi semua. Ingin tetap terkoneksi meski sedang di pasar, nyalon, jalan, mancing, atau nongkrong di warung kopi. Semua sarana dan prasarana sudah memungkinkan untuk itu. Kita tidak bisa membatasi mobilitas mereka, apalagi menyuruhnya untuk berangkat ramai-ramai menggunakan sarana transportasi massal seperti itu. Alat transportasi semacam itu cocoknya untuk anak-anak sekolah atau mahasiswa yang waktu berangkat dan pulangnya sudah pasti. Agar mereka di jam sekolah tidak banyak keluyuran dan tawuran. Larang mereka menggunakan kendaraan pribadi misalnya sepeda motor apalagi mobil, supaya tidak bisa pergi kemana-mana saat jam pelajaran sekolah. Tapi sediakan angkutan masal gratis kepada mereka, lengkapi dengan AC. Agar mereka bisa bersosialisasi sesama pelajar dan mahasiswa, siapa tahu mereka menemukan pacar dan jodoh di sana.

Pak Bos, menurut saya prinsip dalam membatasi alat transportasi adalah jika kita tidak bisa membatasi jumlahnya, batasilah ukurannya. Lha kondisi sekarang kita tidak mungkin bisa membatasi orang-orang yang mau beli mobil atau motor, masak punya uang gak boleh beli mobil”

Pak Bos : “Mari kita batasi jumlahnya dulu, bagaimana kalau hanya mobil-mobil berusia maksimal 5 tahun saja yang boleh beroperasi di Jakarta?”

Mr. Choro : “Maksud Pak Bos hanya orang berduit yang mampu beli mobil baru yang boleh melenggang di jalanan Jakarta gitu?. Trus kita-kita yang balungan kere yang hanya mampu beli mobil bekas tahun 70an tidak boleh hidup enak. Inget Pak Bos… Jalanan Jakarta itu dibangun dari pajak seluruh rakyat dan eksploitasi kekayaan alam negara kita. Jalanan itu bukan warisan nenek moyang pak bos saja, tapi warisan nenek moyang saya juga, bos gimana sih”

Pak Bos : “Lha itu Singapur menerapkan aturan seperti itu”

Mr. Choro : “Pak Bos, please stop membandingkan kita dengan Singapur. Bila Indonesia itu sekarung upil, Singapur itu seukuran dengan upil yang ada dihidung kita, luasnya saja seperempatnya Jakarta. Penduduknya cuma lima juta orang. Kok bos bandingkan dengan negara berpenduduk 240 juta orang, gimana sih pak Bos… please dech…”

Pak Bos : “Kamu kok jadi lebay gitu kayak ABG sekarang?”

Mr. Choro : “Yah sekali-kali GPP pak bos he he”

Pak Bos : “Laper gua cho…”
Mr. Choro : “Setuju pak Bos… ngopi ama rokoan dulu…

Bersambung…

—————————————————————————————————————–

Mr. Choro : “Gimana pak Bos? Wis wareg?”

Pak Bos : “Sudah cho, lumayan nasi liwet sama semur kutuk khas Kudus, jan suedep tenan. Mari kita lanjutkan diskusi kita tentang solusi untuk masalah transportasi Jakarta dan kota-kota macet lainnya seperti Surabaya, Yogja, Bandung, Semarang, Solo, Medan, Makassar Malang dan kota-kota lainnya”.

Mr. Choro : “Kecuali Kudus pak Bos, dari dulu sampai sekarang saya gak pernah lihat kudus macet. Paling yang macet akses jalan yang masuk ke sana, Demak, Pati, Rembang. Padahal Kudus itu kan kota industri. Pabrik-pabrik berkelas nasional dan multinasional seperti Jarum, Polytron, Pura, Sukun, Nojorono dan lain-lainnya ada di sana”.

Pak Bos : “Lha iyo lah le, Wong Kudus itu kota sak uplik gitu, gak sampai setengah jam sudah bisa terlalui dari ujung ke ujung, jangan bandingkan sama kota-kota besar lainnya”

Mr. Choro : “Betul pak Bos, makanya nanti kalau pensiun saya pengin di sana saja, punya rumah mungil di tepi sawah dan sungai, lengkap dengan kandang ayam, bebek, enthok, kambing, ditambah tambak untuk ikan lele, nila, emas, kutuk dan jenis lainnya, juga kebun sayur kangkung, bayem, kacang, singkong, ditambah pohon-pohon buah seperti pepaya, mangga, rambutan, durian dan lain-lainnya.Jadi masa tua saya tidak terlalu banyak bergantung pada negara apalagi orang lain. Mau makan nasi sudah ada sawah, sayur sudah ada kebon, buah sudah ada pohonnya, daging atau ikan sudah ada kandang dan tinggal mancing. Kalau para pesbuker atau teman-teman dan cucu-cucu saya datang tinggal tak suruh panen dewe. Energi listrik sudah ada sungai yang nanti saya pasang PLTA mini atau kincir angin di sawah saya.

Tinggal kebutuhan internet untuk update status facebook yang perlu bayar he he… kalau Internet di Indonesia gratis, berarti saya hampir tidak butuh uang lagi pak Bos… Betapa nikmatnya kita tinggal di Indonesia, semua kebutuhan hidup empat sehat lima sempurna sudah dicukupi oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Pembangunan salah arah saja yang membuat kita jadi seperti sekarang, pembangunan ikut-ikutan standar orang lain dari negara lain, silau dengan istilah asing yang namanya International Organization for Standarization di singkat ISO. Kepanjangan sama kependekannya saja gak sama. Kita saja gak ikut dilibatkan untuk membuat standar yang belum tentu cocok dengan lidah kita itu. Pakanan opo iku…, gak mudheng aku…”

Pak Bos : “Wis gak usah ndladrah gitu ngomongmu, kita ini mau diskusi tentang mobil bukan dengarkan curhatmu, kok malah ngomong pensiun segala, kalau mau curhat jangan di sini, sana sama Mamah Dedeh. Kembali ke persoalan gimana mengatasi persoalan kemacetan menurutmu?”

Mr. Choro : “Sip pak Bos, berbicara tentang sebuah solusi tentu kita harus menggolongkannya ke dalam beberapa tahap. Apakah itu solusi jangka panjang, jangka menengah, jangka pendek, biasa, kilat, atau kilat khusus.”.

Pak Bos : “Lha kamu mulai ngelantur pake standar kecepatan mengirim surat ala kantor pos dan giro, piye tho”

Mr. Choro : “Ya memang begitulah pak bos, jika masalah-masalah sosial itu diibaratkan kebakaran, kita sekarang ini diibaratkan sedang memadamkan api yang tersulut di sana-sini, contohnya korupsi bagaimana caranya kita menyikat habis koruptor, para pedagang liar bagaimana caranya kita menggusur di sana sini. Macet? Bikin jalan baru saja, bikin jembatan saja. Kita tidak pernah melihat apa pangkal masalahnya sampai ke titik yang paling dasar. Semakin dalam kita selami titik permasalahan, solusi yang kita temukan juga akan menjadi pemecah persoalan untuk waktu yang semakin panjang juga, semakin sempit dan pendek pola pikir kita, yang lahir juga adalah solusi untuk tempat terbatas dan dalam waktu yang pendek pula. Waktu kita hanya 24 jam sehari pak Bos… di samping kita memadamkan api, kita juga harus menemukan sumber-sumber air baru sebagai sumber kehidupan”

Pak Bos : “Wis jangan terlalu luas topik pembicaraan kita, solusi kilat khusus untuk mengatasi persoalan Jakarta piye?”

Mr. Choro : “Gampang pak bos, tutup saja seluruh SPBU d Jakarta, otomatis kendaraan yang butuh bahan bakar minyak akan ngendon semua di rumah, biarkan mereka jalan kaki, atau menggunakan sepeda onthel, becak, gerobak sapi, atau kereta kuda atau kendaraan lain berbahan bakar nasi seperti jaman dulu”

Pak Bos : “Dasar wong gemblung sira ya…., solusi model kepriben kiye?”

Mr. Choro : “Lha pak Bos katanya minta solusi kilat khusus, ya itu solusinya. Enak tho.. gak ada macet, polusi, kecelakaan lalu lintas, cuma kehidupan menjadi lebih lambat saja. Gak ada di dunia ini solusi instan alias jalan pintas yang mengenakkan pak Bos, no shortcut in life…. shortcut itu hanya ada di desktopnya komputer pak Bos.. he he”

Pak Bos : “Yo wis solusi jangka pendek saja, daripada kilat khusus tapi gak enak dilakoni”

Mr. Choro : “Setuju pak bos, mari kita bicara tentang solusi jangka pendek alias kita berbicara tentang jenis mobil pribadi yang dipakai oleh para pemakai jalan di Jakarta. Mari kita lihat yang tampak oleh mata telanjang kondisi mobil yang dipakai oleh para pengguna jalan di Jakarta dan kota lainnya.

Sudah bukan rahasia umum bahwa yang menyebabkan kemacetan adalah mobil-mobil pribadi. Sebagaimana sudah kita bahas di awal, mobil yang dipakai oleh orang Indonesia adalah mobil-mobil buatan asli standar Eropa yang bila dirata-ratakan memiliki tempat duduk untuk empat orang bahkan banyak yang lebih. Orang-orang yang bekerja di Jakarta itu kan rata-rata berangkat ke kantor sendirian, atau berdua dengan sopir atau para penebeng lainnya. Gak mungkin tho… saat mereka berangkat kerja mengajak anak istrinya berangkat kerja bareng-berang kecuali memang satu jalur dengan tempat kerjanya atau istrinya satu kantor. Padahal kan rata-rata mobil-mobil pribadi itu kan tempat duduknya ada empat, meskipun juga ada yang lebih, misalnya mobil keluarga sekelas Kijang, Panther, Kuda, Avansa, Innova dan lain-lainnya.

Mari kita asumsikan pengendara mobil itu adalah dua orang tiap mobil. Artinya tiap hari banyak kursi-kursi lain yang menganggur karena tidak ada orang yang menduduki. Hal tersebut menciptakan apa yang saya sebut sebagai area sia-sia atau mubazir. Yaitu area kosong yang semestinya bisa ditempati oleh orang lain namun tidak bisa karena ukuran mobilnya yang kebesaran… Gambarnya saya lampirkan Pak Bos….”

Pak Bos : “Wah berarti solusinya naik motor aja ya cho”.

Mr. Choro : “Betul pak Bos. Kalau gitu kenapa pak Bos tidak naik motor aja. Pak Bos tau gak bedanya naik motor sama naik mobil?”

Pak Bos : “Ya tahu lah… Kalau naik mobil kan kalau hujan gak kehujanan, kalau panas gak kepanasan..
…lha kalau naik motor khan kalau hujan gak kepanasan kalau panas gak kehujanan”

Mr. Choro : “he he… pak bos pinter juga bercanda, lucu… lucu… jamput koen Booss… bos”

Pak Choro : “Wis ya, nanti sambung lagi… aku mau rapat membahas demo buruh yang minta kenaikan UMR”

Mr. Choro : “Setuju bos, ngopi n rokoan sik”…

Bersambung…..

———————————————————————————————————————

Mr. Choro : “Wah gimana kabarnya Pak Bos, kok manyun gitu?”

Pak Bos : “Mumet saya Cho…”

Mr. Choro : “Mumet gimana tho, sampean itu kurang apa? Jabatan tinggi, uang banyak, istri cantik, anak-anak sekolah di luar negeri… kok masih mumet, kalau saya yang mumet mungkin bisa dimaklumi…”

Pak Bos : “Gimana gak mumet, para karyawan nuntut naik UMR di luar kewajaran, gimana saya bisa mbayar wong keuntungannya saja tipis gini … apalagi situasi ekonomi sekarang sedang begini”

Mr. Choro :”Di luar kewajaran kan menurut Pak Bos, lha kalau menurut buruh kan masih wajar apalagi kebutuhan dan keinginan sekarang lama-kelamaan makin banyak”.

Pak Bos : “Lha iya… trus mau dibayar pakai apa, bisa-bisa bangkrut pabrik saya…”.

Mr. Choro : “Gampang Pak Bos… Pak Bos kan jualan, makanya produk-produk pak bos harganya dinaikkan biar margin keuntungannya bertambah.  Gak terlalu tipis seperti kata Pak Bos”.

Pak Bos : “Dinaikkan harganya gimana, ya gak laku produk-produk saya kalau harganya tak naikkan… mana mampu masyarakat kita membelinya”.

Mr. Choro : “Makanya buruh upahnya dinaikkan, biar tetap bisa mampu membeli barangnya bos…”.

Pak Bos : “Wah kok jadi lingkaran setan gitu, tambah ngelu ndasku… wis ra usah ngomong itu, nanti aja topik itu kita diskusikan, sekarang mari kita lanjutkan pembicaraan kita tentang obrolan kemarin, tentang mobil yang cocok untuk Indonesia, sampai mana kita”.

Mr. Choro : “Masalah sepeda motor Pak Bos”.

Pak Bos : “O ya, jadi solusi untuk masalah Trasportasi Jakarta adalah buat peraturan semua orang wajib naik motor ya Cho”.

Mr. Choro : “Yang bilang itu solusi siapa pak Bos,… Lha kalau Pak Bos mau silahkan saja, mau tah naik motor? kalau saya sih enjoy-enjoy aja naik motor, wong punyanya emang itu, sudah kredit, pake depe ringan lagi jadi nyicilnya tiga tahun baru kelar.”

Pak Bos : “ Ya ndak mau to Chooo… Cho, jabatan saya ini dobel-dobel lho, ya tokoh agama, pejabat, direktur perusahaan, ya bintang iklan, masak kamu suruh naik motor, trus Pajero sama Alphard saya mo buat apa?”.

Mr. Choro : “Kasihkan saya saja Pak Bos, biar sekali-kali saya naik Alphard, sama seperti Bos Organisasi Nasional yang baru Ultah atau Milad kemarin itu, hujan-hujan sambil dikejar-kejar pengawalnya he he…”.

Pak Bos : “Enak aja lu… kesuksesan saya ini berkat kerja keras saya sejak muda, jangan samakan dengan kamu yang kerjanya nulis status facebook sama ngeblog, emangnya ada apa dengan teman saya yang di Alphard itu?”.

Mr. Choro : “Soalnya tentara yang upacara aja saya gak pernah lihat Inspekturnya di mobil masuk lapangan sambil dikejar-kejar pengawalnya…hujan-hujan lagi”.

Pak Bos : “Ya itu mungkin atas dasar rasa cinta umat kepada pemimpinnya, kayak jaman Pak Dirman dulu itu lho, berjuang sambil ditandu, kalau sekarang kan sudah modern… gak mungkin kan pengawal disuruh mengusung Alphard… jadi cukup dikejar-kejar saja”.

Mr. Choro : “Sak karepmu lah Boss…., saya gak mau bahas itu, lha kok ndak mau naik motor kenapa to Pak Bos”.

Pak Bos : “Ya jelas to… kalau naik motor kan kalau hujan gak kepanasan, kalau panas gak kehujanan, apa kata dunia kalau pejabat seperti saya hujan trus kehujanan dan panas kepanasan, trus disenggol sama trailler di sebelah saya”.

Mr. Choro : “Berarti intinya kita naik mobil itu karena ingin keamanan dan kenyamanan dalam berkendara to Pak Bos, betul? “.

Pak Bos : “Tentu saja”.

Mr. Choro : “Bukan karena gengsi dan pretise?”.

Pak Bos : “Ya ada sih, sedikit… tapi sekarang kayaknya orang-orang itu sudah pada gak gumun lihat orang naik mobil meski paling mewah sekalipun, sudah banyak yang punya soalnya… sama kayak hape. Dulu waktu masih baru-barunya hape, kalau lihat orang berhape kayaknya hebat wah gitu, lha sekarang pengemis aja sudah bisa beli HP”.

Mr. Choro : “Betul Pak Bos, makanya mari kita kembali kepada esensi awal kenapa kita ingin naik mobil, yaitu karena keamanan dan kenyamanannya dengan tetap tidak meninggalkan prinsip bahwa jika kita tidak bisa membatasi jumlah maka ukuran yang kita batasi”.

Pak Bos : “Berarti kita harus melihat kelebihan dan kekurangan antara mobil dan motor ya Cho…”.

Mr. Choro : “Betul pak Bos, banyak orang yang sebenarnya mampu dan punya mobil tapi lebih memilih naik motor bahkan sepeda ontel karena dirasa lebih cepat dan efektif digunakan untuk berangkat kerja meskipun dari segi kenyamanan tentu kalah dengan mobil. Artinya naik motor itu sebenarnya kecepatan yang diinginkan, sedangkan naik mobil adalah keamanan dan kenyamanan. Solusi untuk mengatasi kemacetan Jakarta adalah bagaimana caranya kita menemukan suatu alat transportasi yang menjadi hibridisasi antara mobil dan motor. Ukurannya kecil tetapi memiliki kenyamanan sama dengan mobil. Kita mengadopsi sepeda motor untuk kecepatannya dan kita mengadopsi mobil karena keamanannya dan kenyamanannya”.

Pak Bos : “Cepat karena kecil seperti motor, aman dan nyaman seperti mobil, kendaraan apa yang sekarang seperti itu?”.

Mr. Choro : “Mari kita ambil tengah-tengahnya Pak Bos… dimulai dari rodanya saja dulu. Mobil kan rodanya empat, motor kan rodanya dua… jadi tengah-tengahnya ya rodanya tiga”.

Pak Bos : “Kayaknya aku mulai ngerti arah jalan pikiranmu… Kayaknya kamu mau nyuruh Bosmu ini naik bajaj ya…. Whooooo dasar sableng kuwe… ghelo sia…, mending naik motor aja daripada bosmu ini naik bajaj roda tiga itu….”

Mr. Choro : “Pak Bos ini baru kita bahas roda kendaraan sudah suuzon duluan…”.

Pak Bos : “Ya iyalah… masak bos besar disuruh naik bajaj… kita lihat aja ukuran badannya dulu aja, sekarang kan banyak mobil-mobil kecil yang namanya city car kayak Daihatsu Ceria, Hyundai Atoz, Kia Picanto, Suzuki Splash atau SX4, Mercedez A-Class, Chevrolet Spark dan lain-lainnya, kenapa sebagian besar masih memilih mobil-mobil sedan atau SUV, bukan mobil itu?”.

Mr. Choro : “Pak bos pernah naik mobil itu gak? Waktu nebeng punya temen, saya yang kurus ini saja rasanya gak nyaman blas… apalagi Pak Bos yang badannya gemuk dan makmur gitu, menurut saya yang buat mobil itu terlalu memaksakan diri… membuat mobil ukuran kecil tapi tempat duduknya dibuat empat seperti mobil lainnya… praktis sih praktis, tapi akhirnya nanggung dan tidak dipilih oleh orang…

Kira-kira kalau Pak Bos naik bajaj seperti gambar di bawah itu kira-kira malu ndak?”

……………………. Gak usah dijawab dulu pak Bos, waktunya Jumatan, kita break Ishoma dulu”

Bersambung…

 

——————————————————————————————————–

Mr. Choro : “Bagaimana Pak Bos, apakah pak bos malu kalau naik bajaj yang modelnya seperti gambar yang saya tampilkan itu?”

Pak Bos : “Wah kalau jenis yang itu ya mau saya… wong modelnya aja keren-keran gitu, justru kalau saya kendarai melewati jalan-jalan ibukota sekarang ini, semua mata pasti akan tertuju padanya, bisa jadi perhatian dech saya he he…”

Mr. Choro : “Ya, itulah mobil masa depan yang cocok digunakan berangkat kerja untuk masyarakat perkotaan”

Pak Bos : “Lha trus mobil-mobil SUVku dan pemilik lain yang sudah ada sekarang diapakan Cho…, masak mau dibuang begitu saja, trus kalau aku mau pergi beramai-ramai atau sama istri dan anak-anakku gimana?”

Mr. Choro : “Ya tetap disimpan tho Pak Bos, cuma makenya jangan setiap hari, kalau perlu saja… kalau memang pas perlu berangkat beramai-ramai dengan  dengan rekanan atau keluarga saat weekend atau malam hari, untuk berangkat dari rumah ke tempat kerja kan tidak perlu membawa mobil dengan kursi-kursi mubazir itu tho…?”

Pak Bos : “Tapi aku kok belum yakin bahwa mobil jenis usulanmu itu akan menjadi solusi mengatasi kemacetan to Cho..”.

Mr. Choro : “Ya wajar pak Bos… namanya juga analisa dan hipotesa, perlu dieksperimen dulu untuk pembuktiannya, tapi mari kita lihat perbandingan kondisi jalan di Jakarta sekarang dengan seandainya kendaraannya berukuran kecil seberapa banyak efektivitasnya… Gambarnya saya tampilkan Pak Bos…”

“Gambar pertama adalah gambaran situasi sekarang, yaitu dalam suatu area tertentu hanya ditempati oleh kendaraan sebanyak 6 unit dengan 12 orang penumpang, bandingkan dengan gambar kedua dengan luas jalan yang sama bisa ditempati oleh 21 kendaraan dengan penumpang berjumlah 42 orang, artinya dengan ukuran mobil yang ada sekarang, satu orang menempati area yang seharusnya bisa ditempati oleh 3 s.d 4 orang… boroskan pak Bos?”

Pak Bos : “Trus mobil roda tiga mana yang cocok menurutmu?”

Mr. Choro : “Kalau menurut saya jelas yang cocok adalah berpenumpang dua orang pak bos, posisi depan belakang… jadi kalau naik mobil berpasangan yang belakang bisa mijit yang depan he he…”

Pak Bos : “Mesin penggeraknya gimana cho… apa kita minta pabrik sepeda motor memodifikasi produk mereka? Kan tinggal menambah ban satu lagi sama nambahi tutup kabin saja to?”.

Mr. Choro : “Sebenarnya era mesin sudah mendekati akhir riwayatnya pak bos, sekarang kan lagi trendnya mobil listrik, jadi penggeraknya ya pake listrik. Bukan lagi mesin berbahan bakar fosil… 12 Tahun lagi BBM di negeri ini habis bos… Jadi siap-siap saja SPBU nya Pak Bos yang berjejer di jalan-jalan itu tidak jelas nasibnya… he he

(http://mediaberitabaru.blogspot.com/2012/04/ternyata-cadangan-minyak-indonesia.html) jadi solusi masa depan yang masuk akal adalah kendaraan listrik…

Sumber-sumber listrik kita masih lumayan bos… Batu bara kita masih 150 tahun lagi, panas bumi kita masih berlimpah sampai bumi ini hilang, PLTA kita tak ada habis-habisnya selama hutan kita masih ada gak dijarah sama para pelaku illegal logging, dan Uranium kita untuk nuklir boss….

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/09/09/166088/4/2/Cadangan-Uranium-Indonesia-53-Ribu-Ton

Saya pernah baca satu gram Uranium bisa untuk menyalakan TV selama tujuh tahun boss…,

Kapal induk berpendorong nuklir tidak perlu ngisi BBM selama tiga puluh tahun… asal PLTNnya jangan dibangun di Jepara bos… mengko nek terjadi bencana nuklir kotaku melok remekxxx, ajur… bangun aja di pulau tak berpenghuni yang jumlahnya ribuan di Indonesia,

Enaknya lagi kalau kita kehabisan strom di tengah jalan  dan mau ngecas mobil, kita tak perlu pusing harus nyari SPBU cukup mampir ke warung kopi trus bilang sama penjualnya bahwa kita mau ngecas mobil… kayak ngecas HP gitu lho boss… “

Banyak keuntungan yang bisa dicapai Pak Bos…

1.  Kemacetan dalam jangka pendek akan teratasi.

2.  Gak ada lagi polusi akibat pembakaran bahan bakar.

3.  Konsumsi BBM jelas akan berkurang karena mobil-mobil yang kita pakai adalah sebagian besar berpenggerak elektrik, pemerintah gak perlu pusing memikirkan subsidi BBM yang selalu membengkak akibat konsumsi BBM yang tidak bisa dikendalikan.

4.  Harganya seharusnya lebih terjangkau daripada mobil konvensional karena dilihat dari rodanya saja sudah berkurang satu, blok mesin pembakaran juga tidak ada karena berpenggerak elektromagnet.

Costnya jelas jauh lebih murah… mobil-mobilan China yang biasa buat mainan anak-anak aja harganya 300 ribuan dan sudah bisa jalan Pak Bos… padahal pake aki kecil yang biasa dipake untuk sepeda motor.

5.  Tarif Parkir tentu lebih rendah karena dengan space yang ada sekarang bisa ditempati lebih banyak kendaraan, kecuali penyedia tempat parkir orangnya tamak bin rakus alias serakah sehingga isi kepalanya adalah uang-uang dan uang….

6.  Ukuran yang kecil jelas akan menurunkan resiko kecelakaan lalu lintas.

7. Pengeluaran rakyat jelas lebih kecil karena uang untuk BBM tidak diperlukan lagi. Uang itu bisa digunakan untuk kebutuhan yang lain.

8.    Dan banyak lagi keuntungan lainnya Bos…”

Pak Bos : “Lha kamu kok bilang itu solusi jangka pendek jika itu cocok untuk menjadi kendaraan Indonesia di masa depan?”

Mr. Choro : “Jangka pendek untuk Jakarta pak Bos, selama konsep pembangunan masih seperti ini jelas saat kemacetan itu bisa diatasi, tentu sifatnya hanya sementara saja karena urbanisasi terus berlangsung”

Pak Bos : “Lha trus solusi jangka menengah dan jangka panjangnya gimana Cho?”

Mr. Choro : “Waduh pak Bos, solusi jangka pendek aja nulisnya harus dipecah-pecah jadi lima bagian gini trus solusi jangka menengah dan jangka panjang mau jadi berapa bagian Bos, yang jelas semua sudah saya rangkum di buku saya Pak Bos, kalau tertarik silahkan beli aja di Gramedia atau kunjungi ke blog ini : NKRI HARGA MATI, SOLUSI UNTUK INDONESIA

Kalau memang sempat, nanti akan saya rangkum dan tulis ulang di status facebook atau blog saya pak Bos”.

Pak Bos : “Trus apa hubungannya dengan mobil KIAT ESEMKA yang kita bahas di bab paling awal Cho…?”

Mr. Choro : “KIAT ESEMKA seharusnya mengembangkan mobil sejenis yang kita bahas itu pak Bos, bukan mobil sejenis buatan Jepang, Korea, Eropa atau Amerika, karena jelas dalam segi kualitas pasti akan kalah jauh…”

Ayo Pak Bos… berinvestasi di sana, mumpung bos-bos mobil-mobil roda 4 itu pada belum sadar apa yang akan kita kerjakan jadi kita bisa mendahului berinovasi. Panggil para insinyur dan anak-anak bangsa yang cerdas-cerdas dari Instititut-institut terkenal di Indonesia seperti ITB atau ITS yang telah mulai mengembangkan mobil listrik itu…, danai dari cadangan uang negara biar tidak ada yang mengklaim hak paten individu, hak paten itu milik seluruh rakyat Indonesia”

Pak Bos : “Sik nanti dulu… trus untuk promosinya agar diterima oleh masyarakat luas bagaimana Cho…?”

Mr.Choro : “Minta kepada para petinggi negeri ini untuk memulai memakainya, dijamin rakyatnya akan ikut-ikutan membelinya, sama seperti efek KIAT ESEMKA ala Pak Jokowi itu lho boss…”

Pak Bos : “Lha solusi mengatasi kemacetan Jakarta alaa angkutan massal ala MRT, Busway… Jembatan Selat Sunda itu… gimana?”

Mr. Choro : “Dari sejak awal diskusi apakah semua itu dapat dikatakan sebagai solusi pak Bos…?

Pak Bos : “Ywis, nanti waktu yang akan membuktikan semuanya, ngomong-ngomong idemu itu dari mana to Cho?”

Mr. Choro : “Dari para ustad dan ustadzah yang di tipi itu lho Bos sama dari temannya pak Bos”

Pak Bos : “Wah kamu suka nonton acara dakwah di tipi juga Cho?”

Mr. Choro : “Kata siapa Bos ?”

Pak Bos : “Lha itu….”

Mr. Choro : “Itu lho waktu nonton iklannya ustad tentang telepon seluler itu artinya kita sudah memasuki jaman teknologi informasi, trus waktu lihat iklannya ustadzah tentang obat cap kaki tiga, itu artinya mobil kita harus rodanya tiga dan waktu lihat pejabat negara yang main iklan tentang “cintailah ploduk-ploduk Indonesia” itu artinya mobil itu harus dibuat oleh putra-putra Indonesia”

Pak Bos : “Wah koen iku, sukanya gothak-gathik-gathuk..?”

Mr. Choro : “Matur nuwun Pak Bos, Wassalam…”.