Tag Archives: puasa

Fiqih Praktis : Pendahuluan – Iman, Islam, Ihsan

Iman, Islam dan Ihsan

Islam adalah agama Allah SWT yang ajaran-ajarannya telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. untuk disampaikan kepadas seluruh umat manusia, pada setiap zaman dan tempat, demi keselamatan dan kepentingan mereka di dunia dan akherat.

Seseorang disebut Muslim dan menjadi anggota masyarakat Islam, apabila ia telah mengucapkan syahadatain (dua kesaksian):

Asyhadu an la ilaha illa’LLah, wa asyhadu anna Muhammad (an) Rasulullah.

(Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammada adalah utuasan Allah)

Akan tetapi ucapan seperti tidak sempurna, apabila tidask diikuti dengan mempecayai pokok-pokok keimanan yang disebut Rukun-rukun Iman, serta melaksanakan kewajiban-kewajiban utama yang disebut Rukun-rukun Islam

Rukun-rukun Iman:

1.  Beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa.

2.  Beriman kepada malaikat-malaikat Allah SWT.

3.  Beriman kepada Rasul-rasul (para utusan) Allah SWT.

4.  Beriman kepada Kitab-kitab Allah SWT.

5. Beriman kepada Hari Akhir.

6. Beriman kepada takdir (ketentuan/ketetapan) Allah SWT*.

*Takdir, atau biasa disebut qadha dan qadar, secara umum dapat diartikan hukum-hukum allah (sunnatullah) yang berlaku atas alam semesta dan semua isinya. Termasuk di dalamnya, hukum kausalitas (atau hukum sebab-akibat), serta ketentuan akan kadar potensi dan kapasitas yang ditetapkan Allah bagi setiap makhluk-Nya. Dan di antara ketetapan Allah SWT dalam Sunnah-Nya ini adalah penciptaan manusia dengan memberikan kebebasan untuk berpikir serta kemampuan untuk memilih (antara  yang baik dan yang buruk) dalam perbuatannya, kemudian melaksanakan sesuatu yang menjadi pilihannya itu, sesuai dengan potensi dan kapasitas yang telah diberikan kepadanya.

Walaupun demikian, Allah SWT dengan keluasan ilmu-Nya yang mencakup segala sesuatu dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu mengetahui segala sesuatu yang telah, sedang dan akan terjadi. Namun, hal itu sama sekali tidak menafikan adanya ikhtiyar (kebebasan untuk memilih, free choice atau free will) yang telah ditetapkan oleh-Nyabagi manusia. Dan berdasarkan pilihan dan hasil perbuatan merekalah Allah SWT melakukan penilaian serta menetapkan pahala ataupun hukuman atas mereka dengan seadil-adilnya. (Lihat Mahmud Syaltut, Al-Islam: ‘Aqidah wa Syari’ah hlm 53)

Sebagian ulama tidak memasukkan keimanan kepada takdir dalam urut-urutan rukun iman, sebab telah tercakup ke dalam keimanan kepada Allah SWT dengan segala sifat keesaan-Nya dan kemahakuasaan-Nya. Al-Quran sendiri tidak menyebutkan istilah ‘qadha wa qadar’ dan tidak memasukkannya dalam paket hal-hal yang merupakan pokok-pokok keimanan. (misalnya, dalam QS Al-Baqarah 177 dan 285). Meskipun maknanya dapat dipahami dalam pelbagai ayat. Walaupun demikian, istilah qadha dan qadar tersebut dijumpai dalam beberapa hadits nabi SAW., antara lain, ketika beliau ditanya, “Apakah Iman Itu?” Jawab Beliau, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir dan kepada qadar: yang baik maupun yang buruk darinya (HR Bukhari).

Rukun-rukun Islam:

1.  Mengucapkan syahadatain (seperti disebutkan di atas).

2.  Mengerjakan shalat.

3.  Membayar zakat.

4.  Berpuasa di bulan Ramadhan.

5.  Berhaji (bagi yang memiliki kemampuan)

Tentang tatacara shalat, zakat, puasa dan haji, akan dijelaskan secukupnya dalam uraian-uraian yang akan datang.

Sabda Nabi SAW., “Islam dibangun atas lima dasar: kesaksian bahwa tiada tuhan selain allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya; mendirikan shalat; menunaikan zakat; haji dan puasa Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim),
Ihsan (Kesempuranaan Amal Perbuatan)
Keimanan dan pelaksanaan kewajiban-kewajiban tersebut, hendaknya selalu disertai Ihsan, atau keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta kejujuran dan kebaikan akhlak (perilaku) terhadap sesama makhluk pada umumnya dan kaum Muslim pada khususnya. Tanpa itu semua, segala amal perbuatan seseorang akan menjadi sia-sia dan tidak memperoleh pahala.
*Sabda Nabi Saw. ketika ditanya tentang hal itu, “Ihsan ialah beribadah kepada allah seolah-olah engkau melihat-Nya; dan apabila engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya allah melihatmu” (HR Bukhari dan Muslim).