Tag Archives: pemandian air panas Prataan Tuban

Menikmati Sebuah Perjalanan (Alternatif Jalur Pantura Timur)

Libur pendek telah berakhir. Saatnya kembali ke tempat asal, Surabaya. Waktu yang terasa terlalu singkat untuk mengisi liburan, terutama bagi Sang Eyang untuk melepas kangen ke cucu-cucunya. Jalur darat dari Kudus – Surabaya lewat Pantura merupakan rute yang kurang saya sukai karena keberadaan truk-truk gandeng, trailler dan kendaraan berat lainnya di jalur tersebut. Karenanya saya ingin mencoba melewati jalur alternatif lain.

Setelah meninggalkan Kota Rembang sebelum Lasem, saya memilih belok kanan mengambil jalur lewat Pamotan – Sale – Jatirogo – Bangilan – Parengan – Rengel – Plumpang dan bersambung kembali ke jalur Pantura sebelum Babat. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, melewati Jalur alternatif ini menurut saya relatif jauh lebih nyaman dibanding jalur utama. Jalannya lumayan mulus dan sepi. Memang ada kerusakan jalan di titik-titik tertentu yang diakibatkan truk-truk pengangkut tambang batu kapur di beberapa lokasi, namun secara umum jalur tengah ini lebih nyaman untuk dilewati.

Hal lain yang tidak kalah menariknya adalah suasana dan pemandangan alam yang indah dan memanjakan mata. Pohon-pohon rindang di sepanjang jalan serta hamparan sawah sejauh mata memandang benar-benar memberikan kesan yang sukar untuk dilupakan dan membuat perjalanan menjadi tidak hanya sekadar proses bergeser dari satu tempat ke tempat lain.

Hari masih pagi saat tiba di daerah selatan Lasem. Kebetulan belum sarapan, jadi waktu yang tepat untuk mencoba menikmati kuliner setempat. Lontong Tuyuhan menjadi pilihan untuk mengisi perut. Makanan sejenis lontong opor ayam kampung yang lezat, gurih dan cukup pedas.  Tak lupa ngopi dan rokoan menjadi desert pelengkap selesai bersantap yang pedas-pedas. Selesai makan pagi, perjalanan pun berlanjut.

Tiba di daerah Parengan – Tuban, secara tak sengaja saya melihat sebuah plang berisi petunjuk informasi tempat wisata berupa pemandian air panas. Namanya Wana Wisata dan Pemandian Air panas Prataan – Tuban. Tak ada salahnya traveling sambil berwisata, pikir saya. Tanpa pikir panjang kendaraan saya belokkan ke kiri menuju lokasi.

Butuh waktu sekitar sepuluh menit dari jalan raya untuk mencapai lokasi. Tempatnya cukup sejuk, asri dan rindang. Fasilitas utama yang ada adalah kolam renang dan tempat pemandian air panas alami. Menurut saya, kelebihan kolam renang di sini dan kolam renang umum lainnya adalah airnya. Begitu bening dan jernih…. Hal yang wajar karena memang sumber airnya dari mata air pegunungan yang selalu mengalir, bukan air dari olahan PDAM atau kaporit. Kolam renang ini segera menjadi wahana favorit anak-anak saya, meski mereka tak membawa pakaian renang. Harga tiketnya pun murah meriah, lima ribu rupiah saja. Sungguh tempat wisata rakyat yang benar-benar terjangkau.

Setelah membeli tiket yang harganya tidak berbeda dengan wahana kolam renang, saya memilih berendam di bak air panas yang airnya juga tak kalah jernihnya karena mengalir tanpa henti dari sumber mata air pegunungan. Lima belas menit waktu yang cukup untuk melepas sedikit lelah dan mengembalikan kesegaran setelah berjam-jam di belakang kemudi.

Hari mulai siang ketika saya bersama keluarga selesai berwisata dan melanjutkan perjalanan. Waktu makan siang saya manfaatkan untuk menikmati soto lamongan yang harganya pun relatif murah meriah untuk sekeluarga.

Hari menjelang sore saat tiba di Surabaya dan sampai di rumah. Perjalananpun berakhir. Sungguh pengalaman yang berkesan. Meski memerlukan waktu yang relatif lama dibandingkan lewat jalur langsung  lewat Pantura, namun berbagai aktivitas di dalamnya benar-benar telah membuat kesan tersendiri.

So… nikmatilah apa yang kita lewati, jangan sia-siakan perjalanan kita, karena bersamaan dengan perjalanan itu, umur kita pun terus berjalan pula.