Tag Archives: pantura

Jalur Pantura Bikin Sengsara, Solusinya? Ke Laut Aja…

Pak Bos : “Halo Cho… Baca koran kok karo mesam-mesem gitu tho, kayaknya ada sesuatu yang menarik”.

Mr. Choro : “Ini Lho Pak Bos, lagi baca komentarnya Mr. Pecut dari Jawa Pos, kata-katanya begini…Jalan Pantura Beres = Keajaiban dunia ke 8 ha ha…”

Pak Bos : “Iya Cho, jalan pantura lagi jadi sorotan nih… Bahkan kabarnya mulai jadi target penyelidikan KPK. Disinyalir ada yang nggak beres di sana. Lha wong perbaikan jalan kok udah bertahun-tahun nggak kelar-kelar, istilahnya jadi proyek abadi… Yang namanya proyek abadi seperti itu jelas rawan terhadap penyelewengan anggaran… wajar lah kalo rakyat ini bertanya-tanya ada apa dengan cinta eh… dengan jalan pantura itu…dan sekarang bau tak sedap itu sudah mulai tercium di mana-mana…”

Mr. Choro : “Mangkanya itu pak Bos, komentarnya Mr. Pecut itu kayaknya yen tak pikir-pikir ada benarnya juga, saya termasuk yang turut mengamati jalanan itu karena tiap kali mudik atau pas pulang kampung biasa melewatinya. Yen tak rasakan juga sudah bertahun-tahun lalu sampai saya lupa kapan mulainya yang jelas sudah lamaaa sekali kok perbaikan, rusak lagi, perbaikan lagi, rusak lagi begituuu terus, entah kapan selesainya… entah berapa triliun duit rakyat habis untuk jalan itu… Kita itu memang susah ya belajar dari pengalaman, padahal ada peribahasa katanya keledai saja takkan terantuk untuk yang kedua kali… masak kita menghadapi permasalahan yang sama tiap tahun… Gak ketemu nalar memang…

Gara-gara perbaikan itu, beberapa waktu yang lalu pas saya lagi pulang kampung, Pantura muacetnya luar biasa Bos, sampai berpuluh-puluh kilo… Padahal udah saya niati berangkatnya malam-malam biar lancar, eh ternyata tetap kena macet juga… awalnya sih pengin jadi pengendara yang baik dan taat aturan ikut jalur kiri dan ngantri di belakang para monster-monster truk gandeng, trailler, dan tronton itu… lha kok tak tunggu-tunggu berjam-jam gak jalan-jalan, tak amat-amati supir truk di depan saya matikan mesin trus tertidur … ngorok lagi…., janc** tenan bos, Wah kalo ngikuti truk-truk itu bisa-bisa tiga hari baru sampai rumah saya… akhirnya terpaksa langgar aturan juga… tancap gas ambil jalur kanan sambil ketar-ketir dipisuhi dan dipelototi lampu dim kendaraan yang datang dari arah berlawanan… ampun deh bos… untung aja selamet…

Pas pulangnya saya coba melewati jalur alternatif dan ternyata jalan tersebut yang sebulan sebelumnya hanya sedikit kerusakan di beberapa titik tertentu ternyata juga rusak parah… hancur semua karena dilewati oleh kendaraan yang bukan kelasnya. Rupanya para sopir kendaraan berat itu pun berpikiran sama seperti saya mencoba melewati jalur alternatif… betul-betul ruwet bos…”

Pak Bos : “Yen menurutmu masalahnya di mana Cho, jalan pantura kok jadi kayak gitu itu… diperbaiki tapi gak baik-baik…?”

Mr. Choro : “Kalo menurut saya kayaknya masalahnya ada di Pak Bos dan bolo-bolonya itu dech”

Pak Bos : “Waa lha mulai ngawur kowe… menyalahkan saya, apa hubungannya Cho antara saya sama jalan pantura…”

Mr. Choro : “Pak Bos ini sebagai Bos besar yang punya perusahaan-perusahaan besar, ngomong-ngomong merasa gak kalo armadanya Bos si Truk gandeng, trailler, tronton sama kendaraan berat lainnya itu yang bikin rusak jalan?”

Pak Bos : “Lha itu bukan urusan saya to Cho… Kendaraan-kendaraan berat, panjang dan lebar itu kan untuk efisiensi dan efektivitas distribusi produk-produk saya… bayangkan seandainya untuk mengirim barang-barang saya yang jumlahnya bejibun itu pake mobil box kecil, truk engkel atau pick up… jelas tidak ekonomis sama sekali dari segi BBM, ongkos supir, perawatan kendaraan dan lain-lainnya?”

Mr. Choro : “Di situlah letak penyakitnya Bos… keuntungan usaha pak Bos dari penggunaan kendaraan berat pembikin rusak jalan itu akhirnya harus ditanggung oleh pemerintah dengan menghabiskan duit triliunan rupiah tiap tahun untuk merawat dan memperbaikinya, kalimat lainnya keuntungan pak Bos itu sebenarnya dibayar oleh seluruh rakyat Indonesia gak peduli kaya atau miskin…

Bukankah itu namanya sangat tidak adil?… Masak pak Bos yang sudah kaya raya ini ditomboki oleh orang-orang pas-pasan seperti saya… Pak Bos ndak malu apa…

Pak Bos : “Lha aku kan sudah membayar pajak Cho untuk perbaikan jalan itu tho…”

Mr. Choro : “Maksud pak Bos ndak apa-apa ngrusakin jalan? toh sudah bayar untuk memperbaikinya gitu? Kata-kata pak Bos itu memang ada benarnya dan itu pula yang menjadi sebab awal adanya proyek abadi dan menjadi biang penyelewengan pajak, pendapatan dan belanja negara…”

Pak Bos : “Kayaknya analisamu itu perlu dibuktikan dulu itung-itungannya,… okelah kalau memang kendaraan berat itu yang bikin rusak jalan, berarti kualitas jalannya yang harus diperbaiki… Gimana kalo pake beton semua biar kuat selama puluhan tahun kayak jalan tol …”

Mr. Choro : “Betul Bos, jalan pake beton memang awet… tapi berapa biayanya? Meskipun saya bukan insinyur teknik sipil tapi saya tahu biaya pembuatan jalan beton itu pasti sangat-sangat luar biasa mahal… , Lagi pula membangun jalan beton ribuan bahkan  jutaan kilometer di seluruh Indonesia itu mau butuh waktu berapa lama… Lha wong jalan tol di Pantura yang jaraknya cuma ratusan kilometer aja bertahun-tahun nggak kelar-kelar, bayangkan kalau ditambah lagi dengan jalan-jalan di pulau-pulau lain selain Jawa, sampai kiamat kali kita sibuk terus bangun jalan… Beigitu di akhirat bisa dipisuhi dan disumpahi  sama anak-cucu kita nanti….,

Saat ini kebutuhan rakyat kita ini bukan hanya jalan saja bos… masih banyak kebutuhan lain misalnya pertanian, perumahan, pendidikan, kesehatan, pertahanan dan keamanan dan lain-lainnya. Kalau kekayaan negara kita tak ada batasnya sih gak apa-apa, semua bisa dibeli. Lha masalahnya kan kekayaan dan anggaran negara kan terbatas, sudah gitu dikorupsi lagi.  Gak papa sih kalo Bos yang mau nanggung biaya pembangunan dan perbaikan jalan yang bos lewati itu, bukan dari pajak seluruh rakyat rakyat karena memang pak Bos yang tukang ngerusaknya… he he..”

Pak Bos : “Trus idemu seperti apa kalo bukan membangun jalan beton…?”

Mr. Choro : “Ini analisa lagi bos.. bisa bener bisa tidak, karena memerlukan penelitian lebih lanjut… Untuk mengatasi keruwetan di jalan pantura yang macet, rusak, jadi proyek abadi dan lain-lainnya memang kembali lagi kita harus berpikir lebih luas, dalam dan panjang dalam mengamati situasi dan kondisi yang terjadi dengan tak lupa pula melihat kondisi statis maupun dinamis yang mempengaruhi. Berpikiran sempit dan  jangka pendek memang mudah dan jelas menghasilkan keuntungan pribadi lebih besar. Misalnya jalan rusak… perbaiki saja, lumayan ada proyek to… Penyeberangan Merak – Bakauheni macet… gampang… bangun jembatan saja, kekurangan daging sapi, beras, sembako… impor saja. ..

Jalur pantura macet… dan rusak,  bangun dan perlebar lagi jalannya… Kayaknya gak perlu sekolah, title dan gelar tinggi-tinggi kalau hanya bisa berpola pikir seperti itu bos, semua orang juga bisa… wong memang sederhana dan  jelas keliatan …”

Pak Bos : “Trus strateginya piye menurutmu?”

Mr. Choro : “Berbicara tentang strategi maka hal itu tak akan terlepas dari yang namanya keterbatasan. Secara umum dapat dikatakan bahwa strategi adalah skill untuk mengelola keterbatasan, karena jika semuanya tak terbatas maka tak perlu lagi ada strategi. Bahasa mudahnya kalau kita punya sumber daya berlimpah tentu semua masalah relatif gampang untuk diatasi. Di situlah letak seninya.

Untuk mengatasi masalah kemacetan dan perbaikan di Pantura mari kita mencoba melihat dari dasar lagi yakni bentuk geografis negara kita.  Kita bisa saja membangun jalan sekuat-kuatnya dan selebar-lebarnya kalau bentuk negara kita ini bukan negara kepulauan. Di negara yang berbentuk benua atau kontinental, hal tersebut dapat dimaklumi karena memang sarana alam yang ada yang hanya lewat daratan.

Negara kita ini kan terdiri dari beribu-ribu pulau lengkap dengan laut yang mempersatukannya. Seharusnya semua yang kita miliki dioptimalkan potensinya agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya. Bukan hanya daratan saja yang kita jadikan sebagai sarana transportasi utama tetapi laut dan udaranya juga. Contohnya tengoklah ke masa lalu saat masih berlakunya Repelita ala Orde Baru. Repelita satu pertanian, dua pertanian, tiga pertanian… Laut sama sekali tak pernah jadi perhatian…  Itu sama saja tidak adil terhadap alam… dan jangan menyalahkan siapapun ketika kita sekarang  seakan-akan sedang diadili dan dikutuk olehnya…

Padahal yang namanya laut itu Bos… Jalanan alami tidak perlu banyak keluar duit, alias tidak perlu pembangunan, tidak perlu perbaikan, tidak perlu perawatan ala daratan, tidak perlu penerangan lalu lintas, tidak ada persimpangan jalan, tidak perlu banyak-banyak rambu-rambu lalu lintas, tidak perlu polisi lalu lintas apalagi polisi cepek, tidak perlu polisi tidur… kecuali ombak bos…, dan keistimewaan-keistimewaan lainnya. Tinggal pemanfaatannya yang harus disesuaikan dengan peruntukannya agar sesuai dengan karakteristik dan keistimewaannya tersebut.”

Pak Bos : “Peruntukannya bagaimana maksudmu?”

Mr. Choro : “Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menyinergikan wahana darat, laut dan udara yang kita miliki sesuai potensi terbesarnya. Keistimewaan utama laut dibandingkan daratan adalah gaya gravitasi sudah tidak berlaku di sana, alias terhalang oleh hukum pengapungan benda Archimides. Karena itulah di laut tidak mengenal batas ukuran, pak Bos mau bikin kapal segedhe Gunung pun masih tetap terapung asalkan kedalamannya memenuhi syarat… dengan kata lain biarkan alam sendiri yang akan membatasinya.

Jika kita mengacu kembali rumus dasar fisika tentang momentum yaitu elemen jumlah, ukuran dan kecepatan… maka jika pak bos ingin bermain untuk material yang berukuran besar, ya di laut tempatnya… jangan di darat, karena di negara kepulauan, alat transportasi darat berukuran besar itu namanya sudah menyalahi kodrat, menantang alam, melawan gravitasi, merugikan pengguna jalan lainnya termasuk membuang-buang anggaran yang tidak perlu seperti perbaikan abadi di jalan Pantura. Prinsip transportasi darat untuk negara kepulauan adalah silahkan sebanyak-banyaknya tetapi relatif kecil-kecil saja, sesuai dengan bentuk negaranya. Lagi pula membangun jalan yang lebar-lebar di pulau-pulau kita yang ukurannya relatif kecil-kecil jelas akan mengurangi ruang untuk kita hidup dan tinggal…

Jika kita di laut kita bermain yang kecil-kecil meskipun jumlahnya banyak, itu juga namanya melawan alam. Contohnya nelayan kita yang menggunakan perahu-perahu kecil untuk menangkap ikan, kehidupannya pas-pasan terus tanpa akhir karena aktivitasnya sangat tergantung cuaca.

Jadi intinya dari pembahasan panjang lebar itu Bos… Untuk mengatasi permasalah jalan pantura memang harus berpikir secara holistik dan menyeluruh. Tidak bisa sepotong-sepotong hanya membahas tentang satu hal dan satu aspek. Karena banyak hal yang saling terkait dan mempengaruhi. Percayalah Bos… jika kita adil terhadap alam, maka alampun  akan memberikan balasan yang sama kepada kita…”

Pak Bos : “Lha mosok kayak gitu aku yang harus memikirkannya Cho,… ngurusi buruh naik UMR aja wis mumet ndasku… Kan seharusnya yang menjalankan roda pemerintahan di negeri ini yang menyusun semua arah dan konsep pembangunan bagaimana baiknya”

Mr. Choro : “Pernyataan Pak Bos betul sekali… seharusnya pemerintah yang memikirkan, merencanakan dan merealisasikan bagaimana seharusnya sarana transportasi darat, laut dan udara dapat bersinergi di Indonesia… Negara kita tercinta ini… , karena itu memang tugas dan tanggung jawab mereka…

Semua itu sekadar saran dan pendapat Bos…, jika menurut para cerdik pandai di negeri ini tidak mungkin dilaksanakan karena berbagai pertimbangan… ya mungkin awak ini yang masih harus banyak belajar dan menambah wawasan… namanya juga konsep dan wacana, bisa benar bisa salah… Kita hanya mencoba untuk berpikir global dan beraksi lokal. Yang penting kita masih mau berpikir untuk kebaikan bangsa ini dan demi masa depan anak cucu kita kelak…

Sementara ini  yang paling mudah untuk dilakukan ya mengikuti nasehat Ustadz Aa Gym tentang manajemen Kalbu… “Mulailah hal yang baik dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulailah dari sekarang”

Karena bangsa yang besar terdiri dari pribadi-pribadi dan individu-individu yang besar pula…”

peace…

 

Renungan Sebuah Perjalanan

Rabu malam adalah tahun baru hijrah 1434 H sehingga hari kamis besoknya libur. Jumat berikutnya disamakan oleh pemerintah menjadi hari libur bersama karena dianggap hari “kecepit” yang perlu diseragamkan dengan hari sebelum dan sesudahnya agarhari jumat tersebut tidak aneh karena menonjol sendirian. Saya yang bertempat kerja dekat dengan keluarga saja ikut gembira dengan kedatangan hari libur tersebut, apalagi para karyawan/pegawai baik sipil danswasta yang bekerja jauh di luar kota alias pisah keluarga. Mereka mungkin berandai-andai jika saja tiap minggu ada hari libur bersama.

Seperti biasa jika ada libur panjang seperti itu mudik ke kampung halaman bersama keluarga sudah menjadi rutinitas. Malam itu saya berencana untuk tidur lebih awal karena jam tiga pagiberharap sudah start dari Surabaya menuju Kudus. Sedang enak-enaknya terlelap, kira-kira pukul sebelas malam saya terpaksa bangun karena mendengar suara si bayi belum genap usia 2,5 bulan sudah mahir berteriak-teriak bak demo buruh yang sedang protes menuntut hak dan kewajiban. Bedanya kalau buruh menuntut kanaikan UMR sementara putri bungsu saya menuntut haknya sebagai anak dan kewajiban sebagai orang tua agar segera dan secepat-cepatnya menyediakan kebutuhan biologisnya yaitu susu pengobat haus dan lapar serta ganti popok akibat mengompol. Sungguh indah jika para pemilik perusahaan itu berperan laksana orang tua bagi si karyawan. Tanpa pikir panjang tentu kenaikan UMR akan segera direalisasikan, tidak perlu menunggu sampai nego sana-sini. Walah kok malah ngelantur jadi membahas masalah dunia perburuhan sih… emangnya SPSI he he…

 Karena ingin tidur lagi sudah nanggung, rencana keberangkatan dimajukan. Pukul setengah satu larut malam kami berempat ditambah satu bayi sudah mulai tancap gas dan melajudi jalan raya menyibak suasana malam dari Surabaya. Ban depan mobil kempes, berputar-putar mencari tukang tambal ternyata tutup semua. Masuk ke POM bensin untuk isi angin gratis… lumayan, ngirit dua ribu rupiah.

Sesuai dugaan perjalanan malam sangat sepi dan lancar. Para monster-monster darat si trailler, tronton dan truk gandeng itu sedang tertidur di sepanjang pinggir jalan, sama seperti para sopir yang mengendalikannya. Sampai Kota Tuban mata mulai “sepet” (gak tahu bahasa Indonesianya). Mobil diparkir di pinggir jalan kemudian ngopi di warung kopi ditemani Sampurna Mild sambil “jedhas-jedhis” untuk menghilangkan kantuk. Selesai ngopi dan rokoan sebatang, perjalananpun dilanjutkan.

Kira-kira pukul tiga pagi tibalah di perbatasan Jatim-Jateng. Kepala mulai terasa “nggliyar-nggliyer” (gak tahu juga bahasa Indonesianya) karena mengantuk. Mobil saya pinggirkan, jendela dibuka seperempat, mesin dimatikan, lalu tidur di jok sopir. Tiga puluh menit waktu yang lumayan untuk mengobati rasa kantuk. Tak lama kemudian datang waktu subuh, mampir ke Masjid terdekat untuk sholat Subuh, perjalanan lanjut lagi.

Hari mulai pagi ketika monster-monster darat sebagai simbol kemajuan ekonomi makro negara industri itu sudah mulai menggeliat dan memenuhi jalan. Sampai di Rembang mampir di Pos AL Tasik Agung untuk numpang mandi dan makan pagi dari bekal yang dibawa. Sebelum melanjutkan perjalanan “disangoni” satu box ikan laut segar yang baru ditangkap nelayan dari TPI depan kantor posal oleh anggota jaga. Saya sudah bilang jangan repot-repot ala unggah ungguh Jawa tapi masih dipaksa-paksa juga untuk menerima… ya sudah daripada mereka kecewa akhirnya saya terima, lumayan untuk dibagi-bagi ke tetangga.

Ada informasi jalur Rembang – Juwana mengalami kemacetan karena perbaikan jalan. Sampai di Kaliori saya belok kiri memilih jalur alternatif lewat Jakenan. Tak lama kemudian terlihatlah potret kehidupan tradisional para petani Indonesia. Kondisi kehidupan pedesaan yang tak jauh berbeda dengan desa saya tiga puluh tahun yang lalu dan enam puluh tahun lebih Indonesia merdeka. Kondisi sawah yang masih diolah menggunakan bajak ditarik oleh sepasang sapi, juga cangkul, meski ada pula yang sudah menggunakan mesin traktor tangan. Potret dari mereka yang memeras keringat membanting tulang untuk menghasilkan sepiring nasi di meja kita. Para penghasil produk yang menjadi kebutuhan seluruh rakyat Indonesia, bahkan dunia.

Terlihat para petani yang berangkat dari kediaman masing-masing dengan berjalan kaki, naik sepeda onto, ada juga yang naik sepeda motor. Mereka yang sebagian besar sudah lanjut usia itu dengan tulang-tulang lemah dan rapuh sedang mengayunkan cangkul untuk mengolah sawah. Para orang tua yang dalam usia tersebut seharusnya bekerja adalah sebagai sebuah hobi alias pengisi waktu, bukan lagi sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup karena energi fisiknya tentu sudah tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Mereka yang semestinya sudah saatnya lebih banyak menimang cucu dan “minandhito” agar bisa lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sambil mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan kepada cucu-cucunya.

Sawah-sawahpun terlampaui dan mulai masuk area pedesaan dengan lingkungan masyarakat sederhana. Di teras depan sebuah rumah yang lebih mirip disebut gubug reot, nampak seorang kakek tua duduk termenung dengan pandangan penuh arti, entah apa yang dipikirkannya. Bisa jadi ia sedang mengenang masa lalunya yang indah saat masih bersama mantan-mantan kekasihnya. Bisa jadi juga sebenarnya hatinya lebih bahagia dari siapapun karena saat orang lain sedang berjibaku dan sibuk dengan aktivitas pekerjaan masing-masing, ia malah duduk-duduk menikmati hidup. Hanya Tuhan dan ia sendiri yang tahu.

Sepanjang jalan masih banyak terlihat rumah-rumah kecil dan sederhana yang lantainya masih berupa tanah, dindingnya terbuat dari “gedhek” bambu atau papan yang sudah bobrok dan kondisi-kondisi lainnya yang sungguh masih jauh bila diukur dengan parameter-parameter kemakmuran rakyat versi peraturan pemerintah tentang Standar Kualitas Hidup Layak (KHL). Sungguh suatu kondisi lingkungan masyarakat yang cukup memprihatinkan bila dibandingkan dengan kemajuan zaman sekarang di tempat lain. Penampakan yang sungguh bertolak belakang dengan simbol kemakmuran para konglomerat pemilik ribuan monster tronton dan trailler penghuni poros nadi ekonomi di jalur pantura, padahal lokasi desa-desa itu sangat dekat jaraknya. Mungkin topik yang terlalu muluk-muluk jika ingin membahas kondisi ekonomi yang ada di pelosok-pelosok nusantara, apalagi di pulau-pulau terpencil yang jauh dari sumbu obor kekuasaan, sementara di Pulau Jawa saja masih demikian kondisinya.

Jika bercermin dari fakta-fakta kehidupan masyarakat Indonesia di atas, betapa bersyukurnya kita atas kondisi saat ini. Betapa banyak hal yang kita miliki dan tidak dimiliki orang lain. Berapa banyak anugerah Allah SWT yang telah dilimpahkan kepada kita. Di saat makhluk-makhluk halus di dunia maya sedang sibuk membanding-bandingkan gadget-gadget bukan made in Indonesia bernama PC atau Macintosh, Laptop atau Macbook, Netbook atau Tablet, Intel atau AMD, nVidia gForce atau AMD/ATI Radeon, Samsung atau Apple, Windows atau Linux, iOS atau Android, Google atau Yahoo, WordPress atau Blogspot, Facebook atau Twitter, Adobe atau Corel, aplikasi komersil atau open source dan segudang perangkat teknologi informasi lainnya, jangankan mengenal dunia komputer atau Internet, bahkan untuk memenuhi kebutuhan tingkat satu di teori Hierarchy Kebutuhan ala Abraham Maslow yakni sandang, pangan dan papan saja mereka masih kewalahan.

Jika kita berpikir lebih luas lagi, kondisi di atas membuktikan bahwa ada misinterpretasi dan misaktualisasi terhadap konsep dan istilah bernama KEADILAN di negara berpredikat zamrud khatulistiwa ini. Ada sesuatu yang salah terhadap pelaksanaan konsep trilogi pembangunan sebagai rel kereta kemajuan yang begitu ideal diucapkan yakni: pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya —-menuju—-> Pertumbuhan Ekonomi yang cukup tinggi —-menuju—> Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.

Demi anak dan cucu kita kelak, tak ada salahnya kita sedikit meluangkan waktu dan pikiran untuk belajar mengurai sedikit demi sedikit kekusutan pemerataan pembangunan dan keadilan ekonomi itu. Dimulai dengan pertanyaan MENGAPA dan BAGAIMANA; dan bukan pertanyaan SIAPA, APA, DIMANA dan KAPAN? Sehingga bagi siapapun yang suatu saat mendapat amanah dan beban untuk menduduki posisi yang menentukan, telah memiliki bekal yang cukup dan mantap untuk befikir, berucap, bersikap dan bertindak sesuai dengan apa yang seharusnya.

Hanya kita sendiri yang bisa menemukan solusi dan memperbaiki nasib bangsa kita sendiri, bukan oleh bangsa lain.

 Bangsa yang tidak percaya dengan kemampuan dirinya sendiri, belum bisa dikatakan sebagai bangsa merdeka “. — Bung Karno

Wallahu A’lam Bisshawab.