Tag Archives: muammar za

KLASIK

Dulu sewaktu saya masih SMA guru PMP saya pernah bertanya kepada para siswa. Pertanyaannya begini, tahukah kalian tahu apa itu artinya kata klasik? Serentak sebagian besar para murid pun menjawab ” kunooooo”. Setelah mendengar jawaban itu, guru PMP saya berkata bahwa jawaban itu tidak seluruhnya salah tapi juga kurang tepat. Benda yang dianggap kuno mungkin ada yang klasik, tapi benda berpredikat klasik bukanlah kuno.

Pak Guru mencontohkan sesuatu yang klasik di bidang fashion yaitu model dan warna seragam SMA yang kami pakai saat itu. Meskipun seragam berwarna abu-abu itu sudah lama ada dan sampai sekarang masih digunakan di sekolah-sekolah SMA, adakah di antara kita yang menganggap seragam itu kuno? Tidak ada bukan? Karena itu seragam SMA, SMP atau SD yang selama ini pernah kita atau anak-anak kita pakai itulah contoh dari sebuah model klasik. Sebuah model dan warna pakaian yang mungkin takkan pernah menjadi suatu trend adi busana, tapi juga takkan pernah ketinggalan zaman atau kuno. Hal yang sama mungkin berlalu untuk ‘kaos oblong’ atau ‘celana jean’.

Menurut kamus bahasa Indonesia online kata klasik memiliki arti sebagai berikut :

(1) mempunyai nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yg abadi; tertinggi;

(2) n karya sastra yg bernilai tinggi serta langgeng dan sering dijadikan tolok ukur atau karya susastra zaman kuno yg bernilai kekal;

(3) a bersifat spt seni klasik, yaitu sederhana, serasi, dan tidak berlebihan;

(4) a termasyhur krn bersejarah: bangunan — peninggalan zaman Sriwijaya itu akan dipugar;

(5) a tradisional dan indah (tt potongan pakaian, kesenian, dsb): pertunjukan tari-tarian Jawa –.

Secara harfiah, kata “klasik” itu sendiri menurut saya mungkin pengembangan dari kata “kelas” atau “class” yang memiliki kesamaan arti dengan ‘tingkat’ atau ‘hirarki’. Sesuatu berkelas berbeda perlu ditempatkan dalam ‘ruangan’ yang berbeda. Karena itulah sekolah menempatkan siswa-siswanya yang berbeda tingkat/kelas di dalam ‘ruang kelas’ yang berbeda pula.

Terkait dengan keterangan di atas, kenapa tiba-tiba saya tertarik dengan kata ‘klasik’? Seberapa tinggi nilai atau makna dari kata tersebut?

Jika kita amati segala sesuatu di sekitar yang pernah kita dengar, lihat dan rasakan, semuanya tak akan lepas dari faktor nilai keklasikan yang melekat padanya. Semakin klasik sesuatu, maka semakin lama dan abadi pula umurnya bahkan tak lekang oleh masa, waktu dan zaman dari generasi ke generasi. Demikian juga sebaliknya, semakin rendah nilai keklasikannya, maka semakin pendek umurnya, temporer dan semakin mudah pula untuk segera dilupakan orang. Hal itu tentu saja bersifat relatif tergantung dari individu masing-masing.

Berikut ini contoh tokoh-tokoh Indonesia yang menurut saya akan menjadi klasik dan tetap melegenda dari masa ke masa sampai generasi-generasi yang akan datang. Ini hanya beberapa contoh saja dan sifatnya pandangan pribadi penulis dan tentu saja bisa berbeda tergantung selera masing-masing.

1. Suara Tilawatil Quran Muammar ZA.

Sebagian besar umat muslim di Indonesia tentu sudah familiar dengan qori’ legendaris satu ini. Rekaman suara bacaan Al-Qurannya yang begitu merdu, syahdu dan menyentuh hati seluruh umat muslim yang mendengarnya telah jutaan kali dikumandangkan hampir di sebagian besar masjid-masjid di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sejak puluhan tahun lalu sampai sekarang tampaknya belum tampak ada tanda-tanda suara itu akan tergantikan oleh qori-qori masa kini.

2. Lagu dangdut/melayu Rhoma Irama.

Berjuta-juta lagu dangdut telah dicipta, diperdengarkan, menjadi populer lalu turun popularitasnya dan menghilang dari pasaran dan dilupakan. Hal itu rupanya tidak berlaku dengan lagu-lagu karya Pak Haji Rhoma Irama. Puluhan tahun yang lalu sejak lagu-lagu itu diciptakan, sampai saat ini lagu-lagu itu masih dianggap merdu didengar terutama oleh para penggemar musik dangdut. Lagu-lagu itu juga tak henti-hentinya di daur ulang dan dinyanyikan di mana-mana dalam berbagai versi. Sampai sekarang tampaknya belum juga ada tokoh sekelas Pak Haji yang mampu menggantikannya. Selain Rhoma Irama tentu saja masih banyak tokoh yang lain. Iwan Fals dengan lagu kemesraannya barangkali, atau Ebiet G Ade dengan lagu Berita Kepada Kawan mungkin.

Klasik adalah sebuah standar kualitas. Sebuah nilai kualitas baku yang bisa diterima oleh sebagian besar manusia sesuai panca indra masing-masing. Karena itu untuk menghasilkan sebuah keklasikan memerlukan sebuah proses dan hanya waktu yang bisa menguji pembuktian kualitasnya. Dari beberapa contoh di atas tentu kita dapat pula memberikan contoh para tokoh lain yang akan melegenda berdasarkan nilai keklasikan yang mereka miliki. Semua bisa didapatkan dari pengamatan kita terhadap apa yang kita dengar, lihat dan rasakan di sekitar kita.

Dari contoh-contoh keklasikan tokoh-tokoh legenda suara di atas setidaknya kita juga bisa mengambil suatu pelajaran bahwa untuk menghasilkan kualitas seperti itu tidak bisa didapatkan dalam waktu singkat apalagi dengan cara-cara instan seperti yang terjadi pada ajang-ajang pencarian bakat yang selama ini sudah sering kita lihat di televisi. Acara-acara seperti itu mungkin akan sekejap mata memunculkan artis-artis karbitan yang langsung populer dan dipuja di mana-mana, namun setelah itu nama dan karyanyapun akan segera dilupakan. Hukum alam akan selalu berlaku, sesuatu yang terlalu drastis naiknya akan juga cepat turunnya.

Bagaimana halnya contoh keklasikan yang berkaitan dengan masalah politik? Kita baru saja merayakan pesta demokrasi dan memilih pemimpin negeri ini. Adakah tokoh-tokoh yang menurut anda terlalu instan untuk menjadi pemimpin?. Akankah tokoh yang kita pilih itu bakal menjadi Tokoh Klasik yang tertulis dengan tinta emas sepanjang zaman karena kepemimpinannya atau hanya temporer saja?

Kita telah menentukan pilihan berdasarkan pikiran dan naluri kita masing masing. Tepat atau tidak pilihan itu jelas langsung atau tidak akan berpengaruh terhadap hidup kita dan anak cucu kita di masa depan. Kita tidak bisa mengubah masa lalu sambil menyesali hasil yang telah ada di masa kini, namun kita bisa mengubah masa kini untuk mengubah masa depan…

So, apapun pilihannya… ‘Enjoy The Journey, Not The Destination, because Every Destination is a Start Point to a New Journey… til We Die…

Dan BTW apakah artikel ini memiliki nilai klasik? Silahkan baca kembali 20 tahun yang akan datang untuk mengetahuinya…