Tag Archives: mandi wajib

Fiqih Praktis : Bab 6 – Mandi Wajib

Mandi Wajib, disebut juga mandi besar, mandi junub atau mandi janabat, adalah salah satu cara bersuci dengan mengalirkan air ke seluruh tubuh, dengan niat mengangkat (menghilangkan) “hadas besar” atau janabat. Dalam QS Al-Maidah (5):6, selain menyebutkan tetnagn kewajiban bersudhu sebelum shalat, Allah SWT juga memerintahkan orang yang dalam keadaan junub agar bersuci :…”dan jika kau dalam keadaan junub, maka bersucilah…” Selain itu, keweajiban mandi juga ditunjukkan oleh berbagai hadis shahih yang disepakati oleh para ahli.

Beberapa Penyebab Timbulnya Hadas Besar.

1.a. Keluarnya mani (sperma) dengan syahwat, baik ketika sedang tidur ataupun dalam keadaan terjaga. Apabila mani keluar tanpa syahwa, atau bukan karena syahwat, tetapi karena sedang sakit, maka tidak diwajibkan mandi. Dirawikan dari Ali r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “apabila ‘air’ (yang dimaksud di sini, air mani) keluar dengan kuat mandilah.” (HR Abu Daud). Dan dirawikan pula bahwa seorang laki-laki meminta fatwa Abdullah bin Abbas r.a, karena setiap kali ia kencing, ikut pula keluar mani bersamanya; namun tanpa terasa syahwat dan tidak pula menimbulkan rasa lemas sesudahnya. Apakah ia wajib mandi? Jawab Abdullah bin Abbas, “Itu hanya disebabkan tubuhmu yang kurang sehat. Cukuplah bila Anda berwudhu.” Demikain itu pula pendapat Abu Hanifah, Malik dan Ahmad. Akan tetapi, menurut mazhab Syafi’I, keluarnya mani, dengan atan tanpa syahwat, banyak atau sedikit, tetap menimbulkan hadas besar dan karena itu mewajibkan mandi. Hal ini berdasarkan hadis lainnya: ‘air’ yakni (mandi wajib) disebabkan oleh ‘air’ (yakni keluarnya air mani). HR. Muslim. Demikian pula jawaban Nabi Saw. kepada Ummu Salaim, bahwa laki laki maupun perempuan wajib mandi apabila mengalami ‘mimpi basah’. (HR Bukhari dan Muslim). Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah (I/56); dan An-Nawawi, Al-Majmu’,. Menurut hemat saya (-pen), apabila tidak mengalami kesulitan yang sangat, sebaiknya mandi walaupun keluarnya tanpa syahwat, sebagai sikap lebih berhati-hati).

b. Apabila seseorang ‘bermimpi’ tetapi tidak disertai dengan keluarnya mani, ia tidak wajib mandi.

c. Apabila seseorang bangun tidur dan mendapati celana atau baju-tidurnya basah, sedangkan ia tidak merasa telah mengalami mimpi yang menyebabkan keluarnya mani, tidaklah ia wajib mandi. Kecuali jika ia meyankini, dengan pelbagai tanda tertentu, bawa yang membasahi celananya itu adalah mani. Dan keadaan seperti itu, ia wajib mandi. Menurut  kitab-kitab fiqih, mani (sperma) dapat dikenali dengan salah satu dari ketiga tandanya : (1). Baunya yang dalam keadaan basah mirip dengan bau adonan tepung, atau daslam keadaan kering mirip bau putih telur. (2) Keluarnya secara terputus-putus dan disertai dengan rasa lezat. (3) Perasaan lemas setelah itu, terutama pada organ seksual pria. (Dalam hal ini, tidask harus terpenuhi ketiga tanda-tandanya, tetapi cukup salah satu darinya).

d.  Apabila merasa yakin bahwa yang keluar itu bukan mani maka walaupun tidak wajib mandi, namun ia wajib mencuci bagian yang basah dari pakaian atau tubuhnya. Karena – Sebagaimana telah dijelaskan dalam pasal zat-zat yang najis-semua cairan yang keluar dari kedua pintu ‘pelepasan’ adalah najis, kecuali mani.

e. Dalam keadaan tetap bimbang, apakah itu mani atau bukan, sebaiknya ber-ihtiyath (mengutamakan sikap hati-hati) dengan mengerjakan mandi wajib dan juga mencuci bagian pakaiannya yang basah yang menyebabkannya bimbang.

f. Apabila merasakan gerkaan mani yang akan keluar, lalu ia menahannya sehingga tidak jadi keluar, maka ia tidak diwajibkan mandi.

g. Apabila melihat mani di pakaiannya, namun tak diketahui sejak kapan keluarnya, sedangkan ia telah selesai shalat, maka ia wajib mengulangi shalatnya sejak tidurnya yang terakhir. Atau jika mendapat tanda bahwa ia telah ada sebelumnya maka hendaknya ia mengulangi shalat-shalat yang dikerjakan olehnya sejak tidurnya yang paling dekat, menurut perkiraannya. Sayid Sabiq, Fiqh As-Sunnah I/56-57

2. Melakukan hubungan seksual (jima’, sanggama), walaupun tidak keluar mani. Dalam hal ini, kewajiban mandi berlaku atas laki-laki dan perempuan. Firman Allah SWT., “… dan jika kamu dalam keadaan junub, maka mandilah…” (QS. Al-Maidah [5]:6). Menurut Syafi’I, dalam bahasa Arab, junub (atau janabat) biasanya digunakan dalam arti jima’ (sanggama). Demikian pula jawaban Nabi Saw. ketika ditanya tentang seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan istrinya tetapi tidask keluar maninya : “Apabila telah menyentuh tempat khitannya, maka wajib atasnya mandi.” (HR. Ahmad dan  Malik dengan beberapa perubahan kata). Dan masih ada pula hadits lainnya yang mirip dengan itu, dirawikan oleh Ahmad dan Muslim, yang menjelaskan tentang kewajiban mandi bagi yang melakukan hubungan seksual, walaupun tidsak sampai keluar maninya.

3.  Berhenti dari haid dan nifas. Wanita yang telah berhenti haid dan nifasnya, diwajibkan mandi agar dapat mengerjakan shalat atau dibolehkan ‘bercampur’ dengan suaminya. Firman Allah SWT : “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu merupakan gangguan.’ Oleh sebab itu, hendaklah kamu ‘memisahkan diri’ (yakni tidak melakukan senggama) dengan istri-istri kamu di waktu haid. Dan janganlah kamu ‘mendekati’ mereka sampai mereka suci kembali. Maka jika mereka telah bersuci, ‘datangilah’ mereka secara yang diperintahkan Allah atas kamu .” (QS Al-Baqarah [2]: 222). Dan diriwayatkan pula bahwa Nabi Saw. pernah bersabda kepada Fatimah binti Hubaisy r.a., “Tinggalkanlah shalat sepanjang hari-hari ketika sedang haid, dan setelah itu mandi dan shalatlah.” (HR Bukhari/Muslim).

4. Masuk Islam. Apabila seorang kafis masuk Islam, ia wajib mandi sebelum mengerjakan shalat. Begitulah pendapat Asy-Syafi’I serta banyak ulama lainnya, berdasarkan beberapa hadis yang menunjukkan hal itu. Di antaranya ketika Tsumamah Al-Hanafiy masuk Islam, Rasulullah Saw, memerintahkan kepadanya agar mandi. (HR Ahmad). Begitu juga ketika Qais Bin ‘Ashim, atau (dalam riwayat lain):Abu Thalhah. (HR Tirmidzi). Akan tetapi Abu Hanifah tidak mewajibkannya, (kecuali apabila ia memang sedang dalam keadaan junub).

5. Mati.apabila seorang Muslim meninggal dunia, wajib atas masyarakat muslim sekitarnya memandikannya. Hal ini akan dijelaskan secara terinci dalam pasal khusus tentang penyelenggaraan jenazah.

Hal-Hal Yang Haram Dikerjakan Oleh Seorang Berhada Besar (Junub).

Seorang yang berhada besar (junub atau janabat) dilarang mengerjaan hal-hal seperti di bawah ini, sebelum ia mandi;

  1. Shalat dan tawaf di sekitar Ka’bah. Telah dijelaskan dalil-dalilnya ketika membahas tentang perbuatan apa saja yang diharamkan bagi orang yang tidak berwudhu.
  2. Memegang dan membawa Mushaf Al Quran. Kecuali dalam keadaan darurat; untuk menyelamtaknnya atau mengembalikannya ke tempatnya semula, setelah terjatuh dan sebagainya. Mayoritas ulama menyepakati haramnya memegang atau emmbawa mushaf Al-Quran bagi orang yang dalam keadaan junub. Hanya Daud Azh-Zhahiri dan Ibn Hazm yang membolehkannya, dengan alasan bahwa Rasulullah Saw, pernah menulis surat kepada Heraclius, di dalamnya terdapat beberapa ayat Al-Quran. (Padahal ia seorang kafir). Namun para ulama lainnya, menjawab bahwa itu hanyalah surat yang kebetlulan memuat beberapa ayat. Karena itu, tidak dapat disamakan dengan mushaf Al-Quran. (Lihat juga perbedaan pendapat para ulama mengenai hukum memegang mush-haf bagi orang yang mengalami hadas kecil
  3. Membaca Al-Quran dengan tujuan semata-mata mendapat pahala karenanya. Dikecualikan dari larangan ini, membaca beerapa ayat Al-Quran dalam rangka zikir atau wirid yang telah menjadi kebiasaan sehiari-hari, atau dalam rangka belajar membacanya ataupun mempelajari maknanya. Demikian pula menunjukkan pandangan ke arah mushaf dan membacanya dalamhati, tanpa gerakan lisan. Al-Bukhari, Thabarani, Daud and Ibn Hazm tidak melihat adanya halangan bagi seorang dalam keadaan junub untuk membaca Al-Quran. Mereka berpegangan pada ucapan Aisyah r.a yang disahihkan oleh Muslim, bahwa Nabi Saw. senantiasa ber-dzikrullah pada setiap saatnya (sedangkan membaca Al-Quran kata mereka termasuk dzikir juga. Disamping itu menurut hukum asalnya, tidak ada nash yang mengharamkan).  Pendapat seperti ini juga dinukilkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Musayyab. Demikian pula yang menjadi pilihan Ibnu Al-Mundzir, seperti dinyatakan oleh Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib, Ibn Ash-Shabbagh dan selain mereka. Al-Bukhari juga merawikan adanya ulama yang membolehkan seorang wanita yang sedang haid, membaca beberapa ayat Al-Quran, agar ia tidask merasa terasing atau terjauhkan darinya selama masa hadinya itu. (Dan seperti tu pula pendapat Malik). Menurut Ibn Hajar dalam Syarh-nya atas Shahih Bukhari : “Tampaknya, tak satu pun hadits mengandung larangan orang junub membaca Al-Quran, dapat dishahihkan oleh Al-Bukhari.” Sebabnya adalah, bahwa kebanyakannya bisa ditakwilkan. (Lihat al.. Fiqh As-Sunnah I/59; Bidayat Al-Mujtahid I/35; dan  Al-Majmu’ II/162.
  4. Duduk atau berhenti di Masjid. Kecuali melewati masjid disebabkan tidak ada jalan lain ke tempat keperluannya, selain melalui masjid tersebut. Hampir seua mazhab menyepakati larangan berhenti atau duduk di masjid bagi seorang junub. Kecuali Al-Muzani da Ibn Al-Mundzir membolehkannya. Dan menurut sebagian riwayat, Ahmad bin Ahnbal membolehkannya. Dan menurut sebagian riwayat, Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “Seorang hunub boleh berheti dan duduk di masjid setelah ia berwudhu” Perbedaan pendapat mereka, antara lain berdasarkan pemahaman masing-masing terhadap ayat 43, surah An-Nisa, yang terjemahannya (secara harfiah) : “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghampiri shalat sementara kamu dalam keadan mabuk, sampai kamu menyadari apa yang kamu ucapkan; jangan pula (menghampiri shalat) sementara kamu dalam keadaan junub-kecuali sedang melintasi jalan (‘abiri sabil)- sehingga kamu telah mandi…’. Mayoritas ulama mengartikan kalimat “menghampiri shalat” dalam ayattersebut, sebagai “menghampiri tempat shalat” dalam ayat tersebut, sebagai ”menghampiri tempat shalat”, yakni masjid. Sedangkan sebagian mereka yang lain mengartikan seperti apa adanya. (secara harfiah), yakni: “…jangan menghampiri shalat dlam keadaan mabuk atau junub”. (Karenanya, ayat ini menurut mereka tidak ada hubungannya dengan masjid). Sedangkan kalimat ‘abiri sabil…”dalam keadaan melintasi jalan) diartikan sebagai “para pelintas jalan (musafir) yang (biasanya) menghadapi kesulitan mendapat air, dan karenanya dibolehkan bertayamum sebagai pengganti mandi. Karenanya, ayat tersebut tidak mengandung larangan bagi seorang junub untuk berhenti atau duduk di masjid. Perbedan pendapat tentang hal ini, berlaku pula dalam masalah boleh atau tidaknya seorang wanitayang sedang haid, berhenti atau duduk di masjid ,(Bidfayat Al-Mujtahid I/354, Fiqh As-Sunnah I/59, Al-Majmu’ II/16 3.

Catatan Tambahan.

Beberapa larangan khusus wanita yang sedang haid atau nifas akan dijelaskan kemudian, dalam pasal khusus mengenai hal itu.

Mandi Sunnah.

Mandi sunnah ialah mandi yang  jika dikerjakan, mendatangkan pahala, tetapi jika tidak dikerjakan, tidak mengakibatkan dosa. Yaitu dalam keadaan-keadaan sebagai berikut :

  1. Mandi hari Jumat serta kedua hari raya: Idul-Fitri dan Idul-Adhha. Mandi pada hari-hari itu sangat dianjurkan bagai orang-orang yang akan menghadiri tempat shalat, menginta berkumpulnya khalayak pada hari-hari tersebut. Agar mereka berkumpul dalam keadaan bersih dan menyenangkan. Dan karena itu pula, dianjurkan memakai wangi-wangian untuk dapat menyamankan suasana dan menghilangkan bau-bauan yang kiranya kurang sedap.Waktu mandi yang disunnatkan ini adalah antara saat fajar sampai waktu shalat hari Jumat atau shalat hari raya. Adapun waktu paling utama  untuk mandi adalah sesaat sebelum berangkat menuju masjid atau tempat shalat.
  2. Setelah memandikan mayat.
  3. Ketika hendak memulai ihram untuk haji atau umroh, ketika akan memasuki kota makkah atau akan menuju padang Arafah. Keterangan lebih lengkap tentang hal inii, akan diuraikan kemudian secara lebih rinci, dalam Bab Haji, Insya Allah.

Cara Mandi Yang Sempurna.

Sekurang-kurangnya mandi wajib adalah:

  1. Niat. (cukup dalam hati dan tidak harus diucapkan). Yakni menyengaja menghilangkan hadats besar (janabat).
  2. Mengalirkan air ke seluruh anggota badan.

Cara mandi seperti itu sudah cukup  untuk mengangkat hadas besar (janabat). Akan tetapi, demi kesempurnaannya, disunnatkan mengikuti cara Mandi Rasulullah Saw. seperti yang dirarikan dalam beberapa hadis, sebagai berikut:

1. Sebelum mulai mandi, terlebih dahulu membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.

2. Membasuh kemaluan.

3. Berwudhu secara sempurna (sebelum menyiramkan air ke segenap badan)

4. Menyiramkan air ke kepala, sebanyak tiga kali, sambil memasukkan air ke jari-jari tangan ke sela-sela rambut sehingga membasahi kulit kepala.

5. Menyiramkan air ke seluruh tubuh dengan memulai sisi kanan sebelum sisi kiri, sambil menggosok-gosok bagian-bagian yang tak mudah dimasuki air, seperti bagian telinga, pusar, bawah lengan, sela-sela jari kaki serta lekukan tubuh lainnya.

Cara Mandi Bagi Wanita.

  1. Mandi wajib bagi wanita sama saja seperti bagi pria. Kecuali bagi wanita yang rambutnya penuh kepangan (anyaman atau jalinan) tidak perlu membuka (mengurai) kepangannya, tetapi cukup dengan melakukan tiga kali siraman di kepala sehingga membasahi bagian dalam rambutnya yang dikepang. Setelah itu, meniramkan air ke seluruh bagian tubuh yang lain. Diriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwa seorang wanita bertanya, “Ya Rasulullah, rambutku berjalin (berkepang) dengan jalinan-jalinan yang amat kuat. Haruskah aku menguraikannya, dalam mandi janabaat?” Nabi Saw menjabat, “Cukup basahi (kepala) dengan tiga kali siraman ringan, dan setelah itu menyiramkan air ke seluruh tubuhmu. Dengan begitu engkau telah suci kembali”. (HR Ahmad dan Muslim).
  2. Khusus bagi pengantin wanita yang rambutnya diatur dengan sisiran tertentu yang rumit serta menggunakan wangi-wangian yang lebih dari kebiasaan sehari-hari, diberian keringanan dengan tidak usah mencuci (mengeramasi) rambutnya itu, tetapi cukup  mengusapnya dengan air. Hal ini guna menghindarkannya dari pemborosan uang, sekiranya setiap kalimandi diharuskan merusak hiasan rambutnya tersebut. Keringananin hanya berlaku khusus bagi pengantin wanita, untuk sementara waktu, yakni selama ia – menurut kebiasaan masih disebut sebagai pengantin. Ini sesuai dengan fatwa Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf, mantan Mufti Mesir, dalam bukunya Fatawa Syar’iyyah, hlm 24. Pendapat mazhab Malik mengenai ini lebih meringankan lagi. Menurut mereka, seorang pengantin wanita yang rambutnya diberi hiasan khusus atau wangi-wangian, tidak wajib membasuh kepalanya setiap kali mandi janabat. Demi menghindarkannya dari pemborosan uang, ia hanya wajib menyiramkan airke seluruh tubuhnya, kecuali kepalanya cukup diusap saja dengan tangan sehingga tidak merusak hiasan rambutnya. Dan seandainya sekujur tubuhnya diberi wangi-wangian dan sebagainya, lalu ia khawatir semua itu akan hilang atau rusak apabila ia mandi, maka dibolehkan baginya bertayamum. (Lihat Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala ‘l-madzahib Al-Arabia I/113.
  3. Bagi wanita yang mandi setelah suci dari haid atau nifas, dianjurkan menggunakan kapas yang diberi sedikit wangi-wangian, di tempat bekas keluarnya darah, guna menghilangkan sisa-sisa bagu, seandainya masih ada.

Beberapa Hal Lain Berkaitan dengan Mandi Wajib.

Beberapa hal yang sering dipertanyakan sekitar mandi wajib, antara lain sebagai berikut :

  1. Seorang yang telah melaksanakan mandi wajib, tidak perlu lagi berwudhu sesudahnya. Karena niat menghilangkan ‘hadas besar’ dianggap sudah meliputi ‘hadas kecil’
  2. Cukup mandi satu kali saja, meliputi mandi janabat, mandi hari Jum’at, dan mandi hari raya, apabilaia meniatkan itu semua ketika memulai mandinya tersebut. (Yakni tidak usah mandi berulang-ulang).
  3. Dibolehkan bagi seorang pria, bermandi-wajib dari air bekas mandi-wajib wanita, dan sebaliknya. Dan dibolehkan pula suami-istri mandi dari satu bejana.
  4. Tidak dibenarkan mandi di tempat terbuka atau di tengah-tengah khalayak, kecuali dengan menutup aurat.
  5. Dibolehkan menyeka air mandi atau air wudhu dengan handuk dan sebagainya, baik di kala musim panas atau dingin.
  6. Tidak ada larangan atas seorang junub atau wanita yang sedang haid, memotong kuku, menghilangkan bulu atau rambut, keluar rumah dan sebagainya. Lihat antara lain, Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, I/65.