Tag Archives: malang

Family Camping : Coban Rondo, Malang

Family Camping kami kali ini berlokasi di Area Camping Ground Coban Rondo, Kec. Pujon, Kab Malang. Waktu itu kami berangkat dari Surabaya terlalu siang. Karena itu kami lebih memilih lewat jalur Surabaya – Mojokerto – Pacet – Batu daripada melalui jalur Pasuruan – Malang dengan pertimbangan karena hari itu adalah weekend sehingga kemungkinan jalur Pasuruan rawan macet.

Ternyata pilihan itu tidak salah. Di samping jalan yang kami lewati lalu lintasnya cukup  sepi dan lancar, pemandangan yang ada di kanan kiri juga luar biasa indah. Benar-benar seperti lukisan. Setelah melewati rimbunnya pepohonan dari Kawasan Hutan R. Soeryo kamipun tiba di kawasan pertanian penduduk yang berlatar belakang pegununan Arjuno yang indah, megah dan masih mengeluarkan asap belerang.

Akibat keasikan berphoto selfie ria, tak terasa saat tiba di Kota Batu, Malang hari sudah mulai malam sehingga akhirnya tiba di Lokasi Camping Ground di Coban Rondo haripun sudah gelap.

Indahnya pemandangan Gunung Arjuna

 

Sesampainya di sana kamipun membeli tiket masuk dan mencari lokasi yang cocok. Suasana cukup ramai dengan banyaknya para kempingers yang juga sedang berkemah. Mereka datang dari bermacam latar belakang. Ada yang dari anak-anak pramuka, para peserta acara pembinaan mental,  dan juga kelompok-kelompok kecil seperti kami. Hari yang gelap dan itu adalah kali pertama ke sana membuat kami kesulitan memilih lokasi camping sesuai keinginan. Kami mencoba bertanya kepada petugas yang berada di kantor camping ground. Mereka menyarankan untuk mendirikan tenda di area dekat jalan di depan kantor. Tanpa pikir panjang, kami pun mengikuti apa kata petugas. Setelah menemukan lokasi yang tepat, kami mendirikan tenda dan bermalam.

Menghangatkan diri di perapian

Setelah tenda berdiri, saatnya menikmati suasana malam dengan menghangatkan diri di depan tenda, ngopi, makan makanan hangat kebangsaan orang Indonesia alias mie rebus, berselimutkan sinar bulan purnama lengkap dengan nyanyian sayup-sayup anak-anak pramuka  yang terdengar dari kejauhan. Sungguh suasana yang indah dan syahdu untuk menikmati malam.

Berselimutkan bulan purnama.

Sekilas tentang camping ground Coban Rondo menurut saya lokasinya cukup baik. Udara di lokasi sangat sejuk dan asri. Area untuk mendirikan tenda juga relatif luas, nyaman dan banyak pilihan. Air bersih mengalir sepanjang waktu dan sarana MCK juga cukup memadai. Hanya lahan parkir yang perlu penambahan. Ke depan memang perlu perbaikan lagi sarana dan prasarana terutama fasilitas parkir, jalan dan penyediaan lebih banyak lagi sumber air bersih agar tidak terlalu jauh dari lokasi camping. Sayangnya di musim kemarau seperti sekarang debu beterbangan dimana-mana terutama saat ada kendaraan yang lewat sehingga mengurangi kenyamanan. Hal itu sebenarnya bisa diatasi dengan menyirami area yang masih tanah dengan air, atau menanaminya dengan rumput agar tidak ada lagi tanah berdebu.

 Beberapa lokasi camping ground.

Let Get Lost to “Waduk Selorejo, Malang…”

 


Rencana perjalanan saya kali ini adalah mengelilingi Jawa Timur bagian selatan dengan rute Surabaya – Mojokerto – Jombang – Tulung Agung – Blitar – Malang – Pasuruhan – kembali ke Surabaya selama waktu dua hari satu malam. Sedangkan tujuan utama menginap adalah waduk/bendungan Selorejo, Ngantang, Kab Malang.  Sebelum sampai ke waduk tersebut saya berencana untuk mengunjungi tempat-tempat yang katanya cukup menarik dan berada di sepanjang jalur yang saya lalui di antaranya Pantai tempat wisata di pesisir selatan dan tempat kerajinan Marmer dan batu Onix di Tulung Agung.

Bisa dibilang  trip saya kali ini tidak begitu sesuai rencana karena sebagian besar waktu yang ada habis di jalan.  Harapannya sore hari sudah tiba di Waduk Selorejo, namun ternyata saat itu baru tiba di Tulung Agung.  Tujuan pertama adalah pesisir selatan di kota tersebut yang bernama Pantai Popoh. Menurut saya kondisi tempat tersebut kurang begitu menarik sebagai tempat berwisata sehingga saya tidak berniat untuk berlama-lama singgah di sana.

Sekembalinya dari Pantai Popoh sayapun mampir ke tempat pusat kerajinan batu Onix yang kebetulan berlokasi di jalur perjalanan kembali. Sama halnya dengan pantai Popoh, saya juga agak kecewa dengan tempat itu. Entah karena apa, sebagian besar galery yang ada di sana tidak begitu friendly terhadap tamu-tamu/pembeli yang datang. Banyak toko-toko souvenir dibiarkan terbuka tanpa ada yang menunggui, kalaupun ada para pemilik toko tidak begitu antusias melayani pengunjung. Pertanyaan yang saya ajukanpun dijawab ala kadarnya. Sayapun jadi tidak bergairah untuk membeli barang-barang tersebut dan niat untuk membawa buah tangan dari batu Onix akhirnya saya batalkan. Perjalananpun berlanjut menuju kota berikutnya.

Hari telah sore ketika saya tiba di Blitar. Awalnya ada rencana untuk singgah sebentar mengunjungi Makam Bung Karno, Presiden Pertama RI. Hal itu saya batalkan karena di samping hari telah petang, hujan lebat menemani saya sepanjang perjalanan. Saya hanya mampir sebentar di pinggir jalan untuk mencari makanan hangat sambil bertanya kepada pemilik warung arah menuju bendungan Selorejo, Malang. Menurut petunjuk dari si pemilik warung perjalanan menuju ke sana hanya memakan waktu kurang satu jam lagi. Selesai makan perjalananpun lanjut dari Blitar menuju kota Wlingi.

Satu jam telah berlalu dan hari sudah menjelang Magrib.  Kota Wlingi, Bendungan Karang Kates dan sebuah desa bernama Selorejo juga sudah terlewati, namun saya belum menemukan tanda-tanda dan petunjuk arah menuju Bendungan Selorejo. Perasaan mulai tidak enak, jangan-jangan kebablasan. Teringat akan  pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan’, saya pun memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan dan bertanya kepada tukang ojek yang sedang berkumpul di pertigaan ke arah Gunung Kawi.

Benar dugaan saya. Seharusnya pada saat berada di pertigaan Wlingi saya belok ke kiri, tetapi saya malah mengambil jalur yang lurus dan akhirnya kebablasan jauh sekali. Sayapun jadi teringat sebuah acara di TV National Geographic Channel, Let’s Get Lost…..

Karena hari sudah menjelang malam, sempat terlintas di hati untuk menginap di Gunung Kawi namun saya akhirnya memilih kembali alias balik arah. Saat melewati kembali waduk Karang Kates, saya turun mampir sebentar untuk sekadar menengok obyek wisata tersebut. Pintu loket telah ditutup sehingga bisa masuk secara gratis. Lumayan meskipun hanya menengok sebentar di pinggir bendungan.

Tiba di Wlingi  saya kembali bertanya kepada penduduk setempat dan akhirnya mendapat petunjuk arah yang benar menuju Bendungan Selorejo, kec Ngantang. Sebuah perjalanan yang cukup menantang karena harus melewati sebuah jalan yang cukup sempit dan berkelok-kelok melewati pedesaan dan perbukitan, apalagi di kegelapan malam.

Kurang lebih pukul 21.30 saya baru tiba di Bendungan Selorejo. Setibanya di sana langsung mencari tempat menginap. Untung saja masih ada tersisa satu cottage di pinggiran danau dengan harga cukup terjangkau. Karena kelelahan menyetir seharian, malam itu pun saya habiskan untuk beristirahat.

Tempat yang nyaman dan udara yang sangat sejuk membuat saya bangun dengan segar dan bugar di keesokan harinya. Ditambah lagi dengan suasana danau yang indah memanjakan mata. Rasanya semua perjuangan dan kelelahan seharian mencari lokasi ini betul-betul telah terbayar setelah menyaksikan semua keindahan waduk tersebut di pagi hari. Di samping bisa berjalan-jalan di sekitar cottage sambil melihat pemandangan danau yang indah berhiaskan gunung-gunung di sekelilingnya, kami juga berperahu menuju sebuah pulau penuh dengan pepohonan jambu biji yang ada di tengah danau.

Setelah puas di Waduk Selorejo, siang harinya baru saya melanjutkan perjalanan. Sebelumnya tak lupa membeli makanan berupa gorengan ikan-ikan kecil yang sangat gurih dan nikmat rasanya untuk bekal.

Tergoda oleh rasa penasaran akan sebuah bangunan yang katanya ‘Masjid tiban atau masjid ajaib’ karena diisukan tidak dibangun oleh manusia, siang itu saya melanjutkan ke  Turen, Malang Timur. Hari telah sore ketika tiba di Masjid atau pondok pesantren tersebut. Tidak sulit menemukan lokasi bangunan Pondok Pesantren Turen karena memang cukup terkenal di Malang. Tiba di sana suasana sangat ramai oleh pengunjung yang mungkin juga ingin mengobati rasa penasaran seperti saya.

Bangunan itu memang terlihat megah apalagi dibandingkan dengan bangunan di sekitarnya. Namun secara umum menurut pendapat saya tidak ada yang terlalu istimewa dengan bangunan itu. Tidak ada tanda-tanda sedikitpun yang menunjukkan banwa bangunan itu tidak dibangun oleh manusia.  Tanpa bermaksud untuk membandingkan, secara subjektif saya katakan bahwa Masjid Al-Akbar Surabaya sebenarnya lebih megah dan indah.

Karena hari telah sore, saya memutuskan untuk kembali ke Surabaya. Sepanjang perjalanan Malang sampai dengan Surabaya sungguh macet luar biasa. Jam 21 baru tiba di rumah…. capek dan langsung bobo…..