Tag Archives: lebaran

Beda Awal Puasa dan Lebaran, Mau Sampai Kapan?

Pak Bos : “Assalamu Alaikum, Wah enak sekali Cho, pagi-pagi sudah nongkrong di warung Giras, ngopi sambil rokoan, gak puasa to”?

Mr. Choro : “Waalaikum salam, kan belum awal bulan Bos. Dalam sidang Isbath kemarin kan sudah ditentukan bahwa awal puasa adalah besok. Kita-kita orang awam dari kalangan akar rumput ini kan hanya mengikuti apa kata mereka yang lebih pinter dan ngerti soal begituan, jadi sekarang masih bisa puas-puasin dulu rokoan ama ngopinya, silakan Bos kalau mau gabung”.

Pak Bos : “Sory Cho, saya sudah puasa hari ini. Tapi gak papa tak temeni ngobrol sebentar”.

Mr. Choro : “Wah maaf lho bos, saya gak puasa nih, jadi agak ngganggu puasanya Pak Bos”.

Pak Bos : “Ndak papa cho, biasa itu…”.

Mr. Choro : “Menurut pak Bos, kenapa to di Indonesia ini puasa dan lebaran Idul Fitri kok tiap tahun sering beda?”

Pak Bos : “Menurutku ya karena ada perbedaan metode dalam menentukan tanggal satu itu Cho, ada yang pake hisab alias perhitungan astronomis, ada pula yang pake rukyat dengan melihat atau menyaksikan hilal, istilah kerennya yang satu “Seeing is believing” dan satunya lagi “Knowing is believing”. Tapi kan sudah sering kali kita dengar dari kalangan para cerdik cendikiawan bahwa itu bukan hal perlu dipermasalahkan, perbedaan di kalangan umat itu adalah rahmat apalagi ini kan di dalam hal furu’iyah atau cabang agama, bukan sesuatu yang prinsip misalnya aqidah yang jelas dalil naqlinya, buktinya saya sudah puasa dan kamu belum kita oke-oke saja to”

Mr Choro : “Ya itu sudah pernah saya dengar Bos, cuma kok ya yang sering “getrek” itu kok ya hanya awal bulan Ramadhan sama Idul Fitri saja to, kenapa bulan-bulan lainnya enggak. Padahal setahun itu kan ada dua belas bulan. Contohnya kita tidak pernah berbeda pendapat untuk menentukan awal bulan Muharam, atau atau tanggal satu Sya’ban”.

Pak Bos : “Iya ya… itu pertanyaan yang agak rumit untuk di jawab, tapi mungkin ada kaitannya dengan kewajiban ibadah puasa dan perayaan Idul Fitri yang bukan hanya menjadi fenomena religi namun juga fenomena sosial, kata koran yang saya baca tadi pagi”.

Mr. Choro : “Pak Bos kok milih ikut yang puasa hari ini alasannya apa tho?”

Pak Bos : “Kalo aku sih alasannya karena sekarang sudah zamannya era teknologi Cho. Zaman dahulu pake metode ru’yat karena memang sarana dan peralatan untuk perhitungan saat itu masih terbatas baik dalam hal jumlah maupun presisi ketelitiannya. Lha teknologi yang ada sekarang sudah sangat memungkinkan untuk menghitung siklus peredaran bulan secara sangat akurat dengan ketelitian sampai sepersekian detik, makanya dengan metode perhitungan hisab sebenarnya jauh-jauh hari, jauh-jauh bulan bahkan jauh-jauh tahun kita sudah tahu kapan awal bulan itu. Lha kalo kamu alasannya apa milih puasa besok?”

Mr. Choro : “Dari awal kan sudah saya jelaskan bos, kita-kita orang yang awam ini hanya taklid sama para ahlinya. Mereka yang lebih tahu tentang ilmu dan dalil-dalil yang mengaturnya, apalagi yang mengeluarkan fatwa adalah Negara, yang merupakan pihak berkredibilitas paling kuat yang siap bertanggung jawab akan salah dan benarnya.

Yen tak pikir-pikir kayaknya sebenarnya yang berselisih itu kalangan elitnya aja lho, seadainya para elit ini bisa kompak maka para pengikut mah tinggal ngikut aja. Mau pake metode hisab atau rukyat terserah. Kalau ada pihak yang mengatakan “melihat untuk meyakini”, bukankah yang melihat itu sebenarnya hanya mereka yang ditugaskan di pos-pos rukyat? Sedangkan umat yang lain hanya mendengar atau membaca dari pengumuman. Artinya mengatakan “melihat” tapi sebenarnya hanya dari “mendengar” atau “mengetahui”. Sedangkan mereka yang mengatakan “mengetahui untuk meyakini” itu juga tidak benar-benar mengetahui karena kenyataannya, mereka yang faham akan ilmu falak atau astronomi dalam menghitung siklus peredaran bulan untuk menentukan hilal yang menurut definisi awam saya adalah “fase bulan saat berbentuk sabit terkecil sebagai penanda yang memberikan keyakinan datangnya tanggal satu” itu adalah orang-orang tertentu saja yang memang pernah belajar dan menguasai ilmu itu. Banyak pengikut metode hisab itu juga sekadar mengikuti para pemimpinnya. Artinya sebagian besar dari kita termasuk saya, itu sejatinya hanya mendengar dari yang tahu dan melihat.

Sekarang saya tanya apakah pak Bos faham caranya menghitung fase-fase bulan untuk menentukan tanggal satu di bulan-bulan hijriyah, apalagi untuk seratus tahun yang akan datang, dengan bermodalkan kertas dan pensil seperti seorang ahli falaq di kampung saya?. Bukan pake aplikasi semisal stellarium atau yang online itu lho”

Pak Bos : “Ya nggak Cho, saya ini sarjana ekonomi bukan sarjana astronomi, sudahlah kita tidak usah memperdebatkan itu, yang penting mari kita jalankan puasa ini dengan penuh keikhlasan untuk membersihkan diri dari segala dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan setahun yang lalu”

Mr. Choro : “Siap pak Bos, setuju… hanya saja ada sesuatu yang mengganjal di hati dan menjadi masalah kecil buat saya karena perbedaan ini. Saya ini kan mengikut ke pemerintah yang bukan rahasia umum bahwa di dalam sidang Isbath lebih cenderung untuk menggunakan rukyat dalam menentukan awal puasa atau lebaran sehingga sering ada perbedaan dengan pengguna metode hisab. Sementara itu keluarga saya menjadi salah satu pengikut pengguna metode hisab tersebut. Seringkali terjadi saat pulang mudik saya sendirian yang puasa sementara itu keluarga saya sudah merayakan lebaran… khan jadinya gimana gitu”

Pak Bos : “Trus karepmu ki asline piye?”

Mr. Choro : “Harapan saya bos, khusus untuk penentuan awal bulan Ramadhan atau Idul Fitri, karena sudah bukan lagi fenomena religi tapi juga menjadi fenomena sosial, mbok yao para elit itu duduk bersama untuk bermusyawarah demi kemaslahatan umat. Kesampingkan dulu ego organisasi atau golongan. Gunakan hati nurani yang bersih dengan didasari oleh segala keilmuan yang mereka miliki untuk berijtihad menentukan metode yang paling tepat saat awal puasa atau lebaran, sehingga tidak ada lagi kejadian saya masih puasa keluarga saya sudah berlebaran atau sebaliknya. Misalnya saja dengan cara mencari titik temu antara metode hisab dan rukyat yakni menentukan standar dengan kesepakatan tertentu sehingga pada waktu tersebut hilal sudah pasti terlihat meskipun bulan tidak dirukyat. Guru ngaji saya pernah berkata bahwa jika ulama berijtihad untuk mengeluarkan fatwa suatu hukum syar’i maka jika salah pahalanya satu dan jika benar maka pahalanya dua. Artinya kalau memang pahala yang dicari ya salah atau benar sama-sama dapat pahala.

Kita-kita para pengikut ini tinggal manut saja apa fatwa mereka, yang penting sama dan seragam. Kalau para elitnya saja tidak bisa kompak apalagi para pengikutnya. Wong untuk menentukan waktu sholat saja kita tidak pernah berselisih kok puasa bisa berbeda-beda, padahal sama-sama ibadah wajib. Mari kita berfokus pada sasarannya dan bukan alatnya. Itu bos uneg-uneg saya Bos,…

Wallahu Alam Bissawab”.

Pak Bos : “he he begitu to, memang untuk menentukan waktu ibadah shalat kan pedomannya matahari, sementara ibadah puasa adalah bulan. Matahari relatif lebih sederhana untuk dijadikan patokan daripada bulan karena jelas terbit dan tenggelamnya. Sementara bulan relatif lebih sulit dijadikan pedoman karena berdasarkan siklus penampakannya oleh mata kita akibat pantulan sinar matahari dari sudut tertentu. Tapi apapun yang terjadi marilah kita tetap jalin persatuan dan kesatuan kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air, dengan tetap saling menghormati dan menghargai. Pada dasarnya semua masalah takkan pernah jadi masalah jika kita tak menganggapnya sebagai masalah, Wis yo aku tak pergi dulu,

Assalamualaikum”.

Mr. Choro : “Sip Bos, sepakat dengan nasehat pak Bos dan mari kita tetap kompak, terima kasih sudah menemani saya curhat, selamat berpuasa… dan

Waalaikum Salam”..