Tag Archives: laut

Jika Ibukota Pindah, Dimana?

Pak Bos : “Halo Cho… kumaha damang?

Mr. Choro : “Khabar baik Bos…, Pak Bos juga bagaimana khabarnya? Anak istri sehat?”

Pak Bos : “Alhamdulillah Cho… semua baik-baik saja… mangga atuh calik-calik heula di dieu…”

Mr. Choro : “Oke Bos…, Gimana khabarnya Jakarta…?”

Pak Bos : “Kabar apanya… ya tetep macet Cho…, mangkanya setelah pulang kerja aku lebih seneng di rumah saja. Padahal penginnya mau ngajak keluarga makan di luar tapi kok gak sebanding dengan waktu yang harus di korbankan di jalan. Sebenarnya sih aku sudah gak betah di Jakarta, tapi ya gimana lagi wong kerjanya di sana… mau gak mau dibetah-betahin juga…”

Mr. Choro : “Itulah, meskipun uang banyak akhirnya tidak bisa menikmatinya karena lingkungan yang tidak mendukung, sama dengan saya kalo gitu Bos… Cuma bedanya kalau saya kan memang tidak ada pilihan. Makan di rumah biar lebih irit aja”

Pak Bos : “Iya Cho, kasihan bapak Gubernur kita ini… mati-matian mau mengatasi kemacetan malah diperparah dengan kebijakan mobil murah, ditambah lagi dengan pernyataan babeh kita yang mengatakan mobil murah gak ada hubungannya dengan kemacetan, mengatasi macet tanggung jawab pemerintah daerah katanya… wah… mana nu bener mana nu salah ieu, teu ngerti, lieur aing…

Mr. Choro : “Betul Bos… Tidak ada kebijakan mobil murah aja mengatasi persoalan kemacetan di Jakarta rasanya wis kayak gitu, lha ini ditambah lagi mobil murah… Pak Gubernur kita ini bisa diibaratkan sedang menguras perahu bocor, tahu-tahu ditambah dibyu’i banyu teko nduwur (disiram air dari langit)… opo gak tambah mumet. Seharusnya jika tidak bisa membantu kebijakan beliau, minimal ya jangan ngrusuhi lah apalagi menambah beban…”

Pak Bos : “Betul Cho,.. Lamun Ibukota nu dipindah kumaha Cho, setuju teu maneh?”

Mr. Choro : “Ya setuju sekali Bos, Jakarta itu bisa diibaratkan sumbu obor kekuasaan yang menyala terang-benderang dan memancing laron-laron seluruh nusantara mendekat ke sana. Untuk memindahkan para laron itu logikanya kita harus memindahkan obornya, begitu tho…?”

Pak Bos : “Yap betul Cho… trus kok kenapa sampai sekarang gak ada pelaksanaannya. Mau nunggu apalagi? Dari dulu cuma wacana melulu gak ada realisasinya”

Mr. Choro : “Lebih baik mana Bos, memindahkan Ibukota negara atau menunjuk Kota Pemerintahan baru selain Jakarta?”

Pak Bos : “Teuing lah yang penting mah Judulnya Ibukota pindah. Mau ibukota yang diganti atau isinya yang pindah keur aing mah sami wae… alias sama saja”

Mr. Choro : “Ibukota kan simbol negara bos, itu menjadi ibu yang mewakili kota-kota lainnya di Indonesia. Kalau kota pemerintahan ya tempat untuk mengatur jalannya roda pemerintahan negeri ini. Meskipun ibukota dipindah tapi kalau kota pemerintahannya tetap di Jakarta, kayaknya laron-laron itu tetap mengerubungi apinya dan bukan obornya…”

Pak Bos : “Kalo gak ada obornya trus apinya mau di taruh dimana Cho, di kepalamu? sudahlah jangan bermain istilah, yang penting kamu tahu to apa maksudku?”

Mr. Choro : “He he… iya ya bos, anggap saja kota pemerintahan yang dipindah. Hal itu sampai sekarang belum bisa dilaksanakan mungkin karena uangnya belum ada. Memindahkan ibukota atau kota pemerintahan itu bukan persoalan sepele. Ini adalah proyek besar yang perlu dana besar dan melibatkan hal-hal yang sangat besar”.

Pak Bos : “Tapi kan bisa direncanakan dulu meskipun pelaksanaannya bertahap, dikonsepkan dulu… dipelajari kelayakan daerahnya, amdalnya, tata kotanya, infrastruktur apa saja yang perlu dibangun, dan lain-lain… jadi minimal ada bagan atau maketnya dulu lah…”

Mr. Choro : “Ya jangan tanya saya Bos, aku yo ra ngerti… tapi kalau menurutku sih anggaran tetap menjadi kendala utama dalam merealisasikan rencana tersebut”.

Pak Bos : “Oke Cho… mari kita asumsikan duit alias anggarannya ada, menurutmu pulau mana yang paling cocok untuk dijadikan ibukota atau kota pemerintahan baru? Kita kan punya pulau-pulau besar. Ada Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua”

Mr. Choro : “Kalau menurut Pak Bos sendiri pulau mana yang cocok?”

Pak Bos : “Kalau menurutku sih Kalimantan Cho. Di sana lahannya masih luas dan juga masih sepi, posisinya di tengah-tengah Indonesia. Hal lainnya di sana juga jarang ada bencana alam seperti gempa bumi atau gunung meletus seperti di pulau-pulau lain yang berada di tepi lempeng tektonik, lha kalau kamu?”.

Mr. Choro : “Kalau aku Kota Pemerintahannya pindah ke laut aja Bos…”

Pak Bos : “Maksudmu?”

Mr. Choro : “Ya ke laut… di atas kapal”

Pak Bos : “Wah kamu itu kalo punya angan-angan mbok ya jangan kepanjangan gitu to Cho… yang bisa dinalar. Berkhayal ya berkhayal, mimpi ya mimpi… tapi jangan kebablasan gitu lah…”.

Mr. Choro : “Kebablasan apanya Bos. Namanya juga mimpi. Lagi pula asumsi kita tadi kan uang atau anggaran tidak jadi masalah. Jadi ngapain nanggung-nanggung. Lagipula mimpi saya itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan mimpinya orang-orang di luar sana. Mimpi saya itu masih di atas bumi. Seharusnya kita menyadari bahwa di saat kita masih sibuk dengan tanah di bawah telapak kaki kita ini, orang di luar sana sudah bermimpi tentang masa paling lalu dan masa paling depan. Bermimpi tentang inti bumi terdalam sampai ke luar angkasa. Berkhayal tentang planet lain, tata surya lain, bintang lain, galaxy lain. Saat kita baru bisa mewujudkan gambar di layar monitor berupa sinetron atau film picisan yang tidak jelas apa tema dan nilai edukasinya bagi rakyat ini, mereka sudah bisa menghidupkan dinosaurus yang telah punah berjuta tahun lalu di taman Jurrasic, melukiskan bagaimana serunya pemandangan di bawah lempeng bumi dalam Journey to the Center of The Earth, menggambarkan perseteruan robot-robot mobil Autobots dan Decepticon dari planet Cybertron, mengirim avatar ke planet Pandora yang banyak air terjun melayangnya dan berisi makhluk-makhluk tinggi berwarna biru bernama Na’vi, membuat pesawat lintas galaxy berkecepatan cahaya bernama USS Enterprise di Star Trek, menampilkan dahsyatnya pertarungan antara Jedi dan Sith dengan pedang bersinar Lightsaber di Star Wars, bercerita tentang pertempuran Riddick dari kaum Furyan melawan kaum Necromonger di dunia Underverse. Dan masih banyak sekali mimpi-mimpi lain yang entah kapan menjadi kenyataan… Jika di alam kenyataan sekarang kita sudah kalah, masak di alam mimpipun kita kalah juga… he he”

Pak Bos : “Wah koen kayaknya penggemar berat film fiksi ilmiah ya Cho…, okelah kalo begitu. Jika kita belajar sejarah, semua perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada sekarang bermula dari mimpi, khayalan dan angan-angan. Dahulu mungkin tak ada yang pernah membayangkan bahwa manusia bisa terbang, bisa saling bertatap muka dan berkomunikasi meski jaraknya berjauhan, dan sebagainya, namun semuanya itu sekarang menjadi kenyataan. Terlepas itu mimpi atau tidak, apa pertimbangannya kota pemerintahan Indonesia di pindah ke laut ehm… ehm.. ke atau di laut he he…?”

Mr. Choro : “Kita ini negara maritim bos, dua pertiga wilayah kita adalah lautan… tidak salah jika mulai melirik atau mengalihkan pandangan ke sana. Hal lainnya adalah jika kita sekarang mau mengamati perkembangan zaman di tataran global maka kita telah memasuki apa yang disebut sebagai era kecepatan, era bergerak atau era mobile. Dinamika dan perubahan berlangsung begitu cepat. Seakan-akan baru kemarin kita melihat nokia dan blackberry berada di puncak kejayaan, sekarang sudah mau roboh. Hal-hal yang prosesnya perlu waktu lama pada zaman dahulu, saat ini hanya butuh waktu singkat. Kita berangkat dari Jakarta ke Surabaya hanya butuh waktu satu sampai dua jam via pesawat, bandingkan dengan kalau via darat dengan kereta api. Kita dahulu mengirim surat lewat kantor pos meskipun pake super express atau kilat khusus tetap saja paling tidak sehari baru sampai, sekarang dengan sekali klik ‘kirim’ saja dalam sekejap mata sudah sampai tujuan dimanapun berada.

Artinya apa? Jika Ibukota atau kota pemerintahan sekarang dipindah ke tempat baru, maka tidak perlu waktu lama kita harus berencana untuk memindahkannya kembali karena situasi dan kondisi yang ada di Jakarta sekarang juga akan dialami oleh Ibu Kota baru tersebut. Jika Jakarta perlu lima puluh tahun untuk menjadi macet, maka kota yang baru nanti mungkin hanya perlu sepuluh atau dua puluh tahun untuk bernasib seperti Jakarta. Daripada kita pusing memikirkan pindah-pindah ibukota, sekalian saja kita buat ibukotanya mobile, atau bisa dipindah setiap saat. Setahun, setengah tahun, atau tiga bulan sekali mangkal di Pulau Jawa, lanjut ke Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sumatera, Maluku dan lainnya.

Teknologi informasi dan komunikasi yang ada sekarang juga sudah mendukung. Ada satelit, internet, dan lain-lainnya. Untuk mengendalikan pemerintahan, Presiden kita nanti tidak perlu harus bertemu dengan bawahannya. Cukup via telefon, video converence atau video call… jadi dimanapun berada tetap mampu memonitor kerja para punggawanya. Beliau juga bisa tenang dalam memimpin negara karena tidak lagi dipusingkan oleh yang namanya kemacetan karena di laut anti macet, kalau mogok mungkin iya”.

Pak Bos : “Bikin kapal itu itu tidak murah Cho.. apalagi kapal raksasa dijadikan sebagai kota pemerintahan, belum lagi bahan bakarnya, kita ini mau hemat BBM kok malah bikin kota bergerak segala”

Mr. Choro : “Lha tadi kan kita sudah sepakat uang ndak jadi masalah to Bos…He he, karena itu kapalnya harus bertenaga nuklir, jadi sekali isi bahan bakar bisa dua puluh tahun atau tiga puluh tahun baru isi kembali. Kita kan punya ahli nuklir banyak. Biar tersalurkan keahliannya makanya bikin proyek itu, jangan proyek PLTN di Jepara. Ya ditentang lah oleh sebagian besar masyarakat lokal. Kalau bikin PLTNnya di kapal siapa yang mau menentang?”

Pak Bos : “Yo wis Cho… cukup mimpinya, mari kita kembali ke alam kenyataan, jadi intinya semuluk-muluk apapun rencana dan keinginan, semua akan tetap terbentur oleh keterbatasan uang, biaya, dana, anggaran atau apapun namanya, jadi gak salah kan kalau saya cari uang banyak …”

Mr. Choro : “Ya gak salah Bos, makanya saya perlu belajar kepada Pak Bos bagaimana cari uang yang halalan, toyyiban, katsiron, mubarokan… tapi bagaimanapun saya tetap berprinsip bahwa uang adalah alat dan bukan sasaran, ketika kita terlalu fokus pada alat maka terkadang sasarannya yang justru meleset, maka mari kita fokus pada sasaran dan alatnya dilirik-lirik saja…”

Indonesia dan Kutukan “Sang Trident Warrior”

Indonesia Merdeka dan Bersatu

Alkisah …

Ada sebuah bangsa bernama Nusantara yang tiga setengah abad lamanya dijajah oleh bangsa asing. Selama ratusan tahun pula bangsa itu terus berjuang membebaskan dirinya dari penjajahan namun tanpa hasil. Putra-putri Nusantara mulai menyadari bahwa perjuangan secara kedaerahan dan terpecah-pecah menjadi penyebab semua kegagalan itu. Karena itu persatuan dan kesatuan dijadikan sebagai senjata terampuh untuk mengusir penjajah dari muka bumi Nusantara. Semangat Sumpah Pemuda digelorakan. Di dalamnya berisi tekad para pemuda bahwa mereka adalah satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia.

Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa yakni diuntungkan oleh kondisi para penjajah yang mulai terkuras energinya akibat perang dunia, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan dan berkebangsaan yang bebas, perjuangan dan pergerakan itu mulai menampakkan hasil. Sang Proklamator, Sukarno-Hatta atas desakan para pemuda Indonesia yang gagah berani, memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Sungguh saat-saat yang membahagiakan setelah sekian lama menunggu dan mendamba-dambakannya.

Namun rupanya, perjuangan itu ternyata tidak berhenti sampai di situ. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan untuk menggapai cita-cita luhur bangsa masih terus berlangsung dan menghadapi berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam. Rintangan luar datang dari mantan sang penjajah yang tidak terima begitu saja Indonesia menjadi bangsa meredeka. Kok enak, kata mereka.

Terjadilah berbagai serangan dan agresi militer dari sang mantan penjajah. Darah para pahlawan kusuma bangsa kembali tertumpah di pertempuran Surabaya, Yogjakarta, Surakarta, Semarang, Bandung, Ambarawa, dan kota-kota lainnya. Tokoh-tokoh bangsa ditangkap dan dipenjara.

Adanya semangat pantang menyerah serta atas desakan dari komisi dari PBB akhirnya perselisihan itu berakhir di meja perundingan. Berbagai perundingan digelar, Linggar Jati, Reville, Roem-Royen, KMB. Akhirnya sang mantan penjajah mengakui kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, meski kondisinya masih compang-camping karena Irian Jaya dan Timor Timur belum bergabung dan menjadi target berikutnya.

Sementara itu gangguan dari dalam negeri juga tak kalah dahsyatnya. Tepat sekali pernyataan Bung Karno yang mengatakan bahwa perjuanganku lebih mudah karena melawan bangsa asing, perjuanganmu nanti lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. Banyak pemberontakan terjadi di seantero negeri. Perlawanan yang muncul dari yang merasa tidak puas dan tidak sehaluan dengan saudara-saudara mereka sebangsa. Partai-parti politik dengan bermacam ideologi berseteru menuntut eksistensi. Persatuan dan kesatuan yang menjadi senjata ampuh dalam memperoleh kemerdekaan terancam dirobek-robek oleh anak bangsa sendiri.

Gerakan 30 september terjadi. Jendral-jendral TNI menjadi korban. Pak Karno merasa berada di persimpangan jalan. Berniat ingin merangkul semua golongan tapi rakyatnya malah saling berbaku hantam mengancam persatuan padahal persoalan ekonomi masih menjadi beban yang tak ringan. PKI dianggap sebagai biang keladi semua persoalan. Massa menuntut dibubarkan. Lagi-lagi darah anak bangsa tertumpah karena perseteruan dan perselisihan antar sesama saudara. Sungguh tragis. Mungkin sudah takdir Ilahi perjalanan sejarah Nusantara harus melalui jalan itu.

Lahirlah Supersemar meskipun keberadaannya masih diragukan. Pak Harto diserahi tanggung jawab sebagai pengendali keadaan. Pidato pertanggungjawaban Pak Karno tidak diterima anggota dewan. Pak Karno pun akhirnya lengser dari kursi kepresidenan.

Terima kasih Bung Karno, Hatta, Syahrir, Jendral Besar Sudirman beserta seluruh pejuang dan pendiri bangsa lainnya. Engkau telah berhasil memerdekakan dan mempersatukan Nusantara, meski perjuangan belum selesai.

Indonesia Berdaulat.

Era Orde Baru lahir dengan Presiden Suharto sebagai pemimpin. Di Era ini semua pemberontakan mulai berhasil dipadamkan meski dengan cara-cara yang dianggap masih kontroversi sampai sekarang. Presiden yang baru harus menghadapi berbagai persoalan yang kompleks dan rumit di segala dimensi. Hal yang wajar karena NKRI masih bayi. Untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa, pemerintah orde baru merumuskan berbagai kebijakan di berbagai bidang antara lain Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan dan Keamanan.

Penanganan di bidang Ideologi, Pancasila dijadikan sebagai satu-satunya asas di segala aspek kehidupan. Untuk menghayati Pancasila disusunlah manual book berupa P4 atau Eka Prasetia Pancakarsa yang diharapkan menjadi pedoman rakyat di dalam hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. P4 ditatarkan dan dilombakan dimana-mana, dari tingkat sekolah dasar sampai ke tingkat perguruan tinggi. Tujuannya agar seluruh warga negara bermoral dan berbudi luhur sesuai ajaran Pancasila.

Di bidang politik Pak Harto tidak sreg dengan banyaknya jumlah partai politik yang berpotensi pula memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Karenanya partai-partai politik disederhanakan sehingga akhirnya tersisa hanya tinggal tiga. Golkar yang didukung oleh ABRI dan PNS menjadi pendukung utama pemerintah sehingga setiap pemilu selalu memenangkan suara dengan jumlah pemilih mayoritas. Dua partai politik lainnya seakan-akan hanya sebagai pelengkap dan penggembira di percaturan politik Indonesia.

Penanganan di bidang ekonomi merupakan hal yang paling menonjol di Era Orde baru. Pak Harto berkata mari kita menjadi negara Industri dengan belajar dari apa yang telah terjadi di dunia luar. Sebuah negara dikatakan maju bila memiliki industri maju pula. Anggaran dan pendapatannya dari mana? Sebagian besar didapat dari kerja sama dan utang luar negeri. Sesuatu yang wajar pula mengingat kondisi keuangan negara saat itu masih babak belur. Kekayaan alam yang melimpah serta penduduk yang luar biasa banyak menjadi jaminan.

Pemerintah orde baru membagi tahap-tahap arah pembangunan di dalam Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahunan). Dalam jangka panjang setelah dua puluh lima atau tiga puluh tahun diharapkan Indonesia akan menjadi negara maju dan sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Istilah lainnya Indonesia tinggal landas. Sama seperti pesawat yang siap melanglang buana.

Di awal-awal pemerintahan, urusan pangan menjadi persoalan serius. Bencana kelaparan terjadi di mana-mana akibat sering gagalnya panen atau lainnya. Banyak rakyat yang kurang gizi dan malnustrisi. Karenanya di awal-awal Repelita pembangunan di bidang pertanian menjadi prioritas. Alasannya sederhana, jangan bicara aturan jika berhadapan dengan orang yang lapar. Kenyangkan dulu rakyat jika ingin mudah mengaturnya. Program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian digalakkan. Perluasan lahan pertanian, pembangunan waduk dan bendungan, penemuan padi varietas unggul yang berumur pendek dan tahan penyakit, pemupukan, pengembangan insektisida pembasmi hama, dan lain-lainnya.

Untuk meningkatkan taraf hidup rakyat berbagai program pro rakyat seperti Empat Sehat Lima Sempurna, Imunisasi, PKK, Padat Karya, Posyandu, Keluarga Berencana, LKMD dan tak terhitung program-program pro rakyat sejenis. Untuk mencerdaskan anak bangsa berbagai program pendidikan digalakkan di seluruh pelosok negeri. Sekolah inpres dibangun. Ejaan Bahasa dan Sastra Indonesia disempurnakan. Program Kejar paket A, B, C diselenggarakan sampai tingkatan organisasi masyarakat paling bawah. Demikian pula kelompencapir (kelompok pendengar, pembaca, pirsawan) yang dilombakan di seantero negeri dan disiarkan di televisi pemerintah. Semuanya bertujuan untuk membasmi B3B, buta aksara, buta angka, buta pengetahuan dasar yang saat itu masih menjadi penyakit mayarakat.

Bagaimana dengan bidang pertahanan dan keamanan? Pak Harto berkata: “Anda ingin aman? Kebebasan anda harus saya batasi. Tidak mungkin anda meminta kedua-keduanya, karena kebebasan dan keamanan adalah laksana dua sisi mata uang yang menyatu tapi tidak bisa dihadapkan”. Kenyataannya memang hal itu tidak sepenuhnya salah. Karena itu kebebasan rakyat dibatasi. Konten berita, koran, majalah diseleksi, disortir dan diawasi. Yang tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat dibredel. TVRI dan RRI menjadi satu-satunya corong pemerintah.

Pertahanan dan keamanan dianggap sebagai hal yang tak terpisahkan, yakni agar negara dapat tahan dari gangguan luar maka harus aman di dalam. Karena itu integrasikan TNI dan Polri menjadi ABRI agar dapat menjadi stabilisator dan dinamisator. Hal lainnya adalah karena kedua lembaga itu sama-sama bersenjata, sangat berbahaya seandainya ada perseteruan.

ABRI dan Golkar menjadi komponen utama dalam mendukung segala kebijakan pemerintah. ABRI juga memiliki dwifungsi, berfungsi sebagai komponen pertahanan dan keamanan untuk menjaga kedaulatan negara dan ketertiban masyarakat, namun juga menjalankan fungsi sosial politik yang ikut serta dalam percaturan politik di Indonesia. Semula bertujuan agar tentara dekat dengan rakyat dan dapat mendukung semua kebijakan pemerintah.

Masih ada satu pekerjaan rumah yang belum terselesaikan terkait wilayah kedaulatan NKRI di perairan. Setelah kemerdekaan, wilayah laut RI masih menganut ordonansi belanda (TZMKO) sehingga luas laut hanya diukur sejauh 3 mil laut dari pantai. Artinya masih banyak kantong-kantong laut bebas atau laut milik seluruh penghuni bumi di dalam NKRI. Dipelopori oleh deklarasi Djoeanda yang telah ada jauh sebelumnya, disahkanlah UNCLOS 1982 yang mengakui Indonesia sebagai negara kepulauan atau Archipelagic State dengan laut yang ada di dalam pulau-pulau terluar sebagai wilayah yurisdiksinya. Lengkaplah sudah wilayah Indonesia di Darat, Laut dan Udara sehingga muncullah Wawasan Nusantara, yang artinya cara pandang bangsa Indonesia di dalam melihat diri dan lingkungannya di segala bidang. Laut dianggap sebagai pemersatu pulau-pulau di Indonesia, dan bukannya pemisah. Wawasan Nusantara menjadi salah satu materi ajaran wajib di penataran P4.

Program pembangunan yang jelas dan terarah serta didukung oleh pendapatan negara yang berlimpah baik dari hutang yang dihaluskan istilahnya menjadi bantuan luar negeri ditambah hasil dari ekspor minyak bumi yang sedang booming di seluruh dunia, pembangunan Indonesia mengalami kemajuan sangat pesat dan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat. Daya beli masyarakat meningkat. Sandang, pangan dan papan serta kebutuhan pokok terjangkau oleh rakyat. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, sekolah dan tempat ibadah, bendungan, sarana dan prasarana terlaksana dengan baik. Alutsista (Alat Utama dan Sistem Senjata) militer dibeli dan dimodernisasi sehingga tidak kalah dengan negara tetangga. Stabilitas dan Keamanan dalam negeri terjaga. Indonesia menjadi menjadi macan Asia yang disegani dan diperhitungkan keberadaannya di tingkat Regional maupun Internasional.

Predikat sebagai Bapak Pembangunan pun melekat di dalam diri Bapak Presiden Suharto. Meskipun di samping itu masih banyak pihak-pihak yang merasa diperlakukan tidak adil karena terbelenggu kebebasannya.

Wolak-walike zaman

Terlalu lama Pak harto memegang pucuk pimpinan. Pak Harto sudah bosan. Namun para punggawanya masih tetap menginginkan pak Harto bertahan dengan alasan penggantinya tidak ada yang relevan. Pak Harto pun memaksakan diri mengikuti apa kata kawan dan tetap bertahan.

Zaman berubah. Pemerintah Orde Baru terlambat menyadari keadaan. Era Industri di tataran global yang telah berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun sedang menanti detik-detik akhir kejayaan. Era Teknologi Informasi dan Komunikasi sedang berproses menggantikan Era Industri. Penemuan dan perkembangan produk-produk teknologi microprocessor berukuran nanometer buatan Intel, Samsung, AMD, nVidia, Aple dan lain sebagainya serta barang-barang perangkat lunak buatan Microsoft, IBM, Oracle, dan benda-benda IT menandai datangnya era baru itu. Jumlah kekayaan tokoh-tokoh dunia penghasil produk-produk teknologi informasi dan komunikasi mulai mengalahkan para juragan dan taipan pemilik industri konsumsi.

Globalisasi melanda dunia. Siapa yang menguasai informasi maka ia menguasai dunia menjadi slogan. Semua orang haus dengan kecepatan. Produk dunia digital berupa televisi, komputer, telefon seluler, telepon pintar, internet yang berisi bermacam-macam konten dan lain-lainnya berkembang luar biasa dan membuat bumi seakan-akan menyempit menjadi seluas rumah tinggal dengan IT sebagai atapnya. Batas-batas negara sudah tidak ada artinya. Masyarakat global dapat saling terhubung, berkomunikasi dan berbagi segala macam informasi multimedia. Apa yang sebelumnya dapat dibungkam tak bisa lagi disembunyikan, termasuk korupsi yang dilakukan oleh kroni-kroni Pak Harto yang dianggap sudah kelewatan.

Perubahan era memicu krisis moneter global yang imbasnya dirasakan langsung oleh Indonesia. Proses menjadi negara maju berbasis negara industri akhirnya mandek di tengah jalan. Nilai rupiah terpuruk terhadap dolar Amerika. Ekonomi Indonesia yang disokong oleh utang mencapai titik nadir. Demonstrasi dan kerusuhan massal menggila di Ibukota. Para pemuda yang waktu kecilnya telah dididik dan dicerdaskan dengan segala program pendidikan dan kebudayaan ala Orde Baru menuntut sudah saatnya Pak Harto harus turun tahta. Krisis ekonomi, korupsi dan kebebasan berpendapat dijadikan alasan.

Pak Harto akhirnya pun legowo dan bersedia lengser keprabon.

Setelah tiga puluh tahun berkuasa akhirnya Era Orde Baru berakhir. Indonesia tinggal landas itu tinggal kenangan. Pesawat andalan orde baru yang sedang bersiap-siap take off dari landasan justru akhirnya tergelincir, terjungkal dan hancur berkeping-keping.

Terima Kasih Pak Harto, engkau tetap Bapak Pembangunan. Atas jasa engkaulah kami para pemuda ini akhirnya memperoleh kecerdasan dan pendidikan sehingga dapat memahami banyak hal meski pada akhirnya engkau yang harus menanggung akibatnya. Bukan engkau yang salah, tapi zaman yang berkata lain dan mengharuskan engkau menjadi Satrio yang mukti wibowo di sepanjang hidup namun harus kesandung kaki dan kesampar muka di akhir hayat. Sungguh tak terbayangkan seandainya Bapak tidak legowo mundur lalu mengerahkan aparat negara untuk berdiri di depanmu dan berhadapan dengan rakyatmu. Mungkin ceritanya akan lain.

Era Reformasi bergulir…. Selamat datang Era Kebebasan.

Era reformasi memberi ruang kebebasan yang sangat lebar. Masyarakat Indonesia yang sekian lama merasa terbelenggu kebebasannya ibarat ayam lepas dari kurungan lalu berlarian ke sana kemari dengan euforia. Segala sesuatu yang dilarang di zaman orde baru mulai bebas dilakukan.

Pancasila tak lagi menjadi satu-satunya asas. Program P4 dihapuskan di semua lini. Semua orang bebas berpendapat dan berbicara. Organisasi-organisasi masyarakat dengan berbagai macam ideologi mulai berani tampil ke permukaan. Partai-partai politik bermunculan bak jamur di musim hujan. Pemilihan langsung dilaksanakan dari tingkat Presiden sampai Bupati. Media massa menjadi raja. Dunia pers bebas menyuarakan segalanya. Fungsi sospol ABRI dihapus. Polisi terpisah dari ABRI. TNI dianggap terlalu kebablasan dalam mencampuri urusan pemerintahan sipil, karena itu kembalikan ke barak, alias ke fungsi utamanya sebagai kekuatan pertahanan. Keamanan dan ketertiban masyarakat kembalikan ke Polri.

Rupanya kebebasan itu mahal harganya. Sama seperti kata Pak Harto. Anda tidak mungkin minta kebebasan dan keamanan dua-duanya sekaligus. Mana yang ingin anda korbankan atau minimal anda gadaikan?

Kembali ke masa Kejayaan Orde Baru…

Sore itu wajah Pak Harto nampak sumringah. Segalanya berjalan sesuai harapan. Di sela-sela keberhasilannya menata pembangunan di seantero negeri, kabar baik lain datang dari delegasi Indonesia di Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Konvensi tersebut menyetujui dan mengesahkan usulan Indonesia yang mengklaim bahwa sebagai sebuah negara yang secara geografis berbentuk Kepulauan atau Archipelagic State, sudah seyogyanya perairan yang ada di antara pulau-pulau adalah menjadi teritorial negara. Adanya persetujuan itu berarti secara fisik, wilayah Nusantara sudah benar-benar menyatu. Pulau-pulau Nusantara dipersatukan oleh laut. Tidak ada lagi kantong-kantong laut bebas di dalam negara. Dengan adanya konvensi itu juga, luas wilayah yurisdiksi nasional berlipat ganda. Ini adalah prestasi diplomasi kelas dunia…, gumamnya.

Sementara itu… di alam dimensi lain… yang tak diketahui siapapun… termasuk saya…

Peristiwa lainnya terjadi di bawah laut. Tersebutlah sosok Penguasa Lautan berjuluk “Poseidon” ala mitologi Yunani, “Dewa Neptunus” ala mitologi Romawi, “Sang Ksatria bertrisula” ala ramalan Jayabaya, atau julukan keren ala saya “Sang Trident Warrior”. Poseidon adalah salah satu dari tiga bersaudara yang terdiri dari “Zeus”, Sang “Lightning Warrior/Penguasa Udara” karena bersenjata “petir” dan “Hades” Sang “Penguasa Daratan” yang bersenjata “Garpu Dwisula”. Saat itu ia sedang duduk di singgasananya didampingi “Dewi Amfitride” sang permaisuri tercinta sambil menggenggam senjata saktinya,  sebuah “Trisula”.

Ketika Pak Harto sedang menerima laporan tentang laut di dunia nyata, hal yang sama terjadi di dunia mitos. Sang Trident Warrior juga sedang menerima laporan dari punggawanya si “Davy Jones” yang isinya adalah bahwa Indonesia telah menguasai laut nusantara secara fisik. Setelah mendengar laporan itu Poseidon terdiam sejenak lalu bertitah kepada Davy Jones : “Oke bro aku akan mendatanginya”.

Pada suatu hari Pak Harto sedang memancing di Teluk Jakarta menggunakan KRI Barakuda kesayangannya. Setelah lelah seharian memancing, Pak Harto bersantai sambil tiduran di kabin kapal. Antara tidur dan terjaga Sang Poseidon menemuinya dan terjadilah dialog dua orang penghuni alam nyata dan alam mitos ini.

“Halo Bro apa kabarnya?” Sapa sang Poseidon.

“Halo juga Bro kabar baik, bagaimana sebaliknya?” Jawab Pak Harto.

“Kabar baik juga, selamat ya bro njenengan sudah resmi menjadi keluarga besar warga maritim”.

“Terima kasih bro, itu adalah prestasi terbesar di eraku, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Ada apa gerangan njenengan menemuiku di sini ?” tanya Pak Harto .

“Ada pesan yang ingin aku sampaikan, bro” jawab Poseidon.

“Apa itu?” tanya Pak Harto.

“Begini bro…, sesuai dengan isi undang-undang yang telah disusun oleh para pendahulu njenengan, proses perjalanan bangsa ini adalah Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur.  Di bawah kepemimpinan Brur Karno Indonesia merdeka dan bersatu, di bawah kepemimpinan Mas Bro Indonesia berdaulat, tinggal satu lagi langkah yang harus dilakukan supaya rakyat makmur. Mas Bro harus adil terhadap semua adil terhadap diri sendiri, keluarga, rakyat dan juga jangan lupa adil terhadap alam. Setelah berhasil mengelola pertanian Nusantara dan menjadi keluarga besar warga maritim, alias keluarga besar Poseidon, Mas bro juga mo mengarahkan negara ini menuju era industri. Yang namanya era industri itu Lautan sebagai penguasa Bro, setelah era nomaden dan pertanian yang Daratan sebagai penguasanya. Tahukah untuk apa Terusan Suez dan Panama dibangun? Gunakan laut untuk mengangkut bahan-bahan mentah atau bahan baku untuk proses Industri Mas Bro. Sebarkan pabriknya, jangan hanya produknya”

“Brooo, bro… era industri nusantara baru saja dimulai. Jangankan mau buat banyak pabrik, satu saja ini masih megap-megap. Nanti lah bro saya janji kalau industri-industri itu sudah mapan dan mencapai puncaknya, saya akan sebar mereka untuk pemerataan agar terjadi keadilan, tenang bro saya sudah menemukan konsep perjalanan pembangunan saya Namanya Trilogi Pembangunan, yaitu Pemerataan Pembangunan dan Hasil-hasilnya, untuk menuju Pertumbuhan Ekonomi yang Cukup Tinggi dan akhirnya terjadi Stabilitas Nasional yang Sehat dan Dinamis.

“Oke Bro saya tunggu janjinya, tapi hati-hati Mas Bro tanda-tanda perubahan zaman sudah mulai terasa, saudara saya Si “Zeus/Lightning Warrior” penguasa Udara dengan senjata petirnya sebentar lagi berkuasa,… kalau terlambat, Mas Bro sendiri yang akan menanggung akibatnya. Dan satu lagi Mas Bro adillah terhadap keluarga-keluarga Mas Bro, jangan sampai justru mereka yang nanti akan menjatuhkan njenengan

Pak Harto terbangun dan termangu, ah kayaknya itu hanya mimpi di siang bolong pikirnya…

Kutukan Sang Dewa.

Waktu demi waktu berlalu. Janji tinggal janji. Tidak ada tanda-tanda lautan digali potensinya untuk mendukung industri di dalam negeri. Pembangunan industri di Era Orde Baru tersentralisasi di Pulau Jawa, Jakarta khususnya. Semua pabrik di bangun seluruhnya di sana. Masyarakat pulau lain hanya dijadikan konsumen, dan tidak dilibatkan untuk proses produksinya. Keuntungan dari produk-produk itu kembali ke tempat asalnya. Hal itu menjadikannya sebagai gula yang memancing semut-semut mendekat dari penjuru nusantara. Urbanisasi pelan namun pasti mulai merajalela. Trasnsmigrasi tak ada gunanya.

Laut nusantara diacuhkan dan diabaikan. Meski demikian Poseidon hanya terdiam, sesunyi lautan nusantara yang sepi karena tak ada yang melewati. Jakarta dan kota-kota besar di Pulau Jawa mulai penuh sesak dan sumpek karena terjadinya penumpukan manusia. Kesemrawutan itu akhirnya menimbulkan berbagai permasalahan sosial. Persoalan yang awalnya dari daratan namun lautan harus ikut menanggung akibatnya. Lautan menjadi tempat bermuaranya sampah-sampah daratan.

Era reformasi dengan kebebasannya mulai memperparah keadaan. Sang Dewa yang semula diam meski di acuhkan keberadaannya, mulai merasa terusik dan terganggu ketika mendengar anak-anak muda Indonesia sambil berjingkrak-jingkrak menyanyikan lagu rap “cewek matre – cewek matre, gak ada otaknye, cewek matre cewek matre, ke laut aje…” Nyanyian-nyanyian sinis itu ternyata memiliki efek berantai dan berlanjut menjadi sebuah istilah dan slogan yang populer di mana-mana. Segala hal yang tidak sesuai dengan keinginan dilampiaskan dan ditumpahkan ke laut.

Orang pelit… ke laut aje,

Mau enak gak pake kerja… ke laut aje,

Lu nyang mukenye jelek ke laut aje,

Kalian-kalian yang sukanye alay, lebay, dan jablay…. ke laut aje,

&%#$#   @@$%#$%   ^^%$^&&&…. ke laut aje

Hilanglah kesabaran Sang Poseidon setelah menyaksikan semua itu. Matanya bersinar merah memancarkan kemarahan. Ia murka seraya berseru :

“Dasar manusia-manusia kurang ajar dan tidak tahu diri, cacing kremi, tikus got, kecoa kering, buaya buntung, keong racun, tokek belang, kutu busuk, … Silahkan mengacuhkanku tapi pelecehan seperti itu takkan lagi kuampuni. Para pendahulumu mati-matian berjuang ke seluruh dunia agar laut menjadi teritorial kalian, dengan entengnya kalian jadikan laut sebagai tempat sampah dan penampung barang-barang busuk lainnya…, tahukah kalian Era kejayaan Jalur Sutra yang telah berlangsung ratusan tahun saya tenggelamkan riwayatnya?”

Dengan geram, trident dalam genggamannya ia angkat tinggi-tinggi lalu dihunjamkan ke dasar samudera.

Zaman kalabendhu ala ramalan Jayabaya pun datang. Lempeng tektonik bawah laut bertumburan. Air laut ditumpahkan ke daratan berupa tsunami menghantam Aceh dan Yogjakarta. Manusia berhamburan menyelamatkan diri. Ratusan ribu korban jiwa bergelimpangan. Rententannya menggoyang daratan dan menimbulkan gempa bumi tiada henti, Lindu ping pitu sedina. Bengkulu, Yogja, Wasior, Padang, Aceh, Nias. Gunung-gunung yang semula adem ayem aktif kembali bahkan ada sebagian yang mulai memuntahkan laharnya, Merapi, Sinabung, Gede, Semeru, Lokon, Soputan, Gamalama, Rokatenda dan lain-lainnya. Lemah bengkah. Lapindo memuntahkan lumpurnya sehingga menenggelamkan ribuan rumah. Pageblug rupa-rupa, yen rendheng raiso cewok, yen ketigo raiso ndodok. Kekeringan, kebanjiran, kebakaran, tanah longsor, kelangkaan pangan dan bencana alam lainnya melanda, datang dan pergi silih berganti, manungsa pating galuruh merasakan kesengsaraan.

Awan hitam aura kutukan Sang Trident Warrior terus menyebar ke seantero negeri. Tak hanya di alam lahir, zaman kalabendu merasuk dalam sanubari putra-putri Ibu Pertiwi. Manungsa kadya gabah diinteri... (sebuah teknik Petani di Jawa untuk memisahkan bulir padi dengan sekam, krikil, dan sampah lainnya dengan cara memutar-mutarnya di atas tampah sehingga padi-padi yang bagus dan berisi yang di bawah sementara itu benda-benda tak berguna akan terkumpul di permukaan untuk dijumput dan dibuang).  Apakah itu bisa diartikan sebagai tanda bahwa yang tak berkompeten justru yang muncul ke permukaan menjadi pemimpin ksatria? Wallahu Alam

Wong bener thenger-thenger, yang benar termangu kehabisan kata-kata

Wong salah bungah-bungah, yang salah bersuka ria

Wong apik ditampik-tampik, yang baik malah tak diterima

Wong bejat munggah pangkat, yang bejat naik pangkatnya

Wong lugu kabelenggu, yang lugu tak berdaya

Wong culiko mulyo, yang curang meraih keuntungan

Wong jujur kojur, yang jujur justru sial yang menimpa

Ideologi tak jelas jati dirinya

Banyak yang mengaku beragama tapi tak memahami hakekatnya

Jualan ilmu tak menyadari salahnya

Waktunya menjadi pandita dan brahmana tapi tetap ingin menjadi ksatria

Padahal pendek sisa umurnya dan tinggal sedikit energinya

Merasa bisa, tidak bisa merasa

Bicara perubahan tapi tidak tahu akan berubah menjadi apa

Lentera menyala dimana-mana tapi kegelapan yang menimpa

Pemegang lentera ingin menjadi pemandu jalan

Pemandu jalan tak tahu arah dan tujuan

Kebingungan melanda Sang Ksatria Tidak tahu harus mengarahkan negeri ini kemana…

Pangkat, gelar dan jabatan hanya sebagai kulit tak diimbangi isinya

Berperan sebagai masinis kereta nusantara tapi laksana supir bus kebijakannya

Memerintah wilayah seluas nirwana tapi cara pandangnya hanya sedepa

Jalan darat terus di bangun tapi kemacetan tak bisa sirna…

Berbaju ksatria tapi berperilaku seperti sudra, peminta-minta

Hormat yang dihajat, malah hujat yang didapat

Dipuja-puja di awal, tapi dicaci maki di akhirnya

Pemilu hasilnya untuk pemilu juga

Ekonomi amburadul tak jelas hasilnya…

Harta dan tahta yang seharusnya alat dan proses dijadikan sasaran dan tujuan

Utang negara bukannya semakin lunas malah semakin berlipat

Yang kaya makin kaya karena si miskin yang menyumbangnya

Yang miskin makin miskin karena habis hartanya untuk yang kaya

Memadamkan api tapi tak diimbangi mencari airnya

Korupsi dan kriminalitas diberantas namun tak tak pernah tuntas

Yang seharusnya kebutuhan dijadikan keinginan

Yang seharusnya keinginan dijadikan kebutuhan

Yang instan dipuja

Yang tekun disia-sia

Impor menjadi solusi segalanya

Yang berdagang gembira

Yang mencipta merana

Produk-produk bajakan menjamur dimana-mana

Kutukan sang Poseidon terlihat mereda

Namun itu hanya sementara

Sampai Sang Ksatria benar-benar adil dan akhirnya dapat mewarisi senjatanya

Epilog

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa cerita di atas sebagian adalah murni rekaan dan fiksi meskipun mencantumkan kenyataan dan fakta sejarah di dalamnya. Seandainya ada kesamaan waktu dan tempat kejadian, hal yang sangat wajar seandainya pembaca beranggapan bahwa itu adalah suatu kebetulan semata serta hasil dari gothak gathik gathuk. Meski demikian tidak ada salahnya jika kita merenung sejenak dan bertanya dalam hati apakah semua kebetulan itu memang murni sebuah kebetulan? Tidak adakah kebenaran di dalamnya walau sedikit? Mungkinkah ada hal-hal tertentu yang senalar dengan akal sehat kita dan bisa dipetik untuk dijadikan solusi atas berbagai persoalan yang sedang dialami bangsa ini? Mengapa dalam ramalan Jayabaya tersebut Sang Ksatria bersenjata Trisula dan Ratu Adil yang akan mampu mengatasi persoalan bangsa ini? Mengapa bukan senjata-senjata lain misalnya keris, panah, tombak, badik, rencong, celurit, kujang, beladau, klewang, bendo, bedog, gaman, arit, tulup, pedang, pangot, pisau, lading dan senjata-senjata tradisional nusantara yang lain termasuk senjata dunia pewayangan yang lebih populer dari trisula contohnya Cakra, Nanggala, Pasopati, Pancanaka, Candrasa, Rujakpala dan lainnya? Apakah simbol-simbol itu ada makna tertentu di dalamnya?

Sambil merenung memikirkan pertanyaan-pertanyaan di atas, perlu disadari kembali bahwa sejarah dan perkembangan budaya suatu bangsa di seluruh dunia dari zaman ke zaman tak bisa lepas dari pengaruh kondisi lingkungan geografis tempat tinggal masyarakatnya. Salah satu lingkungan fisik yang pasti secara langsung berpengaruh terhadap peradaban suatu bangsa maritim adalah wilayah laut yang keberadaanya berdampingan dengan wilayah darat serta udara di atasnya. Di lingkungan masyarakat akademis sudah tak terhitung banyaknya artikel-artikel, naskah-naskah, makalah-makalah, buku-buku, opini-opini dan karangan-karangan ilmiah sejenis yang berisi tentang pentingnya makna laut bagi suatu bangsa serta banyaknya potensi yang bisa digali untuk memajukan negara dan memakmurkan rakyatnya. Karena itu arti penting laut bagi umat manusia sebenarnya sudah tidak diragukan lagi kebenarannya.

Demikian pula halnya dengan karya-karya sastra sebagai perwujudan olah rasa anak manusia. Sejak zaman dahulu manusia berusaha berkreasi dan berimajinasi untuk melukiskan isi hati dan kepalanya dalam bentuk cerita dengan menjadikan lautan sebagai tema. Tengoklah bagaimana laut telah menjadi sumber inspirasi di dalam legenda-legenda, cerita-cerita, dongeng-dongeng, kisah-kisah dan petualangan romantis di seluruh dunia dari zaman ke zaman. Cerita-cerita rekaan yang dibumbui mitos-mitos yang hanya ada di alam khayal kita contohnya cerita-cerita klasik yang sangat populer dan difilmkan oleh sineas Holywood seperti Sinbad, Pirates in The Caribean, The Perfect Storm, Treasure Islands, Master and Commander, Moby Dick, Popeye the Sailorman, Spongebob Squarepant, dan masih banyak lagi lainnya. Di luar itu, salah satu legenda yang sangat populer di dunia lautan dan tidak asing terutama di kalangan para pelaut adalah keberadaan Dewa Neptunus dalam mitologi Romawi, atau Poseidon dalam mitologi Yunani yang memiliki senjata sebuah trident atau trisula. Karena itu senjata Neptunus atau Poseidon tersebut juga dijadikan sebagai logo Komando Armada Republik Indonesia TNI Angkatan Laut.

Sebagai makhluk beragama dan dikaruniai akal sehat tentu sulit bagi kita untuk begitu saja mempercayai sesuatu apalagi yang berbau ramalan. Hal itu sama sulitnya dengan mempercayai kebenaran suatu cerita yang bertabur mitos di dalamnya. Sebuah ramalan baru bisa diyakini kebenarannya apabila isi ramalan itu memang sesuai kenyataan yang ada dan telah terjadi. Sama seperti Confucius yang mengatakan “I see and I believe” atau “saya melihat dan saya percaya”.

Dunia meramal dianggap sebagai sebuah kelancangan manusia yang merasa tahu akan kehendak Tuhan yang belum terjadi. Meski demikian jika kita mendalaminya lebih jauh, ramal-meramal sebenarnya melekat dan bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya jika pelaut sedang berlayar kemudian melihat barometer menunjukkan tekanan udara yang terus menurun disertai awan cumulus menggantung di cakrawala, maka ia dapat meramalkan bahwa tidak lama lagi akan terjadi cuaca buruk. Hal itu memberi waktu bagi si Pelaut untuk bersiap menghadapinya. Ia akan mengikat barang-barang yang mudah bergerak, merubah haluan ke arah aman dan lain-lainnya. Seorang dokter dapat meramal sisa umur pasien dari diagnosa yang dilakukannya terhadap pasien yakni kebiasaan hidupnya, pola makannya, riwayat penyakitnya dan lain sebagainya. Prediksi itu diharapkan dapat memberi peringatan kepada si pasien untuk segera mengubah gaya hidupnya agar lebih panjang umurnya. Kita menyekolahkan anak, merawatnya, mendidiknya karena sebuah kesadaran bahwa jika kita tidak melakukannya maka kita dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita di masa depan. Sebenarnya masih banyak contoh-contoh yang lain.

Meramal merupakan kemampuan seseorang untuk berolah rasa dalam menggali kemampuan potensi panca inderanya sehingga memiliki kepekaan di dalam membaca tanda-tanda, kecenderungan-kecenderungan, pola-pola kejadian yang pernah berlangsung di masa lalu, karena itu tiap-tiap orang memiliki pemahaman yang berbeda-beda tingkatannya. Semakin luas pengalaman seseorang, kewaskitaan, serta kebiasaan dalam menjalani lelaku bathin untuk mengasah naluri dan intuisi, maka semakin petitis (jitu) pula dalam hal weruh sakdurunge winarah (mengerti sebelum terjadi) yang terkadang dianggap sebagai hal yang tidak masuk akal oleh orang kebanyakan. Meskipun sebagai hamba Tuhan YME tentu segala hal di dunia ini tetap menjadi kodrat dan Iradat Sang Ilahi Allah SWT.

Sebuah ramalan tidak mungkin begitu saja muncul tanpa sebab. Apalagi jika itu dikemukakan oleh tokoh yang terkenal memiliki keistimewaan dan daya linuwih di masa lalu serta isinya memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi sekarang. Terlalu angkuh seandainya kita mengatakan semua itu berarti sama sekali, dianggap terjadi secara kebetulan karena tidak masuk di akal padahal bisa jadi anggapan seperti itu ada karena keterbatasan akal dan panca indera kita dalam memahami dan merasakan sesuatu.

Allah SWT telah menganugerahi bangsa ini dengan alam yang lengkap dibanding negara-negara lainnya. Kita memiliki darat, laut dan udara yang semuanya memiliki potensi yang luar biasa. Saat orang lain harus menunggu berbulan-bulan untuk menikmati musim panas atau dingin, kita tinggal pergi ke pantai jika ingin berpanas-panas atau ke puncak gunung untuk berdingin-dingin. Sebuah kejanggalan yang misterius jika bangsa kita mengalami berbagai persoalan hidup di segala dimensi seperti sekarang. Semua itu bisa jadi disebabkan karena ulah dan salah kita sendiri yang secara sadar atau tidak telah menyia-nyiakan bahkan cenderung melecehkan alam ini, padahal dalam agama sudah diperintahkan untuk Tafakkaruu fii Khalqillah, Walaa Tafaqqaru fii Dzaatillah, yang artinya jangan berhenti berfikir terhadap alam ciptaan Tuhan ini.

Minimnya petunjuk untuk mengatasi semua persoalan hidup membuat kita harus terus mencari solusi darimanapun sumbernya agar dapat dijadikan sebagai titik awal untuk mulai melangkah, termasuk sebuah ramalan sedandainya jika hanya itu yang ada. Ramalan Jayabaya yang mengatakan bahwa zaman kalabendu akan datang dan diakhiri oleh sang “Trident Warrior” atau “Ratu Adil”, hal tersebut mengandung sebuah perlambang yang bisa saja diartikan bahwa laut dan pemimpin yang adil terhadapnyalah yang akan menjadi solusi atas berbagai persoalan bangsa ini sehingga dapat disimpulkan bahwa jika Indonesia ingin lepas dari segala carut marut yang ada sekarang, mari kita berbuat adil untuk segalanya. Berbuat adil terhadap diri sendiri, sesama manusia, alam tempat kita hidup beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya dengan cara menempatkan sesuatu di tempat yang seharusnya. Menempatkan hal yang banyak-banyak di darat meskipun kecil, hal yang besar-besar di laut meskipun lambat dan hal yang cepat-cepat di udara meskipun sedikit, dengan demikian akan terjadi sinergi antar ketiga elemen itu.

Dengan bertitik tolak dari sana semoga alam akan bersahabat dan berharmoni dengan kita. Sang Trident Warrior akan mencabut kutukannya. Mewariskan Tridentnya kepada pemimpin-pemimpin besar yang bisa berpikir besar dan melahirkan hal-hal yang besar. Sesuai dengan sifat dan karakter lautan yang hanya cocok untuk menampung hal-hal yang besar.

Akhirnya, semoga di pemilu yang sebentar lagi datang dapat menjadi sarana untuk melahirkan pemimpin-pemimpin besar yang adil terhadap dirinya, rakyatnya dan terutama alamnya. Seorang tokoh yang mampu membawa negeri ini menuju kemakmuran bangsa, sehingga kita-kita orang biasa dari kalangan rakyat jelata ini bisa tersenyum bahagia, manakala menyaksikan anak dan cucu kita jelas dan benar masa depannya karena cahaya terang benderang dengan indah menyelimuti nusantara…

Wallahu Alam Bissawab

Wassalam Teluk Labuan Bajo, NTT

13 September 2013

—choromaster—

Jalur Pantura Bikin Sengsara, Solusinya? Ke Laut Aja…

Pak Bos : “Halo Cho… Baca koran kok karo mesam-mesem gitu tho, kayaknya ada sesuatu yang menarik”.

Mr. Choro : “Ini Lho Pak Bos, lagi baca komentarnya Mr. Pecut dari Jawa Pos, kata-katanya begini…Jalan Pantura Beres = Keajaiban dunia ke 8 ha ha…”

Pak Bos : “Iya Cho, jalan pantura lagi jadi sorotan nih… Bahkan kabarnya mulai jadi target penyelidikan KPK. Disinyalir ada yang nggak beres di sana. Lha wong perbaikan jalan kok udah bertahun-tahun nggak kelar-kelar, istilahnya jadi proyek abadi… Yang namanya proyek abadi seperti itu jelas rawan terhadap penyelewengan anggaran… wajar lah kalo rakyat ini bertanya-tanya ada apa dengan cinta eh… dengan jalan pantura itu…dan sekarang bau tak sedap itu sudah mulai tercium di mana-mana…”

Mr. Choro : “Mangkanya itu pak Bos, komentarnya Mr. Pecut itu kayaknya yen tak pikir-pikir ada benarnya juga, saya termasuk yang turut mengamati jalanan itu karena tiap kali mudik atau pas pulang kampung biasa melewatinya. Yen tak rasakan juga sudah bertahun-tahun lalu sampai saya lupa kapan mulainya yang jelas sudah lamaaa sekali kok perbaikan, rusak lagi, perbaikan lagi, rusak lagi begituuu terus, entah kapan selesainya… entah berapa triliun duit rakyat habis untuk jalan itu… Kita itu memang susah ya belajar dari pengalaman, padahal ada peribahasa katanya keledai saja takkan terantuk untuk yang kedua kali… masak kita menghadapi permasalahan yang sama tiap tahun… Gak ketemu nalar memang…

Gara-gara perbaikan itu, beberapa waktu yang lalu pas saya lagi pulang kampung, Pantura muacetnya luar biasa Bos, sampai berpuluh-puluh kilo… Padahal udah saya niati berangkatnya malam-malam biar lancar, eh ternyata tetap kena macet juga… awalnya sih pengin jadi pengendara yang baik dan taat aturan ikut jalur kiri dan ngantri di belakang para monster-monster truk gandeng, trailler, dan tronton itu… lha kok tak tunggu-tunggu berjam-jam gak jalan-jalan, tak amat-amati supir truk di depan saya matikan mesin trus tertidur … ngorok lagi…., janc** tenan bos, Wah kalo ngikuti truk-truk itu bisa-bisa tiga hari baru sampai rumah saya… akhirnya terpaksa langgar aturan juga… tancap gas ambil jalur kanan sambil ketar-ketir dipisuhi dan dipelototi lampu dim kendaraan yang datang dari arah berlawanan… ampun deh bos… untung aja selamet…

Pas pulangnya saya coba melewati jalur alternatif dan ternyata jalan tersebut yang sebulan sebelumnya hanya sedikit kerusakan di beberapa titik tertentu ternyata juga rusak parah… hancur semua karena dilewati oleh kendaraan yang bukan kelasnya. Rupanya para sopir kendaraan berat itu pun berpikiran sama seperti saya mencoba melewati jalur alternatif… betul-betul ruwet bos…”

Pak Bos : “Yen menurutmu masalahnya di mana Cho, jalan pantura kok jadi kayak gitu itu… diperbaiki tapi gak baik-baik…?”

Mr. Choro : “Kalo menurut saya kayaknya masalahnya ada di Pak Bos dan bolo-bolonya itu dech”

Pak Bos : “Waa lha mulai ngawur kowe… menyalahkan saya, apa hubungannya Cho antara saya sama jalan pantura…”

Mr. Choro : “Pak Bos ini sebagai Bos besar yang punya perusahaan-perusahaan besar, ngomong-ngomong merasa gak kalo armadanya Bos si Truk gandeng, trailler, tronton sama kendaraan berat lainnya itu yang bikin rusak jalan?”

Pak Bos : “Lha itu bukan urusan saya to Cho… Kendaraan-kendaraan berat, panjang dan lebar itu kan untuk efisiensi dan efektivitas distribusi produk-produk saya… bayangkan seandainya untuk mengirim barang-barang saya yang jumlahnya bejibun itu pake mobil box kecil, truk engkel atau pick up… jelas tidak ekonomis sama sekali dari segi BBM, ongkos supir, perawatan kendaraan dan lain-lainnya?”

Mr. Choro : “Di situlah letak penyakitnya Bos… keuntungan usaha pak Bos dari penggunaan kendaraan berat pembikin rusak jalan itu akhirnya harus ditanggung oleh pemerintah dengan menghabiskan duit triliunan rupiah tiap tahun untuk merawat dan memperbaikinya, kalimat lainnya keuntungan pak Bos itu sebenarnya dibayar oleh seluruh rakyat Indonesia gak peduli kaya atau miskin…

Bukankah itu namanya sangat tidak adil?… Masak pak Bos yang sudah kaya raya ini ditomboki oleh orang-orang pas-pasan seperti saya… Pak Bos ndak malu apa…

Pak Bos : “Lha aku kan sudah membayar pajak Cho untuk perbaikan jalan itu tho…”

Mr. Choro : “Maksud pak Bos ndak apa-apa ngrusakin jalan? toh sudah bayar untuk memperbaikinya gitu? Kata-kata pak Bos itu memang ada benarnya dan itu pula yang menjadi sebab awal adanya proyek abadi dan menjadi biang penyelewengan pajak, pendapatan dan belanja negara…”

Pak Bos : “Kayaknya analisamu itu perlu dibuktikan dulu itung-itungannya,… okelah kalau memang kendaraan berat itu yang bikin rusak jalan, berarti kualitas jalannya yang harus diperbaiki… Gimana kalo pake beton semua biar kuat selama puluhan tahun kayak jalan tol …”

Mr. Choro : “Betul Bos, jalan pake beton memang awet… tapi berapa biayanya? Meskipun saya bukan insinyur teknik sipil tapi saya tahu biaya pembuatan jalan beton itu pasti sangat-sangat luar biasa mahal… , Lagi pula membangun jalan beton ribuan bahkan  jutaan kilometer di seluruh Indonesia itu mau butuh waktu berapa lama… Lha wong jalan tol di Pantura yang jaraknya cuma ratusan kilometer aja bertahun-tahun nggak kelar-kelar, bayangkan kalau ditambah lagi dengan jalan-jalan di pulau-pulau lain selain Jawa, sampai kiamat kali kita sibuk terus bangun jalan… Beigitu di akhirat bisa dipisuhi dan disumpahi  sama anak-cucu kita nanti….,

Saat ini kebutuhan rakyat kita ini bukan hanya jalan saja bos… masih banyak kebutuhan lain misalnya pertanian, perumahan, pendidikan, kesehatan, pertahanan dan keamanan dan lain-lainnya. Kalau kekayaan negara kita tak ada batasnya sih gak apa-apa, semua bisa dibeli. Lha masalahnya kan kekayaan dan anggaran negara kan terbatas, sudah gitu dikorupsi lagi.  Gak papa sih kalo Bos yang mau nanggung biaya pembangunan dan perbaikan jalan yang bos lewati itu, bukan dari pajak seluruh rakyat rakyat karena memang pak Bos yang tukang ngerusaknya… he he..”

Pak Bos : “Trus idemu seperti apa kalo bukan membangun jalan beton…?”

Mr. Choro : “Ini analisa lagi bos.. bisa bener bisa tidak, karena memerlukan penelitian lebih lanjut… Untuk mengatasi keruwetan di jalan pantura yang macet, rusak, jadi proyek abadi dan lain-lainnya memang kembali lagi kita harus berpikir lebih luas, dalam dan panjang dalam mengamati situasi dan kondisi yang terjadi dengan tak lupa pula melihat kondisi statis maupun dinamis yang mempengaruhi. Berpikiran sempit dan  jangka pendek memang mudah dan jelas menghasilkan keuntungan pribadi lebih besar. Misalnya jalan rusak… perbaiki saja, lumayan ada proyek to… Penyeberangan Merak – Bakauheni macet… gampang… bangun jembatan saja, kekurangan daging sapi, beras, sembako… impor saja. ..

Jalur pantura macet… dan rusak,  bangun dan perlebar lagi jalannya… Kayaknya gak perlu sekolah, title dan gelar tinggi-tinggi kalau hanya bisa berpola pikir seperti itu bos, semua orang juga bisa… wong memang sederhana dan  jelas keliatan …”

Pak Bos : “Trus strateginya piye menurutmu?”

Mr. Choro : “Berbicara tentang strategi maka hal itu tak akan terlepas dari yang namanya keterbatasan. Secara umum dapat dikatakan bahwa strategi adalah skill untuk mengelola keterbatasan, karena jika semuanya tak terbatas maka tak perlu lagi ada strategi. Bahasa mudahnya kalau kita punya sumber daya berlimpah tentu semua masalah relatif gampang untuk diatasi. Di situlah letak seninya.

Untuk mengatasi masalah kemacetan dan perbaikan di Pantura mari kita mencoba melihat dari dasar lagi yakni bentuk geografis negara kita.  Kita bisa saja membangun jalan sekuat-kuatnya dan selebar-lebarnya kalau bentuk negara kita ini bukan negara kepulauan. Di negara yang berbentuk benua atau kontinental, hal tersebut dapat dimaklumi karena memang sarana alam yang ada yang hanya lewat daratan.

Negara kita ini kan terdiri dari beribu-ribu pulau lengkap dengan laut yang mempersatukannya. Seharusnya semua yang kita miliki dioptimalkan potensinya agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya. Bukan hanya daratan saja yang kita jadikan sebagai sarana transportasi utama tetapi laut dan udaranya juga. Contohnya tengoklah ke masa lalu saat masih berlakunya Repelita ala Orde Baru. Repelita satu pertanian, dua pertanian, tiga pertanian… Laut sama sekali tak pernah jadi perhatian…  Itu sama saja tidak adil terhadap alam… dan jangan menyalahkan siapapun ketika kita sekarang  seakan-akan sedang diadili dan dikutuk olehnya…

Padahal yang namanya laut itu Bos… Jalanan alami tidak perlu banyak keluar duit, alias tidak perlu pembangunan, tidak perlu perbaikan, tidak perlu perawatan ala daratan, tidak perlu penerangan lalu lintas, tidak ada persimpangan jalan, tidak perlu banyak-banyak rambu-rambu lalu lintas, tidak perlu polisi lalu lintas apalagi polisi cepek, tidak perlu polisi tidur… kecuali ombak bos…, dan keistimewaan-keistimewaan lainnya. Tinggal pemanfaatannya yang harus disesuaikan dengan peruntukannya agar sesuai dengan karakteristik dan keistimewaannya tersebut.”

Pak Bos : “Peruntukannya bagaimana maksudmu?”

Mr. Choro : “Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menyinergikan wahana darat, laut dan udara yang kita miliki sesuai potensi terbesarnya. Keistimewaan utama laut dibandingkan daratan adalah gaya gravitasi sudah tidak berlaku di sana, alias terhalang oleh hukum pengapungan benda Archimides. Karena itulah di laut tidak mengenal batas ukuran, pak Bos mau bikin kapal segedhe Gunung pun masih tetap terapung asalkan kedalamannya memenuhi syarat… dengan kata lain biarkan alam sendiri yang akan membatasinya.

Jika kita mengacu kembali rumus dasar fisika tentang momentum yaitu elemen jumlah, ukuran dan kecepatan… maka jika pak bos ingin bermain untuk material yang berukuran besar, ya di laut tempatnya… jangan di darat, karena di negara kepulauan, alat transportasi darat berukuran besar itu namanya sudah menyalahi kodrat, menantang alam, melawan gravitasi, merugikan pengguna jalan lainnya termasuk membuang-buang anggaran yang tidak perlu seperti perbaikan abadi di jalan Pantura. Prinsip transportasi darat untuk negara kepulauan adalah silahkan sebanyak-banyaknya tetapi relatif kecil-kecil saja, sesuai dengan bentuk negaranya. Lagi pula membangun jalan yang lebar-lebar di pulau-pulau kita yang ukurannya relatif kecil-kecil jelas akan mengurangi ruang untuk kita hidup dan tinggal…

Jika kita di laut kita bermain yang kecil-kecil meskipun jumlahnya banyak, itu juga namanya melawan alam. Contohnya nelayan kita yang menggunakan perahu-perahu kecil untuk menangkap ikan, kehidupannya pas-pasan terus tanpa akhir karena aktivitasnya sangat tergantung cuaca.

Jadi intinya dari pembahasan panjang lebar itu Bos… Untuk mengatasi permasalah jalan pantura memang harus berpikir secara holistik dan menyeluruh. Tidak bisa sepotong-sepotong hanya membahas tentang satu hal dan satu aspek. Karena banyak hal yang saling terkait dan mempengaruhi. Percayalah Bos… jika kita adil terhadap alam, maka alampun  akan memberikan balasan yang sama kepada kita…”

Pak Bos : “Lha mosok kayak gitu aku yang harus memikirkannya Cho,… ngurusi buruh naik UMR aja wis mumet ndasku… Kan seharusnya yang menjalankan roda pemerintahan di negeri ini yang menyusun semua arah dan konsep pembangunan bagaimana baiknya”

Mr. Choro : “Pernyataan Pak Bos betul sekali… seharusnya pemerintah yang memikirkan, merencanakan dan merealisasikan bagaimana seharusnya sarana transportasi darat, laut dan udara dapat bersinergi di Indonesia… Negara kita tercinta ini… , karena itu memang tugas dan tanggung jawab mereka…

Semua itu sekadar saran dan pendapat Bos…, jika menurut para cerdik pandai di negeri ini tidak mungkin dilaksanakan karena berbagai pertimbangan… ya mungkin awak ini yang masih harus banyak belajar dan menambah wawasan… namanya juga konsep dan wacana, bisa benar bisa salah… Kita hanya mencoba untuk berpikir global dan beraksi lokal. Yang penting kita masih mau berpikir untuk kebaikan bangsa ini dan demi masa depan anak cucu kita kelak…

Sementara ini  yang paling mudah untuk dilakukan ya mengikuti nasehat Ustadz Aa Gym tentang manajemen Kalbu… “Mulailah hal yang baik dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulailah dari sekarang”

Karena bangsa yang besar terdiri dari pribadi-pribadi dan individu-individu yang besar pula…”

peace…