Tag Archives: kebiasaan fitri

Fiqih Praktis : Bab 4 – Beberapa Kebiasaan Fitri (Sunan Al-Fithrah)

   Allah SWT telah memilihkan beberapa kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh para nabi, terutama yang berkaitan dengan kebersihan lahir dan batin, lalu menganjurkan agar kita mengikuti mereka dalam kebiasaan-kebiasaan seperti itu. Agar hal itu menjadi syi’ar dan ciri khas para pengikut para nabi itu, serta memilahkan mereka dari kelompok-kelompok manusia selain mereka. Kebiasaan –kebiasaan ini disebut sunan-Al-fithrah, antara lain sebagai berikut :

1.  Khitan.

Khitan (atau sunat) ialah memotong kulup atau kulit yang menutupi ujung kemaluan laki-laki, agar terhindar dari berkumpulnya kotoran di bawah kulup, dan memudahkan pembersihannya setelah buang air kecil (kencing). Sebagian besar ulama mewajibkannya atas setiap laki-laki muslim, sebaiknya sebelum usia baligh, ketika kewajiban shlat mulai berlaku atas seseorang.

Adapun tentang khitan bagi perempuan (dengan melukai sedikit dari bagian atas kemaluannya) tidak ada hadis shahih yang memerintahkannya. Karenanya, sebagian ulama masa kini menganggapnya sebagai suatu tindakan sewenang-wenang terhadap perempuan, mengingat hal itu hanya menimbulkan gangguan yang tidak perlu. Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, Jilid I, hlm 33 dan Mahmud Syaltut, Al-Fatwa, hlm. 330.

Menurut Dr Alwi Shihab dalam kumpulan tulisannya berjudul, Islam Inklusif, tradisi khitan bermula pada Nabi Ibrahim a.s. sebagai simbol ikatan perjanjian suci (mitsaq) antara dia dan Allah Swt. Ia dipahami terutama oleh para penganut Koptik Kristen dan Yahudi bukan hanya sebagai suatu proses bedah kulit bersifat fisik semata, tetapi menunjuk kepada arti suci dan esensi mendalam lagi suci. Ia juga melambangkan pembukaan tabir kebenaran dalam ikatan perjanjian suci yang diikat antara Allah SWT dan Nabi Ibrahim, yang kemudian diikuti oleh para pengikutnya. Selanjutnya, mereka mempertautkan antara khitan dan izin pembacaan kitab suci Taurah. Hal ini menandakan bahwa sebelum seorang mencpat ‘kartu pengenal’ (‘stempel’ Tuhan berupa khitan) untuk memasuki suatu daerah, ia tidak diperkenankan memasuki kawasan suci Kalam Ilahi dalam rangka perjumpaan dengan Tuhan, sebelum melakukan simbol ikatan suci tersebut. Demikian menurut para penafsir Perjanjian Lama (Genesis 18:1). Tradisi khitan ini mencakup juga kaum perempuan Yahudi pada masa itu, untuk dapat juga mengikat perjanjian suci seperti kaum prianya. Karenanya, khitan adalah kehormatan bagi yang melaksanakannya (baik laki-laki maupun perempuan). Ini mungkin tak ubahnya seorang Muslim tidak diperkenankan menyentuh Al-Quran sebelum memenuhi persyaratan kesucian (paling tidak, berwudhu) sebagaimana pendapat sebagian ulama.

2.  Merapikan Rambut dan Memelihara Janggut.

Menyisiri rambut dan meminyakinya; menggunting atau merapikan kumis bagi laki-laki serta memelihara janggut secara wajar (tidak mengguntingnya sangat tipis dan memeliharanya sangat lebat). Begitulah kebiasaan yang dianjurkan sesuai Hadis Nabi Saw.

Dirawikan oleh Malik, dari ‘Atha’ bin Yasar r.a bahwa seorang laki-laki datang menghadap Nabi Saw. dengan rambut dan janggut yang kering dan acak-acakan (tidak tersiri rapi); maka Nabi Saw. mengisyaratkan kepadanya agar merapikan rambutnya itu. Tidak lama kemudian orang tersebut datang lagi dalam keadaan yang rapi, dan Nabi pun bersabda, “Bukankah yang seperti ini lebih baik daripada jika seseorang dari kalian datang dengan rambut y ang acak-acakan seperti setan?”.

Dirawikan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa nabi Saw. pernah bersabda, “Bedakanlah diri kalian dari kaum musyrikin. Biarkanlah (yakni peliharalah) janggut dan rapikanlah kumis kalian!”. Berdasarkan ini, sebagian ulama menyatakan bahwa memelihara janggut adalah wajib hukumnya atas laki-laki Muslim. Namun sebagian lainnya berpendapat bahwa hadis tersebut hanya mengandung anjuran saja, sesuai dengan adat kebiasaan waktu itu. (Lihat Mahmud Syaltut, Al-Fatawa, hlm 227)

3.  Memotong Kuku dan Menghilangkan Bulu-bulu yang Mengganggu.

Dianjurkan memotong kuku setiap kali mulai memanjang (paling lama, sekali seminggu). Dan dianjurkan pula menghilangkan bulu-bulu di bawah lengan dan di bawah pusar dalam waktu yang sesuai, (sebaiknya tidak lebih lama dari empat puluh hari). Tidak ada ketentuan khusus tentang cara menghilangkannya, boleh dengan mencukurnya atau menggunakan bahan tertentu.

4.  Membiarkan Uban dan Mengubah Warnanya.

Dianjurkan pula membiarkan (yakni tidak untuk mencabuti) uban atau rambut putih, di kepala atau janggut. Dirawikan oleh Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: “Jangan mencabuti uban, sebab ia adalah cahaya bagi seorang Muslim. Tak seorang Muslim tumbuh ubannya dalam Islam kecuali Alah akan mencatatkan baginya satu pahala kebaikan, meningkatkan derajatnya dan menghapuskan baginya satu dosa kesalahan.

Jika ingin, boleh juga mengubah warnanya, dengan warna kuning atau merah (kecoklatan), tetapi sebaiknya tidak dengan warna hitam. Kecuali bagi mereka yang akan berangkat ke medan perang, atau  menurut sebagian pendapat dibolehkan bagi yang masih berusia muda. Batasan tentang ini berdasarkan adat kebiasaan setempat.

Dirawikan oleh Jabir r.a bhwa Abu Quhafah (ayah dari Abubakr Ash-Shiddiq r.a) dibawa menghadap Rasulullah Saw. pada hari pembebasan Kota Makkah; rambut kepalanya putih seperti kapas. Maka Rasulullah memerintahkan agar diubah warna rambutnya itu, tetapi bukan dengan warna hitam. Dari hadis ini, dan beberapa hadis lainnya, sebagian ulama hanya membolahkan pengubahan warna rambut dengan warna selain warna hitam. Tetapi sebagian ulama lainnya, menganggap bahwa pelarangan tersebut hanya khusus berlaku bagi orang-orang lanjut usia seperti Abu Quhafah, karena tidak pantas bagi seorang seusianya. Al-Ghazali, misalnya, berpendapat bahwa pengubahan dengan warna hitam, adalah makruh (tidak disukai atau kurang afdhal).

Dirawikan pula bahwa tidak sedikit dari kalangan para sahabat Nabi Saw. yang menggunakan warna hitam untuk mengubah warna rambutnya (Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah), I/35 dan An-Nawawi, Al-Majmu’, I/322)

5.  Memakai Wangi-wangian.

Dianjurkan bagi laki-laki, memakai wangi-wangian, terutama pada hari Jum’at dan hari-hari raya. Yaitu pada waktu berkumpulnya khalayak di masjid atau tempat-tempat pertemuan lainnya.

Bagi kaum perempuan dianjurkan memakainya terutama di rumahnya sendiri, dan di antara keluarganya atau di antara sesama wanita. Sedangkan di luar itu, hendaklah mereka menyembunyiakn aroma wangi-wangian tersebut, kecuali sekadarnya saja, semata-mata demi menghindari bau tak sedap seandainya ada. Hal ini demi menjaga keselamatan dan kehormatan dirinya, dan agar tidak timbul fitnah (gangguan atas dirinya sendiri ataupun masyarakat sekitarnya).

6.  Bersiwak atau Menggosok Gigi.

Dianjurkan membersihkan gigi setiap kali diperlukan, dan lebih dianjurkan lagi ketika hendak wudhu, shalat, membaca Al-quran, ketika bangun tidur dan ketika terasa ada perubahan bau mulut walaupun ketika sedang puasa.

Menggosok gigi boleh dengan apa saja yang mampu mengilangkan kotoran atau sisa makanan, seperti sikat gigi dan sebaginya. Namun yang lebih afdhal ialah dengan menggunakan batang siwak (kayu tertentu yang baunya harum dan biasanya tumbuh di negeri Hijaz). Hal ini mengingat banyaknya hadis Nabi Saw. yang sangat mengajurkannya.

Dirawikan  dari Aisyah r.a bahwa Nabi Saw. Bersabda, “Siwak menyebakkan kebersihan mulut dan kridhaan Tuhan, “ Demikian pula Bukhari dan Muslim merawikan sabda Nabi Saw., “Seandainya tidak akan memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap shalat.”

Sebagian Ulama menyatakan bahwa bersiwak bagi orang yang sedang berpuasa, adalah makruh (tidak disukai). Lebih-lebih setelah waktu Dhuhur. Hal ini mengingat adanya hadis Nabi Saw., “Bau mulut seorang yang sedang puasa, lebih harum di sisi Allah daripada harumnya misk” (HR Bukhari dan Muslim). Akan tetapi Tirmidzi merawikan dalam kitab kumpulan haditsnya, bahwa Asy-Syafi’i (rahimahullah) tidak menganggap ada keberatan bagi seorang yang sedang puasa untuk bersiwak, baik di pagi hari maupun sore harinya. Berkenaan dengan keterangan populer ini, An-Nawawi menyatakan bahwa pendapatnya ini tidak pupuler meski lebih kuat ditinjau dari segi dalilnya. Dan itulah pula pendapat yang menjadi pilihannya seta banyak ulama lainnya. Adapun yang dimaksud oleh hadits di atas, adalah ditinjau dari segi pahala puasanya itu di akhirat kelak, seperti yang dijelaskan dalam hadis lainnya yang dirawikan oleh Muslim, bukannya semata-mata membiarkan bau mulut seperti itu. Apalagi jika sampai mengganggu orang lain (Lihat An-Nawawi, Al-majmu’ I/310)