Tag Archives: istinja

Fiqih Praktis : Bab 3. Adab Buang Air (Qadha’ Hajat)

Seorang Muslim dituntut untuk selalu menjaga kesopanan dalam segala tindakannya sehari-hari, termasuk dalam hal qadha’ hajat (buang air besar dan kecil). Antara lain, sebagai berikut :

    1. Sebaiknya tidak membawa sesuatu yang bertuliskan nama Allah SWT (seperti cincin atau kalung yang berbentuk atau berukir nama Allah) ke WC kecuali jika khawatir akan rusak atau hilang.
    2. Menghindar atau menjauh dari khalayak, di saat buang air, agar tidak tercium bau atau terdengar suara oleh mereka. Kecuali dalam ruangan yang memang disediakan untuk itu (WC atau Kakus).
    3. Hendsaknya memilih tempat yang rendah atau lunak, agar tidak terkena percikan najis.
    4. Apabila terpaksa buang air di tempat terbuka, jangan menghadap kiblat ataupun membelakanginya. Kecuali dalam ruangan WC yang memang telah dibangun secara permanen menghadap atau membelakangi kiblat.
    5. Jangan buang air di liang binatang (agar terhindar dari gangguannya) atau di jalan manusia atau tempat berteduh (agar tidak menjadi sasaran umpatan dan cacian mereka).
    6. Jangan buang air dalam genangan air yang biasa digunakan untuk mandi, atau kolam air yang berhenti ataupun yang mengalir, agar tidak mengotorinya dan mengganggu orang-orang lain.
    7. Janga kencing sambil berdiri, karena selain dapat terganggu oleh percikannya, juga karena hal seperti itu dianggap tidak sopan. Kecuali di tempat yang tertutup dari pandangan orang.
    8. Jangan berbicara apapaun, atau menyebut nama Allah, berzikir, membalas ucapan salam, menirukan ucapan penyeru azan, dan lain-lain sebagainya, ketika sedang buang air besar maupun kecil. Kecuali mengucapkan sesuatu yang sangat perlu, misalnya untuk memperingatkan orang buta dan sebagainya.
    9. Jangan membuka aurat di tempat terbuka, sebelum duduk atau sebelum berada di ruangan WC yang tertutup.
    10. Sebelum memasuki WC (atau bersiap-siap untuk buang air apabila di tempat terbuka), hendaknya membaca :  
    11. Bismillah Allahumma inni a’udzu bika minal-khubutsi wal-khaba-its (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala kektotoran dan gangguan. 
    12. Setelah selesai buang air (besar atau kecil), wajib ber-istinja’; yakni membersihkan anggota tubuh bersangkutan dan sekitarnya yang terkena najis, dengan air atau tiga helai kertas tissu atau atau tiga buan benda (atau sebuah yang bersisi tiga atau lebih) yang keras, suci, kesat dan mampu menghilangkan bekas kotoran. Akan tetapi perlu diingat bahwa ber-instinja’ dengan tissu atau benda keras hanya boleh dilakukan sebelum kotoran menjadi kering, dan tidak mengenai selain tempat keluarnya saja. Apabila kotoran atau bekas kencing telah mengering, atau mengenai selain tempat keluarnya, maka tidak cukup ber-istinja’ dengan benda keras, melainkan hanya dengan air.
    13. Ber-istinja’ hendaknya menggunakan tangan kiri, sebab tangan kanan sebaiknya digunakan untuk memegang benda-benda yang bersih dan terhormat saja. Demikian itu seperti diperintahkan dalam hadis Rasulullah.
    14. Selesai ber-istinja’ hendaknya mencuci tangan dengan sabun atau pembersih lainnya, untuk menghilangkan sisa bu yang mungkin masih melekat padanya.
    15. Hendaknya mendahulukan kaki kiri ketika masuk WC dan kaki kanan ketika keluar, sambil mengucapkan : Ghufranaka. Alhamdulillah alladzi adz-haba ‘annial-adza wa ‘afani. (Ampunilah kami, ya Allah. Segala puji bagi Allah yang telah mengilangkan gangguan dari diriku serta memberiku keselamtan dari penyakit.