Tag Archives: ipa

Hitam-Putih, Adam-Hawa

Sebagian besar penganut agama Samawi/Abrahamik (Islam, Kristen dan Yahudi) tentu percaya dengan keberadaan dan Adam dan Hawa, bapak dan ibu seluruh umat manusia meskipun teori Darwin juga menyatakan bahwa manusia adalah hasil dari keturunan kera yang berevolusi akibat seleksi alam,

Bagi kita yang percaya tentang keberadaan Adam dan Hawa, pernahkah kita ada rasa penasaran tentang bagaimana rupa Bapak dan Ibu kita itu? Bagaimana bentuk anatomi tubuh, ciri-ciri fisik, warna kulit dan dan ciri-ciri lain dari rupa mereka?

Benarkah rupa fisik Ayah Ibu kita seperti tampak dalam ilustrasi-ilustrasi yang selama ini pernah kita kita lihat, seperti contoh-contoh lukisan berikut ini? (Maaf… ini bukan porno, gunakan sebagai media pembelajaran)

Adam-and-Eve.jpg

adam_hawa_pophjon_kuldi.jpg

t17334-adam-and-eve-tintoretto.jpg

Apakah penggambaran Adam dan Hawa di atas sesuai dengan Ilmu Pengetahuan Modern? Mari kita bahas satu-persatu.

Kita dapat mengetahui masa lalu dari apa yang ada dan terjadi di masa kini. Pada pelajaran Biologi SMA, mereka yang mengambil jurusan IPA tentu pernah belajar tentang hukum persilangan genetika ala Biarawan Mendel dan sifat-sifat yang diwariskan kepada keturunannya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa menurut Mendel, sifat-sifat yang dimiliki oleh keturunan makhluk hidup tidak akan terlalu jauh menyimpang dari Induk jantan dan betina mereka, kecuali karena adanya kelainan atau mutasi genetis.

image_thumb_17_.png

Karena itu  dapat disimpulkan bahwa penggambaran sifat-sifat fisik Adam dan Hawa seperti terlihat di atas jelas bertentangan dengan hukum yang ada di Ilmu Biologi itu. Penggambaran Adam dan Hawa seperti di atas menurut saya cenderung karena imajinasi pelukisnya yang mungkin karena ia adalah seorang ‘bule’.

Setelah menyaksikan lukisan di atas sambil mengingat kembali pelajaran biologi SMA, setidaknya ada beberapa hal yang mungkin patut kita pikirkan dan tanyakan. Seandainya rupa fisik Adam dan Hawa adalah ‘bule’ seperti di atas, bukankah seharusnya rupa fisik kita sekarang juga tidak jauh berbeda dengan rupa Ibu dan Bapak kita itu? Bukankah seharusnya seluruh manusia sekarang bersifat fisik ‘bule’ seperti mereka?

Lalu mengapa kenyataan yang ada sekarang berbeda? Mengapa manusia sekarang sebagai keturunan Adam dan Hawa memiliki sifat-sifat yang bervariasi dan beraneka ragam? Mengapa kita saat ini ada yang berkulit hitam, setengah hitam, sawo matang, setengah putih, putih. Ada yang rambutnya keriting dan lurus, ada yang matanya sipit dan tidak, ada yang berbibir tebal dan tipis dan lain sebagainya?

Bagaimana jika dilihat dari segi agama? Adakah keterangan di dalam agama/kitab suci yang dapat dijadikan petunjuk namun juga sesuai dengan ilmu pengetahuan modern?
Sebagai muslim, saya tidak tahu gambaran Adam dan Hawa menurut agama selain Islam. Karena itu pada artikel kali ini saya hanya ingin mencoba menjelaskan bagaimana rupa Adam dan Hawa berdasarkan petunjuk yang ada dari kitab suci yang saya yakini yaitu Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW.

Di dalam kitab suci Alquran memang tidak secara spesifik menjelaskan bagaimana rupa Adam dan Hawa, namun demikian ada ayat-ayat tertentu yang menjelaskan secara cukup jelas tentang bagaimana rupa Bapak dan Ibu moyang kita itu. Hasilnya juga menakjubkan karena memang tidak bertentangan dengan ilmu biologi yang pernah kita pelajari. Mari kita bahas satu persatu.

1. Segala ciptaan asal muasalnya adalah berpasangan.

Sebelum kita membahas tentang rupa Adam Hawa, ada baiknya terlebih dahulu kita mendalami ayat Al Quran yang menjelaskan bahwa asal muasal makhluk di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Dalil-dalil tersebut antara lain sebagai berikut :

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (QS. Az-Dzaariyaat : 49)

“Dan Dia telah menurunkan dari langit air maka Kami keluarkan dengannya berpasang-pasangan dari tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam (warna dan rasa)” (QS.Thaahaa : 53)
“Dan dari segala buah-buahan Dia menjadikan padanya berpasang-pasang dua” (QS.Ar-Ra’d : 3)

¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.¨(QS. Yaa Siin:36).

‘Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” (QS. An Nahl :72).

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syuro:11)”

Kata ‘BERPASANGAN’ menjadi kata kunci dari dalil-dalil tersebut di atas, karena itu mari kita fokus pada kata penuh makna tersebut.  Dua benda dikatakan berpasangan bukan berarti karena kembar, melainkan karena memiliki sifat dan karakter yang meskipun berlawanan, namun saling menyatukan, menggenapi dan melengkapi satu sama lain agar tercapai harmoni, keselarasan dan keseimbangan alam. Contoh-contoh pasangan misalnya ada angka Nol-Satu (bilangan biner), ada Hitam-Putih (warna), ada Bass-Treble (untuk frekuensi nada/suara), ada Aksi-Reaksi (gaya), ada Gelap-Terang (cahaya), ada Jantan-Betina (jenis kelamin), ada kutub Positif-Negatif (magnet/listrik), ada Mangsa-Predator (rantai makanan), ada Yin-Yang (filosofi Tiongkok) dan tentu saja masih banyak contoh pasangan-pasangan lain yang jika dirunut lagi semua pasangan-pasangan itu akhirnya menjadi sebuah pasangan utama dari sifat keILAHIan, hanya levelnya pada tingkat ciptaan, yakni ADA TIADA, HIDUP MATI.

Jika kita perhatikan, semua yang tampak berwarna-warni sebenarnya asal muasalnya adalah pasangan. Contohnya apa yang kita lihat berwarna-warni pada cahaya pelangi sebenarnya berasal dari dua pasang warna cahaya yaitu terang – gelap (additif) atau hitam – putih (substraktif) cahaya matahari yang setelah dibiaskan oleh titik hujan atau kaca prisma (Saya tidak tahu apakah karena hal tersebut maka simbol ‘One-eye/matahari’ dan ‘piramida/prisma’ dijadikan sebagai simbol/logo oleh kaum Freemasonry atau Illuminati).

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagai asal muasal nenek moyang manusia yang hidup di muka bumi yaitu Adam dan Hawa semestinya adalah dua manusia yang memiliki sifat dan karakter yang berpasangan agar menghasilkan keturunan yang bervariasi seperti sekarang. Jika kita memperhatikan lagi lukisan Adam dan Hawa di atas, maka jelas dapat disimpulkan bahwa pasangan dari sifat-sifat ras manusia tidak tampak di sana, kecuali hanya pasangan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan).

2. Warna Kulit Adam dan Hawa.

Sepanjang sejarah warna kulit telah dijadikan sebagai elemen ‘pembeda’ ras utama bagi manusia. Selama itu pula jutaan jiwa manusia melayang sia-sia akibat kekonyolan dan sikap rasis yang tidak jelas apa untungnya itu. Karena itu warna kulit menjadi sifat utama yang perlu diketahui terlebih dahulu sebelum sifat-sifat yang lain. Jika kita telah mengetahui warna kulitnya, ciri-ciri tubuh yang lain Insya Allah lebih mudah kita prediksi.

Untuk menghasilkan variasi warna kulit seperti sekarang, Adam dan Hawa seharusnya memiliki warna kulit yang berlawanan namun berpasangan. Kulit hitam dan putih menjadi pasangan yang paling masuk akal yang selama ini kita kenal. Tentu saja warna hitam dan putih di sini bukan seperti definisi warna-warna ala kode heksadesimal di bahasa HTML/web, apalagi kode RGB atau CMYK di ilmu desain grafis, melainkan sesuai persepsi mata kita tentang warna hitam-putih pada kulit manusia.

Jika demikian lalu di antara mereka berdua siapa berkulit putih dan siapa yang hitam?

Mari kita perhatikan ayat Al-Quran dan hadits berikut ini.

“Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah (32) : 7)

“Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur HITAM yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr (15) : 26)

Dari beberapa dalil di atas ada dua hal pokok terkait dengan bahan-bahan untuk penciptaan manusia pertama yakni Adam yaitu tanah dan hitam. Berdasarkan ayat tersebut kita tidak perlu menafsirkan terlalu dalam untuk menyimpulkan bahwa jika bahan-bahan untuk penciptaan Adam adalah tanah liat kering yang berasal dari lumpur HITAM. Karena itu bukankah pilihan warna paling masuk akal untuk melukiskan warna kulit Adam adalah warna hitam (warna hitam tanah liat seperti ras negro) dibandingkan dengan warna lainnya? Akal kita tentu lebih menerima warna hitam dari pada warna putih untuk sesuatu yang dibuat dari bahan yang berwarna hitam. Karena itu jelaslah bahwa Adam seharusnya berkulit hitam, dan bukan seperti terlukis dalam ilustrasi di atas.

Bagaimana dengan warna kulit Hawa?Karena warna kulit Adam sudah ketemu, tentu saja warna  kulit hawa adalah kebalikan dari hitam alias pasangannya yaitu warna putih. Benarkah itu dan kalau putih seputih apa?

Perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut: “Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR. Bukhari-Muslim)

Seandainya pun  hadits itu tidak disebutkan, sebenarnya kita semua tentu sudah familiar bahwa wanita pertama alias Hawa adalah tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Karena terbuat dari tulang, maka entah secara tersurat atau tersirat tentu dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat Hawa juga takkan jauh dari bahan pembuatnya, yakni tulang. Jika demikian apa warna kulit Hawa? Sesuai dengan warna tulang bukan? Adakah tulang yang berwarna  selain putih?

3.  Ciri-ciri lainnya.

Di dalam hukum Mendel juga mengenal dominansi sifat. Yaitu sifat-sifat tertentu menjadi dominansi gen tertentu. Jika warna kulit Adam dan  Hawa sudah diketahui maka sifat-sifat lainnya dapat dicari. Kita tinggal mencari sifat-sifat pasangannya. Contohnya sifat rambut. Jika ada dua macam jenis rambut yaitu lurus dan keriting, maka kita tinggal lihat kondisi sekarang. Siapakah yang dominan memiliki rambut keriting? Mereka yang berkulit hitam ataukah yang berkulit putih? Contoh lainnya adalah pasangan untuk mata bundar dan sipit. Siapakah yang dominan memiliki mata sipit? Mereka yang berkulit hitam ataukah yang berkulit putih? Hal tersebut juga berlaku untuk sifat-sifat lainnya. misalnya tubuh tinggi atau tidak tinggi, rambut pirang atau hitam, hidung mancung atau lengkung, bibir tebal atau tipis, dan sifat-sifat lainnya.

Jika kita sudah dapat mengelompokkan sifat-sifat itu maka hasil akhirnya kita dapat menentukan bagaimana ciri-ciri Adam dan Hawa dan sifat-sifat pasangan mereka serta dapat juga mengetahui bangsa mana di dunia ini yang cederung memiliki sifat fisik mirip dengan bapak moyang kita kita, bangsa mana yang cenderung memiliki sifat fisik mirip dengan ibu moyang mereka dan siapa yang memiliki keduanya.

EPILOG.

Adakah pelajaran yang dapat diambil dari artikel di atas seandainya itu benar? Mungkin tidak banyak. Tapi jika kenyataan itu benar adanya dan seandainya seluruh manusia di muka bumi ini menyadari bahwa kita adalah keturunan dari ibu dan ayah yang sama apapun rasnya, kita mungkin akan lebih merasa sebagai satu saudara. Takkan ada lagi bangsa atau golongan tertentu yang mengklaim sebagai pemilik ras lebih unggul daripada manusia atau bangsa lainnya. Tak ada lagi perang dunia yang disebabkan oleh mereka yang merasa memiliki ras lebih hebat dari yang lain seperti yang telah terjadi di masa lalu dan menjadi cikal bakal dua  perang dunia. Dengan kesadaran itu semua manusia dari berbagai bangsa dan golongan tak peduli ras apapun akan saling bantu-membantu, berbagi,  tolong menolong, toleransi di dalam semua perbedaan yang ada. Karena pada hakekatnya kita adalah satu saudara seayah dan seibu, Adam dan Hawa…

Wallahu Alam Bissawab…