Tag Archives: hukuman mati

TKI dan Indikator Keberhasilan Pembangunan.

4b9784612d173b77f90a0cf8b28b87f5_2009-06-04_rawan_bencana_kepadatan_penduduk_bnpb-585x413

Pak Bos : “Cho cho…”

Mr. Choro : “Ya Bos.”

Pak Bos : “Baru-baru ini media diramaikan oleh berita Tenaga Kerja Wanita Indonesia di luar negeri yang divonis mati karena kasus pembunuhan. Sebagai pengganti hukuman mati, pihak keluarga korban bersedia menerima diyat atau uang tebusan. Jumlahnya luar biasa nggilani karenamencapai puluhan miliar rupiah. Pemerintah pun tidak tinggal diam dan bersedia mengeluarkan anggaran negara untuk membayarnya meskipun tidak sebesar nominal yang dituntut. Sebagian masyarakat Indonesia yang prihatin dengan kasus tersebut tersentuh hatinya dan bersedia memberikan sumbangan untuk membantu menambah jumlah uang tebusan. Namun demikian ada beberapa pihak yang tidak setuju pemerintah mengeluarkan anggaran demikian besar untuk membayar diyat itu. Alasan mereka antara lain yang seharusnya membayar diyat itu adalah keluarga terhukum dan bukan negara. lagi pula dengan jumlah calon terdakwa mati yang jumlahnya mencapai ratusan itu jika semuanya dipenuhi tentu nantinya akan sangat membebani keuangan negara.

Atas kejadian tersebut bagaimana menurutmu? Apakah negara punya kewajiban membayar diyat itu?”

Mr. Choro : “Kalau menurut saya Bos, ini menurut saya lho ya… Sesuai amanat Pembukaan UUD 45, di situ kan sudah jelas, bahwa salah satu tujuan kemerdekaan Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Jadi jika membayar diyat menjadi satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa rakyat ya harus dibayar. Jangankan miliaran, kalau perlu triliunan. Itu amanat Undang-undang Dasar Negara lho Bos. Kalau tidak dilaksanakan kita bisa kuwalat sama leluhur yang menyusun konstitusi itu. Lagi pula nyawa manusia sebenarnya tak bisa dibandingkan nilainya dengan uang. Uang bisa dicari tapi nyawa sampai kiamat gak akan tergantikan….”

Pak Bos : “Iya… itu kalau negara banyak uang Cho…, kalau setiap calon terhukum mati harus negara yang menanggung dendanya, berapa triliun uang yang harus dikeluarkan untuk menebusnya. Uang negara itu kan uang seluruh rakyat Cho, di mana letak keadilan…?”

Mr. Choro : “Ya itu urusan lain Bos. Bisa dianalogikan ketika Bos jadi ayah kemudian punya anak bukan berarti tanggung jawab Bos terhadap anak hilang gara-gara pak Bos tidak punya uang. Pokoknya Undang-undang Dasar kita bunyinya demikian, makanya seperti saya bilang tadi nyawa itu tidak bisa dinilai dengan uang, karena itu kalau bisa jangan sampai kasus seperti itu jangan lagi terjadi di negeri ini…”

Pak Bos : “Tapi ngomong-ngomong mereka itu apa gak punya perasaan kok begitu kejamnya menuntut denda sedemikian besar?”

Mr. Choro : “Kita nggak usah menyalahkan orang lain Bos. Itu aturan mereka. Kita punya aturan sendiri, mari kita bermain dengan aturan kita sendiri sebelum menyalahkan aturan orang lain”.

Pak Bos : “Trus menurutmu caranya bagaimana?”

Mr. Choro : “Cara untuk apa Bos?”

Pak Bos : “Ya itu, caranya agar tidak ada lagi TKI yang dihukum mati di luar negeri”

Mr. Choro : “Gampang Bos?”

Pak Bos : “Gampang piye, kamu itu memang sukanya ‘nggampangke’ sesuatu”

Mr. Choro : “Cara paling ampuh agar tidak ada lagi kejadian TKI divonis mati di luar negeri ya hentikan seluruh pengiriman TKI ke luar negeri dan tarik seluruh TKI yang ada di luar negeri agar kembali ke dalam negeri”

Pak Bos : ” Ya… bagus sekali idemu itu, nanti kamu ya yang menanggung sandang pangan mereka semua beserta seluruh keluarganya, wong gemblung sira…”

Mr. Choro : “Sekarang begini Bos… Kalau Pak Bos disuruh memilih, lebih senang bekerja di negeri sendiri atau di negeri orang?”

Pak Bos : “Ya jelas lebih memilih di negeri sendiri Cho, bisa kumpul keluarga, anak, istri, saudara…. ibarat tinggal di rumah sendiri meskipun berupa gubuk bambu tentu lebih bebas dan nyaman daripada di istana tapi punya orang lain. Berwisata saja gak betah kalau terlalu lama di negeri orang, apalagi bekerja. Menjadi Pembantu rumah tangga lagi. Enaknya di luar negeri itu satu dua minggu aja Cho, lebih dari itu bosen pengin segera pulang, aku wis tau ngalami…

Kalau kita ini merasa sebagai saudara sebangsa setanah air, mestinya kita ini malu dan prihatin melihat kondisi seperti itu… Negara, Bangsa, Pemerintah dan kita semua seharusnya prihatin dan malu dengan semua itu… “

Mr. Choro : “Artinya bekerja di luar negeri bagi para TKI itu adalah suatu keterpaksaan alias karena tidak adanya banyak pilihan. Jika demikian trus kenapa kok di Indonesia ini ada TKI? Kapan mulainya?”

Pak Bos : “Penyebabnya ya karena negara kita kekurangan lapangan pekerjaan Cho, makanya banyak warga negara yang mencoba berame-rame mengadu nasib di negeri orang, katanya peribasa Jawa ‘mangan ra mangan sing penting kumpul‘ sudah diganti menjadi ‘kumpul ra kumpul sing penting mangan‘…”.

Mr. Choro : “Berarti kita kembali ke dunia hewan dong Bos… Seperti anak iwak pitik‘kumpul ra kumpul sing penting mangan‘, padahal sebagai makhluk sosial kita ini seharusnya kan berprinsip ‘ada makanan-nya atau tidak, yang penting kumpulnya’…”.

Pak Bos : “Paling enak ya kumpul ya mangan Cho…”

Mr. Choro : “Betul Bos, sekarang pertanyaannya lagi… menurut Pak Bos masuk akal nggak kalau di negeri yang katanya terkenal dengan sebutan tanah surga zamrud khatulistiwa dimana ikan dan udang menghampiri, tongkat kayu dan batu jadi tanaman ini kok bisa kekurangan lapangan kerja?”

Pak Bos : ” Ironis memang Cho, tapi mau gimana lagi wong memang kenyataan yang ada sekarang begini…”.

Mr. Choro : “Mari kita itung-itungan secara kasar saja Bos… Sekali lagi secara kasar lo Bos… jangan protes…

Menurut wikipedia Indonesia Luas daratan kita kira-kira 2.000.000 kilometer persegi atau 200.000.000 hektar. Luas laut teritorial kita 3.300.000 kilometer persegi atau 330.000.000 hektar, itu belum termasuk ZEE dan landas kontinen. Jumlah penduduk kita kurang lebih 240.000.000 orang, atau jika dijadikan menjadi KK dengan asumsi tiap keluarga ada empat anggota maka ada kurang lebih 60.000.000 KK

Jika seluruh daratan dan lautan dibagi rata untuk seluruh rakyat kita sesuai jumlah sekarang maka tiap jiwa akan mendapat jatah lahan seluas 0,8 hektar atau tiap KK mendapat jatah lahan seluas 3,3 hektar, ditambah jatah wilayah perairan seluas 1,3 hektar per jiwa atau 5,5 hektar per KK.

Meskipun tidak mungkin dibuat aturan seperti tersebut, tapi seandainya Pak Bos mendapat jatah tanah dan air seluas itu, seharusnya itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pak Bos dan keluarga. Dengan teritorial seluas itu seandainya tanah dan air itu kita sewakan saja, maka sebetulnya kita sudah tidak perlu lagi bekerja. Kita bisa berlibur selama tujuh hari seminggu, atau kalau bosen berlibur kita bekerja bukan karena kita butuh, tapi karena kita ingin.

Itu baru itung-itungan kasar dan belum termasuk kekayaan yang didapat dari olah pikir manusia untuk rekayasa alam dan kekayaan alam yang ada dalam perut bumi dan di dasar laut…. Apalagi warga negara Indonesia ini menurut survei yang pernah saya baca adalah salah satu penduduk bumi yang bangunnya paling pagi se dunia.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan berdasarkan potensi yang kita miliki maka seharusnya tidak ada satu alasan pun untuk mengirim satu orang TKI pun ke luar negeri apalagi bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau pekerjaan kasar lainnya.

Jika kondisi saat ini memprihatinkan, berarti ada sesuatu yang salah perihal tata cara dan tata kelola negeri ini. Adanya satu orang saja yang masih berprofesi menjadi TKI untuk mengadu nasib dan mencari penghidupan di negeri orang merupakan salah satu indikasi yang nyata kelihatan terhadap ketidakberhasilan kita dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan.

Sebenarnya para pendahulu negeri ini di masa lalu melalui perenungan dan pemikiran yang panjang telah merumuskan arah pembangunan. Kita mengenalnya sebagai Trilogi Pembangunan. Isinya : Pemerataan Pembangunan dan hasil-hasilnya, untuk mencapai Pertumbuhan Ekonomi yang cukup tinggi, agar tercipta Stabilitas Nasional Yang Sehat dan Dinamis.

Pertanyaannya sudahkah konsep itu kita laksanakan secara benar? Sepertinya tidak.”

Pak Bos : “Wis Cho, ngantuk aku…”
Mr. Choro : “Mari dipikir bersama sambil tidur Bos…..”