Tag Archives: gaya kepemimpinan

Pro dan Kontra Gaya Kepemimpinan Gubernur Jokowi.

Pak Bos : “Lagi ngapain Cho, raut mukamu kok kayaknya agak serius gitu?”

Mr. Choro : “Ini lo Bos, baca berita di Internet tentang perkembangan Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru Pak Jokowi dan Pak Basuki”

Pak Bos : “Kenapa emang, hebat to Jakarta sekarang…..sudah menjadi Jakarta yang baru, tidak seperti yang dulu-dulu”.

Mr. Choro : “Iya bos, cuma kalau saya membaca komentar-komentar para pembaca di berita tentang Jokowi Ahok ini kok ya perasaan saya rada sedih….”

Pak Bos : “Kenapa?”

Mr. Choro : “Itu lho bos, kalau beritanya berisi pernyataaan seorang tokoh tertentu tentang hal-hal yang baik dari Pak Jokowi, komentarnya mendukung semua dan baik-baik, begitu beritanya tentang hal yang kurang bagus atau mengkritik segala hal tentang beliau, hampir sebagian besar pembaca menghujat, “mem-bully” dan cenderung menghina si narasumber tidak peduli dia itu pejabat, pengamat atau siapapun. Dikatakan berita pesanan lah, sok tau lah, tidak tahu diri lah… seakan-akan pernyataan-pernyataan dan kritikan tersebut tidak ada benarnya sedikitpun. Sejak kapan ya bos… bangsa ini begitu mudah menghujat dan menghina sesamanya…”

Pak Bos : “Ya… komentar pembaca itu kan suara rakyat, suara rakyat itu mewakili suara Tuhan, itulah gambaran apa yang ada di hati rakyat kita sejujur-jujurnya dalam  menilai kondisi saat ini. Sebagai penonton yang sedang menyaksikan sandiwara hidup ya alamnya memang begitu…, aslinya hujatan  itu juga cuma pelampiasan uneg-uneg yang tidak begitu banyak pengaruhnya… makanya beraninya ya lewat tulisan… coba kalau disuruh menghadapi orangnya langsung, belum tentu mereka akan seperti itu…, biasalah… orang kalau tidak ada yang mengawasi kan bebas untuk berbuat semaunya, jadi gak usah terlalu dipikirkan itu…. malah tokoh-tokoh itu yang seharusnya  sering-sering melihat komentar pembaca di artikel berita tentang dia, sehingga bisa lebih mendalami dan memahami bagaimana perasaan dan keinginan para kalangan arus bawah…”

Mr. Choro : “Oya bos, sesuai tema diskusi kita saat ini, ngomong-ngomong Pak Bos masuk golongan yang mendukung atau menolak gaya kepemimpinan pak Jokowi yang lebih sering terjun ke lapangan atau istilah jawanya “blusukan” ?

Pak Bos : “Nek  aku yo tetap mendukung to Cho, kapan lagi kita memiliki seorang pemimpin ala pak Jokowi yang lebih banyak terjun langsung ke lapangan. Jarang-jarang pejabat zaman sekarang yang mau melihat langsung kondisi rakyatnya. Makanya tidak mengherankan jika kemanapun beliau berkunjung, antusias warga yang menyambutnya sangat luar biasa. Hal itu menandakan seorang pemimpin yang dicintai rakyat… Lha kalau kamu gimana, setuju juga to dengan gaya kepemimpinan model begitu?”

Mr. Choro : “Apa kepentingannya buat saya Bos, beliau kenal saya saja tidak, saya tinggal di  Jakarta juga tidak, bagi saya sih kebijakan-kebijakan beliau saat ini nggak banyak pengaruhnya buat saya pribadi termasuk gaya kepemimpinan ‘blusukan’ itu?”

Pak Bos : “Okelah kalo begitu, lha kamu sebagai pengamat cenderung ke yang mana? setuju atau tidak?”

Mr. Choro : “Karena hanya sebagai pengamat luar ya netral bos… Saya berusaha mengamati dan memahami sesuatu dari dua sisi… baik dari si pendukung Jokowi maupun si pengkritik….”

Pak Bos : “Kalau aku sih optimis Cho, Dengan gaya kepemimpinan seperti itu, masalah-masalah Jakarta akan dapat diatasi… Dengan sering-sering turun ke lapangan, maka persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dapat lebih jelas diketahui penyebabnya. Hal itu juga dapat berfungsi sebagai kendali dan kontrol dari pemimpin dalam mengawasi pelaksanaan program pemerintah agar tidak diselewengkan oleh pelaksana tugas di lapangan…”

Mr. Choro : “ Okelah bos, karena Pak Bos sebagai pihak yang mendukung maka meskipun aslinya saya netral namun saya akan mencoba menjadi pihak yang berseberangan, yakni pihak yang mengkritisi gaya kepemimpinan Pak Gubernur. Dalam diskusi sebelumnya sudah saya tegaskan bahwa tidak gampang mengatasi permasalah Jakarta. Bukan karena pemimpinnya yang tidak kompeten tapi beban tugasnya yang terlampau berat untuk dapat diatasi oleh pejabat dengan kewenangan dan tangung jawab setingkat Kepala Daerah Propinsi”

Pak Bos : “Jadi menurutmu gaya ‘blusukan’ Pak Jokowi itu salah begitu?, kamu lebih seneng punya pemimpin yang hanya duduk manis sambil perintah sana sini makan gaji buta kemudian terima laporan ABS gitu…piye to koen iku…”

Mr. Choro : “Bukan begitu Pak Bos… menurut saya blusukan atau melihat kondisi langsung di lapangan itu penting, tapi kalau terlalu sering dan tidak proporsional, jelas akan terjadi ketimpangan, terutama berkaitan dengan jalannya roda organisasi”.

Pak Bos : “Maksudmu piye?”

Mr. Choro : “Begini pak Bos… jika kita berbicara organisasi, entah itu organisasi apapun maka tidak akan lepas dari apa yang biasa disebut sebagai pendelegasian wewenang. Kenapa?  Sehebat-hebatnya seorang pemimpin, beliau itu kan manusia juga to… bukan malaikat, sebagai manusia tentu kemampuannya juga serba terbatas… daya ingatnya terbatas, waktunya terbatas, energinya terbatas, panca inderanya dalam mendeteksi sesuatu juga terbatas…   dan banyak keterbatasan-keterbatasan lainnya… Karena itulah ada pembagian tugas dan wewenang… Jika kita mengacu pada dunia tentara, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa satu orang itu hanya dapat mengawasi dan mengendalikan sembilan orang, seperti komandan regu yang mempunyai anak buah sembilan orang, satu orang komandan peleton dengan anak buah 30 orang termasuk komandan regu, komandan kompi, komandan batalion dan seterusnya. Seorang Komandan Batalion tidak mungkin mampu mengawasi tiga ratus anak buahnya langsung, makanya ia delegasikan tugas dan kewenangan kepada komandannya masing-masing… Lha kalau seorang Komandan Batalion harus tiap hari blusukan langsung ke anak-buahnya yang segitu banyak … ya organisasi jadi gak jalan bos.  Dimana fungsi komandan regu, komandan peleton dan komandan kompi? Jika Gubernur terlalu sering turun ke bawah dimana fungsi ketua RT/RW, Kepala Desa, Camat, Walikota, Dinas-dinas dan stafnya yang lain?… Seharusnya jika organisasi itu berjalan dengan semestinya, yang paling rajin blusukan itu ya di tingkat paling bawah… lurah, ketua RT/RW… bukan Gubernur… Gubernur cukup sekali-kali saja secara random untuk pengecekan. Beliau seharusnya lebih banyak berada di depan peta untuk merumuskan strategi jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang berdasarkan laporan dari para pemimpin di level bawahnya…”

Pak Bos : “Ya jangan kamu samakan organisasi sipil dengan organisasi militer Cho… Jadi pempimpin di organisasi militer mah relatif lebih gampang… anak buahnya sebelum masuk sudah diseleksi secara ketat sehingga hanya yang terpilih yang bisa masuk, personelnya sudah digaji sehingga mendapat penghasilan yang cukup, perawatan dan pembinaan personel terus-menerus dilakukan, yang namanya perintah komandan pasti anak buah siap melaksanakan karena sudah disumpah… gak ada banyak tantangan kayak di organisasi sipil. Di organisasi sipil hampir semua permasalahan ada di sana… dari mulai persoalan ideologi, sosial, budaya, hukum, dan lain sebagainya… makanya kepemimpinan itu adalah seni, namanya juga seni tidak ada patokan pasti… masing-masing tokoh punya gayanya sendiri-sendiri, keberhasilan seorang pemimpin dapat dilihat dari bagaimana hasil akhirnya nanti … Saya yakin berdasarkan pengalaman dan keberhasilannya saat menjabat sebagai pemimpin publik sebelumnya, Pak Jokowi pasti sudah mengetahui hal tersebut. Bisa jadi tujuannya ‘blusukan’ itu karena ingin mendidik para staf dan bawahannya agar berperilaku seperti beliau itu, nanti kalau para bawahannya sudah mengikuti gayanya itu, beliau akan mulai mengurangi blusukannya… ”

Mr. Choro : “Ya semoga saja semua yang Pak Bos dan saya harapkan itu bisa jadi kenyataan sehingga kehidupan kita ke depan menjadi lebih baik di bawah kepemimpinan beliau-beliau itu.  Hanya saja menurut pendapat saya sebagai kalangan akar rumput ini, marilah kita tidak semata-mata menggantungkan harapan itu pada satu orang saja, termasuk kepada pemimpin kita… sehingga andai nanti ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, kita tidak terlalu kecewa dan lebih dapat memaklumi…. Sudah banyak contoh sebelumnya pemimpin yang kita gadang-gadang akan menjadi tokoh yang menjadi pemecah segala persoalan, ternyata ngono-ngono ae dan akhirnya malah menjadi ajang pelecehan dan hujatan… kan kasihan Bos, mereka juga manusia yang terdiri dari daging darah dan tulang…

Pak Bos : “Oke deh Cho… Saat ini kamu atau saya sama-sama belum bisa membuktikan efektif atau tidak gaya ‘blusukan’ pak Jokowi dalam mengatasi masalah Jakarta, biarkan warga Jakarta nanti merasakan apakah nanti tidak ada lagi macet, banjir, preman, kebakaran, polusi, dan segudang persoalan lainnya… berarti hanya waktu yang akan membuktikan semua… betul to Cho…?”

Mr. Choro: “Betul Pak Bos… sambil menunggu saat tersebut mari kita nikmati perjalanannya, jangan tujuannya… silakan ngopi dan rokoan dulu boss…”

Pak Bos : “Poso cuk…”