Tag Archives: fiqih praktis

Fiqih Praktis : Bab 6 – Mandi Wajib

Mandi Wajib, disebut juga mandi besar, mandi junub atau mandi janabat, adalah salah satu cara bersuci dengan mengalirkan air ke seluruh tubuh, dengan niat mengangkat (menghilangkan) “hadas besar” atau janabat. Dalam QS Al-Maidah (5):6, selain menyebutkan tetnagn kewajiban bersudhu sebelum shalat, Allah SWT juga memerintahkan orang yang dalam keadaan junub agar bersuci :…”dan jika kau dalam keadaan junub, maka bersucilah…” Selain itu, keweajiban mandi juga ditunjukkan oleh berbagai hadis shahih yang disepakati oleh para ahli.

Beberapa Penyebab Timbulnya Hadas Besar.

1.a. Keluarnya mani (sperma) dengan syahwat, baik ketika sedang tidur ataupun dalam keadaan terjaga. Apabila mani keluar tanpa syahwa, atau bukan karena syahwat, tetapi karena sedang sakit, maka tidak diwajibkan mandi. Dirawikan dari Ali r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “apabila ‘air’ (yang dimaksud di sini, air mani) keluar dengan kuat mandilah.” (HR Abu Daud). Dan dirawikan pula bahwa seorang laki-laki meminta fatwa Abdullah bin Abbas r.a, karena setiap kali ia kencing, ikut pula keluar mani bersamanya; namun tanpa terasa syahwat dan tidak pula menimbulkan rasa lemas sesudahnya. Apakah ia wajib mandi? Jawab Abdullah bin Abbas, “Itu hanya disebabkan tubuhmu yang kurang sehat. Cukuplah bila Anda berwudhu.” Demikain itu pula pendapat Abu Hanifah, Malik dan Ahmad. Akan tetapi, menurut mazhab Syafi’I, keluarnya mani, dengan atan tanpa syahwat, banyak atau sedikit, tetap menimbulkan hadas besar dan karena itu mewajibkan mandi. Hal ini berdasarkan hadis lainnya: ‘air’ yakni (mandi wajib) disebabkan oleh ‘air’ (yakni keluarnya air mani). HR. Muslim. Demikian pula jawaban Nabi Saw. kepada Ummu Salaim, bahwa laki laki maupun perempuan wajib mandi apabila mengalami ‘mimpi basah’. (HR Bukhari dan Muslim). Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah (I/56); dan An-Nawawi, Al-Majmu’,. Menurut hemat saya (-pen), apabila tidak mengalami kesulitan yang sangat, sebaiknya mandi walaupun keluarnya tanpa syahwat, sebagai sikap lebih berhati-hati).

b. Apabila seseorang ‘bermimpi’ tetapi tidak disertai dengan keluarnya mani, ia tidak wajib mandi.

c. Apabila seseorang bangun tidur dan mendapati celana atau baju-tidurnya basah, sedangkan ia tidak merasa telah mengalami mimpi yang menyebabkan keluarnya mani, tidaklah ia wajib mandi. Kecuali jika ia meyankini, dengan pelbagai tanda tertentu, bawa yang membasahi celananya itu adalah mani. Dan keadaan seperti itu, ia wajib mandi. Menurut  kitab-kitab fiqih, mani (sperma) dapat dikenali dengan salah satu dari ketiga tandanya : (1). Baunya yang dalam keadaan basah mirip dengan bau adonan tepung, atau daslam keadaan kering mirip bau putih telur. (2) Keluarnya secara terputus-putus dan disertai dengan rasa lezat. (3) Perasaan lemas setelah itu, terutama pada organ seksual pria. (Dalam hal ini, tidask harus terpenuhi ketiga tanda-tandanya, tetapi cukup salah satu darinya).

d.  Apabila merasa yakin bahwa yang keluar itu bukan mani maka walaupun tidak wajib mandi, namun ia wajib mencuci bagian yang basah dari pakaian atau tubuhnya. Karena – Sebagaimana telah dijelaskan dalam pasal zat-zat yang najis-semua cairan yang keluar dari kedua pintu ‘pelepasan’ adalah najis, kecuali mani.

e. Dalam keadaan tetap bimbang, apakah itu mani atau bukan, sebaiknya ber-ihtiyath (mengutamakan sikap hati-hati) dengan mengerjakan mandi wajib dan juga mencuci bagian pakaiannya yang basah yang menyebabkannya bimbang.

f. Apabila merasakan gerkaan mani yang akan keluar, lalu ia menahannya sehingga tidak jadi keluar, maka ia tidak diwajibkan mandi.

g. Apabila melihat mani di pakaiannya, namun tak diketahui sejak kapan keluarnya, sedangkan ia telah selesai shalat, maka ia wajib mengulangi shalatnya sejak tidurnya yang terakhir. Atau jika mendapat tanda bahwa ia telah ada sebelumnya maka hendaknya ia mengulangi shalat-shalat yang dikerjakan olehnya sejak tidurnya yang paling dekat, menurut perkiraannya. Sayid Sabiq, Fiqh As-Sunnah I/56-57

2. Melakukan hubungan seksual (jima’, sanggama), walaupun tidak keluar mani. Dalam hal ini, kewajiban mandi berlaku atas laki-laki dan perempuan. Firman Allah SWT., “… dan jika kamu dalam keadaan junub, maka mandilah…” (QS. Al-Maidah [5]:6). Menurut Syafi’I, dalam bahasa Arab, junub (atau janabat) biasanya digunakan dalam arti jima’ (sanggama). Demikian pula jawaban Nabi Saw. ketika ditanya tentang seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan istrinya tetapi tidask keluar maninya : “Apabila telah menyentuh tempat khitannya, maka wajib atasnya mandi.” (HR. Ahmad dan  Malik dengan beberapa perubahan kata). Dan masih ada pula hadits lainnya yang mirip dengan itu, dirawikan oleh Ahmad dan Muslim, yang menjelaskan tentang kewajiban mandi bagi yang melakukan hubungan seksual, walaupun tidsak sampai keluar maninya.

3.  Berhenti dari haid dan nifas. Wanita yang telah berhenti haid dan nifasnya, diwajibkan mandi agar dapat mengerjakan shalat atau dibolehkan ‘bercampur’ dengan suaminya. Firman Allah SWT : “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu merupakan gangguan.’ Oleh sebab itu, hendaklah kamu ‘memisahkan diri’ (yakni tidak melakukan senggama) dengan istri-istri kamu di waktu haid. Dan janganlah kamu ‘mendekati’ mereka sampai mereka suci kembali. Maka jika mereka telah bersuci, ‘datangilah’ mereka secara yang diperintahkan Allah atas kamu .” (QS Al-Baqarah [2]: 222). Dan diriwayatkan pula bahwa Nabi Saw. pernah bersabda kepada Fatimah binti Hubaisy r.a., “Tinggalkanlah shalat sepanjang hari-hari ketika sedang haid, dan setelah itu mandi dan shalatlah.” (HR Bukhari/Muslim).

4. Masuk Islam. Apabila seorang kafis masuk Islam, ia wajib mandi sebelum mengerjakan shalat. Begitulah pendapat Asy-Syafi’I serta banyak ulama lainnya, berdasarkan beberapa hadis yang menunjukkan hal itu. Di antaranya ketika Tsumamah Al-Hanafiy masuk Islam, Rasulullah Saw, memerintahkan kepadanya agar mandi. (HR Ahmad). Begitu juga ketika Qais Bin ‘Ashim, atau (dalam riwayat lain):Abu Thalhah. (HR Tirmidzi). Akan tetapi Abu Hanifah tidak mewajibkannya, (kecuali apabila ia memang sedang dalam keadaan junub).

5. Mati.apabila seorang Muslim meninggal dunia, wajib atas masyarakat muslim sekitarnya memandikannya. Hal ini akan dijelaskan secara terinci dalam pasal khusus tentang penyelenggaraan jenazah.

Hal-Hal Yang Haram Dikerjakan Oleh Seorang Berhada Besar (Junub).

Seorang yang berhada besar (junub atau janabat) dilarang mengerjaan hal-hal seperti di bawah ini, sebelum ia mandi;

  1. Shalat dan tawaf di sekitar Ka’bah. Telah dijelaskan dalil-dalilnya ketika membahas tentang perbuatan apa saja yang diharamkan bagi orang yang tidak berwudhu.
  2. Memegang dan membawa Mushaf Al Quran. Kecuali dalam keadaan darurat; untuk menyelamtaknnya atau mengembalikannya ke tempatnya semula, setelah terjatuh dan sebagainya. Mayoritas ulama menyepakati haramnya memegang atau emmbawa mushaf Al-Quran bagi orang yang dalam keadaan junub. Hanya Daud Azh-Zhahiri dan Ibn Hazm yang membolehkannya, dengan alasan bahwa Rasulullah Saw, pernah menulis surat kepada Heraclius, di dalamnya terdapat beberapa ayat Al-Quran. (Padahal ia seorang kafir). Namun para ulama lainnya, menjawab bahwa itu hanyalah surat yang kebetlulan memuat beberapa ayat. Karena itu, tidak dapat disamakan dengan mushaf Al-Quran. (Lihat juga perbedaan pendapat para ulama mengenai hukum memegang mush-haf bagi orang yang mengalami hadas kecil
  3. Membaca Al-Quran dengan tujuan semata-mata mendapat pahala karenanya. Dikecualikan dari larangan ini, membaca beerapa ayat Al-Quran dalam rangka zikir atau wirid yang telah menjadi kebiasaan sehiari-hari, atau dalam rangka belajar membacanya ataupun mempelajari maknanya. Demikian pula menunjukkan pandangan ke arah mushaf dan membacanya dalamhati, tanpa gerakan lisan. Al-Bukhari, Thabarani, Daud and Ibn Hazm tidak melihat adanya halangan bagi seorang dalam keadaan junub untuk membaca Al-Quran. Mereka berpegangan pada ucapan Aisyah r.a yang disahihkan oleh Muslim, bahwa Nabi Saw. senantiasa ber-dzikrullah pada setiap saatnya (sedangkan membaca Al-Quran kata mereka termasuk dzikir juga. Disamping itu menurut hukum asalnya, tidak ada nash yang mengharamkan).  Pendapat seperti ini juga dinukilkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Musayyab. Demikian pula yang menjadi pilihan Ibnu Al-Mundzir, seperti dinyatakan oleh Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib, Ibn Ash-Shabbagh dan selain mereka. Al-Bukhari juga merawikan adanya ulama yang membolehkan seorang wanita yang sedang haid, membaca beberapa ayat Al-Quran, agar ia tidask merasa terasing atau terjauhkan darinya selama masa hadinya itu. (Dan seperti tu pula pendapat Malik). Menurut Ibn Hajar dalam Syarh-nya atas Shahih Bukhari : “Tampaknya, tak satu pun hadits mengandung larangan orang junub membaca Al-Quran, dapat dishahihkan oleh Al-Bukhari.” Sebabnya adalah, bahwa kebanyakannya bisa ditakwilkan. (Lihat al.. Fiqh As-Sunnah I/59; Bidayat Al-Mujtahid I/35; dan  Al-Majmu’ II/162.
  4. Duduk atau berhenti di Masjid. Kecuali melewati masjid disebabkan tidak ada jalan lain ke tempat keperluannya, selain melalui masjid tersebut. Hampir seua mazhab menyepakati larangan berhenti atau duduk di masjid bagi seorang junub. Kecuali Al-Muzani da Ibn Al-Mundzir membolehkannya. Dan menurut sebagian riwayat, Ahmad bin Ahnbal membolehkannya. Dan menurut sebagian riwayat, Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “Seorang hunub boleh berheti dan duduk di masjid setelah ia berwudhu” Perbedaan pendapat mereka, antara lain berdasarkan pemahaman masing-masing terhadap ayat 43, surah An-Nisa, yang terjemahannya (secara harfiah) : “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghampiri shalat sementara kamu dalam keadan mabuk, sampai kamu menyadari apa yang kamu ucapkan; jangan pula (menghampiri shalat) sementara kamu dalam keadaan junub-kecuali sedang melintasi jalan (‘abiri sabil)- sehingga kamu telah mandi…’. Mayoritas ulama mengartikan kalimat “menghampiri shalat” dalam ayattersebut, sebagai “menghampiri tempat shalat” dalam ayat tersebut, sebagai ”menghampiri tempat shalat”, yakni masjid. Sedangkan sebagian mereka yang lain mengartikan seperti apa adanya. (secara harfiah), yakni: “…jangan menghampiri shalat dlam keadaan mabuk atau junub”. (Karenanya, ayat ini menurut mereka tidak ada hubungannya dengan masjid). Sedangkan kalimat ‘abiri sabil…”dalam keadaan melintasi jalan) diartikan sebagai “para pelintas jalan (musafir) yang (biasanya) menghadapi kesulitan mendapat air, dan karenanya dibolehkan bertayamum sebagai pengganti mandi. Karenanya, ayat tersebut tidak mengandung larangan bagi seorang junub untuk berhenti atau duduk di masjid. Perbedan pendapat tentang hal ini, berlaku pula dalam masalah boleh atau tidaknya seorang wanitayang sedang haid, berhenti atau duduk di masjid ,(Bidfayat Al-Mujtahid I/354, Fiqh As-Sunnah I/59, Al-Majmu’ II/16 3.

Catatan Tambahan.

Beberapa larangan khusus wanita yang sedang haid atau nifas akan dijelaskan kemudian, dalam pasal khusus mengenai hal itu.

Mandi Sunnah.

Mandi sunnah ialah mandi yang  jika dikerjakan, mendatangkan pahala, tetapi jika tidak dikerjakan, tidak mengakibatkan dosa. Yaitu dalam keadaan-keadaan sebagai berikut :

  1. Mandi hari Jumat serta kedua hari raya: Idul-Fitri dan Idul-Adhha. Mandi pada hari-hari itu sangat dianjurkan bagai orang-orang yang akan menghadiri tempat shalat, menginta berkumpulnya khalayak pada hari-hari tersebut. Agar mereka berkumpul dalam keadaan bersih dan menyenangkan. Dan karena itu pula, dianjurkan memakai wangi-wangian untuk dapat menyamankan suasana dan menghilangkan bau-bauan yang kiranya kurang sedap.Waktu mandi yang disunnatkan ini adalah antara saat fajar sampai waktu shalat hari Jumat atau shalat hari raya. Adapun waktu paling utama  untuk mandi adalah sesaat sebelum berangkat menuju masjid atau tempat shalat.
  2. Setelah memandikan mayat.
  3. Ketika hendak memulai ihram untuk haji atau umroh, ketika akan memasuki kota makkah atau akan menuju padang Arafah. Keterangan lebih lengkap tentang hal inii, akan diuraikan kemudian secara lebih rinci, dalam Bab Haji, Insya Allah.

Cara Mandi Yang Sempurna.

Sekurang-kurangnya mandi wajib adalah:

  1. Niat. (cukup dalam hati dan tidak harus diucapkan). Yakni menyengaja menghilangkan hadats besar (janabat).
  2. Mengalirkan air ke seluruh anggota badan.

Cara mandi seperti itu sudah cukup  untuk mengangkat hadas besar (janabat). Akan tetapi, demi kesempurnaannya, disunnatkan mengikuti cara Mandi Rasulullah Saw. seperti yang dirarikan dalam beberapa hadis, sebagai berikut:

1. Sebelum mulai mandi, terlebih dahulu membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.

2. Membasuh kemaluan.

3. Berwudhu secara sempurna (sebelum menyiramkan air ke segenap badan)

4. Menyiramkan air ke kepala, sebanyak tiga kali, sambil memasukkan air ke jari-jari tangan ke sela-sela rambut sehingga membasahi kulit kepala.

5. Menyiramkan air ke seluruh tubuh dengan memulai sisi kanan sebelum sisi kiri, sambil menggosok-gosok bagian-bagian yang tak mudah dimasuki air, seperti bagian telinga, pusar, bawah lengan, sela-sela jari kaki serta lekukan tubuh lainnya.

Cara Mandi Bagi Wanita.

  1. Mandi wajib bagi wanita sama saja seperti bagi pria. Kecuali bagi wanita yang rambutnya penuh kepangan (anyaman atau jalinan) tidak perlu membuka (mengurai) kepangannya, tetapi cukup dengan melakukan tiga kali siraman di kepala sehingga membasahi bagian dalam rambutnya yang dikepang. Setelah itu, meniramkan air ke seluruh bagian tubuh yang lain. Diriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwa seorang wanita bertanya, “Ya Rasulullah, rambutku berjalin (berkepang) dengan jalinan-jalinan yang amat kuat. Haruskah aku menguraikannya, dalam mandi janabaat?” Nabi Saw menjabat, “Cukup basahi (kepala) dengan tiga kali siraman ringan, dan setelah itu menyiramkan air ke seluruh tubuhmu. Dengan begitu engkau telah suci kembali”. (HR Ahmad dan Muslim).
  2. Khusus bagi pengantin wanita yang rambutnya diatur dengan sisiran tertentu yang rumit serta menggunakan wangi-wangian yang lebih dari kebiasaan sehari-hari, diberian keringanan dengan tidak usah mencuci (mengeramasi) rambutnya itu, tetapi cukup  mengusapnya dengan air. Hal ini guna menghindarkannya dari pemborosan uang, sekiranya setiap kalimandi diharuskan merusak hiasan rambutnya tersebut. Keringananin hanya berlaku khusus bagi pengantin wanita, untuk sementara waktu, yakni selama ia – menurut kebiasaan masih disebut sebagai pengantin. Ini sesuai dengan fatwa Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf, mantan Mufti Mesir, dalam bukunya Fatawa Syar’iyyah, hlm 24. Pendapat mazhab Malik mengenai ini lebih meringankan lagi. Menurut mereka, seorang pengantin wanita yang rambutnya diberi hiasan khusus atau wangi-wangian, tidak wajib membasuh kepalanya setiap kali mandi janabat. Demi menghindarkannya dari pemborosan uang, ia hanya wajib menyiramkan airke seluruh tubuhnya, kecuali kepalanya cukup diusap saja dengan tangan sehingga tidak merusak hiasan rambutnya. Dan seandainya sekujur tubuhnya diberi wangi-wangian dan sebagainya, lalu ia khawatir semua itu akan hilang atau rusak apabila ia mandi, maka dibolehkan baginya bertayamum. (Lihat Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala ‘l-madzahib Al-Arabia I/113.
  3. Bagi wanita yang mandi setelah suci dari haid atau nifas, dianjurkan menggunakan kapas yang diberi sedikit wangi-wangian, di tempat bekas keluarnya darah, guna menghilangkan sisa-sisa bagu, seandainya masih ada.

Beberapa Hal Lain Berkaitan dengan Mandi Wajib.

Beberapa hal yang sering dipertanyakan sekitar mandi wajib, antara lain sebagai berikut :

  1. Seorang yang telah melaksanakan mandi wajib, tidak perlu lagi berwudhu sesudahnya. Karena niat menghilangkan ‘hadas besar’ dianggap sudah meliputi ‘hadas kecil’
  2. Cukup mandi satu kali saja, meliputi mandi janabat, mandi hari Jum’at, dan mandi hari raya, apabilaia meniatkan itu semua ketika memulai mandinya tersebut. (Yakni tidak usah mandi berulang-ulang).
  3. Dibolehkan bagi seorang pria, bermandi-wajib dari air bekas mandi-wajib wanita, dan sebaliknya. Dan dibolehkan pula suami-istri mandi dari satu bejana.
  4. Tidak dibenarkan mandi di tempat terbuka atau di tengah-tengah khalayak, kecuali dengan menutup aurat.
  5. Dibolehkan menyeka air mandi atau air wudhu dengan handuk dan sebagainya, baik di kala musim panas atau dingin.
  6. Tidak ada larangan atas seorang junub atau wanita yang sedang haid, memotong kuku, menghilangkan bulu atau rambut, keluar rumah dan sebagainya. Lihat antara lain, Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, I/65.

Fiqih Praktis : Bab 4 – Beberapa Kebiasaan Fitri (Sunan Al-Fithrah)

   Allah SWT telah memilihkan beberapa kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh para nabi, terutama yang berkaitan dengan kebersihan lahir dan batin, lalu menganjurkan agar kita mengikuti mereka dalam kebiasaan-kebiasaan seperti itu. Agar hal itu menjadi syi’ar dan ciri khas para pengikut para nabi itu, serta memilahkan mereka dari kelompok-kelompok manusia selain mereka. Kebiasaan –kebiasaan ini disebut sunan-Al-fithrah, antara lain sebagai berikut :

1.  Khitan.

Khitan (atau sunat) ialah memotong kulup atau kulit yang menutupi ujung kemaluan laki-laki, agar terhindar dari berkumpulnya kotoran di bawah kulup, dan memudahkan pembersihannya setelah buang air kecil (kencing). Sebagian besar ulama mewajibkannya atas setiap laki-laki muslim, sebaiknya sebelum usia baligh, ketika kewajiban shlat mulai berlaku atas seseorang.

Adapun tentang khitan bagi perempuan (dengan melukai sedikit dari bagian atas kemaluannya) tidak ada hadis shahih yang memerintahkannya. Karenanya, sebagian ulama masa kini menganggapnya sebagai suatu tindakan sewenang-wenang terhadap perempuan, mengingat hal itu hanya menimbulkan gangguan yang tidak perlu. Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, Jilid I, hlm 33 dan Mahmud Syaltut, Al-Fatwa, hlm. 330.

Menurut Dr Alwi Shihab dalam kumpulan tulisannya berjudul, Islam Inklusif, tradisi khitan bermula pada Nabi Ibrahim a.s. sebagai simbol ikatan perjanjian suci (mitsaq) antara dia dan Allah Swt. Ia dipahami terutama oleh para penganut Koptik Kristen dan Yahudi bukan hanya sebagai suatu proses bedah kulit bersifat fisik semata, tetapi menunjuk kepada arti suci dan esensi mendalam lagi suci. Ia juga melambangkan pembukaan tabir kebenaran dalam ikatan perjanjian suci yang diikat antara Allah SWT dan Nabi Ibrahim, yang kemudian diikuti oleh para pengikutnya. Selanjutnya, mereka mempertautkan antara khitan dan izin pembacaan kitab suci Taurah. Hal ini menandakan bahwa sebelum seorang mencpat ‘kartu pengenal’ (‘stempel’ Tuhan berupa khitan) untuk memasuki suatu daerah, ia tidak diperkenankan memasuki kawasan suci Kalam Ilahi dalam rangka perjumpaan dengan Tuhan, sebelum melakukan simbol ikatan suci tersebut. Demikian menurut para penafsir Perjanjian Lama (Genesis 18:1). Tradisi khitan ini mencakup juga kaum perempuan Yahudi pada masa itu, untuk dapat juga mengikat perjanjian suci seperti kaum prianya. Karenanya, khitan adalah kehormatan bagi yang melaksanakannya (baik laki-laki maupun perempuan). Ini mungkin tak ubahnya seorang Muslim tidak diperkenankan menyentuh Al-Quran sebelum memenuhi persyaratan kesucian (paling tidak, berwudhu) sebagaimana pendapat sebagian ulama.

2.  Merapikan Rambut dan Memelihara Janggut.

Menyisiri rambut dan meminyakinya; menggunting atau merapikan kumis bagi laki-laki serta memelihara janggut secara wajar (tidak mengguntingnya sangat tipis dan memeliharanya sangat lebat). Begitulah kebiasaan yang dianjurkan sesuai Hadis Nabi Saw.

Dirawikan oleh Malik, dari ‘Atha’ bin Yasar r.a bahwa seorang laki-laki datang menghadap Nabi Saw. dengan rambut dan janggut yang kering dan acak-acakan (tidak tersiri rapi); maka Nabi Saw. mengisyaratkan kepadanya agar merapikan rambutnya itu. Tidak lama kemudian orang tersebut datang lagi dalam keadaan yang rapi, dan Nabi pun bersabda, “Bukankah yang seperti ini lebih baik daripada jika seseorang dari kalian datang dengan rambut y ang acak-acakan seperti setan?”.

Dirawikan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa nabi Saw. pernah bersabda, “Bedakanlah diri kalian dari kaum musyrikin. Biarkanlah (yakni peliharalah) janggut dan rapikanlah kumis kalian!”. Berdasarkan ini, sebagian ulama menyatakan bahwa memelihara janggut adalah wajib hukumnya atas laki-laki Muslim. Namun sebagian lainnya berpendapat bahwa hadis tersebut hanya mengandung anjuran saja, sesuai dengan adat kebiasaan waktu itu. (Lihat Mahmud Syaltut, Al-Fatawa, hlm 227)

3.  Memotong Kuku dan Menghilangkan Bulu-bulu yang Mengganggu.

Dianjurkan memotong kuku setiap kali mulai memanjang (paling lama, sekali seminggu). Dan dianjurkan pula menghilangkan bulu-bulu di bawah lengan dan di bawah pusar dalam waktu yang sesuai, (sebaiknya tidak lebih lama dari empat puluh hari). Tidak ada ketentuan khusus tentang cara menghilangkannya, boleh dengan mencukurnya atau menggunakan bahan tertentu.

4.  Membiarkan Uban dan Mengubah Warnanya.

Dianjurkan pula membiarkan (yakni tidak untuk mencabuti) uban atau rambut putih, di kepala atau janggut. Dirawikan oleh Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: “Jangan mencabuti uban, sebab ia adalah cahaya bagi seorang Muslim. Tak seorang Muslim tumbuh ubannya dalam Islam kecuali Alah akan mencatatkan baginya satu pahala kebaikan, meningkatkan derajatnya dan menghapuskan baginya satu dosa kesalahan.

Jika ingin, boleh juga mengubah warnanya, dengan warna kuning atau merah (kecoklatan), tetapi sebaiknya tidak dengan warna hitam. Kecuali bagi mereka yang akan berangkat ke medan perang, atau  menurut sebagian pendapat dibolehkan bagi yang masih berusia muda. Batasan tentang ini berdasarkan adat kebiasaan setempat.

Dirawikan oleh Jabir r.a bhwa Abu Quhafah (ayah dari Abubakr Ash-Shiddiq r.a) dibawa menghadap Rasulullah Saw. pada hari pembebasan Kota Makkah; rambut kepalanya putih seperti kapas. Maka Rasulullah memerintahkan agar diubah warna rambutnya itu, tetapi bukan dengan warna hitam. Dari hadis ini, dan beberapa hadis lainnya, sebagian ulama hanya membolahkan pengubahan warna rambut dengan warna selain warna hitam. Tetapi sebagian ulama lainnya, menganggap bahwa pelarangan tersebut hanya khusus berlaku bagi orang-orang lanjut usia seperti Abu Quhafah, karena tidak pantas bagi seorang seusianya. Al-Ghazali, misalnya, berpendapat bahwa pengubahan dengan warna hitam, adalah makruh (tidak disukai atau kurang afdhal).

Dirawikan pula bahwa tidak sedikit dari kalangan para sahabat Nabi Saw. yang menggunakan warna hitam untuk mengubah warna rambutnya (Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah), I/35 dan An-Nawawi, Al-Majmu’, I/322)

5.  Memakai Wangi-wangian.

Dianjurkan bagi laki-laki, memakai wangi-wangian, terutama pada hari Jum’at dan hari-hari raya. Yaitu pada waktu berkumpulnya khalayak di masjid atau tempat-tempat pertemuan lainnya.

Bagi kaum perempuan dianjurkan memakainya terutama di rumahnya sendiri, dan di antara keluarganya atau di antara sesama wanita. Sedangkan di luar itu, hendaklah mereka menyembunyiakn aroma wangi-wangian tersebut, kecuali sekadarnya saja, semata-mata demi menghindari bau tak sedap seandainya ada. Hal ini demi menjaga keselamatan dan kehormatan dirinya, dan agar tidak timbul fitnah (gangguan atas dirinya sendiri ataupun masyarakat sekitarnya).

6.  Bersiwak atau Menggosok Gigi.

Dianjurkan membersihkan gigi setiap kali diperlukan, dan lebih dianjurkan lagi ketika hendak wudhu, shalat, membaca Al-quran, ketika bangun tidur dan ketika terasa ada perubahan bau mulut walaupun ketika sedang puasa.

Menggosok gigi boleh dengan apa saja yang mampu mengilangkan kotoran atau sisa makanan, seperti sikat gigi dan sebaginya. Namun yang lebih afdhal ialah dengan menggunakan batang siwak (kayu tertentu yang baunya harum dan biasanya tumbuh di negeri Hijaz). Hal ini mengingat banyaknya hadis Nabi Saw. yang sangat mengajurkannya.

Dirawikan  dari Aisyah r.a bahwa Nabi Saw. Bersabda, “Siwak menyebakkan kebersihan mulut dan kridhaan Tuhan, “ Demikian pula Bukhari dan Muslim merawikan sabda Nabi Saw., “Seandainya tidak akan memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap shalat.”

Sebagian Ulama menyatakan bahwa bersiwak bagi orang yang sedang berpuasa, adalah makruh (tidak disukai). Lebih-lebih setelah waktu Dhuhur. Hal ini mengingat adanya hadis Nabi Saw., “Bau mulut seorang yang sedang puasa, lebih harum di sisi Allah daripada harumnya misk” (HR Bukhari dan Muslim). Akan tetapi Tirmidzi merawikan dalam kitab kumpulan haditsnya, bahwa Asy-Syafi’i (rahimahullah) tidak menganggap ada keberatan bagi seorang yang sedang puasa untuk bersiwak, baik di pagi hari maupun sore harinya. Berkenaan dengan keterangan populer ini, An-Nawawi menyatakan bahwa pendapatnya ini tidak pupuler meski lebih kuat ditinjau dari segi dalilnya. Dan itulah pula pendapat yang menjadi pilihannya seta banyak ulama lainnya. Adapun yang dimaksud oleh hadits di atas, adalah ditinjau dari segi pahala puasanya itu di akhirat kelak, seperti yang dijelaskan dalam hadis lainnya yang dirawikan oleh Muslim, bukannya semata-mata membiarkan bau mulut seperti itu. Apalagi jika sampai mengganggu orang lain (Lihat An-Nawawi, Al-majmu’ I/310)

Fiqih Praktis – Judul dan Kata Pengantar

“Berusaha mengikat ilmu dengan menuliskannya”

==================================================================

Penerbit :

Mizan Yogjakarta

Judul Buku :

FIQIH PRAKTIS

Disajikan dengan metode baru untuk mengupayakan kemudahan dalam beribadah

Keluasan dalam wawasan keberagaman

Keluwesan sikap dalam berbeda pendapat

Menurut Al-Quran, As-Sunnah, dan Pendapat Para Ulama

Buku Pertama (Seputar Tata Cara Ibadah)

Macam-macam Air, Zat-zat Najis, Wudhu, Mandi Wajib, Tayamum, Hadi dan Nifas, Shlat Fardhu, Zikir setelah Shalat, Khusyuk dalam Shalat, Shlat Sunnah, Jenazah, Zakat, Puasa, Haji dan Umroh, Ud-hiyah, Aqigah

Muhammad Bagir Al-Habsyi

(Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat dan Perlindungannya atas segala amal ibadah yang penulis telah lakukan)

=====================

Kata Pengantar

“Sesungguhnya aku diutus dengan agama yang lurus dan lapang”  (HR Muslim)

“Agama ini mudah. Siapa pun yang hendak membuatnya sulit, niscaya akan dikalahkan.” (HR Bukhari)

“Sesungguhnya kamu diutus untuk mempermudah, bukan untuk mempersulit!” (HR Tirmidzi)

“Mudahkanlah, jangan menyulitkan. Tebarkanlah optimisme; jangan membuat orang menjadi pesimis (HR Bukhari dan Muslim).

Begitulah yang dapat kita ketahui di antara hadis-hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW. Dan masih banyak lagi yang mengandung pengertian seperti itu, tidak mungkin disebutkan di sini semuanya. Sudah barang tentu, pengertian seperti itu beliau simpulkan dari wahyu Allah SWT-berupa ayat-ayat Al-Quran, maupun hadis-hadis qudsiy- yang menegaskan bahwa perintah-perintah Allah semuanya adalah ringan dan mudah dikerjakan; tak mungkin menjadi beban menyulitkan bagi siapa saja yang melaksanakannya.

Di antara firman-firman Allah SWT,  “Sungguh Allah takkan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah [2]: 185). Atau, “…dan Dia tidak menjadikan suatu kesulitan bagimu dalam agama…” (QS. Al-Hajj [22]:78).

Begitu pula di antara do’a-do’a yang diajarkan kepada kita dalam Al-Quran adalah, “Wahai Tuhan kami, jangalah Engkau bebankan atas diri kami beban yang berat, sebgaimana Engaku bebankan atas orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan atas diri kami apa yang tak sanggup kami memikulnya… Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami…” (QS Al-Baqarah [2]:286)

Begitulah nuansa kemudahan agama yang dapat kita tangkap ketika menyimak kedua sumber utamanya: Al-Quran dan As-Sunnah. Namun sayangnya, sebagian di antara para pakar fiqih di masa-masa lalu, adakalanya berlebihan dalam ber-ihtiyath (bersikap hati-hati), serta dalam membahas pelbagai masalah kurang penting sampai serinci-rincinya, sedemikian rupa sehingga sering kali justru menimbulkan kesempitan dan kesulitan dalam pengamalan ketentuan agama, yang disesuaikan dengan interpretasi masing-masing. Di tambah lagi dengan ta’asshub (fanatisme) yang dianut oleh para murid dan pengikut mereka, yang hanya membolehkan bagi seseorang mengikuti pendapat beberapa orang saja (yang dikenal- terutama di kalangan Ahl Sunnah Wal Jamaah- sebagai para imam empat mazhab fiqih paling populer: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali). Bahkan adakalanya lebih ketat lagi, sehingga hanya membolehkan mengikuti satu mazhab selain yang telah diikutinya sejak masa kecil. Walaupun dalam pelaksanaan salah satu kewajiban ibadanya-sesuai dengan cara yang ditetapkan dalam mazhabnya sendiri-seseorang menjumpai kesulita yang tidak kecil. Seolah-olah para imam ini  adalah Mussyarri’ (pembuat syariat) yang ma’shum (yang tak mungkin keliru atau melakukan kesalahan), dan karenanya wajib diikuti semua pendapatnya dan dilarang keras berbeda pendapat dengannya.

Kewajiban mengikuti dalil

Pada hakikatnya, para imam yang amat bijak dan luas ilmunya itu, tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa hanya mereka sajalah yang boleh diikuti pendapatnya. Bahkan mereka justru melarang siapa saja mengikuti pendapat mereka, kecuali setelah mengetahui dali Al-Quran dan As-Sunnah yang menjadi dasarnya. Dan seandainya dalil Al-Quran dan As-Sunnah yang menjadi dasarnya. Dan seandainya ada dalil lain dari kedua sumber  utama itu yang bertentangan dengan pendapat mereka, maka wajiblah meninggalkan pendapat mereka, seraya mengikuti dalai Al-Quran dan As-Sunnah yang memang lebih layak diikuti.

Abu Hanifah misalnya, pernah menyatakan, “Inilah yang terbaik dari apa yang dapat kami simpulkan. Tetapi barangsiapa  melihat kesimpulan lain yang lebih baik, hendaklah ia mengikutinya.” Pernah ada yang bertanya kepadanya, “Apakah kesimpulan  Anda inilah yang paling benar dan tak ada keraguan padanya?”. “Aku tidak tahu,” Jawabnya. “Jangan-jangan itu adalah kesalahan yang tak ada keraguan padanya!”

Ia (Abu Hanifah) juga pernah menegur Abu Yusuf, salah seorang muridnya, “Hai, apakah engkau mencatat semua yang kuucapkan?!Adakalanya hari ini aku mempunyai pendapat tentang sesuatu, lalu besok aku berpendapat lain. Dan mungkin pula hari sesudahnya aku mengubah pendapatku itu!”

Diriwayatkan pula bahwa Harun Ar-Rasyid pernah berkata kepada Imam Malik r.a., “Biarkan aku menyebarkan kitab-kitab yang Anda karang ini ke seluruh negeri Islam,  dan mengharuskan  mereka semua agar hanya berpegang padanya saja. ” Maka Jawab Imam Malik, “Tidak wahai Amirul-Mukminin. Perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah rahmat dari Allah atas umat ini. Masing-masing orang mengikuti  apa yang bersesuaian dengan dalil  yang sahih baginya. Dan mereka semua beroleh hidayah, serta menghendaki keridhaan Allah.”

Sejanjutnya Malik r.a. berkata, “Sering kali Harun Ar-Rasyid meminta pendapatku untuk menggantungkan kitab Al-Muwath-tha’ (kumpulan hadis yang disususn oleh Malik -pen) di Ka’bah, lalu memaksa rakyat  agar mengikuti kandungannya. Tetapi aku selalu berkata kepadanya, ‘Jangan, wahai Amirul-Mukminin. Para sahabat Nabi Saw. adakalanya berbeda pendapat dalam hal furu’ (cabang-cabang syariat) dan mereka telah berpencar di seluruh penjuru negeri. Sedangkan pendapat mereka semuanya benar. Biarkanlah masing-masing negeri memilih yang terbaik di antara pendapat-pendapat yang mereka dengar.”

Demikian pula Imam Syafi’i r.a. Beliau selalu mewanti-wanti para muridnya untuk tidak  mengkuti pendapatnya  yang berdasarkan qiyas (analogi) jika mereka mendapati hadis yang bertentangan dengan pendapatnya itu. Katanya, “Apabila ada hadis sahih, itulah  madzhab-ku (pendirianku atau pendapatku). Dan buanglah jauh-jauh pendapatku yang bertentangan dengannya.” Katanya lagi, “Bumi manakah yang mengangkatku dan langit manakah yang menaungiku, jika ada hadis sahih dari Rasulullah SAW. sedangkan aku mengatakan sesuatu yang bertentangan dengannya?!”

Demikianlah  yang dapat disimpulkan dari ucapan-ucapan para imam, tak satu pun dari mereka berkehendak memaksakan pendapatnya atas orang-orang lain. Atau agar semua ucapan dan pendapat mereka diikuti sepenuhnya sebagaimana ucapan Nabi Saw. Sejauh-jauh yang mereka inginkan hanyalah berusaha mendekatkan pemahaman tentang Al-Quran dan As-Sunnah kepada umat. Mereka benar-benar menyadari bahwa mereka sendiri tidak terlepas dari keasalahan, dan bahwa kepatuhan mutlak hanyalah khusus kepada Rasul Saw. Sebagaimana dinukilkan dari Ibnu Abbas, ‘Atha’, Malik dan lainnya, “Siapa pun boleh diterima atau ditolak ucapannya, kecuali Rasulullah SAW”

Tidak Ada Monopoli bagi Siapa Pun dalam Menafsirkan Nash

Menjadi jelaskah bahwa Islam tidak mengistimewakan siapa pun untuk melakukan interpretasi terhadap nash-nash Al-Quran, atau memiliki hak untuk memaksakan hasil pemahamannya kepada seluruh umat. Sebaliknya, Islam memberikan hal tersebut kepada muslim mana pun  yang memiliki keahlian  untuk meneliti dan menyimpulkan dari kedua sumber utama hukum agama: Al Quran dan As-Sunnah. Adapun mereka yang tidak wajib mengikuti orang tertentu, siapa pun dia, mengingat bahwa sesuatu yang dianggap wajib hanyalah yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mewajibkan manusia mengikuti suatu mazhab atau pendapat dari seorang ahli fiqih tertentu. Karenanya, mewajibkan sesuatu seperti itu adalah sama saja dengan membuat syariat baru (Lihal Mahmud Syaltut, Al-Islam: ‘Aqidah wa syari’ah, hlm 556).

Adapun tugas seorang ahli yang kepadanya diajukan pertanyaan tentang suatu masalah kagamaan, tidak lebih daripada memberian penjelasan sejauh yang diketahuinya, tanpa memaksakan pendapatnya itu atas si penanya. Dan si penanya bebas untuk mengikuti pendapat tersebut, atau -jika tak merasa puas-boleh saja bertanya kepada seorang ahli lainnya, dan begitulah seterusnya.

Kebiasaan seperti itu di kalangan kaum Muslim telah berjalan sejak tahun-tahun pertama sepeninggal Rasulullah Saw. Rakyat awam bertanya kepada siapa pun di antara para sahabat yang dianggap memiliki pengetahuan, tanpa terikat oleh pendapat tertentu. Kemudian pada abad kedua dan ketiga Hijriah, mereka bertanya kepada tokoh-tokoh tabi’in dan setelah itu kepada para tabi’-tabi’in, dan begitulah seterusnya sampai kepada generasi keempat imam mazhab paling populer di kalangan Ahl As-Sunnah wal-Jama’ah: Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Sementara itu, kelompok-kelompok kaum Muslim lainnya, bertanya pula kepada para ahli ilmu dari kalangan mereka masing-masing.

Berpindah dari Satu Mazhab ke Mazhab Lainnya.

Ada sebagian para fuqaha’ menyatakan bahwa setiap orang harus memilih salah satu mazhab di antara keempat mazhab yang diakui. Dan bahwa dalam melaksanakan ajaran agama, ia tidak boleh melakukan sesuatu kecuali atas dasar mazhab yang telah dipilihnya.

Akan tetapi tidak semua fuqaha’ berpendapat seperti itu. Ada ungkapan populer yang menyatakan bahwa “orang awam tidak mempunyai mazhab”. Karenanya, boleh saja mengikuti mazhab mana pun juga. Hal ini mengingat bahwa kewajiban bermazhab hanyalah bagi yang memiliki pengetahuan tentang dalil-dalil. Oleh sebab itu dasar penyimpulan hukum, wajib bertanya kepada siapa saja yang ia kehendaki: baik ia seorang ‘alim (ulama) bermazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki ataupun yang lain.

Dalam hal ini, Mahmud Syaltut ketika masih memangku jabatan sebagai Syaikh Al-Azhar di Kairo, Mesir, pernah mengeluarkan fatwa yang dimuat dalam majalah Risalat Al-Islam, nomor 3, tahun ke-11 sebagai berikut :

Agama Islam tidak mewajibkan suatu mazhab tertentu atas siapa pun di antara kaum Muslim. Setiap Muslim berhak sepenuhnya mengikuti salah satu mazhab yang manapun, yang telah sampai kepadanya secara benar dan meyakinkan, dan yang rincian hukum-hukum yang berlaku padanya telah tercatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab mazhab bersangkutan, yang memang kikhususkan untuk itu.

Begitu pula, setiap orang yang telah mengikuti salah satu mazhab tertentu, dibolehkan berpinda ke mazhbab lainnya, yang mana pun juga. Dan dalam hal ini, ia tiada berdosa sedikit pun dalam perbuatannya itu.

Abdurrahman Al-Jaziri, seorang ulama dari Mesir menegasan dalam bukunya, Al-fiqh ‘ala’l Madzahib Al-Arba’ah (IV/341), antara lain sebagai berikut :, “Di antara kaidah-kaidah ushul yang telah ditetapkan adalah, bahwa bertaklik kepada seorang mujtahid tidaklah wajib. Karenanya, tidak wajib berpegang pada pendapat seorang mujtahid tertentu. Bahkan dibolehkan bertaklid kepada mujtahid manapun di antara para mujtahid di kalangan umat, Islam, berkaitan dengan suatu pendapat yang dinisbatkan kepadanya secara sahih”.

Dan sehubungan  dengan dibolehkannya  mengikuti suatu pendapat dari mazhab yang berlainan dengan mazhab seseorang demi memperoleh keringanan, di bawah ini kami nukilkan peristiwa yang menyangkut Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Mufti mazhab Syafi’i di kota Makkah (sebelum dikuasainya negeri Hijaz oleh wangsa Al-Saud seperti sekarang – pen).

Pada suatu hari, ia keluar dari rumahnya untuk shalat subuh di Majid’l-Haram, pada waktu kota kota Makkah penuh sesak dengan jamaah Haji. Ketika sudah dekat dengan Masjid, secara tidak sengaja menginjak kaki seekor anjing yang segera meloncat dan merobak bajunya. Maka Sayyid Ahmad Dahlan bergumam, “La haula wala quwwata Illa billah.” Ia hampir saja pulang untuk membersihkan kaki dan bajunya dari bekas gigitan anjing tersebut, namun ia mengurungkan niatnya itu dan berkata kepada dirinya sendiri, “Jikka pulang sekarang, aku akan ketinggalan kesempatan bershalat jamaah di Masjidil-Haram bersama khalayak yang sedemikian banyaknya. Sungguh, anjing ini adalah ‘setan’ (yang akan menghalangiku dari memperoleh kesempatan amat berharga).”

Lalu ia segera memasuki masjid dan bershalat sbuh tanpa mengganti pakaiannya itu. (Padahal, sebagai seorang Mufti mazhab Syafii, ia mengetahui dengan pasti bahwa menurut mazhabnya itu, ia wajib mencci bajunya serta kakinya yang digigit anjing, sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan air bercampur tanah).

Kemudian, peristiwa itu diceritakan kepada murid-muridnya, seraya menyatakan bhwa dalam peristiwa itu, ia mengikuti mazhab malik (dalam hal tidak najisnya anjing, kecuali terhadap bejana yang dijilati olehnya). Selanjutnya ia berkata, “Saya tidak memberitahukan kepada kalian tentang hal ini kecuali agar kalian meninggalkan kefanatikan yang membawa kesulitan bagi manusia. Sedangkan agama adalah mudah dan lapang.”

Kisah di atas disampaikan oleh Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas (w.1334 H) seorang Ulama besardari Hadramaut, Yaman Selatan, yang penduduknya hampir 100% Muslim bermazhab Syafi’i. Lebih khusus lagi, mereka selalu mengutamakan pendapat Ibnu Hajar dan Ar-Ramli (dua di antar ahli fiqih mazhab Syafi’i yang dikenal cenderung mempersulit). Tentang hal ini, Al-Habib Ahmad merasa heran mengapa banyak orang hanya mau berpegang pada pendapat kedua ahli fiqih tersebut, bukan ahli fiqih yang lain yang pendapatnya lebih meringakan?! “Siapa gerangan yang menyataan bahwa tidak boleh berfatwa kecuali sesuai pendapat Ibnu Hajar dan Ar-Ramli? Adakah ayat Al-Quran atau hadits Nabi Saw yang menyatakan seperti itu? Luaskanlah ilmu kalian, dan biarkan siapa saja beroleh manfaat dari keluasan ilmu. Adakah kalian berani mengatakan bahwa kaum fuqaha yang datang belakangan (seperti Ibnu Hajar dan Ar-Ramli -pen) lebih berilmu  atau lebih berhati-hati daripada mereka yang terdahulu, seperti Imam Haramain, Al-Ghazali, Asy-Syirazi, Ibn Rif’ahdan An-Nawawi?” Dalam kesepatan lain, beliau pernah berkata, ” Para ahli fiqih (yakni di masa beliau -pen). sikapnya diliputi jumud (kebekuan). Mereka hanya mau mengikuti pendapat yang tercantum dalam buku-buku fiqih tertentu saja. Apabilamelihat ada dua pendapat atau dua cara  dalam suatu masalah (hukum agama), telinga dan hati mereka enggan menerimanya. Mereka menganggap bahwa setiap pendapat yang tidak sejalan dengan fatwa yang mereka kuatkan, adalah bathil. Dan apabila menjumpai suatu pendapat yang meringkan, mereka justru berkeberatan. Karenanya, betapa pun niatnya baik, atau tujuannya demi ber-ihtiyath (bersikap hati-hati), namun mereka ini termasuk di antara orang-orang yang berniat mempersulit umat, sebagaimana dalam doa Nabi Saw., “Ya Allah, siapa saja mempersulit atas umatku, maka persulitlah atas dirinya!”. Dan memang demikianlah keadannya. Mereka yang selalu mempersulit, niscaya Allah menimbulkan kesulitan atas diri mereka sendiri, serta kesempitan dalam dada mereka! juga dalam ilmu dan akhlak mereka, bahkan dalam rizki mereka! Sedangkan para salaf kita (para tokoh terdahulu) senantiasa mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah. Apa saja yang di-nash-kan dalam kedua-duanya, pasti mereka ikuti, dan dalam hal itu mereka tidak akan bertaklik kepada siapa pun. Singkatnya, mazhab kita adalah mazhab syafi’i, tetapi hanya dalam hal-hal yang tidak ada  firman Allah atau sabda Rasul tentangnya. Sedangkan apa saja yang telah engkau ketahui sumbernya, janganlah bertaklid selain kepada Tuhanmu! Sayangnya, banyak orang terjerumus dalam kekeliruan mengenai hal ini.” ( Sayyid Abu Bakar (‘Ath-thas) bin abdullah Al-Habsyi, Tadzkir An-Nas, hlm 44, Maktabat Isa Al-Babiy Al-Halabiy, Cairo, 11979.

Metode penulisan buku ini

Buku ini saya tulis dengan tujuan utamanya untuk mencapai (1) kemudahan dalam melaksanakan ibadah, (2) keluasan dalam wawasan keberagamaan, dan (3) keluesan sikap dalam berbeda pendapat.

Untuk itu saya mencoba memperbandingkan antara pemikiran dan pemahaman dari berbagai mazhab fiqih yang mu’tabar (yang diakui koompetensinya oleh masyarakat Muslim secara umum)- bahkan juga pendapat-pendapat yang diriwayatkan dari para Sahabat dan Tabi’in- agar dapat memilih di antaranya hukum-hukum serta tata-cara ibadah yang lebih praktis dan tidak menyulitkan pelaksanaannya. Saya juga berusaha sungguh-sungguh untuk melepaskan diri dari taklid buta serta kefanatikan terhadap mazhab atau imam tertentu.

Pada hakikatnya, sikap fanatik seperti itu tidak dikenal di kalangan para salaf terdahulu, tetapi merupakan sesuatu yang baru muncul di abad-abad terakhir. Padahal telah kita ketahui bahwa sikap seperti itu dilarang oleh para imam mazhab sendiri, sebagaimana telah disinggung di atas.

Dengan sikap meninggalakn kefanatikan kepada suatu mazhab tertentu inilah, diharapkan timbulnya kesadaran dalam diri setiap individu, betapa besarnya kekayaan khazanan kita- kauh Muslim- di bidang pemahaman hukum agama, dan betapa para ulama kita terdahulu telah bersusah payah, berijtihad demi kepentingan kaum muslim secara keseluruhan. Kesadaran seperti ini mudah-mudahan mampu menghilangkan pemikiran  yang sempit, yang sering kali mengklaim kebenaran sebagai monopoli kita sendiri, sementara pendapat orang lain yang tidak sejalan dengan pendapatkita, pasti salah. Kesadaran seperti ini pula yang sekaligus mampu menumbuhkembangkan rasa toleransi yang leibh besar terhadap perbedaan pendapat yang ada di bidang hukum agama, antra pengikut mazhab yang satu dengan pengikut mazhab lain. Firman Allah SWT., “Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama sebagaimana yang ia wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa: ‘Hendaklah kamu tegakkan agama itu, dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.” QS. Asy-Syura [42]:13)

Mungkin ada yang bertanya, “Mungkinkah dua pendapat yang saling bertentangan, kedua-duanya dianggap benar? Jawabnya, “Tentu!” Salah satu contohnya, adalah hadis yang dirawikan oleh Abu Sa’id Al-Khudri r.a tentang dua orang sahabat yang berada dalam suatu perjalanan, ketika masuk waktu shlat sedangkan mereka tidak menjumpai air. Kedua-duanya bertayamum lalu shalat. Kemudian mereka memperoleh air. Seorang dari mereka mengulang wudhu dan shalatnya, sedangkan yang satunya lagi tidak. Sekembalinya mereka ke Madinah, pengalaman mereka itu disampaikan kepada nabi Saw. Maka beliau berkata kepada yang tidak mengulang, “Yang kamu lakukan itu sudah sesuai dengan sunnah, dan shalatmu (yang tidak diulang) itu sudah cukup. “Dan kepada temannya yang mengulang wudhu dan shalatnya, beliau berkata, “Kamu mendapat pahala dua kali.” (HR Al-Baihaqi, Abu Daud dan Nasa’i). Demikianlah, Nabi Saw membenarkan ijtihad kedua orang tersebut, walaupun hasilnya tidak sama.

Walaupun demikian, haruslah saya aku adanya sedikit kecenderungan mendahulukan pendapat dari kalangan ulama mazhab Syafi’i -yang merupakan panutan mayoritas kaum Muslim di Indonesia-sebelum yang lain. Namun saya sama sekali tidak menutup diri terhadap pendapat-pendapat yang berbeda dari mazhab-mazhab lainnya, sepanjang dapat dipertanggungjawabkan otentisitasnya, serta memenuhi apa yang saya jadikan tujuan dari penulisan buku ini.

Saya sendiri lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berpegang pada mazhab Imam Syafi’i dalam pelaksanaan ibadah ritual sehari-hari, seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya. Namun saya bersyukur bahwa ayah saya (rahimahullah) termasuk yang berwawasan luas, dan terbuka untuk pelbagai perbedaan pendapat yang biasa berlaku di kalangan umat. Sejak usia remaja, saya menyaksikannya bersama kawan-kawan terdekatnya, mendiskusikan buku-buku yang tidak hanya ditulis oleh kalangan mazhab Syafi’i di  bidang fiqih, dan Al-Asy’ari di bidang teologi; tetapi juga hasil karya ulama-ulama yang berseberangan dengan mereka dalam pendapat-pendapat yang mereka kemukakan, bahkan yang berasal dari luar kalangan Ahlus-Sunnah sekalipun

Tradisi seperti itulah yang amat berpengaruh pada jiwa saya, sehingga – walaupun secara umum tetap setia mengikuti cara-cara beribadah dalam mazhab Syafi’i yang dalil-dalilnya dapat saya terima-namun saya tidak merasa tabu untuk membaca karya-karya dari pelbagai kelompok Muslim, yang tradisional maupun yang modern, dari kalangan Ahlus-Sunnah Wal-Jama’ah maupun dari kaum Mu’tazilah, Syi’ah, Zhahiriyah, Salafiah dan lain-lainnya. Sering kali saya merasa kagum akan kehebatan seseorang dari mereka dalam berargumentasi, demi memenangkan hasil pemikiran kelompoknya sendiri dan ‘menghancurkan’ argumentasi lawan. Meskipun saya sadar sepenuhnya, bahwa kepandaian beradu argumen seperti itu belum tentu menghasilkan kebenaran yang hakiki. Tidak jarang pula saya dapat ‘memahami’ (atau ‘memaklumi’) jalan pikiran mereka, walaupun hal itu tidak harus berarti bahwa saya menyetujuinya, apalagi mengikutinya. Paling-paling saya menjadi lebih terbuka dan lebih toleran dalam menerima perbedaan pendapat, dan hal itu jugamembuat saya lebih memahami sabda Nabi Saw., “Ikhtlafu ummati rahmah” (Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat); walaupun sebagian ulama ada juga yang meragukan kesahihan hadis tersebut. Demikian pula makna yang tersurat dan tersirat dalam firman Allah SWT:, “… Bagi setiap umat di antara kamu, Kami jadikan aturan dan jalan yang terang. Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu sekalian dijadikan-Nya satu umat (saja); tetapi Allah hendak menguji kamu berkenaan dengan segala yang diberikan-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah tempat kembali kamu semuanya, lalu Ia akan memberitahukan kamu akan apa saja yang telah kamu perselisihkan (QS Al-Maidah [5]: 48).

Hal itu pula barangkali yang telah menghalangi saya – sepanjang hidup saya – untuk menjadi salah seorang anggota kelompok atau organisasi keagamaan yang mana pun. karena saya tidak ingin kemerdekaan berpikir saya  menjadi terganggu disebabkan kewajiban menaati dan mematuhi disiplin kelompok tersebut, hatta dalam hal-hal yang bertentangan dengan pikiran dan perasaan saya pribadi. Lebih dari itu, saya ingin menanamkan dalam diri keluarga saya terutama, tentang pentingnya bersikap  toleran terhadap  setiap Muslim, yang telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya; tanpa melihat dari kelompok mana pun ia berasal.

Demikian pula dalam menghadapi beraneka ragamnya pendapat dalam kelompok-kelompok muslim, sungguh tepatlah himbauan Al-Iman Hasan Al-Banna (rahimahullah), “Marilah kita saling membantu dalam hal-hal yang kita sepakati bersama, dan saling memaafkan (atau bersikap toleran) dalam hal-hal yang tidak kita sepakati”.

Adapun dalam kaitannya dengan penulisan buku ini, saya sungguh merasa kagum dan sejalan dengan sikap DR. Yusuf Al-Qardhawi yang menulis dalam kata pengantarnya untuk buku Fiqh Az-Zakah, antara lain sebagai berikut :

                Dalam upaya perbandingan antar mazhab-mazhab Islam, saya tidak membatasi dirihanya pada keempat mazhab populer saja. Sebab yang demikian itu akan merupakan perbuatan aniaya amat keji, terhadap mazhab-mazhab dan pendapat-pendapat lainnya yang ada dalam lingkungan fiqh Islamy.  Cukup banyak pendapat yang berasal dari para ahli fiqh dari kalangan Sahabat dan Tabi’in serta tokoh-tokoh yang datang sesudah mereka. Tidaklah dapat dibenarkan- dari segi akal maupun syariat- untuk mengabaikannya sama sekali dan tidak memanfaatkannya. Di luar para Sahabat yang tak diragukan lagi keutamaan mereka, masih ada pula mazhab-mazhab dari banyak tokoh lain, seperti Sa’id bin Musayyab, Umar bin Abdul Aziz, Az-Zuhri, An-Nakha’iy, Al-Hasan, ‘Atha’, Asy-Sya’biy, Mimun bin Mahran dan lain-lainnya dari kalangan Tabi’in. kemudian tokoh-tokoh sesudah mereka, seperti Ats-Tsauriy, Al-Auza’iy, Abu ‘Ubaid, Ath-Thabariy, Daud Azh-Zhahiri dan lain-lainnya lagi. Pendapat-pendapat mereka itu sungguh merupakan kekayaan ilmiah amat berharga, sehingga mengabaikannya begitu saja merupakan suatu kekeliruan dalam ilmu, serta dosa dalam agama.

                Bahkan saya tidak membatasi diri dengan menelaah mazhab-mazhab Ahlus-Sunnah saja; tetapi juga fiqih kalangan Syi’ah Zidiyah dan Imamiyah, mengingat bahwa perbedaan pendapat antara kita dan mereka dalam hal-hal furu‘, hanya sedikit saja dan tidak terlalu penting. Sementara kita telah menyaksikan di antara tokoh-tokoh terkemudian, seperti Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar, menyebutkan juga pendapat-pendapat para tokoh dari kaum Zaidiyah dan Imamiyah, seperti Al-Hadi, Al-Qasim, Al-Baqir, An-Nashir, dan lain-lain. Dan dalam kenyataannya, para ulama Ahlus-Sunnah sama sekali tidak berkeberatan menggunakan buku-buku tersebut.

Demikianlah pernyataan Al-Qardhawiy tentang metode penulisannya. Metode seperti itu, yang juga saya tempuh dalam penulisan buku ini, tidak dapat disamakan dengan talfiq, yakni mencomot dari sana sini ketentuan-ketentuan yang paling ringan dari setiap mazhab. Sebab, saya tidak menukil begitu saja pendapat-pendapat dari para ulama mazhab, tanpa menelitinya dan menyimpulkannya dari dalil-dalil yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah, serta memperbandingkannya dengan pendapat para ulama lainnya, di samping memperhitungkan kemaslahatannya bagi umat. Dalam hal ini saya berpegang pada ucapan Imam Ali r.a., “Lihatlah kepada apa yang dikatakan dan bukan siapa yang mengatakan!”

Tentunya tidak semua penelitian dan penyimpulan tersebut dapat saya uraikan dalam buku ini kecuali saya anggap perlu saja, demi menjaga agar tidak menjadi terlalu tebal.

Pelbagai Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat

Pada dasarnya, semua ulama dan pakar fiqih bersepakat bahwa sumber utama dan yang paling diutamakan dalam menetapkan suatu hukum syariat adalah Kitab Allah: Al-Quran; kemudian Sunnah Rasul Saw., atau kedua-duanya bersama-sama.

Walaupun demikian, terjadi juga perbedaan pendapat yang tidak sedikit di kalangan mereka, dalam hal penyimpulan hukum-hukum dari kedua sumber utama tersebut. Hal ini ada kalanya diakibatkan oleh perbedaan pemahaman atau penafsiran yang berkaitan dengan kedua-duanya; yakni ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi Saw. Atau adakalanya berkaitan dengan penilaian terhadap kuat atau lemahnya sanad (silsilah para rawi) dalam hadis Saw atau pun karena berbagai penyebab lainnya yang bersumber pada perbedaan situasi dan kondisi serta latar belakang pendidikan dan pengalaman, atau bahkan kecenderungan kultural dan politikal para ahli fiqih itu masing-masing.

Sebagai contoh, perbedaan yang bersumber dari kata quru’ dalam firman Allah Swt, “Perempuan-perempuan yang ditalak hendaklah menahan diri (atau menunggu untuk dapat menikah lagi) selama tiga quru’.” (QS. Al-Baqarah [2]:228). Kata quru’ dalam bahasa Arab, dapat bararti masa hadi atau sebaliknya; yakni masa suci di antara dua kali masa haid. Berdasarkan perbedaan arti kata tersebut, Imam Syafi’i dan Imam Malik berpegang pada artinya sebagai masa suci, dan karenany amasa ‘iddah (masa menunggu) bagi perempuan yang ditalak adalah dihitung sebanyak tiga kali masa sucinya, sehingga dianggap selesai dengan lewatnya masa suci yang ketiga.

Sedangkan Abu Hanifah dan beberapa ulama lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan quru’ adalah masa haid. Karenanya masa ‘iddah’ bagi perempuan yang ditalak, harus dihitung dengan tiga kali masa haidnya, sehingga selesai dengan selesainya masa haid yang ketiga, (bukan masa sucinya seperti dalam pendapat pertama).

Sudah barang tentu, masing-masing pihak mempunyai argumen-argumen tertentu, mengapa berpegang pada arti yang ini, bukan yang itu, meskipun kedua-duanya mengacu pada Al-Quran juga.

Contoh lainnya adalah kalimat: “…atau kamu melakukan ‘persentuhan’ dengan perempuan.” (QS. An-Nisa'[4]: 43). Imam Syafi’i mengartikan ‘persentuhan’ secara harfiah, sehingga menganggap wudlu seseorang menjadi batal setelah terjadinya persentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Sedangkan Abu Hanifah dan beberapa tokoh lainnya memahami kata ‘persentuhan’ sebagai kiasan untuk hubungan seksual (senggama). Karenanya, persentuhan biasa antara kulit laki-laki dan perempuan- menurut mereka tidak membatalkan wudlu. (Masalah ini dapat dibaca secara lebih rinci di bawah Judul: Hal-hal yang membatalkan Wudlu, dalam buku ini).

Selain itu, perbedaan pendapat yang berkaitan dengan sunnah Rasul Saw., bersumber dari lebih banyak faktor lagi. Antara lain, karena suatu hadits sampai kepada seorang ulama dan tidak sampai kepada yang lainnya. Atau sampai kepada kedua-duanya, namun melalui jalur yang berbeda, sehingga disahihkan oleh yang satu meskipun di-dha’if-kan oleh yang lain. Atau melalui para rawi  yang semuanya memenuhi persyaratan untuk layak dipercayai oleh yang satu, sementara bebereapa di antara para rawi  tersebut justru diragukan kredibilitasnya oleh yang lain. Dan begitulah seterusnya, sehingga timbul pendapat-pendapat yang berbeda di kalangan para ahli fiqih, walaupun mereka semua mengacu kepada dua sumber utama yang sama: Al-Quran dan As-Sunnah.

Keterangan tersebut di atas, merupakan contoh-contoh amat sederhana menyangkut sebab-sebab perbedaan pendapat di kalangan ulama, terutama di bidang penetapan hukum-hukum syariat. Masih banyak lagi faktor penyebab perbedaan ini yang lebih rumit dan lebih substansial, yang secara lebih luas dan lebih rinci dapat dipelajari dalam kitab-kitab Ushul Al-Fiqh maupun kitab-kitab Fiqih yang memang membahas tentang perbandingan antar madzhab.

Kitab-Kitab Rujukan yang digunakan dalam Buku ini

     Para pembaca akan melihat sangat banyak catatan kaki yang keterangannya saya nukil dari berbagai buku, terutama dari tiga buku penting yang saya jadikan rujukan utama, yaitu: (1) Al-Majmu’ fi Syarh Al-Muhadz-dzab, terutama jilid pertama sampai kedeplapan dari dua puluh jilid, karya Imam Nawawi (Abu Zakaria Mhyiddin bin Syaraf, wasat th. 676 H) yang saya anggap  mewakili para pakar tradisional dari mazhab Syafi’i pada khususnya, dan pelbagai mazhab lain pada umumnya. (2) Fiqh As-Sunnah, terutama jilik pertama dari tiga jilid karya Sayyid Sabiq yang amat terkenal dan disegani di seluruh dunia Islam mewakili  pemikiran para pakar fiqh kontemporer yang tidak terikat kepada mazhab tertentu, tetap lebih banyak mempelajari sumber-sumber hukum agama dari Al-Quran dan As-Sunnah serta pelbagai pendapat para Sahabat, tabi’in serta para ulama selanjutnya. (3) Fiqh Az-Zakah, dua jilid, karya DR. Yusuf Qardhawi, yang diakui ketelitiannya dan keluasan ilmunya di pelbagai bidang dakwah, terutama melalaui buku karyanya yang luar biasa di bidang zakat, termasuk rincian pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan saat ini.

Namun bukan buku-buku itu saja yang saja jadikan rujukan. Saya telah berupaya sungguh-sungguh untuk membaca lebih banyak lagi kitab yang kebetulan saya miliki, di bidang fikih, tafsir, hadis dan lainnya, yang lama maupun yang baru yang berkaitan dengan topik-topik yang dibahas dalam buku ini, dan yang judul-judulnya dapat dibaca dalam indeks kepustakaan di halaman-halaman terakhir. Semua itu demi menyajikan fiqih yang praktis, mudah dimengerti dan dipraktekkan oleh siapa pun, dengan batasan-batasan cukup komprehensif, dan diuraikan secara adil, tidak berfanatik kepada suatu mazhab ataupun ulama tertentu.

Tidak semata-mata mencari yang memudahkan saja.

   Betapa pun termasuk di antara tujuan penulisan buku ini, adalah mencari kemudahan dalam pelaksanaan ibadah, namun tidak berarti bahwa sayaselalu mengancjurkan orang untuk dengan sengaja memilih pendapat yang lebih memudahkan saja, seraya meninggalkan pendapat yang lebih memberatkan. Tetapi hal ini tentunya berkaitan dengan situasi dan kondisi masing-masing individu. Di samping itu, saya tidak menganjurkan orang untuk selalu menggunakan fatwa-fatwa yang sangat meringankan itu sebagai kebiasaan terus-menerus, tetapi hanya apabila diperlukan saja. Sebagaimana disebutkan oleh Asy-Sya’rani:

Dalam setiap perintah dan larangan, ketentuansyariat Islam selalu berada di antara dua tingkatan : yang meringankan dan yang memberatkan. Begitu juga setiap mukallaf  (orang yang berlaku padanya perintah dan larangan syariat) di setiap tempat dan zaman, pasti diak keluar dari dua kategori: yang kuat dan yang lemah, ditinjau dari segi keimanan maupun fisiknya. Barangsiapa termask yang kuat (imannya dan /atau fisiknya), maka ia dianjurkan memilih ketentuan yang lebih berat dan berpegang pada yang bersifat ‘azimah (yakni yang memerlukan usaha dan tekad kuat). Dan barangsiapa termasuk yang lemah (iman dan/atau fisiknya), maka ia dibolehkan memilih ketentuan yang meringankan, dan berpegang pada yang bersifat rukhshah (keringanan yang diizinkan karena alasan-alasan tertentu). Dalam hal ini, kedua-duanya tetap berada di atas jalan kebenaran dari Tuhannya. Siapa saja yang tergolongg kuat, seyogjanya tidak turun ke tingkatan rukhshah, sedangkan yang lemah tidak perlu dipaksa naik ke tingkatan ‘Azimah. (Asy-Syarani Abu’l-Mawahib Agdul-Wahhab bin Ahmad Al-Anshariy Asy-Syafi’i, seorang tokoh abad kesepuluh hijri) dalam Al-Mizan Al-Kubra I/3)

Namun kebebasan menentukan pilihan secara pribadi seperti ini, tentunya hanya boleh dilakukan dalam hal-hal yang berkatian dengan ibadah mahdhah (yang bersifat ritual murni) seperti shalat, puasa, haji dan sebagainya. Dalam hal ini, saya berpegang pada sebuah riwayat dari Aisyah r.a. yang menyatakan, bahwa setiap kali Rasulullah Saw. menghadapi dua pilihan, niscaya beliau memilih yang paling mudah (atau paling ringan) di antara keduanya, selama tidak mengandung dosa. Tetapi jika hal itu mengandung dosa, amaka beliau menjauh darinya sejauh-jauhnya (HR. Muslim)

Demikian pula Sufyan Ats-Tsauriy, seorang tokoh terkemuka di bidang fiqih dan tasauf pernah menyatakan : “Ilmu yang sejati adalah dalam hal keringanan yang difatwakan oleh seorang tsiqah (yang kompeten dan patut dipercayai). Adapun sikap yang senantiasa memberaktan, dapat saja dilakukan oleh setiap orang.”

Walaupun demikian, dalam ibadah yang memiliki dimensi sosial, seperti dalam zakat misalnya, saya senantiasa memperhitungkan juga kemaslahatan umat secara umum, serta kepentingan kaum dhu’afa secara khusus, di atas kepentingan-kepentingan lainnya.

Sedangkan dalam hal-hal yang merupakan interaksi antar anggota masyarakat secara umum, seperti dalam hal pernikahan, pewarisan, jual-beli dan berbagai hukum perdata dan pidana, maka metode seperti itu (yakni dalam hal  tidak membatasi diri hanya pada pendapat mazhab tertentu saja) sebaiknya ditunjang oleh upaya jihad secara kolektif (ijtihad jama’iy) oleh para ulama dan pakar hukum di setiap negeri.  Meskipun tidak ada salahnya, bahkan sebaiknya, didaului oleh ijtihad fardiy (individual) yang dapat menjadi masukan sangat bermanfaat bagi terlaksananya ijtihad jama’iy. Dari hasil keputusan mereka wajib dipatuhi oleh setiap  Muslim dalam negeri tersebut, demi memelihara kesatuan dan persatuan, serta mencegah timbulnya anarki di bidang hukum agama.

Hal ini demi menghindari kekacauan yang mungkin ditimbulkan orang-orang tertentu, yang merasa berhak mencomot hukum agama dari sana sini secara tidak bertanggung jawab, semata-mata demi kepentingannya sendiri. Walaupun hal itu besar kemungkinannya dapat menimbulkan kerugian di pihak orang lain. Misalnya, melangsungkan pernikahan secara sembunyi-sembunyi, tanpa saksi (dengan dalih mengikuti pendapat sebagian ulama mazhab Maliki dan beberapa lainnya), dan sekaligus tanpa wali (dengan dalih mengikuti mazhab Hanafi); berlawanan dengan mazhab Syafi’i, yang mewajibkan adanya saksi dan wali sebagai persyaratan sahnya pernikahan. Atau dengan bepegang  pada pendapat sebagian kecil kalangan Syi’ah yang membolehkan nikah mut’ah (atau nikah sementara), tanpa wali dan tanpa saksi, bahkan tanpa dibatasi oleh jumlah tertentu perempuan yang boleh dinikahi dalam waktu bersamaan.

Pernikahan seperti itu pada umumnya mendatangkan kerugian di pihak istri dan anak-anak yang dilahirkan, karena tidak diakui oleh pemerintah yang berwenang, sehingga tidak mendapatkan perlindungan hukum, seandainya timbul perselisihan di kemudian hari. Di samping itu, jelas sekalibahwa pernikahan seperti itu bertentangan dengan konsep agama Islam yang menjadikan lembaga perkawinan sebagai sesuatu yang sakral, yang harus diumumkan secara terbuka agar tidak menimbulkan desas desus yang mencurigakan, sehingga nantinyapasti berpengaruh buruk terhadap nama baik keturunan yang dihasilkan. Pernikahan juga seyogyanya merupakan upaya menjalin cinta kasih (mawaddah)  dan rahmah bagi pasangan suami-istri, di samping mendatangkan kebahagiaan dan keakraban di antara keluarga besar mereka masing-masing, bukan hanya di antara kedua-duanya saja.

Fatwa-fatwa berkaitan dengan persyaratan syahnya pernikahan yang saling bertentangan seperti itu- yang kebanyakannya akibat perbedaan inerpretasi sekitar nash-nash dalam Al-Quran dan As-Sunnah menyebabkan para imam pemberi fatwa itu menggunakan pemikiran mereka sesuai dengan kebutuhan di masa-masanya masing-masing.

Dan jika hasil ijtihad mereka itu ternyata tidak seragam, maka yang demikian itu, seperti telah disinggung di atas, adalah semata-mata akibat perbedaan latar belakang pendidikan, pengalaman, kondisi masyarakat dan sebagainya. Maka tidaklah mengherankan bilamana sebagian daripendapat-pendapat tersebut adakalanya bahkan sering kali tidak mampu mangikuti cepatnya perubahan dan perkembangan zaman.

Perubahan Fatwa Dengan Perubahan Tempat dan Waktu

Itulah sebabnya Ibn_Qayyim dalam I’lam Al-Mwaqqin menekankan tentang perlunya perubahan fatwa dengan perubahan tempat dan waktu.

Maka kewajiban kita di masa sekarang ialah meninjau kembali, manakah di antara fatwa-fatwa para fuqaha terdahulu yang masih dapat dipertahankan dan mana pula yang harus diganti, atau dilengkapi dengan persyaratan-persyaratankhusus yang sesuai dengan perubahan zaman, dan lebih memenuhi tujuan utama syariat, dalam mengutamakan kemaslahatan kaum Muslim secara khusus, dan umat manusia secara umum.

Untuk pembahasan lebih rinci, apabila Allah Swt, mengizinkan, Buku pertama ini yang berisi ketentuan-ketentuan fiqih di bidang Ibadat, akan saya lanjuti dengan Buku Kedua yang berisi ketentuan-ketentuan fiqih di bidang Mu’amalat, yang berkaitan dengan interaksi antar masyarakat; seperti pernikahan, perceraian, pewarisan, jual beli, wakaf dan lain-lain, Insya Allah.

Penutup

Ucapan terima kasih pertama-tama saya tujukan kepada keluarga saya sendiri yang telah memberikan suasana yang kondusif untuk penulisan buku ini, kemudian kepada beberapa teman yang telah memberikan semangat dan dorongan. Dan secara khusus pula, penghargaan dan ungkapan terimakasih saya tujukan kepada sahabat karib saya, Al-Ustadz Abd’l-Qadir Abd’r-Rahman Al-Jufri, yang telah bersedia membaca naskah buku ini sebelum naik cetak, dan memberikan beberapa kreksi serta saran perbaikan yang sangat bermanfaat. Walaupun demikian perlu kiranya saya tegaskan, bahwa semua isi buku ini sepenuhnya tetap menjadi tanggung jawab saya sendiri.

Akhirnya, sebagai manusia biasa yang tak terhindar dari kekeliruan dan kealpaan, saya sangat menyadari keterbatasan saya dalam bidang yang amat penting ini. Dan karenanya, segala saran dan kritikan yang datang dari para pembaca, terutama para pakar fiqih, akan saya sambut dengan senang hati, dan akan saya gunakan sebagai bahan masukan untuk perbaikan di masa-masa mendatang. Wa billahit Taufiq Wal-hidayah

Jakarta, Rabi’ Al-Awwal 1419 H/ Juli 1998

Muhammad Bagir Al-Habsyi