Tag Archives: digital multimedia broadcasting

Membuat Stasiun TV Digital Mini di Rumah

Part I : Latar Belakang

————————————————————————————

DOWNLOOOOD!!!

Ya… Itu adalah hobi saya bertahun-tahun yang lalu. Ketika saya sendiri sedang bekerja, laptop saya pun tak mau kalah ikut-ikutan bekerja keras mengoperasikan IDM… apalagi saat itu koneksi internet kantor berkelas dedicated bandwidth (internet kelas dewa katanya) dengan kecepatan 40 mbps. Untuk download film sebesar satu giga byte dari Indowebster hanya perlu waktu sekitar 10 s.d 15 menit. Bayangkan jika memakai akses internet berkuota seperti jaringan seluler yang ada sekarang yang bertarif ratusan ribu untuk beberapa giga byte data. Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk mengunduh file-file berukuran raksasa seperti sebuah film full HD. Belum lagi speednya, meskipun katanya triji tetep aja luemot puol, gak tahu salahnya dimana.

Mendapat fasilitas Internet gratis (karena bukan saya yang bayar) dan super cepat sungguh suatu anugerah. Karena itu tanpa menyia-nyiakan kesempatan segala macam file multimedia yang ada di dunia maya saya unduh, sedot dan simpan semua di eksternal HDD. Dari mulai video sekelas tri jipi bersuara krosok-krosok sampai film sekualitas full hade teknologi triD dengan sistem tata suara surround 5.1 berbagai genre (tapi trijipinya sudah saya shredding semua, gak ada yang mutu soalnya… he he), gambar-gambar wallpaper berbagai tema beresolusi tinggi, bergiga-giga byte software aplikasi dari freeware sampai bajakan, lagu-lagu lawas maupun top forty masa kini …. semuanya… itu belum termasuk berbagai macam ebook, template, tutorial dan masih banyak lagi. Bertera-tera byte eksternal HDD sampai penuh semua berisi semua file tersebut, ditambah lagi koleksi dokumentasi keluarga istri, anak, saudara dari saat mereka bayi sampai dewasa….

Setelah puas dan mulai bosen berdownload ria, akhirnya dalam hati saya bertanya,…trus… mau saya apakan semua itu? Semua film sebagian besar sudah disimpan di Home Theater PC – Multimedia Entertainment Center dan telah ditonton semua. Semua ebook males bacanya… seandainya pun mau dan dengan jumlah file begitu banyak, mungkin seumur hidup takkan cukup waktu untuk membacanya.

Mau dibuang juga sayang, karena hampir sebagian besar file tersebut (terutama film) sudah tidak beredar lagi di internet akibat di suspend sama pemilik hosting. Apalagi isinya sebagian besar adalah master piece luar biasa hasil karya cipta manusia… ciee…

Mau dijual? Gak mentolo… Di samping dosa, terlalu alias kebangeten dan tak tahu diri, itu juga namanya melanggar hukum HAKI (meskipun menyimpannya itu sebenarnya ilegal juga, lha terpaksa wong mau beli originalnya gak kuat duitnya…).

Bahkan kalau perlu, rencananya sih semua berkas itu mau diwariskan ke anak cucu (lebay coy).

Akhirnya sebuah ide muncul tatkala suatu hari saat sedang muter-muter keliling kota melihat sebuah iklan baliho raksasa. Di sana terpampang sosok bapak menkominfo dari kabinet indonesia bersatu seri 2, lengkap dengan sebuah tulisan yang berbunyi :

MARI KITA SAMBUT ERA TIPI DIGITAL…..

ada juga iklan dari staf menkominfo lain yang berbunyi :

APAKAH ANDA SIAP DENGAN TIPI DIGITAL?

Sampai saat tulisan ini dibuat saya masih belum begitu mudheng apa maksud dengan kata-kata tipi digital yang ada di iklan itu. Saya sempat berpikir kok ya sempat-sempatnya Kemkominfo ngurusin persoalan tipi segala to… apa tidak ada urusan yang lebih penting. Ngasih internet gratis ke seluruh rakyat misalnya… mimpi kali yee…

Kalau menurut pengertian awam saya sih perbedaan antara siaran tipi digital dan analog adalah dari segi perantara sinyal gelombang elektromagnetik yang dipancarkan untuk mengirimkan tulisan, gambar dan suara. Jika siaran tipi analog menggunakan sinyal continuous maka siaran tipi digital mengirimkan gelombang radio yang ditumpangi bit-bit data multimedia. Gampangannya bisa dianalogikan jika tipi analog adalah warna abu-abu (grey area), maka tipi digital dapat dianalogikan dengan warna hitam putih (black and white). Makanya tipi analog meskipun mbruwet masih bisa disaksikan. Sementara itu tipi digital yang hanya ada dua opsi. Kelihatan dan tidak, kedengaran dan tidak, nol dan satu, ada arus dan tidak ada arus. Tidak ada istilah gambarnya ada sedikit semut dan banyak semut atau suaranya sedikit kemresek dan banyak kemresek seperti siaran analog.

Berkaitan dengan hal di atas otomatis pesawat tipi penerima siaran tipi digital tentu berbeda dengan penerima siaran tipi analog. Setahu saya pesawat tipi yang sebagian besar orang miliki dan juga beredar di pasaran adalah jenis analog, kecuali smart tipi terbaru yang tidak semua orang mampu membelinya (termasuk saya) yang sudah bisa menerima sinyal wifi atau jaringan internet. Jadi kecuali ditambah dengan perangkat tambahan (misalnya CPU Komputer) tipi-tipi analog itu mau didigitalkan bagaimana?

Atau bisa jadi kata-kata di iklan kemkominfo itu memiliki makna tersirat tertentu yang bisa diartikan dengan pertanyaan sebagai berikut:

Sudahkah anda siap memasuki zaman hitam putih karena kita akan meninggalkan zaman abu-abu? Suatu zaman dimana yang benar akan ketahuan benarnya dan yang salah akan ketahuan salahnya. Becik ketitik olo ketoro….?

Wah lha ini mau menulis masalah tipi digital kok bahasannya malah ndladarah alias ngelantur kemana-mana…

Jadi intinya iklan kominfo itu telah menginspirasi saya untuk membuat sebuah stasiun tipi digital mini di rumah dilandasi oleh anggapan yang entah benar atau salah bahwa siaran tipi digital yang dimaksud di atas adalah tak beda dengan teknologi internet yang ada sekarang. Hanya karena belum diaplikasikan dalam dunia broadcasting mangkanya kominfo menyambutnya…

Lalu bagaimana dengan tipi satelit yang pake parabola mini yang ada sekarang? Bukankah itu juga ‘agak lumayan’ digital karena tidak ada istilah gambar mbruwet. Yang ada hanya gambarnya muncul atau tidak?

Hal pokok yang menjadi kelebihan sebuah teknologi digital adalah tersedianya fitur interaktifitas dari penontonnya. Jika siaran tipi analog penonton hanya bisa pasrah menyaksikan apa yang disajikan stasiun tipi termasuk ketika diselingi iklan bejibun… maka dalam teknologi digital penonton dapat mengendalikan apa yang ditontonnya. Contohnya saat menonton film si penonton bisa mem’pause’nya waktu kebelet kencing, mem’play’ lagi setelah selesai buang hajat, men’stop’ filmnya karena mencret dan lain sebagainya. Sama kayak internet gitu lah…. Tv parabola mini itu kan belum ada fitur begitu…

Bagi yang berusia di atas kepala tiga seperti saya mungkin masih ingat masa lalu kira-kira usia SMA saat siaran gelap Radio FM sedang trend di kampung-kampung. Waktu itu membuat perangkat pemacar FM sangat murah dan mudah karena banyak tersedia di toko-toko komponen elektronika. Yang sulit (sebenarnya tidak sulit asal punya uang) adalah ‘roh’nya atau perangkat lunak berupa musik atau lagu-lagu yang akan disiarkan. Hal ini karena perangkat lunak berupa musik atau lagu masih di simpan di dalam kaset yang relatif mahal dan boros. Satu kaset hanya memuat belasan lagu saja. Bandingkan dengan era teknologi sekarang. Satu buah USB flashdisk seharga tidak sampai 50 rebu saja bisa menyimpan ratusan bahkan ribuan lagu dalam format digital.

Saat ini ‘roh’ atau software alias perangkat lunak berupa tulisan, gambar, video dan lain-lainnya untuk mendukung ide saya membuat stasiun tipi digital mini di rumah sudah lumayan lengkap. Artinya saya tinggal membutuhkan perangkat pemancar wifi untuk membroadcasting siaran tipi agar bisa diterima oleh tetangga-tetangga kanan kiri. Tentu saja oleh mereka yang memiliki perangkat penangkap sinyal wifi misalnya smart tipi, laptop berwifi, komputer PC plus wi-fi adapter, tablet atau smartphone (android, Bebe, IOS, Windows Phone) dll. Prinsip kerjanya sama saja dengan internet. Jika internet membroadcasting data dari ribuan bahkan jutaan server ke seluruh dunia, alias dari mereka, oleh mereka untuk kita semua, kalau ini datanya dari server saya, oleh saya, untuk tetangga saya he he…

Jika itu terwujud, kayaknya wajar kalau saya mengklaim diri sebagai raja media, meski baru kelas ‘choro’ atau ‘liliput’. Jangan bandingkan dengan Raja media kelas raksasa seperti pemilik Trans, MNC, Metro atau lainnya, karena ini juga sifatnya hobi dan iseng untuk keperluan edukasi. Jika broadcasting mereka melingkupi seluruh nusantara, siaran saya hanya ke tetangga satu RT/RW. Bedanya lagi kalau mereka menuntut bayaran (pakai iklan atau iruan eh iuran bulanan), siaran saya dapat diakses secara gratis…. :-D … Kecuali kalau pancaran wi-fi saya tersambung ke Internet, tentu saya harus tarik iuran. Bandwidth Internet mahal bro….

Part 2 : Persiapan Perangkat Keras dan Lunak.

Melanjutkan artikel sebelumnya tentang tipi digital, maka setelah semua konten digital saya miliki, langkah berikutnya adalah mempersiapkan segala perangkat yang diperlukan, baik itu software maupun hardware. Perangkat utama yang harus ada tentu saja adalah sebuah komputer server. Saya sempat berpikir untuk membelinya, namun saat melihat harganya yang lumayan, niat itu saya urungkan. Ini hanya sekadar iseng dan hobi, bukan untuk keperluan bisnis atau komersial, pikir saya.

Kebetulan di rumah ada seperangkat komputer jadul namun masih cukup kuat menjalankan windows 7 (bajakan-red),  Tak ada rotan akarpun jadi. Kompi AMD jadul saya install aplikasi pengelola webserver. Xampp menjadi pilihan. Sebuah aplikasi buatan Apachefriend yang terdiri dari apache, mysql, PHP, dan Perl. Jadilah kompi jadul saya sebagai server. Lumayanlah meski performanya tak setangguh kompi server beneran.

Langkah berikutnya memasang dokumen html (halaman web) untuk diisi berkas-berkas multimedia agar dapat ditampilkan di browser. Di tengah jalan permasalahan mulai muncul dari Sistem Operasi Windows 7. Virus merajalela. Belum lagi beberapa program yang crash sana sini. Maklumlah namanya juga OS bajakan. Dalam hati saya berpikir menanam padinya saja belum terlaksana, hama penyakit sudah menjajah ladangnya… Jangan sampai niatnya mau broadcasting multimedia malah jadi broadcasting virus.

Sepertinya harus beralih ke software open source. Akhirnya Operating System saya ganti Linux. Pilihan saya jatuh ke distro Ubuntu karena sudah familiar. OS ori bro… (karena yang bajakan saya cari gak ketemu-ketemu he he…). Xampp saya install di OS yang baru. lancar dan stabil. Yang gratis kok bisa lebih hebat sama yang bayar ya… gak ngerti saya…

Saatnya memasang dokumen html/web untuk menampilkan halaman multimedia. Kemampuan bahasa html dan pemrograman PHP yang pas-pasan membatalkan niat saya membuat dokumen html/PHP dari nol. Disamping hasilnya belum tentu bagus dan akan banyak bug di sana sini, bisa gak jadi-jadi stasiun tipi digital saya kalau harus mendalami dan menghafalkan karakter-karakter aneh dan sintax2 yang rumit dalam bahasa pemrograman itu. Belum lagi harus menyambung-nyambungkan PHPnya dengan aplikasi pengolah databasenya, mysql.  Otak ini udah males diajak bekerja sama, apalagi sudah dipenuhi dengan pikiran memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan untuk anak istri… :-)

Saya berpikir kenapa tidak pakai saja aplikasi Web Content Management System yang sudah siap pakai? ada WordPress, Joomla, Drupal dan lain-lainnya…. semuanya open source dan gratis. Hasilnya sudah pasti oke karena dikembangkan oleh para pakarnya pemrograman berbasis web. Pilihan jatuh pada WordPress karena saya anggap CMS yang paling populer dan lengkap serta didukung oleh ribuan theme, plugin, widget dan lain sebagainya… Sungguh saya angkat topi, empat jempol dan salut luar biasa kepada orang-orang yang mau membuat aplikasi sehebat itu, apalagi memberikannya secara cuma-cuma kepada seluruh umat manusia…. yang membutuhkan….

WordPress saya unduh di situsnya lalu saya pasang di xampp/lampp. Pemasangan berjalan dengan sukses dan halaman web sederhana pertama saya akhirnya dapat ditampilkan di web browser dengan perantara webserver lokal (localhost). Setting alamat URL website di WordPress saya sesuaikan dengan nama IP adress komputer server tempat saya meletakkan berkas-berkas konten multimedia.

Langkah berikutnya adalah memasang tema wordpress agar tampilan halaman web sesuai keinginan beserta plugin-plugin yang diperlukan untuk menampilkan berkas-berkas multimedia gambar, suara dan video. HDW player untuk menampilkan video/film, html mp3 player untuk memutar musik, wp touch untuk tampilan di versi mobile, dan lain sebagainya.

Finally, TV digital/IP TV (Digital Multimedia Broadcasting) saya sudah bisa ditampilkan di komputer ‘mirip’ server, meskipun dalam host lokal. Tinggal langkah selanjutnya adalah membroadcasting bit-bit data simeone (simulation zero and one) halaman web beserta kontennya itu ke klien melalui media sinyal wifi….

Part 3 : Membroadcasting konten Multimedia.

Pada bab sebelumnya saya telah bercerita tentang keberhasilan menampilkan halaman web di host lokal (localhost) dengan bantuan aplikasi webserver dan database Xampp/Lamp. Berikutnya adalah saatnya memancarkan konten-konten multimedia tersebut melalui media gelombang radio wi-fi agar dapat diterima di komputer klien melalui browser mereka.

Perangkat utama yang harus ada adalah sebuah Wifi Router untuk Access Point (AP). Awalnya saya mencoba memancarkannya dengan sebuah modem wifi mini  ZTE MF70 yang telah saya miliki sebelumnya. Pancaran tersebut berhasil diterima oleh komputer klien meski dengan jarak jangkau mini pula. Andaikan perangkat pemancarnya saya tingkatkan dengan spesifikasi  yang lebih besar, seharusnya daya jangkau pancarannya pun lebih jauh.

Setelah mencoba browsing sana sini untuk mencari sebuah wifi router yang cocok, akhirnya pilihan jatuh kepada sebuah router merk Air3GII buatan Airlive. Pemilihan produk ini sebenarnya tidak banyak pertimbangan melainkan asal comot karena saya juga tidak begitu ahli dalam urusan perouteran serta bukan seorang brand  minded, jadi asal dengan spesifikasi teknis sesuai keinginan dan  sesuai dengan kondisi kantong, saya beli. Saya yakin sebuah produsen IT manapun tidak akan mau membuat produk asal-asalan kalau mereka tidak ingin kalah bersaing di dunia global. Meskipun akhirnya saya kecewa dan ndongkol juga karena ternyata router yang saya beli dua kali lipat harganya dengan yang ada di Hi Tech Mall Surabaya. Untuk memperjauh jarak pancaran antenna aslinya saya ganti dengan antenna omni directional tambahan 15dbi yang juga saya beli secara online.

Dalam review produknya disebutkan router ini memiliki speed pancaran data sebesar 150 Mbps. Untuk mengirim data-data berupa gambar, suara dan teks saya rasa spesifikasi ini cukup mumpuni, namun khusus untuk data video, menurut itung-itungan awam saya apabila data video streaming di server memiliki kecepatan akses data (bitrate) sebesar 1,5 mbps maka dengan router tersebut pancaran video saya seharusnya mampu diterima dan dimainkan oleh maksimal 100 klien, lebih dari jumlah itu akan terjadi penurunan kualitas. Perkiraan saya apabila dikurangi dengan faktor-faktor penyebab data loss seperti kondisi alat, cuaca, antenna, pengkabelan, dan lain sebagainya mungkin hanya bisa ditampilkan optimal untuk sekitar 50 klien.

Dengan menggunakan perangkat keras berupa komputer PC yang saya fungsikan sebagai server, sebuah AP router plus antenna dan perangkat lunak OS linux, Xampp/Lampp sebagai webserver, WordPress  beserta plugin-pluginnya sebagai CMS, akhirnya jadilah stasiun tv digital mini di rumah saya dan bisa ditangkap dan dinikmati oleh perangkat berwifi klien dengan cara memasukkan IP address server saya di browser mereka. Tinggal terakhir yang perlu dilakukan sebagai pelengkap adalah memasang DNS server untuk mengganti nomor IP Address tersebut dengan nama domain lokal sesuai keinginan serta memeriksa sejauh mana coverage pancaran wifi saya tersebut.

Ini hoby? atau kurang kerjaan…

Epilog (Kayak buku ya….)

Menurut saya, teknologi wireless atau nirkabel untuk mengirim bit-bit data komputer dari server ke klien merupakan salah satu teknologi paling menakjubkan di abad ini. Percobaan tersebut memberikan kesimpulan bahwa saya yang hanya berbekal pengetahuan IT pas-pasan, menggunakan perangkat keras yang harganya hanya ratusan ribu rupiah ditambah dengan perangkat lunak yang seluruhnya adalah gratis/open source (OS Linux, Xampp/Lamp, WordPress dan plugin2nya) saja bisa membuat sebuah sistem informasi sederhana berbasis web lokal statis untuk memberi informasi kepada sekelompok masyarakat secara wireless, meski hanya skala kecil.

Apalagi jika teknologi tersebut dikembangkan oleh instansi yang lebih besar misalnya sekolah-sekolah, instansi-instansi, atau pemerintah daerah kabupaten atau kota yang memiliki resource jauh lebih besar.

Dengan menggunakan anggaran dan pendapatan yang berjumlah miliaran bahkan trilliunan itu seharusnya kita bisa membangun sebuah Sistem Informasi dan Pengolahan Data berisi informasi yang mencerdaskan masyarakat menggunakan jaringan nirkabel yang menjangkau sampai ke desa-desa. Kita bisa memanfaatkan para ahli IT dan programmer-programmer canggih yang bertebaran di negeri ini untuk menciptakan dan mengembagnkan berbagai aplikasi berbasis web untuk menyediakan informasi mencerdaskan bagi masyarakat, juga dapat digunakan sebagai sarana mempercepat akses birokrasi pemerintah serta fungsi-fungsi lainnya.

Jika itu terlaksana, sangat banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Contohnya kita tak perlu lagi pusing-pusing memikirkan mahalnya biaya untuk membeli bandwidth Internet.  Dengan aplikasi VOIP kita panggilan telepon lokal tidak perlu lagi membayar, tak perlu lagi biaya untuk mencetak kertas ujian di sekolah karena test telah diselenggarakan secara online, Dinas kependudukan tak perlu lagi pusing memikirkan sensus karena database penduduk senantiasa terupdate oleh masyarakat sendiri, tak ada lagi antrian rumah sakit atau fasilitas umum lainnya dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

Semua itu bisa terwujud jika kita bermindset bahwa membangun jaringan untuk akses informasi yang mencerdaskan adalah kebutuhan masyarakat karena berdasarkan Undang Undang Dasar… salah satu tugas negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan teknologi sebagai salah satu alatnya.. Karenanya membangun, merawat dan memperbaiki jaringan informasi seharusnya tak kalah dengan membangun, merawat dan memperbaiki jalan raya sebagai sarana untuk akses transportasi masyarakat.