Tag Archives: danau kelimutu

Danau Kelimutu – Flores

Taman Nasional Kelimutu, Ende, Flores – Nusa Tenggara Timur – “Perubahan Alam, Kepercayaan Abadi”

Jika kita sedang berkunjung ke Pulau Flores Nusa Tenggara Timur untuk liburan atau keperluan lain, selain ke Pulau Komodo yang terkenal itu, tak lengkap rasanya jika kita melewatkan untuk mengunjungi sebuah tempat wisata alam yang unik, indah dan jarang kita temui di tempat lain yaitu Taman Nasional Kelimutu. Sebuah tempat wisata berupa Gunung Berapi yang di atasnya terdapat tiga buah kawah/danau yang airnya memiliki tiga warna berbeda.

Untuk mencapai sana butuh waktu kurang lebih tiga jam dengan mengendarai mobil jika kita berangkat dari Maumere. Akes jalannya pun sudah bagus dan sangat lancar karena lalu lintas yang masih sepi. Namun kita harus berhati-hati karena banyaknya tikungan tajam yang harus kita lalui. Hal yang wajar karena kita memang sedang menuju ketinggian.

Secara umum fasilitas sudah cukup memadahi. Tempat parkir yang luas, sarana toilet di beberapa tempat serta berbagai fasilitas lainnya yang masih dalam tahap pembangunan. Untuk kuliner masih terbatas dan hanya tersedia makanan instan kemasan bermerk, karena itu jika berkunjung ke sana saya sarankan untuk membawa bekal makanan berat dari tempat asal. Souvenir khas daerah juga masih belum begitu lengkap, hanya ada selendang atau sarung songket khas NTT yang dijual di warung-warung kaki lima dekat lapangan parkir.

Akses dari tempat parkir kendaraan ke lokasi danau harus menaiki anak tangga yang jaraknya tidak terlalu jauh. Ada dua buah akses menuju puncak berupa anak tangga. Setelah menaiki salah satu akses berupa anak tangga, berlanjut ke jalan setapak yang datar.  Di pertengahan jalan terdapat jalur mendaki yang langsung menuju ke tepi danau yang airnya berwarna biru. Meski ada tanda larangan melewati jalur itu dan kemiringannya agak curam, tapi sepertinya aman untuk dilewati, jadi saya memutuskan mendaki melewati jalur itu.

Setelah tiba di puncak kita akan langsung disuguhi pemandangan alam yang indah dari sebuah danau yang airnya berwarna biru tua berdampingan dengan danau lain di sebelahnya. Danau berwarna biru muda yang menurut keterangan penduduk setempat biasanya berwarna merah. Setelah puas menyaksikan kawah biru, saya menyusuri tepi kawah untuk melanjutkan perjalanan ke kawah berikutnya sambil menyaksikan monyet-monyet berlompatan di lereng gunung sambil asyik memakan biji-bijian. Beberapa pasang turis asing sempat saya temui dan kamipun saling bertegur sapa.

Setelah berjalan kaki menyusuri tepi kawah dan menaiki anak tangga lagi sampailah saya di puncak tertinggi. Dari situ saya bisa menyaksikan keindahan seluruh kawah berlatar gunung-gunung di sekitarnya sambil ditemani minuman hangat yang dijual secara lesehan oleh penduduk setempat. Menurut keterangan warga setempat, waktu terbaik untuk menyaksikan keajaiban alam di Danau Kelimutu adalah pagi hari saat matahari terbit dan saya tiba di lokasi saat hari menjelang siang. Meski demikian hal tersebut tidak mengurangi kekaguman saya terhadap keindahan alam itu. Ketiga danau kawah berbeda warna itu tetap indah untuk disaksikan meski di siang hari. Jauh lebih indah daripada hanya melihat gambar hasil jepretan kamera poket casio saya. Silahkan buktikan sendiri jika tak percaya.

Jika ingin tahu lebih jauh tentang Danau Kelimutu berikut ini keterangan yang saya peroleh dari tulisan-tulisan yang ada di lokasi wisata.

Riwayat Terbentuknya Danau Kelimutu

Gunung Kelimutu (1640 m dpl) tumbuh di dalam Kaldera Sokoria atau Tubusa bersama dengan G. Kelido (1641 m dpl) dan G. Kelibara (1630 m dpl). Ketiganya membangung kompleks y ang bersambungan kecuali G. Kelibara  yang terpisah oleh lembah dari Kaldera Sokoria. Letak puncak-puncak gunung api ini terjadi karena perpindahan titik erupsi melalui sebuah celah yang menjurus lebih kurang Utara-Selatan.

Dari ketiga gunung tersebut G. Kelimutu merupakan kerucut tertua dan masih meperlihatkan aktivitas sampai sekarang yang merupakan kelanjutan kegiatan gunung api tua Sokoria.

Tubuh G. Kelimutu dibangun oleh batuan Piroklastika (bom, lapili, scoria, pasta, abu, awan panas dan lahar) serta lelehan lava. Permukaan lerengnya berkembang ke arah Timur, Tenggara dan Barat Daya dengan topografi kasar sedang dibangun oleh aliran piroklastika dan lahar serta lelehan lava andesit, penyebaran lereng barat selatan berelief sedang, dibangung oleh kegiatan Kelimutu muda, tapi terhalang oleh G. Kelibara, sedangkan lereng Barat dan Utara memperlihatkan morfologi berelief kasar.

Pada puncak Kelimutu terdapat 3 buah sisa kawah yang mencerminkan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut kini berupa danau kawah dengan warna air yang berlainan dan mempunyai ukuran diameter yang bervariasi, bernama Tiwu Ata Polo (danau merah), Tiwu Nua Muri Koo Fai (Danau hijau) dan Tiru Ata Mbupu (danau biru)

Sejarah Gunung Kelimutu memang kurang dikenal, namun menurut keterangan penduduk setempat gunung dengan ketiga danau berwarna ini telah ada sepanjang sejarah dimana dinding antara 2 danau di bagian timur dahulunya bisa dilalui orang, tetapi sekarang dinding semakin menipis dan hampir lenyap akibat peristiwa vulkanik berupa letusan dan gempa.

Berdasarkan catatan G. Kelimutu meletus dashyat pada tahun 1830 dengan mengeluarkan lava hitam watukali, kemudian meletus kembali pada tahun 1869-1870 disertai aliran lahar dan membuat suasana gelap gulita di sekitarnya dimana hujan abu dan lontaran batu hingga mencapai Desa Pemo.

Kegiatan Vulkanik dan Perubawah Warna Air Danau

Gunung Kelimutu termasuk gunung berapi yang masih aktif. Perubahan warna air dari masing-masing danau merupakan indikasi adanya aktivitas tersebut.

Berdasarkan catatan sejarah aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu tidak begitu banyak, umumnya kegiatan vulkanik yang terjadi berupa letusan freatik dan kegiatan perubahan warna air danau kawah. Tercatat aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu di Taman Nasional Kelimutu sejak tahun 1830 s.d 1997 sekitar 11 kali aktivitas vulkanik.

Perubahan Warna Air Danau.

Ketiga danau kawah selalu mengalami perubahan warna air. Perubahan warna air kawah erat kaitannya dengan aktivitas vulkanik dan perubahannya tidak mempunyai pola yang jelas tergantung kegiatan magmatiknya.

Kalangan ilmuwan dan peneliti memberikan informasi bahwa kandungan kimia berupa garam besi dan sulfat, mineral lainnya serta tekanan gas aktivitas vulkanik dan sinar matahari adalah faktor penyebab perubahan warna air.

Sebagai gunung api aktif perubahan warna air kawah merupakan salah satu parameter yang dipakai dalam penentuan status kesiapsiagaan bencana gunung apil

Perubahan warna air danau tercatat dari tahun 1915 s.d 2011, Tiwu Ata Polo telah mengalami sekitar 44 kali perubahan warna. Tiwu Nua muri Koo Fai sekitar 44 kali perubahan warna. Tiwu Ata Mbupu sekitar 16 kali perubahan warna.

Perubahan Alam, Kepercayaan Abadi

Masyarakat percaya bahwa jiwa/arwah akan datang ke Kelimutu setelah seseorang meninggal dunia jiwanya atau maE meninggalkan kampungnya dan tinggal di Kelimutu untuk selama-lamanya. Sebelum masuk ke dalam salah satu danau/kawah, para arwah tersebut terlebih dahulu menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau/kawah yang ada tergantung usia dan perbuatannya. Ketiga danau/kawah seolah-olah bagaikan di cat berwarna. Warna airnya berubah tanpa ada tanda alami sebelumnya. Mineral yang terlarut di dalam air menyebabkan warna air yang tidak dapat diduga sebelumnya. Suasana Kelimutu bervariasi, tidak hanya perbedaan dan perubahan warna danau, akan tetapi juga karena cuaca. Tidaklah aneh jika tempat yang keramat ini menjadi legenda yang sejak lama berlangsung turun-temurun. Masyarakat setempat percaya bahwa tempat ini adalah sakral. Hormatilah tempat khusus ini dengan tidak merusak atau mengotori dan tetaplah berada di jalan setapak yang ditentukan.