Tag Archives: bersuci

Fiqih Praktis : Bab 7 – Tayamum

Tayamum adalah menyapukan tanah (debu) yang suci ke muka dan kedua tangan, dengan niat untuk membolehkan bershalat dan sebagainya. Dasarnya adalah firman Allah Swt, …dan apabila kamu sakit atau sedang dalam perjalanan (sebagai musafir) atau datang dari tempat buang air atau melakukan persentuhan dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayammumlah dengan tanah yang suci…” (QS. An-Nisa’ [4]: 43).

Sebelum ini telah dijelaskan  bahwa wudhu atau mandi wajib adalah bagian dari cara membersihkan diri bukan saja secara jasmani tetapi juga ruhani dalam persiapan menghadap Allah Swt, baik dengan shalat, tilawat Al-Quran, atau lainnya. Oleh sebab itu apabila seseorang terhalang dari berwudhu atau mandi wajib karna tidak ada air atau sedang menderita sakit, maka sebgai gantinya ia dapat bertayamum. Walaupun tidak memenuhi aspek kebersihan jasmani, namun tayamum cukup memenuhi aspek kebersihan  ruhani, sebagai pemisah antara amalan duniawi dan amalan ibadah mahdhah seperti shalat dan sebaginya.

Tayamum juga merupakan keringanan (rukhshah) yang berlaku karena adanya salah satu di antara sebab-sebab berikut:

  1. Tidak mendapatkan air sama sekali, atau ada air tetapi tidak cukup untuk bersuci. Namun terlebih dahulu ia harus mencarinya di sekitarnya, atatu pada para tetangga atau kawan seperjalanan, atau membelinya dengan harga yang wajar bila mampu. Dan apabila telah memperoleh keyakinan akan tidak adanya air, atau letaknya terlalu jauh, maka tidaklah wajib ia mencarinya, dan boleh langsung bertayammum.
  2. Apabila ia mengetahui adanya air tidak jauh dari tempatnya namun perjalan ke sana tidak aman bagi keselamatan dirinya, keluarganya, hartanya ataupun kehormatannya, Atau tidak ada alat yang diperlukan untuk mengambil air tersebut, seperti tali, timba dan sebagainya. Atau ia sedang terpenjara sehingga tidak berdaya pergi ke tempat tersedianya air. Semua itu menjadi alasan baginya untuk bertayammum.
  3. Dalam keadaan cuaca amat dingin sehingga khawatir bila mandi dengan air dingin dapat membayakan kesehatannya, maka ia diperbolekan bertayammum, dengan syarat tidak mampu memanaskan air walaupun dengan membayar biaya yang wajar untuk itu.
  4. Apabila menderita sakit atau luka yang menurut pengalaman sendiri, atau keterangan dokter atau orang lain yang berpengalaman akan bertambah parah atau memperlambat kesembuhannya, jika ia menggunakan air.
  5. Apabila air yang tersedia hanya sedikit sekali, dan diperlukan di waktu sekarang atau masa depan yang dekat untuk minuman atau minum orang lain, atau binatang (walaupun seekor anjing) atau untuk memasak makanannya, atau mencuci pakaian shalatnya yang terkena najis. Dalam keadaan seperti itu, ia dibolehkan bertayamum dan menimpan air itu untuk keperluannya yang lain, seperti tersebut di atas.

Selain faktor-faktor seperti di atas, yang membolehkan dilakukannya tayamum (sebagai pengganti wudhu atau mandi), Syaikh Muhammad Abduh berpendapat bahwa keadaan seseorang sebagai musafir, juga merupakan penyebab tersendiri dibolehkannya tayamum, tanpa dikaitkan dengan ada atau tidak adanya air. Karena, katanya, apa gunaya menyebutkan tentang musafir secara khusus dalam QS. An-Nisa’ 43 (sebagai salah seorang yang dibolehkan bertayamum), jika hukumnya sama saja dengan orang berhadats yang tidak mendapat air? Padahal Al-Quran adalah kitab Allah yang diakui kefasihannya oleh semua orang, tak ada kata-kata di dalamnya yang tercantum secara sia-sia, tanpa makna. “Ayat ini jelas sekali bermakna bahwa hukum agama mengenai orang yang sedang sakit dan musafir apabila hendak bershalat, adalah sama dengan orang yang berhadas kecil maupun berhadas besar yang tidak mendapat air. Mereka semua cukup bertayamum saja. Begitulah yang dapat dipahami oleh setiap pembaca ayat tersebut selama ia tidak memaksakan diri untuk menyesuaikannya dengan pendapat mazhab manapun di luar Al-Quran, “ begitu komentarnya. Selanjutnya ia menujukan kecamannya kepada para musafir yang tidak mau memahami Al-Quran seperti apa adanya, tetapi lebih senang mencari-cari alasan pembenaran bagi pendapat mazhab-mazhab fiqih yang sudah mapan (yang hanya membolehkan tayamum bagi musafir yang kebetulan tidak mendapat air saja). Padahal pendapat seperti itu, jelas sekali tidak dapat disimpulkan dari ayat tersebut, kecuali dengan penakwilan yang dibuat-buat. Sedemikian, sehingga banyak di antara mereka menyebut ayat itu sebagai salah satu ‘kemusykilan’ itu, saya telah bersusah payah dengan membaca sedikitnya duapuluh lima kitab tafsir, namun semuanya sama sekali tidak memuaskan, karena selalu berbelit-belit. Dan ketika saya kembali menyimak Al-Quran secara langsung, barulah saya dapati maknanya terang benderang tak mengandung sedikitpun kemusykilan.”

Keringanan seperti itu bagi seorang musafir adalah wajar-wajar saja, sama dan sejalan dengan keringanan-keringanan lain yang diberikan kepada musafir. Seperti meng-qasar dan menjamak shalat, serta menunda puasa Ramadhan sampai hari lain. Maka apakah dianggap aneh bila si musafir dibolehkan menggantikan wudhu dan mandinya dengan tayamum, sedangkan hal itu berada di bawah tingkatan shalat dan puasa, dalam pandangan agama?” (Sayyid Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar V/119).

Cara Bertayamum.

  1. Niat. Sebagaimana telah dijelaskan dalam cara berwudhu, niat ialah menyengaja melakukan sesuatu demi meraih keridhaan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Dalam hal ini, hendaknya diniatkan bertayamum sebagai pengganti wudhu (dalam hadas kecil), atau pengganti mandi (dalam hadas besar), agar dibolehkan melaksanakan shalat dan sebagainya.
  2. Setelah berniat untuk bertayamum, disunnahkan membaca basmalah, lalu menepukkan kedua telapak tangan di atas tanah, pasir, batu, bantal, dinding atau apa saja yang diperkirakan berdebu (tetapi harus bersih, tidak berupa zat najis atau tercemar zat najis). Kemudian meniupi atau menggerak-gerakkan kedua tangannya itu sehingga kedua-duanya saling berbenturan, untuk menepiskan debu yang masih melekat pada kedua tangannya. Lihat An-Nawawi, Al-Majmu’ II/222.
  3. Menyapukan kedua telapak tangannya itu ke wajah dan kedua tangan sampai pergelangan, masing-masing cukup satu kali saja. Menurut sebuah hadis yang dirawikan oleh oleh Bukhari Muslim, dari ‘Ammar r.a, katanya, “Aku pernah berjanabat dan kebetulan tidak ada air untuk mandi. Maka aku pun berguling-guling di atas tanah (maksudnya untuk bertayamum karena tidak ada air.-Pen), dan setelah itu aku shalat. Ketika hal ini kemudian kusampaikan kepada Rasulullah Saw., berliau bersabda, ‘Sesungguhnya engkau cukup berbuat seperti ini.’ Lalu beliau menepukkan kedua telapak tangannya ke atas tanah, lalu meniupnya (untuk menepiskan kelebihan tanah yang melekat, -Pen) dan setelah itu mnyepukannya ke wajah dan kedua tangan beliau sampai di pergelangan.” Dalam Hadis ini, jelas bahwa beliau hanya satu kali saja menepukkan tangan ke atas tanah. Dan seperti itu pula pendpat Syafi’I (dalam mazhab yang terdahulu), Ahmad, Daud, dan Ibn Munjdzir. Akan tetapi, berhubung ada hadis lainnya yang menyebutkan dua kali tepukan, maka Abu Hanifah, Malik, dan Syafi’I (dalam mazhabnya yang kemudian) mewajibkan dua kali tepukan, masing-masing untuk muka dan kedua tangan. Demikian pula mengenai batas tangan yang harus disapu. Menurut Malik, Ahmad dan Daud Azh-Zahiri, wajibnya hanya sampai kedua pergelangan, tangan, seperti tersebut daslam hadis di atas. Sedasngkan Syafi’i dan Abu Hanifah mengharuskan menyapu sampai dengan kedua siku. Yakni seperti dalam wudhu dan juga berdasarkan hadis lain yang menyebutkan seperti itu.

Beberapa Hal Penting Berkaitan Dengan Tayammum.

  1. Sebelum bertayamum, hendaknya membersihkan muka dan kedua tangan dari segala suatu (seperti lilin, cat dan sebagainya) yang dapat dapat menghalangi sampainya sapuan.
  2. Tayamum adalah pengganti wudhu atau mandi dalam keadaan darurat, karena sebab-sebab tertentu seperti telah disebutkan sebelum ini. Oleh sebab itu, dengan bertayamum, seseorang boleh mengerjakan shalat, memegang mushaf Al-Quran dan sebagainya seperti yang dibolehkan baginya setelah berwudhu atau mandi.
  3. Dengan satu kali tayamum, dibolehkan mengerjakan shalat fardhu ataupun sunnah berapa saja yang dikehendaki, selama tayammumnya belum batal. Begitulah menurut Abu Hanifah, Daud dan Ahmad (dalam salah satu riwayat darinya). Akan tetapi Syafi’i, Malik serta Ahmad (dalam riwayat lainnya), hanya membolehkan satu kali tayamum untuk satu kali shalat fardhu dan beberapa kali shalat sunnah.
  4. Tayamum menjadi batal disebabkan hal-hal sebagai berikut:
    1. Segala suatu yang membatalkan wudhu dan mandi.
    2. Diperolehnya air bagi orang yang tadinya bertayamum karena tidak mendapatkan air.
    3. Setelah hilangnya halangan, bagi yang tadinya tidak dapat menggunakan air karena halangan tertentu, seperti sakit, kedinginan dan sebagainya.
    4. Apabila tersedia air setelah berakhirnya shalat, maka shalatnya itu sah dan tidak perlu diulangi, meskipun masih ada waktu. Akan tetapi ia harus berwudhu untuk shalat selanjutnya; atau mandi jika berhadas besar.
    5. Demikian pula seorang yang bertayamum sebagai pengganti mandi-wajib (mandi janabat), lalu mengerjakan shalat; tidak perlu mengulang shalatnya ketika setelah selesai shalatnya itu – memperoleh air atau mempu menggunakannya kembali. Akan tetapi, ia diharuskan mandi untuk shalat berikutnya.

Shalat Tanpa Wudhu dan Tanpa Tayamum.

  1. Seandainya seseorang tidak mampu berwudhu (karena sakit atau tidak ada air) dan bersamaan dengan itu juga tidak mampu bertayamum (karena tidak adanya tanahyang bersih atau ia dalam keadaan terbelenggu dan sebagainya) maka ia tetap wajib mengerjakan shalat, walaupun tanpa wudhu dan tanpa tayamu, dan dengan memenuhi rukun-rukun shalat sejauh kemampuan.
  2. Shalat dalam keadaan seperti itu, apabila terlaksana beberapa kali kali saja, sebaiknya diulangi (di-qadha) pada saat sudah berkesempatan wudhu lagi. Akan tetapi, apabila hal tersebut berlangsung untuk waktu yang cukup lama, tidak perlu diulang seluruhnya, karena aan menimbulkan kesulitan yang sangat. Ada beberapa pendapat ulama mengenai orang dalam keadaan seperti ini. Menurut Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri dan beberapa ulama lain, ia tidak wajib shalat waktu itu, tetapi harus mengunggu sampai mendapatkan air atau tanah yang bersih. Menurutu Ahmad (dan sebagian kalangan mazhab Maliki), wajib shalat dan tidak wajib mengulangi. Sedangkan menurut Syafi’I (demikian pula sebagian kalangan Mazhab Maliki lainnya) wajib shalat dengan cara apa pun yang mampu dikerjakan (yakni tidak harus memenuhi semua persyaratan) tetapi wajib mengulang shalatnya itu apabila keadaan telah menjadi normal kembali. Menurut pendapat terakhir ini, kewajiban shalat dalam keadan seperti itu, semata-mata demi menjaga kehormatan waktu shalat, sedangkan kewajiban mengulang adalah mengingat bahwa keadaan seperti itu, merupakan hal yang amat jarang. (An-Nawawi, Al-Majmu’ II/283)

Mengusap di Atas Pembalut (Perban atau Plaster Karena Luka)

  1. Seseorang penderita luka yang khawatir jika menggunakan air dalam wudhu atau mandi akan menemabh parah lukanya itu atau memperlambat kesembuhannya, dibolehkan mengusap (dengan tangan yang basah) anggota tubuhnya yang terluka. Apabila hal itu tetap membahayakan, hendaknya ia menutupi lukanya itu dengan penutup yang lebih kuat (plaster, perban, gips dan sebagainya) lalu membasuh anggota tubuhnya yang sehat sambil mengusapkan tangannya di atas pembalut tersebut. Setelah itu, sebagai pengganti bagian tubuhnya yang tertutup pembalut dan tidak terkena air, hendaklan ia bertayamum. Boleh juga ia mendahulukan tayamumnya sebelum wudhu atau mandi.
  2. Cara bersuci dengan mengusap di atas pembalut ini menjadi batal, apabila ia dibuka atau luka itu telah sembuh. Segera setelah sembuh, pembalut tersebut harus dibukan dan sejak itu harus bersuci kembali secara sempurna seperti sediakala.
  3. Membalutkan perban, gips dan sebagainya, boleh dilakukan setiap saat, dan tidak harus didahului oleh wudhu atau mandi secara sempurna. Juga tidak dibatasi oleh waktu tertentu, dan karenanya ia boleh mengusap di atasnya, dalam wudhu atau mandi, selama belum sembuh. Menurut mazhab Syafi’i, wajib mengulang shalatnya itu dalam keadaan seperti di bawah ini:
    1. Apabila pembalut itu terletak di bagian anggota tubuh yang wajib disapu dalam tayamum. (yakni di wajah atau kedua tangan).
    2. Apabila pembalut itu terlalu lebar sehingga menutupi bagian anggota tubuh yang tidak sakit (yakni lebih besar dasripada yang diperlukan untuk itu).
    3. Apabila pembalut tersebut diletakkan dalam keadaan wudhunya telah batal, atau ada zat najis di bawahnya (selain darah dari lukanya sendiri) yang tidak dibersihkan sebelumnya. Walaupun demikian, manurut banyak ahli fiqih lainnya, tidak wajib mengulang shalatnya itu, karena memang tidak ada nash yang pasti mengenai hal itu, selain akan menimbulkan kesulitan yang sangat, mengingat luka seperti itu mungkin baru sembuh setelah berbulan-bulan lamanya. (Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah I/69).

Fiqih Praktis : Bab 5 – Wudhu

Wudhu adalah salah satu cara bersuci yang dilakukan oleh seorang Muslim berdasarkan perintah Allah SWT dalam Al-Quran, “Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan kedua tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki… “ (QS. Al-Maidah [5]:6).

Dan telah dirawikan oleh Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Allah tidak akan menerima shalat seseorang dari kamu, apabila ia berhadas, sampai ia berwudhu.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi).

Menurut riwayat lain, “Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci; tidak pula sedekah yang berasal dari khianat (yakni pencurian, korupsi dan sebagainya).”

Untuk berwudhu, harus menggunakan air yang ‘suci dan menyucikan’ seperti telah diuraikan dalam bab tentang bersuci).

Demikian pula, apabila ada suatu zat yang dapat menghalangi sampainya air ke anggota tubuh yang akan dibasuh atau disapu, seperti lilin, cat kuku (cutex) dan sebagainya, maka zat tersebut harus dihilangkan lebih dahulu agar wudhu menjadi sah. Jika zat itu hanya berupa pewarna saja, seperti pacar (binna) untuk pemerah kuku yang tidak menghalangi air, tidak perlu dihilangkan.

Pada saat seseorang berwudhu dan sesudahnya, sudah sewajarnya di samping penyucian anggota tubuhnya dari segala kotoran lahiriah – ia juga meniatkan penyucian batiniahnya dari segala perbuatan dan perangai yang buruk. Agar dengan demikian ia menjadi lebih siap untuk berhubungan dengan Tuhannya, baik ketika mengerjakan shalat setelah itu, membaca Al-Quran, berdoa dan sebagainya.

Rukun-Rukun Wudhu

Hal-hal yang wajib dikerjakan dalam wudhu adalah :

1.  Niat Untuk Berwudhu. Niat, menurut syariat, adalah sengaja mengerjakan suatu perbuatan, demi keridhaan Allah SWT serta mengikuti cara yang ditentukan oleh-Nya. Niat adalah perbuatan hati yang menyertai setiap perbuatan Ibadah, dan tidak wajib diikuti oleh ucapan lisan. Tetepi jika diperlukan untuk menimbulkan konsentrasi, boleh saja mengucapkannya. Misalnya dengan mengucapkan :”Saya berwudhu untuk menghilangkan hadats” Atau : “Saya berwudhu untuk shalat.” Dan sebagainya.

2.  Membasuh Muka. Batasannya ialah dari telinga yang satu ke telinga lainnya, dan dari tempat tumbuh rambut kepala di atas dahi, sampai sedikit di bawah dagu.

3.  Membasuh kedua tangan sampai dengan kedua siku.

4.  Mengusap (menyapu) kepala dengan air. Menurut Mazhab Syafi’i, cukup menyapu sebagian kepala saja, atau beberapa helai rambut yang berada di atas kepala (bukan bagian rambut panjang yang berada di luar batas kepala). Tetapi menurut Abu Hanifah, paling sedikit seperempat kepala. Sedangkan menurut Malik dan Ahmad, tidak cukup kecuali menyapu seluruh kepala. Perbedaan pendapat ini disebabkan cara penafsiran yang berbeda berkenaan dengan uruf (ba’) dalam QS Al-Maidah  6 “wam sahuu biru uusikum”. Sebagian ulama menganggap huruf tersebut mengandung pengertian ‘sebagian kepala’, sedangkan yang lain tidak demikian adanya. Apalagi telah dirawikan hadis yang menyatakan bahwa Nabi Saw. Menyapu seluruh kepalanya ketika berwudhu. Oleh sebab itu, sebaiknya mengerjakannya dengan membasahi kedua tangan lalu mengucap seluruh kepala; dengan meletakkan kedua ibu jari di kedua kening, dan menempelkan jari-jari lainnya di bagian depan kepala (di atas dahi) lalu menggerakkannya ke belakang kepala sampai ke kuduk; dan setelah itu mengembalikannya lagi ke bagian depan kepala.

5.  Membasuh kedua kaki sampai dengan kedua mata kaki. Hampir semua ulama mazhab mewajibkan membasuh kedua kaki dalam wudhu. Namun ada juga riwayat dari beberapa sahabat Nabi Saw. Dan tokoh lainnya yang berpendapat bahwa wajibnya adalah mengusapkan air di atas kaki (sama seperti mengusap di atas kepala), bukan membasuhnya. Praktek seperti itu diriwayatkan dari Anal bin Malik, Abdullah bin Abbasdan Ali bin Abi Thalib r.a. Adapun Ibn Jarir At-Thabari, Al-Auza’iy, Ats-Tsauriy dalam sebagian pengikut Ahmad membolehkan memilih antar membasuh dan mengusap, sedangkan sebagian pengikut Daud Azh-Zahiri mewajibkan kedua-duanya. Di antara penyebab timbulnya perbedaan ini, disamping pelbagai riwayat hadits dari Nabi Saw. Juga adanya dua bacaan (qiraat) berkaitan dengan QS. Al-Maidah: 6 yakni, …wa arjulakum…: (dengan a) dan wa arjulikum (dengan i). Perbedaan tersebut mengakibatkan perbedaan maknanya; antara kewajiban membasuh kaki (mengikuti kewajiban membasuh wajah), dan kewajiban mengusap kaki (mengikuti kewajiban membasuh wajah), dan kewajiban mengusap kaki (mengikuti kewajiban mengusap kepala), Lhat Ibn Rusyd, Bidayat Al-Mujtahid, I/10; An-Nawawi, Al-Majmu’, I/44; Asy-Sya’rani, Al-Mizan Al-Kubra, I/128; Muhammad bin Aburrahman Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi’i, Rahmat Al-Ummah, hal 18 (Bagian pinggir kitab Al-Mizan Al-Kubra).

6.  Tartib : mengerjakan rukun-rukun wudhu di atas secara berurutan. Kecuali apabila menyelam di dalam air y ang banyak, lalu berniat wudhu, maka seketika itu juga, telah sempurna wudhunya.

Sunnah-Sunnah Wudhu

Selain rukun-rukun wudhu yang wajib dikerjakan, sepeti tersebut sebelum ini, ada pula beberapa perbuatan yang dianjurkan (atau disunnahkan) agar wudhu menjadi lebih sempurna.

1. Membaca Basmalah ketika memulai wudhu

2. Mebersihkan gigi dengan sikat gigi, siwak dan sebagainya.

3.  Membasuh kedua telapak tangan sampai ke pergelangan tangan, sebanyak tiga kali.

4.  Berkumur-kumur (tiga kali)

5.  Membersihkan bagian dalam hidung dengan menghirup sedikit air ke dalam lubang hidung, lalu mengeluarkannya kembali (tiga kali).

Semua yang tersebut di atas, nomor 1 sampai dengan nomor 5, dilakukan sebelum mulai membasuh muka.

6.  Menyilangi anak-anak jari dari kedua kaki ketika membasuh kaki.

7.  Mengusap bagian luar dan dalam kedua telinga dengan air, bersamaan atau setelah mengusap kepala.

8. Mendahulukan anggota badan bagian kanan sebelum yang kiri, baik ketika membasuh tangan maupun kaki.

9. Mengulangi basuhan tiap anggota wudhu (muka, tangan, kepala dan kaki) masing-masing sebanyak tiga kali.

10. Menggosok-gosok anggota wudhu ketika membasuhnya, agar lebih bersih.

11. Menambahkan sedikit dari batas yang diwajibkan, dalam membasuh atau mengusap anggota wudhu.

12. Menggunakan air secukupnya saja, dan jangan berboros walaupun seandainya menggunakan air laut.

13. Selesai Berwudhu, menghadap kiblat dan berdoa:

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah. Wa asyhadu anna Muhammad (an) abduhu wa rasuluh. Allahumma j’alni minat tawwabin waj’alni minal mutathahhirin.

(Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, Yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dalam golonga orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk dalam golongan orang-orang yang bersuci.

14. Selesai berwudhu, mengerjakan shalat dua raka’at : sunnat al-Wudhu

Hal-Hal yang membatalkan Wudhu

Wudhu menjadi batal disebabkan terjadinya hal-hal berikut :

1. Keluarnya sesuatu dari ‘kedua pintu pelepasan’ (saluran buang air kecil atau besar), baik berupa zat, seperti kencing, tinja, darah dan sebagainya, maupun yang berupa angin (kentut)

2. Hilang akal atau kesadaran, baik karena pingsan dan gila, atau krena obat bius dan mabuk minuman keras.

3. Tidur. Kecuali tidur dalam posisi duduk yang mantap, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin keluar angin.

4. Menyentuh kemaluan, bagian depan ataupun belakang, dengan telapak tangan bagian dalam, secara langsung dan tanpa penghalang. Akan tetapi menyentuhnya dengan punggung telapak tangan, tanpa maksud menimbulkan rangsangan tidak membatalkan. Demikian itu menurut mazhab Syafi’i, Malik, Ahmad dan Daud, berdasarkan hadis dari Busrah binti Shafwan yang dishahihkan oleh Bukhari, Muslim, Abud Daud dan lainnya, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, “Barangsiapa menyentuh kemaluannya, maka jangalah ia shalat sebelum  berwudhu kembali.” Tetapi menurut Abu Hanifah dan Ats-Tsauri, serta Ibn Al-Mundzir (dari kalangan mazhab Syafi’i), tidak membatalkan. Mereka menolak pendapat pertama tersebut; berdasarkan hadis lain yang mereka nilai lebih shahih. Yaitu riwayat dari Thalq bin Ali, bahwa seorang  laki-laki bertanya kepda Nabi Saw. tentang seseorang yang menyentuh kemaluannya sendiri; apakah ia harus berwudhu? Jawab Beliau, “Tidak, itu hanyalah bagian dari tubuhmu.” (Lihat Ibn Rusyd, Bidayat Al-Mujtahid, I/28; dan An Nawawi, Al-Majmu’ I/41).

5.  Bersentuhnya secara langsung dan tanpa penghalang kulit pria dewasa dan kulit wanita dewasa, apabila disertai dengan rangsangan syahwat, atau memang dimaksudkan untuk menimbulkan rangsangan. Dasarnya adalah firman Allah  Swt, … Dan jika kamu sedang sakit atau dalam perjalanan, atau kamu datang dari tempat buang air, atau kamu melakukan ‘persentuhan’ dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air (untuk bersuci), maka bertayamumlah kamu… (QS. An-Nisa [4]: 43).

Para ulama mazhab Syafi’i (sebagaimana juga dirawikan dari IBnu Mas’ud, Umar bin Khattab dan lain-lain) berpendapat bahwa persentuhan kulit antara laki-laki dewasa dan perempuan dewasa (termasuk istri) membatalkan wudhu, walaupn tanpa dibarengi rangsangan syahwat. Pendapat ini berdasarkan pemahaman mereka terhadap bagian dari ayat di atas yang menjelaskan tentang hal-hal yang mewajibkan orang bersuci kembali sebelum melaksanakan shalat: “…atau kamu melakukan ‘persentuhan’ dengan perempuan…”. Mereka memahami kata ‘persentuhan’ secara harfiah, sehingga menganggap wudhu seseorang menjadi batal setelah terjadinya persentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan. Akan tetapi dalam hal ini dikecualikan persentuhan antar pria dan wanita mahram, yang menurut mereka , tidak membatalkan wudhu. Sebaian lagi ulama mazhab Syafi’i  menganggap persentuhan kulit (antara laki-laki dan perempuan bukan mahram) membatalkan wudhu si penyentuh tapi tidak membatalkan yang tersentuh. Yang dimaksud dengan mahram ialah wanita yang tidak boleh dinikahi oleh laki-laki, disebabkan adanya hubungan kekerabatan yang sangat dekat, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa [4]: 23 Yakni ibu (dan nenek seterusnya ke atas); anak perempuan (dan cucu perempuan seterusnya ke bawah); saudara perempuan; bibi (saudara perempuan ayah atau ibu); kemenakan perempuan (anak perempuan dari saudara laki-laki atau perempuan); ibu mertua; anak tiri perempuan; menantu perempuan; ibu susu (perempuan bukan ibu kandung yang pernah menyusui seseorang); dan saudara perempuan sepersusuan.

Sedangkan Abu Hanifah (sebagaimana juga dirawikan dari Ibnu Abbas, Al-Hasan dan Sufyan Ats-Tsauri) memahami kata persentuhan sebagai kiasan untuk hubungan seksual (senggama). Karenanya persentuhan biasa antara kulit laki-laki dan perempuan (misalnya ketika berjabat tangan atau bersentuhan secara tidak sengaja ketika berdesak-desakan. -pen) tidak membatalkan wudhu. Kecuali apabila memang disengaja dengan perbuatan-perbuatan tertentu (seperti memeluk dan menciumi), sedemikian sehingga menimbulkan ‘ketegangan’ yang tinggi. Pendapatnya ini juga didukung oleh beberapa hadis shahih yang menunjukkan tidak batalnya wudhu akibat persentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan.

Di antaranya, ucapan Aisyah r.a., “Pada suatu malam, tidak kudapati Rasulullah di tempat tidurnya, alu aku pergi mencarinya sehingga tanganku menyentuh telapak kaki beliau ketika beliau sedang bersujud di Masjid.” (HR Muslim). Juga ucapan Aisyah r.a “Adakalanya Nabi Saw. Shalat sementara aku tidur di  antara Nabi Saw. Dan Kiblat. Maka setiap kali hendak sujud, beliau memijit kakiku sehingga aku menekuk kakiku itu.” (HR Bukhari dan Muslim). Juga ucapan Aisyah r.a bahwa nabi Saw. pernah mencium salah seorang istrinya lalu keluar (ke masjid) untuk shalat tanpa berwudhu lagi. Namun hadis-hadis itu ditakwilkan artinya oleh ulama mazhab Syafi’i, karena lebih mengutamakan pemahaman mereka mengenai ayat tersebut di atas.

Adapun pendapat ketiga adalah sebagaimana dipahami oleh mazhab Malik, serta sebagian dari kalangan mazhab Ahmad, Al-Lats, Ishaq dan Asy sya’bi. Yaitu persentuhan kulit laki-laki dan perempuan hanya membatalkan wudhu apabila disertai rangsangan syahwat, atau memang dimaksudkan untuk menimbulkan rangsangan. Tanpa itu, maka persentuhan tidak membatalkan wudhu. Lihat An-Nawai Al-Majmu II/30, menurut hemat saya (-pen), pendapat Imam Malik yang membedakan antara persentuhan dengan syahwat dan yang tidak dengan syahwat ini, layak dijadikan bahan pertimbangan. Sebabnya adalah bahwa disyariatkannya wudhu sebelum shalat demi membersihkan diri bukan saja secara jasmani tetapi juga ruhani dalam persiapan menghadap Allah SWT. Ketika hendak melakukan sesuatu ibadah ritual guna mendekatkan diri kepada-Nya. Hal ini dibuktikan dengan kewajiban bertayamum dengan tanah (debu) bagi seseorang yang tidak mampu berwudhu karena tiadanya air atau karena sakit.  Tayamum, walaupun tidak memenuhi aspek kebersihan jasmani namun cukup memenuhi aspek kebersihan ruhani. Maka dalam keadaan darurat ketika tidak terpenuhinya sarana penyucian jasmani dan ruhani sekaligus tayamum dapat pula menjadi pemisah antara amalan duniawi dan amalan ibadah mahdhah seperti shalat dan sebagainya. Karena itu pula, wudhu (atau tayammum) perlu dilakukan sebagai sarana pemisah yang menghilangkan perasaan segan atau bimbang dari hati seseorang yang akan menghadap tuhannya, setelah sebelum itu ia secara sengaja mendorong timbulnya rangsangan syahwat pada dirinya sendiri, dengan persentuhan tersebut. Wallahu Alam.

Beberapa Hal Lain yang Tidak Membatalkan Wudhu.

Beberapa hal yang sering kali disangka membatalkan wudhu, padahal tidak membatalkan. Antara lain:

1.  Keluar darah tidak melalui ‘dua pintu pelepasan’ (saluran buang air besar dan kecil). Yakni , karena luka, mimisan, berbekam dan sebagainya. Demikia pula muntah baik sedikit maupun banyak, tidak membatalkan wudhu. Menurut Mazhab Abu Hanifah, keluarnya darah melalui apapun juga demikian pula muntah, membatalkan wudhu.

2.  Memandikan mayat tidak membatalkan wudhu.

3.  Apabila seseorang bimbang, apakah wudhunya telah batal atau belum, maka ia boleh menganggapnya tidak batal, sampai merasa yakin bahwa wudhunya telah batal dengan salah satu penyebab batalnya wudhu seperti telah diuraikan sebelum ini.

Sebaliknya apabila ia merasa yakin bahwa wudhunya telah batal, tetapi kini ia ragu apakah setelah itu ia telah berwudhu kembali atau belum, maka ia harus menanggap wudhunya tadi telah batal. Secara singkat, ia harus mengikuti apa yang diyakininya, bukan apa yang diragukannya.

Hal-hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Kecuali Dalam keadaan Berwudhu.

1.  Shalat; baik shalat wajib ataupun sunnah, termasuk shalat Jenazah. Selain karena perintah berwudhu dalam firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah [4]:6, juga ada hadis nabi Saw. “Allah tidak akan menerima shalat kecuali dalam keadaan bersuci.”. (HR Muslim). Para ulama bersepakat tentang tidak sahnya shalat dalam keadaan berhadats (tidak berwudhu), baik dalam keadaan ia mengetahui hadatsnya itu atau tidak, maupun ia terlupa (bahwa wudhunya telah batal). Apabila ia melakukan shalatnya yang tanpa wudhu itu, karena tidak tahu atau karena lupa, maka ia tidak berdosa (dan hanya diwajibkan mengulangi shalatnya itu saja). Akan tetapi apabila ia secara sadar dan dengan sengaja mengerjakan shalatnya itu dalam keadaan telah batal wudhunya, maka disamping wajib mengulangi shalatnya itu setelah berwudhu, ia dianggap berdosa karena telah melakukan pelanggaran cukup serius (An-Nawawi, Al-Majmu II/68)

2.  Tawaf sekitar ka’bah. Dalilnya adalah hadits shahih bahwa Nabi Saw. Mengambil air wudhu sebelum tawaf; sedangkan beliau pernah bersabda, “ambillah ketentuan-ketentuan (manasik, haji dan umrah) kamu dariku” Karenanya Syafi’i, Maliki, dan Ahmad (dalam salah satu pendapat yang diriwayatkan darinya) mengharamkan thawaf dalam keadaan tidak berwudhu dan menganggapnya tidak sah. Sedangkan Abu Hanifah mensahkan thawaf tanpa wudhu walaupun dalam salah satu dari dua pendapatnya ia juga menganggapnya sebagai perbuatan pelanggaran. (An-Nawawi, Al-Majmu II/69).

3.  Memegang atau membawa Mushaf (kitab al-Quran). Kecuali dalam keadaan darurat; untuk menyelamatkannya atau mengembalikannya ke tempatnya semula, setelah terjatuh dan sebagainya.Demikianlah pendapat dari keempat Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), berdasarkan firman Allah SWT, “tidak menyentuhnya kecuali mereka yang tersucikan” (QS. Al Waqiah :794) akan tetapi Ibn. Abbas, Asy-Sya’bi, Adh-Dhahhak, Zaid bin Ali, Al-Muayyad Billah, Daud, Ibn Hazam, dan Hamad bin Sulaiman, membolehkan menyentuh Mushaf Al-Quran walau tanpa wudhu. Mereka mengatakan bahwa ayat tersebut hanya mengandung pemberitaan tentang Al-Lauh Al0Mahfuzh, yang tidak dapat menyentuhnya selain para malaikat (yaitu yang dimaksud dengan “mereka yang tersucikan”). Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, I/49; An-Nawawi, Al-Majmu II/74.

Adapun membaca Al-Quran tanpa menyentuhnya, tetap dibolehkan walaupun dalam keadaan tidak berwudhu.

Disunnahkan Berwudhu Dalam Keadaan-keadaan Sebagai Berikut :

1.  Ketika hendak berzikir atau mempelajari hadits Nabi Saw.

2.  Ketika bersiap-siap untuk tidur.

3.  Sebelum mandi baik mandi wajib atau mandi biasa.

4.  Membarui wudhu ketika hendak mengerjakan shalat walaupun wudhunya belum batal.

5.  Ketika hendak makan, minum, tidur, atau jima’ (hubungan seksual) bagi orang yang sedang dalam keadaan hadats besar atau janabat.

 

 

 

Fiqih Praktis : Bab 2 – 2. Cara Mencuci Benda Yang Terkena Najis

  1. Pakaian Atau Anggota Badan Yang Terkena Zat Najis.  Pakaian atau anggota badan yang terkena najis, wajib dicuci dengan air bersih (air yang suci dan menyucikan), sedemikian rupa sehingga zat najis itu hilang warnanya, baunya dan rasanya. Jika, setelah cukup dicuci, masih juga ada sedikit warna atau bau  yang sukar dihilangkan, hal itu dimaafkan.
  2. Zat Najis Yang Tidak Tampak. Bila zat najis itu tidak tampak; seperti kencing yang sudah lama kering, sehingga telah hilang tanda-tandanya atau sifat-sifatnya, cukup mengalirkan air di atasnya, walaupun hanya satu kali saja.
  3. Bejana Yang Terkena Jilatan Anjing. Bejana (tempat makan, minum atau alat memasak, seperti piring, gelas dan periuk) yang bagian dalamnya terkna jilatan anjing, dibasuh tujuh kali, yang pertama atau salah satunya dicampur dengan tanah. Boleh juga menggantikan tanah dengan sabun, atau pembersih lain yang kuat. *Menurut pendapat Mahmud Syaltut, mantan Syaikh Al-Azhar di Mesir, ketentuan pencucian bejana yang dijilati anjing, sebanyak tujuh kali, satu di antaranya dengan air bercampur tanah, tidak harus dipahami secara harfiah. Yang penting, mencucinya beberapa kali sedemikian rupa sehingga diyakini bejana tersebut telah bersih dari air liur anjing. Demikian pula tanah dapat diganti dengan sabun atau pembersih lainnya yang kuat (Lihat Al-Fatawa, hlm 86). Benda-benda selain bejana, demikian pula anggota badan seseorang atau pakaiannya, jika tersentuh anjing, wajib mencucinya sampai benar-benar bersih walaupun hanya satu kali saja jika dengan itu dapat menjadi bersih kembali. Seperti telah diketahui, menurut mazhab Imam Malik, persentuhan antara anjing dengan tubuh atau pakain atau apa saja, selain jilatannya dalam alat makan dan minum, tidak dianggap najis, sebagaimana telah dijelaskan ketika membahas tentang zat apa saja yang dianggap najis.
  4. Benda Yang Tersentuh Babi. Untuk menyucikan sesuatu yang tersentuh babi, cukup dengan membasuhnya satu kali saja dengan air, tanpa tanah, apabila dianggap sudah cukup bersih kembali (sama seperti najis-najis lainnya). Sebagaiman telah dijelaskan sebelum ini, sebagian besar ulama mazhab Syafi’I menyamakan babi dengan anjing, dan kaernanya mewajibkan penyucian sesuatu yang tersentuh atau terjilat babi, sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan air bercampur tanah. Tetapi An-Nawawi (dari mazhab Syafi’i juga) menegaskan bahwa jika ditinjau dari segi dalilnya, cukup mencucinya satu kali saja tanpa tanah. Ia menambahkan, “Begitulah pendapat sebagian besar ulama yang menyetujui najisnya babi. Dan pendapat inilah yang menjadi pilihan, mengingat tidak ada sesuatu yang wajib kecuali jika telah ditentukan oleh syariat. “ (Al-Majmu’ II/537). Adapun pendapat Imam Malik tentang hal ini seperti telah kita ketahui –lebih meringankan lagi. Yaitu bahwa babi dalam keadaan hidup, adalah suci (tidak najis); sama saja seperti binatang-binatang lainnya. Karenanya, tidak wajib mencuci apa saja yang tersentuh dengannya ketika masih dalam keadaan hidup.
  5. Cara Menyucikan Kencing Bayi.  Kencing bayi (laki-laki atau perempuan) berusia di bawah dua tahun dan tidak makan makanan selain air susu manusia (baik dari ibunya sendiri maupun seorang wanita selainnya), cukup diperciki air bersih di atasnya dan sedikit lagi di sekitarnya. *Dalam Shahih Muslim, disebutkan sebuah riwayat dari Aisyah r.a. bahwa, “Adakalanya bayi-bai dibawa ke hadapan Rasulullah Saw., untuk diberkati (didoakan) dan diolesi sedikit kurma di mulutnya oleh beliau. Seorang dari mereka pernah kencing di pangkuan beliau, lalu beluau memerintahkan agar dipercikkan air di atasnya dan tidak perlu dicuci. Dalam Hadis ini tidak disebutkan apakah bayi-bayi itu laki-laki atau perempuan. Karenanya, menurut pengaran kitab Jam’ul Jawami, Asy-Syafi’I tidak keberatan apabila keringanan tersebut juga diterapkan atas kencing bayi perempuan. Hal ini, kata Al-Baihaqiy, mungkin disebabkan karena tidak ada hadis lainnya dalam masalah ini, yang memenuhi persyaratan untuk disahihkan oleh Asy-Syafi’i. Walaupun demikian, cukup banyak ulama lainnya mengkhususkan keringanan ini hanya bagi bayi laki-laki saja, berdasarkan sebuah ‘hadis’ lain yang pernah dirawikan oleh Abu Daud : “Kencing bayi perempuan dicuci, sedangkan kencing banyi laki-laki cukup dipercikkan (air) di atasnya “  Lihat An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarb A-Muhadzdzab, jilik II, hlm 541).
  6. Tanah Yang Terkena Najis. Untuk menyucikan tanah yang terkena najis, cukup dengan menuangkan air di atasnya, sehingga meliputi tempat najis tersebut. Tanah, pohon dan bangunan yang terkena cairan najis, dapat diangap suci kembali apabila cairan itu telah mongering. Tetapi jika najis itu berupa zat beku, maka tidak akan suci kembali kecuali zat najis tersebut telah hilang atau dihilangkan
  7. Mentega Yang Terkena Najis. Mentega, minyak yang beku dan serupa dengan itu, apabila terkena zat najis (misalnya, kejatuhan bangkai cicak dan sebagainya) cukup dibuang  bagian yang terkena najis tersebut dan sekitarnya saja. Sisanya tetap boleh dimakan. Akan tetapi, jika najis itu menyentuh bahan makanan yang cair, seperti minyak goreng misalnya,maka semuanya menjadi najis. Kecuali jika zat najis itu sangat sedikit atau  minyak tersebut sangat banyak sedemikain rupa sehingga tidak mengalami perubahan sedikit pun, baik warna, rasa dan baunya.
  8. Kaca, Pisau, dan Keramik. Untuk membersihkan kaca, pisau, pedang, keramik, dan segala benda  yang permukannya licin seperti itu, apabila terkena najis, cukup dengan mengusapnya sehingga hilang bekas-bekas najis tersebut.
  9. Sepatu dan Sandal. Bagian bawah sepatu, sandal dan sebagainya, apabila terkena najis, cukup dibersihkan dengan cara menggosokkannya ke tanah sehingga hilang zat najis darinya.
  10. Tali Jemuran. Tali jemuran yang pernah digunakan untuk menjemur pakaian yang terkena najis,dapat dianggap suci kembali jika telah mongering, baik karena panas matahari atau hembusan angin.
  11. Tetasan Air Yang Meragukan. Apabila seseorang terkena tetasan atau percikan air yang tidak jelas najis atau tidaknya, maka tidak wajib menanyakan hal itu dan tidak pula mencucinya. Akan tetapi jika ia telah diberitahu oleh orang terpercaya bahwa air itu adalah najis, maka wajib menyucikannya.
  12. Pakaian Yang Terkena Lumpur Jalanan. Pakaian yang terkena lumpur jalanan, tidak harus dicuci walaupun jalanan tersebut biasanya terkena najis. Kecuali jika ia yakin bahwa yang mengotorinya itu zat najis.
  13. Melihat Najis di Pakaian Setelah Selesai Shalat. Jika seseorang telah menyelesaikan salatnya, lalu melihat najis di pakaian atau tubuhnya, sedangkan sebelum itu ia tidak mengetahuinya, atau telah mengetahui tetapi terlupa maka ia hanya wajib mengulangi salatnya yang terakhir saja. Yakni sebelum mengetahui adanya najis tersebut.
  14. Najis Yang Tidak Dikenali Tempatnya. Jika seseorang mengetahui adanya najis pada pakaiannya tetapi kini ia tidak tahu lagi di bagian manakan najis tersebut, wajiblan ia mencuci semuanya, karena hanya dengan begitu ia dapat menyakini kesuciannya.
  15. Menyamak Kulit Bangkai. Kulit bangkai, selain anjing dan babi, dapat menjadi suci setelah melalui proses  penyamakan.   Nomor 1.2,5,6 sampai dengan 15 lihat antara lain : Sayid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, jilid I, hlm 24 s.d 29; Taqiyyuddin Ad-Dimasyqiy, Kifayat Al-Akhyar, Bab Atu-Thaharah; dan An-Nawawiy, Al-Majmu’ Syarh Al mUhadzdzab, II/501
  16. Menggunakan Alat-Alat Makan-Minum Orang-orang Non-Muslim. Dirawikan bahwa Abu Tsa’labah Al-Khusyani pernah bertanya, “ Ya Rasulullah, adakalanya kami berada di negeri Ahl’l-Kitab. Bolehkan kami makan dan menggunakan alat-alat makan-minum mereka?. Jawab Nabi Saw. “Jika ada yang lainnya, sebaiknya tidak menggunakan alat-alat mereka. Tetapi jika tidak da, cuculah dan kemudian makanlah.” (HR Bukhari dan Muslim). Menurut hemat saya, hadis di atas tidsak mewajibkan kita mencuci sendiri alat-alat tersebut, tetapi cukup dengan adanya keyakinan bahwasi pemilik alat-alat tersebut telah mencucinya dengan air bersih sebelum digunakan kembali. Wallahu A’lam.