Category Archives: Uneg-Uneg

SIM Gratis

Mr. Choro : “Halo Bos, kayaknya kok buru-buru amat, mau kemana?”

Pak Bos : “Ini lho Cho, mau perpanjang SIM. Lupa aku kalo sebentar lagi sudah kadaluwarsa alias mau habis masa berlakunya…”

Mr. Choro : “SIM mobil apa motor Bos?”

Pak Bos : “Ya SIM mobil to Cho, saya ini sudah tak pernah lagi naek motor”.

Mr. Choro : “Kok gak pake jasa pengurusan surat-surat aja to Bos, uang banyak kok repot-repot ngurus sendirian”.
Pak Bos : “Saya ini warga negara yang baik, Cho. untuk urusan begitu saya bisa urus sendiri, wis yo tak tinggal dulu…”

Mr. Choro : “Mbok ya duduk-duduk sini dulu to Bos. Ndak usah buru-buru. Kita ngobrol-ngobrol dulu lah…”

Pak Bos : “Yo wis, jangan lama-lama. Mari kita ngobrol tentang situasi politik dan ekonomi terkini saja, lagi rame ini… setuju?”

Mr. Choro : “Nggak ah Bos, males. Paling ya ngono-ngono ae… kan dulu udah pernah kita bahas dan prediksi… Sekarang waktunya nonton hasilnya he he, kita ngobrol yang laen saja. Masalah SIM motor Aja..”

Pak Bos : “Okelah…. O ya, apa kamu mau tak uruskan buat SIM sekalian. Biar nanti saya yang mbayarin…”.

Mr. Choro : “Walah, pak Bos kok baru sekarang to ngomongnya. Coba kemaren-kemaren, kan saya tidak harus kehilangan uang ratusan ribu rupiah hanya untuk mengurus ‘deluwang sesuwek’ (sesobek kertas) itu?…”

Pak Bos : “Oo, kamu juga baru saja ngurus SIM juga to..”

Mr. Choro : “Iya Bos, rugi saya…”

Pak Bos : “Rugi apanya?”

Mr. Choro : “Ya rugi… Sebagian besar gaji saya habis buat bayar ongkos bikin SIM”

Pak Bos : “Ah kamu ini mbok jangan kenemenen alias keterlaluan gitu, Mengurus SIM kan kewajiban bagi para pengendara, lagi pula cuma lima tahun sekali… ngirit ya ngirit…”

Mr. Choro : “Lima tahun sekali sih lima tahun sekali, Tapi kalau dikalikan dengan jumlah pemotor di negeri ini totalnya jadi berapa coba? Hal lainnya perbandingan ongkos bikin sama biaya pembuatan kartunya itu lho.. gak masuk akal. Masak buat bikin kartu begitu aja kok ya menghabiskan ratusan ribu rupiah. Padahal kalau tak itung-itung, ongkos produksinya jauh di bawah itu… Bikin ATM bank aja cuma beberapa puluh ribu rupiah, Bahkan teman saya yang punya usaha digital printing dengan mudah bisa membuatnya. Kalau diijinkan sebenarnya hanya modal printer rumahan, mesin laminating dan kertas PVC jadilah kartu-kartu itu…. bentuknya juga mirip meski dari tingkat keamanannya memang kalah, Cuma ya judulnya memang jadinya pemalsuan dokumen dan itu jelas ilegal.,,”

Pak Bos : “Setahu saya ngurus SIM kan gak terlalu mahal apalagi kalau diurus sendiri, kamu pasti pake calo ya Cho…”.

Mr. Choro :” Justru itu masalahnya, Bang Napi kan pernah bilang bahwa kejahatan terjadi bukan karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan… Terkadang sistem yang kita miliki ini memberikan peluang mereka yang sebelumnya tidak berniat tapi akhirnya melakukan penyelewenangan juga karena sistem yang abu-abu atau berada di grey area… Supply dan demand itu akhirnya menghasilkan banyak oknum yang berkesempatan mengail ikan di air bening, memanfaatkan kesempatan dalam peluang dan menyebabkan rusaknya sistem, kewibaan, citra, kehormatan dan harga diri organisasi. Seperti kata peribahasa itu lho… rusak susu setitik gara-gara nila sebelanga….”

Pak Bos : “Kebalik Cho.. gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga..”

Mr. Choro : “Pokoknya itu lah Bos…”

Pak Bos : “Trus apa hubungannya?”

Mr. Choro : “Begini Bos… Saya sepenuhnya sadar bahwa sudah menjadi tugas negara untuk mewajibkan rakyatnya yang berkendaraan bermotor memiliki SIM. Hal itu bertujuan untuk melindungi keselamatan rakyat dari ancaman kecelakaan dalam berlalu lintas. SIM bukan hanya sekadar pelengkap berkendara tapi lebih dari itu merupakan suatu tanda bahwa pemiliknya telah benar-benar memiliki ketrampilan dalam berkendara serta mengerti betul tentang peraturan keamanan dan keselamatan berlalu lintas di jalan raya. Jika melindungi rakyat adalah tugas negara dan salah satu wujudnya adalah mewajibkan adanya SIM demi keselamatan, lalu mengapa untuk memperoleh SIM motor itu rakyat harus mengeluarkan biaya yang demikian mahal?”

Pak Bos : “Tapi biaya pembuatan SIM kan buat pemasukan negara Cho, PNBP itu lho, Alias Penerimaan Negara Bukan Pajak, Biaya itu kan nantinya akan digunakan untuk kepentingan negara dan kembali ke rakyat juga to…. Kamu harus sadar itu. Ingat, orang bijak taat pajak”.

Mr. Choro : “Jika biaya pembuatan SIM motor alasannya adalah untuk pemasukan negara yang pada akhirnya akan dipergunakan untuk kepentingan rakyat juga, Lalu buat apa biaya itu ada? Toh uang rakyat itu akan kembali ke rakyat juga. Bukankah itu seperti mengeluarkan uang dari kantong kiri masuk ke kantong kanan?
Pak Bos harus ingat… Ketika rakyat diwajibkan untuk mengeluarkan biaya atau pungutan yang terlalu besar atas sebuah peraturan yang ada unsur penegakan hukum yang sangsinya besar juga, maka di situ pula akan ada potensi penyelewengan dari para pelaku-pelaku peraturan itu, apalagi untuk hal yang sifatnya menjadi hajat hidup dan keselamatan orang banyak, Karena kalau tidak, akibatnya yang itu tadi…
Akan ada oknum yang memanfaatkan peraturan itu untuk mencari keuntungan pribadi dari kesempatan dan peluang itu dan nominalnya juga menjadi tidak masuk akal sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya…
Menurut saya sebaiknya pungutan untuk pembuatan SIM yang sebenarnya ongkos pembuatannya tidak terlalu mahal itu dihilangkan saja dan ditanggung oleh negara untuk menghilangkan segala bentuk penyelewengan.
Saya dapat menganalogikan hal tersebut dengan Pak Bos yang mewajibkan anak-anak Pak Bos untuk sekolah. Karena Pak Bos yang mewajibkan, maka bukankah Pak Bos pula yang berkewajiban membiayai sekolah itu…? Masak Pak Bos memaksa anak untuk sekolah tapi biayanya suruh anaknya nyari sendiri, Itu namanya orang tua sewenang-wenang dan tak tahu diri.
Berikutnya saya mau tanya satu lagi Bos, Misalnya nih pak Bos akan megerjakan suatu ujian, sebelumnya pak bos menerima pelatihan atau pelajarannya ndak?”

Pak Bos : “Ya iya Cho”

Mr. Choro : “Saat Pak Bos menjalani ujian SIM, apakah pernah mengikuti atau mendapat pelajaran tentang tata cara berlalu lintas yang baik dan panduan naik mobil atau motor yang benar?”

Pak Bos : “Enggak!”

Mr. Choro : “Trus kalau nggak pernah dapat pelajarannya, lalu kenapa ada ujiannya? Pak Bos mengerjakan ujian tertulis dan praktek itu sumbernya darimana? Pake ilmu kira-kira atau nyari sendiri gitu? Ya nggak bisa gitu dong Bos. Masak sesuatu yang tidak diajarkan dan dilatihkan tapi ada ujiannya, mbayar lagi…”

Pak Bos : “Trus menurutmu siapa dong yang harus bertanggung jawab memberikan pengetahuan tentang tata cara berkendara yang baik dan benar?”

Mr. Choro : “Menurut saya ya kita bisa manfaatkan sekolah-sekolah terutama yang setingkat SMA untuk memberikan pengetahuan tentang keterampilan, dan keselamanan berkendara bagi anak-anak sekolah yang baru belajar itu…”

Pak Bos : “Ywis cho… nanti kita lanjutken lagi, saya lagi buru-buru nih, ntar keburu tutup kantor SIM nya…”

Mr. Choro : “Siap Bos, nanti kita sambung obrolan kita tentang kenapa motor sebaiknya tidak perlu ada STNK…”

Saat Kemakmuran Ternyata Belum Cukup

Beberapa waktu yang lalu saya menonton ‘Dragon Blade’, sebuah film mandarin yang dibintangi dua aktor populer dari timur dan barat yaitu Jacky Chan dan John Cussack. Jacky Chan berperan sebagai Hou An, seorang Komandan Pasukan Penjaga Jalur Sutra, sedangkan John Cussack berperan sebagai Lucius, seorang Komandan Legion Pasukan Romawi yang bersama-sama pasukannya sedang terkucil dari negaranya karena membela dan mengawal salah seorang Bangsawan Romawi.

Film itu bercerita tentang sebuah jalinan kerjasama dan kekompakan yang ditunjukkan oleh para tawanan yang berasal dari bangsa-bangsa di sepanjang jalur sutra termasuk di dalamnya Hou An dan anak buahnya yang juga ikut menjadi tawanan karena dijebak oleh musuh dalam selimut dalam sebuah kasus penyelundupan emas di negaranya. Kerja sama itu semakin mantap dengan kedatangan Lucius beserta pasukannya yang memiliki keunggulan di bidang keahlian teknik bangunan untuk turut serta membantu membangun benteng tersebut sehingga dapat terselesaikan sesuai waktu yang ditentukan. Tidak hanya membangun sebuah benteng, kerja sama itupun diwujudkan dalam pertempuran melawan pasukan musuh yang sedang mengejar rombongan pasukan Lucius. Berkat kemampuan soft leaderships dan semboyan ‘jadikan musuh sebagai teman’ Hou An akhirnya ditunjuk dan mendapat kepercayaan untuk memimpin seluruh pasukan koalisi.

Dari judulnya yang ‘mandarin banget’, tadinya saya menduga bahwa film itu paling-paling akan bercerita tentang dunia pendekar kungfu ala Kho Ping Ho lengkap dengan kesaktian senjata ‘Golok Naga’. Namun rupanya dugaan saya itu agak sedikit meleset. Setelah selesai menonton, dalam pandangan saya judul film itu rupanya tidak mewakili isi filmnya meskipun dalam beberapa adegan memang ditampilkan duel antara Komandan Hou An dan Komandan Legion Lucius menggunakan golok/pedang.

Dari judul itu saja saya lebih melihat adanya simbol-simbol dan isyarat-isyarat bermuatan politis yang ingin disampaikan oleh pemerintah China terutama jika dikaitkan dengan kebijakan dan manuver politik yang saat ini terjadi di kawasan Asia Pasifik khususnya Laut China Selatan. Apalagi jika melihat isinya, semua penuh dengan simbol-simbol tertentu contohnya kekaisaran Romawi dalam film tersebut yang bisa diartikan sebagai simbol “Eropa”, artis John Cussack sebagai simbol “Amerika”, dan jalur sutra sebagai simbol keinginan China untuk menjadikan sejarah masa lalu sebagai pijakan dan pertimbangan dalam menentukan kebijakan geopolitiknya di masa kini. Di akhir film seakan – akan ada sebuah pesan yang ingin disampaikan yang bunyinya “Mari kita sesama bangsa kita saling bekerja sama dan bahu membahu melawan musuh bersama, mari kita jadikan musuh sebagai teman, tapi bisakah anda memberi kesempatan kepada saya yang berkemampuan lebih ini untuk berdiri di depan memimpin anda semua?”

Nine Dash Line China terhadap peta Laut China Selatan adalah salah satu hal yang bisa dijadikan contoh tentang gambaran dari ambisi China untuk menjadi hegemon baru di Kawasan Asia Pasifik. Nine Dash Line dapat juga menjadi simbol lain dari keinginan China yang ingin menjajagi isi hati negara kawasan yang wilayahnya tersangkut paut dengan kebijakan itu. Sebuah kebijakan politik yang akhirnya membuat hubungan internasionalnya dengan para anggota ASEAN terganggu serta mampu memancing Sang Polisi Dunia yakni Amerika Serikat menggeser center of gravity kekuatan globalnya dari Timur Tengah menuju ke Asia Pasifik dalam rangka memberikan Balance of Power.

Di sisi lain kebijakan luar negeri suatu negara memang terkait erat dengan kepentingan dan cita-cita nasional suatu negara. Karena itu mengaitkan antara keinginan China yang sedang berusaha menancapkan pengaruh dan hegemoninya di kawasan Asia Pasifik dengan tujuan akhir demi kepentingan nasional dan kemakmuran negaranya juga bukan merupakan hal yang sepenuhnya salah. Bukankah Indonesia juga cita-cita nasionalnya adalah menjadi Negara yang Adil, Makmur dan Sentosa? Namun jika melihat situasi dan kondisi China yang sekarang ini telah menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia mengalahkan negara-negara lainnya sehingga berstatus sebagai negara dengan kemakmuran tertinggi di dunia, lalu motivasi apalagi yang melebihi tujuan tersebut sehingga harus mengganggu tetangga-tetangganya dan mengorbankan perdamaian yang selama ini ada?

Apakah kemakmuran itu dianggap belum cukup sehingga masih perlu teritori lain agar lebih menjamin keberlangsungan kemakmuran itu dalam waktu yang lebih lama apalagi jika dikaitkan dengan kepentingan terhadap Laut China Selatan yang menyimpan cadangan energi yang jumlahnya luar biasa besar?

Ataukah ada motivasi lainnya?

Bisakah itu diumpamakan seperti tokoh-tokoh di negeri ini yang telah memiliki status kemakmuran yang sangat tinggi karena memiliki kekayaan yang luar biasa namun tetap ingin mendirikan partai dan ingin menjadi pemimpin di negeri ini dengan menggunakan kekayaannya itu?

Lalu bagaimana dengan kondisi Indonesia yang konstelasi geografisnya tepat berada di tengah medan laga perebutan hegemoni itu?

Jika kita sadar dengan semua potensi konflik yang sewaktu-waktu bisa terjadi itu masihkah kita disibukkan dengan urusan-urusan remeh temeh sementara di sisi lain tanah yang kita injak, air yang kita minum dan udara yang kita hirup ini sedang menuju titik puncak kerawanannya?

Let’s Think……

Family Camping : Wana Wisata Padusan Air Panas – Pacet.

Camping Ground Padusan – Pacet

Berdasarkan referensi di Internet, saat weekend beberapa waktu yang lalu kami sekeluarga berencana akan berkemah/kemping di Camping Ground Air Terjun Coban Rondo, Batu -Malang. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saat menuju ke sana kami lebih memilih berangkat dari Surabaya lewat jalur Mojokerto (Mojosari) – Pacet – Batu (Malang) daripada melalui jalur Gempol – Pasuruan karena jalur tersebut sering macet terutama saat weekend. Tiba di Pacet hari sudah menjelang sore karena berangkat dari Surabaya juga sudah siang. Sudah bela belain naik gunung turun gunung… salah jalan lagi… Seharusnya saat tiba di pertigaan Pacet kami mengambil jalur kanan, dengan pedenya malah mengambil jalur kiri dan akhirnya justru kembali ke arah Mojokerto melalui jalur Trawas.

Setelah bertanya kepada orang di pinggir jalan, kami memutuskan untuk balik arah dan kembali ke jalur semula, naik turun gunung. Waktu itu hari telah sore dan jarak ke Coban rondo juga masih jauh. Akhirnya kami membatalkan niat kemping di Coban Rondo dan memutuskan mencari lokasi perkemahan yang dekat dengan Pacet. Wana Wisata Air Panas, Padusan Pacet menjadi pilihan.

Tiba di lokasi wisata langsung membayar tiket masuk sebesar 12.000 rupiah per orang (anak-anak tidak dihitung).  Selanjutnya kami berkeliling mencari lokasi kemping yang nyaman. Di sana banyak sekali lokasi camping ground yang bisa dijadikan pilihan karena tempatnya yang cukup luas, sejuk dan asri. Fasilitas yang tersedia pun cukup baik. Sarana parkir kendaraan baik roda dua maupun empat memadai, sumber air bersih berlimpah dan mengalir sepanjang waktu, tersedia pula warung-warung kecil yang menjual berbagai makanan ringan terutama gorengan tahu petis dan ote-ote (jawa timur) /bakwan (jawa tengah) /bala-bala (jawa barat) dan aneka makanan lainnya.

Setelah menemukan lokasi yang cocok (tidak terlalu sepi atau ramai, dekat dengan tempat parkir dan lokasi MCK/air bersih), bersama-sama kami mendirikan tenda. Di lokasi camping ground yang kami pilih telah banyak mereka yang juga berkemping di sana, dari mulai para anak pramuka, komunitas sepeda motor sampai para karyawan perusahaan yang mengadakan even outbound gathering.

Tenda telah berdiri saat matahari mulai terbenam. Sambil menunggu azan magrib, waktu yang ada saya manfaatkan untuk rebahan sebentar sambil menatap dan menikmati jajaran pohon-pohon pinus lengkap dengan burung-burung yang entah apa namanya berkicauan dan berlompatan di daun dan ranting. Sungguh suasana yang syahdu dan takkan pernah kita temukan di lingkungan perkotaan.

Pinus di Camping Ground Padusan

Malam pun tiba. Acara wajib saat kemping pun dimulai. Apalagi kalau bukan bakar api unggun dan jagung bakar, ngopi, bikin mie instan lalu mengobrol ke sana  ke mari menghabiskan malam. Di kejauhan terdengar anak-anak pramuka sedang berteriak-teriak menyanyikan yel-yel mereka dan beratraksi “AKU PUNYA PISANG, AKU PUNYA PISAANG DIK, AKU PUNYA DONAT, AKU PUNYA DONAAT, KAK”.

Hari belum terlalu malam ketika kami semua mulai mengantuk dan satu persatu tertidur di tenda dan di dalam kantung tidur. Hal yang cukup mengganggu kanyamanan kami berkemping adalah lalu lalang kendaraan yang lewat dan debu-debu yang beterbangan. Maklum saat itu musim kemarau dan jalan di sama juga masih tanah. Di samping itu juga terdengar suara mereka yang sedang berkaraoke ria memekakkan telinga, entah rombongan dari mana. Suaranya begitu keras karena berpengeras suara. Dalam hati saya bertanya kenapa tidak di rumah atau di gedung saja jika hanya mau berkaraoke ria. Kenapa harus ke hutan dan gunung dan merusak suasana alam dengan semua suara nyanyi2an itu?

Kolam Renang Wana Wisata Padusan Pacet

Tak terasa waktu subuh pun datang. Kami terbangun dalam keadaan segar bugar setelah terlelap menghabiskan malam. Selesai shalat subuh, berkemas, bongkar tenda dan perlengkapan, makan pagi acara kami lanjutkan jalan-jalan pagi menyusuri hutan pinus di sekitar lokasi camping. Puas jalan-jalan lanjut berenang dan berendam di kolam renang air panas dan dingin yang tersedia di lokasi. Bayangkan setelah kedinginan semalaman kemudian berendam di air hangat…