Paste your Google Webmaster Tools verification code here

Category Archives: Opini

KLASIK

Dulu sewaktu saya masih SMA guru PMP saya pernah bertanya kepada para siswa. Pertanyaannya begini, tahukah kalian tahu apa itu artinya kata klasik? Serentak sebagian besar para murid pun menjawab ” kunooooo”. Setelah mendengar jawaban itu, guru PMP saya berkata bahwa jawaban itu tidak seluruhnya salah tapi juga kurang tepat. Benda yang dianggap kuno mungkin ada yang klasik, tapi benda berpredikat klasik bukanlah kuno.

Pak Guru mencontohkan sesuatu yang klasik di bidang fashion yaitu model dan warna seragam SMA yang kami pakai saat itu. Meskipun seragam berwarna abu-abu itu sudah lama ada dan sampai sekarang masih digunakan di sekolah-sekolah SMA, adakah di antara kita yang menganggap seragam itu kuno? Tidak ada bukan? Karena itu seragam SMA, SMP atau SD yang selama ini pernah kita atau anak-anak kita pakai itulah contoh dari sebuah model klasik. Sebuah model dan warna pakaian yang mungkin takkan pernah menjadi suatu trend adi busana, tapi juga takkan pernah ketinggalan zaman atau kuno. Hal yang sama mungkin berlalu untuk ‘kaos oblong’ atau ‘celana jean’.

Menurut kamus bahasa Indonesia online kata klasik memiliki arti sebagai berikut :

(1) mempunyai nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yg abadi; tertinggi;

(2) n karya sastra yg bernilai tinggi serta langgeng dan sering dijadikan tolok ukur atau karya susastra zaman kuno yg bernilai kekal;

(3) a bersifat spt seni klasik, yaitu sederhana, serasi, dan tidak berlebihan;

(4) a termasyhur krn bersejarah: bangunan — peninggalan zaman Sriwijaya itu akan dipugar;

(5) a tradisional dan indah (tt potongan pakaian, kesenian, dsb): pertunjukan tari-tarian Jawa –.

Secara harfiah, kata “klasik” itu sendiri menurut saya mungkin pengembangan dari kata “kelas” atau “class” yang memiliki kesamaan arti dengan ‘tingkat’ atau ‘hirarki’. Sesuatu berkelas berbeda perlu ditempatkan dalam ‘ruangan’ yang berbeda. Karena itulah sekolah menempatkan siswa-siswanya yang berbeda tingkat/kelas di dalam ‘ruang kelas’ yang berbeda pula.

Terkait dengan keterangan di atas, kenapa tiba-tiba saya tertarik dengan kata ‘klasik’? Seberapa tinggi nilai atau makna dari kata tersebut?

Jika kita amati segala sesuatu di sekitar yang pernah kita dengar, lihat dan rasakan, semuanya tak akan lepas dari faktor nilai keklasikan yang melekat padanya. Semakin klasik sesuatu, maka semakin lama dan abadi pula umurnya bahkan tak lekang oleh masa, waktu dan zaman dari generasi ke generasi. Demikian juga sebaliknya, semakin rendah nilai keklasikannya, maka semakin pendek umurnya, temporer dan semakin mudah pula untuk segera dilupakan orang. Hal itu tentu saja bersifat relatif tergantung dari individu masing-masing.

Berikut ini contoh tokoh-tokoh Indonesia yang menurut saya akan menjadi klasik dan tetap melegenda dari masa ke masa sampai generasi-generasi yang akan datang. Ini hanya beberapa contoh saja dan sifatnya pandangan pribadi penulis dan tentu saja bisa berbeda tergantung selera masing-masing.

1. Suara Tilawatil Quran Muammar ZA.

Sebagian besar umat muslim di Indonesia tentu sudah familiar dengan qori’ legendaris satu ini. Rekaman suara bacaan Al-Qurannya yang begitu merdu, syahdu dan menyentuh hati seluruh umat muslim yang mendengarnya telah jutaan kali dikumandangkan hampir di sebagian besar masjid-masjid di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sejak puluhan tahun lalu sampai sekarang tampaknya belum tampak ada tanda-tanda suara itu akan tergantikan oleh qori-qori masa kini.

2. Lagu dangdut/melayu Rhoma Irama.

Berjuta-juta lagu dangdut telah dicipta, diperdengarkan, menjadi populer lalu turun popularitasnya dan menghilang dari pasaran dan dilupakan. Hal itu rupanya tidak berlaku dengan lagu-lagu karya Pak Haji Rhoma Irama. Puluhan tahun yang lalu sejak lagu-lagu itu diciptakan, sampai saat ini lagu-lagu itu masih dianggap merdu didengar terutama oleh para penggemar musik dangdut. Lagu-lagu itu juga tak henti-hentinya di daur ulang dan dinyanyikan di mana-mana dalam berbagai versi. Sampai sekarang tampaknya belum juga ada tokoh sekelas Pak Haji yang mampu menggantikannya. Selain Rhoma Irama tentu saja masih banyak tokoh yang lain. Iwan Fals dengan lagu kemesraannya barangkali, atau Ebiet G Ade dengan lagu Berita Kepada Kawan mungkin.

Klasik adalah sebuah standar kualitas. Sebuah nilai kualitas baku yang bisa diterima oleh sebagian besar manusia sesuai panca indra masing-masing. Karena itu untuk menghasilkan sebuah keklasikan memerlukan sebuah proses dan hanya waktu yang bisa menguji pembuktian kualitasnya. Dari beberapa contoh di atas tentu kita dapat pula memberikan contoh para tokoh lain yang akan melegenda berdasarkan nilai keklasikan yang mereka miliki. Semua bisa didapatkan dari pengamatan kita terhadap apa yang kita dengar, lihat dan rasakan di sekitar kita.

Dari contoh-contoh keklasikan tokoh-tokoh legenda suara di atas setidaknya kita juga bisa mengambil suatu pelajaran bahwa untuk menghasilkan kualitas seperti itu tidak bisa didapatkan dalam waktu singkat apalagi dengan cara-cara instan seperti yang terjadi pada ajang-ajang pencarian bakat yang selama ini sudah sering kita lihat di televisi. Acara-acara seperti itu mungkin akan sekejap mata memunculkan artis-artis karbitan yang langsung populer dan dipuja di mana-mana, namun setelah itu nama dan karyanyapun akan segera dilupakan. Hukum alam akan selalu berlaku, sesuatu yang terlalu drastis naiknya akan juga cepat turunnya.

Bagaimana halnya contoh keklasikan yang berkaitan dengan masalah politik? Kita baru saja merayakan pesta demokrasi dan memilih pemimpin negeri ini. Adakah tokoh-tokoh yang menurut anda terlalu instan untuk menjadi pemimpin?. Akankah tokoh yang kita pilih itu bakal menjadi Tokoh Klasik yang tertulis dengan tinta emas sepanjang zaman karena kepemimpinannya atau hanya temporer saja?

Kita telah menentukan pilihan berdasarkan pikiran dan naluri kita masing masing. Tepat atau tidak pilihan itu jelas langsung atau tidak akan berpengaruh terhadap hidup kita dan anak cucu kita di masa depan. Kita tidak bisa mengubah masa lalu sambil menyesali hasil yang telah ada di masa kini, namun kita bisa mengubah masa kini untuk mengubah masa depan…

So, apapun pilihannya… ‘Enjoy The Journey, Not The Destination, because Every Destination is a Start Point to a New Journey… til We Die…

Dan BTW apakah artikel ini memiliki nilai klasik? Silahkan baca kembali 20 tahun yang akan datang untuk mengetahuinya…

Birokrasi “mbulet” Dunia Pendidikan Kita.

Mr. Choro : “Assalamu Alaikum Pak Bos, apa kabar?”.

Pak Bos : ” Wassalamu Alaikum Cho, saya baik-baik saja, sebaliknya gimana?”

Mr. Choro : “Baik Bos, Bos bos….”

Pak Bos : “Ya Cho, ada apa?”

Mr. Choro : “Boleh pinjem duitnya”.

Pak Bos : “Buat apa Cho”.

Mr. Choro : “Biaya uang pangkal anak sekolah Bos, lagi mau masuk SMP nih…”.

Pak Bos : “Berapa?”

Mr. Choro : “Sepuluh juta Bos”.

Pak Bos : “Gile lu Cho, anakmu itu mau masuk SMP atau mau kuliah kok bayarnya segitu. Lagi pula bukannya sekolah SMP negeri sekarang ini sudah gratis, jangan-jangan uangnya mau kamu pake buat macem-macem ya?”

Mr. Choro : “Ah Pak Bos ini bawaannya Suudzon aja, beneran ini Bos… mau dipake buat bayar sekolah. Lha wong anak saya masuk SMP swasta, tentu saja pake bayar.”

Pak Bos : “Trus kenapa gak kamu masukkan ke SMP negeri saja?”

Mr. Choro : “Itulah Bos, anak saya susah masuk SMP negeri karena sekolah negeri zaman sekarang, jika bukan bukan warga setempat alias KTP luar kota, kuotanya cuma satu persen. Jadi kalau jumlah siswa yang diterima 200 orang maka hanya 2 orang luar kota yang bisa masuk. Jadi pesimis deh saya. Makanya saya masukkan sekolah swasta saja”.

Pak Bos : “Salah sendiri kenapa kamu tidak mengurus administrasi kependudukan, Cho. Kenapa tidak bikin KTP baru di tempat kamu tinggal? Kalau kamu punya KTP setempat kan tidak perlu pusing-pusing mikirin biaya sekolah tho”

Mr. Choro : “Di situlah masalahnya, Pak Bos kan tahu saya ini kerjanya pindah-pindah. Kadang setahun kadang dua tahun udah pindah ke tempat baru. Lha kalau tiap tahun saya harus menghadapi birokrasi cabut berkas dari kota lama ke kota yang baru hanya sebagai syarat bikin KTP, betapa rumitnya hidup ini… Pak Bos kira pindah KTP itu mudah seperti ganti akun facebook apa?”

Saya itu kadang-kadang heran, perasaan masuk SMP zaman saya dulu gak serumit seperti sekarang deh. Dulu saya kan SMPnya juga jauh dari tempat tinggal orang tua. Saya waktu daftar SMP kok gak pake syarat macem-macem. Didaftarin sama wali saya langsung masuk gitu aja. Sekarang ini kok pake syarat ini itu segala macem. Pendidikan kita ini sepertinya bukannya semakin maju malah semakin mundur. Apa mereka yang bikin aturan itu dulu waktu masuk SMP juga mendapat perlakukan seperti sekarang?”.

Pak Bos : “Kamu jangan egois hanya memandang dari satu sisi saja Cho, coba sekali-kali melihat dari sisi yang lain. Kebijakan dan aturan itu dilakukan kan untuk melindungi calon siswa lokal agar tidak tergeser oleh calon-calon siswa yang berasal dari dari luar kota. Kalau mereka yang dari luar kota dibebaskan untuk masuk sekolah di suatu kota, nantinya dikhawatirkan justru malah siswa ber-KTP di tempat sekolah itu berada yang tidak kebagian tempat. Dan itu pasti akan mendapat protes dari penduduk lokal. Semuanya pasti sudah dipikirkan dan diperhitungkan masak-masak”.

Mr. Choro : “Okelah Bos kalau alasannya begitu, sekarang pertanyaannya kenapa orang luar kota kok sekolahnya tidak di tempat mereka. Kenapa harus menyeberang ke kota lain?”

Pak Bos : “Ya sudah bukan rahasia umum kalau sekolah di kota-kota besar itu dianggap mutunya lebih baik. Makanya orang tua siswa ingin anak-anak mereka bersekolah di sana. Jika tidak dibuat aturan seperti itu, ya itu tadi akibatnya… seperti yang saya bilang tadi”.

Mr. Choro : “Sekolah SD dan SMP itu kan pendidikan dasar yang berfungsi untuk membekali kemampuan umum dan esensial terhadap anak-anak kita. Bukan sekolah spesialis untuk mencetak insinyur atau dokter. Standarnya kan seharusnya relatif sama, sepadan dan setingkat di seluruh tempat di negeri ini Bos. Kok pake ada istilah mutu dan nggak mutu itu gimana to Bos… yang mutu dan gak mutu itu apanya?”

Pak Bos : “Lha kalau memang itu kenyataan yang terjadi sekarang mau gimana lagi Cho, jangankan SD dan SMP, sekolah Paud atau TK aja sekarang sudah saling berebut status sebagai sekolah favorit. Buat ngajar anak SD aja sekarang harus sarjana lho…kalau zaman dahulu kan SPG aja sudah dianggap mumpuni, tuntutan zaman Cho….”

Mr. Choro : “Wah udah nggak bener itu Bos. Negara kita dalam bahaya kalau untuk pendidikan dasar saja kita sudah pake birokrasi mbulet kayak begini”.

Pak Bos : “Lalu menurut analisamu kenapa semua itu bisa terjadi?”

Mr. Choro : “Sekarang begini Bos, kita ini kan katanya menganut pendidikan dasar wajib sembilan tahun. Pendidikan dasar 9 tahun menjadi standar kemampuan terendah yang harus dimiliki oleh seluruh rakyat tidak peduli apapun statusnya dan dari manapun asalnya. Jadi sekolah SD dan SMP itu wajib disediakan oleh negara untuk anak-anak kita. Karena wajib, maka negara juga harus membiayai semua tanpa syarat apapun. Jangankan mereka yang hanya punya KTP luar kota. Kalau perlu mereka yang tidak berKTP dan hidup di jalanan pun wajib hukumnya untuk disekolahkan tanpa embel-embel dan syarat apapun. Semua itu demi mencerdaskan rakyat yang akan sangat menentukan nasib bangsa ini di masa depan kelak.

Jika kenyataan yang ada sekarang masih ada birokrasi yang menghambat pelaksanaan wajib belajar itu, semua itu berpangkal dari akibat tidak meratanya keadilan di seluruh negeri. Jika keadilan dan kemakmuran telah merata, saya yakin semua sekolah penyedia pendidikan dasar di semua tempat akan memiliki tingkat kualitas yang sama dan sederajat. Kalau itu terjadi takkan ada lagi orang luar kota yang berbondong-bondong mencari sekolah di kota lain karena sekolah di tempat mereka telah menyediakan pendidikan yang tidak kalah mutunya.”

Pak Bos : “Trus, bagaimana supaya bisa mewujudkan keadilan dan kemakmuran yang merata itu Cho?”

Mr. Choro : “Mari kita serahkan kepada calon Presiden kita yang akan datang Bos, kita kan sebentar lagi akan memiliki calon pemimpin baru. Biar mereka yang memikirkan. Rakyat jelata kayak saya ini mikirnya cukup sampai bagaimana anak sekolah lancar aja….”.

Pak Bos : “Bagus Cho, ngomong-ngomong pinjem duitnya jadi gak?”

Mr. Choro : “Jadi dong Bos, bolehkan?”

Pak Bos : “Sik Cho… tak pikirnya dulu, kamu itu orangnya kalau pinjem berpotensi mengembalikan apa ndak he he…. ?”.

Mr. Choro : “Terlalu Pak Bos ini… rek…”

Hitam-Putih, Adam-Hawa

Sebagian besar penganut agama Samawi/Abrahamik (Islam, Kristen dan Yahudi) tentu percaya dengan keberadaan dan Adam dan Hawa, bapak dan ibu seluruh umat manusia meskipun teori Darwin juga menyatakan bahwa manusia adalah hasil dari keturunan kera yang berevolusi akibat seleksi alam,

Bagi kita yang percaya tentang keberadaan Adam dan Hawa, pernahkah kita ada rasa penasaran tentang bagaimana rupa Bapak dan Ibu kita itu? Bagaimana bentuk anatomi tubuh, ciri-ciri fisik, warna kulit dan dan ciri-ciri lain dari rupa mereka?

Benarkah rupa fisik Ayah Ibu kita seperti tampak dalam ilustrasi-ilustrasi yang selama ini pernah kita kita lihat, seperti contoh-contoh lukisan berikut ini? (Maaf… ini bukan porno, gunakan sebagai media pembelajaran)

Adam-and-Eve.jpg

adam_hawa_pophjon_kuldi.jpg

t17334-adam-and-eve-tintoretto.jpg

Apakah penggambaran Adam dan Hawa di atas sesuai dengan Ilmu Pengetahuan Modern? Mari kita bahas satu-persatu.

Kita dapat mengetahui masa lalu dari apa yang ada dan terjadi di masa kini. Pada pelajaran Biologi SMA, mereka yang mengambil jurusan IPA tentu pernah belajar tentang hukum persilangan genetika ala Biarawan Mendel dan sifat-sifat yang diwariskan kepada keturunannya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa menurut Mendel, sifat-sifat yang dimiliki oleh keturunan makhluk hidup tidak akan terlalu jauh menyimpang dari Induk jantan dan betina mereka, kecuali karena adanya kelainan atau mutasi genetis.

image_thumb_17_.png

Karena itu  dapat disimpulkan bahwa penggambaran sifat-sifat fisik Adam dan Hawa seperti terlihat di atas jelas bertentangan dengan hukum yang ada di Ilmu Biologi itu. Penggambaran Adam dan Hawa seperti di atas menurut saya cenderung karena imajinasi pelukisnya yang mungkin karena ia adalah seorang ‘bule’.

Setelah menyaksikan lukisan di atas sambil mengingat kembali pelajaran biologi SMA, setidaknya ada beberapa hal yang mungkin patut kita pikirkan dan tanyakan. Seandainya rupa fisik Adam dan Hawa adalah ‘bule’ seperti di atas, bukankah seharusnya rupa fisik kita sekarang juga tidak jauh berbeda dengan rupa Ibu dan Bapak kita itu? Bukankah seharusnya seluruh manusia sekarang bersifat fisik ‘bule’ seperti mereka?

Lalu mengapa kenyataan yang ada sekarang berbeda? Mengapa manusia sekarang sebagai keturunan Adam dan Hawa memiliki sifat-sifat yang bervariasi dan beraneka ragam? Mengapa kita saat ini ada yang berkulit hitam, setengah hitam, sawo matang, setengah putih, putih. Ada yang rambutnya keriting dan lurus, ada yang matanya sipit dan tidak, ada yang berbibir tebal dan tipis dan lain sebagainya?

Bagaimana jika dilihat dari segi agama? Adakah keterangan di dalam agama/kitab suci yang dapat dijadikan petunjuk namun juga sesuai dengan ilmu pengetahuan modern?
Sebagai muslim, saya tidak tahu gambaran Adam dan Hawa menurut agama selain Islam. Karena itu pada artikel kali ini saya hanya ingin mencoba menjelaskan bagaimana rupa Adam dan Hawa berdasarkan petunjuk yang ada dari kitab suci yang saya yakini yaitu Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW.

Di dalam kitab suci Alquran memang tidak secara spesifik menjelaskan bagaimana rupa Adam dan Hawa, namun demikian ada ayat-ayat tertentu yang menjelaskan secara cukup jelas tentang bagaimana rupa Bapak dan Ibu moyang kita itu. Hasilnya juga menakjubkan karena memang tidak bertentangan dengan ilmu biologi yang pernah kita pelajari. Mari kita bahas satu persatu.

1. Segala ciptaan asal muasalnya adalah berpasangan.

Sebelum kita membahas tentang rupa Adam Hawa, ada baiknya terlebih dahulu kita mendalami ayat Al Quran yang menjelaskan bahwa asal muasal makhluk di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Dalil-dalil tersebut antara lain sebagai berikut :

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (QS. Az-Dzaariyaat : 49)

“Dan Dia telah menurunkan dari langit air maka Kami keluarkan dengannya berpasang-pasangan dari tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam (warna dan rasa)” (QS.Thaahaa : 53)
“Dan dari segala buah-buahan Dia menjadikan padanya berpasang-pasang dua” (QS.Ar-Ra’d : 3)

¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.¨(QS. Yaa Siin:36).

‘Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” (QS. An Nahl :72).

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syuro:11)”

Kata ‘BERPASANGAN’ menjadi kata kunci dari dalil-dalil tersebut di atas, karena itu mari kita fokus pada kata penuh makna tersebut.  Dua benda dikatakan berpasangan bukan berarti karena kembar, melainkan karena memiliki sifat dan karakter yang meskipun berlawanan, namun saling menyatukan, menggenapi dan melengkapi satu sama lain agar tercapai harmoni, keselarasan dan keseimbangan alam. Contoh-contoh pasangan misalnya ada angka Nol-Satu (bilangan biner), ada Hitam-Putih (warna), ada Bass-Treble (untuk frekuensi nada/suara), ada Aksi-Reaksi (gaya), ada Gelap-Terang (cahaya), ada Jantan-Betina (jenis kelamin), ada kutub Positif-Negatif (magnet/listrik), ada Mangsa-Predator (rantai makanan), ada Yin-Yang (filosofi Tiongkok) dan tentu saja masih banyak contoh pasangan-pasangan lain yang jika dirunut lagi semua pasangan-pasangan itu akhirnya menjadi sebuah pasangan utama dari sifat keILAHIan, hanya levelnya pada tingkat ciptaan, yakni ADA TIADA, HIDUP MATI.

Jika kita perhatikan, semua yang tampak berwarna-warni sebenarnya asal muasalnya adalah pasangan. Contohnya apa yang kita lihat berwarna-warni pada cahaya pelangi sebenarnya berasal dari dua pasang warna cahaya yaitu terang – gelap (additif) atau hitam – putih (substraktif) cahaya matahari yang setelah dibiaskan oleh titik hujan atau kaca prisma (Saya tidak tahu apakah karena hal tersebut maka simbol ‘One-eye/matahari’ dan ‘piramida/prisma’ dijadikan sebagai simbol/logo oleh kaum Freemasonry atau Illuminati).

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagai asal muasal nenek moyang manusia yang hidup di muka bumi yaitu Adam dan Hawa semestinya adalah dua manusia yang memiliki sifat dan karakter yang berpasangan agar menghasilkan keturunan yang bervariasi seperti sekarang. Jika kita memperhatikan lagi lukisan Adam dan Hawa di atas, maka jelas dapat disimpulkan bahwa pasangan dari sifat-sifat ras manusia tidak tampak di sana, kecuali hanya pasangan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan).

2. Warna Kulit Adam dan Hawa.

Sepanjang sejarah warna kulit telah dijadikan sebagai elemen ‘pembeda’ ras utama bagi manusia. Selama itu pula jutaan jiwa manusia melayang sia-sia akibat kekonyolan dan sikap rasis yang tidak jelas apa untungnya itu. Karena itu warna kulit menjadi sifat utama yang perlu diketahui terlebih dahulu sebelum sifat-sifat yang lain. Jika kita telah mengetahui warna kulitnya, ciri-ciri tubuh yang lain Insya Allah lebih mudah kita prediksi.

Untuk menghasilkan variasi warna kulit seperti sekarang, Adam dan Hawa seharusnya memiliki warna kulit yang berlawanan namun berpasangan. Kulit hitam dan putih menjadi pasangan yang paling masuk akal yang selama ini kita kenal. Tentu saja warna hitam dan putih di sini bukan seperti definisi warna-warna ala kode heksadesimal di bahasa HTML/web, apalagi kode RGB atau CMYK di ilmu desain grafis, melainkan sesuai persepsi mata kita tentang warna hitam-putih pada kulit manusia.

Jika demikian lalu di antara mereka berdua siapa berkulit putih dan siapa yang hitam?

Mari kita perhatikan ayat Al-Quran dan hadits berikut ini.

“Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah (32) : 7)

“Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur HITAM yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr (15) : 26)

Dari beberapa dalil di atas ada dua hal pokok terkait dengan bahan-bahan untuk penciptaan manusia pertama yakni Adam yaitu tanah dan hitam. Berdasarkan ayat tersebut kita tidak perlu menafsirkan terlalu dalam untuk menyimpulkan bahwa jika bahan-bahan untuk penciptaan Adam adalah tanah liat kering yang berasal dari lumpur HITAM. Karena itu bukankah pilihan warna paling masuk akal untuk melukiskan warna kulit Adam adalah warna hitam (warna hitam tanah liat seperti ras negro) dibandingkan dengan warna lainnya? Akal kita tentu lebih menerima warna hitam dari pada warna putih untuk sesuatu yang dibuat dari bahan yang berwarna hitam. Karena itu jelaslah bahwa Adam seharusnya berkulit hitam, dan bukan seperti terlukis dalam ilustrasi di atas.

Bagaimana dengan warna kulit Hawa?Karena warna kulit Adam sudah ketemu, tentu saja warna  kulit hawa adalah kebalikan dari hitam alias pasangannya yaitu warna putih. Benarkah itu dan kalau putih seputih apa?

Perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut: “Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR. Bukhari-Muslim)

Seandainya pun  hadits itu tidak disebutkan, sebenarnya kita semua tentu sudah familiar bahwa wanita pertama alias Hawa adalah tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Karena terbuat dari tulang, maka entah secara tersurat atau tersirat tentu dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat Hawa juga takkan jauh dari bahan pembuatnya, yakni tulang. Jika demikian apa warna kulit Hawa? Sesuai dengan warna tulang bukan? Adakah tulang yang berwarna  selain putih?

3.  Ciri-ciri lainnya.

Di dalam hukum Mendel juga mengenal dominansi sifat. Yaitu sifat-sifat tertentu menjadi dominansi gen tertentu. Jika warna kulit Adam dan  Hawa sudah diketahui maka sifat-sifat lainnya dapat dicari. Kita tinggal mencari sifat-sifat pasangannya. Contohnya sifat rambut. Jika ada dua macam jenis rambut yaitu lurus dan keriting, maka kita tinggal lihat kondisi sekarang. Siapakah yang dominan memiliki rambut keriting? Mereka yang berkulit hitam ataukah yang berkulit putih? Contoh lainnya adalah pasangan untuk mata bundar dan sipit. Siapakah yang dominan memiliki mata sipit? Mereka yang berkulit hitam ataukah yang berkulit putih? Hal tersebut juga berlaku untuk sifat-sifat lainnya. misalnya tubuh tinggi atau tidak tinggi, rambut pirang atau hitam, hidung mancung atau lengkung, bibir tebal atau tipis, dan sifat-sifat lainnya.

Jika kita sudah dapat mengelompokkan sifat-sifat itu maka hasil akhirnya kita dapat menentukan bagaimana ciri-ciri Adam dan Hawa dan sifat-sifat pasangan mereka serta dapat juga mengetahui bangsa mana di dunia ini yang cederung memiliki sifat fisik mirip dengan bapak moyang kita kita, bangsa mana yang cenderung memiliki sifat fisik mirip dengan ibu moyang mereka dan siapa yang memiliki keduanya.

EPILOG.

Adakah pelajaran yang dapat diambil dari artikel di atas seandainya itu benar? Mungkin tidak banyak. Tapi jika kenyataan itu benar adanya dan seandainya seluruh manusia di muka bumi ini menyadari bahwa kita adalah keturunan dari ibu dan ayah yang sama apapun rasnya, kita mungkin akan lebih merasa sebagai satu saudara. Takkan ada lagi bangsa atau golongan tertentu yang mengklaim sebagai pemilik ras lebih unggul daripada manusia atau bangsa lainnya. Tak ada lagi perang dunia yang disebabkan oleh mereka yang merasa memiliki ras lebih hebat dari yang lain seperti yang telah terjadi di masa lalu dan menjadi cikal bakal dua  perang dunia. Dengan kesadaran itu semua manusia dari berbagai bangsa dan golongan tak peduli ras apapun akan saling bantu-membantu, berbagi,  tolong menolong, toleransi di dalam semua perbedaan yang ada. Karena pada hakekatnya kita adalah satu saudara seayah dan seibu, Adam dan Hawa…

Wallahu Alam Bissawab…