Category Archives: Opini

Indonesia Poros Maritim Dunia, Mohon Arahan Mr. Presiden!

Ada satu hal menarik yang membedakan Perwira Angkatan Darat dengan Perwira Angkatan Laut saat mereka meminta saran dan nasehat kepada atasan atau seniornya. Jika Perwira Darat lebih sering menggunakan kata ‘Mohon Petunjuk’, maka Perwira Laut lebih cenderung menggunakan kata ‘Mohon Arahan”. Entah mulai kapan hal tersebut ada dan apakah terjadi secara kebetulan atau tidak, rupanya kata ‘petunjuk’ dan ‘arahan’ jika dikaitkan dengan medan tugas masing-masing angkatan dan digothak, gathik, gathuk memang sepertinya memiliki makna simbolis dan filosofis tertentu sesuai dengan kata-kata yang diucapkan itu.

Kata ‘petunjuk’ dan ‘arahan’ dalam bahasa Inggris bisa memiliki satu arti yaitu ‘direction’, namun jika diteliti lebih dalam ternyata bisa beda makna. ‘Petunjuk’ lebih dimaknai sebagai suatu ‘titik’, ‘point’, atau ‘clue’, karena itu jari yang digunakan untuk menunjuk suatu titik disebut jari telunjuk. Sedangkan ‘arahan/arah’ lebih diartikan sebagai ‘garis’, ‘haluan’, ‘course’ atau ‘guideline’. Meski sekilas berbeda, antara titik dan garis sebenarnya merupakan suatu bentuk yang saling berhubungan. Titik adalah awal dan akhir, dan garis adalah apa yang ada di antara dua titik itu yang isinya adalah gabungan dari titik-titik juga.

Sementara itu antara petunjuk dan arahan dengan daratan dan lautan juga memiliki keterkaitan meskipun antara daratan dan lautan adalah ruang alamiah di permukaan bumi yang keduanya memiliki karakteristik sangat jauh berbeda. Tanah daratan cenderung variatif, statis, penuh relief karena terdiri atas gunung, lembah, jurang, pohon, gunung, sungai dan benda-benda lain baik alami maupun buatan. Karena itulah di daratan perlu dibangun ‘jalan’ yang fungsinya untuk menjadi penghubung antara tempat yang satu dan lainnya. Hal tersebut tentu berbeda dengan alam laut yang bersifat homogen, datar, dinamis, relatif tidak banyak rintangan yang menghalangi pandangan serta sebagian besar permukaannya bisa dianggap sebagai ‘jalan’.

Untuk mencapai suatu tujuan di darat, informasi tentang ‘arah’ relatif lebih mudah tersedia karena ada jalan untuk dijadikan panduan sehingga informasi yang dianggap lebih penting adalah petunjuk, spot, point, titik berupa tanda medan, pohon terkenal, persimpangan jalan, bangunan permanen, rambu-rambu dan lain sebagainya. Sementara itu jalanan tidak perlu dibangun di laut karena semua permukaan laut sudah berfungsi sebagai jalan. Saat berada di laut informasi tentang arah dianggap lebih penting karena sudah ada petunjuk untuk dijadikan referensi navigasi misalnya benda langit (matahari, bulan, bintang dll), benda-benda daratan yang terlihat dari laut (ketinggian), markah-markah tertentu (mercu suar, buoy) dan lainnya.

Lalu apakah karena aktor-faktor di atas yang menyebabkan Angkatan Darat lebih suka menggunakan kata ‘Petunjuk’, sementara Angkatan Laut lebih suka dengan kata ‘Arahan’, jawabannya memang belum bisa dijawab secara pasti. Pernyataan di atas meski terlihat ada kaitannya, sebenarnya juga hanyalah sebuah hipotesis dari penulis belaka yang memang masih perlu diteliti lebih lanjut kebenarannya. Namanya juga dugaan mungkin bisa benar namun juga bisa salah. Jadi anda bebas untuk percaya atau tidak. Untuk saat ini silakan percaya saja dulu karena ada hubungannya dengan bahasan selanjutnya…

Terkait dengan istilah ‘petunjuk’ dan ‘arahan’ lalu apa hubungannya hal tersebut dengan Visi Bapak Presiden tentang Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia seperti tertulis dalam judul di atas?

Inilah sebenarnya topik agak serius yang akan coba penulis bahas karena menyangkut hajat hidup orang banyak termasuk anak dan cucu penulis di masa depan (sory agak lebai coy). Semoga saja hal tersebut memang ada hubungannya dan bukan karena penulis sedang memaksakan diri untuk mengait-ngaitkan sesuatu yang sulit untuk dikorelasikan.

Telah kita ketahui bersama bahwa saat ini dunia maritim atau kelautan Indonesia sedang bereforia dengan visi besar Presiden RI yang sedang bermimpi menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Melalui visi tersebut Indonesia di masa depan diharapkan menjadi ‘poros’, ‘titik berat’, ‘titik tumpu’, ‘center of grafity’, ‘balancing powers’ atau apapun istilahnya terhadap percaturan dunia maritim regional bahkan global. Sebuah visi yang diharapkan akan menjadi ending dari sebuah Strategi Raya atau Grand Strategy dan perjalanan bangsa menuju masa depan yang cerah dengan memanfaatkan aspek maritim sebagai salah satu ways/jalan.

Dengan visi itu Mr. Presiden bermimpi untuk membawa kembali Indonesia menuju kejayaan maritim sebagaimana pernah dimiliki oleh kerajaan-kerajaan di nusantara zaman dahulu. Sebuah era ketika ribuan kapal masih berlayar mendominasi lautan nusantara dan digunakan sebagai sarana utama untuk kegiatan perniagaan antar pulau bahkan antar negara. Sebuah zaman ketika kebesaran maritim dengan kemegahan armada kapal militer benar-benar menjadi kebanggan dan simbol sebuah bangsa maritim dan menjadi status kerajaan Samudera Pasai, Aceh, Sriwijaya, Majapahit, Kediri, Banten, Demak, Bugis dan lainnya sampai akhirnya karakter tersebut berhasil dihancurleburkan oleh penjajah menggunakan politik difide ‘et impera atau strategi pecah belah dan efeknya masih sangat kental terasa sampai sekarang.

Perlu kita sadari bahwa Visi Indonesia Poros Maritim Dunia bukan visi yang biasa-biasa saja. itu merupakan impian yang sangat besar dan untuk mencapai ke sana memerlukan energi/biaya yang tidak sedikit bisa ratusan bahkan ribuan trilliun. Di samping itu juga perlu waktu yang tidak singkat. Bisa satu atau dua tahun, satu atau dua periode pemilihan presiden bahkan sampai satu atau dua generasi agar terwujud. Karenanya untuk mewujudkan visi tersebut perlu sebuah perangkat yang komplit dan lengkap berupa petunjuk dan arah untuk dijadikan panduan bagi seluruh komponen bangsa agar bergerak bersama secara selaras dan harmoni menuju titik dan arah yang sama secara terus menerus dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi.

Dalam rangka mengejawantahkan visi Indonesia Poros Maritim Dunia Bapak Presiden telah memberikan ‘petunjuk’ yaitu berupa lima pilar poros maritim dunia yang isi singkatnya adalah budaya maritim, sumber daya maritim, konektivitas maritim, diplomasi maritim, dan keamanan maritim.

Saat membaca lima pilar poros maritim dunia muncul pertanyaan-pertanyaan yang patut untuk direnungkan dan dipikirkan jawabannya.

Apakah mungkin sebuah ‘petunjuk’ yang ‘hanya’ disampaikan pada ‘Pertemuan Puncak Asia Timur (EAS)’ di hadapan orang lain dan bukan rakyat sendiri akan cukup untuk dijadikan sebagai sebuah pedoman bagi pencapaian visi yang sedemikian besar?

Bagaimana sebenarnya proses munculnya lima pilar itu?

Siapa saja tim penyusunnya?

Adakah dokumentasinya?

Kenapa hanya lima pilar?

Bagaimana jika ada pilar yang lain yang juga penting dikaji contohnya mungkin tentang hukum maritim, ilmu pengetahuan dan teknologi maritim dan lainnya?

Bagaimana dengan aspek legalitas hukumnya?

Apakah ‘petunjuk’ itu dari sisi hukum memiliki legalitas yang cukup untuk bisa dijadikan sebagai dasar oleh tingkat bawah dalam membuat rencana dan program kerja pembangunan mengingat besarnya biaya dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkannya?

Dan pertanyaan lain-lain…

Terus terang sampai saat ini penulis masih mencoba mencari-cari dokumen maupun produk peraturan perundangan tentang visi poros maritim dunia beserta lima pilar pendukungnya tersebut untuk dijadikan sebagai landasan pola pikir terhadap berbagai ide tentang kemaritiman, namun sayang yang penulis temukan ketika browsing di internet hanyalah berita yang bersumber dari media massa yang masih perlu dipertanyakan kredibilitasnya. Hal itu tentu jauh berbeda dengan Rencana Pembangunan era orde baru yang telah dilengkapi dengan panduan sangat jelas berupa “GBHN” atau Garis-garis Besar Haluan Negara yang naskahnya bisa dibeli dan didapatkan di sembarang tempat bahkan di toko-toko buku kecil di pojok-pojok pasar.

Beberapa waktu yang lalu penulis juga sempat mengkuti kuliah umum tentang budaya maritim yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan dihadiri oleh para tokoh-tokoh maritim nasional Indonesia. Di sana tampak masih belum ketemu arah yang jelas tentang terminologi budaya maritim seperti apa yang dimaksud di dalam pilar poros maritim tersebut. Itu baru satu pilar saja dan belum membahas tentang pilar-pilar yang lain.

Melalui tulisan ini penulis ingin sampaikan bahwa siapapun tidak ada yang bisa melarang untuk bermimpi dan bervisi setinggi langit karena memang tak terhingga jarak antara isi kepala dengan bintang di atas sana. Namun ada baiknya kita tetap sadar bahwa kaki ini sebaiknya tetap menjejak di bumi agar tidak terombang-ambing seperti layang-layang putus dan akhirnya kehilangan arah.

Untuk mewujudkan sebuah visi sebesar itu jelas tidak cukup hanya sebuah petunjuk yang tiba-tiba muncul lalu dijadikan sebagai pedoman dimana-mana. Jauh lebih penting dari itu perlu arah yang jelas yang tercantum dalam sebuah dokumen yang bisa diakses oleh semua kalangan, memiliki legalitas hukum yang pasti, disusun oleh para ahli yang berpengetahuan luas, kompeten dan mumpuni di bidangnya, dirumuskan secara bersungguh-sungguh dengan dilandasi oleh hati nurani yang luhur, merupakan kontribusi dari segenap komponen bangsa sehingga dokumen tersebut nantinya memiliki kekuatan ide yang logis, sistematis, serta layak dan pantas untuk dijadikan sebagai Garis -garis Besar Haluan Negara. Hal ini bukan semata-mata bertujuan agar bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan usil seperti di atas, namun jauh lebih dari itu agar bisa secara terus menerus dan konsisten mengawal proses terwujudnya Indonesia Visi Poros Maritim Dunia seperti yang dicita-citakan …

JALES VEVA JAYA MAHE…

 

Pesona Cagar Budaya Kota Surabaya.

Sebagai salah seorang penduduk Surabaya, cukup aneh memang ketika di satu sisi saya begitu banyak membahas tentang kota-kota dan tempat-tempat lain dalam blog ini, namun di sisi lain kota sendiri tempat anak-anak saya bersekolah, tumbuh dan berkembang malah terlewatkan untuk menjadi bahan blog posting. Karena itu tak ada salahnya dalam postingan kali ini saya akan membahas sedikit hal tentang Cagar Budaya kota itu. Harapan saya semoga itu akan menarik dan menambah minat pembaca untuk berkunjung ke sana.

Siapa tak kenal dengan Surabaya? Kota bertemperatur udara terpanas se-Indonesia (tapi sekarang terasa sudah agak adem karena begitu banyaknya penghijauan dan taman-taman di sudut-sudut kota hasil kerja keras walikota beserta seluruh jajarannya). Kota terbesar setelah Jakarta namun kemacetannya masih jauh lebih ‘manusiawi’ daripada Ibukota. Kota bersejarah tempat berlangsungnya pertempuran 10 November 1945 dan sampai terus diperingati sebagai Hari Pahlawan. Kota tempat dimakamkannya WR Supratman, sang pencipta Lagu Nasional Indonesia Raya. Kota tempat Jembatan terpanjang di Indonesia Suramadu yang menyeberang selat dan menghubungkan Pulau Madura. Kota religi tempat makam dan masjid Sunan Ampel yang tak henti-hentinya dikunjungi para peziarah dari segala penjuru nusantara. Kota tempat berpusatnya Angkatan Laut Republik Indonesia di mana Komando Armada, Akademi Angkatan Laut, Kobangdikal, Korps Marinir berada di sana. Kota asal muasal kata “Jancuk” yang akhirnya menjadi gaya bahasa yang populer di mana-mana.

Ya… itulah surabaya… Asyik bukan?.

Selain info-info unik dan populer di atas apalagi sesuatu yang khas lainnya? Kuliner? Ada soto, sate, tahu telur, tahu campur, tahu tek tek, pecel semanggi, sate klopo, nasi kebuli, rujak cingur, penyetan, lontong kupang, lontong balap, rawon, terutama yang paling terkenal sampai seantero nusantara adalah go bek/ sego bebek alias nasi bebek nya… Pusat Perbelanjaan atau Mall? kalau itu jangan ditanya. Selain tempatnya pasar tradisional seperti Pasar Turi, Pasar Genteng, Pasar Blauran, Pasar Kapasan dan lainnya, Surabaya merupakan salah satu kota dengan jumlah mall terbanyak di Indonesia. Di segala sudut kota Surabaya dari mulai utara, tengah, timur barat maupun selatan kita takkan kesulitan menemukan pusat perbelanjaan. Wisata Alam? Ada pantai Kenjeran, Jembatan Suramadu dan Wisata mangrove Wonorejo. Wisata Keluarga? Ada Kebun Binatang Wonokromo atau Ciputra Water Park.

Bagaimana dengan Wisata Cagar Budaya?

Sebagai kota sejarah masa lampau Surabaya adalah gudangnya Bangunan Cagar Budaya. Bangunan-bangunan tersebut banyak kita temui sejak dari area pelabuhan, kawasan Ampel, Jalan Rajawali, Jalan Pahlawan sampai dengan Pusat Kota Surabaya. Gedung-gedung cagar budaya yang dilindungi pemerintah itu contohnya Pelabuhan sungai Kalimas, Jembatan Merah,  Hotel Ibis, Perusahaan Perkebunan Negara, Kantor Tjiwi Kimia, Kantor PTPN XIII, Kantor Korps Cacat Veteran R, Kantor Tjiwi Kimia, Kantor Tjiwi, Gedung Asuransi JIwasraya, Markas BKR Surabaya, Bank Rabobank, Ada Gedung Grahadi, Balai Kota Surabaya, Balai Pemuda, Hotel Majapahit, Kantor Gubernur, Monumen Kapal Selam, Gedung PTPN XXLL, Gedung Bank Niaga, Gedung PT Artho Ageng Energi, Hotel Ibis Surabaya, Lapangan Golf Ahmad Yani, Gedung Gelora Pantjasila, Kolam Renang Brantas dan Gedung Perkumpulan Olah Raga Embong Sawo dan masih banyak lagi yang lainnya…

Sarana untuk melihat-lihat bangunan-bangunan tersebut juga bukan hal yang sulit.  Apalagi saat ini telah ada sarana transportasi wisata Surabaya Heritage Track Bus  yang siap membawa kita berkeliling. Sebelum berkeliling dengan SHTB kita bisa mengawalinya dengan terlebih dahulu mengunjungi Museum House of Sampoerna. Tenang aja, untuk masuk ke museum tidak dipungut biaya alias gratis. Selanjutnya kita bisa melanjutkan perjalanan sesuai jadwal yang telah diatur oleh pihak operasioal SHTB.

Pada hari kerja operasional bus pada  pukul 09.00 s.d 10.00  WIB untuk shift I dengan rute Museum Perjuangan 10 November  – PTPN XI, pukul 13.00 s.d 14.00 WIB untuk shift II dengan rute Klenteng Hok An Kiong – Escompto Bank, dan pukul 15.00 s.d 16.30 WIB untuk shift II dengan rute Kantor Pos Kebonrojo – Gereja Kelahiran St. Perawan Maria – Eks. Javasche Bank. Jadwal pada hari weekend (Jumat s.d Minggu) agak berbeda. Shift I pada pukul 9.00 s.d 10.30 dengan rute Balai Pemuda – Balai Kota – Eks. De Javasche Bank, Shift II pukul 13.00 s.d 14.30 WIB dengan rute Museum Perjuangan 10 November – GNI – PTPN XI dan shift III pada pukul 15.00 s.d 16.30 WIB dengan rute Kampung Kraton (Bubutan) – Balai Kota – Gedung Kesenian Cak Durasim. Kita hanya mendapat kesempatan selama 10 sampai dengan 15 menit di setiap bangunan.

Bagi kita yang dari luar kota dan butuh tempat menginap dekat dengan House Of Samporena, Hotel Ibis di Jalan Rajawali dapat menjadi pilihan alternatif. Hotel ini menawarkan berbagai fasilitas dan akomodasi yang sangat menarik, terutama karena memang bangunannya termasuk dalam cagar budaya. Lokasinya juga strategis karena berada di dekat pusat perbelanjaan Jembatan Merah Plasa, Supermarket Giant dan Tugu Pahlawan. Dari sana untuk ke Pelabuhan Tanjung Perak atau Jembatan Suramadu dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 10 Menit, Pantai Kenjeran dan Kebun Binatang Wonokromo kurang lebih 15 menit.

Untuk mendapatkan informasi tentang hotel kita dapat memanfaatkan website-website seperti Traveloka atau pegipegi.com. Dari situs tersebut kita juga dapat melakukan pemesanan tiket pesawat dengan sangat mudah untuk mereka yang dari luar kota atau luar pulau. Perjalanan ke Surabaya dari kota-kota di Indonesia via pesawat merupakan alternatif termurah karena memang termasuk rute-rute sibuk sehingga hampir setiap saat penerbangan selalu tersedia.

Sebagaimana Jakarta dengan Puncak Bogor- Nya, kota-kota Surabaya juga dikelilingi oleh kawasan-kawasan berudara sejuk yang yang jaraknya tidak terlalu jauh misalnya Pasuruan dengan Tretes atau Trawas-nya, Pasuruan dengan Gunung Bromo-nya, atau Malang yang terkenal dengan kota Batu-nya. Silahkan kunjung artikel yang lain berikut ini :

FAMILY CAMPING : COBAN RONDO, MALANG.

FAMILY CAMPING : WANA WISATA PADUSAN AIR PANAS – PACET.

LET GET LOST TO “WADUK SELOREJO, MALANG…”

Saat Kemakmuran Ternyata Belum Cukup

Beberapa waktu yang lalu saya menonton ‘Dragon Blade’, sebuah film mandarin yang dibintangi dua aktor populer dari timur dan barat yaitu Jacky Chan dan John Cussack. Jacky Chan berperan sebagai Hou An, seorang Komandan Pasukan Penjaga Jalur Sutra, sedangkan John Cussack berperan sebagai Lucius, seorang Komandan Legion Pasukan Romawi yang bersama-sama pasukannya sedang terkucil dari negaranya karena membela dan mengawal salah seorang Bangsawan Romawi.

Film itu bercerita tentang sebuah jalinan kerjasama dan kekompakan yang ditunjukkan oleh para tawanan yang berasal dari bangsa-bangsa di sepanjang jalur sutra termasuk di dalamnya Hou An dan anak buahnya yang juga ikut menjadi tawanan karena dijebak oleh musuh dalam selimut dalam sebuah kasus penyelundupan emas di negaranya. Kerja sama itu semakin mantap dengan kedatangan Lucius beserta pasukannya yang memiliki keunggulan di bidang keahlian teknik bangunan untuk turut serta membantu membangun benteng tersebut sehingga dapat terselesaikan sesuai waktu yang ditentukan. Tidak hanya membangun sebuah benteng, kerja sama itupun diwujudkan dalam pertempuran melawan pasukan musuh yang sedang mengejar rombongan pasukan Lucius. Berkat kemampuan soft leaderships dan semboyan ‘jadikan musuh sebagai teman’ Hou An akhirnya ditunjuk dan mendapat kepercayaan untuk memimpin seluruh pasukan koalisi.

Dari judulnya yang ‘mandarin banget’, tadinya saya menduga bahwa film itu paling-paling akan bercerita tentang dunia pendekar kungfu ala Kho Ping Ho lengkap dengan kesaktian senjata ‘Golok Naga’. Namun rupanya dugaan saya itu agak sedikit meleset. Setelah selesai menonton, dalam pandangan saya judul film itu rupanya tidak mewakili isi filmnya meskipun dalam beberapa adegan memang ditampilkan duel antara Komandan Hou An dan Komandan Legion Lucius menggunakan golok/pedang.

Dari judul itu saja saya lebih melihat adanya simbol-simbol dan isyarat-isyarat bermuatan politis yang ingin disampaikan oleh pemerintah China terutama jika dikaitkan dengan kebijakan dan manuver politik yang saat ini terjadi di kawasan Asia Pasifik khususnya Laut China Selatan. Apalagi jika melihat isinya, semua penuh dengan simbol-simbol tertentu contohnya kekaisaran Romawi dalam film tersebut yang bisa diartikan sebagai simbol “Eropa”, artis John Cussack sebagai simbol “Amerika”, dan jalur sutra sebagai simbol keinginan China untuk menjadikan sejarah masa lalu sebagai pijakan dan pertimbangan dalam menentukan kebijakan geopolitiknya di masa kini. Di akhir film seakan – akan ada sebuah pesan yang ingin disampaikan yang bunyinya “Mari kita sesama bangsa kita saling bekerja sama dan bahu membahu melawan musuh bersama, mari kita jadikan musuh sebagai teman, tapi bisakah anda memberi kesempatan kepada saya yang berkemampuan lebih ini untuk berdiri di depan memimpin anda semua?”

Nine Dash Line China terhadap peta Laut China Selatan adalah salah satu hal yang bisa dijadikan contoh tentang gambaran dari ambisi China untuk menjadi hegemon baru di Kawasan Asia Pasifik. Nine Dash Line dapat juga menjadi simbol lain dari keinginan China yang ingin menjajagi isi hati negara kawasan yang wilayahnya tersangkut paut dengan kebijakan itu. Sebuah kebijakan politik yang akhirnya membuat hubungan internasionalnya dengan para anggota ASEAN terganggu serta mampu memancing Sang Polisi Dunia yakni Amerika Serikat menggeser center of gravity kekuatan globalnya dari Timur Tengah menuju ke Asia Pasifik dalam rangka memberikan Balance of Power.

Di sisi lain kebijakan luar negeri suatu negara memang terkait erat dengan kepentingan dan cita-cita nasional suatu negara. Karena itu mengaitkan antara keinginan China yang sedang berusaha menancapkan pengaruh dan hegemoninya di kawasan Asia Pasifik dengan tujuan akhir demi kepentingan nasional dan kemakmuran negaranya juga bukan merupakan hal yang sepenuhnya salah. Bukankah Indonesia juga cita-cita nasionalnya adalah menjadi Negara yang Adil, Makmur dan Sentosa? Namun jika melihat situasi dan kondisi China yang sekarang ini telah menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia mengalahkan negara-negara lainnya sehingga berstatus sebagai negara dengan kemakmuran tertinggi di dunia, lalu motivasi apalagi yang melebihi tujuan tersebut sehingga harus mengganggu tetangga-tetangganya dan mengorbankan perdamaian yang selama ini ada?

Apakah kemakmuran itu dianggap belum cukup sehingga masih perlu teritori lain agar lebih menjamin keberlangsungan kemakmuran itu dalam waktu yang lebih lama apalagi jika dikaitkan dengan kepentingan terhadap Laut China Selatan yang menyimpan cadangan energi yang jumlahnya luar biasa besar?

Ataukah ada motivasi lainnya?

Bisakah itu diumpamakan seperti tokoh-tokoh di negeri ini yang telah memiliki status kemakmuran yang sangat tinggi karena memiliki kekayaan yang luar biasa namun tetap ingin mendirikan partai dan ingin menjadi pemimpin di negeri ini dengan menggunakan kekayaannya itu?

Lalu bagaimana dengan kondisi Indonesia yang konstelasi geografisnya tepat berada di tengah medan laga perebutan hegemoni itu?

Jika kita sadar dengan semua potensi konflik yang sewaktu-waktu bisa terjadi itu masihkah kita disibukkan dengan urusan-urusan remeh temeh sementara di sisi lain tanah yang kita injak, air yang kita minum dan udara yang kita hirup ini sedang menuju titik puncak kerawanannya?

Let’s Think……