Category Archives: Uneg-Uneg

Indonesia Poros Maritim Dunia, Mohon Arahan Mr. Presiden!

Ada satu hal menarik yang membedakan Perwira Angkatan Darat dengan Perwira Angkatan Laut saat mereka meminta saran dan nasehat kepada atasan atau seniornya. Jika Perwira Darat lebih sering menggunakan kata ‘Mohon Petunjuk’, maka Perwira Laut lebih cenderung menggunakan kata ‘Mohon Arahan”. Entah mulai kapan hal tersebut ada dan apakah terjadi secara kebetulan atau tidak, rupanya kata ‘petunjuk’ dan ‘arahan’ jika dikaitkan dengan medan tugas masing-masing angkatan dan digothak, gathik, gathuk memang sepertinya memiliki makna simbolis dan filosofis tertentu sesuai dengan kata-kata yang diucapkan itu.

Kata ‘petunjuk’ dan ‘arahan’ dalam bahasa Inggris bisa memiliki satu arti yaitu ‘direction’, namun jika diteliti lebih dalam ternyata bisa beda makna. ‘Petunjuk’ lebih dimaknai sebagai suatu ‘titik’, ‘point’, atau ‘clue’, karena itu jari yang digunakan untuk menunjuk suatu titik disebut jari telunjuk. Sedangkan ‘arahan/arah’ lebih diartikan sebagai ‘garis’, ‘haluan’, ‘course’ atau ‘guideline’. Meski sekilas berbeda, antara titik dan garis sebenarnya merupakan suatu bentuk yang saling berhubungan. Titik adalah awal dan akhir, dan garis adalah apa yang ada di antara dua titik itu yang isinya adalah gabungan dari titik-titik juga.

Sementara itu antara petunjuk dan arahan dengan daratan dan lautan juga memiliki keterkaitan meskipun antara daratan dan lautan adalah ruang alamiah di permukaan bumi yang keduanya memiliki karakteristik sangat jauh berbeda. Tanah daratan cenderung variatif, statis, penuh relief karena terdiri atas gunung, lembah, jurang, pohon, gunung, sungai dan benda-benda lain baik alami maupun buatan. Karena itulah di daratan perlu dibangun ‘jalan’ yang fungsinya untuk menjadi penghubung antara tempat yang satu dan lainnya. Hal tersebut tentu berbeda dengan alam laut yang bersifat homogen, datar, dinamis, relatif tidak banyak rintangan yang menghalangi pandangan serta sebagian besar permukaannya bisa dianggap sebagai ‘jalan’.

Untuk mencapai suatu tujuan di darat, informasi tentang ‘arah’ relatif lebih mudah tersedia karena ada jalan untuk dijadikan panduan sehingga informasi yang dianggap lebih penting adalah petunjuk, spot, point, titik berupa tanda medan, pohon terkenal, persimpangan jalan, bangunan permanen, rambu-rambu dan lain sebagainya. Sementara itu jalanan tidak perlu dibangun di laut karena semua permukaan laut sudah berfungsi sebagai jalan. Saat berada di laut informasi tentang arah dianggap lebih penting karena sudah ada petunjuk untuk dijadikan referensi navigasi misalnya benda langit (matahari, bulan, bintang dll), benda-benda daratan yang terlihat dari laut (ketinggian), markah-markah tertentu (mercu suar, buoy) dan lainnya.

Lalu apakah karena aktor-faktor di atas yang menyebabkan Angkatan Darat lebih suka menggunakan kata ‘Petunjuk’, sementara Angkatan Laut lebih suka dengan kata ‘Arahan’, jawabannya memang belum bisa dijawab secara pasti. Pernyataan di atas meski terlihat ada kaitannya, sebenarnya juga hanyalah sebuah hipotesis dari penulis belaka yang memang masih perlu diteliti lebih lanjut kebenarannya. Namanya juga dugaan mungkin bisa benar namun juga bisa salah. Jadi anda bebas untuk percaya atau tidak. Untuk saat ini silakan percaya saja dulu karena ada hubungannya dengan bahasan selanjutnya…

Terkait dengan istilah ‘petunjuk’ dan ‘arahan’ lalu apa hubungannya hal tersebut dengan Visi Bapak Presiden tentang Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia seperti tertulis dalam judul di atas?

Inilah sebenarnya topik agak serius yang akan coba penulis bahas karena menyangkut hajat hidup orang banyak termasuk anak dan cucu penulis di masa depan (sory agak lebai coy). Semoga saja hal tersebut memang ada hubungannya dan bukan karena penulis sedang memaksakan diri untuk mengait-ngaitkan sesuatu yang sulit untuk dikorelasikan.

Telah kita ketahui bersama bahwa saat ini dunia maritim atau kelautan Indonesia sedang bereforia dengan visi besar Presiden RI yang sedang bermimpi menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Melalui visi tersebut Indonesia di masa depan diharapkan menjadi ‘poros’, ‘titik berat’, ‘titik tumpu’, ‘center of grafity’, ‘balancing powers’ atau apapun istilahnya terhadap percaturan dunia maritim regional bahkan global. Sebuah visi yang diharapkan akan menjadi ending dari sebuah Strategi Raya atau Grand Strategy dan perjalanan bangsa menuju masa depan yang cerah dengan memanfaatkan aspek maritim sebagai salah satu ways/jalan.

Dengan visi itu Mr. Presiden bermimpi untuk membawa kembali Indonesia menuju kejayaan maritim sebagaimana pernah dimiliki oleh kerajaan-kerajaan di nusantara zaman dahulu. Sebuah era ketika ribuan kapal masih berlayar mendominasi lautan nusantara dan digunakan sebagai sarana utama untuk kegiatan perniagaan antar pulau bahkan antar negara. Sebuah zaman ketika kebesaran maritim dengan kemegahan armada kapal militer benar-benar menjadi kebanggan dan simbol sebuah bangsa maritim dan menjadi status kerajaan Samudera Pasai, Aceh, Sriwijaya, Majapahit, Kediri, Banten, Demak, Bugis dan lainnya sampai akhirnya karakter tersebut berhasil dihancurleburkan oleh penjajah menggunakan politik difide ‘et impera atau strategi pecah belah dan efeknya masih sangat kental terasa sampai sekarang.

Perlu kita sadari bahwa Visi Indonesia Poros Maritim Dunia bukan visi yang biasa-biasa saja. itu merupakan impian yang sangat besar dan untuk mencapai ke sana memerlukan energi/biaya yang tidak sedikit bisa ratusan bahkan ribuan trilliun. Di samping itu juga perlu waktu yang tidak singkat. Bisa satu atau dua tahun, satu atau dua periode pemilihan presiden bahkan sampai satu atau dua generasi agar terwujud. Karenanya untuk mewujudkan visi tersebut perlu sebuah perangkat yang komplit dan lengkap berupa petunjuk dan arah untuk dijadikan panduan bagi seluruh komponen bangsa agar bergerak bersama secara selaras dan harmoni menuju titik dan arah yang sama secara terus menerus dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi.

Dalam rangka mengejawantahkan visi Indonesia Poros Maritim Dunia Bapak Presiden telah memberikan ‘petunjuk’ yaitu berupa lima pilar poros maritim dunia yang isi singkatnya adalah budaya maritim, sumber daya maritim, konektivitas maritim, diplomasi maritim, dan keamanan maritim.

Saat membaca lima pilar poros maritim dunia muncul pertanyaan-pertanyaan yang patut untuk direnungkan dan dipikirkan jawabannya.

Apakah mungkin sebuah ‘petunjuk’ yang ‘hanya’ disampaikan pada ‘Pertemuan Puncak Asia Timur (EAS)’ di hadapan orang lain dan bukan rakyat sendiri akan cukup untuk dijadikan sebagai sebuah pedoman bagi pencapaian visi yang sedemikian besar?

Bagaimana sebenarnya proses munculnya lima pilar itu?

Siapa saja tim penyusunnya?

Adakah dokumentasinya?

Kenapa hanya lima pilar?

Bagaimana jika ada pilar yang lain yang juga penting dikaji contohnya mungkin tentang hukum maritim, ilmu pengetahuan dan teknologi maritim dan lainnya?

Bagaimana dengan aspek legalitas hukumnya?

Apakah ‘petunjuk’ itu dari sisi hukum memiliki legalitas yang cukup untuk bisa dijadikan sebagai dasar oleh tingkat bawah dalam membuat rencana dan program kerja pembangunan mengingat besarnya biaya dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkannya?

Dan pertanyaan lain-lain…

Terus terang sampai saat ini penulis masih mencoba mencari-cari dokumen maupun produk peraturan perundangan tentang visi poros maritim dunia beserta lima pilar pendukungnya tersebut untuk dijadikan sebagai landasan pola pikir terhadap berbagai ide tentang kemaritiman, namun sayang yang penulis temukan ketika browsing di internet hanyalah berita yang bersumber dari media massa yang masih perlu dipertanyakan kredibilitasnya. Hal itu tentu jauh berbeda dengan Rencana Pembangunan era orde baru yang telah dilengkapi dengan panduan sangat jelas berupa “GBHN” atau Garis-garis Besar Haluan Negara yang naskahnya bisa dibeli dan didapatkan di sembarang tempat bahkan di toko-toko buku kecil di pojok-pojok pasar.

Beberapa waktu yang lalu penulis juga sempat mengkuti kuliah umum tentang budaya maritim yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan dihadiri oleh para tokoh-tokoh maritim nasional Indonesia. Di sana tampak masih belum ketemu arah yang jelas tentang terminologi budaya maritim seperti apa yang dimaksud di dalam pilar poros maritim tersebut. Itu baru satu pilar saja dan belum membahas tentang pilar-pilar yang lain.

Melalui tulisan ini penulis ingin sampaikan bahwa siapapun tidak ada yang bisa melarang untuk bermimpi dan bervisi setinggi langit karena memang tak terhingga jarak antara isi kepala dengan bintang di atas sana. Namun ada baiknya kita tetap sadar bahwa kaki ini sebaiknya tetap menjejak di bumi agar tidak terombang-ambing seperti layang-layang putus dan akhirnya kehilangan arah.

Untuk mewujudkan sebuah visi sebesar itu jelas tidak cukup hanya sebuah petunjuk yang tiba-tiba muncul lalu dijadikan sebagai pedoman dimana-mana. Jauh lebih penting dari itu perlu arah yang jelas yang tercantum dalam sebuah dokumen yang bisa diakses oleh semua kalangan, memiliki legalitas hukum yang pasti, disusun oleh para ahli yang berpengetahuan luas, kompeten dan mumpuni di bidangnya, dirumuskan secara bersungguh-sungguh dengan dilandasi oleh hati nurani yang luhur, merupakan kontribusi dari segenap komponen bangsa sehingga dokumen tersebut nantinya memiliki kekuatan ide yang logis, sistematis, serta layak dan pantas untuk dijadikan sebagai Garis -garis Besar Haluan Negara. Hal ini bukan semata-mata bertujuan agar bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan usil seperti di atas, namun jauh lebih dari itu agar bisa secara terus menerus dan konsisten mengawal proses terwujudnya Indonesia Visi Poros Maritim Dunia seperti yang dicita-citakan …

JALES VEVA JAYA MAHE…

 

Enjoy Pulau Pramuka dan Sepotong Mozaic Kisah Hidup Pelaut Nusantara

Bro, mau ndak ikut kita diving di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu?” Tanya teman saya The Frogman, Si Pasukan Khusus. “Tenang, semua biaya perjalanan dan akomodasi sudah ada yang nanggung” Lanjutnya.

“Oke Siap Boss…” Jawab saya tanpa banyak basa basi langsung mengiyakan tawaran tersebut. Selain karena kebetulan akhir minggu itu memang sedang tidak ada kegiatan dan saya juga belum pernah ke sana, iming-iming “for free” benar-benar membuat tawaran tersebut terlalu sayang untuk disia-siakan. Setelah itu kami pun segera mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya.

Sabtu pagi setelah Shalat Subuh kami bertiga, saya, teman saya instruktur FrogDive Si Pasukan Khusus, dan Teman saya satu lagi Masbro si Anak Aceh langsung meluncur dari Jakarta Selatan menuju Dermaga Penyeberangan Kapal Cepat di Pantai Marina Ancol. Di sana sudah menunggu anggota klub nyelam teman saya FrogDive diving course.

FrogDive Member

Berbeda dengan saya yang rencananya hanya sekadar jalan-jalan mencari suasana dan pengalaman baru di pulau tersebut, tujuan dan sasaran mereka adalah menyelam di spot-spot menarik yang ada di sana. Setelah berkenalan dan berbasa basi sebentar kamipun langsung embarkasi ke atas kapal.

Kapal Cepat ke Pulau Pramuka

Tak lama kemudian petugas kapal memanggil para penumpang dan setelah semua lengkap kapalpun bertolak ke laut. Pelayaran menuju Pulau Pramuka membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Selesai kapal sandar, kamipun turun dan langsung menuju Wisma Delima, sebuah penginapan yang telah dibooking sebelumnya oleh koordinator rombongan.

Peta Pulau Pramuka

Saya tidak memiliki acara khusus siang itu. Saat kawan-kawan FrogDive sedang sibuk briefing untuk merencanakan penyelaman mereka, waktu yang ada saya gunakan untuk makan siang kemudian shalat Dhuhur di Masjid Pulau Pramuka yang berukuran cukup besar. Demikian juga dengan sore harinya. Ketika para FrogDive sedang melanjutkan kegiatan menyelam mereka di sekitaran pantai, saya bersama Mas Bro Aceh berjalan-jalan mengelilingi pulau tersebut untuk orientasi medan.

Masjid Pulau Pramuka

Berjalan-jalan di sepanjang pesisir pantai dan mengelilingi pulau Pulau Pramuka lumayan mengasikkan. Suasana laut di sisi kanan dengan beberapa tanaman mangrove di beberapa tempat, perkampungan penduduk di sisi kiri, ditambah sinar matahari sore yang tidak terlalu menyengat dan angin sepoi-sepoi menyapu wajah seakan-akan menjadi obat untuk melupakan sejenak segala kesibukan dan kesumpekan Jakarta. Di beberapa tempat juga kami temui para kempingers lengkap dengan tenda-tenda mereka.

Untuk mengelilingi Pulau Pramuka tidak butuh waktu terlalu lama karena jaraknya juga tidak terlalu jauh. Kurang lebih satu jam perjalanan kami selesai menyusuri seluruh pantai dan tiba kembali wisma. Sisa waktu yang ada kami gunakan untuk ngopi, ngeteh, sambil menikmati dan mengabadikan suasana sunset dari depan wisma sampai hari menjelang malam.

Sunset Di Pulau Pramuka

Selesai mandi, shalat berkemas dan makan malam kami berjalan-jalan di sekitar dermaga.  Di sana telah banyak para pemancing dan para diver yang sedang melakukan night diving. Mereka rata-rata berasal dari Jakarta yang juga sedang berlibur seperti saya. Beberapa di antaranya adalah para mahasiswa teman saya mengobrol malam itu. Bosan di Dermaga saya menuju tempat para nelayan memarkir perahu dan membongkar ikan laut hasil jerih payah mereka. Sempat ada keinginan untuk membeli beberapa ekor ikan untuk pesta bakar-bakaran, namun akibat perut yang sudah kekenyangan ini akhirnya membatalkan niat saya tersebut. Sisa malam yang ada kami gunakan untuk mengobrol dan ngopi malam di depan wisma beralaskan pasir putih dan suasana pantai.

Keesokan harinya saya mencari makan pagi di warung dekat dermaga. Bertemulah saya dengan Pak Daeng Saidah, si pemiliki warung. Tadinya saya mengira Saidah ini nama istri Pak Daeng, ternyata bukan he he. Saidah adalah nama pak Daeng itu. Di usianya yang sudah lebih dari 80 tahun Pak Daeng masih tampak sehat, bugar dan penuh semangat dalam menjalani hidup. Gurat-gurat di wajahnya terlihat menggambarkan sejuta kisah yang saya pikir akan cukup menarik untuk digali.

Pak Daeng Saidah

Obrolan pagi saya awali dengan menyeruput kopi panas dan menanyakan ke Pak Daeng kenapa Pulau ini dinamai pulau Pramuka. Dari situ Pak Daeng mulai bercerita bahwa dulu pulau itu bernama Pulau Elang. Dinamai demikian karena zaman dahulu banyak sekali burung Elang yang ada di sana. Namanya diubah menjadi Pramuka karena selain sering digunakan sebagai tempat latihan Pramuka, pada era Gubernur Jakarta Ali Sadikin pulau tersebut dijadikan lokasi untuk penyelenggaraan Jambore Nasional. Pak Daeng masih ingat betul bagaimana sejarah berkembangnya pulau Pramuka dari mulai tidak ada penghuni sama sekali dan hanya beberapa nelayan dan para pemancing yang singgah di pulau itu sampai menjadi sebuah ibu kota Kabupaten administratif Kepulauan Seribu yang sangat ramai seperti sekarang.

Pak Daeng dan Warungnya

Sayapun mulai penasaran dengan kisah hidup Pak Daeng yang dari namanya saja saya sudah tahu kalau Ia adalah bukan orang asli sanaObrolanpun berlanjut dan iapun mulai bercerita bahwa ia dulunya adalah salah seorang Pelaut Bugis yang terkenal se antero nusantara itu.

Mendengarkan kisah hidup Pak Daeng seperti membaca sebuah cerita drama kehidupan. Pada masa mudanya yaitu sekitar tahun enam puluhan (1964 seingat saya) ia sudah berpetualang di lautan dan berlayar pulang pergi Makassar Jakarta menggunakan kapal layar untuk berdagang. Suatu ketika terjadilah tragedi kapalnya kecelakaan dan tenggelam di sekitar Pulau Panggang kepulauan Seribu. Nyawa Pak Daeng berhasil selamat setelah ditolong oleh para nelayan lokal lokal.

Dari situlah perubahan hidup baru dari saudagar menjadi nelayan dimulai. Dengan tanpa bermodalkan apapun selain apa yang menempel di badan Pak Daeng menjaminkan dirinya untuk memperoleh pinjaman uang kepada salah seorang saudagar di sana. Kepada saudagar itu ia bersumpah tidak akan kembali ke Makassar bila belum bisa mengembalikan uang itu. Pak Daeng akhirnya dapat pinjaman uang sebesar 30 rupiah. Mungkin itu jumlah yang lumayan besar pada waktu itu karena dengan uang itu ia bisa membeli sebuah perahu untuk menjadi nelayan dan mencari ikan di laut.

Tidak perlu waktu lama baginya untuk bisa mengembalikan uang pinjaman itu. Hanya dalam waktu dua puluh hari saja utang itu telah ia lunasiJumlah ikan yang masih melimpah di Perairan Kepulauan Seribu membuat penghasilan Pak Daeng selama menjadi nelayan sangat menjanjikan. Dalam sehari ia bisa dua kali pulang balik dari laut ke rumah karena perahunya tidak cukup untuk menampung ikan hasil tangkapan. Ikan-ikan itu kemudian direbus (karena waktu itu belum ada lemari/kotak pendingin untuk pengawetan ikan) lalu di bawa ke Jawa/Jakarta untuk dijual.

Kesuksesan di Kepulauan Seribu akhirnya membuat membuat Pak Daeng memutuskan untuk menetap dan tidak ingin lagi kembali ke kampung halamannya. Apalagi setelah ia bertemu dengan gadis idaman, yaitu Ibu Daeng dan akhirnya menjadi istrinya sekarang dan memberinya enam orang anak. 

Bu Daeng

Sedang asik-asiknya mengbrol dan mendengarkan cerita Pak Daeng ditemani kopi panas dan gorengan, teman-teman FrogDive menghubungai saya bahwa rombongan akan segera berangkat menuju titik-titik lokasi penyelaman. Saya pun berpamitan dengan Pak Daeng dan pergi dari warung.

Anak Bungsu Pak Daeng

Setelah semua siap, kami menuju ke lokasi penyelaman sesuai yang direncanakan menggunakan perahu sewaan. Di spot pertama para FrogDive melakukan penyelaman sebuah wreck (bangkai kapal tenggelam). Saya lebih memilih untuk bersorkeling ria menikmati indahnya terumbu karang dan beraneka ragam warna ikan-ikan yang berenang ke sana kemari di bawah air. Setelah puas kamipun melanjutkan perjalanan ke spot kedua.

FogDive Community

Sambil menunggu spot kedua kami singgah dan beristirahat di tempat penangkaran hiu. Setelah cukup, kami melanjutkan ke spot kedua. Tidak adanya pemandangan untuk snorkeling sehingga saya terpaksa mengikuti ajakan teman saya untuk mencoba diving. Kemampuan menyelam saya yang masih cetul membuat saya tidak betah menyelam berlama-lama, karena itu sayapun memilih untuk kembali ke perahu.

Siangnya kami kembali ke darat dan pukul 14.30 kapal yang akan membawa kembali ke Jakarta sudah siap di Dermaga.

Bagi anda yang tertarik untuk berkunjung ke sana berikut ini informasi terkait wisata pulau seribu yang kami dapat adalah sebagai berikut barangkali berguna:

– Transportasi kapal cepat dari Jakarta ke sana tersedia setiap hari. Ada dua macam sarana transportasi, yaitu menggunakan kapal cepat dan kapal kayu. Sesuai namanya kapal cepat jelas lebih cepat dan harganyapun lebih mahal. Sarana tranportasi dengan kapal cepat berangkat dan kembali dari Dermaga Pelabuhan Marina Ancol dengan tarif kurang lebih 180 ribu rupiah per orang. Sedangkan jika akan menggunakan kapal kayu berangkat dari Muara Angke dengan tarif 40.000 rupiah per orang dengan lama perjalan kurang lebih 3 jam.

– Fasilitas dan Akomodasi di Pulau Pramuka cukup memadai. Penginapan banyak sekali tersedia dan harganya pun bervarisasi. Jika ingin alami bisa berkemping ria dan terdapat camping ground di pantai bagian timur pulau.

– Harga makanan menurut saya relatif sangat murah dibandingkan dengan Jakarta. Makan berdua sampai kenyang di warung Pak Daeng plus juga bungkus untuk kawan di wisma saya hanya mengeluarkan uang kurang lebih 60 rupiah. Rasa makanannya juga maknyus karena hasil olahan ikan segar langsung dari laut.

– Untuk informasi lebih lengkap silakan googling sendiri ya…. chaw…

Pesona Cagar Budaya Kota Surabaya.

Sebagai salah seorang penduduk Surabaya, cukup aneh memang ketika di satu sisi saya begitu banyak membahas tentang kota-kota dan tempat-tempat lain dalam blog ini, namun di sisi lain kota sendiri tempat anak-anak saya bersekolah, tumbuh dan berkembang malah terlewatkan untuk menjadi bahan blog posting. Karena itu tak ada salahnya dalam postingan kali ini saya akan membahas sedikit hal tentang Cagar Budaya kota itu. Harapan saya semoga itu akan menarik dan menambah minat pembaca untuk berkunjung ke sana.

Siapa tak kenal dengan Surabaya? Kota bertemperatur udara terpanas se-Indonesia (tapi sekarang terasa sudah agak adem karena begitu banyaknya penghijauan dan taman-taman di sudut-sudut kota hasil kerja keras walikota beserta seluruh jajarannya). Kota terbesar setelah Jakarta namun kemacetannya masih jauh lebih ‘manusiawi’ daripada Ibukota. Kota bersejarah tempat berlangsungnya pertempuran 10 November 1945 dan sampai terus diperingati sebagai Hari Pahlawan. Kota tempat dimakamkannya WR Supratman, sang pencipta Lagu Nasional Indonesia Raya. Kota tempat Jembatan terpanjang di Indonesia Suramadu yang menyeberang selat dan menghubungkan Pulau Madura. Kota religi tempat makam dan masjid Sunan Ampel yang tak henti-hentinya dikunjungi para peziarah dari segala penjuru nusantara. Kota tempat berpusatnya Angkatan Laut Republik Indonesia di mana Komando Armada, Akademi Angkatan Laut, Kobangdikal, Korps Marinir berada di sana. Kota asal muasal kata “Jancuk” yang akhirnya menjadi gaya bahasa yang populer di mana-mana.

Ya… itulah surabaya… Asyik bukan?.

Selain info-info unik dan populer di atas apalagi sesuatu yang khas lainnya? Kuliner? Ada soto, sate, tahu telur, tahu campur, tahu tek tek, pecel semanggi, sate klopo, nasi kebuli, rujak cingur, penyetan, lontong kupang, lontong balap, rawon, terutama yang paling terkenal sampai seantero nusantara adalah go bek/ sego bebek alias nasi bebek nya… Pusat Perbelanjaan atau Mall? kalau itu jangan ditanya. Selain tempatnya pasar tradisional seperti Pasar Turi, Pasar Genteng, Pasar Blauran, Pasar Kapasan dan lainnya, Surabaya merupakan salah satu kota dengan jumlah mall terbanyak di Indonesia. Di segala sudut kota Surabaya dari mulai utara, tengah, timur barat maupun selatan kita takkan kesulitan menemukan pusat perbelanjaan. Wisata Alam? Ada pantai Kenjeran, Jembatan Suramadu dan Wisata mangrove Wonorejo. Wisata Keluarga? Ada Kebun Binatang Wonokromo atau Ciputra Water Park.

Bagaimana dengan Wisata Cagar Budaya?

Sebagai kota sejarah masa lampau Surabaya adalah gudangnya Bangunan Cagar Budaya. Bangunan-bangunan tersebut banyak kita temui sejak dari area pelabuhan, kawasan Ampel, Jalan Rajawali, Jalan Pahlawan sampai dengan Pusat Kota Surabaya. Gedung-gedung cagar budaya yang dilindungi pemerintah itu contohnya Pelabuhan sungai Kalimas, Jembatan Merah,  Hotel Ibis, Perusahaan Perkebunan Negara, Kantor Tjiwi Kimia, Kantor PTPN XIII, Kantor Korps Cacat Veteran R, Kantor Tjiwi Kimia, Kantor Tjiwi, Gedung Asuransi JIwasraya, Markas BKR Surabaya, Bank Rabobank, Ada Gedung Grahadi, Balai Kota Surabaya, Balai Pemuda, Hotel Majapahit, Kantor Gubernur, Monumen Kapal Selam, Gedung PTPN XXLL, Gedung Bank Niaga, Gedung PT Artho Ageng Energi, Hotel Ibis Surabaya, Lapangan Golf Ahmad Yani, Gedung Gelora Pantjasila, Kolam Renang Brantas dan Gedung Perkumpulan Olah Raga Embong Sawo dan masih banyak lagi yang lainnya…

Sarana untuk melihat-lihat bangunan-bangunan tersebut juga bukan hal yang sulit.  Apalagi saat ini telah ada sarana transportasi wisata Surabaya Heritage Track Bus  yang siap membawa kita berkeliling. Sebelum berkeliling dengan SHTB kita bisa mengawalinya dengan terlebih dahulu mengunjungi Museum House of Sampoerna. Tenang aja, untuk masuk ke museum tidak dipungut biaya alias gratis. Selanjutnya kita bisa melanjutkan perjalanan sesuai jadwal yang telah diatur oleh pihak operasioal SHTB.

Pada hari kerja operasional bus pada  pukul 09.00 s.d 10.00  WIB untuk shift I dengan rute Museum Perjuangan 10 November  – PTPN XI, pukul 13.00 s.d 14.00 WIB untuk shift II dengan rute Klenteng Hok An Kiong – Escompto Bank, dan pukul 15.00 s.d 16.30 WIB untuk shift II dengan rute Kantor Pos Kebonrojo – Gereja Kelahiran St. Perawan Maria – Eks. Javasche Bank. Jadwal pada hari weekend (Jumat s.d Minggu) agak berbeda. Shift I pada pukul 9.00 s.d 10.30 dengan rute Balai Pemuda – Balai Kota – Eks. De Javasche Bank, Shift II pukul 13.00 s.d 14.30 WIB dengan rute Museum Perjuangan 10 November – GNI – PTPN XI dan shift III pada pukul 15.00 s.d 16.30 WIB dengan rute Kampung Kraton (Bubutan) – Balai Kota – Gedung Kesenian Cak Durasim. Kita hanya mendapat kesempatan selama 10 sampai dengan 15 menit di setiap bangunan.

Bagi kita yang dari luar kota dan butuh tempat menginap dekat dengan House Of Samporena, Hotel Ibis di Jalan Rajawali dapat menjadi pilihan alternatif. Hotel ini menawarkan berbagai fasilitas dan akomodasi yang sangat menarik, terutama karena memang bangunannya termasuk dalam cagar budaya. Lokasinya juga strategis karena berada di dekat pusat perbelanjaan Jembatan Merah Plasa, Supermarket Giant dan Tugu Pahlawan. Dari sana untuk ke Pelabuhan Tanjung Perak atau Jembatan Suramadu dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 10 Menit, Pantai Kenjeran dan Kebun Binatang Wonokromo kurang lebih 15 menit.

Untuk mendapatkan informasi tentang hotel kita dapat memanfaatkan website-website seperti Traveloka atau pegipegi.com. Dari situs tersebut kita juga dapat melakukan pemesanan tiket pesawat dengan sangat mudah untuk mereka yang dari luar kota atau luar pulau. Perjalanan ke Surabaya dari kota-kota di Indonesia via pesawat merupakan alternatif termurah karena memang termasuk rute-rute sibuk sehingga hampir setiap saat penerbangan selalu tersedia.

Sebagaimana Jakarta dengan Puncak Bogor- Nya, kota-kota Surabaya juga dikelilingi oleh kawasan-kawasan berudara sejuk yang yang jaraknya tidak terlalu jauh misalnya Pasuruan dengan Tretes atau Trawas-nya, Pasuruan dengan Gunung Bromo-nya, atau Malang yang terkenal dengan kota Batu-nya. Silahkan kunjung artikel yang lain berikut ini :

FAMILY CAMPING : COBAN RONDO, MALANG.

FAMILY CAMPING : WANA WISATA PADUSAN AIR PANAS – PACET.

LET GET LOST TO “WADUK SELOREJO, MALANG…”