Paste your Google Webmaster Tools verification code here

Category Archives: Pak Bos & Mr. Choro

TKI dan Indikator Keberhasilan Pembangunan.

4b9784612d173b77f90a0cf8b28b87f5_2009-06-04_rawan_bencana_kepadatan_penduduk_bnpb-585x413

Pak Bos : “Cho cho…”

Mr. Choro : “Ya Bos.”

Pak Bos : “Baru-baru ini media diramaikan oleh berita Tenaga Kerja Wanita Indonesia di luar negeri yang divonis mati karena kasus pembunuhan. Sebagai pengganti hukuman mati, pihak keluarga korban bersedia menerima diyat atau uang tebusan. Jumlahnya luar biasa nggilani karenamencapai puluhan miliar rupiah. Pemerintah pun tidak tinggal diam dan bersedia mengeluarkan anggaran negara untuk membayarnya meskipun tidak sebesar nominal yang dituntut. Sebagian masyarakat Indonesia yang prihatin dengan kasus tersebut tersentuh hatinya dan bersedia memberikan sumbangan untuk membantu menambah jumlah uang tebusan. Namun demikian ada beberapa pihak yang tidak setuju pemerintah mengeluarkan anggaran demikian besar untuk membayar diyat itu. Alasan mereka antara lain yang seharusnya membayar diyat itu adalah keluarga terhukum dan bukan negara. lagi pula dengan jumlah calon terdakwa mati yang jumlahnya mencapai ratusan itu jika semuanya dipenuhi tentu nantinya akan sangat membebani keuangan negara.

Atas kejadian tersebut bagaimana menurutmu? Apakah negara punya kewajiban membayar diyat itu?”

Mr. Choro : “Kalau menurut saya Bos, ini menurut saya lho ya… Sesuai amanat Pembukaan UUD 45, di situ kan sudah jelas, bahwa salah satu tujuan kemerdekaan Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Jadi jika membayar diyat menjadi satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa rakyat ya harus dibayar. Jangankan miliaran, kalau perlu triliunan. Itu amanat Undang-undang Dasar Negara lho Bos. Kalau tidak dilaksanakan kita bisa kuwalat sama leluhur yang menyusun konstitusi itu. Lagi pula nyawa manusia sebenarnya tak bisa dibandingkan nilainya dengan uang. Uang bisa dicari tapi nyawa sampai kiamat gak akan tergantikan….”

Pak Bos : “Iya… itu kalau negara banyak uang Cho…, kalau setiap calon terhukum mati harus negara yang menanggung dendanya, berapa triliun uang yang harus dikeluarkan untuk menebusnya. Uang negara itu kan uang seluruh rakyat Cho, di mana letak keadilan…?”

Mr. Choro : “Ya itu urusan lain Bos. Bisa dianalogikan ketika Bos jadi ayah kemudian punya anak bukan berarti tanggung jawab Bos terhadap anak hilang gara-gara pak Bos tidak punya uang. Pokoknya Undang-undang Dasar kita bunyinya demikian, makanya seperti saya bilang tadi nyawa itu tidak bisa dinilai dengan uang, karena itu kalau bisa jangan sampai kasus seperti itu jangan lagi terjadi di negeri ini…”

Pak Bos : “Tapi ngomong-ngomong mereka itu apa gak punya perasaan kok begitu kejamnya menuntut denda sedemikian besar?”

Mr. Choro : “Kita nggak usah menyalahkan orang lain Bos. Itu aturan mereka. Kita punya aturan sendiri, mari kita bermain dengan aturan kita sendiri sebelum menyalahkan aturan orang lain”.

Pak Bos : “Trus menurutmu caranya bagaimana?”

Mr. Choro : “Cara untuk apa Bos?”

Pak Bos : “Ya itu, caranya agar tidak ada lagi TKI yang dihukum mati di luar negeri”

Mr. Choro : “Gampang Bos?”

Pak Bos : “Gampang piye, kamu itu memang sukanya ‘nggampangke’ sesuatu”

Mr. Choro : “Cara paling ampuh agar tidak ada lagi kejadian TKI divonis mati di luar negeri ya hentikan seluruh pengiriman TKI ke luar negeri dan tarik seluruh TKI yang ada di luar negeri agar kembali ke dalam negeri”

Pak Bos : ” Ya… bagus sekali idemu itu, nanti kamu ya yang menanggung sandang pangan mereka semua beserta seluruh keluarganya, wong gemblung sira…”

Mr. Choro : “Sekarang begini Bos… Kalau Pak Bos disuruh memilih, lebih senang bekerja di negeri sendiri atau di negeri orang?”

Pak Bos : “Ya jelas lebih memilih di negeri sendiri Cho, bisa kumpul keluarga, anak, istri, saudara…. ibarat tinggal di rumah sendiri meskipun berupa gubuk bambu tentu lebih bebas dan nyaman daripada di istana tapi punya orang lain. Berwisata saja gak betah kalau terlalu lama di negeri orang, apalagi bekerja. Menjadi Pembantu rumah tangga lagi. Enaknya di luar negeri itu satu dua minggu aja Cho, lebih dari itu bosen pengin segera pulang, aku wis tau ngalami…

Kalau kita ini merasa sebagai saudara sebangsa setanah air, mestinya kita ini malu dan prihatin melihat kondisi seperti itu… Negara, Bangsa, Pemerintah dan kita semua seharusnya prihatin dan malu dengan semua itu… “

Mr. Choro : “Artinya bekerja di luar negeri bagi para TKI itu adalah suatu keterpaksaan alias karena tidak adanya banyak pilihan. Jika demikian trus kenapa kok di Indonesia ini ada TKI? Kapan mulainya?”

Pak Bos : “Penyebabnya ya karena negara kita kekurangan lapangan pekerjaan Cho, makanya banyak warga negara yang mencoba berame-rame mengadu nasib di negeri orang, katanya peribasa Jawa ‘mangan ra mangan sing penting kumpul‘ sudah diganti menjadi ‘kumpul ra kumpul sing penting mangan‘…”.

Mr. Choro : “Berarti kita kembali ke dunia hewan dong Bos… Seperti anak iwak pitik‘kumpul ra kumpul sing penting mangan‘, padahal sebagai makhluk sosial kita ini seharusnya kan berprinsip ‘ada makanan-nya atau tidak, yang penting kumpulnya’…”.

Pak Bos : “Paling enak ya kumpul ya mangan Cho…”

Mr. Choro : “Betul Bos, sekarang pertanyaannya lagi… menurut Pak Bos masuk akal nggak kalau di negeri yang katanya terkenal dengan sebutan tanah surga zamrud khatulistiwa dimana ikan dan udang menghampiri, tongkat kayu dan batu jadi tanaman ini kok bisa kekurangan lapangan kerja?”

Pak Bos : ” Ironis memang Cho, tapi mau gimana lagi wong memang kenyataan yang ada sekarang begini…”.

Mr. Choro : “Mari kita itung-itungan secara kasar saja Bos… Sekali lagi secara kasar lo Bos… jangan protes…

Menurut wikipedia Indonesia Luas daratan kita kira-kira 2.000.000 kilometer persegi atau 200.000.000 hektar. Luas laut teritorial kita 3.300.000 kilometer persegi atau 330.000.000 hektar, itu belum termasuk ZEE dan landas kontinen. Jumlah penduduk kita kurang lebih 240.000.000 orang, atau jika dijadikan menjadi KK dengan asumsi tiap keluarga ada empat anggota maka ada kurang lebih 60.000.000 KK

Jika seluruh daratan dan lautan dibagi rata untuk seluruh rakyat kita sesuai jumlah sekarang maka tiap jiwa akan mendapat jatah lahan seluas 0,8 hektar atau tiap KK mendapat jatah lahan seluas 3,3 hektar, ditambah jatah wilayah perairan seluas 1,3 hektar per jiwa atau 5,5 hektar per KK.

Meskipun tidak mungkin dibuat aturan seperti tersebut, tapi seandainya Pak Bos mendapat jatah tanah dan air seluas itu, seharusnya itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pak Bos dan keluarga. Dengan teritorial seluas itu seandainya tanah dan air itu kita sewakan saja, maka sebetulnya kita sudah tidak perlu lagi bekerja. Kita bisa berlibur selama tujuh hari seminggu, atau kalau bosen berlibur kita bekerja bukan karena kita butuh, tapi karena kita ingin.

Itu baru itung-itungan kasar dan belum termasuk kekayaan yang didapat dari olah pikir manusia untuk rekayasa alam dan kekayaan alam yang ada dalam perut bumi dan di dasar laut…. Apalagi warga negara Indonesia ini menurut survei yang pernah saya baca adalah salah satu penduduk bumi yang bangunnya paling pagi se dunia.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan berdasarkan potensi yang kita miliki maka seharusnya tidak ada satu alasan pun untuk mengirim satu orang TKI pun ke luar negeri apalagi bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau pekerjaan kasar lainnya.

Jika kondisi saat ini memprihatinkan, berarti ada sesuatu yang salah perihal tata cara dan tata kelola negeri ini. Adanya satu orang saja yang masih berprofesi menjadi TKI untuk mengadu nasib dan mencari penghidupan di negeri orang merupakan salah satu indikasi yang nyata kelihatan terhadap ketidakberhasilan kita dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan.

Sebenarnya para pendahulu negeri ini di masa lalu melalui perenungan dan pemikiran yang panjang telah merumuskan arah pembangunan. Kita mengenalnya sebagai Trilogi Pembangunan. Isinya : Pemerataan Pembangunan dan hasil-hasilnya, untuk mencapai Pertumbuhan Ekonomi yang cukup tinggi, agar tercipta Stabilitas Nasional Yang Sehat dan Dinamis.

Pertanyaannya sudahkah konsep itu kita laksanakan secara benar? Sepertinya tidak.”

Pak Bos : “Wis Cho, ngantuk aku…”
Mr. Choro : “Mari dipikir bersama sambil tidur Bos…..”

Pak Gub Ingin Naik Level….

Foto: Status no : 0067  PAK GUB INGIN NAIK LEVEL....  Pak Bos :

Pak Bos : “Nggedebus kabeh!, nggak ada yang bisa dipercaya!, Teleeek telek….”.

Mr. Choro : “Pagi-pagi kok sudah sudah ngedumel gitu ada apa to Pak Bos”.

Pak Bos : “Politik di Indonesia ini memang nggak mutu Cho, katanya dulu nggak mikir, nggak mikir, nggak mikir copras capres… eee ternyata sama saja dengan yang lain, akhirnya nyapres juga”

Mr. Choro : “Maksud Pak Bos itu siapa?”

Pak Bos : “Chooo, cho, kayak kamu gak tahu saja”

Mr. Choro : “Oo… Pak Gub maksudnya? Kenapa kok Pak Bos bisa sewot begitu? Emang gak boleh apa pengin nyapres?”

Pak Bos : “Ya bolah boleh saja Cho… tapi yang namanya pemimpin itu kalau omongannya sudah tidak bisa dipegang apalagi yang lain?. Saya ini dulu pendukung Pak Gub. Waktu itu saya memilih dan mendukung beliau karena menaruh harapan besar akan bisa mengatasi segala persoalan kesemrawutan Jakarta sepeti kemacetan, banjir dan lain-lainnya. Lha sekarang baru seumur jagung menjabat, berbagai permasalahan dan persoalan yang harus diatasipun masih jauh dari beres, lha kok malah ditinggal pergi. Di mana tanggung jawabnya? Kalau hasil kerjanya kelihatan sih gak papa… Sekarang ini Jakarta masih jauh dari nyaman Cho…Jika mengurus hal yang kecil saja keteteran begitu apalagi negara Cho… Ini kayaknya nasib ratusan juta rakyat mau dibuat main-main…”

Mr. Choro : “Beliau nyapres itu kan bukan kehendak sendiri to Pak Bos, tapi kehendak rakyat banyak. Awalnya sih saya yakin niatnya pengin mengatasi persoalan Jakarta makanya ketika ditanya bilang nggak mikir… tapi lama kelamaan kalau didesak dan dibanjiri dukungan terus menerus dari sana sini ditambah lagi survei dimana-mana menempatkannya sebagai nomor satu calon Presiden terpilih, ya …. akhirnya mikir juga…

Bayangkan menjadi Presiden di Negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor empat se dunia, luas wilayah sebesar nirwana berjuluk zamrud khatulistiwa, siapa yang nggak kepengin. Peluang dan kesempatan tidak akan datang dua kali Boss…

Saya dulu kan sudah pernah bilang bahwa untuk mengatasi persoalan Jakarta itu hanya bisa diselesaikan oleh tokoh sekelas Presiden, makanya dari itu mungkin beliau berpikir hanya dengan menjadi presiden lah persoalan Jakarta bisa diselesaikan”.

Pak Bos : “Aku nggak mau mikir itu Cho… ini masalah integritas sebagai seorang pemimpin. Seorang yang seharusnya mampu mengukur dan menakar sejauh mana kemampuan dirinya sehingga memiliki komitmen dan keteguhan dan hati, kata dan perbuatan. Bukan semudah itu terpengaruh oleh iming-iming dan bujuk rayu dari siapapun.

Saya bukan berarti tidak setuju beliau mencalonkan diri sebagai Presiden. Tapi apakah harus secepat itu? Kenapa tidak menunggu minimal satu periode menjabat lah. Saya tidak percaya sesuatu yang instan. Lihatlah bagaimana nasib artis-artis yang lahir dari ajang kontes-kontesan itu…. Banyak yang sewaktu juara dielu-elukan sesaat tapi sekarang entah bagaimana kabar beritanya….

Saya sangat setuju dengan iklan kopi di tipi itu. Kualitas sejati teruji oleh waktu katanya….”

Mr. Choro : “Ya. Saya juga setuju dengan Pak Bos, prediksi masa depan bisa dilihat dari pola-pola yang terjadi di masa lalu dan kecenderungan-kecenderungan yang sedang terjadi. Saya berpendapat proses lahirnya pemimpin di tahun 2014 ini ada sedikit kemiripan dengan sepuluh tahun lalu. Makanya dibilang pesimis ya pesimis, dibilang optimis yang optimis aja. Tapi ya mau gimana lagi… Wong itu sudah kehendak rakyat. Suara rakyat katanya suara Tuhan, kalau ternyata di kemudian hari ternyata apa yang diimpi-impikan tidak kesampaian, ya silakan dirasakan dan ditanggung sendiri akibatnya…. mari kita lihat nanti, semoga saja tidak terjadi hal-hal yang buruk ya bos”.

Pak Bos : “Iyo cho, tapi ngomong-ngomong kamu dukung siapa Cho…?”

Mr. Choro : “Apa Bos…”

Pak Bos : “Pilpres ini kamu pilih siapa?”

Mr. Choro : ” Aku Bos?”

Pak Bos : “Iyo iyo…”

Mr. Choro : “Aku milih Presiden yang jadi alias yang terpilih saja Bos”.

Pak Bos : “Maksudmu piye to?”

Mr. Choro : “Ya saya akan selalu memilih dan mendukung Presiden yang sudah jadi dan terpilih secara sah. Sebagai rakyat, kita ini kan harus menghormati seorang pemimpin jika ingin juga dihormati saat jadi pemimpin. Peribahasa Jawanya ‘ngunduh wohing pakarti’. Artinya setiap orang akan memanen apa yang ia tanam, baik itu baik atau buruk.Saya mengamati mereka yang menjadi tukang menjelek-jelekkan pemimpinnya, jika menjadi pemimpin akan dijelek-jelekkan juga oleh yang rakyat yang dipimpinnya.

Lagi pula saya juga yakin semua calon itu semuanya naitnya baik. Tidak ada satupun yang berniat setelah jadi pemimpin ingin menyengsarakan rakyatnya. Semuanya ingin rakyatnya hidup adil, makmur dan sejahtera. Kalau ada calon presiden yang berniat rakyatnya sengsara saya yakin ia akan kualat tujuh turunan karena didoakan jelek oleh orang banyak.

Semua calon presiden pasti memiliki TUJUAN yang baik, VISI yang baik, END yang baik, Yang membedakan adalah HOW? CARA dan PROSES nya bagaimana? MISI nya bagaimana? WAYs nya bagaimana?

Berhasil atau gagal? Waktu yang akan membuktikannya…
Apakah pemimpin yang baru akan mengunduh hormat atau hujat? mari kita lihat nanti saja bagaimana ending drama kehidupan nyata berikutnya…

Pak Bos : “Rokoan dulu Cho”.

Mr. Choro : “Aku sudah berhenti merokok Bos…sory”

Pak Bos ingin Berpolitik (Menjadi Pejabat)

1b6cc98bb0877f54b85d9ef8ccc561b7_ahok

Pak Bos : “Assalamu Alaikum Cho…,”

Mr. Choro : “Waalaikum Salam Pak Bos, tumben wajahnya sumringah pagi ini, ada khabar apa gerangan, sudah gak kebanjiran lagi kah?”

Pak Bos : ” Ya masih…, banjir yo wis ben… arep dikapakno meneh… Sekarang dak usah membahas itu, ini ada sedikit rezeki buat kamu”.

Mr. Choro : “Wah kayaknya Pak Bos lagi banyak rezeki ya pake bagi-bagi segala, bukannya Suuzdon… tapi yang ini kayaknya ada maksudnya”.

Pak Bos : “Biasa aja Cho, kamu itu dikasih sesuatu kok pakai mikir dan curiga aja, mbok ya diterima aja… halal halal…”

Mr. Choro : “Halal sih halal, tapi biasanya kan tak sebanyak ini, pasti ini ada maksudnya, hayooo ada apa…?”

Pak Bos : “Gua ingin berpolitik Cho…”

Mr. Choro : “Maksud Pak Bos?”

Pak Bos : “Ah lu pake nanya segala, ya berpolitik…”

Mr. Choro : “Maksud pak Bos pengin jadi pejabat?”

Pak Bos : “Ya begitu dech….”

Mr. Choro : “Kenapa? Sebagai seorang pengusaha yang sukses, hidup Pak Bos ini kurang apa lagi? Semuanya sudah ada… kok masih sempat-sempatnya pengin cari kerjaan lain?”

Pak Bos : “Justru itu Cho, karena untuk mengurus diri sendiri sudah aku anggap cukup bahkan berlebih malah. Sekarang saatnya untuk naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi… yaitu mengurus orang lain, berpolitik untuk menjadi pejabat, sama seperti kata Pak Basuki Ahok di atas… he he”

Mr. Choro : “Trus yang Pak Bos cari apa?”

Pak Bos : “Saya ingin mengabdikan diri untuk memajukan dan menyejahterakan rakyat Cho. Salah satu caranya ya lewat politik. Setelah berkecimpung dalam dunia bisnis dan korporasi selama puluhan tahun, saya rasa pengalaman dan pengetahuan saya telah cukup memadai untuk menjadi bekal seandainya menjadi pemimpin masyarakat atau pejabat pemerintah.”

Mr. Choro : “Itu untuk orang lain, kalau untuk Pak Bos sendiri apa? Jangan-jangan pak Bos cuma ikut-ikutan temen-temennya pak Bos para Bos-bos itu yang beramai-ramai ikut berpolitik, hanya karena ingin jaga gengsi”.

Pak Bos : “Kamu itu mau nanya atau ngetes saya?”

Mr. Choro : “He he… sori Bos…., saya jadi teringat pelajaran sekolah dulu tentang teori hirarki kebutuhan manusia ala Mbah Maslow yang mengatakan bahwa tingkat kebutuhan manusia itu ada beberapa tingkatan. Yang pertama adalah kebutuhan biologis, sandang pangan papan, yang kedua adalah kebutuhan keamanan, yang ketiga adalah kebutuhan penghargaan dan yang keempat adalah aktualisasi diri.

Sekarang jika saya melihat kondisi pak Bos yang sudah tidak lagi bermasalah dengan kebutuhan dasar karena duitnya sudah banyak, keinginan Pak Bos untuk berpolitik alias menjadi pejabat sebenarnya sedang berusaha memenuhi kebutuhan berikutnya yaitu ingin mendapatkan penghargaan dari orang lain seperti kata Maslow itu, ya tho Bos..?”

Pak Bos : “Wis karepmu lah… intinya saya ini tulus ingin mengabdi kepada masyarakat. Politik itu hak semua warga negara… Kalau artis saja boleh trus apa saya ndak boleh?”.

Mr. Choro : “Apa kewenangan saya sampai-sampai bisa melarang Pak Bos berpolitik? tentu saja bolah-boleh saja tho. Kalau saya amati, menjadi pempimpin di negeri ini seperti masuk hutan belantara. Berbagai macam binatang buas berbentuk permasalahan dan persoalan yang menumpuk di sana siap menghadang dan menunggu untuk ditangani. Kalau kita berhasil menjadi hal biasa. Tapi kalau gagal, itu akan menjadi hal yang luar biasa karena kita akan langsung dicaci-maki di mana-mana. Di media, di warung kopi, Internet… Apa pak bos sudah siap menghadapi itu semua? Jangan sampai penghargaan yang bos cari tapi malah caci-maki, atau bully-an yang justru malah didapat.”

Pak Bos : “Saya ini sudah pengalaman menghadapi kerasnya kehidupan cho, untuk urusan hal begituan mah sudah biasa. Semua itu adalah resiko kehidupan. Makanya itu, kamu mau nggak jadi pendukung saya?”

Mr. Choro : “Saya dukung Bos, apalagi orang seperti Pak Bos yang sudah kaya ini harapannya saat sudah menjadi pemimpin di pemerintahan tentu sudah tidak berpikir lagi untuk mencari uang, apalagi dengan cara korupsi. Tapi ngomong-ngomong nanti kalau ternyata nanti sudah terpilih, visi, misi dan programnya pak Bos apa?”

Pak Bos : “Ya banyak Cho, tidak bisa saya katakan di sini semuanya. Hal yang pokok adalah saya akan memperbaiki mental dan ideologi masyarakat dengan cara menanamkan kesadaran terhadap pelaksanaan kehidupan beragama dan bermasyarakat agar sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing dengan tetap berlandaskan Pancaasila dan Undang-undang dasar 1945, memberantas kemiskinan dan pengangguran dengan menciptakan banyak lapangan kerja, meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan cara mengoptimalkan sistem birokrasi pemerintah, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan sehat, membangun berbagai fasilitas umum dan infrastruktur guna menunjang program-program pembangunan, mewujudkan tercapainya ketahanan pangan dan energi, memajukan dan memodernisasi sistem pertahanan kita agar menjadikan negeri ini disegani di kawasan regional dan dunia kalau perlu, mengatasi berbagai persoalan yang sedang terjadi saat ini misalnya masalah banjir, bencana alam dan lain-lainnya serta masih banyak lagi yang lain… banyak to…”

Mr. Choro : “Wah wah…, Visi misinya Pak Bos pake bahasa dewa semua…pusing saya. Semua pesaing pak Bos juga bahasanya begitu. Bisakah Pak bos menerangkan kepada saya cara yang aplikatif dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti untuk kalangan kaum akar rumput seperti saya ini?”

Pak Bos : “Ya kalau itu nanti Cho, wong sekarang ini jadi aja belum… Saya harus pelajari dulu setelah masuk di sistem pemerintahan. Saya kan bukan dewa atau malaikat…”

Mr. Choro : “Wah kalau harus belajar dahulu setelah masuk ya telat Bos… Kebijakan dan keputusan Pak Bos itu nanti mempengaruhi hajat hidup orang banyak lho, bukan cuma ribuan tapi jutaan jiwa. Hidup rakyat kok dicoba-coba… kayak iklan minyak kayu putih aja. Kalau memang Pak Bos sudah siap menjadi pemimpin, pak Bos seharusnya sudah bisa berfungsi sebagai pemandu arah yang telah memiliki tujuan yang meyakinkan dan telah pula mengetahui kemana arah dan haluan yang akan kita tuju. Kalau pak Bos belum yakin dengan itu apalagi tidak mengetahuinya, yang rugi nanti pak Bos sendiri dan kita-kita pun akhirnya ikut-ikutan tersesat dan kehilangan arah… akhirnya pada buyar kemana-mana…”

Pak Bos : “Okelah Cho, saya akan pikirkan kata-katamu itu… tapi kamu janji dukung saya to..”

Mr. Choro : “Tenang Bos… kalau Pak Bos berhasil membawa negeri ini menuju negeri impian, tidak cuma mendukung, untuk kepentingan anak cucu saya kelak, jadi tukang ketiknya pak Bos pun saya siap. Pak Bos tidak usah repot-repot kasih saya uang. Sebaiknya gunakan uang Pak bos untuk mempublikasikan visi, misi, yang akan Pak Bos laksanakan, baik untuk diri Pak Bos sendiri maupun untuk negeri ini. Saya sebagai rakyat biasa akan mengangkat Pak Bos menjadi manusia setegah dewa seperti lagunya Iwan Fals itu ….”

Pak Bos : “lebai lu Cho…..”