Category Archives: My Trip & Travel

Family Camping : Wana Wisata Padusan Air Panas – Pacet.

Camping Ground Padusan – Pacet

Berdasarkan referensi di Internet, saat weekend beberapa waktu yang lalu kami sekeluarga berencana akan berkemah/kemping di Camping Ground Air Terjun Coban Rondo, Batu -Malang. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saat menuju ke sana kami lebih memilih berangkat dari Surabaya lewat jalur Mojokerto (Mojosari) – Pacet – Batu (Malang) daripada melalui jalur Gempol – Pasuruan karena jalur tersebut sering macet terutama saat weekend. Tiba di Pacet hari sudah menjelang sore karena berangkat dari Surabaya juga sudah siang. Sudah bela belain naik gunung turun gunung… salah jalan lagi… Seharusnya saat tiba di pertigaan Pacet kami mengambil jalur kanan, dengan pedenya malah mengambil jalur kiri dan akhirnya justru kembali ke arah Mojokerto melalui jalur Trawas.

Setelah bertanya kepada orang di pinggir jalan, kami memutuskan untuk balik arah dan kembali ke jalur semula, naik turun gunung. Waktu itu hari telah sore dan jarak ke Coban rondo juga masih jauh. Akhirnya kami membatalkan niat kemping di Coban Rondo dan memutuskan mencari lokasi perkemahan yang dekat dengan Pacet. Wana Wisata Air Panas, Padusan Pacet menjadi pilihan.

Tiba di lokasi wisata langsung membayar tiket masuk sebesar 12.000 rupiah per orang (anak-anak tidak dihitung).  Selanjutnya kami berkeliling mencari lokasi kemping yang nyaman. Di sana banyak sekali lokasi camping ground yang bisa dijadikan pilihan karena tempatnya yang cukup luas, sejuk dan asri. Fasilitas yang tersedia pun cukup baik. Sarana parkir kendaraan baik roda dua maupun empat memadai, sumber air bersih berlimpah dan mengalir sepanjang waktu, tersedia pula warung-warung kecil yang menjual berbagai makanan ringan terutama gorengan tahu petis dan ote-ote (jawa timur) /bakwan (jawa tengah) /bala-bala (jawa barat) dan aneka makanan lainnya.

Setelah menemukan lokasi yang cocok (tidak terlalu sepi atau ramai, dekat dengan tempat parkir dan lokasi MCK/air bersih), bersama-sama kami mendirikan tenda. Di lokasi camping ground yang kami pilih telah banyak mereka yang juga berkemping di sana, dari mulai para anak pramuka, komunitas sepeda motor sampai para karyawan perusahaan yang mengadakan even outbound gathering.

Tenda telah berdiri saat matahari mulai terbenam. Sambil menunggu azan magrib, waktu yang ada saya manfaatkan untuk rebahan sebentar sambil menatap dan menikmati jajaran pohon-pohon pinus lengkap dengan burung-burung yang entah apa namanya berkicauan dan berlompatan di daun dan ranting. Sungguh suasana yang syahdu dan takkan pernah kita temukan di lingkungan perkotaan.

Pinus di Camping Ground Padusan

Malam pun tiba. Acara wajib saat kemping pun dimulai. Apalagi kalau bukan bakar api unggun dan jagung bakar, ngopi, bikin mie instan lalu mengobrol ke sana  ke mari menghabiskan malam. Di kejauhan terdengar anak-anak pramuka sedang berteriak-teriak menyanyikan yel-yel mereka dan beratraksi “AKU PUNYA PISANG, AKU PUNYA PISAANG DIK, AKU PUNYA DONAT, AKU PUNYA DONAAT, KAK”.

Hari belum terlalu malam ketika kami semua mulai mengantuk dan satu persatu tertidur di tenda dan di dalam kantung tidur. Hal yang cukup mengganggu kanyamanan kami berkemping adalah lalu lalang kendaraan yang lewat dan debu-debu yang beterbangan. Maklum saat itu musim kemarau dan jalan di sama juga masih tanah. Di samping itu juga terdengar suara mereka yang sedang berkaraoke ria memekakkan telinga, entah rombongan dari mana. Suaranya begitu keras karena berpengeras suara. Dalam hati saya bertanya kenapa tidak di rumah atau di gedung saja jika hanya mau berkaraoke ria. Kenapa harus ke hutan dan gunung dan merusak suasana alam dengan semua suara nyanyi2an itu?

Kolam Renang Wana Wisata Padusan Pacet

Tak terasa waktu subuh pun datang. Kami terbangun dalam keadaan segar bugar setelah terlelap menghabiskan malam. Selesai shalat subuh, berkemas, bongkar tenda dan perlengkapan, makan pagi acara kami lanjutkan jalan-jalan pagi menyusuri hutan pinus di sekitar lokasi camping. Puas jalan-jalan lanjut berenang dan berendam di kolam renang air panas dan dingin yang tersedia di lokasi. Bayangkan setelah kedinginan semalaman kemudian berendam di air hangat…

Pesona Kawah Ijen, Karya Tangan Tuhan terindah di Ujung Timur Jawa

Perjalanan saya kali ini menuju Kawah Gunung Ijen, atau Ijen Crater di Banyuwangi, Jawa Timur. Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan tinggi 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 Hektar.  Untuk menuju ke sana relatif mudah. Dengan menggunakan mobil pribadi hanya perlu waktu satu sampai dua jam dari Banyuwangi.

Setelah tiba di lokasi Pintu gerbang cagar alam kita harus berjalan kaki menuju puncak kawah sejauh kurang lebih tiga kilometer. Di sinilah tantangan itu dimulai. Jangan bayangkan jarak tiga kilometer di sini seperti halnya berjalan kaki di jalan raya yang datar, karena kondisi jalanan di sana masih berupa tanah dengan tanjakan yang lumayan menguras tenaga dan moril. Namun jangan khawatir, semua rasa lelah dan pegal itu akan hilang dengan sendirinya. Semua perjuangan itu akan terbayar dan sebanding dengan dengan pemandangan luar biasa indah yang akan kita saksikan di sana. Semuanya sangat menakjubkan dan sungguh sulit untuk menemukannya di tempat lain.

Di sepanjang perjalanan kita juga akan menemui drama kehidupan dari para penambang belerang. Sebuah perjuangan dan semangat yang luar biasa yang ditunjukkan oleh mereka demi memberi nafkah keluarga. Bagi kita orang biasa mungkin akan sangat sulit mengerti, bagaimana bisa ada orang yang mau melakukan profesi semacam itu. Jika kita bertanya kepada mereka berapa penghasilan mereka dari hasil penjualan belerang itu mungkin hati kita akan miris. Betapa kecilnya penghasilan yang mereka peroleh bila dibandingkan dengan usaha dan perjuangan untuk mengangkut dan memikul belerang-belerang itu dari dasar kawah menuju ke tempat penjualan dengan rute dan kondisi yang demikian sulit. Saya yakin semua itu mereka lakukan karena memang tidak ada pilihan lain. Seandainya tempat itu dikelola secara benar, seharusnya dapat memberikan penghidupan dan penghasilan yang layak bagi para penambang itu, sehingga mereka tak harus menempuh bahaya dengan tambang belerang itu.

Berikut ini gambar-gambar pemandangan kawah ijen yang hanya saya ambil dari sebuah kamera smartphone saya :

Jpeg

P_20140906_111015

????

????

????

????

????

????

????

????

????

Jpeg

????

????

????

????

Jpeg

Jpeg

Jpeg

????

????

????

????

????

????

????

????

????

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

????

Jpeg

Jpeg

Kemping Keluarga di Dlundung – Trawas Jatim.

IMG_0014.JPG

IMG_0044.JPG

Berkemah, camping atau kemping adalah hoby saya sewaktu masih remaja terutama saat masih SMA dan menjadi anggota Pramuka. Kegiatan itu biasa saya lakukan bersama kawan-kawan satu sekolah saat ada acara Pramuka atau sekadar mengisi liburan. Saat-saat itulah kami bisa menikmati keindahan alam sambil bercanda, tertawa, dan bercerita tentang apa saja. Sungguh suatu momen berlibur yang murah meriah namun sangat berkesan.

Setelah berkeluarga dan beranak-pinak (kayak kelinci aja wkwkwk), aktivitas tersebut tak pernah lagi saya lakukan. Waktu yang ada sebagian besar telah habis karena kesibukan, pekerjaan dan hal-hal lainnya. Pernah ada niat dan keinginan untuk mengulang momen-momen indah itu kembali, yakni mengundang dan mengajak kawan-kawan lama untuk camping di suatu tempat. Namun hal itu lama-kelamaan ternyata semakin sulit terlaksana. Apalagi kami sudah menyebar ke segala penjuru sesuai dengan pekerjaan dan profesi masing-masing.

Pada suatu hari, niat dan keinginan untuk berkemah atau camping muncul kembali. Alih-alih bersama kawan-kawan, saya mengajak seluruh keluarga untuk ikut serta. Niatnya ingin sekadar bernostalgia mengingat masa lalu sambil mengajari anak-anak agar lebih dekat dan mencintai alam.

Persiapan pun dimulai. Beruntunglah kita sekarang kita hidup di era Internet dimana segala informasi yang kita butuhkan bisa didapat dalam sekejap mata. Setelah browsing sana sini mencari informasi tentang camping ground yang cocok untuk keluarga (tempatnya tidak terlalu sepi, dekat dengan tempat parkir mobil, dekat dengan sumber air/MCK, akses tidak terlalu jauh dari peradaban) akhirnya pilihan jatuh kepada camping ground dekat wisata air terjun Dlundung-Trawas, Kab Mojokerto. Perjalanan ke sana juga tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu kurang lebih dua jam.

Persiapan awal adalah membuat check list kebutuhan dan perlengkapan yang harus dibawa, antara :

1. Tenda.

Tenda tentu saja adalah peralatan utama yang harus ada jika mau kemping. Ada dua pilihan. Sewa atau beli. Pernah terpikir untuk sewa saja karena tarifnya juga cukup murah, yaitu berkisar antara 15 sampai dengan 40 ribu per hari. Bahkan di camping ground tersebut juga tersedia penyewaan tenda. Didasari berbagai pertimbangan akhirnya saya memutuskan untuk beli saja. Toh bisa digunakan untuk camping lagi di lain waktu.

Mencari tenda ternyata tidak semudah yang dikira. Beberapa situs penjual tenda di internet yang saya temui tidak dapat dihubungi ataupun kalau bisa ternyata banyak yang sudah kehabisan stok. Setelah beberapa hari mencari akhirnya ketemu juga tempat jual tenda di daerah Pandegiling Surabaya. Harganyapun relatif lebih murah dibandingkan di tempat lain. Tenda yang saya beli berjenis Dome/Keong berbahan parasit ukuran 2 X 2 meter. Sudah ada alasnya tidak seperti tenda segitiga ala zaman saya pramuka dulu. Harganya lumayan terjangkau, hanya 350 ribu rupiah. Sebagai perbandingan, dengan ukuran kurang lebih sama tapi lain merk saya lihat harganya berkisar antara 450 ribu sampai 600 ribu rupiah.

2. Perlengkapan tenda:

        a. Lampu LED (bisa diganti dengan lampu teplok minyak tanah bila ingin benar-benar alami).

        b. Senter.

        c. Tali temali.

        e. Tikar/Karpet/Selimut.

        f. Bantal.

        g. Kantung tidur.

        h. Pisau set/lipat

        i.  Dll

3.Peralatan Masak :

        a. Kompor Lapangan (bisa diganti dengan tungku kayu bakar jika memang ingin benar-benar alami).

        b. Minyak Tanah.

        c. Tempat air (Ember/Jerigen).

        d. Kayu Bakar (Bisa bawa dari rumah atau beli di lokasi camping)

        e. Tempat bakaran barbecue (optional barangkali mau bakar sate atau ikan)

        f. Korek Api.

        g. Panci.

        h. Penggorengan.

        i. Sendok Sayur/sendok penggorengan

        j. Dll

4. Peralatan MCK.

        a. Sabun.

        b. Shampoo.

        c. Sikat Gigi

        d. Pasta Gigi

        e. Tissue.

        f. Gayung.

        g. Sandal Jepit.

        h. Ember (optional)

        i. Sisir

        j. Alat Kosmetik.

        k. Sabun Cuci.

        i. Dan lain-lain sesuai kebutuhan

5. Pakaian Cadangan.

        a. Sarung tangan (Untuk daerah dingin)

        b. Topi/kerpus/tutup kepala (untuk daerah dingin)

        c. Kaos Kaki cadangan.

        d. Celana dan Kaos Cadangan.

        e. Jaket.

        f. Dll

6. Bahan Makanan dan Minuman

        a. Gula.

        b. Kopi.

        c. Teh.

        d. Garam.

        e. Air Putih (di Galon atau Jerigen).

        f. Bumbu Dapur (sesuai kebutuhan)

        g. Mie Instan.

        h. Dll

7. Peralatan Makan.

        a. Piring/mangkuk

        b. Sendok/Garpu

8. Peralatan Shalat (Bagi Muslim)

        a. Sarung

        b. Peci.

        c. Sajadah.

        e. Mukena/ Rukuh

        f. Tasbih

        g. Dll

9. Obat-obatan ringan (sesuai kebutuhan):

        a. Lotion anti nyamuk (jika lokasi camping banyak nyamuk).

        b. Obat Anti masuk angin.

        c. Seperangkat P3K.

        d. Dll

10. Peralatan Komunikasi :

        a. Handphone.

        b. Headset.

        c. Charger/Power Bank

        d. Dll

11. Peralatan dan bahan-bahan lain yang menurut anda perlu.

Check List kebutuhan di atas silahkan digunakan sebagai bahan referensi. Semua barang yang perlu dibawa tentu tetap menyesuaikan kebutuhan dan pertimbangan masing-masing misalnya jumlah anggota yang ikut, sarana transportasi yang digunakan (mobil pribadi, sepeda motor, angkutan umum) serta hal-hal lainnya.

Setelah persiapan selesai, saatnya kami berangkat. Dari Surabaya saya memilih menempuh jalur Surabaya – Gempol – Pandaan – Trawas karena saya anggap lebih dekat. Kurang lebih pukul 14.00 kami tiba di lokasi. Tiba di pintu gerbang kami berlima hanya dikenai tiket untuk tiga orang masing-masing sepuluh ribu rupiah. Rupanya anak saya yang 7 dan 2 tahun tidak masuk hitungan. Tarif yang sangat masuk akal menurut saya.

Setelah survei lokasi sebentar, kami langsung mendirikan tenda. Ternyata sudah ada cukup banyak pengunjung lain yang juga camping di sana. Ada anggota pramuka SMK yang sedang Persami, serombongan anak-anak muda dari berbagai klub, keluarga-keluarga campingers seperti saya, bahkan ada juga beberapa pasang muda-mudi yang tampaknya juga bukan suami istri (entah orang tuanya tau apa nggak).

Terdapat beberapa blok camping ground di sana. Ada yang di dekat pintu masuk dan lainnya di dekat air terjun. Saya memilih yang dekat dengan pintu masuk karena dekat dengan parkir kendaraan. Tempatnya juga lumayan luas, sejuk dan asri dengan lahan sebagian besar tertutup rerumputan dan banyak pohon pinus tumbuh di sana sini. Tempat parkir mobil juga dekat. Bagi yang membawa sepeda motor bisa langsung parkir di dekat tenda. Di sekeliling camping ground tersedia warung-warung makan yang buka 24 jam. Jadi jangan khawatir kekurangan makan jika lupa tidak membawa bekal. Sarana MCK juga cukup memadahi dan tersedia di dekat area berkemah meskipun kondisinya kurang terawat. Air bersih mengalir tiada henti dan cukup dingin. Maklum air asli pegunungan. Sueger Bro… tapi bikin males mandi.

Selama di lokasi kami memang tidak berencana untuk kemana-mana selain hanya berdiam di diri di tenda sambil menikmati indahnya alam dan sejuknya udara pegunungan. Beruntung malam itu bersamaan dengan anak-anak pramuka yang sedang pesta api unggun sambil beratraksi spontanitas. Jadi teringat waktu masih pake seragam Bantara. Lumayan ada hiburan gratis sambil ngopi, makan mie rebus dan ubi bakar hasil beli di warung dekat camping ground. Malamnya kami tertidur dengan nyenyak. Keesokan paginya saya cukup kaget karena lokasi kemah yang tadinya pengunjungnya tidak terlalu banyak tiba-tiba membludak. Rupanya banyak pengunjung lain yang baru tiba di malam hari dan bermalam di sana.

Setelah makan pagi hasil olahan sendiri, kami berkemas dan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumah.  Tidak lupa membeli oleh-oleh buah-buahan dan makanan ringan khas Trawas yang tersedia di jalur perjalanan pulang. Karena masih terlalu pagi untuk pulang dan semuanya juga belum mandi, kami menyempatkan diri untuk berenang sebentar di Kolam Renang Warung Desa yang lokasinya juga berada di jalur perjalanan Trawas – Mojosari – Krian –  Surabaya. Semenjak itu sepertinya saya mulai ketagihan untuk camping lagi di tempat-tempat lain, bersama teman, saudara atau keluarga tentunya…