Daily Archives: March 10, 2015

Saat Kemakmuran Ternyata Belum Cukup

Beberapa waktu yang lalu saya menonton ‘Dragon Blade’, sebuah film mandarin yang dibintangi dua aktor populer dari timur dan barat yaitu Jacky Chan dan John Cussack. Jacky Chan berperan sebagai Hou An, seorang Komandan Pasukan Penjaga Jalur Sutra, sedangkan John Cussack berperan sebagai Lucius, seorang Komandan Legion Pasukan Romawi yang bersama-sama pasukannya sedang terkucil dari negaranya karena membela dan mengawal salah seorang Bangsawan Romawi.

Film itu bercerita tentang sebuah jalinan kerjasama dan kekompakan yang ditunjukkan oleh para tawanan yang berasal dari bangsa-bangsa di sepanjang jalur sutra termasuk di dalamnya Hou An dan anak buahnya yang juga ikut menjadi tawanan karena dijebak oleh musuh dalam selimut dalam sebuah kasus penyelundupan emas di negaranya. Kerja sama itu semakin mantap dengan kedatangan Lucius beserta pasukannya yang memiliki keunggulan di bidang keahlian teknik bangunan untuk turut serta membantu membangun benteng tersebut sehingga dapat terselesaikan sesuai waktu yang ditentukan. Tidak hanya membangun sebuah benteng, kerja sama itupun diwujudkan dalam pertempuran melawan pasukan musuh yang sedang mengejar rombongan pasukan Lucius. Berkat kemampuan soft leaderships dan semboyan ‘jadikan musuh sebagai teman’ Hou An akhirnya ditunjuk dan mendapat kepercayaan untuk memimpin seluruh pasukan koalisi.

Dari judulnya yang ‘mandarin banget’, tadinya saya menduga bahwa film itu paling-paling akan bercerita tentang dunia pendekar kungfu ala Kho Ping Ho lengkap dengan kesaktian senjata ‘Golok Naga’. Namun rupanya dugaan saya itu agak sedikit meleset. Setelah selesai menonton, dalam pandangan saya judul film itu rupanya tidak mewakili isi filmnya meskipun dalam beberapa adegan memang ditampilkan duel antara Komandan Hou An dan Komandan Legion Lucius menggunakan golok/pedang.

Dari judul itu saja saya lebih melihat adanya simbol-simbol dan isyarat-isyarat bermuatan politis yang ingin disampaikan oleh pemerintah China terutama jika dikaitkan dengan kebijakan dan manuver politik yang saat ini terjadi di kawasan Asia Pasifik khususnya Laut China Selatan. Apalagi jika melihat isinya, semua penuh dengan simbol-simbol tertentu contohnya kekaisaran Romawi dalam film tersebut yang bisa diartikan sebagai simbol “Eropa”, artis John Cussack sebagai simbol “Amerika”, dan jalur sutra sebagai simbol keinginan China untuk menjadikan sejarah masa lalu sebagai pijakan dan pertimbangan dalam menentukan kebijakan geopolitiknya di masa kini. Di akhir film seakan – akan ada sebuah pesan yang ingin disampaikan yang bunyinya “Mari kita sesama bangsa kita saling bekerja sama dan bahu membahu melawan musuh bersama, mari kita jadikan musuh sebagai teman, tapi bisakah anda memberi kesempatan kepada saya yang berkemampuan lebih ini untuk berdiri di depan memimpin anda semua?”

Nine Dash Line China terhadap peta Laut China Selatan adalah salah satu hal yang bisa dijadikan contoh tentang gambaran dari ambisi China untuk menjadi hegemon baru di Kawasan Asia Pasifik. Nine Dash Line dapat juga menjadi simbol lain dari keinginan China yang ingin menjajagi isi hati negara kawasan yang wilayahnya tersangkut paut dengan kebijakan itu. Sebuah kebijakan politik yang akhirnya membuat hubungan internasionalnya dengan para anggota ASEAN terganggu serta mampu memancing Sang Polisi Dunia yakni Amerika Serikat menggeser center of gravity kekuatan globalnya dari Timur Tengah menuju ke Asia Pasifik dalam rangka memberikan Balance of Power.

Di sisi lain kebijakan luar negeri suatu negara memang terkait erat dengan kepentingan dan cita-cita nasional suatu negara. Karena itu mengaitkan antara keinginan China yang sedang berusaha menancapkan pengaruh dan hegemoninya di kawasan Asia Pasifik dengan tujuan akhir demi kepentingan nasional dan kemakmuran negaranya juga bukan merupakan hal yang sepenuhnya salah. Bukankah Indonesia juga cita-cita nasionalnya adalah menjadi Negara yang Adil, Makmur dan Sentosa? Namun jika melihat situasi dan kondisi China yang sekarang ini telah menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia mengalahkan negara-negara lainnya sehingga berstatus sebagai negara dengan kemakmuran tertinggi di dunia, lalu motivasi apalagi yang melebihi tujuan tersebut sehingga harus mengganggu tetangga-tetangganya dan mengorbankan perdamaian yang selama ini ada?

Apakah kemakmuran itu dianggap belum cukup sehingga masih perlu teritori lain agar lebih menjamin keberlangsungan kemakmuran itu dalam waktu yang lebih lama apalagi jika dikaitkan dengan kepentingan terhadap Laut China Selatan yang menyimpan cadangan energi yang jumlahnya luar biasa besar?

Ataukah ada motivasi lainnya?

Bisakah itu diumpamakan seperti tokoh-tokoh di negeri ini yang telah memiliki status kemakmuran yang sangat tinggi karena memiliki kekayaan yang luar biasa namun tetap ingin mendirikan partai dan ingin menjadi pemimpin di negeri ini dengan menggunakan kekayaannya itu?

Lalu bagaimana dengan kondisi Indonesia yang konstelasi geografisnya tepat berada di tengah medan laga perebutan hegemoni itu?

Jika kita sadar dengan semua potensi konflik yang sewaktu-waktu bisa terjadi itu masihkah kita disibukkan dengan urusan-urusan remeh temeh sementara di sisi lain tanah yang kita injak, air yang kita minum dan udara yang kita hirup ini sedang menuju titik puncak kerawanannya?

Let’s Think……