Monthly Archives: July 2014

KLASIK

Dulu sewaktu saya masih SMA guru PMP saya pernah bertanya kepada para siswa. Pertanyaannya begini, tahukah kalian tahu apa itu artinya kata klasik? Serentak sebagian besar para murid pun menjawab ” kunooooo”. Setelah mendengar jawaban itu, guru PMP saya berkata bahwa jawaban itu tidak seluruhnya salah tapi juga kurang tepat. Benda yang dianggap kuno mungkin ada yang klasik, tapi benda berpredikat klasik bukanlah kuno.

Pak Guru mencontohkan sesuatu yang klasik di bidang fashion yaitu model dan warna seragam SMA yang kami pakai saat itu. Meskipun seragam berwarna abu-abu itu sudah lama ada dan sampai sekarang masih digunakan di sekolah-sekolah SMA, adakah di antara kita yang menganggap seragam itu kuno? Tidak ada bukan? Karena itu seragam SMA, SMP atau SD yang selama ini pernah kita atau anak-anak kita pakai itulah contoh dari sebuah model klasik. Sebuah model dan warna pakaian yang mungkin takkan pernah menjadi suatu trend adi busana, tapi juga takkan pernah ketinggalan zaman atau kuno. Hal yang sama mungkin berlalu untuk ‘kaos oblong’ atau ‘celana jean’.

Menurut kamus bahasa Indonesia online kata klasik memiliki arti sebagai berikut :

(1) mempunyai nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yg abadi; tertinggi;

(2) n karya sastra yg bernilai tinggi serta langgeng dan sering dijadikan tolok ukur atau karya susastra zaman kuno yg bernilai kekal;

(3) a bersifat spt seni klasik, yaitu sederhana, serasi, dan tidak berlebihan;

(4) a termasyhur krn bersejarah: bangunan — peninggalan zaman Sriwijaya itu akan dipugar;

(5) a tradisional dan indah (tt potongan pakaian, kesenian, dsb): pertunjukan tari-tarian Jawa –.

Secara harfiah, kata “klasik” itu sendiri menurut saya mungkin pengembangan dari kata “kelas” atau “class” yang memiliki kesamaan arti dengan ‘tingkat’ atau ‘hirarki’. Sesuatu berkelas berbeda perlu ditempatkan dalam ‘ruangan’ yang berbeda. Karena itulah sekolah menempatkan siswa-siswanya yang berbeda tingkat/kelas di dalam ‘ruang kelas’ yang berbeda pula.

Terkait dengan keterangan di atas, kenapa tiba-tiba saya tertarik dengan kata ‘klasik’? Seberapa tinggi nilai atau makna dari kata tersebut?

Jika kita amati segala sesuatu di sekitar yang pernah kita dengar, lihat dan rasakan, semuanya tak akan lepas dari faktor nilai keklasikan yang melekat padanya. Semakin klasik sesuatu, maka semakin lama dan abadi pula umurnya bahkan tak lekang oleh masa, waktu dan zaman dari generasi ke generasi. Demikian juga sebaliknya, semakin rendah nilai keklasikannya, maka semakin pendek umurnya, temporer dan semakin mudah pula untuk segera dilupakan orang. Hal itu tentu saja bersifat relatif tergantung dari individu masing-masing.

Berikut ini contoh tokoh-tokoh Indonesia yang menurut saya akan menjadi klasik dan tetap melegenda dari masa ke masa sampai generasi-generasi yang akan datang. Ini hanya beberapa contoh saja dan sifatnya pandangan pribadi penulis dan tentu saja bisa berbeda tergantung selera masing-masing.

1. Suara Tilawatil Quran Muammar ZA.

Sebagian besar umat muslim di Indonesia tentu sudah familiar dengan qori’ legendaris satu ini. Rekaman suara bacaan Al-Qurannya yang begitu merdu, syahdu dan menyentuh hati seluruh umat muslim yang mendengarnya telah jutaan kali dikumandangkan hampir di sebagian besar masjid-masjid di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sejak puluhan tahun lalu sampai sekarang tampaknya belum tampak ada tanda-tanda suara itu akan tergantikan oleh qori-qori masa kini.

2. Lagu dangdut/melayu Rhoma Irama.

Berjuta-juta lagu dangdut telah dicipta, diperdengarkan, menjadi populer lalu turun popularitasnya dan menghilang dari pasaran dan dilupakan. Hal itu rupanya tidak berlaku dengan lagu-lagu karya Pak Haji Rhoma Irama. Puluhan tahun yang lalu sejak lagu-lagu itu diciptakan, sampai saat ini lagu-lagu itu masih dianggap merdu didengar terutama oleh para penggemar musik dangdut. Lagu-lagu itu juga tak henti-hentinya di daur ulang dan dinyanyikan di mana-mana dalam berbagai versi. Sampai sekarang tampaknya belum juga ada tokoh sekelas Pak Haji yang mampu menggantikannya. Selain Rhoma Irama tentu saja masih banyak tokoh yang lain. Iwan Fals dengan lagu kemesraannya barangkali, atau Ebiet G Ade dengan lagu Berita Kepada Kawan mungkin.

Klasik adalah sebuah standar kualitas. Sebuah nilai kualitas baku yang bisa diterima oleh sebagian besar manusia sesuai panca indra masing-masing. Karena itu untuk menghasilkan sebuah keklasikan memerlukan sebuah proses dan hanya waktu yang bisa menguji pembuktian kualitasnya. Dari beberapa contoh di atas tentu kita dapat pula memberikan contoh para tokoh lain yang akan melegenda berdasarkan nilai keklasikan yang mereka miliki. Semua bisa didapatkan dari pengamatan kita terhadap apa yang kita dengar, lihat dan rasakan di sekitar kita.

Dari contoh-contoh keklasikan tokoh-tokoh legenda suara di atas setidaknya kita juga bisa mengambil suatu pelajaran bahwa untuk menghasilkan kualitas seperti itu tidak bisa didapatkan dalam waktu singkat apalagi dengan cara-cara instan seperti yang terjadi pada ajang-ajang pencarian bakat yang selama ini sudah sering kita lihat di televisi. Acara-acara seperti itu mungkin akan sekejap mata memunculkan artis-artis karbitan yang langsung populer dan dipuja di mana-mana, namun setelah itu nama dan karyanyapun akan segera dilupakan. Hukum alam akan selalu berlaku, sesuatu yang terlalu drastis naiknya akan juga cepat turunnya.

Bagaimana halnya contoh keklasikan yang berkaitan dengan masalah politik? Kita baru saja merayakan pesta demokrasi dan memilih pemimpin negeri ini. Adakah tokoh-tokoh yang menurut anda terlalu instan untuk menjadi pemimpin?. Akankah tokoh yang kita pilih itu bakal menjadi Tokoh Klasik yang tertulis dengan tinta emas sepanjang zaman karena kepemimpinannya atau hanya temporer saja?

Kita telah menentukan pilihan berdasarkan pikiran dan naluri kita masing masing. Tepat atau tidak pilihan itu jelas langsung atau tidak akan berpengaruh terhadap hidup kita dan anak cucu kita di masa depan. Kita tidak bisa mengubah masa lalu sambil menyesali hasil yang telah ada di masa kini, namun kita bisa mengubah masa kini untuk mengubah masa depan…

So, apapun pilihannya… ‘Enjoy The Journey, Not The Destination, because Every Destination is a Start Point to a New Journey… til We Die…

Dan BTW apakah artikel ini memiliki nilai klasik? Silahkan baca kembali 20 tahun yang akan datang untuk mengetahuinya…

Birokrasi “mbulet” Dunia Pendidikan Kita.

Mr. Choro : “Assalamu Alaikum Pak Bos, apa kabar?”.

Pak Bos : ” Wassalamu Alaikum Cho, saya baik-baik saja, sebaliknya gimana?”

Mr. Choro : “Baik Bos, Bos bos….”

Pak Bos : “Ya Cho, ada apa?”

Mr. Choro : “Boleh pinjem duitnya”.

Pak Bos : “Buat apa Cho”.

Mr. Choro : “Biaya uang pangkal anak sekolah Bos, lagi mau masuk SMP nih…”.

Pak Bos : “Berapa?”

Mr. Choro : “Sepuluh juta Bos”.

Pak Bos : “Gile lu Cho, anakmu itu mau masuk SMP atau mau kuliah kok bayarnya segitu. Lagi pula bukannya sekolah SMP negeri sekarang ini sudah gratis, jangan-jangan uangnya mau kamu pake buat macem-macem ya?”

Mr. Choro : “Ah Pak Bos ini bawaannya Suudzon aja, beneran ini Bos… mau dipake buat bayar sekolah. Lha wong anak saya masuk SMP swasta, tentu saja pake bayar.”

Pak Bos : “Trus kenapa gak kamu masukkan ke SMP negeri saja?”

Mr. Choro : “Itulah Bos, anak saya susah masuk SMP negeri karena sekolah negeri zaman sekarang, jika bukan bukan warga setempat alias KTP luar kota, kuotanya cuma satu persen. Jadi kalau jumlah siswa yang diterima 200 orang maka hanya 2 orang luar kota yang bisa masuk. Jadi pesimis deh saya. Makanya saya masukkan sekolah swasta saja”.

Pak Bos : “Salah sendiri kenapa kamu tidak mengurus administrasi kependudukan, Cho. Kenapa tidak bikin KTP baru di tempat kamu tinggal? Kalau kamu punya KTP setempat kan tidak perlu pusing-pusing mikirin biaya sekolah tho”

Mr. Choro : “Di situlah masalahnya, Pak Bos kan tahu saya ini kerjanya pindah-pindah. Kadang setahun kadang dua tahun udah pindah ke tempat baru. Lha kalau tiap tahun saya harus menghadapi birokrasi cabut berkas dari kota lama ke kota yang baru hanya sebagai syarat bikin KTP, betapa rumitnya hidup ini… Pak Bos kira pindah KTP itu mudah seperti ganti akun facebook apa?”

Saya itu kadang-kadang heran, perasaan masuk SMP zaman saya dulu gak serumit seperti sekarang deh. Dulu saya kan SMPnya juga jauh dari tempat tinggal orang tua. Saya waktu daftar SMP kok gak pake syarat macem-macem. Didaftarin sama wali saya langsung masuk gitu aja. Sekarang ini kok pake syarat ini itu segala macem. Pendidikan kita ini sepertinya bukannya semakin maju malah semakin mundur. Apa mereka yang bikin aturan itu dulu waktu masuk SMP juga mendapat perlakukan seperti sekarang?”.

Pak Bos : “Kamu jangan egois hanya memandang dari satu sisi saja Cho, coba sekali-kali melihat dari sisi yang lain. Kebijakan dan aturan itu dilakukan kan untuk melindungi calon siswa lokal agar tidak tergeser oleh calon-calon siswa yang berasal dari dari luar kota. Kalau mereka yang dari luar kota dibebaskan untuk masuk sekolah di suatu kota, nantinya dikhawatirkan justru malah siswa ber-KTP di tempat sekolah itu berada yang tidak kebagian tempat. Dan itu pasti akan mendapat protes dari penduduk lokal. Semuanya pasti sudah dipikirkan dan diperhitungkan masak-masak”.

Mr. Choro : “Okelah Bos kalau alasannya begitu, sekarang pertanyaannya kenapa orang luar kota kok sekolahnya tidak di tempat mereka. Kenapa harus menyeberang ke kota lain?”

Pak Bos : “Ya sudah bukan rahasia umum kalau sekolah di kota-kota besar itu dianggap mutunya lebih baik. Makanya orang tua siswa ingin anak-anak mereka bersekolah di sana. Jika tidak dibuat aturan seperti itu, ya itu tadi akibatnya… seperti yang saya bilang tadi”.

Mr. Choro : “Sekolah SD dan SMP itu kan pendidikan dasar yang berfungsi untuk membekali kemampuan umum dan esensial terhadap anak-anak kita. Bukan sekolah spesialis untuk mencetak insinyur atau dokter. Standarnya kan seharusnya relatif sama, sepadan dan setingkat di seluruh tempat di negeri ini Bos. Kok pake ada istilah mutu dan nggak mutu itu gimana to Bos… yang mutu dan gak mutu itu apanya?”

Pak Bos : “Lha kalau memang itu kenyataan yang terjadi sekarang mau gimana lagi Cho, jangankan SD dan SMP, sekolah Paud atau TK aja sekarang sudah saling berebut status sebagai sekolah favorit. Buat ngajar anak SD aja sekarang harus sarjana lho…kalau zaman dahulu kan SPG aja sudah dianggap mumpuni, tuntutan zaman Cho….”

Mr. Choro : “Wah udah nggak bener itu Bos. Negara kita dalam bahaya kalau untuk pendidikan dasar saja kita sudah pake birokrasi mbulet kayak begini”.

Pak Bos : “Lalu menurut analisamu kenapa semua itu bisa terjadi?”

Mr. Choro : “Sekarang begini Bos, kita ini kan katanya menganut pendidikan dasar wajib sembilan tahun. Pendidikan dasar 9 tahun menjadi standar kemampuan terendah yang harus dimiliki oleh seluruh rakyat tidak peduli apapun statusnya dan dari manapun asalnya. Jadi sekolah SD dan SMP itu wajib disediakan oleh negara untuk anak-anak kita. Karena wajib, maka negara juga harus membiayai semua tanpa syarat apapun. Jangankan mereka yang hanya punya KTP luar kota. Kalau perlu mereka yang tidak berKTP dan hidup di jalanan pun wajib hukumnya untuk disekolahkan tanpa embel-embel dan syarat apapun. Semua itu demi mencerdaskan rakyat yang akan sangat menentukan nasib bangsa ini di masa depan kelak.

Jika kenyataan yang ada sekarang masih ada birokrasi yang menghambat pelaksanaan wajib belajar itu, semua itu berpangkal dari akibat tidak meratanya keadilan di seluruh negeri. Jika keadilan dan kemakmuran telah merata, saya yakin semua sekolah penyedia pendidikan dasar di semua tempat akan memiliki tingkat kualitas yang sama dan sederajat. Kalau itu terjadi takkan ada lagi orang luar kota yang berbondong-bondong mencari sekolah di kota lain karena sekolah di tempat mereka telah menyediakan pendidikan yang tidak kalah mutunya.”

Pak Bos : “Trus, bagaimana supaya bisa mewujudkan keadilan dan kemakmuran yang merata itu Cho?”

Mr. Choro : “Mari kita serahkan kepada calon Presiden kita yang akan datang Bos, kita kan sebentar lagi akan memiliki calon pemimpin baru. Biar mereka yang memikirkan. Rakyat jelata kayak saya ini mikirnya cukup sampai bagaimana anak sekolah lancar aja….”.

Pak Bos : “Bagus Cho, ngomong-ngomong pinjem duitnya jadi gak?”

Mr. Choro : “Jadi dong Bos, bolehkan?”

Pak Bos : “Sik Cho… tak pikirnya dulu, kamu itu orangnya kalau pinjem berpotensi mengembalikan apa ndak he he…. ?”.

Mr. Choro : “Terlalu Pak Bos ini… rek…”

Surah Ar Rahman

Pada bulan puasa ini saya mencoba membuat bacaan Islami dan postingan kali ini adalah Surah Arrahman. Keutamaan-keutamaan surat ini silakan googling. Silahkan mengunduh atau sekadar membaca secara online bagi siapa saja yang membutuhkan.

Download (PDF, 5.85MB)

Untuk baca online silakan klik LINK INI (issuu.com)

atau

LINK INI