Monthly Archives: June 2014

Hitam-Putih, Adam-Hawa

Sebagian besar penganut agama Samawi/Abrahamik (Islam, Kristen dan Yahudi) tentu percaya dengan keberadaan dan Adam dan Hawa, bapak dan ibu seluruh umat manusia meskipun teori Darwin juga menyatakan bahwa manusia adalah hasil dari keturunan kera yang berevolusi akibat seleksi alam,

Bagi kita yang percaya tentang keberadaan Adam dan Hawa, pernahkah kita ada rasa penasaran tentang bagaimana rupa Bapak dan Ibu kita itu? Bagaimana bentuk anatomi tubuh, ciri-ciri fisik, warna kulit dan dan ciri-ciri lain dari rupa mereka?

Benarkah rupa fisik Ayah Ibu kita seperti tampak dalam ilustrasi-ilustrasi yang selama ini pernah kita kita lihat, seperti contoh-contoh lukisan berikut ini? (Maaf… ini bukan porno, gunakan sebagai media pembelajaran)

Adam-and-Eve.jpg

adam_hawa_pophjon_kuldi.jpg

t17334-adam-and-eve-tintoretto.jpg

Apakah penggambaran Adam dan Hawa di atas sesuai dengan Ilmu Pengetahuan Modern? Mari kita bahas satu-persatu.

Kita dapat mengetahui masa lalu dari apa yang ada dan terjadi di masa kini. Pada pelajaran Biologi SMA, mereka yang mengambil jurusan IPA tentu pernah belajar tentang hukum persilangan genetika ala Biarawan Mendel dan sifat-sifat yang diwariskan kepada keturunannya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa menurut Mendel, sifat-sifat yang dimiliki oleh keturunan makhluk hidup tidak akan terlalu jauh menyimpang dari Induk jantan dan betina mereka, kecuali karena adanya kelainan atau mutasi genetis.

image_thumb_17_.png

Karena itu  dapat disimpulkan bahwa penggambaran sifat-sifat fisik Adam dan Hawa seperti terlihat di atas jelas bertentangan dengan hukum yang ada di Ilmu Biologi itu. Penggambaran Adam dan Hawa seperti di atas menurut saya cenderung karena imajinasi pelukisnya yang mungkin karena ia adalah seorang ‘bule’.

Setelah menyaksikan lukisan di atas sambil mengingat kembali pelajaran biologi SMA, setidaknya ada beberapa hal yang mungkin patut kita pikirkan dan tanyakan. Seandainya rupa fisik Adam dan Hawa adalah ‘bule’ seperti di atas, bukankah seharusnya rupa fisik kita sekarang juga tidak jauh berbeda dengan rupa Ibu dan Bapak kita itu? Bukankah seharusnya seluruh manusia sekarang bersifat fisik ‘bule’ seperti mereka?

Lalu mengapa kenyataan yang ada sekarang berbeda? Mengapa manusia sekarang sebagai keturunan Adam dan Hawa memiliki sifat-sifat yang bervariasi dan beraneka ragam? Mengapa kita saat ini ada yang berkulit hitam, setengah hitam, sawo matang, setengah putih, putih. Ada yang rambutnya keriting dan lurus, ada yang matanya sipit dan tidak, ada yang berbibir tebal dan tipis dan lain sebagainya?

Bagaimana jika dilihat dari segi agama? Adakah keterangan di dalam agama/kitab suci yang dapat dijadikan petunjuk namun juga sesuai dengan ilmu pengetahuan modern?
Sebagai muslim, saya tidak tahu gambaran Adam dan Hawa menurut agama selain Islam. Karena itu pada artikel kali ini saya hanya ingin mencoba menjelaskan bagaimana rupa Adam dan Hawa berdasarkan petunjuk yang ada dari kitab suci yang saya yakini yaitu Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW.

Di dalam kitab suci Alquran memang tidak secara spesifik menjelaskan bagaimana rupa Adam dan Hawa, namun demikian ada ayat-ayat tertentu yang menjelaskan secara cukup jelas tentang bagaimana rupa Bapak dan Ibu moyang kita itu. Hasilnya juga menakjubkan karena memang tidak bertentangan dengan ilmu biologi yang pernah kita pelajari. Mari kita bahas satu persatu.

1. Segala ciptaan asal muasalnya adalah berpasangan.

Sebelum kita membahas tentang rupa Adam Hawa, ada baiknya terlebih dahulu kita mendalami ayat Al Quran yang menjelaskan bahwa asal muasal makhluk di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Dalil-dalil tersebut antara lain sebagai berikut :

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (QS. Az-Dzaariyaat : 49)

“Dan Dia telah menurunkan dari langit air maka Kami keluarkan dengannya berpasang-pasangan dari tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam (warna dan rasa)” (QS.Thaahaa : 53)
“Dan dari segala buah-buahan Dia menjadikan padanya berpasang-pasang dua” (QS.Ar-Ra’d : 3)

¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.¨(QS. Yaa Siin:36).

‘Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” (QS. An Nahl :72).

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syuro:11)”

Kata ‘BERPASANGAN’ menjadi kata kunci dari dalil-dalil tersebut di atas, karena itu mari kita fokus pada kata penuh makna tersebut.  Dua benda dikatakan berpasangan bukan berarti karena kembar, melainkan karena memiliki sifat dan karakter yang meskipun berlawanan, namun saling menyatukan, menggenapi dan melengkapi satu sama lain agar tercapai harmoni, keselarasan dan keseimbangan alam. Contoh-contoh pasangan misalnya ada angka Nol-Satu (bilangan biner), ada Hitam-Putih (warna), ada Bass-Treble (untuk frekuensi nada/suara), ada Aksi-Reaksi (gaya), ada Gelap-Terang (cahaya), ada Jantan-Betina (jenis kelamin), ada kutub Positif-Negatif (magnet/listrik), ada Mangsa-Predator (rantai makanan), ada Yin-Yang (filosofi Tiongkok) dan tentu saja masih banyak contoh pasangan-pasangan lain yang jika dirunut lagi semua pasangan-pasangan itu akhirnya menjadi sebuah pasangan utama dari sifat keILAHIan, hanya levelnya pada tingkat ciptaan, yakni ADA TIADA, HIDUP MATI.

Jika kita perhatikan, semua yang tampak berwarna-warni sebenarnya asal muasalnya adalah pasangan. Contohnya apa yang kita lihat berwarna-warni pada cahaya pelangi sebenarnya berasal dari dua pasang warna cahaya yaitu terang – gelap (additif) atau hitam – putih (substraktif) cahaya matahari yang setelah dibiaskan oleh titik hujan atau kaca prisma (Saya tidak tahu apakah karena hal tersebut maka simbol ‘One-eye/matahari’ dan ‘piramida/prisma’ dijadikan sebagai simbol/logo oleh kaum Freemasonry atau Illuminati).

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagai asal muasal nenek moyang manusia yang hidup di muka bumi yaitu Adam dan Hawa semestinya adalah dua manusia yang memiliki sifat dan karakter yang berpasangan agar menghasilkan keturunan yang bervariasi seperti sekarang. Jika kita memperhatikan lagi lukisan Adam dan Hawa di atas, maka jelas dapat disimpulkan bahwa pasangan dari sifat-sifat ras manusia tidak tampak di sana, kecuali hanya pasangan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan).

2. Warna Kulit Adam dan Hawa.

Sepanjang sejarah warna kulit telah dijadikan sebagai elemen ‘pembeda’ ras utama bagi manusia. Selama itu pula jutaan jiwa manusia melayang sia-sia akibat kekonyolan dan sikap rasis yang tidak jelas apa untungnya itu. Karena itu warna kulit menjadi sifat utama yang perlu diketahui terlebih dahulu sebelum sifat-sifat yang lain. Jika kita telah mengetahui warna kulitnya, ciri-ciri tubuh yang lain Insya Allah lebih mudah kita prediksi.

Untuk menghasilkan variasi warna kulit seperti sekarang, Adam dan Hawa seharusnya memiliki warna kulit yang berlawanan namun berpasangan. Kulit hitam dan putih menjadi pasangan yang paling masuk akal yang selama ini kita kenal. Tentu saja warna hitam dan putih di sini bukan seperti definisi warna-warna ala kode heksadesimal di bahasa HTML/web, apalagi kode RGB atau CMYK di ilmu desain grafis, melainkan sesuai persepsi mata kita tentang warna hitam-putih pada kulit manusia.

Jika demikian lalu di antara mereka berdua siapa berkulit putih dan siapa yang hitam?

Mari kita perhatikan ayat Al-Quran dan hadits berikut ini.

“Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah (32) : 7)

“Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur HITAM yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr (15) : 26)

Dari beberapa dalil di atas ada dua hal pokok terkait dengan bahan-bahan untuk penciptaan manusia pertama yakni Adam yaitu tanah dan hitam. Berdasarkan ayat tersebut kita tidak perlu menafsirkan terlalu dalam untuk menyimpulkan bahwa jika bahan-bahan untuk penciptaan Adam adalah tanah liat kering yang berasal dari lumpur HITAM. Karena itu bukankah pilihan warna paling masuk akal untuk melukiskan warna kulit Adam adalah warna hitam (warna hitam tanah liat seperti ras negro) dibandingkan dengan warna lainnya? Akal kita tentu lebih menerima warna hitam dari pada warna putih untuk sesuatu yang dibuat dari bahan yang berwarna hitam. Karena itu jelaslah bahwa Adam seharusnya berkulit hitam, dan bukan seperti terlukis dalam ilustrasi di atas.

Bagaimana dengan warna kulit Hawa?Karena warna kulit Adam sudah ketemu, tentu saja warna  kulit hawa adalah kebalikan dari hitam alias pasangannya yaitu warna putih. Benarkah itu dan kalau putih seputih apa?

Perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut: “Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR. Bukhari-Muslim)

Seandainya pun  hadits itu tidak disebutkan, sebenarnya kita semua tentu sudah familiar bahwa wanita pertama alias Hawa adalah tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Karena terbuat dari tulang, maka entah secara tersurat atau tersirat tentu dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat Hawa juga takkan jauh dari bahan pembuatnya, yakni tulang. Jika demikian apa warna kulit Hawa? Sesuai dengan warna tulang bukan? Adakah tulang yang berwarna  selain putih?

3.  Ciri-ciri lainnya.

Di dalam hukum Mendel juga mengenal dominansi sifat. Yaitu sifat-sifat tertentu menjadi dominansi gen tertentu. Jika warna kulit Adam dan  Hawa sudah diketahui maka sifat-sifat lainnya dapat dicari. Kita tinggal mencari sifat-sifat pasangannya. Contohnya sifat rambut. Jika ada dua macam jenis rambut yaitu lurus dan keriting, maka kita tinggal lihat kondisi sekarang. Siapakah yang dominan memiliki rambut keriting? Mereka yang berkulit hitam ataukah yang berkulit putih? Contoh lainnya adalah pasangan untuk mata bundar dan sipit. Siapakah yang dominan memiliki mata sipit? Mereka yang berkulit hitam ataukah yang berkulit putih? Hal tersebut juga berlaku untuk sifat-sifat lainnya. misalnya tubuh tinggi atau tidak tinggi, rambut pirang atau hitam, hidung mancung atau lengkung, bibir tebal atau tipis, dan sifat-sifat lainnya.

Jika kita sudah dapat mengelompokkan sifat-sifat itu maka hasil akhirnya kita dapat menentukan bagaimana ciri-ciri Adam dan Hawa dan sifat-sifat pasangan mereka serta dapat juga mengetahui bangsa mana di dunia ini yang cederung memiliki sifat fisik mirip dengan bapak moyang kita kita, bangsa mana yang cenderung memiliki sifat fisik mirip dengan ibu moyang mereka dan siapa yang memiliki keduanya.

EPILOG.

Adakah pelajaran yang dapat diambil dari artikel di atas seandainya itu benar? Mungkin tidak banyak. Tapi jika kenyataan itu benar adanya dan seandainya seluruh manusia di muka bumi ini menyadari bahwa kita adalah keturunan dari ibu dan ayah yang sama apapun rasnya, kita mungkin akan lebih merasa sebagai satu saudara. Takkan ada lagi bangsa atau golongan tertentu yang mengklaim sebagai pemilik ras lebih unggul daripada manusia atau bangsa lainnya. Tak ada lagi perang dunia yang disebabkan oleh mereka yang merasa memiliki ras lebih hebat dari yang lain seperti yang telah terjadi di masa lalu dan menjadi cikal bakal dua  perang dunia. Dengan kesadaran itu semua manusia dari berbagai bangsa dan golongan tak peduli ras apapun akan saling bantu-membantu, berbagi,  tolong menolong, toleransi di dalam semua perbedaan yang ada. Karena pada hakekatnya kita adalah satu saudara seayah dan seibu, Adam dan Hawa…

Wallahu Alam Bissawab…

Kemping Keluarga di Dlundung – Trawas Jatim.

IMG_0014.JPG

IMG_0044.JPG

Berkemah, camping atau kemping adalah hoby saya sewaktu masih remaja terutama saat masih SMA dan menjadi anggota Pramuka. Kegiatan itu biasa saya lakukan bersama kawan-kawan satu sekolah saat ada acara Pramuka atau sekadar mengisi liburan. Saat-saat itulah kami bisa menikmati keindahan alam sambil bercanda, tertawa, dan bercerita tentang apa saja. Sungguh suatu momen berlibur yang murah meriah namun sangat berkesan.

Setelah berkeluarga dan beranak-pinak (kayak kelinci aja wkwkwk), aktivitas tersebut tak pernah lagi saya lakukan. Waktu yang ada sebagian besar telah habis karena kesibukan, pekerjaan dan hal-hal lainnya. Pernah ada niat dan keinginan untuk mengulang momen-momen indah itu kembali, yakni mengundang dan mengajak kawan-kawan lama untuk camping di suatu tempat. Namun hal itu lama-kelamaan ternyata semakin sulit terlaksana. Apalagi kami sudah menyebar ke segala penjuru sesuai dengan pekerjaan dan profesi masing-masing.

Pada suatu hari, niat dan keinginan untuk berkemah atau camping muncul kembali. Alih-alih bersama kawan-kawan, saya mengajak seluruh keluarga untuk ikut serta. Niatnya ingin sekadar bernostalgia mengingat masa lalu sambil mengajari anak-anak agar lebih dekat dan mencintai alam.

Persiapan pun dimulai. Beruntunglah kita sekarang kita hidup di era Internet dimana segala informasi yang kita butuhkan bisa didapat dalam sekejap mata. Setelah browsing sana sini mencari informasi tentang camping ground yang cocok untuk keluarga (tempatnya tidak terlalu sepi, dekat dengan tempat parkir mobil, dekat dengan sumber air/MCK, akses tidak terlalu jauh dari peradaban) akhirnya pilihan jatuh kepada camping ground dekat wisata air terjun Dlundung-Trawas, Kab Mojokerto. Perjalanan ke sana juga tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu kurang lebih dua jam.

Persiapan awal adalah membuat check list kebutuhan dan perlengkapan yang harus dibawa, antara :

1. Tenda.

Tenda tentu saja adalah peralatan utama yang harus ada jika mau kemping. Ada dua pilihan. Sewa atau beli. Pernah terpikir untuk sewa saja karena tarifnya juga cukup murah, yaitu berkisar antara 15 sampai dengan 40 ribu per hari. Bahkan di camping ground tersebut juga tersedia penyewaan tenda. Didasari berbagai pertimbangan akhirnya saya memutuskan untuk beli saja. Toh bisa digunakan untuk camping lagi di lain waktu.

Mencari tenda ternyata tidak semudah yang dikira. Beberapa situs penjual tenda di internet yang saya temui tidak dapat dihubungi ataupun kalau bisa ternyata banyak yang sudah kehabisan stok. Setelah beberapa hari mencari akhirnya ketemu juga tempat jual tenda di daerah Pandegiling Surabaya. Harganyapun relatif lebih murah dibandingkan di tempat lain. Tenda yang saya beli berjenis Dome/Keong berbahan parasit ukuran 2 X 2 meter. Sudah ada alasnya tidak seperti tenda segitiga ala zaman saya pramuka dulu. Harganya lumayan terjangkau, hanya 350 ribu rupiah. Sebagai perbandingan, dengan ukuran kurang lebih sama tapi lain merk saya lihat harganya berkisar antara 450 ribu sampai 600 ribu rupiah.

2. Perlengkapan tenda:

        a. Lampu LED (bisa diganti dengan lampu teplok minyak tanah bila ingin benar-benar alami).

        b. Senter.

        c. Tali temali.

        e. Tikar/Karpet/Selimut.

        f. Bantal.

        g. Kantung tidur.

        h. Pisau set/lipat

        i.  Dll

3.Peralatan Masak :

        a. Kompor Lapangan (bisa diganti dengan tungku kayu bakar jika memang ingin benar-benar alami).

        b. Minyak Tanah.

        c. Tempat air (Ember/Jerigen).

        d. Kayu Bakar (Bisa bawa dari rumah atau beli di lokasi camping)

        e. Tempat bakaran barbecue (optional barangkali mau bakar sate atau ikan)

        f. Korek Api.

        g. Panci.

        h. Penggorengan.

        i. Sendok Sayur/sendok penggorengan

        j. Dll

4. Peralatan MCK.

        a. Sabun.

        b. Shampoo.

        c. Sikat Gigi

        d. Pasta Gigi

        e. Tissue.

        f. Gayung.

        g. Sandal Jepit.

        h. Ember (optional)

        i. Sisir

        j. Alat Kosmetik.

        k. Sabun Cuci.

        i. Dan lain-lain sesuai kebutuhan

5. Pakaian Cadangan.

        a. Sarung tangan (Untuk daerah dingin)

        b. Topi/kerpus/tutup kepala (untuk daerah dingin)

        c. Kaos Kaki cadangan.

        d. Celana dan Kaos Cadangan.

        e. Jaket.

        f. Dll

6. Bahan Makanan dan Minuman

        a. Gula.

        b. Kopi.

        c. Teh.

        d. Garam.

        e. Air Putih (di Galon atau Jerigen).

        f. Bumbu Dapur (sesuai kebutuhan)

        g. Mie Instan.

        h. Dll

7. Peralatan Makan.

        a. Piring/mangkuk

        b. Sendok/Garpu

8. Peralatan Shalat (Bagi Muslim)

        a. Sarung

        b. Peci.

        c. Sajadah.

        e. Mukena/ Rukuh

        f. Tasbih

        g. Dll

9. Obat-obatan ringan (sesuai kebutuhan):

        a. Lotion anti nyamuk (jika lokasi camping banyak nyamuk).

        b. Obat Anti masuk angin.

        c. Seperangkat P3K.

        d. Dll

10. Peralatan Komunikasi :

        a. Handphone.

        b. Headset.

        c. Charger/Power Bank

        d. Dll

11. Peralatan dan bahan-bahan lain yang menurut anda perlu.

Check List kebutuhan di atas silahkan digunakan sebagai bahan referensi. Semua barang yang perlu dibawa tentu tetap menyesuaikan kebutuhan dan pertimbangan masing-masing misalnya jumlah anggota yang ikut, sarana transportasi yang digunakan (mobil pribadi, sepeda motor, angkutan umum) serta hal-hal lainnya.

Setelah persiapan selesai, saatnya kami berangkat. Dari Surabaya saya memilih menempuh jalur Surabaya – Gempol – Pandaan – Trawas karena saya anggap lebih dekat. Kurang lebih pukul 14.00 kami tiba di lokasi. Tiba di pintu gerbang kami berlima hanya dikenai tiket untuk tiga orang masing-masing sepuluh ribu rupiah. Rupanya anak saya yang 7 dan 2 tahun tidak masuk hitungan. Tarif yang sangat masuk akal menurut saya.

Setelah survei lokasi sebentar, kami langsung mendirikan tenda. Ternyata sudah ada cukup banyak pengunjung lain yang juga camping di sana. Ada anggota pramuka SMK yang sedang Persami, serombongan anak-anak muda dari berbagai klub, keluarga-keluarga campingers seperti saya, bahkan ada juga beberapa pasang muda-mudi yang tampaknya juga bukan suami istri (entah orang tuanya tau apa nggak).

Terdapat beberapa blok camping ground di sana. Ada yang di dekat pintu masuk dan lainnya di dekat air terjun. Saya memilih yang dekat dengan pintu masuk karena dekat dengan parkir kendaraan. Tempatnya juga lumayan luas, sejuk dan asri dengan lahan sebagian besar tertutup rerumputan dan banyak pohon pinus tumbuh di sana sini. Tempat parkir mobil juga dekat. Bagi yang membawa sepeda motor bisa langsung parkir di dekat tenda. Di sekeliling camping ground tersedia warung-warung makan yang buka 24 jam. Jadi jangan khawatir kekurangan makan jika lupa tidak membawa bekal. Sarana MCK juga cukup memadahi dan tersedia di dekat area berkemah meskipun kondisinya kurang terawat. Air bersih mengalir tiada henti dan cukup dingin. Maklum air asli pegunungan. Sueger Bro… tapi bikin males mandi.

Selama di lokasi kami memang tidak berencana untuk kemana-mana selain hanya berdiam di diri di tenda sambil menikmati indahnya alam dan sejuknya udara pegunungan. Beruntung malam itu bersamaan dengan anak-anak pramuka yang sedang pesta api unggun sambil beratraksi spontanitas. Jadi teringat waktu masih pake seragam Bantara. Lumayan ada hiburan gratis sambil ngopi, makan mie rebus dan ubi bakar hasil beli di warung dekat camping ground. Malamnya kami tertidur dengan nyenyak. Keesokan paginya saya cukup kaget karena lokasi kemah yang tadinya pengunjungnya tidak terlalu banyak tiba-tiba membludak. Rupanya banyak pengunjung lain yang baru tiba di malam hari dan bermalam di sana.

Setelah makan pagi hasil olahan sendiri, kami berkemas dan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumah.  Tidak lupa membeli oleh-oleh buah-buahan dan makanan ringan khas Trawas yang tersedia di jalur perjalanan pulang. Karena masih terlalu pagi untuk pulang dan semuanya juga belum mandi, kami menyempatkan diri untuk berenang sebentar di Kolam Renang Warung Desa yang lokasinya juga berada di jalur perjalanan Trawas – Mojosari – Krian –  Surabaya. Semenjak itu sepertinya saya mulai ketagihan untuk camping lagi di tempat-tempat lain, bersama teman, saudara atau keluarga tentunya…