Merokok (atau tidak), Membunuhmu.

Peringatan : Merokok membunuhmu. Itulah bunyi tulisan di reklame-reklame iklan rokok yang tersebar di sudut-sudut kota di seluruh negeri. Sebuah iklan mengerikan yang seharusnya lebih dari cukup untuk membuat para perokok kapok, jera dan langsung berhenti seketika saat itu juga.

Ada beberapa hal yang cukup menarik untuk dibahas mengenai kalimat peringatan di iklan rokok tersebut. Dari segi tata bahasa, kalimat merokok membunuhmu menurut perasaan saya agak sedikit janggal dan kurang sesuai dengan kaidah tata bahasa yang baik dan benar.

Pak Thomas Guru Bahasa Indonesia saya pernah berkata bahwa kalimat Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah terdiri dari elemen lengkap yakni adanya subyek, predikat dan obyek. Kalau dalam ilmu nahwu shorof di pondok pesantren sebuah kalimat adalah susunan lafadh (kata-kata) yang tersusun dan terdiri dari isim (kata benda) dan fiil (kata kerja).

Coba kita perhatikan kembali kata merokok membunuhmu. Manakah kata yang berfungsi sebagai subyek? Apakah kata merokok? Pak Thomas guru Bahasa Indonesia saya kalau tidak salah juga pernah berkata bahwa awalan me- salah satu fungsinya adalah untuk menjadikan kata benda/kata sifat sebagai kata kerja, contohnya membatu, membumi, membiru, menghijau, dan lain-lainnya. Artinya kata merokok sebenarnya kata kerja yang merupakan penyingkat dari kata mengisap rokok. Lalu kenapa tidak ditulis saja rokok membunuhmu?. Saya yakin di antara kita ada yang berfikir,… rokok kok membunuh…

Terlepas dari benar atau salah kalimat di atas, yang penting kita sama-sama mengerti bahwa maksud kalimat itu adalah merokok dapat menyebabkan kematian, ya tho… Saya juga tidak ingin mengklaim diri bahwa pendapat dan analisa saya itu benar karena memang saya juga bukan ahli bahasa. Siapa tahu saya yang salah. Lebih baik tanyakan kepada ahlinya, salah satunya Pak Thomas Guru Bahasa Indonesia saya.

Hal selanjutnya yang ingin saya bahas adalah kalimat peringatan itu merupakan pengganti dari peringatan lain di iklan-iklan dan di bungkus rokok yang telah ada sebelumnya dan isinyapun sungguh tak kalah mengerikan yakni :

PERINGATAN PEMERINTAH: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.

Ada apa dengan peringatan di atas? Kenapa harus diganti? Apakah isinya kurang sangar? Adakah orang yang mau terserang penyakit-penyakit ganas era modern seperti kanker, serangan jantung, IMPOTEN, gangguan pada kehamilan istri atau gangguan pada bakal penerus generasi anda?

Jika penyakit dan kematian belum cukup ampuh juga untuk mengurangi jumlah perokok, lalu peringatan apa lagi yang perlu ditulis? Jangan-jangan di waktu yang akan datang peringatannya mungkin lebih meningkat lagi kesangarannya sehingga berbunyi/tertulis:

TANPA PERINGATAN LAGI : MEROKOK MEMBUAT ANDA MASUK NERAKAWow….

Digantinya peringatan anti rokok menjadi seperti sekarang menunjukkan bahwa peringatan sebelumnya tidak banyak pengaruhnya dalam mengurangi jumlah rokok dan perokok di Indonesia. Kenyataan yang ada Indonesia tetap menempati urutan terbesar nomor tiga di dunia dalam hal jumlah perokok, padahal jumlah penduduknya nomor empat terbesar di dunia. Bahkan peringatan itu akhirnya seperti meminum obat kurang dosis. Tidak mengobati penyakitnya tapi malah memperkebal kuman, bakteri atau virus penyebabnya.

Adanya peringatan bahaya merokok sesadis itu juga memberi kesan seolah-olah kita (baca : negara) sama sekali tidak membutuhkan rokok. Padahal jika dilihat dari sudut pandang lebih luas, betapa besar keuntungan yang telah kita ambil dari rokok, terutama dari aspek perekonomian negara dan masyarakat. Rokok telah menghasilkan manusia-manusia super kaya di Indonesia, meskipun ironisnya kekayaan mereka lebih banyak didapat dari golongan ekonomi lemah. Multiplier effect dari pabrik rokok juga telah menghidupi jutaan keluarga para karyawan pabrik rokok beserta keluarganya, petani tembakau, petani cengkeh dan para pedagang dari mulai kelas asongan sampai pemiliki supermarket, terutama di kota-kota yang perekonomiannya banyak didukung oleh pabrik rokok dan lahan tembakau. Dari rokok pula muncul para atlet-atlet berkelas dunia yang telah mengharumkan nama bangsa di mata internasional seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Susi Susanti dan lain-lainnya… 

Cukai dari rokok tiap tahun yang jumlahnya mencapai puluhan trilliun menjadi pendapatan negara yang dialokasikan untuk menggaji pegawai negeri, TNI dan Polri, pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur, pembelian dan perawatan alutsista pertahanan dan keamanan, pendukung sarana pendidikan dan kesehatan yang bahkan besar kemungkinan digunakan juga untuk biaya sosialisasi bahaya merokok oleh kementerian kesehatan.

Hal ironis lainnya adalah selama ini cukai rokok cenderung dijadikan sebagai senjata pamungkas untuk menutupi defisit anggaran negara. Kita membabi buta menyosialisasikan iklan larangan merokok tapi justru kita semakin menggantungkan diri darinya. Bagaimana rakyatnya tidak kecanduan rokok jika negaranya pun kecanduan cukai rokok? Bukankah itu artinya kita sedang menyiapkan lubang kubur kita sendiri? Paradox macam apa itu? Bayangkan seandainya seluruh orang Indonesia berhenti merokok? Dapatkah anda memperkirakan multiplier effect dan kekacauan apa yang mungkin akan terjadi?

Ada beberapa pertanyaan-pertanyaan lain di benak saya tentang iklan rokok di Indonesia :
Sebenarnya ada pengaruhnya atau tidak peringatan itu dalam mengurangi jumlah perokok di Indonesia? Kalaupun ada seberapa besar? Kalau tidak ada pengaruhnya mengapa bisa demikian? Metode apa sebenarnya yang paling ampuh untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas tentu bukan hal yang mudah. Karena itu tulisan ini bukan dimaksud untuk memberi solusi untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia, bukan pula untuk mendukung salah satu pihak baik perokok atau non perokok, namun hanya sekadar berbagi cerita, uneg-uneg dan pengalaman nyata dari orang yang pernah merasakan nikmatnya merokok dan tidak merokok. Saya hanya ingin mencoba menganalisa sebuah permasalahan dari sudut pandang diri saya sendiri berdasarkan apa yang pernah saya rasakan dan alami. Barangkali saja kita bisa menjadikannya sebagai pelajaran.

Selanjutnya ijinkan saya bercerita tentang diri saya sendiri mengenai rokok.
Saya menjadi perokok sudah tiga puluh tahun lebih lamanya. Saya menyadari itu bukanlah sebuah prestasi yang dapat dibanggakan. Sebagai seorang yang lahir di kota kretek yang ekonominya sebagian besar disokong oleh perusahaan rokok, sejak kecil bahkan sewaktu masih di bangku sekolah dasar, saya sudah mengenal dan merasakan rokok. Rokok bisa dengan mudah saya dapatkan dari hasil ngembat milik tetangga yang berprofesi sebagai karyawan pabrik rokok yang rutin mendapat jatah ‘rokok tidak untuk dijual’ dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Awalnya tentu saja hanya coba-coba. Sambil bersembunyi di kebun jangklong/ganyong (sejenis tumbuhan umbi-umbian yang bisa dimakan) sembari cekikikan dan bercerita jorok bersama teman-teman sepermainan dan jedhas-jedhis menghabiskan beberapa batang seminggu sampai akhirnya menjadi perokok aktif yang menghabiskan beberapa bungkus tiap hari.

Sejak usia remaja sebenarnya saya telah menyadari akan bahaya yang ditimbulkan akibat rokok. Peringatan bahaya seperti yang tercantum di semua bungkus rokok yang beredar di pasaran. Namun semua itu saya abaikan dan sama sekali tidak berpengaruh dalam mengurangi kebiasaan saya merokok.

Kenapa? Karena semua kalimat yang tercantum dalam peringatan itu begitu sulit dibuktikan, khususnya untuk diri saya sendiri. Di peringatan itu bilang rokok penyebab penyakit kanker dan jantung, kenyataannya saya sehat-sehat saja. Hal itu bisa dibuktikan dari status kesehatan saya hasil check up tiap enam bulan. Penyebab Impoten? Lha wong anak saya tiga. Gangguan kehamilan dan janin? Ketiga anak saya normal-normal saja kok. Teman saya yang seorang dokter di Semarang asik-asik saja merokok bareng-bareng dengan saya.

Kejadian selanjutnya, entah mendapat wangsit dari mana, beberapa minggu yang lalu sampai dengan artikel ini ditulis mendadak saya berniat dan memutuskan untuk berhenti merokok. Penyebabnya bukan karena apapun. Termasuk bukan karena terpengaruh oleh peringatan iklan yang ada seperti di atas. Tidak ada motivasi atau tendensi apapun. Tidak pula ada penyebab, maksud atau tujuan apapun. Saya berhenti merokok karena memang ingin berhenti saja.

Untuk mendukung niat dan keputusan tersebut saya memasang aplikasi quit smoking di android saya. Hasilnya sampai tulisan ini ditulis (11 hari) saya sudah menghemat sebanyak 235 batang rokok yang kalau dirupiahkan kira-kira sebesar 220 ribu rupiah.

Menurut keterangan dari aplikasi tersebut, level CO2 dan CO dalam darah saya sudah kembali normal seperti non perokok. Resiko kematian mendadak menjadi lebih rendah. Kepekaan indera perasa dan penciuman meningkat. Fungsi pernafasan kembali normal. Ketergantungan terhadap nikotin mulai hilang. Sirkulasi darah dan kelembaban kulit mengalami peningkatan, kerutan akibat penuaan dini juga berkurang. Intinya kondisi fisik sudah mulai membaik.

Hal yang langsung saya rasakan setelah berhenti merokok adalah adanya banyak perubahan dalam hidup. Semangat menjadi meningkat luar biasa. Saya menjadi mudah bangun pagi. Lari pagi menjadi lebih ringan, tidak lagi ngos-ngosan seperti dulu. Indera penciuman dan perasa menjadi lebih peka. Makan dan minum terasa jauh lebih nikmat. Dada terasa longgar dan lega. Meski demikian hal-hal tersebut di atas tidaklah cukup bagi saya untuk menyatakan diri sebagai orang yang telah bebas dari rokok. Karena memang baru sebentar saya berhenti. Karena itu pula rasanya belum pantas jika saya turut menjadi pihak yang menganjurkan orang lain untuk mengerjakan hal yang sama, yakni secara spontan berhenti merokok.

Merokok memang bukan kebutuhan hidup. Merokok hanya sebuah keinginan. Tanpa rokokpun sebenarnya kita masih bisa hidup normal, bahkan lebih normal. Sama halnya dengan handphone atau kendaraan. Meskipun itu bukan kebutuhan dasar hidup manusia, dengan perkembangan zaman dan situasi lingkungan yang ada sekarang ini dapatkah anda hidup tanpanya?

Jika kita berpikir jauh, maka memberantas rokok untuk rakyat seluruh negara tidak bisa dilakukan dengan spontan dan tiba-tiba seperti halnya saya berhenti merokok, melainkan harus secara bertahan dan pelahan agar tidak terjadi kekacauan. Semua harus diawali dulu dengan mengurangi dan menghilangkan ketergantungan anggaran negara terhadap cukai rokok, tersedianya berbagai lapangan pekerjaan lain yang dapat dijadikan sebagai alternatif lain untuk berganti profesi bagi karyawan pabrik rokok dan profesi lainnya, mencerdaskan kehidupan bangsa agar dapat mengisi waktu luang yang ada dengan hal-hal yang positif, terutama bagi kaum muda generasi penerus bangsa. Akhirnya kemakmuran bangsa menjadi kunci dari suksesnya mengurangi jumlah rokok dan perokok di Indonesia.

Tanpa itu semua, sebuah peringatan larangan merokok sesadis apapun hanya akan menjadi tulisan tanpa makna, sia-sia dan tanpa guna…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *