Daily Archives: March 19, 2014

Pak Gub Ingin Naik Level….

Foto: Status no : 0067  PAK GUB INGIN NAIK LEVEL....  Pak Bos :

Pak Bos : “Nggedebus kabeh!, nggak ada yang bisa dipercaya!, Teleeek telek….”.

Mr. Choro : “Pagi-pagi kok sudah sudah ngedumel gitu ada apa to Pak Bos”.

Pak Bos : “Politik di Indonesia ini memang nggak mutu Cho, katanya dulu nggak mikir, nggak mikir, nggak mikir copras capres… eee ternyata sama saja dengan yang lain, akhirnya nyapres juga”

Mr. Choro : “Maksud Pak Bos itu siapa?”

Pak Bos : “Chooo, cho, kayak kamu gak tahu saja”

Mr. Choro : “Oo… Pak Gub maksudnya? Kenapa kok Pak Bos bisa sewot begitu? Emang gak boleh apa pengin nyapres?”

Pak Bos : “Ya bolah boleh saja Cho… tapi yang namanya pemimpin itu kalau omongannya sudah tidak bisa dipegang apalagi yang lain?. Saya ini dulu pendukung Pak Gub. Waktu itu saya memilih dan mendukung beliau karena menaruh harapan besar akan bisa mengatasi segala persoalan kesemrawutan Jakarta sepeti kemacetan, banjir dan lain-lainnya. Lha sekarang baru seumur jagung menjabat, berbagai permasalahan dan persoalan yang harus diatasipun masih jauh dari beres, lha kok malah ditinggal pergi. Di mana tanggung jawabnya? Kalau hasil kerjanya kelihatan sih gak papa… Sekarang ini Jakarta masih jauh dari nyaman Cho…Jika mengurus hal yang kecil saja keteteran begitu apalagi negara Cho… Ini kayaknya nasib ratusan juta rakyat mau dibuat main-main…”

Mr. Choro : “Beliau nyapres itu kan bukan kehendak sendiri to Pak Bos, tapi kehendak rakyat banyak. Awalnya sih saya yakin niatnya pengin mengatasi persoalan Jakarta makanya ketika ditanya bilang nggak mikir… tapi lama kelamaan kalau didesak dan dibanjiri dukungan terus menerus dari sana sini ditambah lagi survei dimana-mana menempatkannya sebagai nomor satu calon Presiden terpilih, ya …. akhirnya mikir juga…

Bayangkan menjadi Presiden di Negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor empat se dunia, luas wilayah sebesar nirwana berjuluk zamrud khatulistiwa, siapa yang nggak kepengin. Peluang dan kesempatan tidak akan datang dua kali Boss…

Saya dulu kan sudah pernah bilang bahwa untuk mengatasi persoalan Jakarta itu hanya bisa diselesaikan oleh tokoh sekelas Presiden, makanya dari itu mungkin beliau berpikir hanya dengan menjadi presiden lah persoalan Jakarta bisa diselesaikan”.

Pak Bos : “Aku nggak mau mikir itu Cho… ini masalah integritas sebagai seorang pemimpin. Seorang yang seharusnya mampu mengukur dan menakar sejauh mana kemampuan dirinya sehingga memiliki komitmen dan keteguhan dan hati, kata dan perbuatan. Bukan semudah itu terpengaruh oleh iming-iming dan bujuk rayu dari siapapun.

Saya bukan berarti tidak setuju beliau mencalonkan diri sebagai Presiden. Tapi apakah harus secepat itu? Kenapa tidak menunggu minimal satu periode menjabat lah. Saya tidak percaya sesuatu yang instan. Lihatlah bagaimana nasib artis-artis yang lahir dari ajang kontes-kontesan itu…. Banyak yang sewaktu juara dielu-elukan sesaat tapi sekarang entah bagaimana kabar beritanya….

Saya sangat setuju dengan iklan kopi di tipi itu. Kualitas sejati teruji oleh waktu katanya….”

Mr. Choro : “Ya. Saya juga setuju dengan Pak Bos, prediksi masa depan bisa dilihat dari pola-pola yang terjadi di masa lalu dan kecenderungan-kecenderungan yang sedang terjadi. Saya berpendapat proses lahirnya pemimpin di tahun 2014 ini ada sedikit kemiripan dengan sepuluh tahun lalu. Makanya dibilang pesimis ya pesimis, dibilang optimis yang optimis aja. Tapi ya mau gimana lagi… Wong itu sudah kehendak rakyat. Suara rakyat katanya suara Tuhan, kalau ternyata di kemudian hari ternyata apa yang diimpi-impikan tidak kesampaian, ya silakan dirasakan dan ditanggung sendiri akibatnya…. mari kita lihat nanti, semoga saja tidak terjadi hal-hal yang buruk ya bos”.

Pak Bos : “Iyo cho, tapi ngomong-ngomong kamu dukung siapa Cho…?”

Mr. Choro : “Apa Bos…”

Pak Bos : “Pilpres ini kamu pilih siapa?”

Mr. Choro : ” Aku Bos?”

Pak Bos : “Iyo iyo…”

Mr. Choro : “Aku milih Presiden yang jadi alias yang terpilih saja Bos”.

Pak Bos : “Maksudmu piye to?”

Mr. Choro : “Ya saya akan selalu memilih dan mendukung Presiden yang sudah jadi dan terpilih secara sah. Sebagai rakyat, kita ini kan harus menghormati seorang pemimpin jika ingin juga dihormati saat jadi pemimpin. Peribahasa Jawanya ‘ngunduh wohing pakarti’. Artinya setiap orang akan memanen apa yang ia tanam, baik itu baik atau buruk.Saya mengamati mereka yang menjadi tukang menjelek-jelekkan pemimpinnya, jika menjadi pemimpin akan dijelek-jelekkan juga oleh yang rakyat yang dipimpinnya.

Lagi pula saya juga yakin semua calon itu semuanya naitnya baik. Tidak ada satupun yang berniat setelah jadi pemimpin ingin menyengsarakan rakyatnya. Semuanya ingin rakyatnya hidup adil, makmur dan sejahtera. Kalau ada calon presiden yang berniat rakyatnya sengsara saya yakin ia akan kualat tujuh turunan karena didoakan jelek oleh orang banyak.

Semua calon presiden pasti memiliki TUJUAN yang baik, VISI yang baik, END yang baik, Yang membedakan adalah HOW? CARA dan PROSES nya bagaimana? MISI nya bagaimana? WAYs nya bagaimana?

Berhasil atau gagal? Waktu yang akan membuktikannya…
Apakah pemimpin yang baru akan mengunduh hormat atau hujat? mari kita lihat nanti saja bagaimana ending drama kehidupan nyata berikutnya…

Pak Bos : “Rokoan dulu Cho”.

Mr. Choro : “Aku sudah berhenti merokok Bos…sory”

Merokok (atau tidak), Membunuhmu.

Peringatan : Merokok membunuhmu. Itulah bunyi tulisan di reklame-reklame iklan rokok yang tersebar di sudut-sudut kota di seluruh negeri. Sebuah iklan mengerikan yang seharusnya lebih dari cukup untuk membuat para perokok kapok, jera dan langsung berhenti seketika saat itu juga.

Ada beberapa hal yang cukup menarik untuk dibahas mengenai kalimat peringatan di iklan rokok tersebut. Dari segi tata bahasa, kalimat merokok membunuhmu menurut perasaan saya agak sedikit janggal dan kurang sesuai dengan kaidah tata bahasa yang baik dan benar.

Pak Thomas Guru Bahasa Indonesia saya pernah berkata bahwa kalimat Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah terdiri dari elemen lengkap yakni adanya subyek, predikat dan obyek. Kalau dalam ilmu nahwu shorof di pondok pesantren sebuah kalimat adalah susunan lafadh (kata-kata) yang tersusun dan terdiri dari isim (kata benda) dan fiil (kata kerja).

Coba kita perhatikan kembali kata merokok membunuhmu. Manakah kata yang berfungsi sebagai subyek? Apakah kata merokok? Pak Thomas guru Bahasa Indonesia saya kalau tidak salah juga pernah berkata bahwa awalan me- salah satu fungsinya adalah untuk menjadikan kata benda/kata sifat sebagai kata kerja, contohnya membatu, membumi, membiru, menghijau, dan lain-lainnya. Artinya kata merokok sebenarnya kata kerja yang merupakan penyingkat dari kata mengisap rokok. Lalu kenapa tidak ditulis saja rokok membunuhmu?. Saya yakin di antara kita ada yang berfikir,… rokok kok membunuh…

Terlepas dari benar atau salah kalimat di atas, yang penting kita sama-sama mengerti bahwa maksud kalimat itu adalah merokok dapat menyebabkan kematian, ya tho… Saya juga tidak ingin mengklaim diri bahwa pendapat dan analisa saya itu benar karena memang saya juga bukan ahli bahasa. Siapa tahu saya yang salah. Lebih baik tanyakan kepada ahlinya, salah satunya Pak Thomas Guru Bahasa Indonesia saya.

Hal selanjutnya yang ingin saya bahas adalah kalimat peringatan itu merupakan pengganti dari peringatan lain di iklan-iklan dan di bungkus rokok yang telah ada sebelumnya dan isinyapun sungguh tak kalah mengerikan yakni :

PERINGATAN PEMERINTAH: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.

Ada apa dengan peringatan di atas? Kenapa harus diganti? Apakah isinya kurang sangar? Adakah orang yang mau terserang penyakit-penyakit ganas era modern seperti kanker, serangan jantung, IMPOTEN, gangguan pada kehamilan istri atau gangguan pada bakal penerus generasi anda?

Jika penyakit dan kematian belum cukup ampuh juga untuk mengurangi jumlah perokok, lalu peringatan apa lagi yang perlu ditulis? Jangan-jangan di waktu yang akan datang peringatannya mungkin lebih meningkat lagi kesangarannya sehingga berbunyi/tertulis:

TANPA PERINGATAN LAGI : MEROKOK MEMBUAT ANDA MASUK NERAKAWow….

Digantinya peringatan anti rokok menjadi seperti sekarang menunjukkan bahwa peringatan sebelumnya tidak banyak pengaruhnya dalam mengurangi jumlah rokok dan perokok di Indonesia. Kenyataan yang ada Indonesia tetap menempati urutan terbesar nomor tiga di dunia dalam hal jumlah perokok, padahal jumlah penduduknya nomor empat terbesar di dunia. Bahkan peringatan itu akhirnya seperti meminum obat kurang dosis. Tidak mengobati penyakitnya tapi malah memperkebal kuman, bakteri atau virus penyebabnya.

Adanya peringatan bahaya merokok sesadis itu juga memberi kesan seolah-olah kita (baca : negara) sama sekali tidak membutuhkan rokok. Padahal jika dilihat dari sudut pandang lebih luas, betapa besar keuntungan yang telah kita ambil dari rokok, terutama dari aspek perekonomian negara dan masyarakat. Rokok telah menghasilkan manusia-manusia super kaya di Indonesia, meskipun ironisnya kekayaan mereka lebih banyak didapat dari golongan ekonomi lemah. Multiplier effect dari pabrik rokok juga telah menghidupi jutaan keluarga para karyawan pabrik rokok beserta keluarganya, petani tembakau, petani cengkeh dan para pedagang dari mulai kelas asongan sampai pemiliki supermarket, terutama di kota-kota yang perekonomiannya banyak didukung oleh pabrik rokok dan lahan tembakau. Dari rokok pula muncul para atlet-atlet berkelas dunia yang telah mengharumkan nama bangsa di mata internasional seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Susi Susanti dan lain-lainnya… 

Cukai dari rokok tiap tahun yang jumlahnya mencapai puluhan trilliun menjadi pendapatan negara yang dialokasikan untuk menggaji pegawai negeri, TNI dan Polri, pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur, pembelian dan perawatan alutsista pertahanan dan keamanan, pendukung sarana pendidikan dan kesehatan yang bahkan besar kemungkinan digunakan juga untuk biaya sosialisasi bahaya merokok oleh kementerian kesehatan.

Hal ironis lainnya adalah selama ini cukai rokok cenderung dijadikan sebagai senjata pamungkas untuk menutupi defisit anggaran negara. Kita membabi buta menyosialisasikan iklan larangan merokok tapi justru kita semakin menggantungkan diri darinya. Bagaimana rakyatnya tidak kecanduan rokok jika negaranya pun kecanduan cukai rokok? Bukankah itu artinya kita sedang menyiapkan lubang kubur kita sendiri? Paradox macam apa itu? Bayangkan seandainya seluruh orang Indonesia berhenti merokok? Dapatkah anda memperkirakan multiplier effect dan kekacauan apa yang mungkin akan terjadi?

Ada beberapa pertanyaan-pertanyaan lain di benak saya tentang iklan rokok di Indonesia :
Sebenarnya ada pengaruhnya atau tidak peringatan itu dalam mengurangi jumlah perokok di Indonesia? Kalaupun ada seberapa besar? Kalau tidak ada pengaruhnya mengapa bisa demikian? Metode apa sebenarnya yang paling ampuh untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas tentu bukan hal yang mudah. Karena itu tulisan ini bukan dimaksud untuk memberi solusi untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia, bukan pula untuk mendukung salah satu pihak baik perokok atau non perokok, namun hanya sekadar berbagi cerita, uneg-uneg dan pengalaman nyata dari orang yang pernah merasakan nikmatnya merokok dan tidak merokok. Saya hanya ingin mencoba menganalisa sebuah permasalahan dari sudut pandang diri saya sendiri berdasarkan apa yang pernah saya rasakan dan alami. Barangkali saja kita bisa menjadikannya sebagai pelajaran.

Selanjutnya ijinkan saya bercerita tentang diri saya sendiri mengenai rokok.
Saya menjadi perokok sudah tiga puluh tahun lebih lamanya. Saya menyadari itu bukanlah sebuah prestasi yang dapat dibanggakan. Sebagai seorang yang lahir di kota kretek yang ekonominya sebagian besar disokong oleh perusahaan rokok, sejak kecil bahkan sewaktu masih di bangku sekolah dasar, saya sudah mengenal dan merasakan rokok. Rokok bisa dengan mudah saya dapatkan dari hasil ngembat milik tetangga yang berprofesi sebagai karyawan pabrik rokok yang rutin mendapat jatah ‘rokok tidak untuk dijual’ dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Awalnya tentu saja hanya coba-coba. Sambil bersembunyi di kebun jangklong/ganyong (sejenis tumbuhan umbi-umbian yang bisa dimakan) sembari cekikikan dan bercerita jorok bersama teman-teman sepermainan dan jedhas-jedhis menghabiskan beberapa batang seminggu sampai akhirnya menjadi perokok aktif yang menghabiskan beberapa bungkus tiap hari.

Sejak usia remaja sebenarnya saya telah menyadari akan bahaya yang ditimbulkan akibat rokok. Peringatan bahaya seperti yang tercantum di semua bungkus rokok yang beredar di pasaran. Namun semua itu saya abaikan dan sama sekali tidak berpengaruh dalam mengurangi kebiasaan saya merokok.

Kenapa? Karena semua kalimat yang tercantum dalam peringatan itu begitu sulit dibuktikan, khususnya untuk diri saya sendiri. Di peringatan itu bilang rokok penyebab penyakit kanker dan jantung, kenyataannya saya sehat-sehat saja. Hal itu bisa dibuktikan dari status kesehatan saya hasil check up tiap enam bulan. Penyebab Impoten? Lha wong anak saya tiga. Gangguan kehamilan dan janin? Ketiga anak saya normal-normal saja kok. Teman saya yang seorang dokter di Semarang asik-asik saja merokok bareng-bareng dengan saya.

Kejadian selanjutnya, entah mendapat wangsit dari mana, beberapa minggu yang lalu sampai dengan artikel ini ditulis mendadak saya berniat dan memutuskan untuk berhenti merokok. Penyebabnya bukan karena apapun. Termasuk bukan karena terpengaruh oleh peringatan iklan yang ada seperti di atas. Tidak ada motivasi atau tendensi apapun. Tidak pula ada penyebab, maksud atau tujuan apapun. Saya berhenti merokok karena memang ingin berhenti saja.

Untuk mendukung niat dan keputusan tersebut saya memasang aplikasi quit smoking di android saya. Hasilnya sampai tulisan ini ditulis (11 hari) saya sudah menghemat sebanyak 235 batang rokok yang kalau dirupiahkan kira-kira sebesar 220 ribu rupiah.

Menurut keterangan dari aplikasi tersebut, level CO2 dan CO dalam darah saya sudah kembali normal seperti non perokok. Resiko kematian mendadak menjadi lebih rendah. Kepekaan indera perasa dan penciuman meningkat. Fungsi pernafasan kembali normal. Ketergantungan terhadap nikotin mulai hilang. Sirkulasi darah dan kelembaban kulit mengalami peningkatan, kerutan akibat penuaan dini juga berkurang. Intinya kondisi fisik sudah mulai membaik.

Hal yang langsung saya rasakan setelah berhenti merokok adalah adanya banyak perubahan dalam hidup. Semangat menjadi meningkat luar biasa. Saya menjadi mudah bangun pagi. Lari pagi menjadi lebih ringan, tidak lagi ngos-ngosan seperti dulu. Indera penciuman dan perasa menjadi lebih peka. Makan dan minum terasa jauh lebih nikmat. Dada terasa longgar dan lega. Meski demikian hal-hal tersebut di atas tidaklah cukup bagi saya untuk menyatakan diri sebagai orang yang telah bebas dari rokok. Karena memang baru sebentar saya berhenti. Karena itu pula rasanya belum pantas jika saya turut menjadi pihak yang menganjurkan orang lain untuk mengerjakan hal yang sama, yakni secara spontan berhenti merokok.

Merokok memang bukan kebutuhan hidup. Merokok hanya sebuah keinginan. Tanpa rokokpun sebenarnya kita masih bisa hidup normal, bahkan lebih normal. Sama halnya dengan handphone atau kendaraan. Meskipun itu bukan kebutuhan dasar hidup manusia, dengan perkembangan zaman dan situasi lingkungan yang ada sekarang ini dapatkah anda hidup tanpanya?

Jika kita berpikir jauh, maka memberantas rokok untuk rakyat seluruh negara tidak bisa dilakukan dengan spontan dan tiba-tiba seperti halnya saya berhenti merokok, melainkan harus secara bertahan dan pelahan agar tidak terjadi kekacauan. Semua harus diawali dulu dengan mengurangi dan menghilangkan ketergantungan anggaran negara terhadap cukai rokok, tersedianya berbagai lapangan pekerjaan lain yang dapat dijadikan sebagai alternatif lain untuk berganti profesi bagi karyawan pabrik rokok dan profesi lainnya, mencerdaskan kehidupan bangsa agar dapat mengisi waktu luang yang ada dengan hal-hal yang positif, terutama bagi kaum muda generasi penerus bangsa. Akhirnya kemakmuran bangsa menjadi kunci dari suksesnya mengurangi jumlah rokok dan perokok di Indonesia.

Tanpa itu semua, sebuah peringatan larangan merokok sesadis apapun hanya akan menjadi tulisan tanpa makna, sia-sia dan tanpa guna…