Banjir Jakarta (dan lainnya) yang entah kapan berakhir.

Mr. Choro : “Halo Boss, lama tak jumpa nih, gimana khabarnya?”

Pak Bos : “Banjir Cho…”

Mr. Choro : “Iya Bos, beberapa hari ini, semua media baik cetak maupun elektronik beritanya banjir melulu… Rumahnya Pak Bos yang di Jakarta kebanjiran juga…?”

Pak Bos : “Ya Iyya laaah, lu pura-pura kagak tau ya… Lha kamu gimana? kebanjiran gak?”

Mr. Choro : “Ya enggak lah Boos, wong tempat tinggalku tiga lantai. Bukan rumahku yang tingkat… Maksudnya tinggalku di flat alias rumah susun tingkat kayak kampung deret ala Pak Gubernur Jokowi itu lho…. jadi kalau memang sewaktu-waktu terjadi banjir ya tinggal naik ke tingkat paling atas. Lagi pula lokasinya juga dekat pantai, kalau banjir bandang airnya langsung ke tempat penampungannya…. ke laut. Aman boooss….”

Pak Bos : “Beruntunglah kamu Cho…, Lha awak ini gimana nasibnya? Kapan penderitaan ini akan berakhir?”

Mr. Choro : “Sabar Pak Bos, nikmati perjalanannya…. jangan tujuannya, mau pak bos buat susah atau seneng saat banjir ya umur ini tetap jalan to… jadi mending dinikmati aja apapun yang terjadi…”

Pak Bos : “Nikmati gundulmu itu? Lu sih gampang kalo ngomong… banjir kok disuruh menikmati. Kamu sih nggak merasakan bagaimana sengsaranya… sudah listrik mati, ngungsi, terlantar, kedinginan, penyakit, mau kemana-mana susah, mau berangkat kerja susah, cari apa-apa susah, macet dimana-mana, mau buang air saja pusing… Belum lagi kerugian material yang harus ditanggung…. gak kehitung kayaknya. Apalagi kalau kerugiannya dikalikan dengan seluruh jumlah korban… nilainya bisa trilliunan rupiah, semuanya hilang sia-sia gara-gara banjir, kalau barang-barang elektronik kecil sih bisa di gotong ke lantai atas, lha kalau mobil? Atau kulkas tiga pintu, masak mau digotong juga…. Kalau sudah begini gak peduli kaya atau miskin sama saja… sama-sama susah deh pokoknya…

Mr. Choro : “Iya Bos saya ngerti… jangankan kebanjiran berhari-hari, flat saya mati lampu beberapa hari saja sudah membuat pusing kepala…bingung mau nyalakan pompa air PDAM untuk MCK, apalagi Pak Bos yang sudah terbiasa hidup nyaman dan enak lalu harus menghadapi bencana seperti itu…”

Pak Bos : “Ya makanya itu, trus kalau sudah begini sing salah sopo?”

Mr. Choro : “Jangan begitu Bos… tidak baik mencari-cari kesalahan orang lain atas semua bencana ini. Katanya menurut hirarki intelegensia tingkat kedewasaan seseorang bisa diukur dari ketika ia lebih banyak bertanya ‘mengapa, dan ‘bagaimana’ daripada menanyakan apa, siapa dan kapan. Orang selevel Pak Bos ini seharusnya sudah bisa memberikan kontribusi atau masukan berupa pemikiran bagaimana solusi untuk memecahkan masalah banjir di Jakarta ini”.

Pak Bos : “Iya Cho… tapi kita ini kan punya pemerintah yang tugasnya untuk mengurusi itu semua. Apalagi sekarang sudah dipilih secara langsung. Lagi pula mereka kan digaji besar dan diberi kewenangan untuk mengelola anggaran dan pendapatan negara dari pajak yang kita bayar. Trus apa gunanya keberadaan mereka jika kita harus ikut-ikutan berpikir mengatasi persoalan seperti banjir ini… Kayaknya aku mulai meragukan kemampuan Bos-bos kita dalam mengatasi persoalan banjir seperti ya ia janjikan waktu kampanye dulu…”

Mr. Choro : “Dari situlah makanya kita harus sadar bahwa menjadi pemimpin itu tidak mudah. Jangankan sebagai kepala daerah atau kepala negara yang anggotanya jutaan orang, mengurus rumah tangga aja kadang-kadang pusing…. Banyak dari mereka yang berkoar-koar menghujat pemerintah terutama saat terjadi bencana tapi ketika ia diberi kesempatan untuk duduk sebagai pengambil kebijakan dan keputusan akhirnya sama saja… nggedebus semua…”

Pak Bos : “Trus kalau bukan menyalahkan manusia masak kita mau menyalahkan alam Cho… menyalahkan alam itu kan sama saja dengan menyalahkan Tuhan…

Tapi ngomong-ngomong sebenarnya pemerintah kan tidak diam saja dengan kondisi seperti ini. Berbagai langkah penanganan untuk mengatasi banjir ini sudah banyak dilakukan. Sudah tak terhitung banyaknya waktu, biaya dan tenaga yang digelontorkan untuk mengatasi itu dari mulai modifikasi cuaca, pengerukan atau normalisasi sungai dan waduk, relokasi warga di bantaran kali, bangun kanal banjir dan sudetan kali, dan lain-lainnya. Namun kok ya seakan-akan semua itu sia-sia belaka gak ada pengaruhnya… Tiap tahun tetap saja kita kebanjiran.
Masak tiap tahun kita mau kayak begini terus Cho…”

Mr. Choro : “Menurut saya semua langkah penanganan banjir yang pak Bos sebutkan itu adalah solusi jangka pendek dalam mengatasi masalah, bukan jangka panjang. Solusi itu tidak sampai ke akar permasalahannya. Terjadi dulu baru berpikir bagaimana mengatasinya. Ibarat kita mencabut rumput tapi tidak sampai ke akarnya. Namanya saja solusi jangka pendek, otomatis berlakunya ya untuk waktu yang singkat pula selama akar permasalahannya tidak diatasi…

Solusi yang ada juga cenderung melawan alam dan bukannya berharmoni dengannya. Mari kita ambil contoh Jakarta. Jakarta itu kan banyak yang nama-nama daerahnya dari kata rawa misalnya Rawa Badak, Rawamangun, Rawa Buaya, Rawa Malang, Rawa Bunga, Rawa Belong, Kampung Rawa dan rawa-rawa lainnya. Yang namanya rawa itu kan tempatnya air. Dari situ saja sudah ketahuan bahwa Jakarta itu sebenarnya tempatnya air. Sudah tahu begitu dengan mengatasnamakan pembangunan ekonomi dan modernisasi tempatnya air kok malah pada diurug trus didirikan mall, perumahan, pabrik dan bangunan-bangunan lainnya. Trus kalau hujan atau dapat kiriman dari gunung, airnya mau disuruh lewat mana? Ya terpaksa ia lewat jalan raya, perumahan dan bangunan-bangunan yang dulu tempatnya air itu? Sekarang baru deh dirasakan akibatnya, kebanjiran semua baru nyahok…

Sama seperti metode untuk menyembuhkan luka. Di samping mengobati dengan obat luar, seharusnya kita juga mengimbanginya dengan pengobatan dalam. Itulah bos, terkadang kita ini pola pikirnya pendek, tidak berpikir apa akibatnya di kemudian hari.
Menurut Pak Bos mengapa banjir yang terjadi di negeri ini harus terjadi setiap tahun? Bahkan kecenderungannya bukannya semakin baik malah semakin buruk dan mengkhawatirkan… Apa sebenarnya pangkal permasalahannya?

Pak Bos : “Banyak penyebabnya Cho… dari mulai penggundulan hutan, berkurangnya daerah resapan di daerah hulu sungai karena beralih fungsi menjadi bangunan atau villa-villa itu, perilaku manusia yang membuang sampah seenak perutnya sendiri dan akhirnya memenuhi sungai dan menyumbat saluran air, bertempat tinggal di bantaran kali, dan masih banyak lagi…”

Mr. Choro : “Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa faktor terbesar yang menjadi penyebab semua bencana itu adalah manusia, setuju bos?”

Pak Bos : “Betul Cho, kenapa ya kita ini kok susah sekali diajak untuk hidup disiplin dan sadar terhadap lingkungan… padahal dari mulai TK sampai Perguruan Tinggi kan kita ini sudah tidak kurang-kurang mendapat pelajaran tentang pentingnya menjaga lingkungan. Artinya semua orang itu sebenarnya sudah tahu dan sadar tentang itu semua, tapi kok ya masih saja banyak yang menggunduli hutan, membangun seenaknya, membuang sampah sembarangan dan lainnya….”

Mr. Choro : “Lha gimana lagi bos, semua itu bisa saja terjadi kalau kepepet?”

Pak Bos : “Kepepet gimana maksudmu?”

Mr. Choro : “Ya kepepet karena sebagian besar waktu yang ada habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup Bos?”

Pak Bos : “Kepepet ya kepepet, tapi jangan merugikan orang lain dong?”

Mr. Choro : “Begini Bos… Saya coba ilustrasikan dengan contoh kecil kehidupan rumah tangga.

Mari kita umpamakan Pak Bos adalah orang kaya yang tinggal di lingkungan RT. Di RT itu ada aturan yang membatasi warganya yaitu hanya boleh memiliki satu rumah berukuran tertentu. Saat itu Pak Bos baru punya dua orang anak dan dengan kamar-kamar yang ada masih cukup luas dan nyaman untuk ditinggali.

Beberapa waktu kemudian ketika anaknya Pak Bos sudah besar dan beranak cucu pula, Pak Bos bilang kepada mereka kalau ingin mendapatkan warisan harus mau tinggal serumah bersama pak Bos. Karena tergiur oleh warisan pak Bos akhirnya mereka memilih tinggal bersama satu atap meski mulai merasa tidak nyaman karena kekurangan ruangan.

Lama-kelamaan rumah itu penuh dan sesak karena tidak lagi mencukupi untuk ditempati pak Bos beserta anak-anak dan cucu-cucu. Berbagai permasalahan mulai muncul misalnya masalah kebersihan, pertengkaran yang sering terjadi antara cucu-cucu pak bos dan lain-lainnya. Pak Bos berpikir untuk menambah lagi bangunan di atasnya. Hal itu ternyata itu juga tidak mengatasi masalah karena anak-anak dan cucu-cucu pak Bos lebih memilih di lantai bawah daripada di lantai atas.

Kerena banyaknya persoalan Pak Bos mulai membuat bermacam-macam peraturan di rumah itu. Namun ternyata hal itu juga tak lagi ada pengaruhnya. Rumah tetap kotor, penghuni tetap tidak disiplin, buang sampah sembarangan, saluran WC mampet, terjadi pencurian, dan lain-lainnya…. Satu-satunya solusi yang bisa diharapkan adalah Pak Bos harus bicara dan bernegosiasi kepada ketua RT agar mengijinkan Pak Bos membuat rumah baru di lahan yang lain. Dan akhirnya keputusan itu berada di atas kewenangan atasan pak Bos alias Pak RT.

Pak Bos : “Trus intinya ceritamu itu opo Cho?”

Mr. Choro : “Intinya bila Jakarta itu ibarat rumah, lingkungan alias ruang hidup yang ada sebenarnya sudah tidak lagi mampu mendukung untuk menghidupi populasi penduduk sebanyak itu Bos. Jadi pertama kali yang harus dilakukan sebelum mengatasi persoalan banjir di Jakarta itu kurangi dulu penduduknya. Setelah jumlahnya sesuai dengan kondisi ideal untuk hidup layak, barulah semua program penanganan banjir seperti yang pak bos sebutkan tadi itu bisa dilaksanakan tanpa menemui banyak halangan.
Yang terjadi saat ini pemerintah mau mengeruk sungai harus pusing tujuh keliling karena akses untuk ke sana dipenuhi oleh para warga penghuni bantaran kali dan kampung kumuh yang jumlahnya semakin hari semakin bertambah”.

Pak Bos : “Maksudmu solusi pertama kali yang harus dilaksanakan adalah membuat peraturan selain warga Jakarta harus dipaksa pulang kampung semua kembali ke daerah asal masing-masing begitu? Biar Jakarta sepi kayak pas Hari Raya… Emang kamu pikir gampang apa?”

Mr. Choro : “Kita ini bangsa merdeka Bos, kok masih maksa-maksa kayak zaman kompeni aja. Mereka para pendatang itu rakyat kita juga, warga negara Indonesia yang juga ingin hidup makmur dan sejahtera di tanah airnya sendiri. Mereka juga punya hak untuk mencari peruntungan dan mata pencaharian dimanapun berada termasuk di ibukota. Lagi pula percuma saja memaksa mereka kembali ke daerah masing-masing. Kenapa? Karena seperti peribahasa ‘ada gula ada semut’ para urban yang datang ke Jakarta itu kan karena menganganggap bahwa banyak gula yang menumpuk di Jakarta dibandingkan dengan yang ada di kampung halaman mereka. Jadi selama gulanya masih menumpuk di sini, sampai kapanpun semut-semut itu akan selalu datang untuk mendekat. Seandainya daerah mereka sendiri banyak gula yang bisa memberi mereka penghidupan, saya yakin mereka lebih memilih tinggal di kampung daripada harus merantau ke daerah orang lain.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa seharusnya penduduk Jakarta itu idealnya 800 ribu orang… Lha sekarang yang mengisi 8 juta orang… dan lagi jumlah itu selalu bertambah setiap saat, siapapun Gubernurnya pasti klenger Bos…

Cara mengurangi penduduk Jakarta sebenarnya tinggal memindahkan sebagian gula-gula yang ada di Jakarta itu ke tempat lain di Indonesia… Indonesia bukan Jakarta saja Bos, masih banyak tanah kita di nusantara ini yang belum ditempati… Jadi sebar gulanya, jangan semutnya…
Kalau jumlah penduduknya sudah ideal dan tidak empet-empetan, seharusnya lebih mudah menerapkan semua aturan-aturan yang kita buat… termasuk aturan untuk buang sampah, disiplin, berbudaya dan lain-lain… apalagi jika penghasilan mereka dari kerja sebulan bisa untuk biaya kebutuhan hidup selama tiga bulan… dengan kata lain lebih banyak waktu untuk memenuhi keinginan… Pasti Gubernurnya bisa tidur nyenyak tiap malam… Untuk mengatasi kepadatan penduduk di Jakarta itu sudah bukan level Gubernur yang menyelesaikan, melainkan atasan yang lebih tinggi, kalau sesuai contoh di atas ya ketua RT…”

Pak Bos : “Iya Cho kalau cuma berteori sih gampang, trus maksudmu yang menjadi gula di Jakarta itu apa?”

Mr. Choro : “Yang namanya pendapat kan bolah-boleh saja tho Bos, mumpung facebook masih gratis… apalagi di negara paling demokratis sedunia, Indonesia tercinta…

Kalau masalah apa yang menjadi gula di Jakarta… Pak Bos pikir sendiri saja deh…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *