Monthly Archives: January 2014

Pak Bos ingin Berpolitik (Menjadi Pejabat)

1b6cc98bb0877f54b85d9ef8ccc561b7_ahok

Pak Bos : “Assalamu Alaikum Cho…,”

Mr. Choro : “Waalaikum Salam Pak Bos, tumben wajahnya sumringah pagi ini, ada khabar apa gerangan, sudah gak kebanjiran lagi kah?”

Pak Bos : ” Ya masih…, banjir yo wis ben… arep dikapakno meneh… Sekarang dak usah membahas itu, ini ada sedikit rezeki buat kamu”.

Mr. Choro : “Wah kayaknya Pak Bos lagi banyak rezeki ya pake bagi-bagi segala, bukannya Suuzdon… tapi yang ini kayaknya ada maksudnya”.

Pak Bos : “Biasa aja Cho, kamu itu dikasih sesuatu kok pakai mikir dan curiga aja, mbok ya diterima aja… halal halal…”

Mr. Choro : “Halal sih halal, tapi biasanya kan tak sebanyak ini, pasti ini ada maksudnya, hayooo ada apa…?”

Pak Bos : “Gua ingin berpolitik Cho…”

Mr. Choro : “Maksud Pak Bos?”

Pak Bos : “Ah lu pake nanya segala, ya berpolitik…”

Mr. Choro : “Maksud pak Bos pengin jadi pejabat?”

Pak Bos : “Ya begitu dech….”

Mr. Choro : “Kenapa? Sebagai seorang pengusaha yang sukses, hidup Pak Bos ini kurang apa lagi? Semuanya sudah ada… kok masih sempat-sempatnya pengin cari kerjaan lain?”

Pak Bos : “Justru itu Cho, karena untuk mengurus diri sendiri sudah aku anggap cukup bahkan berlebih malah. Sekarang saatnya untuk naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi… yaitu mengurus orang lain, berpolitik untuk menjadi pejabat, sama seperti kata Pak Basuki Ahok di atas… he he”

Mr. Choro : “Trus yang Pak Bos cari apa?”

Pak Bos : “Saya ingin mengabdikan diri untuk memajukan dan menyejahterakan rakyat Cho. Salah satu caranya ya lewat politik. Setelah berkecimpung dalam dunia bisnis dan korporasi selama puluhan tahun, saya rasa pengalaman dan pengetahuan saya telah cukup memadai untuk menjadi bekal seandainya menjadi pemimpin masyarakat atau pejabat pemerintah.”

Mr. Choro : “Itu untuk orang lain, kalau untuk Pak Bos sendiri apa? Jangan-jangan pak Bos cuma ikut-ikutan temen-temennya pak Bos para Bos-bos itu yang beramai-ramai ikut berpolitik, hanya karena ingin jaga gengsi”.

Pak Bos : “Kamu itu mau nanya atau ngetes saya?”

Mr. Choro : “He he… sori Bos…., saya jadi teringat pelajaran sekolah dulu tentang teori hirarki kebutuhan manusia ala Mbah Maslow yang mengatakan bahwa tingkat kebutuhan manusia itu ada beberapa tingkatan. Yang pertama adalah kebutuhan biologis, sandang pangan papan, yang kedua adalah kebutuhan keamanan, yang ketiga adalah kebutuhan penghargaan dan yang keempat adalah aktualisasi diri.

Sekarang jika saya melihat kondisi pak Bos yang sudah tidak lagi bermasalah dengan kebutuhan dasar karena duitnya sudah banyak, keinginan Pak Bos untuk berpolitik alias menjadi pejabat sebenarnya sedang berusaha memenuhi kebutuhan berikutnya yaitu ingin mendapatkan penghargaan dari orang lain seperti kata Maslow itu, ya tho Bos..?”

Pak Bos : “Wis karepmu lah… intinya saya ini tulus ingin mengabdi kepada masyarakat. Politik itu hak semua warga negara… Kalau artis saja boleh trus apa saya ndak boleh?”.

Mr. Choro : “Apa kewenangan saya sampai-sampai bisa melarang Pak Bos berpolitik? tentu saja bolah-boleh saja tho. Kalau saya amati, menjadi pempimpin di negeri ini seperti masuk hutan belantara. Berbagai macam binatang buas berbentuk permasalahan dan persoalan yang menumpuk di sana siap menghadang dan menunggu untuk ditangani. Kalau kita berhasil menjadi hal biasa. Tapi kalau gagal, itu akan menjadi hal yang luar biasa karena kita akan langsung dicaci-maki di mana-mana. Di media, di warung kopi, Internet… Apa pak bos sudah siap menghadapi itu semua? Jangan sampai penghargaan yang bos cari tapi malah caci-maki, atau bully-an yang justru malah didapat.”

Pak Bos : “Saya ini sudah pengalaman menghadapi kerasnya kehidupan cho, untuk urusan hal begituan mah sudah biasa. Semua itu adalah resiko kehidupan. Makanya itu, kamu mau nggak jadi pendukung saya?”

Mr. Choro : “Saya dukung Bos, apalagi orang seperti Pak Bos yang sudah kaya ini harapannya saat sudah menjadi pemimpin di pemerintahan tentu sudah tidak berpikir lagi untuk mencari uang, apalagi dengan cara korupsi. Tapi ngomong-ngomong nanti kalau ternyata nanti sudah terpilih, visi, misi dan programnya pak Bos apa?”

Pak Bos : “Ya banyak Cho, tidak bisa saya katakan di sini semuanya. Hal yang pokok adalah saya akan memperbaiki mental dan ideologi masyarakat dengan cara menanamkan kesadaran terhadap pelaksanaan kehidupan beragama dan bermasyarakat agar sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing dengan tetap berlandaskan Pancaasila dan Undang-undang dasar 1945, memberantas kemiskinan dan pengangguran dengan menciptakan banyak lapangan kerja, meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan cara mengoptimalkan sistem birokrasi pemerintah, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan sehat, membangun berbagai fasilitas umum dan infrastruktur guna menunjang program-program pembangunan, mewujudkan tercapainya ketahanan pangan dan energi, memajukan dan memodernisasi sistem pertahanan kita agar menjadikan negeri ini disegani di kawasan regional dan dunia kalau perlu, mengatasi berbagai persoalan yang sedang terjadi saat ini misalnya masalah banjir, bencana alam dan lain-lainnya serta masih banyak lagi yang lain… banyak to…”

Mr. Choro : “Wah wah…, Visi misinya Pak Bos pake bahasa dewa semua…pusing saya. Semua pesaing pak Bos juga bahasanya begitu. Bisakah Pak bos menerangkan kepada saya cara yang aplikatif dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti untuk kalangan kaum akar rumput seperti saya ini?”

Pak Bos : “Ya kalau itu nanti Cho, wong sekarang ini jadi aja belum… Saya harus pelajari dulu setelah masuk di sistem pemerintahan. Saya kan bukan dewa atau malaikat…”

Mr. Choro : “Wah kalau harus belajar dahulu setelah masuk ya telat Bos… Kebijakan dan keputusan Pak Bos itu nanti mempengaruhi hajat hidup orang banyak lho, bukan cuma ribuan tapi jutaan jiwa. Hidup rakyat kok dicoba-coba… kayak iklan minyak kayu putih aja. Kalau memang Pak Bos sudah siap menjadi pemimpin, pak Bos seharusnya sudah bisa berfungsi sebagai pemandu arah yang telah memiliki tujuan yang meyakinkan dan telah pula mengetahui kemana arah dan haluan yang akan kita tuju. Kalau pak Bos belum yakin dengan itu apalagi tidak mengetahuinya, yang rugi nanti pak Bos sendiri dan kita-kita pun akhirnya ikut-ikutan tersesat dan kehilangan arah… akhirnya pada buyar kemana-mana…”

Pak Bos : “Okelah Cho, saya akan pikirkan kata-katamu itu… tapi kamu janji dukung saya to..”

Mr. Choro : “Tenang Bos… kalau Pak Bos berhasil membawa negeri ini menuju negeri impian, tidak cuma mendukung, untuk kepentingan anak cucu saya kelak, jadi tukang ketiknya pak Bos pun saya siap. Pak Bos tidak usah repot-repot kasih saya uang. Sebaiknya gunakan uang Pak bos untuk mempublikasikan visi, misi, yang akan Pak Bos laksanakan, baik untuk diri Pak Bos sendiri maupun untuk negeri ini. Saya sebagai rakyat biasa akan mengangkat Pak Bos menjadi manusia setegah dewa seperti lagunya Iwan Fals itu ….”

Pak Bos : “lebai lu Cho…..”

Social Media ‘made in’ Pemerintah

Pak Bos : “Isunya Facebook tidak lama lagi gulung tikar lho Cho”

Mr. Choro : “Wah Pak Bos bisa aja… isu darimana itu?

Pak Bos : “Lha itu beberapa media sudah ramai memberitakan masalah itu. Menurut prediksi, beberapa tahun ke depan nasibnya Facebook takkan jauh berbeda dengan saudara-saudaranya terdahulu seperti friendster, myspace dan lain-lainnya. Menurutmu hal itu mungkin terjadi gak Cho?”.

Mr. Choro : “Ya mungkin saja Bos, apa yang tidak mungkin terjadi di dunia ini…. Sekarang ini kan era kecepatan, siapa yang terlalu cepat meluncur ke angkasa jatuhnya cepat juga. Dulu yang namanya blekberi itu kurang merajai apa coba? Akhirnya sekarang harus megap-megap juga tho… Hal yang sama juga mungkin saja terjadi pada Facebook. Setelah anggotanya mencapai angka semilyar sepertinya sudah sampai ke titik kulminasinya alias titik jenuh. Lama kelamaan sudah tidak ada lagi penduduk bumi yang mendaftar sehingga pelan namun pasti akhirnya tidak laku entah disebabkan karena penggunanya yang sudah bosen dan ingin cari suasana lain atau karena persaingan bisnis dunia maya yang semakin ketat.

Trus kalau sudah tidak laku para pemasang iklan sebagai sumber penghasilan utama Facebook tentu saja pada kabur. Kalau sudah begitu, Mark Zukenberg mau dapat penghasilan darimana untuk biaya operasional server, gaji karyawan dan bandwidth yang ukurannya gila-gilaan itu? Lama-kelamaan ya tutup situsnya”.

Pak Bos : “Wah lha kalau situsnya facebook shutdown trus file-file foto yang sudah tak simpan di sana gimana nasibnya?”.

Mr. Choro : “Ya segera diamankan Bos, backup semua dokumentasi yang Pak Bos anggap penting. Pindahkan semua ke komputer atau desktop, CD, hardisk atau penyimpanan lainnya, sebelum semuanya terlambat…”

Pak Bos : “Kalau FB saja masih ada kemungkinan untuk gulung tikar, trus menurutmu apa masih ada situs Sosial Media lainnya yang kamu anggap paling tangguh dan bisa diandalkan di dunia maya ini Cho?”

Mr. Choro : “Kalau menurut saya sih tidak ada satupun Bos, kecuali kalau situs Socmed itu ‘made in’ Pemerintah alias negara yang menyelenggarakan”.

Pak Bos : “Maksudmu pemerintah bikin situs socmed gitu Cho? Bagaimana ceritanya negara harus menyediakan situs sosmed untuk warganya?”

Mr. Choro : “Begini Bos, saat ini organisasi terbesar di bumi ini ya negara. Negaralah yang memiliki resource terbesar baik berupa anggaran maupun perangkat untuk menegakkan peraturan atau undang-undang serta melindungi segala hal yang berkaitan dengan kepentingan nasional, perikehidupan dan perikemanusiaan rakyatnya. Otomatis jika ditanya media sosial yang paling tangguh di dunia ya tak ada lagi selain jika situs sosial media itu dibuat dan diselenggarakan oleh Pemerintah”.

Pak Bos : “Trus apa untungnya?”

Mr. Choro : “Kalau Sosmednya hanya untuk ajang nulis status alay-alay an atau like-like an sih kagak ada bos, tapi kalau digunakan sebagai sarana menampung aspirasi rakyat, identitas warga, statistik, wahana pencerdasan rakyat dan lain-lainnya… ya sangat besar manfaatnya, baik bagi rakyat maupun para penyelenggara negara. Intinya sosial media yang ada tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu pemerintah dalam megatur jalannya roda organisasi seperti mempermudah dan mempercepat warga negara dalam menjalankan birokrasi pemerintah. Sebagai contoh seorang Bupati bisa memanfaatkan Sosmed itu untuk mengetahui kondisi sosial penduduk di wilayahnya sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat dalam pembangunan”.

Pak Bos : “Wah kayaknya idemu itu berbahaya Cho, terutama masalah keamanan informasi. Kamu tau gak ketika sebuah informasi sudah kita sambungkan ke dunia maya, maka secanggih apapun perangkat untuk proteksi keamanannya maka potensi resiko untuk ditembus para pelaku cyber crime sangat besar…”

Mr. Choro : “Memangnya sekarang ini kehidupan ber IT kita zaman sekarang ini tidak beresiko apa Bos? Siapa sekarang yang tidak menggunakan email-email gratisan bikinan gmail, yahoo, bebe-em, dan lainnya untuk mengirim informasi yang sebenarnya bersifat rahasia? Mailserver para penyedia email gratisan itu dimana? Informasinya sih kita kirimkan dari sini ke sini aja, tapi lewatnya kan melalui belahan dunia lain nun jauh di sana. Kita bisa mengenkripsi atau menyandi data yang kita kirim, tapi program enkripsinya juga buatan orang lain.
Kalau menurut saya selama kita masih menggunakan hardware dan software buatan orang lain dan bukan buatan kita sendiri maka selama itu pula informasi yang kita kirim atau bagikan ke Internet adalah bersifat sangat terbuka bagi siapapun.

Katanya sekarang kan Era Transparansi, sulit bagi kita menyembunyikan sesuatu apalagi berupa data digital. Daripada kita berusaha menutup-nutupi sesuatu tapi akhirnya ketahuan kalau kita bohong dan malu, mendingan terus terang saja apa adanya. Untuk bidang pertahanan misalnya. Zaman sekarang kita sulit menggunakan strategi Sun Tzu yakni bertingkah seoah-olah kita kuat padahal lemah. Misalnya dengan berpura-pura memiliki Rudal Jelajah antar benua… ya bisa diketawain kita, jadi mendingan kita berusaha untuk membuat dan memiliki Rudal jelajah Beneran sehingga dapat memberi efek detterence/penggetar bagi mereka yang mau main-main dengan negara kita. Itu contohnya Bos…
Meski demikian kita bisa meminimalkan resiko tersebut dengan cara membuat saluran jaringan tersendiri, bandwidth tersendiri, satelit tersendiri yang terpisah dari jaringan Global atau Internet, kita juga bisa membatasinya dengan menaruh informasi yang umum-umum saja, bukan informasi yang sifatnya sangat rahasia”

Pak Bos : “Jangan jauh-jauh melebar pembahasannya Cho, kita ini mau membahas sosial media kok jadi ngelantur ke rudal jelajah segala. Mari kita kembali ke topik semula. Ada satu hal lagi yang menjadi kelemahan sosial media yang ada sekarang Cho… Yaitu mengenai validitas data yang ada. Contohnya Facebook, bukan rahasia lagi bahwa sebagian besar data yang ada di facebook itu banyak yang palsu. Jumlahnya mencapai jutaan akun. Kalau pemerintah membuat situs sosmed trus isinya sebagian besar akun-akun palsu gimana? Contohnya pemerintah mau memberikan bantuan untuk rakyat berekonomi lemah. Data penduduknya diambil dari Sosmed ‘made in’ pemerintah yang ternyata isinya nama palsu atau alamat palsu kayak lagunya Ayu yang sekarang sudah tidak ting-ting. Gimana coba?”

Mr. Choro : “Makanya dari awal kan saya sudah sampaikan Bos, bahwa pemerintahlah yang memiliki sumber daya paling lengkap, termasuk semua perangkat dan aparat yang salah satu fungsinya adalah mengontrol validitas data kependudukan. Contohnya organisasi setingkat RT. Ketua RT kan bisa memeriksa sosmed tersebut mana anggota di lingkungannya yang ternyata palsu alias tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Kalau ternyata palsu, laporkan saja atau di DEL langsung”.

Pak Bos : “Trus apa mungkin warganya mau memberikan informasi yang benar tentang dirinya di Sosmed itu Cho, terkadang banyak dari warga negara kita yang tidak suka kalau berurusan dengan pemerintah, takut kalau dimata-matai misalnya”.

Mr. Choro : “Ya semua kembali kepada pemimpin kita Bos, kalau memang kepala daerahnya jujur, amanah, tidak gila jabatan, sederhana, tulus, ikhlas dan memang bertekad ingin mensejahterakan rakyatnya saya yakin akan didukung oleh seluruh rakyat. Untuk mengurangi resiko kepalsuan data bisa saja diberikan gimmick atau iming-iming bahwa setiap bulan akan disiapkan hadiah langsung berupa smartpon, laptop, bebe, tablet, kambing, gula, beras dan lain-lainnya. Hadiah akan dikirim langsung ke alamat yang tercantum dalam sosmed ‘made in’ pemerintah tersebut. Gak papa kan satu dua Em perbulan untuk dikasihkan ke rakyatnya sendiri Bos. Jadi kalau masih mau nulis alamat palsu kan yang rugi rakyatnya sendiri karena gak dapat hadiah. Daripada trilliunan rupiah dipake untuk E-KTP yang ternyata setelah jadi tau-tahu datanya sudah tidak valid lagi. Ada yang sudah kawin, ada yang pindah alamat dan lain-lainnya mending buat infrastruktur itu…”

Pak Bos : “Apa tadi katamu Cho, jadi ujung-ujungnya kita perlu pemimpin yang jujur, amanah, tidak gila jabatan, sederhana, tulus, ikhlas, bertekad mensejahterakan rakyatnya? Lu mimpi ya?”

Menonton Film 3D di PC (HTPC)

3d movie Teknologi Komputer dan Internet selalu berkembang setiap saat termasuk di dalamnya bidang multimedia video dan audio. Perkembangan itu mengarah kepada satu hal, yaitu bagaimana menciptakan konten hiburan seperti wujud aslinya layaknya di alam nyata tanpa harus menggunakan peralatan pemutar  multimedia sehingga memberikan kesan ‘being  there’. Contohnya adalah suara instrument yang mendekati suara alat-alat musik aslinya, gambar-gambar beresolusi sangat tinggi yang mendekati alam nyata, dan juga video yang juga berresolusi tinggi di tambah efek tiga dimensi.

3d movie2

Perkembangan konten multimedia digital yang sedang populer saat ini adalah teknologi 3D untuk video. Jika pada zaman dahulu untuk menikmati tampilan film 3D harus mengunjungi theater cinema tertentu yang menyediakannya, maka dengan internet semua itu dapat dinikmati dengan mudah dimanapun berada, termasuk di depan komputer atau TV LED yang ada di ruang tamu kita.

Bila anda telah memiliki TV atau multimedia player berfitur 3D, maka hal tersebut tentu tidak menjadi masalah. Namun bagi yang belum memilikinya tidak perlu risau dan harus mengeluarkan uang lebih karena pada  kesempatan kali ini saya akan memberikan tutorial cara menikmati film 3D di rumah menggunakan komputer PC, laptop, HTPC dan lainnya.

Sarana yang harus ada :

  • Perangkat multimedia player (Laptop, PC dan lain-lainnya). Bagian ini tidak akan saya bahas karena perangkat komputer atau laptop bukanlah hal yang asing saat ini.
  • Film berjenis 3D.  Film berjenis 3D memiliki spesifikasi khusus sehingga berbeda dengan film biasa. Untungnya di era sekarang relatif cukup mudah untuk mendapatkannya. Kita bisa googling atau mendownloadnya di youtube, di situs-situs penyedia film, situs-situs hosting (misalnya ganool atau indowebster), beli langsung dari mereka  yang  telah mendownload film tersebut dan lain sebagainya terlepas dari hal tersebut merupakan pelanggaran hak cipta (Lha gimana lagi wong harga filmya memang masih relatif mahal dan belum terjangkau oleh sebagian kita).
  • Kacamata 3D. Kacamata 3D cukup mudah di dapatkan di pasaran baik di toko-toko aksesoris komputer maupun beli secara online sehingga cara paling mudah tentu saja membelinya. Harganyapun tidak begitu mahal. Namun jika kita malas membelinya, kita dengan mudah membuatnya dengan mamanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar kita antara lain :
    • Kertas karton atau kacamata biasa yang murah.
    • Plastik mika yang biasa berwarna merah dan hijau digunakan untuk sampul jilid buku.
    • Gunting
    • Lem atau double selotip.
    • Cara membuatnya :
      • Bila menggunakan kacamata bekas, lepas kacanya kemudian ganti dengan plastik ganti sebelah kanan dengan mika biru dan kiri dengan mika berwarna merah.
      • Bila menggunakan kertas silahkan menggunakan desain di bawah ini kemudian dicetak dengan printer dan kacanya ditempel dengan mika biru untuk sisi kanan dan mika merah untuk sisi kiri.
      • Coba kacamata 3Dnya dengan melihat screenshots film pada gambar di atas, kalau efek 3Dnya  keluar berarti bikin kacamatanya sudah berhasil.

3D_Glasses_3

  • Perangkat lunak/aplikasi pemutar film 3D.  Terakhir yang diperlukan adalah aplikasi pemutar video 3D, ada banyak yang tersedia di internet dan dapat diunduh secara bebas di internet misalnya :
    • KM Player
    • Stereoscopic Player
    • Nvidia Vision Video Player
    • VLC player
    • MPC Player
    • Bino video Player (untuk Linux)
    • Dan lain sebagainya

Berikut ini saya akan memberikan contoh termudah untuk menikmati video 3D :

  1. Unduh KMPlayer di websitenya http://kmplayer.com/ kemudian install di komputer dengan mengikuti petunjuk sesuai petunjuk di layar (saya sarankan menginstallnya sebaiknya sambil tersambung ke internet.
  2. Jalankan aplikasinya.
  3. Putar filenya.
  4. Atur pengaturan mode 3D di aplikasinya
  5. Pakai kacamatanya 🙂
  6. Enjoy….