Daily Archives: October 6, 2013

Tilawatil Quran Video Galery

Suara Merdu Tilawatil Quran oleh Qori’ terbaik Indonesia sepanjang zaman, entah apakah ada penerus bangsa ini yang akan menggantikannya… Wallahu Alam…

Require Flash player

================================

Best World Quran Reciter

Require Flash player

Internet Mahal = Membodohkan Kehidupan Bangsa… Internet Lambat = Memperlambat Kecerdasan Bangsa…

Mr. Choro : “Assalamu Alaikum Pak Bos, Gadget baru nih…?”

Pak Bos : “Waalaikum salam… iya nich cho, baru kemaren saya ngupgrade smartstone… eh smartphone saya. Ini lagi saya cek performanya dan fiturnya apa aja. Walau sudah tua gini tetap harus update teknologi Cho…, ndak boleh kalah sama anak-anak muda sekarang. Zaman sekarang kan kita dituntut harus melek dan alih teknologi, makanya setiap kali keluar gajet terbaru, saya ganti gajet lama saya, biar gak dikatain gaptek dan gak kalah sama orang luar…”

Mr. Choro : “Melek dan alih teknologi apanya Bos… bos, perasaan kita itu baru melek dan alih hasil atau produk teknologi dan bukan melek atau alih teknologi. Lha sebagian besar produk teknologi yang kita pake itu kan buatan orang luar alias impor. Kalau bisa buat sendiri baru itu namanya alih teknologi, kalau cuma melek produk teknologi mah semua orang juga bisa, asal punya uang beli saja… bikin barangnya nya itu yang susah…, perlu banyak mikir”

Pak Bos : “Wis ndah usah banyak omong, emangnya nyari uang itu nggak pake mikir apa… wong nyatanya sekarang ini kita baru bisanya hanya beli ya terima aja…, masih lumayan bisa menikmati walau hasil karya orang, daripada sudah gak bisa bikin gak bisa beli pula… kan sial namanya, lagipula barang ini memang manfaatnya luar biasa buat saya dan pekerjaan saya. Dengan gajet ini seakan-akan dunia ini ada dalam genggaman. Saya tidak harus kemana-mana tetapi seperti ada dimana-mana karena bisa terkoneksi ke semua orang. Mau cari informasi apapun juga tinggal klik dan ketemu, mau transaksi keuangan ada e-banking, mau belanja tinggal online dan dikirim ke rumah, coba bandingkan dengan zaman dulu… mau ngirim uang aja harus pake wesel pos yang berhari-hari baru sampai, mencairkannya pun harus pake ribet, tanda tangan lurah lah, camat lah polsek lah…., mau telepon harus cari warnet, mau cari referensi harus beli buku, ke perpustakaan, bongkar-bongkar koran atau majalah bekas, tanya sana sini dan lain-lainnya, lha sekarang betapa mudahnya Cho… life is in my hand…

Mr. Choro : “Betul Bos, memang sudah zamannya, beruntung kita dapat menikmatinya…”

Pak Bos : “HP, smartphone, tablet, netbook, laptop dan gajet-gajet dengan berbagai ukuran layar itu sudah bukan lagi barang mewah Cho, kalau dulu mungkin iya. Sekarang kan sudah banyak produsennya jadi harganya juga relatif terjangkau, lha itu kamu juga punya to…”

Mr. Choro : “Punya sih Bos, cuma kelasnya kan beda… kalau punya Bos merk terkenal, punya saya ya merk-merk terjangkau itu lah, kelas enam ratus rebuan di lazada…”

Pak Bos : “Tapi dari segi fungsi kan sama saja to Cho… tetep bisa buat nelpon, SMS, chatting, internet, ngegame, photo-photo, mutar file multimedia dan bisa di bongkar pasang jutaan aplikasi dengan berbagai macam fungsi itu. Makanya anak saya tak belikan satu satu. Di samping agar aku bisa menghubunginya setiap saat, mereka juga bisa mencari referensi pelajaran dari sana. Kasian Cho anak-anak zaman sekarang. Mata pelajaran sekolahnya nambah terus, beda dengan zaman kita. Dulu kita SD tidak pernah mengenal pelajaran Bahasa Inggris, Komputer, Internet… sekarang kurikulum sekolah terpaksa harus menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal penemuan peralatan dan perangkat teknologi itu kan gunanya untuk mempermudah hidup manusia tapi sekarang ini seakan-akan justru kita dipersulit olehnya karena harus mempelajari lagi cara membuat dan memakainya…”

Mr. Choro : “Setuju bos, anak-anak sekarang masa kecilnya dijejali dengan seabrek pelajaran sekolah, setumpuk pekerjaan rumah dan ujung-ujungnya harus nambah jam pelajaran, les, kursus sana sini dan lain-lainnya. Jauh sekali bedanya dengan kondisi saya waktu masih sekolah SD di pelosok kampung… Zaman SD dulu saya tak pernah mengenal yang namanya PR, pakai sepatu ke sekolah aja kadang-kadang, itu pun kalau pas lagi ada upacara. Pulang sekolah kerjanya ya maen sama teman-teman sebaya…, kalau gak gitu mancing di rawa,kali, kubangan, nyari burung, ikan, belut, jangkrik, bikin mainan tradisional dan aktivitas-aktivitas outdor lainnya. Barangkali hal itu yang membuat anak-anak sekarang tinggi dalam hal kemampuan Intelijensinya tapi rendah dari segi emosi atau EQ. Terlalu banyak pelajaran teori klasikal di ruangan tapi minim praktek dan interaksi sosial. Apalagi rangking dan nilai yang seharusnya berfungsi sebagai tes atau uji skill dan kemampuan malah dijadikan sebagai target yang harus dikejar dan didapatkan”

Pak Bos : “Tapi anak-anak sekarang juga diuntungkan oleh teknologi Cho… Meskipun bidang studi di sekolah semakin bertambah, adanya internet di gadget-gadget ini membuat sumber ilmu pengetahuan begitu mudah untuk diakses sehingga sangat menghemat waktu dan biaya daripada harus beli buku atau pergi ke perpustakaan.”

Mr. Choro : “Di situlah masalahnya Bos…. Bagaimana mau mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan dan keahlian dari internet jika tarifnya di negara kita ini masih mahal bagi kalangan seperti saya dan hanya bisa dijangkau oleh kalangan seperti Pak Bos? Padahal di undang-undang dasar negara kita kan sudah tercantum dengan gamblang bahwa salah satu tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa atau rakyatnya. Jika rakyatnya cerdas maka negaranya akan kuat dan hebat pula. Karena itu sesuai amanat undang-undang, Internet yang menjadi sumber ilmu pengetahuan itu wajib murahnya, syukur-syukur bisa digratiskan untuk seluruh rakyat indonesia…”

Pak Bos : “Itu kan maumu Cho…, biar bijaksana mari kita lihat dari sisi lain…. dari segi bisnis dulu karena saya adalah orang bisnis… Membangun jaringan internet itu tidak murah, perlu modal besar terutama di bagian infrastruktur… baik itu menggunakan jaringan kabel, fiber optik maupun teknologi nirkabel atau wireless, apalagi kamu bilang untuk seluruh Indonesia. Jangankan jaringan internet, telepon dan PLN saja masih banyak daerah-daerah kita di pelosok yang belum terjangkau layanan itu. Itulah gunanya melibatkan pihak swasta yang memiliki modal seperti saya ini. Dan namanya juga bisnis Cho… sesuai dengan prinsip ekonomi kapitalisme ya… gimana caranya dapat untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya… he he… sukur-sukur satu bulan bisa Break Even Point, jadi uangnya bisa untuk bangun jaringan baru…”

Mr. Choro : “Wah, wah, waah…., pantes aja kita gak maju maju… lha wong prinsipnya masih kayak gitu, padahal Pak Bos itu kan hanya sebagai provider penyaluran datanya saja to… Sumbernya kan dari orang lain. Si pemilik sumber informasi kayak Google, Facebook, Youtube, Yahoo, Gmail, Detik, Kompas, Wikipedia, dan jutaan server di seluruh dunia aja bisa ngasih gratis kok tega-teganya Pak Bos pasang tarif mahal untuk pengguna. Sudah pipa untuk penyalurannya sempit sehingga lambat, masih pula ditakar-takar lagi… perkilo lah, permenit lah, per hari lah… per bulanlah… Kalau PDAM atau perusahaan minyak sih masih wajar ngasih takaran volume, wong memang mereka mengolah air atau minyak sendiri dan bukan orang lain…, kebangetan Pak Bos ini… terlalu…”

Pak Bos : “Kamu ini kayak gak tau karakter orang kita aja Choo, cho… walaupun kita ini hanya penyedia bandwidth tapi ya bukan berarti kemampuan kita ini tak terbatas. Jika tidak dibatasi volumenya nanti oleh pengguna akan dibagi-bagi ke orang lain, abis itu saat make sak enak udelnya… maen game online beresolusi tinggi gak inget waktu. Kalau gak gitu download film, aplikasi bajakan atau file berukuran raksasa siang malam sambil ditinggal tidur. Akhirnya kan yang rugi pengguna sendiri. Di layar komputer, tablet atau smarphone kita yang ada hanya tulisan loading…. loading….terus. Makanya jika ingin dapat kecepatan lebih, harus bayar lebih pula, ntar kita alokasikan pipa sendiri bernama dedicated bandwidth…”

Mr. Choro : “Yo wis… mau gimana lagi Bos, nyerah saya kalau urusan money talks gitu… Padahal kalau Pak Bos berpikir panjang, dengan internet murah, rakyatnya cerdas, terdidik, terlatih, terjamin kesejahteraannya, makmur, daya belinya meningkat, maka yang enak juga Pak Bos juga karena barang-barang jualannya akan laris terserap pasar…”

Pak Bos : “Urusan pendidikan rakyat itu biar negara yang mikir Cho, kita ini korporasi… mikirnya terlalu jauh kalau sampai ke sana. Kita ini ya prioritasnya cari keuntungan sebanyak-banyaknya. Mikir naikkan UMR buruh aja wis pusing. Tapi menurutmu gimana solusinya agar Internet di Indonesia ini murah selain dengan cara menaikkan pendapatan rakyat tentu saja…”

Mr. Choro : “Oke Bos…Mari kita kembali ke topik utama tentang Internet untuk mencerdaskan rakyat. Sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar, mencerdaskan rakyat adalah tanggung jawab negara, termasuk di dalamnya menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung untuk itu. Salah satunya adalah informasi pendukung pendidikan yaitu Internet. Karena itu sudah seharusnya kita berhak mendapatkan Internet gratis. Bukan hanya gratis di lingkungan sekolah, kampus, perkantoran atau tempat-tempat komunitas publik berkumpul, tapi gratis juga bagi tiap pribadi warganya”.

Pak Bos : “Tapi yo kalau gratis seratus persen aku tetap gak setuju Cho…, salah satu pertimbangannya ya seperti yang saya sebut tadi. Lama-lama bandwidthnya habis dan akhirnya resourcenya kewalahan…”

Mr. Choro : “Kita semua sadar bahwa Internet itu penting karena segala macam informasi ada di sana. Baik itu informasi penting dan tidak penting, positif dan negatif, baik dan buruk, melanggar hukum dan tidak, emas dan sampah, mendidik dan merusak. Jika informasi itu ‘dibutuhkan’ oleh rakyat maka negara yang menyediakannya secara gratis tapi bia informasi itu ‘hanya diinginkan’ oleh rakyat, silahkan pihak korporasi atau swasta yang berperan. Makanya itu harus dipilah dan dipilih mana informasi yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya menjadi keinginan masyarakat Bos. Kebutuhan itu ada batasnya, sedangkan yang namanya keinginan itu tak terbatas. Kalau kebutuhan mendasar, mendesak dan penting bagi seluruh lapisan masyarakat tidak didukung secara gratis oleh negara akhirnya yang muncul ya mental-mental kapitalisme dari para pemilik modal. Mereka akan menggantikan peran negara dan menguasai hajat hidup orang banyak lalu mencari untung sebanyak-banyaknya dari keringat saudara sendiri. Itulah yang menjadikan si kaya makin kaya dan si miskin makin miskin. Dari situlah segala ketidakadilan dan penyelewengan mulai berpangkal. Sebenarnya hal itu sudah diamanatkan oleh UUD 45 pasal 33”.

Pak Bos : “Sak karepmu lah, trus kalau memang itu dasarmu, untuk memulainya harus dari mana?”

Mr. Choro : “Kita kan sekarang sudah otonomi daerah alias kabupaten kota menjadi penentu utama kebijakan pembangunan di daerahnya. Dengan APBD yang ada, sediakan hotspot-hotspot internet wireless di tiap-tiap kecamatan, desa bahkan kalau bisa sampai tingkat RT. Pusat jaringannya ada di kantor kabupaten atau kota. Pemasangannya bisa bertahap menyesuaikan anggaran. Tahun ini mungkin hanya bisa di tiap kecamatan, tahun berikutnya tingkat Desa, lalu RT begitu seterusnya, yang penting ada titik awal untuk melangkah dan sudah ada bayangan ke mana arah yang akan dituju…”

Pak Bos : “Untuk menyaring informasi yang boleh atau tidak diakses oleh masyarakat bagaimana?”

Mr. Choro : “Di situlah fungsinya pemerintah daerah. Di samping sebagai pusat penerima arus informasi dari tingkat global untuk dibagikan ke seluruh masyarakat juga sebagai filter untuk menyaring informasi yang layak dikirim ke repeater-repeater atau relai-relai di bawahnya. Selama ini kan metode kita dalam memfilter informasi di internet kan ‘kasih semuanya’ sambil ‘mencari yang buruk’ untuk diblokir. Coba metodenya diubah menjadi ‘blokir semuanya’ lalu ‘ambil yang baik’ untuk di kasihkan. Contohnya sekarang ini kita mati-matian mencari dan menemukan website-website atau blog-blog pornografi untuk diblokir ternyata ribuan situs porno lain lahir tiap hari. Celah untuk mengaksesnya situs-situs yang terblokir itu pun tidak sulit, bisa lewat anonimous proxy, menggunakan aplikasi penembus blokiran itu dan lain-lainnya.

Setelah jaringannya siap, blokir semua website di seluruh dunia, lalu kita ambil mana yang ‘dibutuhkan’ dan mana yang tidak baru dibagikan ke semua. Contoh informasi yang baik misalnya Website religi, situs-situs pemerintah, Buku Sekolah Elektronik, mesin-mesin pencari semisal Google, Yahoo, Altavista, Bing dan lainnya, Ensiklopedia online sejenis Wikipedia, Situs-situs berita semacam Detik, Kompas, Antara dan lain-lain, serta situs-situs berisi hal mendidik dan bermanfaat lainnya. Setiap hari ditambah dan diupdate terus website-website atau blog-blog  ‘baiknya’…”.

Pak Bos : “Kalau website-website yang multi konten semacam Youtube, WordPress, Blogspot dan lain-lainnya gimana Cho…?”

Mr. Choro : “Berarti subdomain atau URL nya yang diambil Bos… misalnya ada seorang ibu rumah tangga ingin belajar tentang cara memasak sambel terasi paling enak se dunia, atau anak sekolah yang bercita-cita jadi boyband sedang mencari tutorial ‘guitar lesson for beginner’, atau mahasiswa ingin belajar bahasa Inggris dari native speaker langsung, Phtografer pemula ingin belajar desain grafis, dan tutorial-tutorial mendidik yang lain di situs youtube… ternyata URL nya masih terblokir, tampilkan di monitor peringatan sebagai berikut:

“MAAF, HALAMAN WEB YANG ANDA PERLUKAN BELUM DIBUKA KERANNYA, MASUKKAN ALAMAT WEB ATAU URL DIMAKSUD KE FORMULIR YANG TERSEDIA DI BAWAH INI UNTUK KAMI PERIKSA BAHWA ITU MEMANG BETUL-BETUL INFORMASI YANG LAYAK KAMI BUKA KERANNYA, SILAKAN TUNGGU BEBERAPA MENIT”.

Pak Bos : “Kalau URL youtube yang dimasukkan ke formulir adalah tentang istilah konspirasi kemakmuran, labil ekonomi, 29 is my age gimana Cho”.

Mr. Choro : “Ya peringatannya yang muncul kira-kira akan begini :

“SORY BRO, NEGARA HANYA MENYEDIAKAN INFORMASI YANG ANDA PERLUKAN, BUKAN INFORMASI YANG ANDA INGINKAN, JIKA INGIN TETAP MENDAPATKAN INFORMASI ITU SILAKAN MENGAKSES JARINGAN INTERNET SWASTA”.

Pak Bos : “Kalau Facebook atau Tweeter gratis gak Cho…”

Mr. Choro : “Ya tergantung kapasitas bandwidthnya bos, kalau memang resourcenya berlebih ya kasih gratis lah… lumayan, anggap aja bonus buat rakyat, kan facebook merupakan sarana untuk menjalin silaturrahmi antar warga…”

Pak Bos : “Apa mungkin semua harapan dan rencana itu bisa diwujudkan Cho… atau hanya angan-angan dan mimpi saja?”

Mr. Choro : “Ya terserah kita sendiri Bos, ada kemauan apa tidak. Katanya kalau ada kemauan pasti banyak jalan, kalau tidak ada kemauan pasti banyak alasan. Sebagai gambaran, saya sebagai individu yang memiliki komputer PC rumahan yang harga dan kapasitas penyimpanan tak seberapa saja mampu menampung begitu banyak data multimedia apalagi bila yang menyelenggarakan adalah negara. Seandainya saja… ini seandainya lho ya…, harga ‘bandwidth’ ke Internet global ‘mahal’, kita bisa menyedot data ‘bermutu’ dari internet global tersebut kemudian disimpan ke Komputer Server Pusat sehingga ketika user mengakses jaringan, datanya tidak diambil langsung dari server penyedia situs tapi dari server lokal. Hal ini disamping tidak memerlukan biaya tentu akan sangat mempercepat akses di jaringan. Kayak Intranet itulah… Tentu saja ini tidak berlaku untuk situs-situs yang selalu update misalnya situs berita… Kalau perlu kita punya Protokol Internet sendiri untuk jaringan nasional kita bos… selain TCP/IP, HTTP, FTP dan lain-lainnya, tapi kayaknya itu berlebihan ya…

Kalau semua itu terlaksana, maka tujuan kita mencerdaskan bangsa bisa mendekati kenyataan. Dimanapun dan kapanpun berada kita dan anak-anak kita akan mendapatkan informasi positif dengan mudah dan murah, bahkan gratis. Anak-anak kita pun lebih banyak waktu untuk beribadah, berzikir, kegiatan-kegiatan outdoor, berkumpul dengan keluarga, menyalurkan hoby, mengasah keahlian dan hal-hal positif lainnya”.

Pak Bos : “Jadi kesimpulannya negara hanya mengurusi kebutuhan rakyatnya, untuk keinginan rakyat silakan dipenuhi oleh rakyat itu sendiri, gitu ya…?”

Mr. Choro : “Ya kira-kira begitu lah bos, menurut saya kalau memaknai arti Demokrasi Pancasila…”

Pak Bos : “Trus ngomong-ngomong, mobil murah itu kebutuhan rakyat apa keinginan rakyat Cho?”

Mr. Choro : “Pak Bos pikir aja sendiri lah, males gua…”