Jika Ibukota Pindah, Dimana?

Pak Bos : “Halo Cho… kumaha damang?

Mr. Choro : “Khabar baik Bos…, Pak Bos juga bagaimana khabarnya? Anak istri sehat?”

Pak Bos : “Alhamdulillah Cho… semua baik-baik saja… mangga atuh calik-calik heula di dieu…”

Mr. Choro : “Oke Bos…, Gimana khabarnya Jakarta…?”

Pak Bos : “Kabar apanya… ya tetep macet Cho…, mangkanya setelah pulang kerja aku lebih seneng di rumah saja. Padahal penginnya mau ngajak keluarga makan di luar tapi kok gak sebanding dengan waktu yang harus di korbankan di jalan. Sebenarnya sih aku sudah gak betah di Jakarta, tapi ya gimana lagi wong kerjanya di sana… mau gak mau dibetah-betahin juga…”

Mr. Choro : “Itulah, meskipun uang banyak akhirnya tidak bisa menikmatinya karena lingkungan yang tidak mendukung, sama dengan saya kalo gitu Bos… Cuma bedanya kalau saya kan memang tidak ada pilihan. Makan di rumah biar lebih irit aja”

Pak Bos : “Iya Cho, kasihan bapak Gubernur kita ini… mati-matian mau mengatasi kemacetan malah diperparah dengan kebijakan mobil murah, ditambah lagi dengan pernyataan babeh kita yang mengatakan mobil murah gak ada hubungannya dengan kemacetan, mengatasi macet tanggung jawab pemerintah daerah katanya… wah… mana nu bener mana nu salah ieu, teu ngerti, lieur aing…

Mr. Choro : “Betul Bos… Tidak ada kebijakan mobil murah aja mengatasi persoalan kemacetan di Jakarta rasanya wis kayak gitu, lha ini ditambah lagi mobil murah… Pak Gubernur kita ini bisa diibaratkan sedang menguras perahu bocor, tahu-tahu ditambah dibyu’i banyu teko nduwur (disiram air dari langit)… opo gak tambah mumet. Seharusnya jika tidak bisa membantu kebijakan beliau, minimal ya jangan ngrusuhi lah apalagi menambah beban…”

Pak Bos : “Betul Cho,.. Lamun Ibukota nu dipindah kumaha Cho, setuju teu maneh?”

Mr. Choro : “Ya setuju sekali Bos, Jakarta itu bisa diibaratkan sumbu obor kekuasaan yang menyala terang-benderang dan memancing laron-laron seluruh nusantara mendekat ke sana. Untuk memindahkan para laron itu logikanya kita harus memindahkan obornya, begitu tho…?”

Pak Bos : “Yap betul Cho… trus kok kenapa sampai sekarang gak ada pelaksanaannya. Mau nunggu apalagi? Dari dulu cuma wacana melulu gak ada realisasinya”

Mr. Choro : “Lebih baik mana Bos, memindahkan Ibukota negara atau menunjuk Kota Pemerintahan baru selain Jakarta?”

Pak Bos : “Teuing lah yang penting mah Judulnya Ibukota pindah. Mau ibukota yang diganti atau isinya yang pindah keur aing mah sami wae… alias sama saja”

Mr. Choro : “Ibukota kan simbol negara bos, itu menjadi ibu yang mewakili kota-kota lainnya di Indonesia. Kalau kota pemerintahan ya tempat untuk mengatur jalannya roda pemerintahan negeri ini. Meskipun ibukota dipindah tapi kalau kota pemerintahannya tetap di Jakarta, kayaknya laron-laron itu tetap mengerubungi apinya dan bukan obornya…”

Pak Bos : “Kalo gak ada obornya trus apinya mau di taruh dimana Cho, di kepalamu? sudahlah jangan bermain istilah, yang penting kamu tahu to apa maksudku?”

Mr. Choro : “He he… iya ya bos, anggap saja kota pemerintahan yang dipindah. Hal itu sampai sekarang belum bisa dilaksanakan mungkin karena uangnya belum ada. Memindahkan ibukota atau kota pemerintahan itu bukan persoalan sepele. Ini adalah proyek besar yang perlu dana besar dan melibatkan hal-hal yang sangat besar”.

Pak Bos : “Tapi kan bisa direncanakan dulu meskipun pelaksanaannya bertahap, dikonsepkan dulu… dipelajari kelayakan daerahnya, amdalnya, tata kotanya, infrastruktur apa saja yang perlu dibangun, dan lain-lain… jadi minimal ada bagan atau maketnya dulu lah…”

Mr. Choro : “Ya jangan tanya saya Bos, aku yo ra ngerti… tapi kalau menurutku sih anggaran tetap menjadi kendala utama dalam merealisasikan rencana tersebut”.

Pak Bos : “Oke Cho… mari kita asumsikan duit alias anggarannya ada, menurutmu pulau mana yang paling cocok untuk dijadikan ibukota atau kota pemerintahan baru? Kita kan punya pulau-pulau besar. Ada Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua”

Mr. Choro : “Kalau menurut Pak Bos sendiri pulau mana yang cocok?”

Pak Bos : “Kalau menurutku sih Kalimantan Cho. Di sana lahannya masih luas dan juga masih sepi, posisinya di tengah-tengah Indonesia. Hal lainnya di sana juga jarang ada bencana alam seperti gempa bumi atau gunung meletus seperti di pulau-pulau lain yang berada di tepi lempeng tektonik, lha kalau kamu?”.

Mr. Choro : “Kalau aku Kota Pemerintahannya pindah ke laut aja Bos…”

Pak Bos : “Maksudmu?”

Mr. Choro : “Ya ke laut… di atas kapal”

Pak Bos : “Wah kamu itu kalo punya angan-angan mbok ya jangan kepanjangan gitu to Cho… yang bisa dinalar. Berkhayal ya berkhayal, mimpi ya mimpi… tapi jangan kebablasan gitu lah…”.

Mr. Choro : “Kebablasan apanya Bos. Namanya juga mimpi. Lagi pula asumsi kita tadi kan uang atau anggaran tidak jadi masalah. Jadi ngapain nanggung-nanggung. Lagipula mimpi saya itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan mimpinya orang-orang di luar sana. Mimpi saya itu masih di atas bumi. Seharusnya kita menyadari bahwa di saat kita masih sibuk dengan tanah di bawah telapak kaki kita ini, orang di luar sana sudah bermimpi tentang masa paling lalu dan masa paling depan. Bermimpi tentang inti bumi terdalam sampai ke luar angkasa. Berkhayal tentang planet lain, tata surya lain, bintang lain, galaxy lain. Saat kita baru bisa mewujudkan gambar di layar monitor berupa sinetron atau film picisan yang tidak jelas apa tema dan nilai edukasinya bagi rakyat ini, mereka sudah bisa menghidupkan dinosaurus yang telah punah berjuta tahun lalu di taman Jurrasic, melukiskan bagaimana serunya pemandangan di bawah lempeng bumi dalam Journey to the Center of The Earth, menggambarkan perseteruan robot-robot mobil Autobots dan Decepticon dari planet Cybertron, mengirim avatar ke planet Pandora yang banyak air terjun melayangnya dan berisi makhluk-makhluk tinggi berwarna biru bernama Na’vi, membuat pesawat lintas galaxy berkecepatan cahaya bernama USS Enterprise di Star Trek, menampilkan dahsyatnya pertarungan antara Jedi dan Sith dengan pedang bersinar Lightsaber di Star Wars, bercerita tentang pertempuran Riddick dari kaum Furyan melawan kaum Necromonger di dunia Underverse. Dan masih banyak sekali mimpi-mimpi lain yang entah kapan menjadi kenyataan… Jika di alam kenyataan sekarang kita sudah kalah, masak di alam mimpipun kita kalah juga… he he”

Pak Bos : “Wah koen kayaknya penggemar berat film fiksi ilmiah ya Cho…, okelah kalo begitu. Jika kita belajar sejarah, semua perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada sekarang bermula dari mimpi, khayalan dan angan-angan. Dahulu mungkin tak ada yang pernah membayangkan bahwa manusia bisa terbang, bisa saling bertatap muka dan berkomunikasi meski jaraknya berjauhan, dan sebagainya, namun semuanya itu sekarang menjadi kenyataan. Terlepas itu mimpi atau tidak, apa pertimbangannya kota pemerintahan Indonesia di pindah ke laut ehm… ehm.. ke atau di laut he he…?”

Mr. Choro : “Kita ini negara maritim bos, dua pertiga wilayah kita adalah lautan… tidak salah jika mulai melirik atau mengalihkan pandangan ke sana. Hal lainnya adalah jika kita sekarang mau mengamati perkembangan zaman di tataran global maka kita telah memasuki apa yang disebut sebagai era kecepatan, era bergerak atau era mobile. Dinamika dan perubahan berlangsung begitu cepat. Seakan-akan baru kemarin kita melihat nokia dan blackberry berada di puncak kejayaan, sekarang sudah mau roboh. Hal-hal yang prosesnya perlu waktu lama pada zaman dahulu, saat ini hanya butuh waktu singkat. Kita berangkat dari Jakarta ke Surabaya hanya butuh waktu satu sampai dua jam via pesawat, bandingkan dengan kalau via darat dengan kereta api. Kita dahulu mengirim surat lewat kantor pos meskipun pake super express atau kilat khusus tetap saja paling tidak sehari baru sampai, sekarang dengan sekali klik ‘kirim’ saja dalam sekejap mata sudah sampai tujuan dimanapun berada.

Artinya apa? Jika Ibukota atau kota pemerintahan sekarang dipindah ke tempat baru, maka tidak perlu waktu lama kita harus berencana untuk memindahkannya kembali karena situasi dan kondisi yang ada di Jakarta sekarang juga akan dialami oleh Ibu Kota baru tersebut. Jika Jakarta perlu lima puluh tahun untuk menjadi macet, maka kota yang baru nanti mungkin hanya perlu sepuluh atau dua puluh tahun untuk bernasib seperti Jakarta. Daripada kita pusing memikirkan pindah-pindah ibukota, sekalian saja kita buat ibukotanya mobile, atau bisa dipindah setiap saat. Setahun, setengah tahun, atau tiga bulan sekali mangkal di Pulau Jawa, lanjut ke Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sumatera, Maluku dan lainnya.

Teknologi informasi dan komunikasi yang ada sekarang juga sudah mendukung. Ada satelit, internet, dan lain-lainnya. Untuk mengendalikan pemerintahan, Presiden kita nanti tidak perlu harus bertemu dengan bawahannya. Cukup via telefon, video converence atau video call… jadi dimanapun berada tetap mampu memonitor kerja para punggawanya. Beliau juga bisa tenang dalam memimpin negara karena tidak lagi dipusingkan oleh yang namanya kemacetan karena di laut anti macet, kalau mogok mungkin iya”.

Pak Bos : “Bikin kapal itu itu tidak murah Cho.. apalagi kapal raksasa dijadikan sebagai kota pemerintahan, belum lagi bahan bakarnya, kita ini mau hemat BBM kok malah bikin kota bergerak segala”

Mr. Choro : “Lha tadi kan kita sudah sepakat uang ndak jadi masalah to Bos…He he, karena itu kapalnya harus bertenaga nuklir, jadi sekali isi bahan bakar bisa dua puluh tahun atau tiga puluh tahun baru isi kembali. Kita kan punya ahli nuklir banyak. Biar tersalurkan keahliannya makanya bikin proyek itu, jangan proyek PLTN di Jepara. Ya ditentang lah oleh sebagian besar masyarakat lokal. Kalau bikin PLTNnya di kapal siapa yang mau menentang?”

Pak Bos : “Yo wis Cho… cukup mimpinya, mari kita kembali ke alam kenyataan, jadi intinya semuluk-muluk apapun rencana dan keinginan, semua akan tetap terbentur oleh keterbatasan uang, biaya, dana, anggaran atau apapun namanya, jadi gak salah kan kalau saya cari uang banyak …”

Mr. Choro : “Ya gak salah Bos, makanya saya perlu belajar kepada Pak Bos bagaimana cari uang yang halalan, toyyiban, katsiron, mubarokan… tapi bagaimanapun saya tetap berprinsip bahwa uang adalah alat dan bukan sasaran, ketika kita terlalu fokus pada alat maka terkadang sasarannya yang justru meleset, maka mari kita fokus pada sasaran dan alatnya dilirik-lirik saja…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *