Mobil Murah? Murah Palelu itu…

Mr. Choro : “Halo Bos, kok senyum-senyum sendiri ada apa tho?”

Pak Bos : “Aku lagi seneng Cho, peluang bisnis baru muncul dengan dikeluarkannya izin pemerintah untuk memproduksi mobil murah. Kan bisa tambah berkembang lagi usaha saya. Bayangkan berapa banyak peluang tenaga kerja yang bisa diserap dari industri yang katanya sebagian besar komponennya produksi dalam negeri itu. Hal lainnya tentu saja mereka yang selama ini hanya bisa bermimpi punya mobil bisa keturutan“.

Mr. Choro : “Kayaknya kalo menurutku kebijakan mobil murah itu dilihat dari banyak sisi tak ada efek positifnya babar blass bos”.

Pak Bos : “Lho, kamu itu piye tho diberi kesempatan untuk hidup enak kok nggak mau, kamu mau terus menerus seperti itu kemana-mana kalo panas kepanasan dan kalo hujan kehujanan, inget Cho hidup itu hanya sekali, mbok jangan disia-siakan”.

Mr. Choro : “Enak dari Hongkong, mari kita perhatikan kata ‘murah’ dulu Bos, yang namanya murah itu sangat relatif alias tergantung orang atau subjeknya. Barang dikatakan berharga murah bila kita mampu membelinya. Meskipun harga barangnya satu miliar tapi punya uang satu triliun itu tetap murah namanya, kalo harga barangnya seratus ribu tapi punya uangnya cuma sepuluh ribu ya pusing karena mahal. Definisi murah bagi pak Bos tentu saja sangat berbeda bagi saya, karena pak Bos uangnya banyak. Lha saya ini gaji per bulannya berapa? Dengan harga segitu berapa tahun saya harus menabung atau mencicil untuk mendapatkan mobil yang katanya murah itu? Itu kalau lisingya mau ngasih cicilan. Meski kawan-kawan inyong banyak yang kerja di leasing tapi dia pasti bilang kawan sih kawan tapi bisnis is bisnis bro… Untuk memenuhi kebutuhan primer saja masih pas-pasan begini, apalagi kebutuhan sekunder dan tersier bernama mobil. Jadi meskipun kata babeh-babeh itu katanya mobilnya murah tetap mahal bagi saya, kalau bilang murah itu pelecehan namanya”.

Pak Bos : “Makanya kerja keras Cho, Tuhan itu Maha Adil, siapa yang menanam akan menuai, kalau kita kerja keras pasti kelimpahan materi yang akan didapat sehingga segala sesuatu menjadi murah untuk dibeli”.

Mr. Choro : “Betul Bos tapi bagi saya, lebih mudah menurunkan standar hidup menyesuaikan penghasilan daripada meningkatkan penghasilan untuk menaikkan standar hidup. Pak Bos kan tadi bilang kalo hidup itu hanya sekali dan umur kita juga pendek, kalo dihabiskan untuk mengejar materi melulu kapan saya bisa menikmati hidup? Kita bisa saja kerja duapuluh empat jam sehari tujuh hari seminggu atau istilah kerennya twenty four seven. Tak terasa ternyata tau tau tua. Capek-capek seumur hidup cari uang sampai lupa anak istri akhirnya tidak bisa menikmatinya karena tubuh ini sudah banyak larangan. Kolesterol lah, asam urat lah, jantung lah Meskipun ada pepatah yang mengatakan time is money, tapi saya gak mau menukar terlalu banyak waktu alias umur saya dengan uang. Uang bisa dicari tapi waktu dan umur hanya sekali…gak bisa dibagi-bagi lagi. Toh pada akhirnya hidup di dunia ini kan yang dicari kebahagiaan dan ketentraman. Sing penting anak istri kuwarasan sehat walafiat lahir bathin, atiku wis ayem… Meski tentu saja semuanya itu sulit terpenuhi kalau tidak ada uang boss…”

Pak Bos : “He he, namanya hidup itu persaingan Cho, meraih prestasi tertinggi dan terbaik itu alamiah. Bayangkan kalau seluruh manusia di dunia itu nrimo dan bersyukur semua ya mending jadi pohon saja, jangan jadi orang. Gak usah kemana-mana. Diam di tempat menunggu apa yang diberikan oleh alam. Kita ini kan manusia berakal serta dilengkapi kaki dan tangan ya wajib untuk terus berpikir dan berusaha agar memperoleh prestasi dan sesuatu setinggi-tingginya. Hewan saja bersaing untuk memperebutkan makanan. Kalau nggak ada orang yang ambisius, maniac, nerd, freak atau apapun istilahnya itu, peradaban gak jalan Cho… Teknologi juga gak berkembang. Gak ada mobil, kapal, pesawat udara, komputer, internet, facebook dan lain-lainnya, ya to..”

Mr. Choro : “Betul Bos. Memang di dunia ini harus ada orang yang kayak Pak Bos dan ada pula yang kayak saya jadi kehidupan ini bisa seimbang. Ada produsen ada konsumen, ada dokter ada pasien dan lain-lainnya. Karena itu jangan memaksakan semua orang harus sama dengan kita. Itulah indahnya perbedaan, meski kita berbeda dalam banyak hal tetap perlu ada saling pengertian, saling menghargai, toleransi satu sama lain karena kita sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan”.

Pak Bos : “Oke Cho, cukup bicaranya, kamu kok mulai bergaya kayak motivator aja, mari kita kembali ke topik awal yaitu masalah mobil murah. Kalo saya lihat di televisi atau internet, resistensi masyarakat begitu besar terhadap keberadaan mobil murah itu, alasannya hal tersebut akan menambah parahnya kemacetan di Ibukota dan kota-kota macet lainnya. Padahal itu kan kebijakan pemerintah pusat yang pasti sudah dihitung dan diukur apa efek negatif dan positifnya… Apa pendapatmu?”

Mr. Choro : “Hal yang sangat wajar Bos, sepuluh tahun yang lalu waktu saya tinggal di ibukota saja rasanya sudah muak menghadapi yang namanya kemacetan, apalagi sekarang, pasti tambah ruarr biasa. Apa Pak Bos tidak merasa, punya Mercy yang kecepatannya bisa digeber sampai tiga ratus kilometer per jam namun begitu menghadapi kemacetan lalu lintas Boro-boro berlari, masih bisa merayap saja sudah untung. Percuma kan boss punya mobil canggih tapi tidak bisa berlari sesuai speknya karena infrastrukturnya tidak memadai, itu belum ditambah dengan waktu dan bahan bakar yang terbuang sia-sia. Jakarta ditambah mobil ‘mahal’ saja pasti nambah kemacetannya apalagi jika dengan mobil ‘murah’, apa nggak semakin parah?”.

Pak Bos : “Berarti benar kata orang-orang Cho, seharusnya sarana transportasi massal yang perlu ditambah dan diperbaiki di Jakarta”

Mr. Choro : “Kalau menurut saya sih Jakarta yang luasnya relatif sak uplik itu sudah over load dan over heat, alias sudah kelebihan beban muatan dan orang. Mau solusi apapun tetap aja akhirnya akan sia-sia selama urbanisasi terus berlangsung. Mau jalan dibangun sampai tingkat tujuh kek, busway kek, monorail kek, subway kek, gak ngaruh kali… Lha wong tiap tahun katanya satu juta orang para urban yang berbondong-bondong ke Jakarta. Harusnya mbok yao babeh-babeh kita itu cara pandangnya agak panjang dan luas gitu lho… Indonesia itu bukan Jakarta atau Jawa saja Bos… masih banyak tanah kita di lain pulau yang nganggur tidak diberdayakan”.

Pak Bos : “Iya juga Cho, seharusnya pemerintah bikin aturan mobil murah itu jangan diijinkan untuk dijual di Jakarta dan kota-kota macet lainnya, jadi hanya bisa dijual di luar Jawa misalnya”.

Mr. Choro : “He.. he.. Pak Bos pola pikirnya tambah aneh”.

Pak Bos : “Maksudmu piye cuk?”

Mr. Choro : “Pak bos gimana sih, sudah bukan rahasia lagi bahwa kurang lebih enam puluh persen uang di Indonesia itu beredarnya di Jakarta, makanya Jakarta masih menjadi magnet sampai sekarang. Dengan kata lain yang bisa menyerap mobil-mobil itu tentu saja sebagian besar orang Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Kalo aturan seperti itu yang dibuat lalu nilai ekonomisnya di mana bagi si pemilik industri mobil? Emangnya di daerah-daerah banyak orang berduit apa? Pak Bos mau bikin barang tapi gak ada yang mampu membelinya?”

Pak Bos : “Wah tambah mumet ndasku …lha terus solusine piye cuk!”.

Mr. Choro : “Solusinya ya hanya satu, adilkan perekonomian rakyat dahulu agar kemakmuran dapat merata di seluruh negeri, jadi daya beli masyarakat meningkat, mampu untuk membeli mobil dimanapun berada…,  sama seperti sila kelima Pancasila; Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Pak Bos : “Carane piye?”

Mr. Choro : “Pak Bos kok malah yang tanya terus, kayak saya ini sedang wawancara melamar kerja ke perusahaannya pak Bos aja. Udahlah bos, kepalaku juga puyeng nih gara-gara dari sebelum lebaran kemaren belum pulang kampung lama-lama jadi Bang Toyib saya, tapi bukan Bang Toyib temen saya SMA. Dia kan kerjanya gak jauh sama anak istri. Lain kali aja kita sambung lagi…

Wassalam Pak Boss…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *