Daily Archives: August 21, 2013

Fiqih Praktis : Bab 7 – Tayamum

Tayamum adalah menyapukan tanah (debu) yang suci ke muka dan kedua tangan, dengan niat untuk membolehkan bershalat dan sebagainya. Dasarnya adalah firman Allah Swt, …dan apabila kamu sakit atau sedang dalam perjalanan (sebagai musafir) atau datang dari tempat buang air atau melakukan persentuhan dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayammumlah dengan tanah yang suci…” (QS. An-Nisa’ [4]: 43).

Sebelum ini telah dijelaskan  bahwa wudhu atau mandi wajib adalah bagian dari cara membersihkan diri bukan saja secara jasmani tetapi juga ruhani dalam persiapan menghadap Allah Swt, baik dengan shalat, tilawat Al-Quran, atau lainnya. Oleh sebab itu apabila seseorang terhalang dari berwudhu atau mandi wajib karna tidak ada air atau sedang menderita sakit, maka sebgai gantinya ia dapat bertayamum. Walaupun tidak memenuhi aspek kebersihan jasmani, namun tayamum cukup memenuhi aspek kebersihan  ruhani, sebagai pemisah antara amalan duniawi dan amalan ibadah mahdhah seperti shalat dan sebaginya.

Tayamum juga merupakan keringanan (rukhshah) yang berlaku karena adanya salah satu di antara sebab-sebab berikut:

  1. Tidak mendapatkan air sama sekali, atau ada air tetapi tidak cukup untuk bersuci. Namun terlebih dahulu ia harus mencarinya di sekitarnya, atatu pada para tetangga atau kawan seperjalanan, atau membelinya dengan harga yang wajar bila mampu. Dan apabila telah memperoleh keyakinan akan tidak adanya air, atau letaknya terlalu jauh, maka tidaklah wajib ia mencarinya, dan boleh langsung bertayammum.
  2. Apabila ia mengetahui adanya air tidak jauh dari tempatnya namun perjalan ke sana tidak aman bagi keselamatan dirinya, keluarganya, hartanya ataupun kehormatannya, Atau tidak ada alat yang diperlukan untuk mengambil air tersebut, seperti tali, timba dan sebagainya. Atau ia sedang terpenjara sehingga tidak berdaya pergi ke tempat tersedianya air. Semua itu menjadi alasan baginya untuk bertayammum.
  3. Dalam keadaan cuaca amat dingin sehingga khawatir bila mandi dengan air dingin dapat membayakan kesehatannya, maka ia diperbolekan bertayammum, dengan syarat tidak mampu memanaskan air walaupun dengan membayar biaya yang wajar untuk itu.
  4. Apabila menderita sakit atau luka yang menurut pengalaman sendiri, atau keterangan dokter atau orang lain yang berpengalaman akan bertambah parah atau memperlambat kesembuhannya, jika ia menggunakan air.
  5. Apabila air yang tersedia hanya sedikit sekali, dan diperlukan di waktu sekarang atau masa depan yang dekat untuk minuman atau minum orang lain, atau binatang (walaupun seekor anjing) atau untuk memasak makanannya, atau mencuci pakaian shalatnya yang terkena najis. Dalam keadaan seperti itu, ia dibolehkan bertayamum dan menimpan air itu untuk keperluannya yang lain, seperti tersebut di atas.

Selain faktor-faktor seperti di atas, yang membolehkan dilakukannya tayamum (sebagai pengganti wudhu atau mandi), Syaikh Muhammad Abduh berpendapat bahwa keadaan seseorang sebagai musafir, juga merupakan penyebab tersendiri dibolehkannya tayamum, tanpa dikaitkan dengan ada atau tidak adanya air. Karena, katanya, apa gunaya menyebutkan tentang musafir secara khusus dalam QS. An-Nisa’ 43 (sebagai salah seorang yang dibolehkan bertayamum), jika hukumnya sama saja dengan orang berhadats yang tidak mendapat air? Padahal Al-Quran adalah kitab Allah yang diakui kefasihannya oleh semua orang, tak ada kata-kata di dalamnya yang tercantum secara sia-sia, tanpa makna. “Ayat ini jelas sekali bermakna bahwa hukum agama mengenai orang yang sedang sakit dan musafir apabila hendak bershalat, adalah sama dengan orang yang berhadas kecil maupun berhadas besar yang tidak mendapat air. Mereka semua cukup bertayamum saja. Begitulah yang dapat dipahami oleh setiap pembaca ayat tersebut selama ia tidak memaksakan diri untuk menyesuaikannya dengan pendapat mazhab manapun di luar Al-Quran, “ begitu komentarnya. Selanjutnya ia menujukan kecamannya kepada para musafir yang tidak mau memahami Al-Quran seperti apa adanya, tetapi lebih senang mencari-cari alasan pembenaran bagi pendapat mazhab-mazhab fiqih yang sudah mapan (yang hanya membolehkan tayamum bagi musafir yang kebetulan tidak mendapat air saja). Padahal pendapat seperti itu, jelas sekali tidak dapat disimpulkan dari ayat tersebut, kecuali dengan penakwilan yang dibuat-buat. Sedemikian, sehingga banyak di antara mereka menyebut ayat itu sebagai salah satu ‘kemusykilan’ itu, saya telah bersusah payah dengan membaca sedikitnya duapuluh lima kitab tafsir, namun semuanya sama sekali tidak memuaskan, karena selalu berbelit-belit. Dan ketika saya kembali menyimak Al-Quran secara langsung, barulah saya dapati maknanya terang benderang tak mengandung sedikitpun kemusykilan.”

Keringanan seperti itu bagi seorang musafir adalah wajar-wajar saja, sama dan sejalan dengan keringanan-keringanan lain yang diberikan kepada musafir. Seperti meng-qasar dan menjamak shalat, serta menunda puasa Ramadhan sampai hari lain. Maka apakah dianggap aneh bila si musafir dibolehkan menggantikan wudhu dan mandinya dengan tayamum, sedangkan hal itu berada di bawah tingkatan shalat dan puasa, dalam pandangan agama?” (Sayyid Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar V/119).

Cara Bertayamum.

  1. Niat. Sebagaimana telah dijelaskan dalam cara berwudhu, niat ialah menyengaja melakukan sesuatu demi meraih keridhaan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Dalam hal ini, hendaknya diniatkan bertayamum sebagai pengganti wudhu (dalam hadas kecil), atau pengganti mandi (dalam hadas besar), agar dibolehkan melaksanakan shalat dan sebagainya.
  2. Setelah berniat untuk bertayamum, disunnahkan membaca basmalah, lalu menepukkan kedua telapak tangan di atas tanah, pasir, batu, bantal, dinding atau apa saja yang diperkirakan berdebu (tetapi harus bersih, tidak berupa zat najis atau tercemar zat najis). Kemudian meniupi atau menggerak-gerakkan kedua tangannya itu sehingga kedua-duanya saling berbenturan, untuk menepiskan debu yang masih melekat pada kedua tangannya. Lihat An-Nawawi, Al-Majmu’ II/222.
  3. Menyapukan kedua telapak tangannya itu ke wajah dan kedua tangan sampai pergelangan, masing-masing cukup satu kali saja. Menurut sebuah hadis yang dirawikan oleh oleh Bukhari Muslim, dari ‘Ammar r.a, katanya, “Aku pernah berjanabat dan kebetulan tidak ada air untuk mandi. Maka aku pun berguling-guling di atas tanah (maksudnya untuk bertayamum karena tidak ada air.-Pen), dan setelah itu aku shalat. Ketika hal ini kemudian kusampaikan kepada Rasulullah Saw., berliau bersabda, ‘Sesungguhnya engkau cukup berbuat seperti ini.’ Lalu beliau menepukkan kedua telapak tangannya ke atas tanah, lalu meniupnya (untuk menepiskan kelebihan tanah yang melekat, -Pen) dan setelah itu mnyepukannya ke wajah dan kedua tangan beliau sampai di pergelangan.” Dalam Hadis ini, jelas bahwa beliau hanya satu kali saja menepukkan tangan ke atas tanah. Dan seperti itu pula pendpat Syafi’I (dalam mazhab yang terdahulu), Ahmad, Daud, dan Ibn Munjdzir. Akan tetapi, berhubung ada hadis lainnya yang menyebutkan dua kali tepukan, maka Abu Hanifah, Malik, dan Syafi’I (dalam mazhabnya yang kemudian) mewajibkan dua kali tepukan, masing-masing untuk muka dan kedua tangan. Demikian pula mengenai batas tangan yang harus disapu. Menurut Malik, Ahmad dan Daud Azh-Zahiri, wajibnya hanya sampai kedua pergelangan, tangan, seperti tersebut daslam hadis di atas. Sedasngkan Syafi’i dan Abu Hanifah mengharuskan menyapu sampai dengan kedua siku. Yakni seperti dalam wudhu dan juga berdasarkan hadis lain yang menyebutkan seperti itu.

Beberapa Hal Penting Berkaitan Dengan Tayammum.

  1. Sebelum bertayamum, hendaknya membersihkan muka dan kedua tangan dari segala suatu (seperti lilin, cat dan sebagainya) yang dapat dapat menghalangi sampainya sapuan.
  2. Tayamum adalah pengganti wudhu atau mandi dalam keadaan darurat, karena sebab-sebab tertentu seperti telah disebutkan sebelum ini. Oleh sebab itu, dengan bertayamum, seseorang boleh mengerjakan shalat, memegang mushaf Al-Quran dan sebagainya seperti yang dibolehkan baginya setelah berwudhu atau mandi.
  3. Dengan satu kali tayamum, dibolehkan mengerjakan shalat fardhu ataupun sunnah berapa saja yang dikehendaki, selama tayammumnya belum batal. Begitulah menurut Abu Hanifah, Daud dan Ahmad (dalam salah satu riwayat darinya). Akan tetapi Syafi’i, Malik serta Ahmad (dalam riwayat lainnya), hanya membolehkan satu kali tayamum untuk satu kali shalat fardhu dan beberapa kali shalat sunnah.
  4. Tayamum menjadi batal disebabkan hal-hal sebagai berikut:
    1. Segala suatu yang membatalkan wudhu dan mandi.
    2. Diperolehnya air bagi orang yang tadinya bertayamum karena tidak mendapatkan air.
    3. Setelah hilangnya halangan, bagi yang tadinya tidak dapat menggunakan air karena halangan tertentu, seperti sakit, kedinginan dan sebagainya.
    4. Apabila tersedia air setelah berakhirnya shalat, maka shalatnya itu sah dan tidak perlu diulangi, meskipun masih ada waktu. Akan tetapi ia harus berwudhu untuk shalat selanjutnya; atau mandi jika berhadas besar.
    5. Demikian pula seorang yang bertayamum sebagai pengganti mandi-wajib (mandi janabat), lalu mengerjakan shalat; tidak perlu mengulang shalatnya ketika setelah selesai shalatnya itu – memperoleh air atau mempu menggunakannya kembali. Akan tetapi, ia diharuskan mandi untuk shalat berikutnya.

Shalat Tanpa Wudhu dan Tanpa Tayamum.

  1. Seandainya seseorang tidak mampu berwudhu (karena sakit atau tidak ada air) dan bersamaan dengan itu juga tidak mampu bertayamum (karena tidak adanya tanahyang bersih atau ia dalam keadaan terbelenggu dan sebagainya) maka ia tetap wajib mengerjakan shalat, walaupun tanpa wudhu dan tanpa tayamu, dan dengan memenuhi rukun-rukun shalat sejauh kemampuan.
  2. Shalat dalam keadaan seperti itu, apabila terlaksana beberapa kali kali saja, sebaiknya diulangi (di-qadha) pada saat sudah berkesempatan wudhu lagi. Akan tetapi, apabila hal tersebut berlangsung untuk waktu yang cukup lama, tidak perlu diulang seluruhnya, karena aan menimbulkan kesulitan yang sangat. Ada beberapa pendapat ulama mengenai orang dalam keadaan seperti ini. Menurut Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri dan beberapa ulama lain, ia tidak wajib shalat waktu itu, tetapi harus mengunggu sampai mendapatkan air atau tanah yang bersih. Menurutu Ahmad (dan sebagian kalangan mazhab Maliki), wajib shalat dan tidak wajib mengulangi. Sedangkan menurut Syafi’I (demikian pula sebagian kalangan Mazhab Maliki lainnya) wajib shalat dengan cara apa pun yang mampu dikerjakan (yakni tidak harus memenuhi semua persyaratan) tetapi wajib mengulang shalatnya itu apabila keadaan telah menjadi normal kembali. Menurut pendapat terakhir ini, kewajiban shalat dalam keadan seperti itu, semata-mata demi menjaga kehormatan waktu shalat, sedangkan kewajiban mengulang adalah mengingat bahwa keadaan seperti itu, merupakan hal yang amat jarang. (An-Nawawi, Al-Majmu’ II/283)

Mengusap di Atas Pembalut (Perban atau Plaster Karena Luka)

  1. Seseorang penderita luka yang khawatir jika menggunakan air dalam wudhu atau mandi akan menemabh parah lukanya itu atau memperlambat kesembuhannya, dibolehkan mengusap (dengan tangan yang basah) anggota tubuhnya yang terluka. Apabila hal itu tetap membahayakan, hendaknya ia menutupi lukanya itu dengan penutup yang lebih kuat (plaster, perban, gips dan sebagainya) lalu membasuh anggota tubuhnya yang sehat sambil mengusapkan tangannya di atas pembalut tersebut. Setelah itu, sebagai pengganti bagian tubuhnya yang tertutup pembalut dan tidak terkena air, hendaklan ia bertayamum. Boleh juga ia mendahulukan tayamumnya sebelum wudhu atau mandi.
  2. Cara bersuci dengan mengusap di atas pembalut ini menjadi batal, apabila ia dibuka atau luka itu telah sembuh. Segera setelah sembuh, pembalut tersebut harus dibukan dan sejak itu harus bersuci kembali secara sempurna seperti sediakala.
  3. Membalutkan perban, gips dan sebagainya, boleh dilakukan setiap saat, dan tidak harus didahului oleh wudhu atau mandi secara sempurna. Juga tidak dibatasi oleh waktu tertentu, dan karenanya ia boleh mengusap di atasnya, dalam wudhu atau mandi, selama belum sembuh. Menurut mazhab Syafi’i, wajib mengulang shalatnya itu dalam keadaan seperti di bawah ini:
    1. Apabila pembalut itu terletak di bagian anggota tubuh yang wajib disapu dalam tayamum. (yakni di wajah atau kedua tangan).
    2. Apabila pembalut itu terlalu lebar sehingga menutupi bagian anggota tubuh yang tidak sakit (yakni lebih besar dasripada yang diperlukan untuk itu).
    3. Apabila pembalut tersebut diletakkan dalam keadaan wudhunya telah batal, atau ada zat najis di bawahnya (selain darah dari lukanya sendiri) yang tidak dibersihkan sebelumnya. Walaupun demikian, manurut banyak ahli fiqih lainnya, tidak wajib mengulang shalatnya itu, karena memang tidak ada nash yang pasti mengenai hal itu, selain akan menimbulkan kesulitan yang sangat, mengingat luka seperti itu mungkin baru sembuh setelah berbulan-bulan lamanya. (Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah I/69).

Fiqih Praktis : Bab 6 – Mandi Wajib

Mandi Wajib, disebut juga mandi besar, mandi junub atau mandi janabat, adalah salah satu cara bersuci dengan mengalirkan air ke seluruh tubuh, dengan niat mengangkat (menghilangkan) “hadas besar” atau janabat. Dalam QS Al-Maidah (5):6, selain menyebutkan tetnagn kewajiban bersudhu sebelum shalat, Allah SWT juga memerintahkan orang yang dalam keadaan junub agar bersuci :…”dan jika kau dalam keadaan junub, maka bersucilah…” Selain itu, keweajiban mandi juga ditunjukkan oleh berbagai hadis shahih yang disepakati oleh para ahli.

Beberapa Penyebab Timbulnya Hadas Besar.

1.a. Keluarnya mani (sperma) dengan syahwat, baik ketika sedang tidur ataupun dalam keadaan terjaga. Apabila mani keluar tanpa syahwa, atau bukan karena syahwat, tetapi karena sedang sakit, maka tidak diwajibkan mandi. Dirawikan dari Ali r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “apabila ‘air’ (yang dimaksud di sini, air mani) keluar dengan kuat mandilah.” (HR Abu Daud). Dan dirawikan pula bahwa seorang laki-laki meminta fatwa Abdullah bin Abbas r.a, karena setiap kali ia kencing, ikut pula keluar mani bersamanya; namun tanpa terasa syahwat dan tidak pula menimbulkan rasa lemas sesudahnya. Apakah ia wajib mandi? Jawab Abdullah bin Abbas, “Itu hanya disebabkan tubuhmu yang kurang sehat. Cukuplah bila Anda berwudhu.” Demikain itu pula pendapat Abu Hanifah, Malik dan Ahmad. Akan tetapi, menurut mazhab Syafi’I, keluarnya mani, dengan atan tanpa syahwat, banyak atau sedikit, tetap menimbulkan hadas besar dan karena itu mewajibkan mandi. Hal ini berdasarkan hadis lainnya: ‘air’ yakni (mandi wajib) disebabkan oleh ‘air’ (yakni keluarnya air mani). HR. Muslim. Demikian pula jawaban Nabi Saw. kepada Ummu Salaim, bahwa laki laki maupun perempuan wajib mandi apabila mengalami ‘mimpi basah’. (HR Bukhari dan Muslim). Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah (I/56); dan An-Nawawi, Al-Majmu’,. Menurut hemat saya (-pen), apabila tidak mengalami kesulitan yang sangat, sebaiknya mandi walaupun keluarnya tanpa syahwat, sebagai sikap lebih berhati-hati).

b. Apabila seseorang ‘bermimpi’ tetapi tidak disertai dengan keluarnya mani, ia tidak wajib mandi.

c. Apabila seseorang bangun tidur dan mendapati celana atau baju-tidurnya basah, sedangkan ia tidak merasa telah mengalami mimpi yang menyebabkan keluarnya mani, tidaklah ia wajib mandi. Kecuali jika ia meyankini, dengan pelbagai tanda tertentu, bawa yang membasahi celananya itu adalah mani. Dan keadaan seperti itu, ia wajib mandi. Menurut  kitab-kitab fiqih, mani (sperma) dapat dikenali dengan salah satu dari ketiga tandanya : (1). Baunya yang dalam keadaan basah mirip dengan bau adonan tepung, atau daslam keadaan kering mirip bau putih telur. (2) Keluarnya secara terputus-putus dan disertai dengan rasa lezat. (3) Perasaan lemas setelah itu, terutama pada organ seksual pria. (Dalam hal ini, tidask harus terpenuhi ketiga tanda-tandanya, tetapi cukup salah satu darinya).

d.  Apabila merasa yakin bahwa yang keluar itu bukan mani maka walaupun tidak wajib mandi, namun ia wajib mencuci bagian yang basah dari pakaian atau tubuhnya. Karena – Sebagaimana telah dijelaskan dalam pasal zat-zat yang najis-semua cairan yang keluar dari kedua pintu ‘pelepasan’ adalah najis, kecuali mani.

e. Dalam keadaan tetap bimbang, apakah itu mani atau bukan, sebaiknya ber-ihtiyath (mengutamakan sikap hati-hati) dengan mengerjakan mandi wajib dan juga mencuci bagian pakaiannya yang basah yang menyebabkannya bimbang.

f. Apabila merasakan gerkaan mani yang akan keluar, lalu ia menahannya sehingga tidak jadi keluar, maka ia tidak diwajibkan mandi.

g. Apabila melihat mani di pakaiannya, namun tak diketahui sejak kapan keluarnya, sedangkan ia telah selesai shalat, maka ia wajib mengulangi shalatnya sejak tidurnya yang terakhir. Atau jika mendapat tanda bahwa ia telah ada sebelumnya maka hendaknya ia mengulangi shalat-shalat yang dikerjakan olehnya sejak tidurnya yang paling dekat, menurut perkiraannya. Sayid Sabiq, Fiqh As-Sunnah I/56-57

2. Melakukan hubungan seksual (jima’, sanggama), walaupun tidak keluar mani. Dalam hal ini, kewajiban mandi berlaku atas laki-laki dan perempuan. Firman Allah SWT., “… dan jika kamu dalam keadaan junub, maka mandilah…” (QS. Al-Maidah [5]:6). Menurut Syafi’I, dalam bahasa Arab, junub (atau janabat) biasanya digunakan dalam arti jima’ (sanggama). Demikian pula jawaban Nabi Saw. ketika ditanya tentang seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan istrinya tetapi tidask keluar maninya : “Apabila telah menyentuh tempat khitannya, maka wajib atasnya mandi.” (HR. Ahmad dan  Malik dengan beberapa perubahan kata). Dan masih ada pula hadits lainnya yang mirip dengan itu, dirawikan oleh Ahmad dan Muslim, yang menjelaskan tentang kewajiban mandi bagi yang melakukan hubungan seksual, walaupun tidsak sampai keluar maninya.

3.  Berhenti dari haid dan nifas. Wanita yang telah berhenti haid dan nifasnya, diwajibkan mandi agar dapat mengerjakan shalat atau dibolehkan ‘bercampur’ dengan suaminya. Firman Allah SWT : “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu merupakan gangguan.’ Oleh sebab itu, hendaklah kamu ‘memisahkan diri’ (yakni tidak melakukan senggama) dengan istri-istri kamu di waktu haid. Dan janganlah kamu ‘mendekati’ mereka sampai mereka suci kembali. Maka jika mereka telah bersuci, ‘datangilah’ mereka secara yang diperintahkan Allah atas kamu .” (QS Al-Baqarah [2]: 222). Dan diriwayatkan pula bahwa Nabi Saw. pernah bersabda kepada Fatimah binti Hubaisy r.a., “Tinggalkanlah shalat sepanjang hari-hari ketika sedang haid, dan setelah itu mandi dan shalatlah.” (HR Bukhari/Muslim).

4. Masuk Islam. Apabila seorang kafis masuk Islam, ia wajib mandi sebelum mengerjakan shalat. Begitulah pendapat Asy-Syafi’I serta banyak ulama lainnya, berdasarkan beberapa hadis yang menunjukkan hal itu. Di antaranya ketika Tsumamah Al-Hanafiy masuk Islam, Rasulullah Saw, memerintahkan kepadanya agar mandi. (HR Ahmad). Begitu juga ketika Qais Bin ‘Ashim, atau (dalam riwayat lain):Abu Thalhah. (HR Tirmidzi). Akan tetapi Abu Hanifah tidak mewajibkannya, (kecuali apabila ia memang sedang dalam keadaan junub).

5. Mati.apabila seorang Muslim meninggal dunia, wajib atas masyarakat muslim sekitarnya memandikannya. Hal ini akan dijelaskan secara terinci dalam pasal khusus tentang penyelenggaraan jenazah.

Hal-Hal Yang Haram Dikerjakan Oleh Seorang Berhada Besar (Junub).

Seorang yang berhada besar (junub atau janabat) dilarang mengerjaan hal-hal seperti di bawah ini, sebelum ia mandi;

  1. Shalat dan tawaf di sekitar Ka’bah. Telah dijelaskan dalil-dalilnya ketika membahas tentang perbuatan apa saja yang diharamkan bagi orang yang tidak berwudhu.
  2. Memegang dan membawa Mushaf Al Quran. Kecuali dalam keadaan darurat; untuk menyelamtaknnya atau mengembalikannya ke tempatnya semula, setelah terjatuh dan sebagainya. Mayoritas ulama menyepakati haramnya memegang atau emmbawa mushaf Al-Quran bagi orang yang dalam keadaan junub. Hanya Daud Azh-Zhahiri dan Ibn Hazm yang membolehkannya, dengan alasan bahwa Rasulullah Saw, pernah menulis surat kepada Heraclius, di dalamnya terdapat beberapa ayat Al-Quran. (Padahal ia seorang kafir). Namun para ulama lainnya, menjawab bahwa itu hanyalah surat yang kebetlulan memuat beberapa ayat. Karena itu, tidak dapat disamakan dengan mushaf Al-Quran. (Lihat juga perbedaan pendapat para ulama mengenai hukum memegang mush-haf bagi orang yang mengalami hadas kecil
  3. Membaca Al-Quran dengan tujuan semata-mata mendapat pahala karenanya. Dikecualikan dari larangan ini, membaca beerapa ayat Al-Quran dalam rangka zikir atau wirid yang telah menjadi kebiasaan sehiari-hari, atau dalam rangka belajar membacanya ataupun mempelajari maknanya. Demikian pula menunjukkan pandangan ke arah mushaf dan membacanya dalamhati, tanpa gerakan lisan. Al-Bukhari, Thabarani, Daud and Ibn Hazm tidak melihat adanya halangan bagi seorang dalam keadaan junub untuk membaca Al-Quran. Mereka berpegangan pada ucapan Aisyah r.a yang disahihkan oleh Muslim, bahwa Nabi Saw. senantiasa ber-dzikrullah pada setiap saatnya (sedangkan membaca Al-Quran kata mereka termasuk dzikir juga. Disamping itu menurut hukum asalnya, tidak ada nash yang mengharamkan).  Pendapat seperti ini juga dinukilkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Musayyab. Demikian pula yang menjadi pilihan Ibnu Al-Mundzir, seperti dinyatakan oleh Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib, Ibn Ash-Shabbagh dan selain mereka. Al-Bukhari juga merawikan adanya ulama yang membolehkan seorang wanita yang sedang haid, membaca beberapa ayat Al-Quran, agar ia tidask merasa terasing atau terjauhkan darinya selama masa hadinya itu. (Dan seperti tu pula pendapat Malik). Menurut Ibn Hajar dalam Syarh-nya atas Shahih Bukhari : “Tampaknya, tak satu pun hadits mengandung larangan orang junub membaca Al-Quran, dapat dishahihkan oleh Al-Bukhari.” Sebabnya adalah, bahwa kebanyakannya bisa ditakwilkan. (Lihat al.. Fiqh As-Sunnah I/59; Bidayat Al-Mujtahid I/35; dan  Al-Majmu’ II/162.
  4. Duduk atau berhenti di Masjid. Kecuali melewati masjid disebabkan tidak ada jalan lain ke tempat keperluannya, selain melalui masjid tersebut. Hampir seua mazhab menyepakati larangan berhenti atau duduk di masjid bagi seorang junub. Kecuali Al-Muzani da Ibn Al-Mundzir membolehkannya. Dan menurut sebagian riwayat, Ahmad bin Ahnbal membolehkannya. Dan menurut sebagian riwayat, Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “Seorang hunub boleh berheti dan duduk di masjid setelah ia berwudhu” Perbedaan pendapat mereka, antara lain berdasarkan pemahaman masing-masing terhadap ayat 43, surah An-Nisa, yang terjemahannya (secara harfiah) : “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghampiri shalat sementara kamu dalam keadan mabuk, sampai kamu menyadari apa yang kamu ucapkan; jangan pula (menghampiri shalat) sementara kamu dalam keadaan junub-kecuali sedang melintasi jalan (‘abiri sabil)- sehingga kamu telah mandi…’. Mayoritas ulama mengartikan kalimat “menghampiri shalat” dalam ayattersebut, sebagai “menghampiri tempat shalat” dalam ayat tersebut, sebagai ”menghampiri tempat shalat”, yakni masjid. Sedangkan sebagian mereka yang lain mengartikan seperti apa adanya. (secara harfiah), yakni: “…jangan menghampiri shalat dlam keadaan mabuk atau junub”. (Karenanya, ayat ini menurut mereka tidak ada hubungannya dengan masjid). Sedangkan kalimat ‘abiri sabil…”dalam keadaan melintasi jalan) diartikan sebagai “para pelintas jalan (musafir) yang (biasanya) menghadapi kesulitan mendapat air, dan karenanya dibolehkan bertayamum sebagai pengganti mandi. Karenanya, ayat tersebut tidak mengandung larangan bagi seorang junub untuk berhenti atau duduk di masjid. Perbedan pendapat tentang hal ini, berlaku pula dalam masalah boleh atau tidaknya seorang wanitayang sedang haid, berhenti atau duduk di masjid ,(Bidfayat Al-Mujtahid I/354, Fiqh As-Sunnah I/59, Al-Majmu’ II/16 3.

Catatan Tambahan.

Beberapa larangan khusus wanita yang sedang haid atau nifas akan dijelaskan kemudian, dalam pasal khusus mengenai hal itu.

Mandi Sunnah.

Mandi sunnah ialah mandi yang  jika dikerjakan, mendatangkan pahala, tetapi jika tidak dikerjakan, tidak mengakibatkan dosa. Yaitu dalam keadaan-keadaan sebagai berikut :

  1. Mandi hari Jumat serta kedua hari raya: Idul-Fitri dan Idul-Adhha. Mandi pada hari-hari itu sangat dianjurkan bagai orang-orang yang akan menghadiri tempat shalat, menginta berkumpulnya khalayak pada hari-hari tersebut. Agar mereka berkumpul dalam keadaan bersih dan menyenangkan. Dan karena itu pula, dianjurkan memakai wangi-wangian untuk dapat menyamankan suasana dan menghilangkan bau-bauan yang kiranya kurang sedap.Waktu mandi yang disunnatkan ini adalah antara saat fajar sampai waktu shalat hari Jumat atau shalat hari raya. Adapun waktu paling utama  untuk mandi adalah sesaat sebelum berangkat menuju masjid atau tempat shalat.
  2. Setelah memandikan mayat.
  3. Ketika hendak memulai ihram untuk haji atau umroh, ketika akan memasuki kota makkah atau akan menuju padang Arafah. Keterangan lebih lengkap tentang hal inii, akan diuraikan kemudian secara lebih rinci, dalam Bab Haji, Insya Allah.

Cara Mandi Yang Sempurna.

Sekurang-kurangnya mandi wajib adalah:

  1. Niat. (cukup dalam hati dan tidak harus diucapkan). Yakni menyengaja menghilangkan hadats besar (janabat).
  2. Mengalirkan air ke seluruh anggota badan.

Cara mandi seperti itu sudah cukup  untuk mengangkat hadas besar (janabat). Akan tetapi, demi kesempurnaannya, disunnatkan mengikuti cara Mandi Rasulullah Saw. seperti yang dirarikan dalam beberapa hadis, sebagai berikut:

1. Sebelum mulai mandi, terlebih dahulu membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.

2. Membasuh kemaluan.

3. Berwudhu secara sempurna (sebelum menyiramkan air ke segenap badan)

4. Menyiramkan air ke kepala, sebanyak tiga kali, sambil memasukkan air ke jari-jari tangan ke sela-sela rambut sehingga membasahi kulit kepala.

5. Menyiramkan air ke seluruh tubuh dengan memulai sisi kanan sebelum sisi kiri, sambil menggosok-gosok bagian-bagian yang tak mudah dimasuki air, seperti bagian telinga, pusar, bawah lengan, sela-sela jari kaki serta lekukan tubuh lainnya.

Cara Mandi Bagi Wanita.

  1. Mandi wajib bagi wanita sama saja seperti bagi pria. Kecuali bagi wanita yang rambutnya penuh kepangan (anyaman atau jalinan) tidak perlu membuka (mengurai) kepangannya, tetapi cukup dengan melakukan tiga kali siraman di kepala sehingga membasahi bagian dalam rambutnya yang dikepang. Setelah itu, meniramkan air ke seluruh bagian tubuh yang lain. Diriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwa seorang wanita bertanya, “Ya Rasulullah, rambutku berjalin (berkepang) dengan jalinan-jalinan yang amat kuat. Haruskah aku menguraikannya, dalam mandi janabaat?” Nabi Saw menjabat, “Cukup basahi (kepala) dengan tiga kali siraman ringan, dan setelah itu menyiramkan air ke seluruh tubuhmu. Dengan begitu engkau telah suci kembali”. (HR Ahmad dan Muslim).
  2. Khusus bagi pengantin wanita yang rambutnya diatur dengan sisiran tertentu yang rumit serta menggunakan wangi-wangian yang lebih dari kebiasaan sehari-hari, diberian keringanan dengan tidak usah mencuci (mengeramasi) rambutnya itu, tetapi cukup  mengusapnya dengan air. Hal ini guna menghindarkannya dari pemborosan uang, sekiranya setiap kalimandi diharuskan merusak hiasan rambutnya tersebut. Keringananin hanya berlaku khusus bagi pengantin wanita, untuk sementara waktu, yakni selama ia – menurut kebiasaan masih disebut sebagai pengantin. Ini sesuai dengan fatwa Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf, mantan Mufti Mesir, dalam bukunya Fatawa Syar’iyyah, hlm 24. Pendapat mazhab Malik mengenai ini lebih meringankan lagi. Menurut mereka, seorang pengantin wanita yang rambutnya diberi hiasan khusus atau wangi-wangian, tidak wajib membasuh kepalanya setiap kali mandi janabat. Demi menghindarkannya dari pemborosan uang, ia hanya wajib menyiramkan airke seluruh tubuhnya, kecuali kepalanya cukup diusap saja dengan tangan sehingga tidak merusak hiasan rambutnya. Dan seandainya sekujur tubuhnya diberi wangi-wangian dan sebagainya, lalu ia khawatir semua itu akan hilang atau rusak apabila ia mandi, maka dibolehkan baginya bertayamum. (Lihat Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala ‘l-madzahib Al-Arabia I/113.
  3. Bagi wanita yang mandi setelah suci dari haid atau nifas, dianjurkan menggunakan kapas yang diberi sedikit wangi-wangian, di tempat bekas keluarnya darah, guna menghilangkan sisa-sisa bagu, seandainya masih ada.

Beberapa Hal Lain Berkaitan dengan Mandi Wajib.

Beberapa hal yang sering dipertanyakan sekitar mandi wajib, antara lain sebagai berikut :

  1. Seorang yang telah melaksanakan mandi wajib, tidak perlu lagi berwudhu sesudahnya. Karena niat menghilangkan ‘hadas besar’ dianggap sudah meliputi ‘hadas kecil’
  2. Cukup mandi satu kali saja, meliputi mandi janabat, mandi hari Jum’at, dan mandi hari raya, apabilaia meniatkan itu semua ketika memulai mandinya tersebut. (Yakni tidak usah mandi berulang-ulang).
  3. Dibolehkan bagi seorang pria, bermandi-wajib dari air bekas mandi-wajib wanita, dan sebaliknya. Dan dibolehkan pula suami-istri mandi dari satu bejana.
  4. Tidak dibenarkan mandi di tempat terbuka atau di tengah-tengah khalayak, kecuali dengan menutup aurat.
  5. Dibolehkan menyeka air mandi atau air wudhu dengan handuk dan sebagainya, baik di kala musim panas atau dingin.
  6. Tidak ada larangan atas seorang junub atau wanita yang sedang haid, memotong kuku, menghilangkan bulu atau rambut, keluar rumah dan sebagainya. Lihat antara lain, Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, I/65.