Fiqih Praktis : Bab 2 – 2. Cara Mencuci Benda Yang Terkena Najis

  1. Pakaian Atau Anggota Badan Yang Terkena Zat Najis.  Pakaian atau anggota badan yang terkena najis, wajib dicuci dengan air bersih (air yang suci dan menyucikan), sedemikian rupa sehingga zat najis itu hilang warnanya, baunya dan rasanya. Jika, setelah cukup dicuci, masih juga ada sedikit warna atau bau  yang sukar dihilangkan, hal itu dimaafkan.
  2. Zat Najis Yang Tidak Tampak. Bila zat najis itu tidak tampak; seperti kencing yang sudah lama kering, sehingga telah hilang tanda-tandanya atau sifat-sifatnya, cukup mengalirkan air di atasnya, walaupun hanya satu kali saja.
  3. Bejana Yang Terkena Jilatan Anjing. Bejana (tempat makan, minum atau alat memasak, seperti piring, gelas dan periuk) yang bagian dalamnya terkna jilatan anjing, dibasuh tujuh kali, yang pertama atau salah satunya dicampur dengan tanah. Boleh juga menggantikan tanah dengan sabun, atau pembersih lain yang kuat. *Menurut pendapat Mahmud Syaltut, mantan Syaikh Al-Azhar di Mesir, ketentuan pencucian bejana yang dijilati anjing, sebanyak tujuh kali, satu di antaranya dengan air bercampur tanah, tidak harus dipahami secara harfiah. Yang penting, mencucinya beberapa kali sedemikian rupa sehingga diyakini bejana tersebut telah bersih dari air liur anjing. Demikian pula tanah dapat diganti dengan sabun atau pembersih lainnya yang kuat (Lihat Al-Fatawa, hlm 86). Benda-benda selain bejana, demikian pula anggota badan seseorang atau pakaiannya, jika tersentuh anjing, wajib mencucinya sampai benar-benar bersih walaupun hanya satu kali saja jika dengan itu dapat menjadi bersih kembali. Seperti telah diketahui, menurut mazhab Imam Malik, persentuhan antara anjing dengan tubuh atau pakain atau apa saja, selain jilatannya dalam alat makan dan minum, tidak dianggap najis, sebagaimana telah dijelaskan ketika membahas tentang zat apa saja yang dianggap najis.
  4. Benda Yang Tersentuh Babi. Untuk menyucikan sesuatu yang tersentuh babi, cukup dengan membasuhnya satu kali saja dengan air, tanpa tanah, apabila dianggap sudah cukup bersih kembali (sama seperti najis-najis lainnya). Sebagaiman telah dijelaskan sebelum ini, sebagian besar ulama mazhab Syafi’I menyamakan babi dengan anjing, dan kaernanya mewajibkan penyucian sesuatu yang tersentuh atau terjilat babi, sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan air bercampur tanah. Tetapi An-Nawawi (dari mazhab Syafi’i juga) menegaskan bahwa jika ditinjau dari segi dalilnya, cukup mencucinya satu kali saja tanpa tanah. Ia menambahkan, “Begitulah pendapat sebagian besar ulama yang menyetujui najisnya babi. Dan pendapat inilah yang menjadi pilihan, mengingat tidak ada sesuatu yang wajib kecuali jika telah ditentukan oleh syariat. “ (Al-Majmu’ II/537). Adapun pendapat Imam Malik tentang hal ini seperti telah kita ketahui –lebih meringankan lagi. Yaitu bahwa babi dalam keadaan hidup, adalah suci (tidak najis); sama saja seperti binatang-binatang lainnya. Karenanya, tidak wajib mencuci apa saja yang tersentuh dengannya ketika masih dalam keadaan hidup.
  5. Cara Menyucikan Kencing Bayi.  Kencing bayi (laki-laki atau perempuan) berusia di bawah dua tahun dan tidak makan makanan selain air susu manusia (baik dari ibunya sendiri maupun seorang wanita selainnya), cukup diperciki air bersih di atasnya dan sedikit lagi di sekitarnya. *Dalam Shahih Muslim, disebutkan sebuah riwayat dari Aisyah r.a. bahwa, “Adakalanya bayi-bai dibawa ke hadapan Rasulullah Saw., untuk diberkati (didoakan) dan diolesi sedikit kurma di mulutnya oleh beliau. Seorang dari mereka pernah kencing di pangkuan beliau, lalu beluau memerintahkan agar dipercikkan air di atasnya dan tidak perlu dicuci. Dalam Hadis ini tidak disebutkan apakah bayi-bayi itu laki-laki atau perempuan. Karenanya, menurut pengaran kitab Jam’ul Jawami, Asy-Syafi’I tidak keberatan apabila keringanan tersebut juga diterapkan atas kencing bayi perempuan. Hal ini, kata Al-Baihaqiy, mungkin disebabkan karena tidak ada hadis lainnya dalam masalah ini, yang memenuhi persyaratan untuk disahihkan oleh Asy-Syafi’i. Walaupun demikian, cukup banyak ulama lainnya mengkhususkan keringanan ini hanya bagi bayi laki-laki saja, berdasarkan sebuah ‘hadis’ lain yang pernah dirawikan oleh Abu Daud : “Kencing bayi perempuan dicuci, sedangkan kencing banyi laki-laki cukup dipercikkan (air) di atasnya “  Lihat An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarb A-Muhadzdzab, jilik II, hlm 541).
  6. Tanah Yang Terkena Najis. Untuk menyucikan tanah yang terkena najis, cukup dengan menuangkan air di atasnya, sehingga meliputi tempat najis tersebut. Tanah, pohon dan bangunan yang terkena cairan najis, dapat diangap suci kembali apabila cairan itu telah mongering. Tetapi jika najis itu berupa zat beku, maka tidak akan suci kembali kecuali zat najis tersebut telah hilang atau dihilangkan
  7. Mentega Yang Terkena Najis. Mentega, minyak yang beku dan serupa dengan itu, apabila terkena zat najis (misalnya, kejatuhan bangkai cicak dan sebagainya) cukup dibuang  bagian yang terkena najis tersebut dan sekitarnya saja. Sisanya tetap boleh dimakan. Akan tetapi, jika najis itu menyentuh bahan makanan yang cair, seperti minyak goreng misalnya,maka semuanya menjadi najis. Kecuali jika zat najis itu sangat sedikit atau  minyak tersebut sangat banyak sedemikain rupa sehingga tidak mengalami perubahan sedikit pun, baik warna, rasa dan baunya.
  8. Kaca, Pisau, dan Keramik. Untuk membersihkan kaca, pisau, pedang, keramik, dan segala benda  yang permukannya licin seperti itu, apabila terkena najis, cukup dengan mengusapnya sehingga hilang bekas-bekas najis tersebut.
  9. Sepatu dan Sandal. Bagian bawah sepatu, sandal dan sebagainya, apabila terkena najis, cukup dibersihkan dengan cara menggosokkannya ke tanah sehingga hilang zat najis darinya.
  10. Tali Jemuran. Tali jemuran yang pernah digunakan untuk menjemur pakaian yang terkena najis,dapat dianggap suci kembali jika telah mongering, baik karena panas matahari atau hembusan angin.
  11. Tetasan Air Yang Meragukan. Apabila seseorang terkena tetasan atau percikan air yang tidak jelas najis atau tidaknya, maka tidak wajib menanyakan hal itu dan tidak pula mencucinya. Akan tetapi jika ia telah diberitahu oleh orang terpercaya bahwa air itu adalah najis, maka wajib menyucikannya.
  12. Pakaian Yang Terkena Lumpur Jalanan. Pakaian yang terkena lumpur jalanan, tidak harus dicuci walaupun jalanan tersebut biasanya terkena najis. Kecuali jika ia yakin bahwa yang mengotorinya itu zat najis.
  13. Melihat Najis di Pakaian Setelah Selesai Shalat. Jika seseorang telah menyelesaikan salatnya, lalu melihat najis di pakaian atau tubuhnya, sedangkan sebelum itu ia tidak mengetahuinya, atau telah mengetahui tetapi terlupa maka ia hanya wajib mengulangi salatnya yang terakhir saja. Yakni sebelum mengetahui adanya najis tersebut.
  14. Najis Yang Tidak Dikenali Tempatnya. Jika seseorang mengetahui adanya najis pada pakaiannya tetapi kini ia tidak tahu lagi di bagian manakan najis tersebut, wajiblan ia mencuci semuanya, karena hanya dengan begitu ia dapat menyakini kesuciannya.
  15. Menyamak Kulit Bangkai. Kulit bangkai, selain anjing dan babi, dapat menjadi suci setelah melalui proses  penyamakan.   Nomor 1.2,5,6 sampai dengan 15 lihat antara lain : Sayid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, jilid I, hlm 24 s.d 29; Taqiyyuddin Ad-Dimasyqiy, Kifayat Al-Akhyar, Bab Atu-Thaharah; dan An-Nawawiy, Al-Majmu’ Syarh Al mUhadzdzab, II/501
  16. Menggunakan Alat-Alat Makan-Minum Orang-orang Non-Muslim. Dirawikan bahwa Abu Tsa’labah Al-Khusyani pernah bertanya, “ Ya Rasulullah, adakalanya kami berada di negeri Ahl’l-Kitab. Bolehkan kami makan dan menggunakan alat-alat makan-minum mereka?. Jawab Nabi Saw. “Jika ada yang lainnya, sebaiknya tidak menggunakan alat-alat mereka. Tetapi jika tidak da, cuculah dan kemudian makanlah.” (HR Bukhari dan Muslim). Menurut hemat saya, hadis di atas tidsak mewajibkan kita mencuci sendiri alat-alat tersebut, tetapi cukup dengan adanya keyakinan bahwasi pemilik alat-alat tersebut telah mencucinya dengan air bersih sebelum digunakan kembali. Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *