Fiqih Praktis : Bab 2 – 1. Zat-Zat Najis dan Cara Mencucinya

 1.  Zat-zat Najis

Setiap Muslim hendaknya sedapat mungkin menghindari benda-benda atau zat-zat najis. Yakni segala suatu yang kotor atau menjijikkan, menurut agama. Akan tetapi, jika terkena juga suatu benda atau zat najis, terutama pada tubuh, pakaian, atau tempat shalat, wajiblah ia membasuh dan menyucikannya kembali.

Pada dasarnya, semua zat atau benda adalah suci (bersih) kecual iyang dinyatakan najis oleh syariat. Di antaranya, bangkai, darah, dan daging babi, seperti tercakup dalam Al-Quran, QS. Al-Maidah [5]:3.

Di bawah ini keterangannya lebih lanjut:

1.  Bangkai. Yakni hewan yang mati dengan sendirinya (tidak disembelih menurut aturan dan persyaratan syariat). Termasuk dalam hal ini, bagian dari tubuh hewan (misalnya punuk atau ekor sapi) yang dipotong ketika hewan itu masih hidup. Semua bangkai najis kecuali :

    1. Bangkai Ikan dan belalang. Demikian pula semua bangkai serangga yang tidak berdarah mengalir. Seperti semut, nyamuk, lebah dan sebagainya. Sabda Nabi Saw. Ketika ditanya tentang laut, “Itu dia (laut) yang suci airnya, dan halal bangkainya.” (HR Bukhari dan Muslim). Dan juga sabda beliau, “ Dihalalalkan untuk kita dua jenis bangkai :ikan dan belalang; dan dua jenis darah : Hati dan limpa (HR Ahmad, Syafi’I, Ibnu Majah dan Al-Baihaqiy).
    2. Kulit bangkai setelah disamak, kecuali kulit anjing dan babi.
    3. Tulang, tanduk, kuku, rambut, dan bulu bangkai (yakni bagian-bagian tubuh yang tidak bernyawa). Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, II/22. Menurutnya, tidak ada dalil bahwa semua itu najis. Kata Az-Zuhri tentang tulang binatang yang sudah mati, “Aku menyaksikan beberapa orang di antara ulama terdahulu menggunakannya sebagai sisir, atau sebagai tempat minyak (untuk meminyaki tubuh atau rambut mereka). Mereka tidak melihat ada keberatan apapun tentangnya.” (Demikian menurut Al-Bukhari) Namun Mazhab Syafi’I menganggap tulang, kuku, bulu dan rambut yang berasal dari bangkai, semua itu adalah najis. (pen)
    4. Susu serta anfihah (air dadih yang digunakan dalam pembuatan keju) yang berasal dari bangkai. Anfihah atau Infihah ialah bahan penggumpal berbentuk enzim digunakan dalam pembuatan keju; disebut rennet, whey, atau pepsin. Adakalanya diekstrak dari lambung anak sapi, disebut calf rennet; dan ada juga dari lambung babi, disebut porcin pepsin. (Simber : Munir Ba’labakkiy, Al-Maurid, cet. 1997; dan majalah Ummat no 39, 20 April 1998, hlm 77).  Menurut Sayyid Sabiq, ketika para sahabat nabi berhasil menaklukkan negeri Persia, mereka ikut makan keju buatan kaum Majusi yang menngunakan Anfihah. Sedangkan hewan sembelihan mereka dianggap sama saja dengan bangkai. Salam Al-Farisi pernah ditanya tentang keju, samin dan baju kulit, lalu jawabnya, “Sesuatu yang halal adalah yang dihalalkan Allah dalam Kitab-Nya. Sedangkan sesatu yang haram adalah yang diharamkan Allah dalam Kitab-Nya. Adapaun  yang tidak disebut-sebut oleh-Nya, maka itu termasuk hal yang dimaafkan bagimu. “Tentunya dimaklumi pertanyaan tersebut berkaitan dengan keju orang-orang Majusi, ketika Salman menjabat wakil Umar bin Khattab di Madain (Fiqh As-Sunnah I/23).  An-Nawawi menyebut dalam Al-Majmu’, bahwa menurut mazhab Syafi’I, susu yang berasal dari binatang yang dagingnya tidak halal di makan, adalah najis juga. Adapun anfihah yang diambil dari anak domba sesudah mati, atau dari yang disembelih setelah makan makanan selain susu, maka hukumnya tidak najis. Sebab, para salaf tidak keberatan makan keju yang menggunakan anfihah seperti itu. Seperti itu pula pendapat Malik dan sebagian ulama Hambali mengenai anfihah yang diambil dari hewan setelah mati. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan sebagian ulama Hambali lainnya, anfihah seperti itu, hukumnya suci (tidak najis); sama seperti pendapat mereka tentang tidak najisnya telur yang dari hewan yang sudah mati. (Berdasarkan pendapat yang menghalalkan keju yang dalam pembuatannya menggunakan anfihah berasal dari bangkai, seperti tersebut di atas, dapatkah kita meng-qiyas-kan anfihan atau pepsin yang berasal dari  babi [seperti yang konon banyak digunakan perusahaan keju di luar negeri] dengan yang dari bangkai?! Mungkin hal ini perlu menjadi bahan ijtihad para ulama kita yang kompeten. Wallahu A’lam – pen).

 2.  Darah.   Segala macam darah, termaskjuga nanah, adalah najis. Dikecualikan dari ini (atau dimaafkan) :

    1. Sisa darah yang berada di dalam daging, urat-urat dan tulang hewan yang telah disembelih; atau darah ikan. Demikian pula darah yang tampak dalam periuk ketika memasak daging.
    2. Darah atau nanah yang berasal dari bisul atau luka orang itu sendiri (bukan dari luka orang lain, kecuali sedikit saja)
    3. Darah nyamuk, kepinding, kutu kepala dan sejenisnya (yakni yang tidak berdarah mengalir).

3.  Daging babi. Sesuai dengan ayat Al-Quran di atas (QS. Al-Ma’idah [5]:3), semua ulama sepakat bahwa daging babi adalah najis. Demikian pula tentang najisnya binatang babi secara keseluruhan. Kecuali mazhab Malik yang berpendapat bahwa babi dalam keadaan hidup- seperti juga binatang-binatang lainnya-adalah suci (tidak najis). Menurut An-Nawawi (dari kalangan mazhab Syafi’i, dalam bukunya: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadz-dzab), “tidak ada dalil jelas tentang najisnya babi dalam keadaan hidup.”

4.  Anjing. Menurut Syafi’i, Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal, anjing adalah najis berdasarkan makna yang dapat dipahami dari hadis Nabi Saw. “Apabila anjing menjilati bejana (tempat makan minum) salsh seorang dari kamu, hendaklah ia membuang isinya dan mencuci bejana itu sebanyak tujuh kali, yang pertama dengan (campuran) tanah.” (HR. Muslim).  Akan tetapi Malik, Daud dan Az-Zuhriy berpendapat bahwa anjing adalah binatang suci (yakni tidak najis), sama seperti binatang-binatang lainnya. Adapun kewajiban mencci bejana yang dijilati anjing sebanyak tujh kali, merupakan sesuatu yang bersifat ta’abbudi, yakni sebagai perintah yang wajib diikuti berdasarkan hadis yang disahihkan, meski tidak diketahui hikmahnya. Tetapi hadis tersebut tidak cukup menunjukkan kenajisan binatang anjing secara keseluruhan. Mereka juga berdalil dengan fiman Allah tentang binatang buruan yang ditangkap oleh anjing yang sudah terlatih untuk berburu: “… Dihalalkan bagi kamu (makanan) yang baik-baik, demikian pula (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajari (dengan melatihnya untuk berburu).  Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untuk kamu… “(QS Al-Maidah[5]:4). Dalam ayat tersebut- kata mereka-tidak ada sebutan tentang kewajiban mencuci bagian yang terkena gigitan binatang (termasuk anjing pemburu) itu. Mereka juga berdalil dengan hadis dari Ibnu Umar R.a. bahwa “anjing-anjing dating dan pergi dalam masjid, di masa hidup Rasulullah Saw; tak seorang pun merasakan suatu keberatan tentang itu.” (HR Bukhari). Oleh sebab itu, persentuhan dengan anggota tubuh anjing, selain yang berkaitan dengan jilatannya dalam bejana, tidak menyebabkan najis.

Pendapat Imam Malik, Daud dan Az-Zuhriy ini seperti tersebut di atas, tentunya sangat meringankan, dapat diikuti dalam pelbagai keadaan yang memaksa. Misalnya di jalan raya dan tempat-tempat umum, erutama di daerah-daerah tertentu yang mayoritas penduduknya terdiri ats masyarakat non-Muslim dan sebagainya. Namun, mengingat banyaknya mazham serta ulama yang bahkan menganggap najis dari anjing dan babi sebagai najasah mughallazhah (sangat pekat)- yang tentunya juga berdasarkan pemahaman mereka terhadap dalil-dalil yang menyakinkan-maka tidak sepatutnya kita memelihara anjing di rumah untuk bermain-main dengannya, apalagi membiarkannya makan dan minum dari tempat-tempat makan dan minum yang biasa kita gunakan untuk diri kita sendiridan keluarga kita. Kecuali, misalnya, memelihara anjing semata-mata untuk menjaga rumah, perusahaan dan sebagainya, sambil memisahkannya dari kegiatan kita sehari-hari. (Lihat pembahasan tentang ini, antara lain dalam An-Nawawi, Al-Majmu’ II/519; Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala’l-Madzahib Al-Arba’ah, I/11; Rahmat Al-Ummah, hlm 7 dan lain-lain). Sebagai tambahan silakan baca kembali pengalaman Sayyid Ahmad Zainiy Dahlan, Mufti mazhab Syafi’I, dalam Kata pengantar buku ini, ketika bajunya sobek karena gigitan anjing, namun ia tetap melaksanakan shalat dengan bajunya itu, karena mengikuti mazhab Imam Malik. –Pen.

5.  Segala cairan yang keluar dari kedua ‘pintu pelepasan’. (qubul dan dubur), seperti kencing dan kotoran (tinja) manusia dan hewan. Termasuk dalam hal ini, wadi (cairan kental berwarna putih yang adakalanya keluar setelah kencing) dan madzi (cairan licin berwarna putih yang adakalanya keluar ketika menghkhayalkan hubungan seksual, atau ketika melakukan persentuhan-persentuhan yang menimbulkan syahwat antara laki-laki dan perempuan). Keluarnya wadi dan mazdi hanya membatalkan wudhu (seperti kencing) dan jika mengenai pakaian, cukup diperciki air saja, berdalilkan beberapa hadis Nabi Saw tentang hal itu.

Dikecualikan dari cairan-cairan najis tersebut di atas

    1. Mani (sperma) manusia.  Mani atau sperma (dari manusia atau hewan selain anjing dan babi) adalah suci (tidak najis) menurut mazhab Syafi’I dan Ahmad bin Hanbal. Tetapi najis menurut mazhab Malik dan Abu Hanifah.
    2. Kencing dan kotoran hewan yang dagingnya halal dimakan seperti domba, sapi dan sebagainya. Begitulah menurut mazhab Malik dan Ahmad bin Hanbal serta sebagian ulama mazhab Syafi’I (di antaranya Ibnu Khuzaimah, Ar-Ruyani dan Al-Istakhri). Akan tetapi mayoritas ulama mazhab Syafi’I selain merkea, menganggapnya najis. (Lihat Taqiyyuddin Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi’I, Kifayat Al-Akhyar, I/40, Slaiman Mar’I Singapore, Tanpa tahun; dan An-Nawawi, Al-Majmu’ II/503)
    3. Kotoran burung termasuk najis yang dimaafkan, karena sulit pencegahannya.

6.  Muntahan. Yakni makanan atau minuman yang keluar kembali melalui mulut setelah mencapai alat pencernaan dalam perut. Kecuali sedikit cairan yang keluar dari mulut seseorang yang sedang tidur. Adapun air liur, ingus dan dahak, semuanya tidak najis.

7.  Khamr (minuman keras yang memabukkan). Khamr adalah najis menurut mayoritas ulama, berdalilkan firman Allah SWT., “Sesungguhnya khamr, perjudian, berhala-berhala dan panah-panah (untuk mengadu nasib) adalah rijs, termasuk perbuatan setan… (QS. Al-Maidah:90). Mereka mengartikan kata rijs sama dengan najis. Akan tetapi, diriwayatkan bahwa Rabi’ (guru Imam Malik) serta Daud Azh-Zhahiri berpendapat bahwa khamr (yaitu perjudian, berhala-berhala dan panah untuk mengadu nasib) tidak mungkin berkaitan dengan najis hakiki atau inderawi. Karenanya, meskipun minum khamr disepakati sebagai perbuatan haram, namun tidak berarti bahwa zat khamr itu sendiri harus dianggap najis. Demikian pula, makanan dan minuman memabukkan lainnya, seperti candu, kokain dan sebagainya; haram memakannya meskipun tidak najis zatnya. (Baca Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, jilid I, hlm 27, kutipan dari Subul As-Salam). Berdasarkan ini, kita dapat menyatakan bahwa minyak wangi yang tercampur dengan alcohol, tidak najis, demikian pula politer yang tercampur dengan spiritus dan sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *