Monthly Archives: July 2013

Jalur Pantura Bikin Sengsara, Solusinya? Ke Laut Aja…

Pak Bos : “Halo Cho… Baca koran kok karo mesam-mesem gitu tho, kayaknya ada sesuatu yang menarik”.

Mr. Choro : “Ini Lho Pak Bos, lagi baca komentarnya Mr. Pecut dari Jawa Pos, kata-katanya begini…Jalan Pantura Beres = Keajaiban dunia ke 8 ha ha…”

Pak Bos : “Iya Cho, jalan pantura lagi jadi sorotan nih… Bahkan kabarnya mulai jadi target penyelidikan KPK. Disinyalir ada yang nggak beres di sana. Lha wong perbaikan jalan kok udah bertahun-tahun nggak kelar-kelar, istilahnya jadi proyek abadi… Yang namanya proyek abadi seperti itu jelas rawan terhadap penyelewengan anggaran… wajar lah kalo rakyat ini bertanya-tanya ada apa dengan cinta eh… dengan jalan pantura itu…dan sekarang bau tak sedap itu sudah mulai tercium di mana-mana…”

Mr. Choro : “Mangkanya itu pak Bos, komentarnya Mr. Pecut itu kayaknya yen tak pikir-pikir ada benarnya juga, saya termasuk yang turut mengamati jalanan itu karena tiap kali mudik atau pas pulang kampung biasa melewatinya. Yen tak rasakan juga sudah bertahun-tahun lalu sampai saya lupa kapan mulainya yang jelas sudah lamaaa sekali kok perbaikan, rusak lagi, perbaikan lagi, rusak lagi begituuu terus, entah kapan selesainya… entah berapa triliun duit rakyat habis untuk jalan itu… Kita itu memang susah ya belajar dari pengalaman, padahal ada peribahasa katanya keledai saja takkan terantuk untuk yang kedua kali… masak kita menghadapi permasalahan yang sama tiap tahun… Gak ketemu nalar memang…

Gara-gara perbaikan itu, beberapa waktu yang lalu pas saya lagi pulang kampung, Pantura muacetnya luar biasa Bos, sampai berpuluh-puluh kilo… Padahal udah saya niati berangkatnya malam-malam biar lancar, eh ternyata tetap kena macet juga… awalnya sih pengin jadi pengendara yang baik dan taat aturan ikut jalur kiri dan ngantri di belakang para monster-monster truk gandeng, trailler, dan tronton itu… lha kok tak tunggu-tunggu berjam-jam gak jalan-jalan, tak amat-amati supir truk di depan saya matikan mesin trus tertidur … ngorok lagi…., janc** tenan bos, Wah kalo ngikuti truk-truk itu bisa-bisa tiga hari baru sampai rumah saya… akhirnya terpaksa langgar aturan juga… tancap gas ambil jalur kanan sambil ketar-ketir dipisuhi dan dipelototi lampu dim kendaraan yang datang dari arah berlawanan… ampun deh bos… untung aja selamet…

Pas pulangnya saya coba melewati jalur alternatif dan ternyata jalan tersebut yang sebulan sebelumnya hanya sedikit kerusakan di beberapa titik tertentu ternyata juga rusak parah… hancur semua karena dilewati oleh kendaraan yang bukan kelasnya. Rupanya para sopir kendaraan berat itu pun berpikiran sama seperti saya mencoba melewati jalur alternatif… betul-betul ruwet bos…”

Pak Bos : “Yen menurutmu masalahnya di mana Cho, jalan pantura kok jadi kayak gitu itu… diperbaiki tapi gak baik-baik…?”

Mr. Choro : “Kalo menurut saya kayaknya masalahnya ada di Pak Bos dan bolo-bolonya itu dech”

Pak Bos : “Waa lha mulai ngawur kowe… menyalahkan saya, apa hubungannya Cho antara saya sama jalan pantura…”

Mr. Choro : “Pak Bos ini sebagai Bos besar yang punya perusahaan-perusahaan besar, ngomong-ngomong merasa gak kalo armadanya Bos si Truk gandeng, trailler, tronton sama kendaraan berat lainnya itu yang bikin rusak jalan?”

Pak Bos : “Lha itu bukan urusan saya to Cho… Kendaraan-kendaraan berat, panjang dan lebar itu kan untuk efisiensi dan efektivitas distribusi produk-produk saya… bayangkan seandainya untuk mengirim barang-barang saya yang jumlahnya bejibun itu pake mobil box kecil, truk engkel atau pick up… jelas tidak ekonomis sama sekali dari segi BBM, ongkos supir, perawatan kendaraan dan lain-lainnya?”

Mr. Choro : “Di situlah letak penyakitnya Bos… keuntungan usaha pak Bos dari penggunaan kendaraan berat pembikin rusak jalan itu akhirnya harus ditanggung oleh pemerintah dengan menghabiskan duit triliunan rupiah tiap tahun untuk merawat dan memperbaikinya, kalimat lainnya keuntungan pak Bos itu sebenarnya dibayar oleh seluruh rakyat Indonesia gak peduli kaya atau miskin…

Bukankah itu namanya sangat tidak adil?… Masak pak Bos yang sudah kaya raya ini ditomboki oleh orang-orang pas-pasan seperti saya… Pak Bos ndak malu apa…

Pak Bos : “Lha aku kan sudah membayar pajak Cho untuk perbaikan jalan itu tho…”

Mr. Choro : “Maksud pak Bos ndak apa-apa ngrusakin jalan? toh sudah bayar untuk memperbaikinya gitu? Kata-kata pak Bos itu memang ada benarnya dan itu pula yang menjadi sebab awal adanya proyek abadi dan menjadi biang penyelewengan pajak, pendapatan dan belanja negara…”

Pak Bos : “Kayaknya analisamu itu perlu dibuktikan dulu itung-itungannya,… okelah kalau memang kendaraan berat itu yang bikin rusak jalan, berarti kualitas jalannya yang harus diperbaiki… Gimana kalo pake beton semua biar kuat selama puluhan tahun kayak jalan tol …”

Mr. Choro : “Betul Bos, jalan pake beton memang awet… tapi berapa biayanya? Meskipun saya bukan insinyur teknik sipil tapi saya tahu biaya pembuatan jalan beton itu pasti sangat-sangat luar biasa mahal… , Lagi pula membangun jalan beton ribuan bahkan  jutaan kilometer di seluruh Indonesia itu mau butuh waktu berapa lama… Lha wong jalan tol di Pantura yang jaraknya cuma ratusan kilometer aja bertahun-tahun nggak kelar-kelar, bayangkan kalau ditambah lagi dengan jalan-jalan di pulau-pulau lain selain Jawa, sampai kiamat kali kita sibuk terus bangun jalan… Beigitu di akhirat bisa dipisuhi dan disumpahi  sama anak-cucu kita nanti….,

Saat ini kebutuhan rakyat kita ini bukan hanya jalan saja bos… masih banyak kebutuhan lain misalnya pertanian, perumahan, pendidikan, kesehatan, pertahanan dan keamanan dan lain-lainnya. Kalau kekayaan negara kita tak ada batasnya sih gak apa-apa, semua bisa dibeli. Lha masalahnya kan kekayaan dan anggaran negara kan terbatas, sudah gitu dikorupsi lagi.  Gak papa sih kalo Bos yang mau nanggung biaya pembangunan dan perbaikan jalan yang bos lewati itu, bukan dari pajak seluruh rakyat rakyat karena memang pak Bos yang tukang ngerusaknya… he he..”

Pak Bos : “Trus idemu seperti apa kalo bukan membangun jalan beton…?”

Mr. Choro : “Ini analisa lagi bos.. bisa bener bisa tidak, karena memerlukan penelitian lebih lanjut… Untuk mengatasi keruwetan di jalan pantura yang macet, rusak, jadi proyek abadi dan lain-lainnya memang kembali lagi kita harus berpikir lebih luas, dalam dan panjang dalam mengamati situasi dan kondisi yang terjadi dengan tak lupa pula melihat kondisi statis maupun dinamis yang mempengaruhi. Berpikiran sempit dan  jangka pendek memang mudah dan jelas menghasilkan keuntungan pribadi lebih besar. Misalnya jalan rusak… perbaiki saja, lumayan ada proyek to… Penyeberangan Merak – Bakauheni macet… gampang… bangun jembatan saja, kekurangan daging sapi, beras, sembako… impor saja. ..

Jalur pantura macet… dan rusak,  bangun dan perlebar lagi jalannya… Kayaknya gak perlu sekolah, title dan gelar tinggi-tinggi kalau hanya bisa berpola pikir seperti itu bos, semua orang juga bisa… wong memang sederhana dan  jelas keliatan …”

Pak Bos : “Trus strateginya piye menurutmu?”

Mr. Choro : “Berbicara tentang strategi maka hal itu tak akan terlepas dari yang namanya keterbatasan. Secara umum dapat dikatakan bahwa strategi adalah skill untuk mengelola keterbatasan, karena jika semuanya tak terbatas maka tak perlu lagi ada strategi. Bahasa mudahnya kalau kita punya sumber daya berlimpah tentu semua masalah relatif gampang untuk diatasi. Di situlah letak seninya.

Untuk mengatasi masalah kemacetan dan perbaikan di Pantura mari kita mencoba melihat dari dasar lagi yakni bentuk geografis negara kita.  Kita bisa saja membangun jalan sekuat-kuatnya dan selebar-lebarnya kalau bentuk negara kita ini bukan negara kepulauan. Di negara yang berbentuk benua atau kontinental, hal tersebut dapat dimaklumi karena memang sarana alam yang ada yang hanya lewat daratan.

Negara kita ini kan terdiri dari beribu-ribu pulau lengkap dengan laut yang mempersatukannya. Seharusnya semua yang kita miliki dioptimalkan potensinya agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya. Bukan hanya daratan saja yang kita jadikan sebagai sarana transportasi utama tetapi laut dan udaranya juga. Contohnya tengoklah ke masa lalu saat masih berlakunya Repelita ala Orde Baru. Repelita satu pertanian, dua pertanian, tiga pertanian… Laut sama sekali tak pernah jadi perhatian…  Itu sama saja tidak adil terhadap alam… dan jangan menyalahkan siapapun ketika kita sekarang  seakan-akan sedang diadili dan dikutuk olehnya…

Padahal yang namanya laut itu Bos… Jalanan alami tidak perlu banyak keluar duit, alias tidak perlu pembangunan, tidak perlu perbaikan, tidak perlu perawatan ala daratan, tidak perlu penerangan lalu lintas, tidak ada persimpangan jalan, tidak perlu banyak-banyak rambu-rambu lalu lintas, tidak perlu polisi lalu lintas apalagi polisi cepek, tidak perlu polisi tidur… kecuali ombak bos…, dan keistimewaan-keistimewaan lainnya. Tinggal pemanfaatannya yang harus disesuaikan dengan peruntukannya agar sesuai dengan karakteristik dan keistimewaannya tersebut.”

Pak Bos : “Peruntukannya bagaimana maksudmu?”

Mr. Choro : “Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menyinergikan wahana darat, laut dan udara yang kita miliki sesuai potensi terbesarnya. Keistimewaan utama laut dibandingkan daratan adalah gaya gravitasi sudah tidak berlaku di sana, alias terhalang oleh hukum pengapungan benda Archimides. Karena itulah di laut tidak mengenal batas ukuran, pak Bos mau bikin kapal segedhe Gunung pun masih tetap terapung asalkan kedalamannya memenuhi syarat… dengan kata lain biarkan alam sendiri yang akan membatasinya.

Jika kita mengacu kembali rumus dasar fisika tentang momentum yaitu elemen jumlah, ukuran dan kecepatan… maka jika pak bos ingin bermain untuk material yang berukuran besar, ya di laut tempatnya… jangan di darat, karena di negara kepulauan, alat transportasi darat berukuran besar itu namanya sudah menyalahi kodrat, menantang alam, melawan gravitasi, merugikan pengguna jalan lainnya termasuk membuang-buang anggaran yang tidak perlu seperti perbaikan abadi di jalan Pantura. Prinsip transportasi darat untuk negara kepulauan adalah silahkan sebanyak-banyaknya tetapi relatif kecil-kecil saja, sesuai dengan bentuk negaranya. Lagi pula membangun jalan yang lebar-lebar di pulau-pulau kita yang ukurannya relatif kecil-kecil jelas akan mengurangi ruang untuk kita hidup dan tinggal…

Jika kita di laut kita bermain yang kecil-kecil meskipun jumlahnya banyak, itu juga namanya melawan alam. Contohnya nelayan kita yang menggunakan perahu-perahu kecil untuk menangkap ikan, kehidupannya pas-pasan terus tanpa akhir karena aktivitasnya sangat tergantung cuaca.

Jadi intinya dari pembahasan panjang lebar itu Bos… Untuk mengatasi permasalah jalan pantura memang harus berpikir secara holistik dan menyeluruh. Tidak bisa sepotong-sepotong hanya membahas tentang satu hal dan satu aspek. Karena banyak hal yang saling terkait dan mempengaruhi. Percayalah Bos… jika kita adil terhadap alam, maka alampun  akan memberikan balasan yang sama kepada kita…”

Pak Bos : “Lha mosok kayak gitu aku yang harus memikirkannya Cho,… ngurusi buruh naik UMR aja wis mumet ndasku… Kan seharusnya yang menjalankan roda pemerintahan di negeri ini yang menyusun semua arah dan konsep pembangunan bagaimana baiknya”

Mr. Choro : “Pernyataan Pak Bos betul sekali… seharusnya pemerintah yang memikirkan, merencanakan dan merealisasikan bagaimana seharusnya sarana transportasi darat, laut dan udara dapat bersinergi di Indonesia… Negara kita tercinta ini… , karena itu memang tugas dan tanggung jawab mereka…

Semua itu sekadar saran dan pendapat Bos…, jika menurut para cerdik pandai di negeri ini tidak mungkin dilaksanakan karena berbagai pertimbangan… ya mungkin awak ini yang masih harus banyak belajar dan menambah wawasan… namanya juga konsep dan wacana, bisa benar bisa salah… Kita hanya mencoba untuk berpikir global dan beraksi lokal. Yang penting kita masih mau berpikir untuk kebaikan bangsa ini dan demi masa depan anak cucu kita kelak…

Sementara ini  yang paling mudah untuk dilakukan ya mengikuti nasehat Ustadz Aa Gym tentang manajemen Kalbu… “Mulailah hal yang baik dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulailah dari sekarang”

Karena bangsa yang besar terdiri dari pribadi-pribadi dan individu-individu yang besar pula…”

peace…

 

Fiqih Praktis : Bab 5 – Wudhu

Wudhu adalah salah satu cara bersuci yang dilakukan oleh seorang Muslim berdasarkan perintah Allah SWT dalam Al-Quran, “Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan kedua tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki… “ (QS. Al-Maidah [5]:6).

Dan telah dirawikan oleh Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Allah tidak akan menerima shalat seseorang dari kamu, apabila ia berhadas, sampai ia berwudhu.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi).

Menurut riwayat lain, “Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci; tidak pula sedekah yang berasal dari khianat (yakni pencurian, korupsi dan sebagainya).”

Untuk berwudhu, harus menggunakan air yang ‘suci dan menyucikan’ seperti telah diuraikan dalam bab tentang bersuci).

Demikian pula, apabila ada suatu zat yang dapat menghalangi sampainya air ke anggota tubuh yang akan dibasuh atau disapu, seperti lilin, cat kuku (cutex) dan sebagainya, maka zat tersebut harus dihilangkan lebih dahulu agar wudhu menjadi sah. Jika zat itu hanya berupa pewarna saja, seperti pacar (binna) untuk pemerah kuku yang tidak menghalangi air, tidak perlu dihilangkan.

Pada saat seseorang berwudhu dan sesudahnya, sudah sewajarnya di samping penyucian anggota tubuhnya dari segala kotoran lahiriah – ia juga meniatkan penyucian batiniahnya dari segala perbuatan dan perangai yang buruk. Agar dengan demikian ia menjadi lebih siap untuk berhubungan dengan Tuhannya, baik ketika mengerjakan shalat setelah itu, membaca Al-Quran, berdoa dan sebagainya.

Rukun-Rukun Wudhu

Hal-hal yang wajib dikerjakan dalam wudhu adalah :

1.  Niat Untuk Berwudhu. Niat, menurut syariat, adalah sengaja mengerjakan suatu perbuatan, demi keridhaan Allah SWT serta mengikuti cara yang ditentukan oleh-Nya. Niat adalah perbuatan hati yang menyertai setiap perbuatan Ibadah, dan tidak wajib diikuti oleh ucapan lisan. Tetepi jika diperlukan untuk menimbulkan konsentrasi, boleh saja mengucapkannya. Misalnya dengan mengucapkan :”Saya berwudhu untuk menghilangkan hadats” Atau : “Saya berwudhu untuk shalat.” Dan sebagainya.

2.  Membasuh Muka. Batasannya ialah dari telinga yang satu ke telinga lainnya, dan dari tempat tumbuh rambut kepala di atas dahi, sampai sedikit di bawah dagu.

3.  Membasuh kedua tangan sampai dengan kedua siku.

4.  Mengusap (menyapu) kepala dengan air. Menurut Mazhab Syafi’i, cukup menyapu sebagian kepala saja, atau beberapa helai rambut yang berada di atas kepala (bukan bagian rambut panjang yang berada di luar batas kepala). Tetapi menurut Abu Hanifah, paling sedikit seperempat kepala. Sedangkan menurut Malik dan Ahmad, tidak cukup kecuali menyapu seluruh kepala. Perbedaan pendapat ini disebabkan cara penafsiran yang berbeda berkenaan dengan uruf (ba’) dalam QS Al-Maidah  6 “wam sahuu biru uusikum”. Sebagian ulama menganggap huruf tersebut mengandung pengertian ‘sebagian kepala’, sedangkan yang lain tidak demikian adanya. Apalagi telah dirawikan hadis yang menyatakan bahwa Nabi Saw. Menyapu seluruh kepalanya ketika berwudhu. Oleh sebab itu, sebaiknya mengerjakannya dengan membasahi kedua tangan lalu mengucap seluruh kepala; dengan meletakkan kedua ibu jari di kedua kening, dan menempelkan jari-jari lainnya di bagian depan kepala (di atas dahi) lalu menggerakkannya ke belakang kepala sampai ke kuduk; dan setelah itu mengembalikannya lagi ke bagian depan kepala.

5.  Membasuh kedua kaki sampai dengan kedua mata kaki. Hampir semua ulama mazhab mewajibkan membasuh kedua kaki dalam wudhu. Namun ada juga riwayat dari beberapa sahabat Nabi Saw. Dan tokoh lainnya yang berpendapat bahwa wajibnya adalah mengusapkan air di atas kaki (sama seperti mengusap di atas kepala), bukan membasuhnya. Praktek seperti itu diriwayatkan dari Anal bin Malik, Abdullah bin Abbasdan Ali bin Abi Thalib r.a. Adapun Ibn Jarir At-Thabari, Al-Auza’iy, Ats-Tsauriy dalam sebagian pengikut Ahmad membolehkan memilih antar membasuh dan mengusap, sedangkan sebagian pengikut Daud Azh-Zahiri mewajibkan kedua-duanya. Di antara penyebab timbulnya perbedaan ini, disamping pelbagai riwayat hadits dari Nabi Saw. Juga adanya dua bacaan (qiraat) berkaitan dengan QS. Al-Maidah: 6 yakni, …wa arjulakum…: (dengan a) dan wa arjulikum (dengan i). Perbedaan tersebut mengakibatkan perbedaan maknanya; antara kewajiban membasuh kaki (mengikuti kewajiban membasuh wajah), dan kewajiban mengusap kaki (mengikuti kewajiban membasuh wajah), dan kewajiban mengusap kaki (mengikuti kewajiban mengusap kepala), Lhat Ibn Rusyd, Bidayat Al-Mujtahid, I/10; An-Nawawi, Al-Majmu’, I/44; Asy-Sya’rani, Al-Mizan Al-Kubra, I/128; Muhammad bin Aburrahman Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi’i, Rahmat Al-Ummah, hal 18 (Bagian pinggir kitab Al-Mizan Al-Kubra).

6.  Tartib : mengerjakan rukun-rukun wudhu di atas secara berurutan. Kecuali apabila menyelam di dalam air y ang banyak, lalu berniat wudhu, maka seketika itu juga, telah sempurna wudhunya.

Sunnah-Sunnah Wudhu

Selain rukun-rukun wudhu yang wajib dikerjakan, sepeti tersebut sebelum ini, ada pula beberapa perbuatan yang dianjurkan (atau disunnahkan) agar wudhu menjadi lebih sempurna.

1. Membaca Basmalah ketika memulai wudhu

2. Mebersihkan gigi dengan sikat gigi, siwak dan sebagainya.

3.  Membasuh kedua telapak tangan sampai ke pergelangan tangan, sebanyak tiga kali.

4.  Berkumur-kumur (tiga kali)

5.  Membersihkan bagian dalam hidung dengan menghirup sedikit air ke dalam lubang hidung, lalu mengeluarkannya kembali (tiga kali).

Semua yang tersebut di atas, nomor 1 sampai dengan nomor 5, dilakukan sebelum mulai membasuh muka.

6.  Menyilangi anak-anak jari dari kedua kaki ketika membasuh kaki.

7.  Mengusap bagian luar dan dalam kedua telinga dengan air, bersamaan atau setelah mengusap kepala.

8. Mendahulukan anggota badan bagian kanan sebelum yang kiri, baik ketika membasuh tangan maupun kaki.

9. Mengulangi basuhan tiap anggota wudhu (muka, tangan, kepala dan kaki) masing-masing sebanyak tiga kali.

10. Menggosok-gosok anggota wudhu ketika membasuhnya, agar lebih bersih.

11. Menambahkan sedikit dari batas yang diwajibkan, dalam membasuh atau mengusap anggota wudhu.

12. Menggunakan air secukupnya saja, dan jangan berboros walaupun seandainya menggunakan air laut.

13. Selesai Berwudhu, menghadap kiblat dan berdoa:

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah. Wa asyhadu anna Muhammad (an) abduhu wa rasuluh. Allahumma j’alni minat tawwabin waj’alni minal mutathahhirin.

(Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, Yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dalam golonga orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk dalam golongan orang-orang yang bersuci.

14. Selesai berwudhu, mengerjakan shalat dua raka’at : sunnat al-Wudhu

Hal-Hal yang membatalkan Wudhu

Wudhu menjadi batal disebabkan terjadinya hal-hal berikut :

1. Keluarnya sesuatu dari ‘kedua pintu pelepasan’ (saluran buang air kecil atau besar), baik berupa zat, seperti kencing, tinja, darah dan sebagainya, maupun yang berupa angin (kentut)

2. Hilang akal atau kesadaran, baik karena pingsan dan gila, atau krena obat bius dan mabuk minuman keras.

3. Tidur. Kecuali tidur dalam posisi duduk yang mantap, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin keluar angin.

4. Menyentuh kemaluan, bagian depan ataupun belakang, dengan telapak tangan bagian dalam, secara langsung dan tanpa penghalang. Akan tetapi menyentuhnya dengan punggung telapak tangan, tanpa maksud menimbulkan rangsangan tidak membatalkan. Demikian itu menurut mazhab Syafi’i, Malik, Ahmad dan Daud, berdasarkan hadis dari Busrah binti Shafwan yang dishahihkan oleh Bukhari, Muslim, Abud Daud dan lainnya, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, “Barangsiapa menyentuh kemaluannya, maka jangalah ia shalat sebelum  berwudhu kembali.” Tetapi menurut Abu Hanifah dan Ats-Tsauri, serta Ibn Al-Mundzir (dari kalangan mazhab Syafi’i), tidak membatalkan. Mereka menolak pendapat pertama tersebut; berdasarkan hadis lain yang mereka nilai lebih shahih. Yaitu riwayat dari Thalq bin Ali, bahwa seorang  laki-laki bertanya kepda Nabi Saw. tentang seseorang yang menyentuh kemaluannya sendiri; apakah ia harus berwudhu? Jawab Beliau, “Tidak, itu hanyalah bagian dari tubuhmu.” (Lihat Ibn Rusyd, Bidayat Al-Mujtahid, I/28; dan An Nawawi, Al-Majmu’ I/41).

5.  Bersentuhnya secara langsung dan tanpa penghalang kulit pria dewasa dan kulit wanita dewasa, apabila disertai dengan rangsangan syahwat, atau memang dimaksudkan untuk menimbulkan rangsangan. Dasarnya adalah firman Allah  Swt, … Dan jika kamu sedang sakit atau dalam perjalanan, atau kamu datang dari tempat buang air, atau kamu melakukan ‘persentuhan’ dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air (untuk bersuci), maka bertayamumlah kamu… (QS. An-Nisa [4]: 43).

Para ulama mazhab Syafi’i (sebagaimana juga dirawikan dari IBnu Mas’ud, Umar bin Khattab dan lain-lain) berpendapat bahwa persentuhan kulit antara laki-laki dewasa dan perempuan dewasa (termasuk istri) membatalkan wudhu, walaupn tanpa dibarengi rangsangan syahwat. Pendapat ini berdasarkan pemahaman mereka terhadap bagian dari ayat di atas yang menjelaskan tentang hal-hal yang mewajibkan orang bersuci kembali sebelum melaksanakan shalat: “…atau kamu melakukan ‘persentuhan’ dengan perempuan…”. Mereka memahami kata ‘persentuhan’ secara harfiah, sehingga menganggap wudhu seseorang menjadi batal setelah terjadinya persentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan. Akan tetapi dalam hal ini dikecualikan persentuhan antar pria dan wanita mahram, yang menurut mereka , tidak membatalkan wudhu. Sebaian lagi ulama mazhab Syafi’i  menganggap persentuhan kulit (antara laki-laki dan perempuan bukan mahram) membatalkan wudhu si penyentuh tapi tidak membatalkan yang tersentuh. Yang dimaksud dengan mahram ialah wanita yang tidak boleh dinikahi oleh laki-laki, disebabkan adanya hubungan kekerabatan yang sangat dekat, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa [4]: 23 Yakni ibu (dan nenek seterusnya ke atas); anak perempuan (dan cucu perempuan seterusnya ke bawah); saudara perempuan; bibi (saudara perempuan ayah atau ibu); kemenakan perempuan (anak perempuan dari saudara laki-laki atau perempuan); ibu mertua; anak tiri perempuan; menantu perempuan; ibu susu (perempuan bukan ibu kandung yang pernah menyusui seseorang); dan saudara perempuan sepersusuan.

Sedangkan Abu Hanifah (sebagaimana juga dirawikan dari Ibnu Abbas, Al-Hasan dan Sufyan Ats-Tsauri) memahami kata persentuhan sebagai kiasan untuk hubungan seksual (senggama). Karenanya persentuhan biasa antara kulit laki-laki dan perempuan (misalnya ketika berjabat tangan atau bersentuhan secara tidak sengaja ketika berdesak-desakan. -pen) tidak membatalkan wudhu. Kecuali apabila memang disengaja dengan perbuatan-perbuatan tertentu (seperti memeluk dan menciumi), sedemikian sehingga menimbulkan ‘ketegangan’ yang tinggi. Pendapatnya ini juga didukung oleh beberapa hadis shahih yang menunjukkan tidak batalnya wudhu akibat persentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan.

Di antaranya, ucapan Aisyah r.a., “Pada suatu malam, tidak kudapati Rasulullah di tempat tidurnya, alu aku pergi mencarinya sehingga tanganku menyentuh telapak kaki beliau ketika beliau sedang bersujud di Masjid.” (HR Muslim). Juga ucapan Aisyah r.a “Adakalanya Nabi Saw. Shalat sementara aku tidur di  antara Nabi Saw. Dan Kiblat. Maka setiap kali hendak sujud, beliau memijit kakiku sehingga aku menekuk kakiku itu.” (HR Bukhari dan Muslim). Juga ucapan Aisyah r.a bahwa nabi Saw. pernah mencium salah seorang istrinya lalu keluar (ke masjid) untuk shalat tanpa berwudhu lagi. Namun hadis-hadis itu ditakwilkan artinya oleh ulama mazhab Syafi’i, karena lebih mengutamakan pemahaman mereka mengenai ayat tersebut di atas.

Adapun pendapat ketiga adalah sebagaimana dipahami oleh mazhab Malik, serta sebagian dari kalangan mazhab Ahmad, Al-Lats, Ishaq dan Asy sya’bi. Yaitu persentuhan kulit laki-laki dan perempuan hanya membatalkan wudhu apabila disertai rangsangan syahwat, atau memang dimaksudkan untuk menimbulkan rangsangan. Tanpa itu, maka persentuhan tidak membatalkan wudhu. Lihat An-Nawai Al-Majmu II/30, menurut hemat saya (-pen), pendapat Imam Malik yang membedakan antara persentuhan dengan syahwat dan yang tidak dengan syahwat ini, layak dijadikan bahan pertimbangan. Sebabnya adalah bahwa disyariatkannya wudhu sebelum shalat demi membersihkan diri bukan saja secara jasmani tetapi juga ruhani dalam persiapan menghadap Allah SWT. Ketika hendak melakukan sesuatu ibadah ritual guna mendekatkan diri kepada-Nya. Hal ini dibuktikan dengan kewajiban bertayamum dengan tanah (debu) bagi seseorang yang tidak mampu berwudhu karena tiadanya air atau karena sakit.  Tayamum, walaupun tidak memenuhi aspek kebersihan jasmani namun cukup memenuhi aspek kebersihan ruhani. Maka dalam keadaan darurat ketika tidak terpenuhinya sarana penyucian jasmani dan ruhani sekaligus tayamum dapat pula menjadi pemisah antara amalan duniawi dan amalan ibadah mahdhah seperti shalat dan sebagainya. Karena itu pula, wudhu (atau tayammum) perlu dilakukan sebagai sarana pemisah yang menghilangkan perasaan segan atau bimbang dari hati seseorang yang akan menghadap tuhannya, setelah sebelum itu ia secara sengaja mendorong timbulnya rangsangan syahwat pada dirinya sendiri, dengan persentuhan tersebut. Wallahu Alam.

Beberapa Hal Lain yang Tidak Membatalkan Wudhu.

Beberapa hal yang sering kali disangka membatalkan wudhu, padahal tidak membatalkan. Antara lain:

1.  Keluar darah tidak melalui ‘dua pintu pelepasan’ (saluran buang air besar dan kecil). Yakni , karena luka, mimisan, berbekam dan sebagainya. Demikia pula muntah baik sedikit maupun banyak, tidak membatalkan wudhu. Menurut Mazhab Abu Hanifah, keluarnya darah melalui apapun juga demikian pula muntah, membatalkan wudhu.

2.  Memandikan mayat tidak membatalkan wudhu.

3.  Apabila seseorang bimbang, apakah wudhunya telah batal atau belum, maka ia boleh menganggapnya tidak batal, sampai merasa yakin bahwa wudhunya telah batal dengan salah satu penyebab batalnya wudhu seperti telah diuraikan sebelum ini.

Sebaliknya apabila ia merasa yakin bahwa wudhunya telah batal, tetapi kini ia ragu apakah setelah itu ia telah berwudhu kembali atau belum, maka ia harus menanggap wudhunya tadi telah batal. Secara singkat, ia harus mengikuti apa yang diyakininya, bukan apa yang diragukannya.

Hal-hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Kecuali Dalam keadaan Berwudhu.

1.  Shalat; baik shalat wajib ataupun sunnah, termasuk shalat Jenazah. Selain karena perintah berwudhu dalam firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah [4]:6, juga ada hadis nabi Saw. “Allah tidak akan menerima shalat kecuali dalam keadaan bersuci.”. (HR Muslim). Para ulama bersepakat tentang tidak sahnya shalat dalam keadaan berhadats (tidak berwudhu), baik dalam keadaan ia mengetahui hadatsnya itu atau tidak, maupun ia terlupa (bahwa wudhunya telah batal). Apabila ia melakukan shalatnya yang tanpa wudhu itu, karena tidak tahu atau karena lupa, maka ia tidak berdosa (dan hanya diwajibkan mengulangi shalatnya itu saja). Akan tetapi apabila ia secara sadar dan dengan sengaja mengerjakan shalatnya itu dalam keadaan telah batal wudhunya, maka disamping wajib mengulangi shalatnya itu setelah berwudhu, ia dianggap berdosa karena telah melakukan pelanggaran cukup serius (An-Nawawi, Al-Majmu II/68)

2.  Tawaf sekitar ka’bah. Dalilnya adalah hadits shahih bahwa Nabi Saw. Mengambil air wudhu sebelum tawaf; sedangkan beliau pernah bersabda, “ambillah ketentuan-ketentuan (manasik, haji dan umrah) kamu dariku” Karenanya Syafi’i, Maliki, dan Ahmad (dalam salah satu pendapat yang diriwayatkan darinya) mengharamkan thawaf dalam keadaan tidak berwudhu dan menganggapnya tidak sah. Sedangkan Abu Hanifah mensahkan thawaf tanpa wudhu walaupun dalam salah satu dari dua pendapatnya ia juga menganggapnya sebagai perbuatan pelanggaran. (An-Nawawi, Al-Majmu II/69).

3.  Memegang atau membawa Mushaf (kitab al-Quran). Kecuali dalam keadaan darurat; untuk menyelamatkannya atau mengembalikannya ke tempatnya semula, setelah terjatuh dan sebagainya.Demikianlah pendapat dari keempat Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), berdasarkan firman Allah SWT, “tidak menyentuhnya kecuali mereka yang tersucikan” (QS. Al Waqiah :794) akan tetapi Ibn. Abbas, Asy-Sya’bi, Adh-Dhahhak, Zaid bin Ali, Al-Muayyad Billah, Daud, Ibn Hazam, dan Hamad bin Sulaiman, membolehkan menyentuh Mushaf Al-Quran walau tanpa wudhu. Mereka mengatakan bahwa ayat tersebut hanya mengandung pemberitaan tentang Al-Lauh Al0Mahfuzh, yang tidak dapat menyentuhnya selain para malaikat (yaitu yang dimaksud dengan “mereka yang tersucikan”). Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, I/49; An-Nawawi, Al-Majmu II/74.

Adapun membaca Al-Quran tanpa menyentuhnya, tetap dibolehkan walaupun dalam keadaan tidak berwudhu.

Disunnahkan Berwudhu Dalam Keadaan-keadaan Sebagai Berikut :

1.  Ketika hendak berzikir atau mempelajari hadits Nabi Saw.

2.  Ketika bersiap-siap untuk tidur.

3.  Sebelum mandi baik mandi wajib atau mandi biasa.

4.  Membarui wudhu ketika hendak mengerjakan shalat walaupun wudhunya belum batal.

5.  Ketika hendak makan, minum, tidur, atau jima’ (hubungan seksual) bagi orang yang sedang dalam keadaan hadats besar atau janabat.

 

 

 

Fiqih Praktis : Bab 4 – Beberapa Kebiasaan Fitri (Sunan Al-Fithrah)

   Allah SWT telah memilihkan beberapa kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh para nabi, terutama yang berkaitan dengan kebersihan lahir dan batin, lalu menganjurkan agar kita mengikuti mereka dalam kebiasaan-kebiasaan seperti itu. Agar hal itu menjadi syi’ar dan ciri khas para pengikut para nabi itu, serta memilahkan mereka dari kelompok-kelompok manusia selain mereka. Kebiasaan –kebiasaan ini disebut sunan-Al-fithrah, antara lain sebagai berikut :

1.  Khitan.

Khitan (atau sunat) ialah memotong kulup atau kulit yang menutupi ujung kemaluan laki-laki, agar terhindar dari berkumpulnya kotoran di bawah kulup, dan memudahkan pembersihannya setelah buang air kecil (kencing). Sebagian besar ulama mewajibkannya atas setiap laki-laki muslim, sebaiknya sebelum usia baligh, ketika kewajiban shlat mulai berlaku atas seseorang.

Adapun tentang khitan bagi perempuan (dengan melukai sedikit dari bagian atas kemaluannya) tidak ada hadis shahih yang memerintahkannya. Karenanya, sebagian ulama masa kini menganggapnya sebagai suatu tindakan sewenang-wenang terhadap perempuan, mengingat hal itu hanya menimbulkan gangguan yang tidak perlu. Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, Jilid I, hlm 33 dan Mahmud Syaltut, Al-Fatwa, hlm. 330.

Menurut Dr Alwi Shihab dalam kumpulan tulisannya berjudul, Islam Inklusif, tradisi khitan bermula pada Nabi Ibrahim a.s. sebagai simbol ikatan perjanjian suci (mitsaq) antara dia dan Allah Swt. Ia dipahami terutama oleh para penganut Koptik Kristen dan Yahudi bukan hanya sebagai suatu proses bedah kulit bersifat fisik semata, tetapi menunjuk kepada arti suci dan esensi mendalam lagi suci. Ia juga melambangkan pembukaan tabir kebenaran dalam ikatan perjanjian suci yang diikat antara Allah SWT dan Nabi Ibrahim, yang kemudian diikuti oleh para pengikutnya. Selanjutnya, mereka mempertautkan antara khitan dan izin pembacaan kitab suci Taurah. Hal ini menandakan bahwa sebelum seorang mencpat ‘kartu pengenal’ (‘stempel’ Tuhan berupa khitan) untuk memasuki suatu daerah, ia tidak diperkenankan memasuki kawasan suci Kalam Ilahi dalam rangka perjumpaan dengan Tuhan, sebelum melakukan simbol ikatan suci tersebut. Demikian menurut para penafsir Perjanjian Lama (Genesis 18:1). Tradisi khitan ini mencakup juga kaum perempuan Yahudi pada masa itu, untuk dapat juga mengikat perjanjian suci seperti kaum prianya. Karenanya, khitan adalah kehormatan bagi yang melaksanakannya (baik laki-laki maupun perempuan). Ini mungkin tak ubahnya seorang Muslim tidak diperkenankan menyentuh Al-Quran sebelum memenuhi persyaratan kesucian (paling tidak, berwudhu) sebagaimana pendapat sebagian ulama.

2.  Merapikan Rambut dan Memelihara Janggut.

Menyisiri rambut dan meminyakinya; menggunting atau merapikan kumis bagi laki-laki serta memelihara janggut secara wajar (tidak mengguntingnya sangat tipis dan memeliharanya sangat lebat). Begitulah kebiasaan yang dianjurkan sesuai Hadis Nabi Saw.

Dirawikan oleh Malik, dari ‘Atha’ bin Yasar r.a bahwa seorang laki-laki datang menghadap Nabi Saw. dengan rambut dan janggut yang kering dan acak-acakan (tidak tersiri rapi); maka Nabi Saw. mengisyaratkan kepadanya agar merapikan rambutnya itu. Tidak lama kemudian orang tersebut datang lagi dalam keadaan yang rapi, dan Nabi pun bersabda, “Bukankah yang seperti ini lebih baik daripada jika seseorang dari kalian datang dengan rambut y ang acak-acakan seperti setan?”.

Dirawikan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa nabi Saw. pernah bersabda, “Bedakanlah diri kalian dari kaum musyrikin. Biarkanlah (yakni peliharalah) janggut dan rapikanlah kumis kalian!”. Berdasarkan ini, sebagian ulama menyatakan bahwa memelihara janggut adalah wajib hukumnya atas laki-laki Muslim. Namun sebagian lainnya berpendapat bahwa hadis tersebut hanya mengandung anjuran saja, sesuai dengan adat kebiasaan waktu itu. (Lihat Mahmud Syaltut, Al-Fatawa, hlm 227)

3.  Memotong Kuku dan Menghilangkan Bulu-bulu yang Mengganggu.

Dianjurkan memotong kuku setiap kali mulai memanjang (paling lama, sekali seminggu). Dan dianjurkan pula menghilangkan bulu-bulu di bawah lengan dan di bawah pusar dalam waktu yang sesuai, (sebaiknya tidak lebih lama dari empat puluh hari). Tidak ada ketentuan khusus tentang cara menghilangkannya, boleh dengan mencukurnya atau menggunakan bahan tertentu.

4.  Membiarkan Uban dan Mengubah Warnanya.

Dianjurkan pula membiarkan (yakni tidak untuk mencabuti) uban atau rambut putih, di kepala atau janggut. Dirawikan oleh Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: “Jangan mencabuti uban, sebab ia adalah cahaya bagi seorang Muslim. Tak seorang Muslim tumbuh ubannya dalam Islam kecuali Alah akan mencatatkan baginya satu pahala kebaikan, meningkatkan derajatnya dan menghapuskan baginya satu dosa kesalahan.

Jika ingin, boleh juga mengubah warnanya, dengan warna kuning atau merah (kecoklatan), tetapi sebaiknya tidak dengan warna hitam. Kecuali bagi mereka yang akan berangkat ke medan perang, atau  menurut sebagian pendapat dibolehkan bagi yang masih berusia muda. Batasan tentang ini berdasarkan adat kebiasaan setempat.

Dirawikan oleh Jabir r.a bhwa Abu Quhafah (ayah dari Abubakr Ash-Shiddiq r.a) dibawa menghadap Rasulullah Saw. pada hari pembebasan Kota Makkah; rambut kepalanya putih seperti kapas. Maka Rasulullah memerintahkan agar diubah warna rambutnya itu, tetapi bukan dengan warna hitam. Dari hadis ini, dan beberapa hadis lainnya, sebagian ulama hanya membolahkan pengubahan warna rambut dengan warna selain warna hitam. Tetapi sebagian ulama lainnya, menganggap bahwa pelarangan tersebut hanya khusus berlaku bagi orang-orang lanjut usia seperti Abu Quhafah, karena tidak pantas bagi seorang seusianya. Al-Ghazali, misalnya, berpendapat bahwa pengubahan dengan warna hitam, adalah makruh (tidak disukai atau kurang afdhal).

Dirawikan pula bahwa tidak sedikit dari kalangan para sahabat Nabi Saw. yang menggunakan warna hitam untuk mengubah warna rambutnya (Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah), I/35 dan An-Nawawi, Al-Majmu’, I/322)

5.  Memakai Wangi-wangian.

Dianjurkan bagi laki-laki, memakai wangi-wangian, terutama pada hari Jum’at dan hari-hari raya. Yaitu pada waktu berkumpulnya khalayak di masjid atau tempat-tempat pertemuan lainnya.

Bagi kaum perempuan dianjurkan memakainya terutama di rumahnya sendiri, dan di antara keluarganya atau di antara sesama wanita. Sedangkan di luar itu, hendaklah mereka menyembunyiakn aroma wangi-wangian tersebut, kecuali sekadarnya saja, semata-mata demi menghindari bau tak sedap seandainya ada. Hal ini demi menjaga keselamatan dan kehormatan dirinya, dan agar tidak timbul fitnah (gangguan atas dirinya sendiri ataupun masyarakat sekitarnya).

6.  Bersiwak atau Menggosok Gigi.

Dianjurkan membersihkan gigi setiap kali diperlukan, dan lebih dianjurkan lagi ketika hendak wudhu, shalat, membaca Al-quran, ketika bangun tidur dan ketika terasa ada perubahan bau mulut walaupun ketika sedang puasa.

Menggosok gigi boleh dengan apa saja yang mampu mengilangkan kotoran atau sisa makanan, seperti sikat gigi dan sebaginya. Namun yang lebih afdhal ialah dengan menggunakan batang siwak (kayu tertentu yang baunya harum dan biasanya tumbuh di negeri Hijaz). Hal ini mengingat banyaknya hadis Nabi Saw. yang sangat mengajurkannya.

Dirawikan  dari Aisyah r.a bahwa Nabi Saw. Bersabda, “Siwak menyebakkan kebersihan mulut dan kridhaan Tuhan, “ Demikian pula Bukhari dan Muslim merawikan sabda Nabi Saw., “Seandainya tidak akan memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap shalat.”

Sebagian Ulama menyatakan bahwa bersiwak bagi orang yang sedang berpuasa, adalah makruh (tidak disukai). Lebih-lebih setelah waktu Dhuhur. Hal ini mengingat adanya hadis Nabi Saw., “Bau mulut seorang yang sedang puasa, lebih harum di sisi Allah daripada harumnya misk” (HR Bukhari dan Muslim). Akan tetapi Tirmidzi merawikan dalam kitab kumpulan haditsnya, bahwa Asy-Syafi’i (rahimahullah) tidak menganggap ada keberatan bagi seorang yang sedang puasa untuk bersiwak, baik di pagi hari maupun sore harinya. Berkenaan dengan keterangan populer ini, An-Nawawi menyatakan bahwa pendapatnya ini tidak pupuler meski lebih kuat ditinjau dari segi dalilnya. Dan itulah pula pendapat yang menjadi pilihannya seta banyak ulama lainnya. Adapun yang dimaksud oleh hadits di atas, adalah ditinjau dari segi pahala puasanya itu di akhirat kelak, seperti yang dijelaskan dalam hadis lainnya yang dirawikan oleh Muslim, bukannya semata-mata membiarkan bau mulut seperti itu. Apalagi jika sampai mengganggu orang lain (Lihat An-Nawawi, Al-majmu’ I/310)