Saat “SANG TOKOH” Bermain Iklan

Mr. Choro : “Halo Pak Bos, bagaimana kabarnya? Lama tak kedengaran nih”.

Pak Bos : “Halo juga Cho, kabar baik… Saya memang lagi sibuk banget sekarang ini, biasa lah… urusan bisnis”.

Mr. Choro : “Hebat ya boss… makin lama bisnisnya makin moncer aja… Perusahaannya semakin menggurita… cabangnya dimana-mana”.

Pak Bos : “Ya semua itu tidak terjadi secara tiba-tiba Cho…, semua melalui proses yang panjang. Saya bisa sukses seperti sekarang ini karena perjuangan, ketekunan dan kedisiplinan. Kita kan berkawan sudah lama dan kamu tentu tahu bagaimana kondisi saya di saat-saat awal memulai bisnis ini sampai akhirnya menjadi sebesar sekarang. Semuanya tidak saya lalui dengan mudah. Tapi ngomong-ngomong apa kamu tidak kepingin seperti saya?”.

Mr. Choro : “Ya pengin Bos, siapa manusia normal di dunia ini yang tidak pengin hidup kaya seperti Pak Bos. Sukses… semua serba ada, pengin apa-apa aja bisa kebeli… mau liburan kemana aja bisa… mau makan seenak apa aja bisa… mobil bisa gonta ganti tiap keluar model terbaru”

Pak Bos : “Terus, kenapa kamu tidak mencoba untuk berbisnis? Takut untuk memulai ya… Perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah kecil Cho…”

Mr. Choro : “Terus terang saya sudah mencoba Pak Bos… bahkan berulang kali saya mencoba untuk memulainya… tapi hasil akhirnya gagal semua. Masalahnya saya ini sering ditipu sama rekan-rekan dan partner bisnis saya. Awal-awal saja mereka baik dan jujur. Lama kelamaan sifat aslinya mulai muncul. Saat bisnis saya sudah mulai maju dan menghasilkan keuntungan… banyak yang mulai curang dan akhirnya bisnis saya ambruk….

Pak Bos : “He he… Saya juga dulu begitu Cho… tapi saya belajar dari pengalaman dan tidak mudah menyerah. Kamu harus tahu kalau rata-rata kegagalan bisnis itu karena lemahnya kendali dan pengawasan atau controlling dari si empunya. Langkah terakhir dari prinsip manajemen itu lho Cho… Planning, Organizing, Actuating dan Controlling. Perencanaannya bagus, pengorganisasiannya bagus, pelaksanaannya bagus, tapi begitu lemah dalam pengawasannya… siap-siaplah “END” bisnis anda. Bisnis tanpa pengawasan itu sama saja dengan berjudi Cho, itu kata Pak Robert Kyosaki, seorang investor dan penulis kaya raya dari Amerika. Kalau kamu tidak bisa mengawasi langsung bisnismu, kamu harus bisa menemukan sistem ampuh yang bisa menggantikannya, sehingga meminimalisir kesempatan para partnermu itu untuk berbuat curang atau menipumu…”

Mr. Choro : “Siap Pak Bos, semoga ke depan saya bisa mengikuti jejak Pak Bos untuk belajar dari pengalaman dan tidak pernah menyerah dalam berjuang… Sementara ini ya saya mencoba mensyukuri apa yang ada dulu aja. Meski nasib saya tidak sebaik Pak Bos, tapi saya lihat masih banyak mereka yang nasibnya tidak seberuntung saya. O ya sekarang kegiatan Pak Bos apa nih….?”

Pak Bos : “Ini lho… saya lagi mempromosikan produk saya yang terbaru. Untuk itu rencananya saya akan ketemuan dengan seorang kawan saya yang akan membintangi iklan produk saya itu”.

Mr. Choro : “Siapa kawan pak bos itu? ….Artis atau selebritis?”

Pak Bos : “Ya kayaknya kalau dibilang artis, enggak sih, kalau selebritis mungkin… yang jelas dia seorang publik figur. Dia seorang tokoh agama merangkap pejabat di negeri ini. Panggilannya “Sang Tokoh”. Saya rasa tidak ada seorangpun di Indonesia ini yang tidak mengenalnya. Wong wajahnya hampir tiap hari nongol di TV. Makanya sangat cocok bila dia mempromosikan produk saya itu, kebetulan waktu saya telepon dia menyatakan bersedia”.

Mr. Choro : “Oooo Sang Tokoh yang itu…, Produknya Pak Bos itu ada yang menyamainya gak?”

Pak Bos : “Ya tentu saja ada Cho…. bukan cuma satu, malahan banyak sekali perusahaan lain yang memproduksi produk sejenis punya saya itu. Produk itu kan lagi trend sekarang dan permintaan konsumen sangat tinggi, makanya saya harus mempromosikannya dan siap-siap untuk bersaing dengan merk lain. Hidup ini persaingan Cho… apalagi di dunia bisnis, harus pake strategi, salah satunya ya yang saya bilang tadi itu…. kalau perlu kita perang iklan”

Mr. Choro : “Wah kalau saya melihat dari sudut pandang yang lain… saya kok kurang setuju jika Pak Bos memanfaatkan Sang Tokoh itu untuk kepentingan bisnis Pak Bos”.

Pak Bos : “Lha makanya bisnis kamu gagal terus Cho… lha wong kamu tidak mau mengambil resiko, tapi aku kok pengin dengar alasanmu kenapa sih kok Sang Tokoh itu sebaiknya tidak bermain iklan? Itu kan pekerjaan halal dan banyak orang lain yang melakoninya… Bahkan ada tuh salah seorang artis yang berulang kali main iklan shampoo dengan merk yang berbeda-beda, tapi oke-oke saja”.

Mr. Choro : “Wah kayaknya kalo itu lain cerita Pak Bos… Sang Tokoh yang ini kan tokoh nasional, figur dan panutan untuk seluruh umat dan rakyat. Beliau adalah milik semua, bukan milik kelompok atau golongan tertentu.
Saya coba ilustrasikan dengan cerita berikut Pak Bos…

Pada suatu hari di suatu kampung ada seorang ustad yang menjadi tokoh masyarakat di daerah tersebut. Dia juga menjadi penceramah tiap ada pengajian rutin. Sementara itu ada dua orang tukang bakso yang juga tidak pernah absen mengikuti ceramah Sang Ustad.

Suatu saat salah seorang tukang bakso sebut saja Si A datang ke rumah Sang Ustazd dan menawarkan akan memberikan bantuan untuk merenovasi mushalla di kampung itu asalkan dengan satu syarat Sang Ustad bersedia mempromosikan baksonya. Sang ustadzpun menyatakan bersedia. Demi kepentingan Mushalla ini, pikirnya. Dia tidak menyadari bahwa di kampung itu ada seorang tukang bakso lain sebut saja Si B yang juga setia mengikuti pengajiannya dan mengidolakannya. Dalam salah satu pengajiannya, Sang Ustazdpun “beriklan” tentang bakso si A. Saat itu Si B pun sedang mengikuti pengajian itu.

Sekarang saya tanya kepada Pak Bos… kira-kira menurut logika apakah tukang bakso si B akan masih mengidolakan sang Ustadz serta masih mau datang ke pengajian lagi setelah mendengar Sang Ustadz beriklan tentang bakso Si A….?”

Pak Bos : “Ya, kemungkinan seperti apa yang kamu pikirkan itu ada. Kemungkinan lainnya si tukang Bakso B akan mendatangi ustadz atau tokoh lainnya untuk juga mempromosikan baksonya agar bisa bersaing dengan tukang bakso A, itulah yang namanya bisnis”

Mr. Choro : “Maksud Pak Bos, akan terjadi adu domba para ustad di kampung itu?”

Pak Bos : “Ya tidak begitu Cho… kayaknya kamu terlalu berlebihan dalam berprasangka…, intinya kan kita ini bisnismen… kita melihat dari segi aspek bisnis, kalau itu menguntungkan yang kita jalankan. Aspek lain termasuk dalam hal yang kamu khawatirkan itu ya biar Sang Tokoh yang memikirkannya…, saya yakin berbekal ilmu dan pengalamannya dia sudah menghitung dan mengukur apa untung ruginya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi umat”

Mr. Choro : “Yaah… semoga saja kekhawatiran saya itu salah, sebab sudah banyak contoh yang terjadi di masa lalu dan bisa dijadikan pelajaran. Banyak tokoh yang saat itu sangat populer dan menjadi milik seluruh umat namun akhirnya namanya tenggelam karena tanpa sadar telah mengkotakkan dan menyempitkan dirinya ke dalam suatu kelompok atau golongan, misalnya masuk atau mendirikan partai politik tertentu.

Laper nih bos, bagaimana kalau pak bos ikut saya cari makan”

Pak Bos : “Ayo Cho… kemana? Tumben kamu ngajak-ngajak saya, biasanya saya yang ngajak kamu.”

Mr. Choro : “Bagaimana kalau Pak Bos ikut saya makan-makan ke tempatnya Pak Bos, kan di sana makanannya enak-enak”.

Pak Bos : “Ah dasar, wedhus koen…. ywis ayo…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *