Renungan Sebuah Perjalanan

Rabu malam adalah tahun baru hijrah 1434 H sehingga hari kamis besoknya libur. Jumat berikutnya disamakan oleh pemerintah menjadi hari libur bersama karena dianggap hari “kecepit” yang perlu diseragamkan dengan hari sebelum dan sesudahnya agarhari jumat tersebut tidak aneh karena menonjol sendirian. Saya yang bertempat kerja dekat dengan keluarga saja ikut gembira dengan kedatangan hari libur tersebut, apalagi para karyawan/pegawai baik sipil danswasta yang bekerja jauh di luar kota alias pisah keluarga. Mereka mungkin berandai-andai jika saja tiap minggu ada hari libur bersama.

Seperti biasa jika ada libur panjang seperti itu mudik ke kampung halaman bersama keluarga sudah menjadi rutinitas. Malam itu saya berencana untuk tidur lebih awal karena jam tiga pagiberharap sudah start dari Surabaya menuju Kudus. Sedang enak-enaknya terlelap, kira-kira pukul sebelas malam saya terpaksa bangun karena mendengar suara si bayi belum genap usia 2,5 bulan sudah mahir berteriak-teriak bak demo buruh yang sedang protes menuntut hak dan kewajiban. Bedanya kalau buruh menuntut kanaikan UMR sementara putri bungsu saya menuntut haknya sebagai anak dan kewajiban sebagai orang tua agar segera dan secepat-cepatnya menyediakan kebutuhan biologisnya yaitu susu pengobat haus dan lapar serta ganti popok akibat mengompol. Sungguh indah jika para pemilik perusahaan itu berperan laksana orang tua bagi si karyawan. Tanpa pikir panjang tentu kenaikan UMR akan segera direalisasikan, tidak perlu menunggu sampai nego sana-sini. Walah kok malah ngelantur jadi membahas masalah dunia perburuhan sih… emangnya SPSI he he…

 Karena ingin tidur lagi sudah nanggung, rencana keberangkatan dimajukan. Pukul setengah satu larut malam kami berempat ditambah satu bayi sudah mulai tancap gas dan melajudi jalan raya menyibak suasana malam dari Surabaya. Ban depan mobil kempes, berputar-putar mencari tukang tambal ternyata tutup semua. Masuk ke POM bensin untuk isi angin gratis… lumayan, ngirit dua ribu rupiah.

Sesuai dugaan perjalanan malam sangat sepi dan lancar. Para monster-monster darat si trailler, tronton dan truk gandeng itu sedang tertidur di sepanjang pinggir jalan, sama seperti para sopir yang mengendalikannya. Sampai Kota Tuban mata mulai “sepet” (gak tahu bahasa Indonesianya). Mobil diparkir di pinggir jalan kemudian ngopi di warung kopi ditemani Sampurna Mild sambil “jedhas-jedhis” untuk menghilangkan kantuk. Selesai ngopi dan rokoan sebatang, perjalananpun dilanjutkan.

Kira-kira pukul tiga pagi tibalah di perbatasan Jatim-Jateng. Kepala mulai terasa “nggliyar-nggliyer” (gak tahu juga bahasa Indonesianya) karena mengantuk. Mobil saya pinggirkan, jendela dibuka seperempat, mesin dimatikan, lalu tidur di jok sopir. Tiga puluh menit waktu yang lumayan untuk mengobati rasa kantuk. Tak lama kemudian datang waktu subuh, mampir ke Masjid terdekat untuk sholat Subuh, perjalanan lanjut lagi.

Hari mulai pagi ketika monster-monster darat sebagai simbol kemajuan ekonomi makro negara industri itu sudah mulai menggeliat dan memenuhi jalan. Sampai di Rembang mampir di Pos AL Tasik Agung untuk numpang mandi dan makan pagi dari bekal yang dibawa. Sebelum melanjutkan perjalanan “disangoni” satu box ikan laut segar yang baru ditangkap nelayan dari TPI depan kantor posal oleh anggota jaga. Saya sudah bilang jangan repot-repot ala unggah ungguh Jawa tapi masih dipaksa-paksa juga untuk menerima… ya sudah daripada mereka kecewa akhirnya saya terima, lumayan untuk dibagi-bagi ke tetangga.

Ada informasi jalur Rembang – Juwana mengalami kemacetan karena perbaikan jalan. Sampai di Kaliori saya belok kiri memilih jalur alternatif lewat Jakenan. Tak lama kemudian terlihatlah potret kehidupan tradisional para petani Indonesia. Kondisi kehidupan pedesaan yang tak jauh berbeda dengan desa saya tiga puluh tahun yang lalu dan enam puluh tahun lebih Indonesia merdeka. Kondisi sawah yang masih diolah menggunakan bajak ditarik oleh sepasang sapi, juga cangkul, meski ada pula yang sudah menggunakan mesin traktor tangan. Potret dari mereka yang memeras keringat membanting tulang untuk menghasilkan sepiring nasi di meja kita. Para penghasil produk yang menjadi kebutuhan seluruh rakyat Indonesia, bahkan dunia.

Terlihat para petani yang berangkat dari kediaman masing-masing dengan berjalan kaki, naik sepeda onto, ada juga yang naik sepeda motor. Mereka yang sebagian besar sudah lanjut usia itu dengan tulang-tulang lemah dan rapuh sedang mengayunkan cangkul untuk mengolah sawah. Para orang tua yang dalam usia tersebut seharusnya bekerja adalah sebagai sebuah hobi alias pengisi waktu, bukan lagi sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup karena energi fisiknya tentu sudah tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Mereka yang semestinya sudah saatnya lebih banyak menimang cucu dan “minandhito” agar bisa lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sambil mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan kepada cucu-cucunya.

Sawah-sawahpun terlampaui dan mulai masuk area pedesaan dengan lingkungan masyarakat sederhana. Di teras depan sebuah rumah yang lebih mirip disebut gubug reot, nampak seorang kakek tua duduk termenung dengan pandangan penuh arti, entah apa yang dipikirkannya. Bisa jadi ia sedang mengenang masa lalunya yang indah saat masih bersama mantan-mantan kekasihnya. Bisa jadi juga sebenarnya hatinya lebih bahagia dari siapapun karena saat orang lain sedang berjibaku dan sibuk dengan aktivitas pekerjaan masing-masing, ia malah duduk-duduk menikmati hidup. Hanya Tuhan dan ia sendiri yang tahu.

Sepanjang jalan masih banyak terlihat rumah-rumah kecil dan sederhana yang lantainya masih berupa tanah, dindingnya terbuat dari “gedhek” bambu atau papan yang sudah bobrok dan kondisi-kondisi lainnya yang sungguh masih jauh bila diukur dengan parameter-parameter kemakmuran rakyat versi peraturan pemerintah tentang Standar Kualitas Hidup Layak (KHL). Sungguh suatu kondisi lingkungan masyarakat yang cukup memprihatinkan bila dibandingkan dengan kemajuan zaman sekarang di tempat lain. Penampakan yang sungguh bertolak belakang dengan simbol kemakmuran para konglomerat pemilik ribuan monster tronton dan trailler penghuni poros nadi ekonomi di jalur pantura, padahal lokasi desa-desa itu sangat dekat jaraknya. Mungkin topik yang terlalu muluk-muluk jika ingin membahas kondisi ekonomi yang ada di pelosok-pelosok nusantara, apalagi di pulau-pulau terpencil yang jauh dari sumbu obor kekuasaan, sementara di Pulau Jawa saja masih demikian kondisinya.

Jika bercermin dari fakta-fakta kehidupan masyarakat Indonesia di atas, betapa bersyukurnya kita atas kondisi saat ini. Betapa banyak hal yang kita miliki dan tidak dimiliki orang lain. Berapa banyak anugerah Allah SWT yang telah dilimpahkan kepada kita. Di saat makhluk-makhluk halus di dunia maya sedang sibuk membanding-bandingkan gadget-gadget bukan made in Indonesia bernama PC atau Macintosh, Laptop atau Macbook, Netbook atau Tablet, Intel atau AMD, nVidia gForce atau AMD/ATI Radeon, Samsung atau Apple, Windows atau Linux, iOS atau Android, Google atau Yahoo, WordPress atau Blogspot, Facebook atau Twitter, Adobe atau Corel, aplikasi komersil atau open source dan segudang perangkat teknologi informasi lainnya, jangankan mengenal dunia komputer atau Internet, bahkan untuk memenuhi kebutuhan tingkat satu di teori Hierarchy Kebutuhan ala Abraham Maslow yakni sandang, pangan dan papan saja mereka masih kewalahan.

Jika kita berpikir lebih luas lagi, kondisi di atas membuktikan bahwa ada misinterpretasi dan misaktualisasi terhadap konsep dan istilah bernama KEADILAN di negara berpredikat zamrud khatulistiwa ini. Ada sesuatu yang salah terhadap pelaksanaan konsep trilogi pembangunan sebagai rel kereta kemajuan yang begitu ideal diucapkan yakni: pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya —-menuju—-> Pertumbuhan Ekonomi yang cukup tinggi —-menuju—> Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.

Demi anak dan cucu kita kelak, tak ada salahnya kita sedikit meluangkan waktu dan pikiran untuk belajar mengurai sedikit demi sedikit kekusutan pemerataan pembangunan dan keadilan ekonomi itu. Dimulai dengan pertanyaan MENGAPA dan BAGAIMANA; dan bukan pertanyaan SIAPA, APA, DIMANA dan KAPAN? Sehingga bagi siapapun yang suatu saat mendapat amanah dan beban untuk menduduki posisi yang menentukan, telah memiliki bekal yang cukup dan mantap untuk befikir, berucap, bersikap dan bertindak sesuai dengan apa yang seharusnya.

Hanya kita sendiri yang bisa menemukan solusi dan memperbaiki nasib bangsa kita sendiri, bukan oleh bangsa lain.

 Bangsa yang tidak percaya dengan kemampuan dirinya sendiri, belum bisa dikatakan sebagai bangsa merdeka “. — Bung Karno

Wallahu A’lam Bisshawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *